Apa yang salah dengan sebuah negeri bernama Indonesia? Alamnya diberkahi dengan banyak kandungan berharga. Namun tatap mata tidak sejahtera dan terluka tetap saja ada. Terus bergelayut disana. Apa yang salah dengan negeri ini?
Ia memang masih negeri berkembang. Tapi mengapa begitu sulit merangkak menaikkan taraf hidup warganya? Ah… tentu bukan salah negaranya. Lalu orangnyakah? Mungkin kurang lebih begitulah. Harus mau mengakui. orang-orang yang hidup di negeri itu yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi disana tentunya.
Kalau ditanya apa yang pertama sekali harus dilakukan agar Indonesia “membaik” keadaannya? Sulit sekali rasanya menjawab pertanyaan itu. Perlu jawaban bijaksana untuk pertanyaan yang terkesan pelik sederhana. Karena rasanya setiap permasalahan memang seperti deadline yang menunggu solusi. Mulai dari segi pendidikan, ekonomi, politik, sosial…semua…semua… Dalam tiap lini kehidupan, Indonesia terlihat carut marut. Duhai, tentu bukan salah nama itu jika ia harus menyandang beberapa predikat tak baik yang didengungkan beberapa lembaga survei. Mulai dari rekor level korupsi yang tinggi di tingkat Asia Tenggara, lalu di kawasan Asia Pasifik. Apa ini?
Juga angka kemiskinan, lalu pendidikannya. Walau bukan berarti Indonesia tak punya prestasi sama sekali. Bukan menafikan hal itu. tentu kita ingat TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang menjuarai Olimpiade Fisika Internasional kemarin lalu dengan fantastis. Tapi ini tentu kondisi riil sehari-hari dan persebaran tingkat pemenuhan kebutuhan bagi anak didik dan juga kulaitas pendidikan Indonesia yang masih jauh. Memprihatinkan.
Indonesia sungguh mempunyai potensi sebagaimana orang lain dan negaranya miliki. Orang-orang pintar dan “mengerti” kita punya. Anak didik yang giat dan cerdas pun kita ada. Belum lagi back up sumber daya alam yang melimpah-limpah, kurang apalagi?
Entahlah. Mungkin permasalahan di Indonesia terlalu complicated dan sambung menyambung. Namun seperti ada benang merah di tiap kasus yang terjadi. Moral ! Ya. Moral-lah yang kini tak terkendali dengan baik dinegeri kita. Dekadensi moral bukan yang hingga menjadikan seseorang dan beberapa lainnya lupa dan tega memanipulasi dana yang bukan haknya. Level moral yang rendah saat ini mendominasi tiap keadaan. Mereka dengan tanpa malu dan dengan kesadaran penuh melakukan pemerasaan berkedok potongan atau komisi di tiap bantuan. Entahlah, sulit sekali menjelaskan fenomena yang satu ini. Bagaimana mungkin masih mau menggelapkan dana bantuan untuk korban bencana alam misalnya. Bantuan yang jelas-jelas untuk orang yang sedang sekarat, sedang berusaha memulihkan trauma, sedang berusaha mengembalikan kesadaran dan azzam kuat untuk kembali menjalani hidup seperti semula dengan susah payah? Mereka masih mau memakan dana itu? Ah, Sulit dipercaya memang tapi seperti itulah adanya. Inilah Indonesia.
Sungguh, bukan salah nama Indonesia jika ada warga miskin yang merasa kecewa dengan apa yang terjadi. Dan terkadang mereka merasa tak ada solusi konkrit dari pemerintah. Juga bukan salah nama Indonesia jika para guru masih tak jelas nasibnya. Padahal di tangan mereka lah, negeri mempertaruhkan masa depannya. Pendidikan adalah ujung tombak melakukan pembangunan, membangun peradaban yang lebih baik. But, once again, This is Indonesia.
No doubt in it. Negeri ini masih ada dalam peradaban dunia. Selama masih ada keinginan orang-orang yang berhenti berharap selama itu pula pintu kemungkinan menuju lebih baik terbuka lebar. Negeri ini belum terlalu buruk dan hancur untuk ditangisi. Masih begitu banyak peluang yang ada untuk memperbaiki saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh.
Hhhh…apa ya? Saya selalunya yakin koruptor itu memang banyak di Indonesia. Orang-orang tak jujur dengan amanah yang mereka emban juga banyak dan ada dimana-mana. Orang-orang tak ikhlas bekerja juga berserakan. Orang-orang yang asal kerja dan asal bersuara juga masih banyak jumlahnya. Orang-orang dengan moralitas yang meragukan juga hidup di negeri ini, termasuk juga orang-orang yang mungkin tidak sadar mereka sedang “melubangi kapal” negeri dengan usaha mereka sehari-hari…
Sebagaimana juga yang saya yakini bahwa masih begitu banyak orang jujur hidup disini. Begitu banyak orang yang bekerja dengan bersih juga dengan dedikasi sepenuh hati. Mereka masih hidup di Indonesia. Begitu banyak guru yang bekerja membangun peradaban intelektual dengan kerja nyata dan sungguh-sungguh. Juga orang-orang yang membenci kerja tak halal dan tak jelas tersebar di seantero Indonesia. Mereka masih hidup dan senantiasa menganyam kehidupan dengan cara yang benar dan bermoral. Masih banyak orang-orang baik yang mungkin kita tak mengenalnya. Mereka yang juga punya azzam kuat suatu saat Indonesia bisa bebas dari moralitas memprihatinkan beberapa (eee..include gak ya segitu?) warganya.
Ya, kapankah itu? Tentu tak tertebak kapan waktu itu datang. Terus berusaha dan bersiap-siap saja. Bisa jadi saatnya makin dekat. Kita ikut urun peran disana, mempercepat datangnya masa itu atau memperlambat. Dengan kebiasaan sehari-hari kita. Dengan kebersihan dalam tiap kerja kita. Dalam tiap kesungguhan usaha kita. Semuanya…Kitalah makhluk Indonesia penentu itu semua.



Komentar OOT: apakah isi blog ini sebelumnya ditulis pakai pena dulu, sehingga judulnya jejak pena?
Gak sih pak. Suka-suka aja waktu itu. Mmm…mungkin “pena” di dunia maya kali ya maksudnya…(eh pemiliknya sendiri gak jelas
)
Yang salah adalah…mentalnya…dan syariat tidak di di jalankan dengan benar, contoh kebersihan sebagian dr iman tapi buang sampah sembarangan… sayangilah anak yatim dan fakir miskin tp nggembungin perut sendiri…so sad…
salam kenal yaa…:)
# Evy
setuju Mbak, selalunya kita bagus di teori pas di lapangannya hampir pasti ada malpraktek…
Btw, cara ampuh meng-up grade mental bangsa Indonesia ini ya mbak yang susah, but segala sesuatunya tu mesti ada solusi kan ya? Mesti ada…
Yang salah, adalah manusianya.
Oke sistem kita banyak acak adut, kenapa manusianya membiarkan itu tetep ada. Kan, idealnya bisa lah ngrubahnya.
saya termasuk yang salah. tapi saya juga nggak bisa berbuat apa-apa.
Coba Amin rais ngaku terima dana dari rokhimin dahuri, tapi nggak dipenjara. trus…gimana ya? terusin sendiri lah……….engaku lebih tau merekal ah.
[...] tidak bisa mencari uang. Mereka lebih ingin anaknya tidak mati daripada sekolah. Siapa yang salah. Apa Indonesia-nya yang salah? Entahlah, jangan tanya saya. Kalau saya mau ngasal lagi, saya akan main tunjuk lagi, itu pemerintah [...]
Mungkin..
yang salah itu..
Orang pintar negara ini kebanyakan lari ke luar negeri dan tinggal di sana, karena negara ini MUNGKIN nggak terlalu memuaskan bagi mereka. Hehe.
Terus juga…
Kebanyakan yang jadi pejabat negara ini malah orang yang serakah akan harta, dan orang-orang yang berpolitik kotor. dan orang-orang baik kebanyakan enggan memasuki dunia ini karena mereka nggak mau ikut-ikutan ‘kotor’.
Saya rasa nasionalisme negara ini masih kurang…
Yang salah ya yang maling…….