Oh, bukan hanya anda, mudah-mudahan kita semua… Ah, tiba-tiba setelah mengetikkan judul itu, saya jadi teringat slogan yang populer ini di tempatnya pak Rony -dan juga di beberapa blog yang kemudian juga memasangnya-, sejak beberapa waktu lalu terkait terkuaknya kasus kekerasan di STPN. Tapi ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu. Cuma salah satu kekurang kerjaan saya nulis entry pengisi masa luang nan lapang selama libur Golden Week. Libur? Benar… \(^_^)/
Gak papa ya, saya cerita-cerita perkara hidup saya lagi
Sebagaimana faktanya bahwa di semester kali ini, ahirnya saya terambil mata kuliah sosial budaya. Terambil? Benar! Niatnya itu ambil mata kuliah yang banyak mahasiswa Jepang tapi pengantarnya bahasa Inggris, jadi waktu ngisi KRS milihnya Theory of English Communication, apalagi pas lihat dosen pengajarnya, begitu cerita ke teman yang pernah ambil mata kuliah dengan dosen itu, langsung dikasi ucapan selamat sekaligus dukungan bahwa sebaiknya mata kuliah ini memang diambil. Rupanya beberapa hari kemudian dihubungi pihak gakuiseika, mata kuliah yang saya pilih itu gak dibuka di semester kali ini, tapi di Fall semester, he he…berarti diriku salah pilih range mata kuliah toh? Akhirnya disarankan untuk mengambil Theory of Cross Cultural, secara dosen yang ngajarnya sama, barangkali mereka salah tangkap bahwa saya itu nge-fans dosennya bukan mata kuliahnya kali? Ffuihh…
Jadilah setelah pernah say good bye untuk mata kuliah sosiologi zaman tingkat I dan II dahulu (heh he.. berasa tua ini sekarang), akhirnya di tingkat akhir begini bertemu kembali dengan “saudara” mata-mata kuliah sosial lagi. Awalnya agak kaget dan sejujurnya kurang pas di hati, setelah sibuk tanya sana sini kelegaan dan syukurnya juga kesiapan untuk hadir di kelas pun datang. Satu lagi.. ada rasa penasaran saat menunggu hari perkuliahan tiba setelah libur musim semi kemarin itu. Halaa… bilang aja kekhawatiran gak bisa adaptasi…
Mmm…iya juga sebenarnya, takutnya logika sosio kultural saya yang memang minim ini gak bisa mengikuti teori-teori seputar masalah itu misalnya…
Begitu jadwal kuliah keluar.. ya ampuun…naas pertama adalah kuliah itu diberikan pada periode satu, pagi!! Hampir selalu dalam keterburuan dan keengganan, apalagi kalau hujan… T_T.
Syukurnya naas tak berlanjut. Lalu bagaimana setelah pertemuan pertama? Wah… sampai ga tega begini mengakuinya… Saya langsung suka dengan mata kuliah ini. Sang dosen, Charles Jannuzi, seorang Amerika benar-benar bikin simpati saya meningkat secara signifikan sepanjang perkuliahan berlangsung. Hmm… tidak tahu apakah ini cukup objektif ataukah subjektif secara mengikut kenyamanan saya pribadi dalam mengikuti kuliah ini. Untuk minggu depan akan memasuki pertemuan keempat. Salah satu yang jadi nilai tambah interest saya dengan mata kuliah ini, selain gaya khas tak lazim dan keramahan dosennya adalah bahwa salah satu media belajarnya dengan film. Di dua pertemuan lalu sebelum libur ini yang pertama disuguhkan adalah Baraka.
Lucunya, saat pertama sang dosen mengatakan bahwa film yang akan ditonton di perkuliahan minggu depan adalah Baraka itu, pikiran saya malah mutar-mutar tak jelas dan tidak sensitif dengan judul itu. Bahkan sesaat sebelum dosen datang, teman saya menanyakan bagaimana preparing saya tentang film yang akan ditonton, uwaaa.. baru ingat dan sadar bahwa saya totally blank dengan perkuliahan hari ini… betapa mengenaskan antusiasme mahasiswa satu ini… Dan selintas teman itu sempat memamerkan catatan hasil perburuannya, hanya sempat tertangkap sedikit, “Baraka is a blessing… ” dan terputus disana karena ternyata sang dosen telah datang dan kuliah pun dimulai.
Sebelum pemutaran film start, dosen sempat menanyakan apakah ada yang tahu arti kata baraka itu. Dan tiba-tiba saja, saya terlonjak sadar, teringat kata mubarak. Hingga ” is it from Arabic language?” pun dengan spontan meluncur. “Yes, it is…” Begitu diiyakan saya malah kemudian merutuki ketololan dan ketulatit-an pikiran saya, kenapa bisa baru sekarang ngeh dengan kata itu?? Ya ampuunn!! Padahal jelas sekali bukan? Baraka! Ya, Baraka…
Oh ya, salah satu perkara menggelikan saat tirai jendela yang panjang berwarna hitam ditarik untuk mencegah cahaya masuk sehingga fokus hanya ke dua layar menggantung di kiri kanan depan adalah warning No Sleeping, he he… Dimana-mana ternyata fitrah manusia emm… lebih khususnya mahasiswa…agaknya sama ya. Suasana gelap dan remang komposisi cahaya dari layar itu memang moment yang tepat untuk melanjutkan tidur sisa pagi tadi. :)
Lebih lanjut… direktor Baraka ini adalah Ron Fricke, saat ditanya kenal tidak dengan nama itu, hampir semua dengan segenap hati menjawab polos tak kenal… termasuk saya…
Dirilis tahun 1992, film ini tanpa dialog hanya musik dan gambar saja. Yang lebih bikin saya tergaet ini adalah Indonesia masuk salah satu lokasi syutingnya diantara 24 negara tempat film ini dibuat. Tentang budaya tradisional dan kehidupan modern, tentang alam dan peradaban manusia dari masa ke masa.
Habis nonton film itu dalam dua kali pertemuan, saya malah terfikir dan tergiring pada suatu pertanyaan. Hal apakah yang paling esensial bagi runtuhnya peradaban manusia, baik sejak dahulu hingga sekarang? Adakah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan urun peran disana? Sepertinya iya.
Lalu misalnya saya lahir di tengah-tengah keluarga suku Dayak, mungkin saya akan merasa itulah hidup normal yang semestinya. Terserah dunia luar menilainya sebagai kehidupan primitif. Atau juga dengan pemujaan dan kepercayaan pada kesucian sungai Gangga yang diyakini masyarakat India sebagai tempat menyucikan diri, jika saya hidup disana maka saya juga akan berperilaku dan hidup dengan adat istiadat seperti itu bukan? Karena seperti itulah yang saya lihat dan saya dapat seak saya lahir dan besar disana misalnya. Atau pula jika saya ditakdirkan lahir sebagai bagian dari keluarga samurai misalnya, atau juga di Iran sana, otomatis gaya hidup saya akan seperti selazimnya gaya hidup dan kebiasaan orang-orang disana tentunya… Dan tetap saya akan berpandangan kehidupan seperti itulah yang semestinya buat saya.
Karena saya lahir di Indonesia misalnya, (ini fakta ya…) dengan kebiasaan hidup di tengah keluarga muslim, mendapatkan dan menjalani semua aktivitas hidup hingga menjadi kebiasaan dan laku hidup sehari-hari… maka kemudian yang terlintas adalah, seperti inilah kehidupan yang patut dan pantas bagi saya dan mungkin saya tidak akan bisa survive seandainya tiba-tiba saya harus tinggal dan hidup dengan laku tak lazim yang tidak pernah saya lihat dan lakukan sebelumnya…
Wah… payahnya itu memang subjektif benar, jadi peluang didebat dan tidak disetujui tentu saja terbuka lebar…
Di tengah masa lapang dari aktivitas kuliah dan lab karena liburan ini, ternyata hati saya tidak selapang anggapan awal.. karena hingga sekarang pun, usaha perburuan textbook untuk mata kuliah ini belum ada hasilnya. Waktu kemarin itu teman bilang ada di koperasi sekolah, kami tidak langsung bersegera hunting, jadinya sampai sekarang belum dapat. Lagipun kalau beli di luar harganya bisa jadi lebih mahal… T_T
Mau bilang apa? Salah sendiri juga… -_-



nggak sama dengan cross country understanding ya..?? apa mirip-mirip gitu? he..he… lagi-lagi kedangkalan kecerdasan otak
Kirain karena dosennya ganteng…
Hihihi, seperti biasa… mbak yang nggak-jelas-tapi-lucu ini…
*langsung kabur*
Ps:
Sial, nggak jadi pertamax lagi… -_-’
# peyek
He he… saya juga kurang paham sebenarnya ini pak, tapi agaknya Teori Lintas budaya ini lebih kepada bagaimana budaya suatu bangsa kemudian mempengaruhi dan dipengaruhi bangsa lainnya… Nah kalau cross country understanding saya malah baru dengar… sepertinya ini dua hal yang berbeda memang… Maaf kalau jawabannya tidak memuaskan
# Sora9n
hush… terkadang faktor yang itu ga terlalu signifikan…
udahlah, mau ngeledek lagi pakai diperhalus pula…
Heh, mendingan saya ding, daripada Sora tu gak-lucu-dan-suka ngeledek …
ya, ya… hati-hati, tiang depan banyak korbannya
*onee-chan mode On*
Besok2 lebih pagi ya Dek datangnya…
@ jejakpena
Saya lucu, kok. Mbaknya belom pernah ketemu aja, jadi ngomongnya gitu…
Ah, itu kan cuma menelan manusia biasa doang…
Hai desu… ^^;;
# Sora9n
Really ?? ya… ya… kita lihat saja nanti
pokoknya sudah diingatkan
Karena saya terlahir di tengah-tengah keluarga biasa, maka menjadi manusia biasa adalah hidup normal yang semestinya untuk saya. Terserah
Sora-kundunia luar mau menilainya seperti apa*maaf, numpang ketawa bentar nih*
HUAHAHAHAHAHAHAHAAAAA…
*kabur sebelum pemegang lisensi kalimat tsb ngamuk* hehehehehe
@Sora-kun:
Maksudnya apa/siapa ya?
@Jejakpena:
Mbak belum tahu ya kalau Sora lucu? Coba masuk you-tube dan cari “Sora-kun” , siapa tahu nemu hehehe…
deKing
*reply koment sambil nahan ketawa*
Heh he.. Mas deKing, Sora itu kalau memuji memang selalu gak langsung lho…coba tuh sampai bikin teorema khusus saking salutnya dengan “kebisaan dan kebiasaan” Mas deKing…
Lha… walaupun namanya sama, Lucunya gak sama Mas, liat aja kan gimana Sora WordPress ini kalau
kumat ngeledeknya…
Eh? kayanya pemegang lisensi kalimat itu ga suka ngamuk Mas,
Hehehe…makanya saya “berani” komentar2 seperti itu dengan Sora-kun
Saya merasa sudah akrab dengan mas Sora kok
*Sok kenal sok dekat*
Dulu malahan saya mengira Sora-kun itu sudah bapak2 hehehe, habisnya dimana pun juga kalau lagi serius komentar Mas Sora itu mantap dan dewasa.
Tapi jangan2 dugaan saya benar ya? Sora-kun itu sebenarnya bapak2 yang menyamar sebagai mahasiswa ITB
Salam kenal Bapak Sora, bagaimana kabar anak istri? Sehat2 semua kan?
kakakakakakakakak….
*gelar tikar nunggu kedatangan Sora-kun*
Sepertinya nuansa dan aura blog ini mirip dengan blog Sora, saya ketagihan komentar nich tetapi komentar2 yang santai hehehe…
Jangan2 ini karena Mbak Jejak dan Mas Sora sama2 J-lover ya? Saya juga J-lover lho, tetapi jaVanesse hehehe…
Sebenarnya saya tidak perlu dipuji kok karena saya memang benar2 biasa hehehe…
Saya juga santai saja tuch menanggapi tulisan2nya Sora, bisa dilihat dari komentar2 saya
# deKing
*masih sambil ketawa*
Hmm, sekarang agak serius dikit ah…
kalau yang ini saya setuju, Sora itu terkadang lebih dewasa dari aslinya, juga terkadang bisa berubah wujud jadi kanak-kanak, suka bakar-bakaran hampir di banyak tempat, dan pernah meratakan isi kota… ck ck ck… untuk yang ini bolehlah dia jadi manusia non biasa…
No comment deh
, tapi coba baca disini perihal bocoran Soranya sendiri
Wah, kayanya jauh deh blog ini daripada punya Sora, lagipun saya biasa-biasa aja ini kadar J-lover nya ketimbang Sora, bisa nampak juga kan ya?
Iya juga, mo nulis yang serius gak bisa-bisa, kali karena saking ga seriusnya diri saya ini,
Ya deh ya deh… saya jadi yakin betapa “biasanya” mas deKing ini…
Yup, kalau ikutan Sora nanti ketularan suka bakar-bakar
selamat menunggu, mudah2an sebentar lagi datang…
Ya ampun…
Ckckckckckckckckckck….
*geleng-geleng*
Hahaha, terberkatilah saya… v_(^_^)
:::::
@ deKing
Lho, itu karena saya ini manusia luar biasa, makanya nggak bakal nabrak tiang itu. Coba aja baca di sini…
Wah, itu masih classified, yah.
-emangnya kalau belum menikah ada yang mau daftar?
-
Japanese stuffs itu sebangsanya gamelan wayang, dan kawan-kawan kok…
*maaf, kelamaan tinggal di Bandung nih saya. Jadi nggak bisa ngucap ‘f’ dan ‘v’.
*
Waw! Ada manusia biasa bisa menjelaskan teorema Feuerbach!
Berarti menjelaskan teorema Feuerbach itu adalah hal biasa. Saya nggak bisa melakukan itu, jadi saya ini manusia luar biasa dong…
Wah, kehormatan besar nih buat saya, ditungguin sama seorang Pak deKing… ^^v
:::::
@ jejakpena
Oh yaa…??
Mungkin karena saya percaya orang yang diajak ngomong cukup cerdas, sehingga bisa mengurai makna yang tidak langsung itu.
*maksud asli: supaya nggak dimarahin kalau ngeledek lagi berulang2
*
Kampus saya ngeblok Youtube, jadi nggak bisa nonton tuh.
Eh, jadi saya ini betulan lucu ya?
Oh yaaa..?
Ahem, kalau dilihat secara statistik, sifat saya ini masih rata-rata kok. Cuma simpangannya aja yang terlalu lebar ke dua arah (dewasa dan anak kecil); kalau dirata-rata ya sifatnya anak umur 20an… ^^;;
Ckckckckckck…. baru sadar nih ceritanya?
Saya juga percaya kok kalau mas deKing itu manusia biasa. Liat aja, dia bisa melakukan hal-hal biasa seperti di sini.
Tinggal tunggu Mas deKing dapet penghargaan Abel di bidang matematik, semua maematika akan jadi hal yang biasa saja. ^^’
bakar2an itu cuma berlaku buat geng nggak serius sebangsanya Mr. Geddoe dkk… ^^’
(bayangin coba kalau saya ngomong “bakar” ke Bu Evy. Berani kamu™ nanggung akibatnya?
Apa jadinya tuh? Hah? HAh? HAH???
)
:::::
Btw, btw…. kayaknya judul post ini perlu diubah deh…
sora-kun, terberkatilah Anda
Karena ada 6 komen yang muncul di sini khusus untuk membahas diri saya.
~susah memang jadi manusia luar biasa… (~_@)”\
*penat dengan ketawa*
Aree??!!
Ck ck ck…
Tidak ada promosi gratis, Bayar!!
Ffuihh.. itulah, saya turut menyesalkan kenapa hal itu bisa terjadi…
Tapi tetap ga bisa, postingannya gak ada hubungannya dengan biasa atau tidaknya orang yang ngasi koment…
^^
Ya sudah, masuk saja jadi anggota himpunan disitu
Satu kata….MANTAPZ
Asyik…asyik….komentar Sora-kun juga dikaitkan dengan matematika…
Kapan Mbak Jejak ikut2an Sora-kun? (komentar dikaitkan dengan matematika)
*tiduran dulu ach di tikar…capek nich*
wah, dua orang ini saling memuji, ini siapa yang lebih biasa sebenarnya? Yang satu suka spiderman yang satunya suka main robot-robotan…
Wah, nanti pas saya koment gaya Matematika malah nambah kerjaan mas deKing buat ngoreksi, kasihan kan?
Yang baru ini jangan sampai sobek ya…
tttee….
*sadar tiba-tiba*
Whoosah !!?
Apa ini??!! koment vs koment? 14/15 bagiannya itu cuma milik 3 orang yang datang bergantian? ck ck ck…
&%%/\%#&&&…
*klik submit langsung*
@ jejakpena
He? Kenapa?
Uum, berminat?
*kabur*
Wah, betul2 mbak yang suka-nggak-jelas-dan-OOT ini…
Lah, dianya baru sadar…
Terus yang nanggepin semua itu siapa? Kalau nggak ditanggepin pasti nggak akan berkepanjangan, kan?
Jelas2 salah yang punya blog gitu. Nggak mau ngaku nih ceritanya? Hah? HAh? HAH???
Walah, malah ditambahin komennya… (+_+)’
:::::
@ deKing
FYI, sebetulnya nilai matematika dan fisika saya di kuliah jelek… ^^’
Walah, manusia (ter)biasa tidur nih orang… (o_0)”\
Bener tuh…yang salah kan yang punya blog, ngapain juga nanggapin komentar 2 orang tamu (yg satu suka robotan dan yg satu suka Spider-Man)
Ditunggu tanggapannya ya, biar jadi never ending
commentsstory hehehehe….*Kucek2 mata sambil nunggu tanggapan*
# Sora9n dan deking
Ya ampuun dua orang ini !!
Ehm … *tenang*
Sebenarnya ada beberapa yang kurang tepat dan perlu diluruskan tapi karena tidak begitu penting dan malah jadi tambah jauh nantinya, baiknya ga usah saja…
ya sudah,
DiThe Endkan sajaPs :
Tidak menerima protes
[...] Anda penasaran lebih lanjut tentang kuliah saya yang satu ini, Anda bisa membaca sedikit tentangnya di sini . Sebelum film untuk hari itu dimulai, dosen saya membahas sedikit tentang bagaimana peradaban dan [...]