Feed on
Tulisan
Komentar

Asal muasal turunnya entry ini sebenarnya memang setelah membaca postingan terbaru di blog Sora, Kesadaran yang datang belakangan. Ini di luar konteks pesan moralnya lho, tapi terkait dengan kejadian yang menginspirasinya itu. Awalnya saya senyum-senyum saja tapi akhirnya meledak juga jadi ketawa, teringat dengan kejadian mirip yang pernah terjadi dulu. Duluuu sekali.

Saat itu saya masih tahun pertama bangku kuliah, kira-kira semesteran dua dan bergabung dengan sebuah organisasi eksternal kampus. Saya ditunjuk sebagai staf redaksi mading. Berhubung kru mading sendiri tidak punya sekretariat khusus, maka tempat pengerjaan mading di tiap edisinya biasanya di kerjakan barengan di rumah saya. kebetulan anggota madingnya yang cuma beberapa orang adalah perempuan juga. Setelah terbit beberapa edisi, akhirnya di rubrik bebas yang memang di peruntukkan untuk memuat tulisan dari luar kru mading bisa eksis. Ada beberapa tulisan yang masuk dari orang yang berbeda hingga akhirnya ada satu orang yang rajin menyumbang tulisannya.

Biasanya jika ada sumbangan tulisan dari luar seperti itu, untuk sampai ke redaksi caranya mudah saja, tinggal dititipkan ke anggota redaksi seminggu sebelum deadline dan kemudian tulisan tersebut akan dinilai kelayakannya untuk kemudian dimuat. Biasanya tulisan dari luar itu hampir selalunya lelaki dan tulisannya bagus-bagus terutama yang satu orang misterius itu. Kenapa misterius? Karena beliau hanya menggunakan inisial nama (berbeda dengan penulis lainnya) dan hanya menuliskan alamat emailnya di akhir tulisannya. Selalu seperti itu.

Lalu apa pentingnya hal ini dibahas? Dimana nyambungnya dengan judulnya? Ahahaha. Bacalah sedikit lagi dulu.

Ternyata sejak awal membaca tulisan-tulisannya saya sudah suka dengan artikel-artikel tersebut. Bahasanya lugas dan runtut dan gaya penyampaiannya itu khas. Analitis, bernas dan mencerahkan. Hueeh, intinya, tulisannya bagus sekali. Di samping itu yang menarik adalah saat membaca artikel-artikelnya itu saya seperti bisa meng-asses bahwa terkadang kami punya pemikiran yang sama saat memandang hal-hal atau masalah tertentu yang dibahas olehnya. Kadang saat kru yang lain merasa tidak setuju atau salah paham dengan inti tulisannya saya mencoba menjelaskan bahwa yang ingin disampaikan oleh beliau itu tidaklah seperti itu, tapi menurut saya lebih ke seperti ini dan seperti ini dan saya setuju dengan apa yang disampaikannya. Kadang kru yang lain sempat bengong. :mrgreen:

Jadi apa? Hmm, jadi belum apa-apa, hanya dengan membaca tulisan-tulisan beliau saat itu saya sudah kagum dan simpati dan sedikit penasaran dengan orangnya. Dan saya sadar akan hal itu. ^^ . Kru mading yang lain juga sempat penasaran dengan sosok ini tapi akhirnya kita semua jadi terbiasa dengan kemisteriusan itu. Yang penting tulisannya ada, layak muat dan bagus. Semua di antara kami tidak ada yang melakukan investigasi (halaah) apapun.

Hingga suatu hari di rapat divisi saat dimana semua anggota divisi harus hadir dan saya tahu ada beberapa orang asing yang agaknya tidak pernah terlihat sebelum-sebelumnya. Oh ya, kadang ada anggota yang tidak saling kenal dikarenakan keterlibatannya yang kurang aktif, jadinya jika ada nama tapi bahkan orangnya tidak terlalu dikenal oleh anggota satunya, itu jadi hal yang cukup dimaklumi karena anggota organisasi ini yang semuanya mahasiswa itu bisa dibilang punya aktivitas dan kesibukan masing-masing juga.

Jadi setelah selesai rapat, ada yang hendak menyerahkan tulisannya. Katanya untuk rubrik bebas itu!! Gubrak. Begitu melihat nama email dan inisial di akhir tulisannya itu, weleeh, jadi ini dia orangnya. Ckckckc. Akhirnya ketemu juga tanpa disangka-sangka dan terencana. Hebat banget, analisa spontan! :mrgreen:

Sedikit basa-basi dan tentu saja akhirnya saya ketahui juga namanya. Yatta! Beberapa hari kemudian, saat antri di ATM depan kampus, ketemu lagi dan baru ketahuan ternyata kami satu kampus, angkatannya dua tingkat di atas saya walaupun beda fakultas. Saat itu jadinya ngobrol agak banyak, disinggungnya juga tentang kontribusinya di mading yang mungkin untuk beberapa waktu ke depan akan berkurang karena beliau akan segera menjalani koasistensi di sebuah rumah sakit. Dari cara berbicaranya saja sudah kelihatan bahwa beliau memang cerdas. Bicaranya juga tidak terlalu banyak, tidak juga terlalu sedikit, tidak semisterius caranya menyampaikan idenya lewat artikel itu, beliau ternyata cukup ramah tapi tidak berlebihan. Tapi memang tertangkap bahwa beliau orang yang serius dan suka berpikir. Pas. :mrgreen:

Begitulah ceritanya. Kesimpulannya? Iyalah, udah bisa ditangkap kan? Yah, walaupun agak beda sedikit sih. Tapi maksudnya itu nyambung kan ya? :mrgreen:
Di Savage Garden itu dikatakan tentang orang yang jatuh cinta bahkan sebelum bertemu, dalam hal ini, ini tentang kekaguman bahkan sebelum bertemu dengan orang tersebut. Dan bagusnya, setelah bertemu kekaguman itu tidak rusak. :D

Eh, iya ya? Ternyata kesukaan atau juga kekaguman terhadap seseorang sebelum bertemu orangnya bisa terjadi bukan cuma lewat internet aja ya? Di dunia nyata juga bisa :roll: *tersadar*

Tulus Tidak Tulus

Sekali waktu beberapa hari lalu, entah bagaimana saya dan seorang teman yang sudah lama tidak terlibat perbincangan rada serius seperti itu bisa sampai ke bahasan tulus tidak tulus ini. Oh iya, tulus dan tidak tulusnya tidak secara umum, ini dalam konteks kecenderungan perasaan secara istimewa pada seseorang. Oke, lebih jelas lagi, saat menyukai orang lain. Kebetulan teman saya itu, lebih muda beberapa tahun dari saya dan ‘tema’ kedatangannya hari itu sedikit ada hubungannya dengan apdetan perasaannya pada seseorang, yang ia kagumi secara diam-diam tapi serius. Ugh.

Dan cerita hari itu pun mengalir cepat dalam waktu yang relatif singkat karena diburu senja. Akhirnya ngomong-ngomong ‘berbau’ curhat itu mengerucut pada definisi tulus tidak tulus yang benar-benar subjektif, tentu saja.

Jadi, teman saya itu mendapat tuduhan ‘tidak tulus’ dari temannya -yang juga tahu dan turut diceritakan ‘permasalahannya itu’- setelah ia menceritakan bagaimana perasaaanya terakhir kali tentang orang yang disukainya dikaguminya itu. Setelah dia agak-agak tahu atau ‘merasa’ orang yang disukainya itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, dia merasa cukup ringan dan mudah untuk melupakan perasaannya itu. Karenanya temannya itu kesal dan jadilah vonis ‘tidak tulus’ itu mampir padanya.

Hmm, apa ya? Saya pribadi malah berpikir istilah itu kurang tepat untuk digunakan disana. Tapi saya ‘rada’ bisa paham kenapa rekan dari teman saya itu bisa mengatakan hal seperti itu. Boleh jadi dalam pandangannya, yang namanya tulus menyukai seseorang, (saya agak kurang enak untuk menyebut ‘mencintai’ disini :P .) berarti kita tetap bisa menjaga perasaan itu apapun realitanya, entah orang tersebut menyukai kita atau tidak. Bisa terus seperti itu dan hal itu punya nilai kebahagiaan tersendiri bagi kita yang menyukainya. Jadi mungkin seperti itu kalau menilik kondisi saat ia menggunakan kata yang bermakna sebaliknya tadi, ‘tidak tulus’.

Lucunya, saya sendiri tidak merasa seperti itu. Kadang kala saya berpikir, saat kita menyukai orang lain, harapan kita tentunya orang tersebut idealnya punya perasaan yang sama dan akhirnya bisa sama-sama. Jadi, saat memang keadaannya kemudian tidak seperti itu, -orang tersebut tidak menyukai kita misalnya- tentunya kita harus segera menyadari langkah terbaik buat kita dan buat orang tersebut : menyelesaikan perasaan itu sampai di disitu. Frankly, we should stop that feeling. Tidak tulus? Bagi saya itu ‘sedang’ tidak ada hubungannya kesana.

Mungkin saya akan memakai frase ‘tidak tulus’ itu untuk menggambarkan kondisi dimana misalnya kita memilih ‘jalan’ dengan seseorang karena berfikir dia bisa menguntungkan kita dalam hal dan waktu tertentu misalnya. Ada lho seorang teman yang tiba-tiba berpacaran saat melakukan suatu penelitian dan orang yang dipacarinya tersebut bisa mengoperasikan suatu software yang rumit -dan penggunaannya strategis sekali dalam penelitian itu- dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata. Setelah pulang dari penelitian kemudian mereka putus. Seandainya dalam hati yang perempuannya, suka dan putusnya itu ada hubungannya dengan keadaan strategis yang bermanfaat itu, menurut saya seperti itulah tidak tulus. Itu seandainya lho, seandainya. Putus atau tetap jalan itu urusan pribadi mereka tentu saja.

Back to topic, jadi jika kita menyukai seseorang dan kemudian mengetahui seseorang tersebut ternyata memilih orang lain atau ternyata tidak menyukai kita, saat kita memutuskan untuk ‘berhenti’ menyukainya, hal itu tidak tak tulus. Toh misalnya saja, jika membandel untuk tetap menyukainya sampai kapan pun dan terus bertahan dalam stage itu, tidak ada keuntungan dalam hal apapun. Berbesar hati saja dengan realita yang terjadi. Dan tulus tidak tulusnya perasaan kita tidak bisa digantungkan pada seberapa lama kita perlu bertahan dengan perasaan itu, walaupun tentu saja ada beberapa orang yang bersedia mempertahankan perasaan pada orang yang disukai sekalipun sudah tidak ada harapan apapun, dengan mengemukakan alasan bahwa perasaannya itu tulus. (Banyak tuh kayaknya di sinetron kita? Atau bisa jadi juga ada banyak di kehidupan nyata)

Kalau kemudian dikatakan bahwa menyelesaikan perasaan seperti itu tidak mudah dan merupakan pilihan yang berat, saya tidak akan menyangkal, itu ada benarnya. Tapi itu sudah bab lain lagi kan? Sudah keluar dari konteks tadi. Tetap tidak ada hubungannya antara ketulusan menyukai seseorang dengan kemampuan kita memulihkan keadaan. Itu lebih ke bagaimana kemampuan kita menyikapi realita yang terjadi. Kenyataannya orang tersebut tidak menyukai kita atau telah memilih orang lain misalnya, maka kalau mau bertahan terus seperti itu, kita akan seperti orang yang tidak mau menghadapi kenyataan. Toh, tidak akan ada kebaikannya selain mungkin kebahagiaan semu dalam diri kita? Selebihnya? Yah… anda mungkin paham maksud saya. ^^

Memilih bertahan untuk tetap menyukai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama mungkin mirip dengan bertahan untuk bermain petak umpet[1] dengan orang yang sudah pulang ke rumahnya. Bagaimana mungkin kita tetap akan menunggu dia mencari tempat kita sembunyi? Bukankah lebih baik kita juga berhenti bermain dan pulang saja? ^^

Ps :
[1] Permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak. Ada yang bersembunyi dan ada yang giliran jaga. Pernah main? :mrgreen:

Run Away

Run away?

 

Hei. Janji itu harusnya ditepati kan? Errr, iya sih, tapi kalau tidak bisa diupayakan lagi, hendaknya ada pemakluman kan? Heee? Tidak bisa begitu. Yang namanya sudah pernah berjanji, harusnya satu-satunya jawaban baik adalah pemenuhan janji itu sendiri. Kalau sudah selain itu, atas alasan apapun, itu artinya orang yang tidak menepati janji kan? Akui saja lah.

 

Sebentar. Sebentar. Begini. Tidak adakah pengecualian? Misalnya saja, untuk janji pada diri sendiri seperti ini. Berjanji untuk melakukan sesuatu yang berat lalu kondisi di kemudian hari ternyata berbalik total. Ya, itu sesuatu yang berat. Lalu, agar terasa mudah dan seperti azam[1] kuat untuk bisa melakukannya, dibentuklah sedemikian rupa keinginan dan harapan itu, supaya beban moral dan beban perasaannya terasa kokoh untuk menyelesaikan tantangannya. Memang sempat terlintas sih, jangan-jangan bakal gagal, tapi demi sebuah janji penting, itu harus tetap dilakukan dan harus sukses. Hmm, ok. Terus?

Sayangnya ada yang terlewatkan, tak ada batas waktu yang ditetapkan untuk pemenuhan janjinya. Ck! Itu dia salahnya. Itu dia! Jika tak ada batas waktu, kemudian mengatakan bahwa sudah gagal memenuhinya, itu lebih tidak sportif kan? Itu berarti kewajiban untuk menunaikannya tidak berbatas. Masih bisa diupayakan. Masih harus dicoba untuk ditunaikan. Sampai kapanpun. Baru dianggap selesai saat janji itu tertunaikan. Jika belum sukses, ia akan mengikuti kemanapun, sampai kapanpun. Terutang. Hingga mati. Hush! Jangan menakut-nakuti begitu.

 

Salah sendiri. Huh! Kenapa suka cari penyakit sih? Kenapa perkara penting seperti ini dibuat main-main? Sembarangan! Siapa yang mau main-main? Karena ini masalah serius lah makanya diperlakukan seperti itu. Siapa sangka di tengah jalan jadi hancur begini? Ternyata itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan.

 

Eh, sebentar, tahu dari mana, kemampuan melakukannya sudah di batas optimal? Pakai parameter apa? Standar mana? Ada-ada saja. Hmm, parameter? Standar? Kuberi tahu ya, secara logika aja, coba lihat : perencanaan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan kondisi ‘lapangan’ yang berubah di luar dugaan sebelumnya. Lihat, semua jadi berantakan. Bagaimana mungkin bisa?

 

Ya ampun. Kenapa cepat menyerah sih? Itu yang namanya sudah batas optimal yang bisa diusahakan? Dasar mental rapuh! Kenapa tidak naikkan sedikit sih itu harapanmu? Mana jurus hebat ekspektasi tinggi ala mu itu? Mana? Harusnya untuk masalah internal begini, kamu memaksimalkan potensimu satu itu. Bukan mundur dan lari begini. Astaga. Aku lari ? Terus, apalagi namanya kalau bukan lari? Aku coba realistis kok. Bagiku, aku sudah mengupayakan di ambang batas, dan ternyata aku gagal, jadi aku ingin menyelesaikannya di sini. Kalau menurutmu itu namanya `lari`, yah, aku lari kalau begitu. Aku cuma tak mau terbeban, apalagi sampai mati, seperti katamu tadi. Kalau gara-gara ini aku dicap mengingkari janji, itu konsekuensi yang cukup adil lah. Biar saja. Aku memang tidak bisa menang, tapi aku sudah berusaha semampuku, setidaknya aku tidak jadi pecundang kan?

 

Kamu ini. Berhentilah berbuat hal-hal konyol seperti ini. Hei, kok konyol sih? Biasa saja. Kadang kita harus terima kegagalan dengan kepala tegak. Karena tidak semua kesalahan bersumber dari kita. … Sini! Kamu sering berlebihan, terkadang. Kamu harus ubah itu. Atau, paling tidak, untuk sekarang, akuilah itu. Ah, masa separah itu sih? Biasa saja.

 

Kamu kadang tidak jujur. Hmm, menurutmu begitu ya? Menurutku bukan, bicara seperti ini padamu, karena aku cuma ingin membantumu untuk paham sesuatu yang sulit aku jelaskan. Kamu bikin rumit masalah, itu yang aku tahu. Maafkan aku. Huff, Kadang aku tidak bisa memahamimu. Bukan salahmu kok. Jangan terlalu dipikirkan. ^^

 

Terkadang memang ada hal-hal yang harus kita coba terima sekalipun kita belum paham. Pahamnya datang belakangan. Bisa jadi kan? :D. Huh, kamu masih bisa pasang ekspresi begitu? Ahahaha. Kamu itu kadang khawatirnya berlebihan, lho. Aku jujur kok dengan ekspresi itu, kamu yang harusnya belajar menganalisa ekspresi lebih tajam, jadi komentarmu akan senada dengan keadaanku yang sebenarnya. :P

Ya ampun, Kamu ini… !! :evil: Ahahaha. Oke, oke, aku gak akan ngomong lagi deh. ^^

 

Hm, jadi bagaimana? Apanya? Janji itu tadi? Iya. Ya, begitu itu. Hari ini, aku sudah akui aku gagal menepatinya. Walaupun menyedihkan tapi aku sadar aku harus jujur pada diri sendiri, aku tidak bisa melakukan hal itu. Terlalu berat. Atau… jangan-jangan memang seperti itu takdirnya ya? Harusnya aku senang ya? Bisanya menyalahkan takdir. Jelek benar. :P

 

Terserahmu saja. Ah iya, boleh aku bilang sesuatu? Apa? Kadang kamu terlalu keras pada diri sendiri. Kenapa sih sulit sekali memaafkan diri sendiri? Ah, kenapa aku gak merasa kayak begitu ya? Itulah kamu. Apa-apa semua diukur ke diri. Lho? Ya iya dong? Masa ngukurnya ke orang lain? Gak lucu. :P. Kamu tetap keras kepala ya? Hmm, entahlah. Yang penting aku tidak terhutang janji lagi yang aku sendiri tidak akan bisa lagi melakukannya.

 

Yah, kita lihat saja bagaimana nanti. Begitu kan? Bagaimanapun kita berekspektasi, benar tidaknya pilihan kita bisa diverifikasi pada kenyataan nanti kan? Oke, oke. terus, kalau tidak ada apapun yang terjadi, bagaimana? Errr, bagaimana ya? Yah, biar begitu saja, mau bagaimana lagi. :P

 

 

Terima kasih ya. Bleh, untuk banyak hal, aku yang harusnya mengucapkan terima kasih. Yeee, ngasal. Bener! Gak lah! Serius? Serius! Oh! If so, No thanks needed then. Wah, gak baik juga kalau begitu. Heee? Iya, itu artinya kita kehilangan satu cara menghargai kebaikan orang lain walaupun kadang orang itu tidak berniat begitu. Dia niat atau tidak, kita menghargai yang dia lakukan. Sederhana saja sebenarnya kan? Lah, jadi panjang gitu. Biarin! :P

Thanks anyway. You`re welcome. ^^

 

 

 

Malu Hati…

If I were given the opportunity to present a gift to the next generation, it would be the ability to laugh at yourself. (Charles Shultz -1922 – 2000) “

Yah, mari kita tertawakan bersama. Walaupun sebenarnya, kalau diingat lagi, menyebalkan. Hufff!! Ya ampun. Memalukan! :cry:

 Thanks for the gift, Shultz! :|

 

Kepuraan itu perlu?

Kepuraan itu (mungkin) perlu…?

 

Jangan-jangan sesekali kepuraan itu perlu. Menyepuh benteng ini dengan besi dan baja mengkilap. Hingga bangunan kayu yang hampir roboh lapuk pun tersembunyi di sebalik itu.

 

 

Kupikir mungkin sesekali kepuraan itu perlu juga. Agar selesai tanya tanpa ujung itu. Hingga waktu sisanya segera terpakai untuk merenung. Atau… untuk berkabung?

 

 

(Kepuraan itu munafik, katamu. Terserahmu saja jika memang ingin menyebutnya begitu. (pesanku, coba juga lihat dari sisi lain, jangan-jangan sudut pandangmu terlalu `kanan` untuk membela diri?). Huff, tapi harusnya kau paham kenapa aku pilih ini. (heh? Aku pun tampak seperti menyelamatkan diri ya?). Saat tak cukup terima dengan komitmenku harusnya kau beranjak saja dari persimpangan ini. Pergilah. Jangan lagi ada vonis-vonis itu. Biarkan lagi aku belajar menata tapak di jalan agar-agar. Agar aku cukup kuat untuk terus mengayun langkah. Aku pasti bisa. Yakin saja.)

 

 

Yah, aku akan baik-baik saja, kataku. Kau tahu kan, aku hanya pura-pura. Maafkan ya. Tapi biarkanlah begini. Sekali ini saja.

 

Kepercayaan itu Mahal…

 “I hear no one, I trust no one”. Itu status YM salah seorang teman saya belum lama ini. Kemarin setelah menemuinya di kantornya, kami memutuskan makan siang bareng setelah sekian lama tidak melakukannya karena kini masing-masing punya kesibukan yang berbeda. Setelah makan siang, sharing banyak hal, hingga sampai juga ke bahasan tentang status YM-nya itu. Hihihi. Dan terungkap, ternyata itu ungkapan kekesalannya pada seseorang atas kekecewaan yang bertumpuk. Mungkin agak berlebihan kesannya karena sebabnya memang cuma gara-gara satu orang itu tapi pernyataannya itu `kena` ke semua orang. “Gak separah itu kok, cuma karena lagi kesal aja, dan cuma sama satu orang itu aja sebenarnya…” dia meluruskan hal itu kemudian. Saya cuma bisa senyum-senyum. Kalau sudah masalah perasaan, memang agak payah sih. `Kan?  :mrgreen:  

Pada kesempatan yang lain sebelumnya dan sudah agak lama juga, waktu itu saya masih di Fukui dan chatting lewat YM dengan salah seorang teman saya. Sehabis cerita-cerita, dia sempat menanyakan pendapat saya, “kira-kira sampai berapa kali kita bisa percaya pada orang lain, jika sebelumnya kepercayaan yang kita berikan pernah disalahgunakan”. Waktu itu saya menjawabnya setengah serius, “tergantung kitanya ingin percaya seberapa banyak lagi…”. Teman saya itu malah tertawa. Dari reaksinya yang seperti itu, saya sempat berpikir mungkin jawaban saya itu di luar ekspektasi dia. Bisa jadi dia membayangkan (bisa jadi juga tidak) jawaban akan berupa : cukup sekali itu, atau boleh diberikan satu atau dua kali lagi, jika masih dikhianati juga lebih baik dicukupkan. 

Sebenarnya saya tidak sesetengah serius itu juga sih, karena bagi saya memang seperti itu yang akan saya lakukan. Menyerahkan keputusan untuk akan percaya atau tidak lagi pada diri kita sendiri, bukan pada patokan jumlah bilangan tertentu. :mrgreen:  

Maka bisa saja setelah ada sekali atau dua kali kepercayaan itu disalahgunakan, saya masih bisa memutuskan untuk mempercayai lagi dengan pertimbangan tertentu, dan bisa jadi pula memutuskan untuk menyelesaikan memberikan amanah apapun walaupun pengkhianatan itu baru terjadi sekali dengan lagi-lagi mempertimbangkan banyak hal. Kenapa? Ya, benar. Tentu saja karena kepercayaan itu bukan perkara main-main.  

Tiap kita tentunya merupakan orang dengan tipe yang berbeda satu sama lain. Ada yang bisa dengan mudah memutuskan untuk percaya dan memberikan kepercayaan pada orang lain, ada pula yang butuh waktu yang lama, mulai dari proses pemikiran yang panjang, analisa yang mendalam, pertimbangan dari banyak sisi, penilaian track-record segala macam, hingga akhirnya memutuskan untuk mengamanahkan  atau tidak mengamanahkan sesuatu pada orang lain. Ini berlaku pada semua hal dan aspek kehidupan, termasuk wilayah sensitif itu, perasaan. :P  

Maka sama juga, saat ada kejadian tidak diinginkan, pengkhianatan atas kepercayaan yang telah diberikan itu, mungkin ada yang langsung memutuskan untuk tidak akan pernah percaya lagi, ada juga yang berani mengambil resiko untuk memberikan kepercayaan itu untuk kali selanjutnya. Tidak ada yang salah dengan hal ini, menurut saya, karena yang paling mengerti bagaimana kepercayaan semahal itu bisa dikhianati dan bagaimana memilih orang yang tepat untuk diberikan kepercayaan itu kembali adalah kita sendiri. Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah saat kita terburu-buru dan memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang dan tanpa pikir panjang atas apapun keputusan yang kita ambil, baik itu memutuskan untuk percaya lagi setelah ada lebih dari satu kali penyalahgunaan kepercayaan itu, ataupun keputusan berat untuk tidak memberikan kesempatan selanjutnya setelah kepercayaan pertama tidak dikelola dengan sungguh-sungguh. Jadinya bukan masalah jumlah bilangan yang kemudian menjadi dasar untuk memutuskan, tapi pertimbangan dari sosok orang itu sendiri, apa yang telah terjadi, dan apa yang mungkin akan terjadi. Seyogianya kembali lagi seperti di atas tadi, ada banyak hal yang patut kita perhitungkan saat memutuskan untuk memberikan kepercayaan atau tidak memberikannya. Dan buat saya misalnya, jadinya bisa saja saya memilih untuk percaya lagi dengan catatan tertentu dan bisa jadi pula menyelesaikannya disitu saja,  menjadikan kepercayaan itu kesempatan yang pertama sekaligus yang terakhir untuk orang tersebut. 

Anyhow, mengelola kepercayaan sampai kapanpun tentu akan tetap menjadi hal yang berat. Saking beratnya akan menyakitkan saat mendapati diri kita tidak dipercayai lagi hanya karena sedikit kesalahan yang kita lakukan namun dampaknya yang sangat fatal bagi orang yang mempercayakan kepercayaannya pada kita.  Mengenai orang-orang yang mau bertahan dan berharap begitu besar untuk memperoleh kembali kepercayaan setelah beberapa kali mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan buat mereka, saya sempat tersentak sendiri saat mengikuti salah satu acara televisi, Andy`s Diary beberapa waktu lalu. Jadi saat itu ditampilkan beberapa cuplikan edisi K!ck Andy yang dianggap mempunyai nilai khusus di kalangan pemirsa di antara edisi lainnya. Iya, itu program televisi yang pembawa acaranya sendiri mengatakan bahwa ia ingin orang menonton tayangan programnya tidak dengan akal saja, tapi dengan hati juga.  

Nah, salah satu edisi yang diangkat disana di antara edisi-edisi yang lain adalah  kisah tentang seorang bapak yang dua anak laki-lakinya terjerumus Narkoba berkali-kali, hingga akhirnya mereka berhasil sembuh dan kedua anak laki-lakinya saat itu juga hadir bersama ayah mereka. Saya ingat kata-kata bapak tersebut saat itu kurang lebih seperti ini,” Saya rela kehilangan apa saja harta saya asalkan anak-anak saya bisa keluar dari pengaruh Narkoba”.

Pada kesempatan yang sama,  salah seorang anaknya menyampaikan sesuatu mewakili dirinya dan saudaranya pada ayah mereka. Ada bagian yang begitu saya catat di kepala. Bagian yang saya sebut sempat bikin saya tersentak. Kata mereka, “ … terima kasih yang begitu besar buat papa atas harapan yang tak pernah hilang…”  

Heh, benar-benar laki-laki yang hebat kan? Dia tidak berhenti percaya dan menaruh harapan agar anaknya sembuh padahal sempat berkali-kali kepercayaannya `dikhianati`. Hingga akhirnya ketegaran menunggu itu berbuah hasil, kedua anaknya berhasil keluar dari ketergantungan pada obat-obat terlarang itu.  

Memang sulit sekali mengharapkan bisa dipercaya untuk kali selanjutnya setelah kepercayaan yang pernah diberikan pada kita, rusak. Tapi memutuskan tidak percaya lagi saat ada kesungguhan dari mereka untuk menebusnya, sama sulitnya. Kalau sudah seperti ini, semua kembali pada diri kita, kita hanya perlu melakukan hal yang tepat dengan pertimbangan yang matang bukan menyandarkannya pada jumlah bilangan kesempatan yang mungkin kita berikan semata. 

Dan di satu sisi yang lain, rasanya cukup adil juga menghukum mereka yang pernah mengkhianati kepercayaan yang pernah diberikan dengan tidak lagi memberikan amanah apapun (setelah melalui pertimbangan tertentu, tentunya) pada mereka. Agar mereka juga belajar arti penting mengemban kepercayaan yang sudah diberikan. Karena Kepercayaan itu mahal, jenderal…!

Sayangnya, mungkin tidak semua orang sadar dan cukup bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan pada mereka. :roll:  

*soundtrack-nya cukup mendukung, Please Forgive Me-nya Bryan Adam*   :lol:

Rainen no Yume

Wew, lama offline dari blog ini dikarenakan kesibukan menjelang lebaran Idul Adha lalu yang saya habiskan bersama keluarga di rumah dan ternyata ada beberapa hal lain yang berturut-turut terjadi, hingga dua even penting, Hari Raya Idul Adha bagi umat Muslim dan Hari Raya Natal bagi umat Kristiani terlewat dari postingan blog saya ini. Karenanya walau sudah terlambat, saya tetap ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H dan juga Selamat Natal buat mereka yang merayakan. :)

Dan begitu datang kembali disini, tahu-tahu ada yang memberikan tugas! Mas Lucky yang menjadi tersangka utama ini memberikan PR buat saya, menuliskan 8 resolusi di tahun depan. Ini tidak adil sebenarnya mengingat resolusi beliau sendiri hanya dikerjakan setengahnya saja. Well, mungkin sebutan beliau untuk dirinya sendiri itu ada benarnya juga : laki-laki yang tidak punya keinginan. :lol:

Hmm, jadi…

*Rainen no yume? (Mimpi tahun depan?). Walah, mau mimpi apa ya untuk tahun depan nanti? :roll: *

Kalau diingat-ingat lagi, ini memang untuk pertama kalinya saya dikerjai di-tag untuk menuliskan resolusi tahun baru di blog sini. Biasanya saya melakukannya hanya di catatan pribadi saja. Kadang list-nya banyak kadang sedikit. Kadang mengenaskan kadang menyenangkan, dalam hal keterkaitannya dengan kondisi di tahun sebelumnya. Ataupun juga, terkadang target-target itu sungguh menjadi motivasi yang menimbulkan perasaan ‘aneh’ jika mereka merupakan hal-hal yang lumayan besar dan tidak pernah dicoba sebelumnya. :mrgreen:

Yah, jadi untuk tahun 2008 ini saya harus mengerjakan pe-er yang serupa dengan pe-er cK, Fajar, Desti, dan teman-teman lain yang mungkin sudah lebih dulu menyelesaikannya. Setelah dipikir-pikir, resolusi saya (halaah, gayanya) di 2008 itu, mungkin hal-hal berikut ini :

1. Wisuda S1 disini secepatnya

2. Melanjutkan sekolah

3. Membenahi dan melakukan inventaris pada buku-buku bacaan

4. Ingin belajar fotografi dengan lebih fokus

5. Menabung dengan serius :mrgreen:

6. Mengurangi minum kopi mengingat kondisi kesehatan sekarang yang patut diperhitungkan. (Hanya mengurangi, bukan menghilangkan. :P )

7. Menjaga kekonsistenan hati. (Mmhuahaha)

8. Mesti ada satu lagi ya? Apa ya? Hmm, kopdar, mungkin? :)

Jadi begitulah daftar harapan saya nanti. Entahlah, apa semua itu dapat dilakukan oleh dua tangan saya ini (bleh! bahasamu, Nak!). Sejujurnya tentu saja saya berkeinginan kuat, saat mengevaluasi daftar itu di akhir tahun nanti, saya tidak merasa sebagai orang yang tidak memenuhi janji pada dirinya sendiri. Yah, semoga saja. Dan semoga juga target sukses dan target gagal di tahun lalu jadi pelajaran berharga untuk lebih ‘profesional’ dan berpengalaman dalam menjalani hidup di tahun 2008. :)

Dan akhirnya, tahun pun berganti lagi. *rasanya cepat banget* :|

Maka buat semua…

HAPPY NEW YEAR 2008

AKEMASHITE OMEDETO GOZAIMASU

Semoga segala kebaikan dan kesuksesan di tahun lalu tetap bertahan dan target baru di 2008 dapat tercapai.

Buat teman-teman para blogger, menyenangkan sekali bisa mengenal kalian semua di tahun lalu, mudah-mudahan di tahun depan pun tetap seperti itu. Thank you so much for being good friends. :D

Ps :

Sebenarnya masih ingin nge-tag teman-teman yang lain yang belum menuliskan resolusi mereka di blognya, tapi khawatirnya mereka sibuk dan jadinya malah merepotkan, jadi ya, diselesaikan saja ‘lemparan PR’ ini disini. :mrgreen:

Postingan Patah Hati

Pas dilihat lagi, ternyata tiga postingan terbaru  disini termasuk postingan ‘patah hati’ ya? :roll:

Oh, wait. Ini bukan kondisi patah hati dengan makna seperti yang sering digunakan itu kok. Beneran. Dua kata itu cuma menggambarkan keadaan hati yang tidak menyenangkan, entah itu berupa kekecewaan, sedih, tidak nyaman dan perasaan setipe lainnya.

Awalnya, yang menggunakan istilah ini adalah tante saya, isteri dari sepupu ayah yang rumahnya berdekatan dengan rumah kami. Beliau itu suka menyebut ‘patah hati’ untuk menggambarkan kondisi saat anaknya yang masih balita menangis karena mainannya jatuh, kehausan, merajuk, dan yang lainnya, yang jelas kondisi gak bahagia. :mrgreen:

Lalu penggunaanya meluas saat saya pernah kepergok lagi sedih oleh beliau. Hihihi. Itu terjadi  beberapa tahun lalu. Akhirnya istilah itu pun jadi populer dan saya sendiri jadi sering menggunakannya. Keren juga rasanya bilang ‘patah hati’ saat ingin mengatakan seorang anak kecil yang menangis karena mainannya direbut oleh adiknya, atau teman yang sedih karena nilai kuis atau midterm-nya jelek. Ah iya, tentu saja istilah ini masih cocok dan sangat bisa jika digunakan saat orang memang patah hati beneran. Kan kondisinya itu sama, dirundung kesedihan. :mrgreen:

Yah, oleh karena itulah, tiga entry terakhir kemarin memang pantas disebut entry patah hati juga. Patah hati versi saya, tentunya.  :P

*kurang kerjaan banget nulis ginian, tapi yah, biarkan sajalah*  :P

 Ps:

Mudah-mudahan gak ada yang salah paham ya gara-gara judul postingannya kayak begitu.  :mrgreen:

Loyalitas

Agak aneh juga ketika menyadari bahwa sekarang ini ada dalam stage seperti ini. Kecewa…? Entahlah. Tapi terpikir lagi, bahwa bukankah sejak awal pun saya bergabung dalam komunitas itu memang karena nilai-nilai yang saya akui baik dan saya merasakannya bahkan saat saya masih berdiri di luar sana, lalu saya membuktikannya sendiri. Ya, karena nilai-nilai itu yang kemudian pun saya pegang dan membuat saya nyaman hingga sekarang. Bukan karena orang seorang, atau materi atau entah apa yang lainnya.  

Maka, saat kemudian bermunculan banyak  hal yang tidak memuaskan, orang-orang yang mulai tidak konsisten, atau ada yang malah menyelewengkan nilai-nilai itu sedemikian rupa, saya tidak (atau belum) menjadikannya sebagai alasan untuk pergi. Toh saya datang bukan karena mereka. Dan itu pilihan saya secara sadar.  

Maka (lagi), jika harus ada kecewa itu, dan ternyata tidak sekecil yang saya bayangkan, mungkin itu juga tidak lepas dari kesalahan saya pribadi, (ini salah satu penyakit saya) saya terlalu berekspektasi tinggi pada mereka. Karenanya, supaya berimbang harusnya saya juga siap untuk kecewa. Kemudian,  saat memang nyata kecewa, kekecewaan itu bukan lantas menjadi excuse untuk memutuskan diri.  Walau kita bisa mandiri dan independen, pada hakikatnya, kita tidak pernah bisa benar-benar sendiri. Kita tahu itu. Karena terkadang kita perlu diingatkan agar konsisten, dan untuk hal itu, tentu saja tidak selalunya kita bisa mengandalkan diri sendiri. Mungkin itu juga alasan tambahan mengapa saya tidak beranjak. Hingga kemudian, saya menemukan satu-satunya kenyamanan, membuat saya tenang,   karena pada akhirnya saya sadar, pada satu titik akhir nanti, sejak dari dulu pun hingga sekarang ini, segala sesuatu memang hanya akan tinggal antara saya dan Allah saja. Tidak lebih, tidak kurang.  

Terpikir juga, mungkin saya perlu untuk mendiskusikan hal ini secara konkrit dan jelas. Karena di satu sisi kita bisa mengatakan sebodo amat dengan persangkaan orang lain, namun di sisi lain, disalahpahami bukanlah kondisi yang menyenangkan, dan membiarkannya sama saja seperti menanam bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu, yang korbannya bisa saja tak hanya kita seorang, bisa lebih dari itu.

Maka, (lagi-lagi) jika ada yang bertanya, “dengan keadaan yang tidak memuaskan seperti sekarang, kenapa tidak pergi saja?”, mudah-mudahan mereka bisa (paling tidak) untuk mencoba memahami sesuatu sekalipun sesuatu itu mungkin tidak (atau belum) bisa mereka terima.

Maybe there’s always a reason to stay… itu ada benarnya juga.Yah, maybe. :)     

 

Di Luar Persangkaan

Memang ada ya orang seperti itu? Yang bisa begitu luar biasa kebaikannya saat dibandingkan dengan kebiasaan dan kebisaan orang lain, karena jika orang lain mungkin tidak akan sebegitu baiknya. Dan di saat yang lain ternyata begitu mudah menyakiti perasaan orang lain di saat orang lain mungkin akan (bisa) begitu mudah menghindari untuk melakukannya. Jadinya kaget aja (dan kecewa tentunya). Mungkin ini salah satu sebabnya dibilang tidak selalunya baik berekspektasi terlalu tinggi. Walaupun (mungkin) standar ekspektasi itu juga timbul karena kebaikannya yang terlihat sebelumnya itu. :roll:
Anyway, sudahlah. Bisa jadi pengalaman untuk ke depannya. :roll:

Older Posts »