Tentunya momen ini diingat banyak orang. Terlebih lagi, setelah peristiwa ini terjadi, menjadi salah satu faktor Jepang melepaskan Indonesia sebagai daerah jajahannya.
Pelajaran sejarah pahit yang harus diterima Jepang sebagai salah satu konsekuensi peperangan. Putar jam waktu ke masa Agustus 1945 sebentar ya…Walaupun bukan sejarawan, (jauh banget dari sana), juga kalau ada yang salah-salah kesebut, koreksi aja… Ini juga cuma sedikit cerita, sisa jalan-jalan Maret kemarin ke Hiroshima, di kompleks bekas pengeboman Nuklir 62 tahun yang lalu.
Bercerita dimulai…
Setelah dengan sukses Jepang memporakporandakan Pearl Harbour, bom pertama oleh negara lain dalam sejarah Amerika di tahun 1941, 4 tahun kemudian, US di bawah pimpinan presiden Harry S. Truman saat itu, melancarkan serangan bom balasan yang lebih telak. Ya, Bom Nuklir …
Ini memang pengeboman Nuklir pertama dalam sejarah manusia. Dan terencana dengan begitu matang. US mengurus izin untuk penggunaan senjata ini kemana-mana, hingga akhirnya keluar persetujuan. Meski fakta sejarah juga menyatakan bahwa hampir seluruh ilmuwan saat itu dan banyak pihak lain menentangnya.
Dan pada 6 Agustus 1945, pagi hari musim panas yang cerah, langit kota Hiroshima begitu bersih, tak ada awan. Pukul 8 lewat 15 menit, sebuah bom Nuklir (Uranium), Little Boy, (namanya cute benar?) dijatuhkan di Hiroshima. Bukan di bagian pusat latihan militer Jepang di kota ini, tapi di tengah-tengah kota. Dalam radius 2 Km semua luluh lantak dan terbakar. Lebih dari 200.000, ada pula sumber yang menyebutkan estimasi 140.000 lebih. Dari museum yang kami kunjungi, disebutkan lebih dari 200.000 nyawa melayang dalam sekejap dan ribuan lainnya luka-luka dan penderitaan akibat radiasi bom atom itu menanti… Menyisakan penderitaan panjang dan kengerian di hari-hari selanjutnya…
Kemudian disusul pula pada 9 Agustus, Nagasaki yang menjadi sasaran. Fat Man (Plutonium) dijatuhkan disana dimana sebelumnya beberapa kota yang lain seperti Kyoto, Yokohama dan Kokura sempat dimasukkan dalam list target.
Dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota di negeri Sakura ini, Jepang mengundurkan diri dari perang. Kekalahan telak yang harus terbayar mahal.
Fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa perang selalu membawa kerugian besar yang irreversibel bukan?

Hhhh..cerita nonfiksi ini pun selesai…
Masih Maret kala itu, udara musim dingin tinggal sisa-sisa. Musim semi bersiap mengganti posisinya…tapi sempat tertangkap…Early sakura di Hiroshima…

:: Up date ::
Sedikit tambahan terkait dengan koment Mbak Rey tentang jugun ianfu. Ini memang bisa disebut sebagai dosa kecil seperti yang disebut Mas ini. Jugun ianfu merupakan istilah untuk wanita yang dipaksa untuk menjadi “pemuas” bagi tentara Jepang yang ada di Indonesia dan beberapa negara jajahan Jepang lainnya, dalam kurun 1942 – 1945.
Di Indonesia, sebagaimana yang dikatakan Sora, bahwa kononnya di Padang sempat terjadi perekrutan namun ditentang oleh Bung Hatta. Tentang perekrutan di Padang ini, saya belum dapat informasi, mungkin nanti akan saya tambahkan lagi begitu ada. Tapi yang jelas di Indonesia, para perempuan biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan (diambil begitu saja di jalan atau bahkan di rumah mereka), diiming-imingi untuk sekolah ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara.
Sampai saat ini, para mantan jugun ianfu masih merasakan trauma psikologis dan gangguan fungsi fisik akibat pengalaman pahit yang pernah mereka alami. Belum lagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi dengan benar, justru menganggap mereka sebagai wanita penghibur (tanpa paksaan).
Jugun ianfu, salah satu kebijakan Militer Jepang
Penelitian sejarah ke dalam pemerintah Jepang mencatat beberapa alasan untuk pendirian rumah bordil militer. Pertama, penguasa Jepang mengharapkan dengan menyediakan akses mudah ke budak seks, moral dan keefektivan militer tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan mengadakan rumah bordil dan menaruh mereka di bawah pengawasan resmi, pemerintah berharap dapat mengatur penyebaran penyakit kelamin. Terakhir, pengadaan rumah bordil di garis depan menyingkirkan kebutuhan untuk memberikan ijin istirahat bagi tentara.
Menurut riset oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Eurasia, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari jugun ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.
Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.
Pada tahap awal perang, penguasa Jepang mengambil pelacur melalui cara konvensional. Iklan yang menawarkan pekerjaan sebagai pelacur muncul di koran-koran yang terbit di Jepang dan koloni Jepang di Korea, Manchukuo, dan daratan Tiongkok. Banyak yang menanggapi iklan ini dahulunya merupakan pelacur dan menawarkan jasa mereka sukarela. Yang lainnya dijual oleh keluarga mereka kepada militer karena kesulitan ekonomi.
Namun, sumber ini dengan cepat mengering, terutama dari Jepang. Menteri Urusan Luar Negeri menolak pengeluaran visa perjalanan bagi pelacur Jepang, karena merasa akan mencemari nama Kekaisaran Jepang. Militer kemudian mencari wanita penghibur di luar Jepang, terutama dari Korea dan Tiongkok. Banyak wanita dibohongi untuk bergabung ke rumah bordil militer. Lainnya diculik. Pelacur Jepang yang tetap tinggal di rumah bordil militer sering menjadi karayukisan, atau manajer rumah bordil, menyisakan wanita penghibur non-Jepang menjadi korban pemerkosaan beruntun.( Source nya, kochira desu :) )
Dan kekaisaran Jepang memang tidak pernah resmi mengakui atau melakukan permintaan maaf kepada negara-negara bekas jajahannya itu. Tiap orang pasti punya analisa dan judgement sendiri-sendiri. Diakui sebagai Super Power di Asia memang tidak lantas serta merta menghilangkan imej negatif negara ini di PD II dulu. Kalau itu berpengaruh pada penilaian kita terhadap sosok Jepang, proporsional dan tetap objektif agaknya lebih bijak kita lakukan.




Per-ta-max.
)
(oplosan by sora9n
Foto gedungnya bagus. Yah, perang memang nggak membawa hasil apa-apa selain keuntungan dagang senjata
. Kasihan keluarganya para tentara dan para warga sipil yang terluka & tewas, tuh.
Btw, di sana suka nonton Gundam nggak? Pesan perdamaiannya banyak loh.
Sora9n
Lhaa..ini masih bawa-bawa cap itu? banyak juga korban Antobilang, hi hi…
Arigatou…
Benar, tapi buat negara, eksistensi kekuatan yang terakui ada di sesuatu yang namanya perang itu..
hhh..akan ada saja pembenaran begitu sudut pandangnya diubah kan ya?
Hi hi…gak nonton nih…seringnya ga sempat…(halaaa alesannn). Tapi katanya memang bagus
*mo sempatin nonton kapan-kapan*
yaks….kok sudah diisi ama sora…
*pulang ah karna ngga pertamax*
*eit balik lagi*
tapi itu justru jadi titik balik yang paling menentukan untuk kemajuan bangsa jepang sampai sehebat sekarang.
btw, ketigaxxx!!!
Semua pasti ada konsekuensinya…
antobilang
hebat nih Mas Anto, cap itu pada nular kemana-mana…
Bukain pintu lagi…
Iya, terkadang kondisi buruk dan menyedihkan malah jadi lecutan untuk mencapai keadaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya…dan mereka membuktikannya…
btw, Indonesia pun bisa, ga mesti lah nunggu segaya Little Boy atau Fat Man itu…*ampuuun, ngomong apa sih!!*
Kapan ya Indonesia bisa lebih baik keadaannya? Hmmm… pasti ada jalan kan? *Optimistic mode ON*
Ck ck ck…ga bisa ilang deh gayanya ini…
deKing
Ya Mas, pasti, cuma beda orang beda pula reaksinya terhadap konsekuensi atas apa yang udah mereka lakukan…
gambar sakura-nya bagus, cerita tentang gedung korban nuklir seru, yang lebih seru lagi korban manusiany yaah tapi jepang hebat euuy 62 th yll luluh lantak sekarang jd superpower Asia lagi, well setidaknya menjajah di bidang perdagangan… met belajar ya jejak pena, euh namanya sapa sih… palin ga suka manggil orang dg nama blognya…
# Evy
cengengesan,
Iya, seru yang menyakitkan sebenarnya.
Juga setidaknya mereka benar-benar menghapuskan penjajahan terhadap negara lain dan juga terhadap warga negaranya…
Makasih Bu…(senang kali, yang bilangnya itu Ibu-ibu gitu lho…)
Boleh manggil Za aja Bu…*liat kiri kanan*
Saya bukan buronan kan ya, tapi tetap segan aja(halaaa…jelek banget kata yang ketemu) majang nama…
gambarnya gak tau bagus ato g, soalnya belom keliatan-loadingnya lambuat nian-, ya udah laen kali sangat ingin sekali liat gambarnya..
kalo mnrt gue sih itu salah mereka sendiri. Kayaknya justru bbrp bangsa terluka gara2 ulah mrk. Emang sih setelah peristiwa itu mrk bangkit jadi hebat banget, cuma buat apa ya kalo gak punya hati. Gue msh inget deh berita soal jugun ian fu (bnr gak tulisannya?) dr negara2 bekas pendudukan jepang minta ganti rugi ke pemerintahan jepang, sementara negara lo cuman minta permintaan maap dari mrk. Tp gak ada tanggapan apa2 tu dr pemerintahnya. Gila yee… minta maap aja gak mau, sombong bener.
Sori ya kalo komen gue rada laen dr yg laen, malah bernada esmosi, maklum… ehhmm (dodolnya) gue ampe skrg msh “dijajah” jepang, hehehe, dan sayangnya gue blm pernah tu ketemu jepang yg baik (kesiaann deh…)
@ rey
Salam kenal,
Iya, jugun ianfu termasuk dalam salah satu kejahatan perang Jepang di PD II; walaupun pemerintah aslinya nggak pernah mengakui secara terbuka sampai sekarang. Konon (konon lho) dulu sempat ada rencana buat ‘merekrut’ jugun ianfu dari Padang; tapi rencana ini ditolak keras oleh Bung Hatta selama pendudukan Jepang. Entah gimana kelanjutannya rencana tsb, yang jelas akhirnya cewek2 Padang selamat dari rencana amoral tsb.
‘Dosa’ yang lain ada lagi sih, yaitu pas Jepang mencaplok wilayah Korea sebelum PD II. Ini juga sampai sekarang masih nggak diakui sama mereka, tuh.
@jejakpena
Hee…
Padahal, kalau mau teliti, namanya si mbak ini bisa ketahuan dengan gampang lho. Orangnya sendiri ngasih tau dengan jelas, kok…
~hayoo, makanya yang bener jaga identitas!
~
Hiyaaa… maaf buat IchsanMufti, Mbak rey dan Sora9n, lambat jawab komennya…Malah udah dibantu jawabkan oleh Sora lagi, thanks Sora…
# IchsanMufti
Biasa aja kayanya gambar gedungnya, hancur-hancuran, walaupun gak total…Mudah2an udah liat ya Pak
# Rey
Benar kok mbak, jugun ianfu itu pun menurut penelitian ada 40 % nya dari perempuan Jepang juga, itu kebijakan militer nya Jepang yang tetap diprotes masyarakat jepang sendiri. Bahkan disebutkan saat Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan, warganya menyebutnya sebagai buah pahit akibat perang yang harus ditanggung rakyat akibat arogansi pemerintahnya… Tidak semua orang Jepang setuju dengan perang dan penjajahan.
Lho, ya gapapa kan? Heee..ntar dulu, maksudnya dijajah sama Jepang itu…Hooo..iya iya…ngerti deh, hi hi, saya lebih kurang juga kok Mbak
. Eh, mereka itu sekarang ramah dan penolong kan ya? (paling gak yang saya lihat dan alami sendiri)…
Dan tentunya mereka juga punya hak untuk dipandang secara proporsional dan objektif kan ya?, walau tanpa menafikan bagaimana track record mereka tentunya,
# Sora9n
Tambahan juga, tidak hanya Korea, masih ada beberapa negara lain yang jugun ianfu-nya diambil dari sana. Seperti borok luka memang “prestasi” Jepang ini di PD II itu, miris tapi seperti itulah faktanya.
Hi hi..kalau Za itu gak papa kok Sora, yang disini kan?
Lhoo..ini penjagaan yang salah kah? *dengan ekspresi tenang*
(di belakang layar, nyembur-nyembur api…”Sora!!! Sini kamu!!”)
jugun ianfu ya? jadi inget sama cerita nenekku…
pas jaman jepang, klo beliau pergi ke luar desa, entah ke jogja atau ke keraton, beliau dan kakaknya sampe memakai baju dan celana (jaman dulu kan beda sama jaman sekarang, menurutnya hampir nggak ada wanita yang memakai celana untuk pergi kemana-mana) plus capil, jadi nggak ketahuan mereka itu cowok apa cewek. salah satu alasannya adalah agar nggak “diculik” oleh tentara jepang. meskipun beliau berdua adalah dari keluarga yang “ningrat” but itu bukan jaminan mereka akan aman dari tentara selama berpergian. klo nggak, alamat deh jadi jugun ianfu… that’s why untuk pergi ke mana-mana, mereka selalu nyamar… (hmm… sebegitunya)
tentang hiroshima… tahun lalu, aku nonton film judulnya hiroshima, tentang tiga bersodara cewek yang tinggal di hiroshima… hiks… habis nonton film itu dan melihat gimana bom atom menghancurkan hiroshima… nggak sadar air mata meleleh… secara aku cowok gitu loh…
# YaYaN
Whuaah…Mas Yayan dengar langsung cerita dari saksi hidup ? Berat benar ya masa sulit itu, yang tergolong “ningrat” saja sebegitunya, apalagi yang masyarakat biasa yang bukan ningrat. Ga kebayang kalau kita yang menjalaninya
Tiga tahun setengah sama Jepang katanya memang lebih mengerikan dibanding 350 tahun dijajah oleh Belanda walaupun yang namanya penjajahan tentu sama buruknya.
Hmm… kalau saya yang nonton… hmmm…
@ jejakpena
Bukan cuma ‘Za’ nya doang kok. Bla-bla-Za-X, kan?
Makanya, yang bener jaga identitas!
Pastinya banjir air mata (sok yakin). Dibaikin dikit aja udah terharu kok…
(contoh di sini dan sini .
@ jejakpena
Nggak cuma itunya doang kok. Bla-bla-Za-X kan?
Makanya, yang bener jaga identitas!!
Pastinya banjir air mata (sok yakin
). Dibaikin sedikit aja udah terharu kok… Coba aja search di halaman “about”-nya blog ini, kata “terharu”. Pasti kebanyakan yang ngomong si mbaknya sendiri deh.
Nggak mau ah. Onee-chan-nya galak.
Sora9n
Ya Ampuuuun!!! Kalau ketemu langsung bagusnya diapain ya anak ini…?!!
*Bukan lagi di belakang layar keluar semburan api, ini udah nyampe ke depan*
…gomen na sai.
sore to kore de yokunai nara, keshite kudasai yo. Boku no sei desu.
~gomen~
# Sora9n
Lho? Lho? *kaget*
Doushite Sora kun? doushite?! zen zen daijoubu yo, sore wa jhoudan dake, deshou?
Hi hi… kenapa Sora bisa shock gitu? Kok bisa sesensitif gini Sora?
*masih ga percaya*
Ada apa ini? ada apa?!! *sok panik*
*mau cek, tapi ga sempat blogwalking lagi…*
Anta… nanika taihen ga iru deshou?
Makanya, saya jadi lebih hati2 soal itu. Kan “ill-timed jokes can bring you enemy”.
Ini aja udah nyemburin api…
# Sora9n
Oo..sokka.
Hmmm… ano… taihen na koto ga aru desukedo (tiap orang pasti punya kan ya?) demo Sora kun no jhoudan wa daijoubu yo,
yakin aja, itu gak kejadian disini kok…
Lagipula, Semburan api itu bukannya lebih mendingan daripada “kota jadi rata tanah” kemarin itu?
*Yes!! Balikin lagi*
Eh? ana anti, akhi, anta ja nai…
@ jejakpena
Lah, ini bukan bahasa Arab… memangnya ente nggak tau urutan2 anata-kimi-anta-omae-ki*ama-ono*e ?
Lagian saya ogah dipanggil pakai ana-antum-akhi macem gitu… terlalu ‘melangit’ dan kurang membumi. (ne, namae wa sora dakedo sa…
)
*nyengir dikit*
(Ssst, nggak banyak lo tipikal cowok menderita yang bisa tersenyum kalau di komik & film
)
*dikejar massa*
# Sora9n
Whuu hu hu…Kirain…Lha, saya tahunya yang anata, nihon go ga mada jouzu ja nai desu kara
Oo… tiap orang punya pilihan kan ya?
Siapa tahu ada hubungannya dengan yang belakangan terjadi itu (paham kan maksudnya?)
Kejar terus!!
*provokasi massa*
:: The End ::
Bleh, makin OOT… (~_@)”\
Tapi perlu diluruskan juga sih. Jawab lagi deh.
Nggak juga. Dari SMA juga udah gitu, kok.
Halaah, nyembunyiin identitas aja belom bener, udah jadi provokator. Masa orang seperti saya sampai tau nama aslinya si mbak ini sih?
*ulangin lagi ah*
Yaah, filmnya habis…
*childish mode on*
Onee-chan, habis ini anterin nonton tokusatsu ya… mau kan? mau kan?
*bleh*
# Sora9n
Iyya, makin OOT nih, tapi maksud saya gini,
Siapa tahu Sora nulis anta itu niatnya anti, kan belakangan di blogosphere beberapa varian kata itu “sering” disebut. Gitu, mudah2an tidak salah persepsi…
Oo, i see
Iya…Iya, udah dapat kok maksud pesannya. Jangan diulang-ulang lagi deh, kalau gak…*siap-siap…*
Hush, katanya tugasnya numpuk, laporan juga, ujian lagi, malah mau nonton Tokusatsu, sana kerjain dulu…
*bleh*
*bleh juga*
kok resensinya (pas masalah jugun ianfu) sama persis sama wikipedia ya..
# Arum
Salam kenal, makasih sebelumnya …
referensi jugun ianfunya memang bersumber dari sana, Mas…atau mbak?
Wah.. Dahsyat.. Gmn jadinya klo PLTN Muria yg bentar lg mau dibangun bocor dan nasib penduduk indonesia. Wah pasti repot deh…
karena lom merasakan penjajahan jepang dulu (lom lahir) jadinya ga begitu benci2 amat ma jepang… eh sekarang malah suka ma anime2nya lagu2nya film2nya…
GW berbeda pendapat nih, boleh khan….. Gw sampai sekarang masih benci sama yang namanya jepang… kenapa? karena mereka gak mau mengakui kesalahan yang telah mereka pebuat, seharusnya sesama bangsa asia, mereka harusnya saling membantu, bukan malah sebaliknya menjajah. yang jelas sekarang kita sebagai bangsa Indonesia janganlah mudah percaya sama negara tetangga karena terlalu percaya jadi bisa di bodohin (di goblokin) sama negara orang…
bener ga sih gedungnya itu bekas sekolah murid sd coz aku tahu dari baca komik miiko……
klo bener yang meninggal tuh murid kelas 1 dan2 sd ya sedangkan yang kelas diatas 3 ngungsi di wilayah pegunungan
Thankz
I hope you balaz my letter
BODO amat dengan Jepang.
Indonesia aja ampe skrng juga masih kena komplikasi ga sembuh2.
belum baca semua, tp kynya ok, aku print aja dulu dah.. besok di koment. dah malem
bookmark mode: on
\rid1 commencing termination…