Run away?
Hei. Janji itu harusnya ditepati kan? Errr, iya sih, tapi kalau tidak bisa diupayakan lagi, hendaknya ada pemakluman kan? Heee? Tidak bisa begitu. Yang namanya sudah pernah berjanji, harusnya satu-satunya jawaban baik adalah pemenuhan janji itu sendiri. Kalau sudah selain itu, atas alasan apapun, itu artinya orang yang tidak menepati janji kan? Akui saja lah.
Sebentar. Sebentar. Begini. Tidak adakah pengecualian? Misalnya saja, untuk janji pada diri sendiri seperti ini. Berjanji untuk melakukan sesuatu yang berat lalu kondisi di kemudian hari ternyata berbalik total. Ya, itu sesuatu yang berat. Lalu, agar terasa mudah dan seperti azam[1] kuat untuk bisa melakukannya, dibentuklah sedemikian rupa keinginan dan harapan itu, supaya beban moral dan beban perasaannya terasa kokoh untuk menyelesaikan tantangannya. Memang sempat terlintas sih, jangan-jangan bakal gagal, tapi demi sebuah janji penting, itu harus tetap dilakukan dan harus sukses. Hmm, ok. Terus?
Sayangnya ada yang terlewatkan, tak ada batas waktu yang ditetapkan untuk pemenuhan janjinya. Ck! Itu dia salahnya. Itu dia! Jika tak ada batas waktu, kemudian mengatakan bahwa sudah gagal memenuhinya, itu lebih tidak sportif kan? Itu berarti kewajiban untuk menunaikannya tidak berbatas. Masih bisa diupayakan. Masih harus dicoba untuk ditunaikan. Sampai kapanpun. Baru dianggap selesai saat janji itu tertunaikan. Jika belum sukses, ia akan mengikuti kemanapun, sampai kapanpun. Terutang. Hingga mati. Hush! Jangan menakut-nakuti begitu.
Salah sendiri. Huh! Kenapa suka cari penyakit sih? Kenapa perkara penting seperti ini dibuat main-main? Sembarangan! Siapa yang mau main-main? Karena ini masalah serius lah makanya diperlakukan seperti itu. Siapa sangka di tengah jalan jadi hancur begini? Ternyata itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan.
Eh, sebentar, tahu dari mana, kemampuan melakukannya sudah di batas optimal? Pakai parameter apa? Standar mana? Ada-ada saja. Hmm, parameter? Standar? Kuberi tahu ya, secara logika aja, coba lihat : perencanaan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan kondisi ‘lapangan’ yang berubah di luar dugaan sebelumnya. Lihat, semua jadi berantakan. Bagaimana mungkin bisa?
Ya ampun. Kenapa cepat menyerah sih? Itu yang namanya sudah batas optimal yang bisa diusahakan? Dasar mental rapuh! Kenapa tidak naikkan sedikit sih itu harapanmu? Mana jurus hebat ekspektasi tinggi ala mu itu? Mana? Harusnya untuk masalah internal begini, kamu memaksimalkan potensimu satu itu. Bukan mundur dan lari begini. Astaga. Aku lari ? Terus, apalagi namanya kalau bukan lari? Aku coba realistis kok. Bagiku, aku sudah mengupayakan di ambang batas, dan ternyata aku gagal, jadi aku ingin menyelesaikannya di sini. Kalau menurutmu itu namanya `lari`, yah, aku lari kalau begitu. Aku cuma tak mau terbeban, apalagi sampai mati, seperti katamu tadi. Kalau gara-gara ini aku dicap mengingkari janji, itu konsekuensi yang cukup adil lah. Biar saja. Aku memang tidak bisa menang, tapi aku sudah berusaha semampuku, setidaknya aku tidak jadi pecundang kan?
… Kamu ini. Berhentilah berbuat hal-hal konyol seperti ini. Hei, kok konyol sih? Biasa saja. Kadang kita harus terima kegagalan dengan kepala tegak. Karena tidak semua kesalahan bersumber dari kita. … Sini! Kamu sering berlebihan, terkadang. Kamu harus ubah itu. Atau, paling tidak, untuk sekarang, akuilah itu. Ah, masa separah itu sih? Biasa saja.
Kamu kadang tidak jujur. Hmm, menurutmu begitu ya? Menurutku bukan, bicara seperti ini padamu, karena aku cuma ingin membantumu untuk paham sesuatu yang sulit aku jelaskan. Kamu bikin rumit masalah, itu yang aku tahu. Maafkan aku. Huff, Kadang aku tidak bisa memahamimu. Bukan salahmu kok. Jangan terlalu dipikirkan. ^^
Terkadang memang ada hal-hal yang harus kita coba terima sekalipun kita belum paham. Pahamnya datang belakangan. Bisa jadi kan?
. Huh, kamu masih bisa pasang ekspresi begitu? Ahahaha. Kamu itu kadang khawatirnya berlebihan, lho. Aku jujur kok dengan ekspresi itu, kamu yang harusnya belajar menganalisa ekspresi lebih tajam, jadi komentarmu akan senada dengan keadaanku yang sebenarnya.
Ya ampun, Kamu ini… !!
Ahahaha. Oke, oke, aku gak akan ngomong lagi deh. ^^
Hm, jadi bagaimana? Apanya? Janji itu tadi? Iya. Ya, begitu itu. Hari ini, aku sudah akui aku gagal menepatinya. Walaupun menyedihkan tapi aku sadar aku harus jujur pada diri sendiri, aku tidak bisa melakukan hal itu. Terlalu berat. Atau… jangan-jangan memang seperti itu takdirnya ya? Harusnya aku senang ya? Bisanya menyalahkan takdir. Jelek benar.
Terserahmu saja. Ah iya, boleh aku bilang sesuatu? Apa? Kadang kamu terlalu keras pada diri sendiri. Kenapa sih sulit sekali memaafkan diri sendiri? Ah, kenapa aku gak merasa kayak begitu ya? Itulah kamu. Apa-apa semua diukur ke diri. Lho? Ya iya dong? Masa ngukurnya ke orang lain? Gak lucu.
. Kamu tetap keras kepala ya? Hmm, entahlah. Yang penting aku tidak terhutang janji lagi yang aku sendiri tidak akan bisa lagi melakukannya.
Yah, kita lihat saja bagaimana nanti. Begitu kan? Bagaimanapun kita berekspektasi, benar tidaknya pilihan kita bisa diverifikasi pada kenyataan nanti kan? Oke, oke. terus, kalau tidak ada apapun yang terjadi, bagaimana? Errr, bagaimana ya? Yah, biar begitu saja, mau bagaimana lagi.
…
…
…
Terima kasih ya. Bleh, untuk banyak hal, aku yang harusnya mengucapkan terima kasih. Yeee, ngasal. Bener! Gak lah! Serius? Serius! Oh! If so, No thanks needed then. Wah, gak baik juga kalau begitu. Heee? Iya, itu artinya kita kehilangan satu cara menghargai kebaikan orang lain walaupun kadang orang itu tidak berniat begitu. Dia niat atau tidak, kita menghargai yang dia lakukan. Sederhana saja sebenarnya kan? Lah, jadi panjang gitu. Biarin!
Thanks anyway. You`re welcome. ^^