Kamu™ itu perempuan!
Jangan sok tahu lah!
Jangan justifikasi kalau kamu tidak mengerti!
Faktanya kamu sendiri bukan laki-laki!
…
Oke saya tak cukup tahu, tidak cukup mengerti, tidak cukup paham posisi mereka dan memang fakta terpenting, saya bukan laki-laki. Sesekali ganti roh jadi anak laki-laki gimana ya rasanya
Eh, benar juga sih. Saya memang tidak cukup ‘pas’ untuk dibilang tahu, paham, mengerti atau apalah, hanya saja saya merasakannya. Sampai satuan belasan dan kini puluhan (T_T) usia, rasa itu menghidupi saya. Bersinergi dengan luap emosi dan rasa lainnya. (ho ho ho… agaknya akan muncul sisi lain seorang manusia .
Ahaa… jadi begini sebenarnya, langsung saja, dalam beberapa hari ini pun agaknya sindrom tidak-mau-bertele-tele menyampaikan ide hinggap disini. Saya tergelitik setelah menemukan dua fenomena berbeda namun punya korelasi beberapa waktu lalu. Tidak sengaja sebenarnya. Saya sertakan buktinya. Mau diperlihatkan?
Oke, sebelum saya sodorkan bukti itu, mari saya cemari pengaruhi pikiran anda dengan kemampuan ide persuasif saya yang pada beberapa keadaan bekerja dengan baik. Entah untuk kali ini.
Bagi saya ini menyenangkan. Untuk dibaca awalnya lalu direnungkan saja. Syukur-syukur berimbas pada implementasi yang diharapkan. Saya terharu penuh-penuh sih, jujur saja. Soalnya bagi saya… Hemm… ijinkan saya generalisir sebentar, bahwa untuk beberapa kondisi dan syarat, laki-laki merasa cukup punya alasan untuk berpikir dan berbuat simpel, sederhana, minimalis, polos. Termasuk dalam eksploitasi kasih sayang, mengelola perasaan. Coba, bukankah wacana laki-laki cool, pendiam, suka kritik, suka berekspektasi tinggi, standardisasi hasil yang harus perfect dan masih banyak lagi lebih punya nilai jual daripada perempuan cool, pendiam dan selanjutnya tadi. Lihat, sampai segan saya nulisnya karena akan jadi kombinasi info yang buruk dan tidak jelas eksistensinya. (bleh…). Jadinya akan dianggap wajar dan biasa kalau lelaki itu tidak suka memverbalkan perasaannya. Bayangkan jika hal ini dibandingkan dengan wanita? Seorang anak perempuan akan mudah sekali bilang bahwa ia sayang ibu, sayang ayah, sayang semuanya. Anak laki-laki? Awalnya agaknya iya, namun setelah dewasa rasanya seperti ada yang hilang dari cara mereka menyatakan kasih sayang, marah dan emosi lainnya.
Sudah ada bayangan? Bagus. Kesimpulan yang sudah hampir pasti sangat subjektif ini akan diberikan setelah suguhan fakta pembanding yang kelak akan anda ciptakan di akhir setelah membaca tulisan ini.
Maka begini…
Gara-gara beberapa waktu lalu, saat dengan mata berkaca-kaca saking jenuh dan perih, (juga hampir nangis sih
), saya berusaha mereview lagi bahan untuk zemi, salah satunya dengan handbook Quantum Electronics karangan Amnon Yariv, seorang Israel .
Karena sudah sesak dan hampir muntah dengan isinya itu, saya berhenti mengulik isinya…lalu buka balik dari awal, mungkin sambil berharap ada ilham dan saya terkena sihir tiba-tiba lalu dengan semangat kembali membaca buku itu layaknya membaca You’re There -nya Chie Ito, ( komik tua dan antik jaman SMU dulu ). Nyatanya tidak juga. Saya paling mungkin terdampar pada list penerjemah, percetakan, penerbit, lalu beralih ke daftar isi, kata pengantar dan selanjutnya hingga bertemu kembali dengan halaman yang ingin saya telan bulat-bulat saja untuk bisa menghafalnya. Tragis. Eh… tapi ini…
Sebelum lembar kata pengantar dan sedikit biografi Yariv sendiri, di lembar itu tertulis,
(Ah, jangan terlalu berdebar, ini akan jadi kalimat yang biasa saja kok :mrgreen: )
Benar… Yariv hanya menulis seperti ini,
“To The Memory of my father”
Sudah? Baik, ini pembandingnya… yang saya comot dari kamus Kanji Modern Indonesia yang disusun oleh Andrew N. Nelson. Saya tak kenal dia, baru tahu namanya saja setelah dapat kamusnya itu. ^_^
Hampir sama letaknya yaitu di permulaan sebelum kata pengantar, di satu lembar itu,
“Untuk anak laki-lakiku Richard N. Nelson, M.D yang dalam kesibukannya sebagai seorang dokter bedah lulus Ujian Medis Nasional dalam bahasa Jepang tertulis dan lisan sehingga dengan demikian membuktikan bahwa orang Amerika pun dapat menguasai bahasa tersebut”.
Yang pertama, Yariv, seorang anak laki-laki yang mengkhususkan pernyataan buat ayahnya, lalu Nelson, seorang ayah yang juga secara khusus menyatakan sesuatu untuk anak laki-lakinya…
Ah sederhana saja. Tapi ternyata tidak sesederhana itu dampaknya ke tiap orang. Saya salah satunya sih. Dan tanpa disangka, kebetulannya mencolok sekali ini. Saya sampai ke postingan anak ini, yang menuliskan wejangan sang Ayah untuknya di hari ulang tahun beliau. What a boy … what a father…
…
Hmm… paling tidak saya jadi tidak seaneh dulu saat mengatakan bahwa chemistry cinta antar-mereka seperti persamaan reaksi tidak setimbang, ruas kiri dan kanan selalu berbeda, sekali waktu ruas kanan terlalu banyak, sedangkan ruas kiri begitu minim, begitu pula sebaliknya.
Bagaimana cara mereka mencintai? Saya pengamat saja memang
dan sering tersandung pada fakta bahwa cara mencintai mereka, sesama lelaki, terkadang terlihat seperti tali tidak lentur yang diikat kencang kedua sisinya pada dua ujung pasak berbeda. Tegang. Kaku. Kalau tidak hati-hati saat berjalan, bisa saja tersandung keras dan terpelanting jatuh mungkin? Atau punya analogi lain?
FYI, anak Amnon Yariv itu perempuan semua sih (ada hubungannya tidak ya?) dan dia itu ayah yang hangat… (Paling tidak sedikit saja sih nampak dari biografinya itu). Lalu, apa hal ini ada hubungannya dengan harmonisnya hubungan Yariv dengan ayahnya ya? Atau mungkin sebaliknya? Hmm… buntu lagi.
Bagaimana? Atau bagi anak laki-laki, coba bilang lebih nyaman mana saat diskusi dengan ayah atau saat curhat dengan ibu? Atau tidak sama sekali untuk dua hal itu? Lebih mudah tersinggung saat dimarahi ayah atau lebih cepat tersentuh saat ibu yang menegur? Lebih senang saat dipuji ayah atau lebih sedih saat ternyata mengetahui sudah mengecewakan ibu? Yang mana? Atau tidak ada RASA sama sekali?
Emm… sebenarnya ini sedang dalam rangka menelaah sih, bagaimana sebenarnya rumus kimia hubungan kasih antar mereka… Atau memang benarlah itu, bahwa tidak semua hal ada rumusnya?



ah semua ada rumusnya bos
bila dunia ini terjadi spontan saja, bisakah kita tahu bagaimana keteraturan di dunia ini berasal?
materi tidak akan berbicara banyak ketika di hadapkan pada rahasia alam semesta yang benar-benar disimpan rapatnya oleh kuasa Ilahi. dan orang yang mampu membacanya adalah yang diberi ilham dan mau bekerja keras menemukan ilham itu berada.
percaya apa tidak, hal sekecil misal urutan perhitungan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 ada maknanya. setiap angka punya makna. setiap perkalian punya pola yang indah. itu baru saja hal yang kecil. belum lagi hal yang besar!!!!
hehehe santai saja, dunia itu bila dipikir secara materi pasti ada rumusnya. tetapi kembali pada satu permasalahan: rumus itu tidak akan terjadi bila tidak ada Sang Genius yang menyusunnya. itulah Tuhan Yang Maha Menggenggam Jiwa ini.
peace ^^
kekekekek cinta mah ga ada rumusnya…. penemu e=mc2 pun bisa termehek2 gara2 cinta..atau patah hati, rumus kagak berlaku…. ini kerjaan hormon bener chemitry, mungkin ke depannya bisa di kendalikan who knows? pil cinta… glek…
curhat dengan ibu..
saat dimarahi ayah..
hmmm, jarang dipuji dan sering mengecewakan, no komen untuk yang ini..
tidak ada RASA?
hehehe, wassalamu ‘alaikum.
*gagal pertamax*
Atas nama diri sendiri sebagai seorang laki2 saya berpendapat kalau wanita lebih bekerja dengan amplitudo sedangkan laki-laki dengan frekuensi
‘Anak ini’, eh?
Ahahahaaaa…
Saya jarang curhat sih, jadinya enak diskusi sama ayah… Lebih nyambung gitu–
Heheheee… Saya tersinggung, selalu. Tapi paling cuma lima menit lah, ngambeknya. Habis itu saya pikir: “Ada benarnya juga ya…”
Tentu saja saya sangat sedih apabila sudah mengecewakan orang tua.
o.O
bagaimana lelaki menjalin relasi memang unik. sudah pernah nonton filmnya Ang Lee, Brokeback Mountain?
bukan, saya bukan sedang bicara soal homoseksualitasnya. saya bicara relasi “persahabatan” (meskipun persahabatan yang, katakanlah, “menyimpang”) antara 2 pria.
sependek pengamatan saya, relasi pria dengan pria itu jauh lebih kompleks daripada pria dan wanita.
kasusnya begini, misal Anda seorang istri, suatu malam teman2 suami Anda mengajak suami Anda keluar nonton bola sampai pagi di kafe. Jika saya yg diajak, dgn senang hati saya akan meninggalkan sejenak dan menikmati kegembiraan ngumpul bareng teman2 pria saya. (entah dengan yg lain, tapi saya yakin banyak yang mengangguk sepaham dengan saya ^^)
dan hal itu, terkadang sangat sulit dipahami perempuan.
eh, ini OOT nggak sih? ngomong apa ya saya ini? wis, ndak usah direken deh… cuman racauan kecil pagi2 sebelum kerja… kekekeke
–> secara aku anak laki-laki… kayaknya aku lebih merasa enakan curhat sama ibu deh??? ga tau kenapa… pria cenderung mengambil keputusan dengan logika, dan wanita dengan perasaan… secara aku pria, ketika ada masalah aku berusaha menyelesaikannya dengan logika yang aku punya… dan aku juga butuh masukan juga berkaitan dengan perasaan yang (gak) aku punya dalam penyelesaian masalah aku… caranya ya… mau ga mau curhat ke ibu… hehehe
–> dua duanya… karena aku orangnya sih… jujur lebih mudah emosian… sekaligus terlalu perasa… (tipe yg seperti apa ya??? wakaranai.
–> hmm… aku jarang dan hampir ga pernah dipuji sama ayahku tuh… (ga tau ya klo di belakang aku dia suka muji muji anaknya yang nakal ini hehehe)
tapi ya… yang paling sakit adalah ketika ngerasa udah ngeceweain ibu…
btw kenapa sih posting ttg cinta lelaki???
saya berpikir, kalau saya anak lelaki mungkin saya akan jadi homok™. karena saya pecinta pria kekekekkk… :mregreen:
*pulang ah…soalnya otak lagi ga nyambung. lagi dedlen*
eh… iya, saya?
…cewek cool nggak punya nilai jual? ah, kata siapa? saya nggak percaya, tuh
::
nah. sekarang serius.
sebenarnya sih begini. persahabatan cowok (halah lagaknyaa!
) bukanlah sesuatu hal yang dengan mudah dideskripsikan sebagai ‘hubungan baik yang penuh perasaan’.
ada banyak faktor lain, sih. dan ini tidak termasuk menyatakan perasaan yang meluap-luap atau telepon untuk sekadar curhat… atau pergi jalan-jalan secara paketan (iyah. biasanya paket 4 sampai 6 orang
) ke mall, misalnya.
(duh… yang terakhir itu cewek jaman sekarang banget, sih. ampun, deh -__-’ )
…asal tahu saja, beberapa cowok malah bisa muntah-muntah kalau terlalu banyak disayang-sayang
dan biasanya, hal ini yang susah dimengerti oleh para cewek dalam menyikapi pasangannya.
btw, kayaknya ini bisa jadi post panjang sendiri kalau saya tulis, nih. mungkin kapan-kapan, yah
Hubungan orang tua-anak,, kayanya ga perlu jadi anak laki laki buat jadi -agak- kaku,, (hehehe,, nyontohin diri sendiri,,)
AAAARRGGH!!!!!
-Maap, abis kesel banget ama temen Ma di kampus,, mana ujian ga sukses lagi,, damn!-
@ mibu shinobi
Hmm… kalau di link itu, di lain sisi kita bisa membenarkan bahwa tiap hal tidak mesti punya rumus lho Mas…
Un, memang harus santai kan ya… saya setuju dengan Mibu bilang, dan kalau mau dilihat lagi, sebenarnya konteksnya agak berbeda sih ini…
Peace juga… ^^
Salam kenal ya…
@Woman
Hmm… memang gak ada langsung ya? Sulit dirumuskan atau bagaimana ya?
Pil cinta? Gyaahaha…
Iya ya, siapa tahu kan Bu…
@ Rifu
Nah… nah… ini dia masalahnya, kenapa bisa seperti itu?
ga pentinglah itu, yang penting komennya…
wa`alaikumsalam
@ deking
Haa?? Korelasinya bagaimana Mas?
amplitudo : simpangan terbesar getaran
frekuensi : banyaknya getaran yang dihasilkan dalam satu satuan waktu…
So…?
Saya ga ngerti nih, jelasin dong! *serius*
@ Master Li
kenapa Shan In? Kamu memang kecil, masih 13 tahun™! Atau mau dipanggil Abu Hentai begitu?
Ooh.. souka… yang ini, rumusannya seperti apa ya? *mikir*
… akan kami tindaklanjuti seterusnya… ^_^
Btw, terima kasih atas jawaban kuisioner kami
Errgg…
@ arya
Aaa, sayangnya saya ga tau film ini, tapi dapat sedikit dari gambarannya Mas Arya…

Hmm… gitu ya salah satunya contoh pertemanan antar laki-laki? Ah… i see
Benar memang tidak semua bisa memahaminya… kalau saya… hmm… lihat nanti deh kayanya
btw, saya kok gagal terus komen di tempat Mas Arya? Bantuin tolong… (^_^) “\
@ YaYaN
Waaa… menarik… menarik…
Rata2 memang begitu ya Mas? fenomena bahwa ayah dan anak lelaki itu jarang memverbalkan “bahasa” sayang antar mereka? Apa karena karakter lelaki begitu?
Gara-gara Yariv, Nelson dan Shan In nih
Aah… memang sedang cenderung memikirkan tentang ini Mas sekarang ni…
@cK
saya berpikir, kalau saya anak lelaki mungkin saya akan jadi homok™. karena saya pecinta pria kekekekkk… :mregreen:
Whohoho.memang lebih baik cK itu perempuan aja deh
hati-hati di jalan…
*lambai-lambai* halaah…
@ yud1
Bleh!
Mana? kapan saya bilangnya?
Saya ga bilang “ga punya” sama sekali lho, tapi laki-laki “lebih” tinggi sedikit…
hooh… tahu deh masuk `tipe`, ga papa kok… ga papa…
Hmm… tambah lagi bocoran nih… hubungan antara laki-laki…
Beberapa ya? *mikir*
i see… i got it !
Kalau dari judul kesannya memang umum, hubungan sesama lelaki, walau sebenarnya tujuan saya membidiknya lebih ke relasi ayah-anak… Yudi ga ngasi tanggapan mengenai hal ini?
*mancing lagi*
Aha… bagus itu, tulis sedetil-detilnya ya…
Ditunggu! Ditunggu… ^^
@ Ma -ga login-
Heu heu… ga ada yang benaran mau berubah gitu ah…
*takut*
- Selesaikan dengan kepala dingin Ma, ganbatte ne
-
Paradigma umum berbunyi: anak lelaki relatif lebih dekat dengan ibunya, sedangkan anak perempuan relatif lebih dekat dengan ayahnya
Tidak semua begitu, namun kecenderungan tersebut layak dikaji dari berbagai sudut keilmuan.
Saya sendiri dg alm ayahanda cenderung formil jika berbincang. Dari tatapan beliau terpancar kasih sayang di balik sikap formilnya. Begitu pula saat sungkem, beda rasanya sungkem pada bunda, namun maknanya sama, … kasih sayang
Whuahh… Cak, tanggapannya lumayan “menjawab” penasaran saya nih, senangnya…
Iya Cak, dengan kecenderungan umum tersebut hal-hal yang tidak lazim pasti tetap ada…
…
Cak, tahu tidak, lagi-lagi perasaan saya jadi “hangat” abis baca komen Cak
Chemistry kasih sayang ayah-anak itu tetap menarik bagi saya saking karena banyak hal-hal beginilah… (hohoho… pengamatan berlanjut nih)
Hmm… benang merahnya udah nampak… makasih ya Cak tanggapannya … ^_^
Setuju dengan cakmoki. Bahkan, sebenarnya, menurut saya, cowok itu
mungkinlebih halus perasaannya daripada wanita. Hanya saja, tidak diungkapkan.Tadi aja, seorang teman saya (cowok) berkaca-kaca matanya (bahasa saya kok jadi begini ya? ah, sudahlah…cuek) gara-gara melihat sekelompok anak playgroup sedang bermain. Teringat keluarganya nun jauh di Lampung sana, katanya (setelah cepat-cepat memasang ekspresi cool). Di lain tempat (beda lima menit), seorang ibu terpaku dan terus berjalan setengah menyeret anaknya yang menangis minta gendong.
Sepertinya ini gara-gara masyarakat yang cenderung mengkotak-kotakkan gender, deh… Dan karena itulah cowok bisa lebih enjoy bersama dengan sesamanya. Karena gak perlu malu menunjukkan emosinya (teriak-teriak dsb). Karena itu juga, mungkin, bapak-bapak pengarang buku itu (gomen, lupa namanya), menuliskan ekspresi kasih sayangnya lewat buku….
kok Ma ga ngerti komen Hiruta buat Ma,,
btw, Ma udah baikan!!!!!! -Ma udah cerita ya?- seneng deh,,
temen Ma tuh terlalu kenal sama Ma,, jadi seneng deh,,
@ suandana
Aaah, great, dapat tanggapan lagi bagaimana perasaan cowo
Ah, bisa jadi juga ya…
Eh? cowo lebih enjoy bersama dengan sesamanya? hmm, sering dengar sih alasan seperti ini…
Aah, saya juga ga nyaman sih dengan gaya teriak-teriak gitu, tapi paling tidak yah, tidak enggan menunjukkan kasih sayang itu dan tidak berujung pada salah paham aja…
Saya tetap percaya kok bahwa baik lelaki dan perempuan memang punya cara sendiri-sendiri untuk membahasakan kasih sayang
Ah, mas Suandana, proklamasinya tetap ditunggu ya?
@Ma !!!
Ah, saya nih yang missunderstanding Ma
*baca lagi*
Maksud saya itu, ngeri aja kalau sampai berubah jadi anak cowo untuk kaku-kakuan, bleh… salah tafsir jadinya
Jadinya gini deh tanggapannya…
Ah, masa sih Ma agak-kaku anaknya? Kok jadi ga yakin ya?
Eh, udah dikasi salam perjuangan sih pertamanya…
Aaah… jadi sudah baikannya? gud job!
Hmmmm…*liat postingan&komen2 di atas*
Begitu ya…*manggut2 gak jelas*
Ternyata gitu ya…Hmm…
Betul,,!! ga boleh marah marah pas ditanya kenapa malah ga mau ngaku gara gara gengsi!! -lagi lagi, diri sendiri-
bener,, ga perlu jadi cowo buat kaya begitu,,
*harus introspeksi nih Ma*
percayalah,,
@ TebakSiapa

-
Aah… si mbak pencinta kaeru datang!!! ^_^
Lhaa… masa manggut-manggut aja Mbak?
Hmm…?
Tanggapan… tanggapan… !!
- gimana les nyanyinya selama ini?
@ Ma!!!
Eh? kadang sih pas kondisi tertentu, sisi teraneh seseorang bisa muncul tiba-tiba lho Ma…
Bagaimana caranya? Buatlah aku jadi percaya!
(halaah… apa ini?)
crrrrrrttttttt…..
menurutku..
ga semua hal ada rumusnya..
dalam matematika , fisika, kimia, de el el….memang mementingkan rumus..tapi dalam kehidupan ga ada rumus sama sekali…
hanya ada cara…pengalaman…kasih sayang….de el el..
terang saja aku lebih suka ngobrol ma papa…tapi suka curhat ma mama,,,dan kepada kedua duanya aku jaim untuk ngungkapin “aku sayang kalian..”..
hehe,,,, tapi di dalam hati selalu berdebar debar.. dan mereka juga tau aku begitu..
hehe….>_
cewe juga ada yang begitu tohh..
@zulfanahrielly
Aaah … si adik kecil… hisashi burii… (long time not see ^^;)
Iya, memang tidak semua hal ada rumusnya, beda konteksnya dengan prinsip ilmu-ilmu pasti misalnya. Relatif.
how sweeeeettt… *seruuu*
they must be really happy, having a nice daughter like you ^^;
Ah… tentu saja…

btw, kita punya kesamaan lho, hehehe…
-makasih ya udah mampir lagi, sukses selalu-
numpang nyepam
tolong isi survey ini. makasih ^^
hirutaaaa…komen gue ketelen akismet. huaaa…
balik lagi…
…gimana yah? sebenarnya dalam kasus ayah-anak tidak jauh berbeda, sih. sebagian mungkin karena laki-laki tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya secara verbal, apalagi dengan kata-kata penuh perhatian dan kasih sayang. (ini… termasuk saya juga, sih
)
sebenarnya, kedekatan antara ayah dan anak lebih terasa dalam kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan konsisten (let’s see… misalnya pergi memancing bareng, atau main PlayStation sama-sama, atau belajar mengemudi mobil) tanpa banyak kata-kata manis atau ungkapan perasaan yang melimpah.
mungkin kata kuncinya bukan ‘kasih sayang dan perhatian’ seperti yang diberikan oleh seorang ibu, tapi lebih ke arah ‘pengakuan sebagai sesama laki-laki’ dari seorang ayah terhadap anaknya.
yah, intinya sih sebenarnya ‘rasa sayang’ juga, tapi tampaknya caranya memang sedikit berbeda.
…gitu, deh
~btw
~nama saya yud1
@cK
Eeeh…? Yang mana Chika? Udah dicek kok gak ada ya?
Kok bisa? *bingung*
@Yud1
Aha… akhirnya yang ditunggu datang ^_^
Kereen kali nih tanggapannya… jadi tambah point pengamatan saya, hohoho… *senang*
Souka… Yud1 juga gitu toh?
Hmm… hmm…
Aaah… setuju… saya rasa juga begitu kok
Dalam hal ini saya ingin lihat apakah benar hubungan anak-lelaki dengan ayahnya itu pada umumnya kaku dan kurang harmonis, ada kaitannya dengan karakter khas lelaki yang ehm, punya cara yang unik dan berbeda untuk menunjukkan kasih sayangnya.
Gubraaaakkss!

Bukan Yudi ya?
spellingnyaa! speelingnyaa!!
Diubah deh, gomen ne… ^^;
komentarnya cK dimana2 ketelen akismet ya? di tempatnya sora juga tuh.
hmmm, saya jadi pingin tahu persepsinya JePe tentang chemistry-cinta-perempuan, bikin postingannya juga dong, biar kami para lelaki ini tahu perasaan wanita, jangan asal kami dibilang ga berperasaan *lho lho lho, mulai OOT nih*.
<blockquote>Gubraaaakkss!
Bukan Yudi ya?
spellingnyaa! speelingnyaa!!
Diubah deh, gomen ne… ^^;</blockquote>
GYAAHAHAHAHA, itu nulis speeling sengaja ya?
hm, yud1 atau Yudi… ah tu orang dari jaman SMA mang kaya gitu.. *hihihi, nyepet si Aziz (kalo ini ga mungkin nyangkal kan lo?)*
@ cK
Chikaa… barusan ngecek akismet baru nampak ada yang kejaring. Hihi… kasiannya… Udah dibebasin tuh ya…
jangan lupa hasil surveynya di publikasikan… ^^;
@ Rifu
Aaah… itu ya? Hmm… rikues ditolak
yang speeeling itu iya nih, sengaja biar nampak agak histeris gitu
Ps : buat Rifu, jangan hoby buka-buka kartu orang dong,
ga baik kaya begitu. Ini nampak untuk yang kesekian kalinya lho…
*berpetuah*
Hei, ini serius ya!
iya Bu, iyaa…
tapi, rikuesnya jangan ditolak dong…
Bagus… bagus… Anak baik.
Saya ga punya ilmu tentang hal itu soalnya
Cuman manggut2, krn gak tau mo ngomong apa. Liat comment2, baru rada ngerti, makanya manggut2 lagi, hehe.
Trus, liat pilem “Nagabonar Jadi 2″, manggut2 juga, hehe. btw, disana gak ada pilem ini ya? Tuing!
les nyanyinya aman! Tuh, kodoknya dah balik lagi
oh, tapi kalo ilmu chemistry-cinta-lelaki punya? JePe nih benernya cw ato cwo sih?
*langsung kabuuurrr*
@ TakodokGila
Gubraaks, langsung bawa kaeru lagi… ^_^
Ah… les nyanyinya masih lanjut toh?
Syukurlah kalau begitu…
*masih takjub kenapa bisa segitunya dengan kaeru*
@ Rifu
Ah… apapun godaan anda, saya sulit digoyahkan lho
gile betul itu remark terakhirnya,,
Baakaaarr!!!!
*nyiapin kayu kayuan segala rupa segala warna*
itu untuk bakar Rifu kan Ma??
Ikuuut!
GYAAAAAAAA….. *panas… panasss…*
hmmm, jual mahal nih ceritanyaaa? atau pada dasarnya ga mau cerita? yaaahhh, kalo ud kaya gitu ga bisa dipaksain deehh. *nyerah, tapi masih berharap*
kenapa ga mo bikin rikuesnya Rifu, Hiruta??
@ Rifu
*Tetap tidak bergeming*
@ Ma!!!
Hihihi.. rikues nya payah gitu sih… ga punya ilmu
Aah… gimana kalau Ma aja yang bikin?
# Mbak Jejak
“bergeming” = tidak bergerak (dari kamus bahasa Indonesia)…
Jadi, “tidak bergeming” = tidak tidak bergerak.
Karena “tidak” saling meniadakan, berarti hasilnya adalah “bergerak”…
# Rifu
Rifu, Mbak Jejak bersedia menjawab tuh… Kita tunggu saja jawabannya. Btw, pertanyaannya apa sih?
**lihat dulu ke atas**
Oo… gitu toh, pertanyaannya? Hmm… (jadi bingung, nih)
# Ma!!
Jangan mau menjawab pertanyaan yang diajukan ke orang lain… (provokator mode ON)
**kabur dulu, ah**
Aaa…
Ikut jadi korban kesalahan pemakaian. Wah… parah ini… terlanjur sering dalam kehidupan berbahasa kita sehari-hari, kata “bergeming ” dipasangkan dengan kata “tidak” sih…
Bahkan di koran, buku cerita dan bacaan lainnya… Salah satunya dijelaskan disini, Bergemingkah kita dengan “bergeming”?
(~_~)
Ya sudah, saya klarifikasi deh, saya mau bilang saya tetap cuek, bergeming dengan rikues Rifu ituh
Makasih untuk koreksinya Mas ^_^
Iya tuh, mungkin karena kalau memakai “bergeming” saja itu rasanya kurang pas dan nggak ’sedap’ di telinga pendengar dan lidah yang mengucapkan ya? Dan ini karena terlanjur sering dipakai.
Btw, ‘murid’-nya itu perlu diajari soal kerancuan bahasa juga tuh, sepertinya… Buat jaga-jaga saja
Sssst… iya nih… harus hati-hati…
Makasih ya Mas (lagi)…
^^;
waduh, dianggap payah..
payah dimananya JePe?
hmm, ada beberapa alasan bahwa rikues ini bukan rikues payah:
1.rikues ini dilatarbelakangi keinginan untuk mengerti tentang hubungan antara seorang anak perempuan dengan ayahnya, dari sudut pandang anak perempuan.
2.JePe kan perempuan, jadi kayaknya alasan “kurang berilmu” itu kurang tepat. lagipula, yang diharapkan adalah “rasa” nya, bukan pengetahuannya.
*yes, ga OOT*
Bagusnya kalau seperti itu kan dilihat dari sudut pandang yang bukan anak perempuan…
Kalau Rifu mau buat, silahkan
Ma kayanya ga bisa,, apalagi kalo topiknya “hubungan antara seorang anak perempuan dengan ayahnya” masalahnya hubungan Ma dan keluarga agak aneh sih,,
jadi jawabannya sama, Ma ga punya ilmunya juga,,
udah,, Hiruta bikin aja,,
gimana ujian??
Aduuh Ma, udah dibilang itu rumit…

Karena Ma yang dibilang dipertimbangkan deh, secara alasannya juga kurang lebih sama, maunya tempat pengamat berada itu di luar itu…
Kita lihat deh nanti ^^;
Selama ga sampai mengancam kelangsungan hidup (bleh…)
masih ga papa kok Ma
Gak parah kali sih (-_-)
…
~ penat pikirannya ~
Pendaftaran Top Posts periode Mei-Juni 2007 telah dibuka. Silahkan daftarkan postingan Anda di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/07/06/pendaftaran-top-posts-mei-juni-2007/
Weleh, satu-satunya trackback yang ada di blog saya, justru tidak saya baca…
Masih sempat untuk berkomentar kan?
Berikut adalah hasil pengamatan saya (terhadap diri sendiri, jadi mungkin tidak objektif maupun teruji, dan bahkan mungkin terkesan sok tahu).
Seorang anak, sadar maupun tak sadar, memiliki kekaguman terhadap ayahnya: seorang idola yang bisa berdiri sendiri menghidupi keluarganya. Timbullah hasrat untuk mengemulasinya, untuk paling tidak menjadi sehebat ayahnya. Akibatnya dia merasa sedikit rendah diri, mempertanyakan kemampuannya sendiri dan bertanya-tanya akan pendapat ayahnya tentang dirinya.
Seorang ayah, sewajarnya, memiliki kecintaan terhadap anaknya: darah daging yang . Hanya saja dia, sebagai pribadi yang memang jarang hadir untuk anaknya, merasa kurang berhak untuk menuntut hal tersebut. Ia pun menahan diri sambil bertanya-tanya apakah dia sudah menjadi panutan yang baik.
Lalu, berpengaruhlah istilah klise “harga diri lelaki” (baca:kejaiman) di sini. Baik anak dan ayah seringkali justru terlalu berhati-hati terhadap satu sama lain. Mungkin mereka berpikir terlalu banyak mengenai ini-itu dan lain sebagainya. Mungkin mereka takut akan saling menyakiti. Sang anak minder di hadapan idolanya, sang ayah gugup di hadapan anaknya.
Hasilnya adalah hubungan tanpa komunikasi. Untungnya karena mereka sesama lelaki, mereka bisa saling mengerti. Hanya saja, pengertian tersebut hanya berlandaskan naluri yang dihiasi keraguan dan spekulasi. Jadilah sebuah kebanggaan dan sebuah kekaguman yang tak dibahasakan, menggantung dengan penuh harapan bisa tersampaikan.
Fuh, rasanya kok penjelasannya tidak teratur. Seperti curhat saja…
@ Scrooge McDuck
Ahihihihi… iya juga ya, masih boleh kok, sila. sila.
*angguk-angguk nyimak penjelasannya*
*ngerti-ngerti*
Hmm, iya juga ya, baru Pak Bebek sih yang ngasi gambaran kaya gini. I see… ^^
Lhaa, lumayan sistematis kok. kaya curhat, boleh, boleh,
Thanks anyway, akhirnya yang saya trekbek datang ^^