Ah, memang sudah jelas itu dua hal yang tidak bisa disamakan. Total bertabrakan hukum pengerjaannya. Sake termasuk dalam list minuman yang dilarang untuk muslim. Mencicipinya walau hanya setetes, hukumnya sudah jelas bermuara ke mana, haram. Lalu poligami? Ada nash-nya dalam Al Qur an (An-Nisaa : 3). Poligami diperbolehkan dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu. Anjuran? hmm… beberapa menafsirkannya seperti rukhsah (keringanan), semacam pintu exit bagi kemudaratan. Oleh karena itu sudah pasti ini dua hal yang bertabrakan. Lalu kenapa klausa di judul itu jadi begitu? Hmm… tunggu dulu, itu benar ada dan diucapkan seseorang.
Silahkan baca kejadian nonfiktif berikut. Ini akan sedikit panjang. Sungguh. Sebenarnya agak sulit juga bagi saya untuk menuliskannya, tapi semoga saja semangat untuk berbagi lebih kentara daripada kesan berani bicara tanpa ilmu.
Jaa… hajimemashou ka? *gaya pesulap Jepang*
Awal kejadiannya di beberapa waktu lalu, seperti biasa kalau ada yang mau wisudaan, atau menyambut tahun baru atau ada anak baru masuk Lab, akan ada yang namanya nomikai (pergi minum), yang itu juga berarti acara minum bersama, mabuk bersama, makan sama-sama antara dosen dan para mahasiswanya. Seperti yang disebutkan tadi, ini kisah nonfiktif, para pelaku yang terlibat saat kejadian masih hidup semuanya, dan yang menceritakannya termasuk salah satu saksi mata sekaligus peserta aktif disana
Yang dipilih adalah kedai tradisional Jepang yang letaknya tidak jauh dari kampus dan ternyata begitu dekat dengan tempat tinggal saya. Kedainya walaupun tidak begitu besar namun terasa nyaman. Gerombolan kami menempati tempat yang sudah dipesan sebelumnya, di bagian lesehan. Jadi dengan 2 meja panjang dan alas duduk, terpisah jadi dua grup. Saya dan dua gadis teman saya asal Malaysia dipersilahkan duduk semeja dengan dua orang sensei dan seorang laboran yang bertugas di lab Quantum Electronics Research (QER) itu. Mahasiswa perempuan di lab QER hanya kami bertiga saat itu. (sekarang mereka telah menyelesaikan belajarnya dan pulang ke negerinya).
Baik, lanjut lagi ke meja makannya. Ada beberapa kejadian “andalah pusat perhatian” yang kemudian terjadi. Pertama, dimulai saat order menu. Hanya kami yang ditanyakan mau minum apa. Yang lainnya ternyata akan pesan bir yang seragam. Dua teman saya pilih kora (cola) sedangkan saya tentu saja minuman orange kesukaan saya yang sulit tergantikan oleh apapun… hatta oleh bir paling mahal sekalipun . Ah, sebenarnya itu juga alternatif yang mudah ditemukan kalau minum atau makan di luar, bebas dari keraguan ketidakhalalan. Anak-anak yang lain menatap dengan penuh perhatian layaknya menyimak jawaban ujian yang diberikan dosen saja. Beberapa mengangguk-angguk saat diberitahu bahwa kami tidak minum sake atau bir atau minuman beralkohol lainnya. Beberapa tersenyum saja, agaknya mereka sudah tahu sebelumnya.
Setelah bersulang, “Campaign!!”, kejadian “andalah pusat perhatian” yang kedua kalinya terjadi saat menu makanan set kolektif dibawakan. Semua memandang (lagi-lagi) dengan penuh perhatian saat Sensei bilang “Ini gak papa kan ya?” sambil menunjuk nampan Sashimi diletakkan di depan kami. “Ini juga bukan daging lho, ikan yang dimasak”, tunjuknya ke piring lainnya. Kami mengiyakan dengan anggukan, “Thanks” plus senyum. Lalu salah satu dari mereka menjelaskan kalau kami tidak boleh makan daging yang tidak halal disamping tentu saja buta niku (daging babi) yang sudah jelas-jelas dilarang.Beberapa ada yang terkaget-kaget gitu, ada juga yang mesem-mesem aja…. huff…
Di sela-sela makan, sambil menunggu makanan selanjutnya datang, beberapa mulai menambah minuman birnya, juga sensei. Malah sensei pembimbing riset saya lumayan “kuat” kalau soal minum. Katanya sanggup bertahan untuk tidak mabuk walaupun sudah bergelas-gelas begitu minumnya. Bleh… heran juga sih. Sensei satu lagi cuma dua gelas setelah itu malah sama-sama minum orange seperti saya.
Lalu perbincangan seputar bagaimana rasanya tinggal di negeri orang, jauh dari orang tua, mampir ke kami. Apalagi anak perempuan, sulit tidak atau bagaimana? Bagaimana hidup di lingkungan yang kulturnya berbeda, ada masalah dengan keleluasaan beribadah atau tidak? Hingga ke kerudung yang kami pakai. Apakah semua wanita di Indonesia dan Malaysia yang muslimnya memakai kerudung seperti kami? Apakah ada pemaksaan jika ada yang tidak memakainya? … dan seterusnya. Oh iya, pertanyaannya dalam bahasa yang halus kok, dan saya menuliskannya inti pertanyaannya saja. Percayalah mereka akan hati-hati sekali dalam mengajukan pertanyaan, tidak seradak seruduk menerobos sensitifitas orang lain.
Hingga kemudian…
“Oh ya, saya dengar, di Indonesia boleh menikahi lebih dari satu istri ya? Apa benar begitu?”, sensei yang duduk paling ujung dekat dinding, pembimbing riset saya, tiba-tiba seperti “membanting” kesadaran dengan keras. Heeee??? wacana poligami nih… Dooh… saat itu (bahkan sampai sekarang kan ya?) tema poligami yang mengundang pro kontra sedang maraknya dibicarakan, mulai dari media elektronik, surat kabar, internet (blogosphere), lalu disini juga?!? Ya ampun. populer benar isu satu ini… hmm…. harus hati-hati nih ngasi penjelasan…
“Eh, iya sih, tapi bukan semua kok, itu cuma buat muslim aja…” Jawaban pertama dari saya. Sensei yang berada di depan saya seperti terperanjat. Heh… kayanya baru pertama tahu nih sensei…
“Heee….? Benar ya? Berarti muslim di Malaysia juga? Yang di Arab juga ya???”. Tampaknya sensei satu ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dua teman saya yang ditanya mengangguk mengiyakan. “Iya, tapi memang cuma bagi muslim saja ….”
“Waaah, minum sake sedikit saja tidak boleh kan ya? Ini, menikah lebih dari satu dibolehkan? Hebat sekali ini!” Beliau melanjutkan keterkejutannya dengan statemen kesimpulan yang…. kacaw (menurut saya, -_-). Tapi wajar saja sih, agak mencolok memang keadaan ini dan bagi mereka yang di luar Islam, mestinya penjelasan yang diberikan bisa “menjawab” juga sekaligus bisa meluruskan miss-persepsi yang misalnya terlanjur terjadi. Saya mulai khawatir saya tidak semampu itu untuk melakukannya…
Dosen pembimbing riset saya, Niki sensei hanya tersenyum. Agaknya tidak terlalu kaget? Hmm… mungkin. Ekspresinya agak aneh begitu, saya sampai tidak berani menafsirkan jenis perasaan apa yang diwakili oleh ekspresi wajah beliau saat itu.
Sensei yang satu lagi melanjutkan, ”Jadi istrinya boleh dua ya?”, kami jawab, “Maksimalnya empat sih…”. Beliau tambah kaget, “Heee?? Empat?…”. Saya buru-buru menimpali, ” Tapi syaratnya enggak mudah kok sensei, beda sekali dengan saat pertama menikah. Ada kondisi-kondisi tertentu…”. Teman saya juga menambahkan, “Harus punya uang banyak dan kecukupan harta untuk memastikan bahwa ia bisa mensejahterakan istri-istrinya itu… ya kan?” Dia menoleh ke saya. Lho?! Tentu saja gak cuma itu aja.
Bukan uang semata atau adil yang bagaimana yang jadi pertimbangannya kan? Jadilah akhirnya kami menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dengan dibarengi diskusi-diskusi kecil di antara kami bertiga. Kami berusaha menjelaskan dengan hati-hati dan memilih-milih bahasa yang tepat. Menjelaskan perihal agama, ibadah, keyakinan, larangan dan perintah, dalam bahasa sendiri saja menuntut penjelasan yang baik dan bahasa yang tepat, dan kehati-hatian dalam menyampaikan, apalagi dalam bahasa asing begini? Berraaat…
Kurang lebih kami mencoba menjelaskan, bahwa bukan hanya harta yang menjadi tolak ukur seseorang akhirnya berpoligami. Fenomena yang disampaikan teman saya tadi, biasanya lelaki setelah punya uang banyak dan hidup berkecukupan akan berpikir untuk menambah istri adalah fakta yang juga tidak bisa disangkal, pikir saya.Walaupun tentu saja tidak bisa digeneralisir bahwa akhirnya yang melakukan poligami selalunya orang yang punya kecukupan harta. Disini dituntut kemampuan berlaku adil, baik secara lahiriah maupun non lahiriah. Jangan sampai setelah bertambahnya `tim kerja` dalam kehidupan rumah tangga, keharmonisan di dalamnya seperti terbang entah kemana. Dan setelah dirunut kembali, tidak ada aturan per point, syarat baku perihal poligami ini. Malah terkadang keputusan subjektif dari pihak suami misalnya, menganggap kondisinya perlu berpoligami dengan alasan-alasan tertentu, dengan mudah bisa melakukan poligami ini. Hhh… saat itu saya mengeluh dalam hati, harusnya saya harus siap diri lebih banyak untuk hal-hal seperti ini. Salah-salah menjelaskan, bisa saja Islam tambah tercitrakan negatif, mengingat sekarang ini pun, imej Islam terlanjur dikait-kaitkan dengan hal negatif. Karena bukan berarti dengan adanya dalil tentang poligami dalam Al Quran, Islam memberi kebebasan sebesar-besarnya pada para suami untuk menambah istri, secara pada ayat yang sama dijelaskan, jika tidak mampu berlaku adil, cukuplah seorang saja.
Lalu sensei menanyakan berapa kira-kira persentase laki-laki muslim yang melakukan poligami di Indonesia, lalu di Malaysia… Bisa ditebak, kami tidak bisa menjawab dengan data konkrit. Sedikit, itu jawab saya. Begitu juga di Malaysia, tidak banyak, kata teman saya. Benar kan? (duh, jangan-jangan salah lagi nih jawabannya, tidak banyak kan yang melakukan poligami?). Lelaki yang melakukan poligami memang tidak dalam jumlah besar tapi mulai jadi fenomenal, terlebih lagi akhir-akhir ini. Hingga kemudian wacana poligami ini jadi sedemikian marak diperbincangkan, mengundang pro kontra yang tidak ada habisnya.
Pertanyaan selanjutnya masih seputar itu. Bagaimana dengan keluarga kami sendiri? Ketiga kami dengan cepat dan dengan ekspresi yang hampir senada menjawab, bahwa ayah hanya punya seorang saja, yaitu ibu kami. ^_^ . Lalu ketegangan di antara kami bertiga (dalam hati) mulai berangsur-angsur kembali ke titik nol setelah pertanyaan satu ini. “Yokatta” ujar sensei dibarengi senyum lebar, mengikuti senyum kami yang terkembang setelah menjawab tadi. Lalu perbincangan berlanjut ke hal-hal lain, yang jauh lebih ringan daripada wacana poligami ini. Thanks God.
Sampai sekarang pun sebenarnya saya masih menyimpan kekhawatiran tentang penjelasan kami masalah poligami ini. Bayangkan sajalah, yang menjelaskannya orang yang punya wawasan yang baik, bahasa yang bagus, tetap saja ada ada pro kontra dan sikap tidak bersahabat, apalagi kami-kami ini yang berusaha menjelaskan sejauh yang kami paham dan kapasitas ilmu yang begini ini. (-_-). Benar-benar berat bukan?
Terus, kalau giliran kami yang dipoligami bagaimana? Whahaha… itu bukan pertanyaan selanjutnya dari sensei kok, itu diskusi intern kami bertiga akhirnya. Ah, padahal sedikit lagi kan hampir nyambung kesana, kenapa sensei tidak menanyakannya saja ya? Untuk menjaga perasaan kami? Hmm… boleh jadi.
Kalau boleh bilang, sebenarnya bukan poligaminya yang bermasalah. Lalu kenapa sampai saat ini tetap saja ada yang mengecam atau bahkan mendukung tindakan ini? Saya melihatnya hal ini lebih kepada personalnya dan lebih kepada bagaimana masyarakat memandang adab berpoligaminya sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat begitu sensitif dengan hal ini karena fenomena sosial yang mereka dapati kehidupan rumah tangga poligami pada kebanyakannya jauh dari kesan rumah tangga nabawi dulu. Rasul dulu melakukan poligami, malah lebih dari empat istri. Tapi ketika dirunut kembali, beliau melakukannya dengan begitu banyak tujuan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan da`wah Islam masa itu. Dan beliau melakukan poligami ini justru pada masa-masa akhir hidup beliau, setelah melewati tiga puluh tahun dari masa muda beliau.
Mengapa beliau berbesanan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi Aisyah dan Hafsah, mengapa pula beliau menikahkan putri beliau, Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, Ruqayyah lalu disusul Ummu Kulsum dengan Usman bin Affan, mengisyaratkan bahwa beliau ingin benar-benar menjalin hubungan yang erat dengan empat orang tersebut, yang dikenal paling banyak berkorban untuk kepentingan Islam pada masa-masa krisis hingga akhirnya keadaan krisis ini dapat terlewati dengan selamat.
Dikatakan bahwa diantara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi ummahatul mukminin, Rasul hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam dan memadamkan kemarahna mereka terhadap Islam. Setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzum, yang satu perkampungan dengan Abu Jahal dan Khalid bin Walid, dinikahi Rasul, membuat sikap Khalid bin Walid tidak segarang sikapnya sewaktu perang Uhud. Bhakan akhirnya ia masuk Islam tak lama setelah itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Begitu pula dengan Abu Sufyan yang tidak berani menghadapi permusuhan setelah beliau menikahi putrinya, Ummu Habibah. Juga sama kejadiannya dengan Bani Al-Musthaliq dan Bani An-Nhadir, yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah beliau menikahi Juwairiyah dan Shafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan wanita yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dirinya dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan seratus keluarga dari kaumnya. Karena itu pada saat itu para sahabat berkata, “Mereka adalah para besan Rasulullah”. Tentu saja ini begitu berkesan bukan? ^^;
Jadi itu hanya sedikit gambaran bagaimana poligami Rasulullah yang menggambarkan tujuan poligami beliau. Lalu dengan fenomena poligami hari ini? Ah, pastilah pro kontra akan tetap ada. Seperti yang pernah disampaikan di salah satu mendiang blog seleb, tidak perlu sampai gontok-gontokan bahwa pendapatnya yang paling benar. Jika memang berbeda pandangan dan tidak ingin ada yang berubah dengan pandangannya masing-masing, maka sepakat saja untuk tidak sepakat, lalu sepakat pula untuk menghargai ketidaksepakatan itu.
Lalu…? Lalu…? Bagaimana pula pandangan saya pribadi perihal poligami ini? (Menghela nafas dulu
)
Ah, kalau saya yang ditanyakan bagaimana saya memandang poligami. Hmm… biasa saja. Sejujurnya saya bukanlah orang yang anti-poligami hingga membenci mati-matian siapa saja yang melakukannya. Tidak sampai sebegitunya. Lalu saya mendukungnya? Ah… alangkah baiknya kita tidak selalu mematok dua hal sebagai kemungkinan jawaban. Jika bukan A maka mesti B. Seperti yang pernah diulas disini. Karena memang tidak baik begitu. Saya hanya merasa lebih nyaman saja dengan fenomena lelaki yang menjalankan monogami kok
-Unvaluable part-
Maka, seandainya saja suatu hari nanti, ada dialog seperti ini :

:lol:
Dialog di atas itu hanya rekayasa dan fiktif adanya, jika ada kesamaan nama tokoh dan kejadian itu hanya kebetulan belaka.
—
Eh, begini-begini, saya tetap salut dan menyimpan kekaguman lho, pada perempuan-perempuan yang bersedia berbagi kebahagiaan dengan yang lain meskipun itu berarti ada sedikit kebahagiaan yang hilang dari hatinya. Kalau gak ikhlas kayanya rentan banget ya dengan sedih-sedih dan penyakit hati. Kayanya saya masih belum bisa seperti mereka….
Ah, walaupun begitu, saya tetap pada pikiran saya, juga pada apa yang saya yakini bahwa penilaian Yang Maha Bijak itu selalunya unpredictable. Apalagi dengan skenarionya yang tidak tertebak oleh siapapun. Dia pasti punya penilaian sendiri saat naluri manusiawi perempuan merasakan ketidakridhaan saat diduakan. Hmm… lagipula, lelaki yang adil dan sempurna dalam tiap jejak dan kasih pada semua istrinya itu telah tiada. Kalau ada yang begitu, siapa yang menolak? Masalahnya enggak ada lagi… T_T
Ffuih… ffuih… sudah ah. Terasa subjektif ya? Saya sudah berusaha mengejawantah secara objektif sih tapi jika kemudian terasa tidak begitu yah apa boleh buat, terkadang memang kerangka fikir dan emosi kita berpengaruh terhadap apa yang kemudian keluar dari pemikiran kita bukan? *bela diri*
References are taken from : Syamil Qur an dan terjemahan, Shirah Nabawiyah (author : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury), Nomikai event, March 2007



Ehem… topiknya serius nih, makanya harus ‘ehem’ dulu.
) dengan JP itu begitu menarik, sehingga tidak bisa tidak saya terpaksa senyum-senyum sendiri…
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Jejak yang telah berkenan memberikan penjelasan tentang poligami kepada orang Jepang. Masalah penerimaan mereka, serahkan saja kepada sang pemberi hidayah…
Soal pilihan pribadi, saya tidak berhak untuk ikut campur. Itu adalah ranah pribadi. Apalagi dalam hal seserius poligami. Tapi dialog antara MXSJP (mirip kode seri mesin…
Ehem juga…
Ah, say cuma berusaha menjelaskan semampu saya Mas, walaupun sepertinya hasilnya yaa… begitu (-_-). Ya, paling tidak saya sudah berusaha…
Hehehe… saya cuma menyampaikan pandangan saya kok Mas, masih harus banyak belajar (dooh… asli jadi serius banget gini…)
Mirip kode seri mesin ya?
Eh…saya reply komen sambil senyum-senyum juga, ketawa malahan, duh lebih parah …
Bagian fave-Ma itu di percakapan imajiner itu,,
He eh,, tapi Ma sih bisa kaya gitu,, kalo Ma ga bener bener suka sama suami Ma,, (kejem gitu,,)
dan Ma setuju sama poligami selama ga dimulai dengan hal yang salah,,
Haaa? padahal udah dikasi tanda `gakpenting`
He?? berarti ngijininnya bukan karena ikhlas berbagi ya… ya deh, agak kejam itu
Tentuuuu saja… ^^;
-btw ma, abis baca post Ma itu, jadi mau bilang sesuatu, judulnya itu bagusnya engak terealisasi ya… ^^; -
hahahahaha,, iya gitu?? ga tau ya,, Ma udah mulai nerima kalopun ntar kenyataannya Ma bakal kaya gitu,,
hahahahaha,,
btw, YMnya error lagi ya Hiruta,,?
Hush.. itu kan becanda lagi, gimana sih Ma ini
Ga boleh ah pesimis gitu, * sok bijak ini*
YM error? iya Ma…
sekarang malah error-nya menular ke saya agaknya, T_T
hehehehe,, lagian kan jaman skarang ga terlalu masalah lagi kan,,
(dan Ma bukannya pesimis lho,,)
eh btw,,
Ma pernah denger orang yang malah bilang,,
‘itu kan jadinya accomplishment buat pria itu sendiri,, coba aja, kalo ada 1 istri bahagia sama 4 istri bahagia,, artinya lebih sukses yang 4 istri kan,,”
definisi ‘bahagia’nya yang gimana ya??
Wah, ada dialog berat di atas neh.
Mmmh… di satu sisi bisa dibilang bagi pria yang poligami, memiliki rumah tangga yang rukun dan istri2 yang bahagia merupakan achievement-nya. Dengan kata lain, saat ia tidak berhasil mencapai kondisi itu, bisa dibilang ia belum bahagia. Jadi pernyataan bahwa itu accomplishment buat pria itu sendiri, ada benarnya… (paling gak menurut saya).
saya juga melihatnya gini, karena pada dasarnya kondisi ideal seperti itu akan sulit didapatkan, (disini saya ga bilang pencapaiannya tidak mungkin lho), maka mencukupkan dengan seorang saja dan bahagia, ini merupakan kesuksesan itu sendiri dan disana itu definisi bahagianya
@ danalingga
Hihihi… kalau disuruh angkat, beratnya semana ya?
Ah, itu berat ya danalingga?
he eh,, itu tuh bener banget,, tapi kondisi yang bisa dibikin ‘bahagia’-nya itu lho,, sussaah,,
yang bikin Ma gatel gatel itu karena di event itu orangnya ngomongnya santai banget, kaya yang gampang aja yang diomonginnya,,
*yak,, yak,, stopp,, Ma ntar esmosi*
biarpun kadang kadan Ma miris,, tapi kalo ada yang mau mem-poligami dan rela dipoligami,, silahkan aja deh,,
@ danalingga
Berat?? mana,, mana,,
*liat liat sekeliling*
maksudnya Ma ya,,!?!?!?
iya deh Ma ndut!!
*pura puranya ngambek,,*
[OOT]
percaya nggak percaya, saya sudah tahu bahwa jejakpena adalah seorang gadis berjilbab. cukup yakin, bahkan sekalipun saya belum pernah melihat fotonya…
…dan saya benar kali ini.
[/OOT]
nah. sekarang, soal poligami. saya sendiri tidak menyukai bagian dari Islam yang memperbolehkan poligami (jujur nih, kalau boleh saya menolak sebagian ajaran Islam, saya akan menolak bagian tersebut
).
tentu saja, ‘absurd’ sekali bahwa Islam adalah agama yang ‘tidak boleh minum sake’ tapi ‘boleh punya istri banyak-banyak’. lho, ini kan aneh sekali?
sementara kita melihat bahwa mungkin orang-orang yang minum sake adalah orang-orang yang taat hukum dan tidak merugikan orang lain, sementara orang-orang yang melakukan poligami bisa dianggap ‘merugikan’ orang lain (minimal, istri pertamanya
)
::
…tapi kalau saya jadi jejakpena sih, saya akan menjawab sederhana saja.
yah, seharusnya yang lebih diekspos itu ketidaknyamanan dan kerepotannya (dari segi aturan agama dan masyarakat), bukan fakta bahwa poligami itu diperbolehkan. dengan demikian image yang ditampilkan juga berbeda… kira-kira seperti itulah.
btw, kok jadi kepanjangan yah? ah sudahlah. terima kasih sebelumnya.
@jejakpena:
iya berat banget nih barbel, nggak bisa diangkat.
@Ma:
Gendut itu sexy
Serius nih:
Poligami sebenarnya tidak masalah selama istri dan suami sama-sama sepakat dengan sukarela. Soal adil kan
tergantung perasaan dan kondisirelatif.@ Ma !!!
Sabar ya Ma
Eh, benar kok, kalau sama-sama sudah setuju ya silahkan saja. Jikapun kita bersusah berat menentang, yang menjalani tetap saja mereka. Kalau bagi mereka itu sudah jadi pilihan, ada apa lagi dengan kita?
@ danalingga
Eh, dengan sesuatu yang berat kita bisa tertempa jadi lebih baik lho. Barbel berat? Awas tertimpa, pipih ntar
@ yud1
Heee?? Ga ada reinkarnasi Holmes kan disini? kok bisa sih ?
*tarik yud1 ke belakang layar, interogasi*
…
Ah, ya gak masalah kok
Hehehe… kalau saya sih melihat masih ada hal yang menahan saya untuk menolak poligami ini, disini poligami semacam pintu exit untuk kondisi emergency…
Jebakaan! Jebakaan!
Iya, makanya saya bilang kesimpulan sensei itu … kacaw…
Un, ini sudut pandang lain yang bisa dikaji sebenarnya…
Kalau korelasinya terletak di tingkat merugikan atau tidak, hmm… saya melihatnya kurang pas untuk dijadikan perbandingan. ^^;
Misalkan pada kondisi istri tidak bisa menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, mereka tidak ingin berpisah, tapi tersandung pada kenyataan juga bahwa suami membutuhkan solusi, saat seperti ini wacana poligami kayanya tidak se-merugikan itu mungkin
Itu tidak sederhana lah yud… -_-
Maunya ada yud1 juga waktu tu ya
Oh ya, bisa jadi dengan penjelasan seperti itu, kesan selanjutnya bisa ditebak, jika memang se-merepotkan itu, mestinya ketentuan poligami itu tidak ada, jika memang tidak ada satupun sisi positifnya.
Disinilah hal penting menurut saya, untuk mengekspos bahwa ada pula hal positif dari poligami itu sendiri yang tentu saja dengan adab yang baik ^^;
Panjang ya?
Ah… senang malahan dapat analisa kaya begini, makasih juga yud1… ^_^
cukup komprehensif
*salut*
Salam kenal ^_^
)
(sebenarnya sudah kenal dan lihat komen fadli di beberapa tempat
Hee…?? *kaget*
Padahal saya cuma numpang “tumpahin”
perasaanisi kepala nih, jadi malu dibilang komprehensif…Makasih banyak ^^;
:: jejakpena
secara sederhana sih, memang kelihatannya absurd, lho.
sekarang ini kan agenda yang ada di dunia *halah* adalah persamaan hak dan kebebasan individu (yang bertanggungjawab).
di sini, ada poin yang kontradiksi. di satu sisi, jelas bahwa cukup banyak orang minum sake dan merupakan warga yang menjunjung persamaan hak. di sisi lain, poligami kan dipandang sebagai pelanggaran hak oleh masyarakat umum saat ini?
jadi kalau (sake) yang kelihatannya ‘baik-baik saja’ tidak boleh, masa poligami yang ‘jelas-jelas melanggar’ persamaan hak laki-laki dan perempuan diperbolehkan?
kalau dari sudut pandang orang awam, ini kan jelas absurd sekali?
…
ya ampun… hanya sebegitukah harga seorang perempuan di mata laki-laki?
::
btw, jaman sekarang ini… ada nggak ya, seorang istri yang dengan sukarela dan sama sekali tanpa sakit hati bersedia dimadu oleh suaminya?
@ yud1
T O P!!
tapi Yud1, pernah ada lho temen Ma, cewe, bilang kalo dia setuju dengan poligami, dia rela dimadu dan bilang,
“sama sama perempuan kok saling menzalimi sih,, kan kasian kalo ada perempuan yang ga punya suami,,”
dan masalah harga perempuan di mata laki laki itu,, mau ga mau, di lingkungan Ma ini Ma ketemu kok orang orang yang udah nikah 20 taunan, karena istrinya udah mau menopause, dia niat poligami,,
Ma pernah berantem sama temen Ma gara gara masalah ini,, (Ma berani ngomong sama dia gara gara deket),,
dia bilang alesan diatas, dan Ma balikin pertanyaannya,, kalo suaminya disfungsi seksual, atau kecelakaan, atau apapunlah yang bikin dia ga bisa menafkahi secara biologis, apa yang harus dilakukan istrinya,,?? istrinya punya kebutuhan biologis juga lho,,
*Mulai mau ngamuk*
ngga,, ngga,, kalo Ma udah ga bahas masalah alesan alesan itu,, Ma bisa bilang Ma nerima poligami,,
tapi kalo udah pake contoh dan event,, Ma langsung berubah jadi aneh,,
Piss!!
@ yud1
Wow…
…
Terharu abis nih baca yang ini…
Dari statemen ini, asumsi saya bahwa yud1 memandang bahwa poligami tidak ada gunanya sama sekali, dan jika dilakukan ini sama halnya dengan tidak menghargai perempuan, rite…?
Disini saya menghargai banget (berat malah…) pernyataan yud1. Silahkan tidak menyetujui poligami tapi bagi saya mesti ada esensi lain kenapa poligami ini ada.
Kenapa saya sebut kalimat ini, saat seperti ini wacana poligami kayanya tidak se-merugikan itu mungkin… ? Karena saya tidak percaya Tuhan menghalalkan poligami hanya untuk menciderai perasaan perempuan dan tidak menghargai perempuan. (Dengan catatan, disini poligami yang saya maksud bukan seperti yang kebanyakan terjadi ya, beda
)
Well, di atas saya udah ngasi gambaran sih bahwa naluri manusiawi perempuan itu pada dasarnya tidak ridha, tidak rela, dan akan rentan penyakit hati saat diduakan…
- Sejujurnya, senang lho, ada lelaki yang care begini
-
@ Ma !!!
Ahaa… kalau begini baiknya istri gimana ya? kalau minta diceraikan itu cukup adil tidak ?
Bleh… berat banget ya Ma… (-_-)
Setelah membaca trialog di atas, yang tentunya makin berat aja.
Saya tiba-tiba mendapat pemikiran begini, kenapa tidak di lihat konteks dari turunnya ayat pembolehan poligami dengan syarat tersebut?
Mungkin dengan begini kita dapat memahami mengapa sampai harus ada pembolehan poligami dengan syarat tersebut.
Hmmm, … maaf mbak
, memang ada yang mempertanyakan soal “adil” mengingat ada takbir ayat “jika tidak mampu berlaku adil, cukuplah seorang saja.”, bukan berarti anti terhadap ayat poligami yg notabene Kalam Ilahi kan?
“Keramaian” tempo hari lebih dipicu adanya dakwaan bahwa yg menyatakan saat ini tidak ada lagi lelaki sesempurna Nabi dalam berlaku “adil” serta merta dicap “kafir” lantaran dianggap menentang ayat Tuhan. Padahal sesungguhnya mempertanyakan masalah “adil” sebagaimana tersurat dalam takbir ayat tersebut dan perbedaan latar belakang poligami oleh Nabi dengan yang dilakukan oleh pelaku poligami saat ini. Tentu bukan berarti membenci pelakunya, melainkan perbedaan cara pandang dan hujjah yang melandasinya. *halah, koq saya jadi sok ngerti ya*
Saluuuttt mbak. Ungkapan ini sepertinya bernuansa “tawassuth” ya …
Kendati termasuk yg mempertanyakan kemampuan bersikap “adil” pelaku poligami, sy tetap respek bagi yang menjalaninya.
Btw, dalam perdebatan soal ini pada akhirnya saya lebih suka bersikap “sepakat untuk tidak sepakat”.
mbak jejakpena, nambah komen ya …
Walaupun tulisan ini berpeluang mengundang pro-kontra dalam hal pandangan, saya suka gaya tulisannya karena disajikan dengan tutur yg lemah lembut.
Kayaknya sy harus belajar menulis lembut deh …
hmmm, ini argumentum ad apa ya?
waduh, diskusi nya sudah panjang. mau ngomong apa ya?
hm, jadi intinya, poligami itu, selama tidak dipaksakan dan ada keridhoan dari istri. ok ok aja? kembali ke praktisi poligami tadi dan ke istrinya gitu… dan kita sendiri, kalau tidak mau poligami ya sudah, tapi jangan melarang hak orang lain, gitu?
hak disini juga dilihat dari sudut pandang gini ya:
“seorang istri yang ingin suaminya bahagia dengan menyuruhnya menikah lagi” *sinetron banget*
itu kan hak istri nya, melihat suaminya bahagia *dan juga hak suaminya untuk menolak menikah lagi*. hak seorang wania juga untuk berbagi kebahagiaan dengan wanita lainnya *hak dia juga kalau ga mau berbagi kebahagiaan itu*.
jadi, yang bermasalah dari poligami kan tinggal persepsi masyarakat *rifu, kamu terlalu menyederhanakan permasalahan* makanya itu menjadi salah satu alasan Aa Gym *waduh sebut nama* menikah lagi. untuk menunjukkan kalau itu boleh.
itu kalau sudah ga ada masalah dengan keridhoan istri dan hal2 lain seperti keadilan si suami dan materi yang cukup untuk mensejahterakan ya.
kalau saya sih,
adasatu ajayang maualhamdulillah.hm, kalau terkait menjelaskan ke orang yang tidak terlalu mengenal islam. kira-kira permasalahan poligami dan minum sake ini bisa dikembalikan ke Tauhid sebagai inti ajaran islam ga ya? *pasti bisa, cuma caranya gimana?* daripada menjelaskan larangan2 yang itu berpotensi memicu debat kusir, mending langsung ke intinya.
@ cakmoki
tawassuth itu apa sih cak??
@ hiruta
ciee,, yang dipuji,,
*kabur sambil ngakak*
(dan kali ini Ma nyampah!!)
@ Rizma,
Katanya sih, sikap jalan tengah yg meliputi: keseimbangan, tegak dan wajar … kalo tidak maknanya tepat, mohon disori
@ Rizma,
koreksi: kalo tidak maknanya tepat kalo maknanya tidak tepat … dst
*morning checking*
Hmm… souka…
Nanti siang deh di-reply
Tuh, bener kan? Topik ini agak berat n sensi…
Tapi waktu kejadian Aa Gym *maaf, sebut nama* menikah lagi, kan juga ada kejadian publik figur lain yang ketahuan ‘begitu’ (yang videonya tersebar di internet itu tuh…). Kira-kira perasaan mana yang lebih tersakiti ya? Teh Ninih *maaf lagi, sebut nama lagi* atau istri sang figur yang ‘itu’?
**mikir**
panjaaaaaaaaaaaanggggggg…
*ngos2an
@ danalingga
Ayo, danalingga yang bahas ya…? ya…? *provokasi danalingga*
@ cakmoki
Waaa… kesannya sikap seperti saya ini tergolong tawassuth ya? ^_^
Makasih Cak…
*dikeroyok massa*
@ Ma !!!
Anggap aja ini imbang-imbang, daripada sering ditindas coba
@ Rifu
Akan lebih baik lagi kalau Rifu enggak mesti menyebutkan namanya ^^;
Semua berpulang ke pribadi masing-masing kok
@ suandana
Ah iya kok, memang benar topik ini rada berat dan sensitif, tinggal disikapi dengan bijak aja. Saya sih cuma menyampaikan pandangan saya
Dua kejadian yang mas sebutkan itu, hmm… tentu saja itu dua hal yang berbeda, kalau ditanya mana yang lebih tersakiti, itu di luar “kekuasaan” saya untuk menilai ^_^
@ arya
Minum dulu Mas *nyodorin air putih*
—
Memang tetap akan ada pro kontra kok, silahkan berpendapat dan jika berbeda pandangan, mari bijak dalam menyikapinya, asal tidak memaksakan saja… Karena tiap orang memang punya pilihan
hula! Adem disini, gak panas2an. Wah, mbak, menjelaskan ke ‘orang asing’ susah ya? Dulu temen saya malah pernah ada yg ditanya ttg Sunni-Syiah, bingung banget dia jawabnya.
Back to the topic: sudah terwakili postingan dan terangkum oleh comments di atas *halah!*
Sepakat untuk tidak sepakat? Hmmm…kadang suka disalahartikan, atau saya yang kurang mengerti?
mbak jepe,,,postingan ini keren,,,,~!
*meluk jepe erat2*
mo komen apa ya?? banyak nihh..saking banyaknya jd bingung.,..hoho
trus2,,saya suka bagian percakapan akhirnya,,,sumhow dalem bgt yahh…
kalo saya ditanya soal poligami…pasti banyakan menilai dr segi perasaan (bahwa wanita pasti ga mau di madu)
tapi mbaca postingan mbak jepe..sumhow, sudut pandang saya jd berubah..:-)
meski panjang – postingan ini bagus sekali.. memangkadang kita sebagai orang muslim mesti pandai memberikan pencerahan soal “poligami” ini kepada pra ‘hum’ diluar sana yang hanya melihat sekilas..
seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat..
waaaa….
sampe begitu ya???
waduh…. nanti kalo pas aku datang ke jepang gimana yah njelasin ke senseinya klo aku ndak boleh ngebir dan nge-sake… juga ga makan daging babi…
wah mesti belajar nih dari senpai aka-chan…
senpai… oshiete kudasai… halah….
hmmm back to comment…
menurutku sih poligami itu sah-sah aja… but bukan berarti nanti aku akan poligami… sepertinya sih nggak akan poligami deh… kecuali… hmmm kecuali… apa ya??? bingung mo nulis apah…
Kayaknya pendapat saya sudah terwakilkan sama beberapa paragraf dana artikel dan beberapa komen di atas deh.
Ya sudahlah… Poligami? Cape’ dee…
@ destiutami
hula juga… hihihi…
Eh…Iya, saya juga pernah ditanya ttg itu, juga sampai bom Bali coba (-_-), saya jawabnya kalau itu pemahaman yang tidak dikehendaki oleh agama, karena Islam sendiri tidak mengajarkan seperti itu.
Lainnya? bleh… takut nyerempet2 ke hal lain yang saya sendiri kurang paham, bukankah tidak baik berbicara tanpa ilmu?
Eh? Disalahartikan ya? Kalau saya melihatnya itu sebagai bentuk menghargai pilihan orang lain yan berbeda dengan kita. Tidak perlu memaksakan apalagi merendahkan pandangan orang lain…
menurut saya gitu
@ 9racehime
Aaa… makasih ^^; *balas meluk 9race*
Banyak?! Keluarkan!!
Dooh… apa diganti aja ya tanda ga penting itu…
Hee?? Berubah dari yang mana ke yang mana nih?
*kedip-kedip mata*
(halaah)
@ kampret nyasar!
Salam kenal
Duh, makasih Pak *jadi gak enak hati*
Iya Pak, di intern Muslim sendiri sering jadi bahan perdebatan, menjelaskan ke mereka yang di luar Islam juga sama beratnya jadinya (-_-), bahkan lebih…
Waaa… saya juga senang banget dikunjungi tamu jauh dari Afrika Barat, makasih ya Pak ^_^
Salam hangat juga, sekalian buat Abigail-nya yang comel…
@ YaYaN
Eh, biasanya memang banyak dari mereka yang langsung paham begitu dibilang muslim, lumayan terkenal untuk beberapa hal itu… Kalau ditanya maka `sediakanlah` jawaban…
Tapi mereka baik kok, misalnya kalau untuk makanan, sensei sering bacain ingredient-nya dulu buat saya, kalau ada yang enggak halal, beliau akan bilang ke saya…
Heee? kohai-nya aka-chan seorang dosen?
Hmm… sou ne,
Lagipula nih, saya juga enggak yakin “mbak itu” bersedia diduakan
*kabur*
@ Master Li
Hmm… gitu ya? Yakin nih?
Huehehe… syaratnya memang berat sih…
Btw, Kae-chan masih lama kan ya? Masih 13™ gitu soalnya…
errrrrr….aku mikir ttg poligami sih sederhana aja
ayatnya yang paling menonjol kan ada 2 sebenernya. yang bilang “cari istri maksimal 4″ sama yang bilang “jika kamu bisa berlaku adil”
ini sama aja kayak kalo aku bilang ke seorang saingan cowok, “silahkan nggodain pacar saya terus2an…”
lalu kalimatnya saya sambung lagi, “…kalo antum pengen mati!”
dan, manusia tidak mungkin bisa benar2 berlaku adil. karena itu ayatnya jadi ada 2. yeah, Tuhan sedang bermain kata-kata
ayat ttg poligami itu bukan untuk “ditolak”, menurutku. tapi buat “dihayati”
@joesatch
tapi joe tentu ada saja manusia merasa kalo dia bisa adil, nah kalo gitu gimana?
@ Joesath
Aaa… keren… ^^; (komennya lho
) *bletaak*
Pada kenyataannya, seringnya ayat ini diinterpretasikan sesuai kecenderungan orang. Misalnya bagi yang ingin poligami, akan bilang bahwa memang dibolehkan dengan syarat bisa berlaku adil. Sedangkan bagi yang tidak ingin poligami akan bilang bahwa sebenarnya Tuhan sudah warning banget bahwa pencapaian adil pada yang lebih dari satu itu sulit makanya jika memang tidak mampu, cukup seorang saja.
Saya melihatnya yang sering yang memicu perdebatan itu adalah ekses poligaminya ke wilayah perasaan kaum perempuan, terlepas dari fakta bahwa poligami itu memang diperbolehkan. Dan kayanya hingga kapanpun akan tetap ada yang namanya pro-poligami, anti-poligami dan… hmm tengah-tengah? Yang `menerima` pembolehan poligami di Al Qur an namun bersungguh-sungguh untuk monogami. (Kalau saya jadi laki-laki, akan mungkin sekali saya milih yang terakhir
)
Eh iya, sampai sekarang yang saya pikirkan, satu hal paling kentara yang muncul adalah, bahwa poligami itu `terlihat` seperti jalan yang paling sukses untuk menyakiti perempuan. Jika memang seperti itulah tujuan dibolehkannya poligami, masa sih Tuhan Yang Maha Baik itu sebegitu tidak sayangnya? Maka, mesti ada sesuatu kan disana?
Jadinya ya, berbaik sangka saja pada Tuhan, sambil terus mencari alasan `kenapanya`, ^_^
Mhuahaha…bukan Joe kalau enggak ngomong kaya gitu :lol
Eh, thanks ya Joe…
@ danalingga
Hmm… orang yang `merasa` ya? bingung juga sih, karena bisa jadi pas ditanyain lagi jawabnya kaya begini, “Lho, kalau enggak dicoba ya gimana tahunya kalau aku bisa? Karena aku `merasa` bisa makanya aku mau coba buktiin”
Lhaa… kalau sudah begitu kita bisa apa dana?
poligami ? hush.. hushh.. jauh jauh sana.
sake ? yess, kemari sayang.
*liat komen di atas*
Mhuahahahaha…
Saya bisa mengerti Mas
*barusempetbaca*
huah nice story
deg2an saya bacanya
berhubung belum pernah ngerasain bahtera rumah tangga jadi belum bisa kasi komen berarti
Cieee… ada yang deg-degan
Eh, saya yang nulis ini dan beberapa komentator juga belum pernah ngerasain lho…
Urun komentar enggak mesti berdasar pada pengalaman pribadi aja kan…
@jp
hmmm
mungkin saya yang sekarang ini masih menganggap “say no” untuk poligami
cuma gak tau deh nanti (kalo sudah adil tentunya)
mangkanya itu, harus dirasakan terlebih dahulu, wkakakakaa
Ooh.. begitu… *pura-pura mengerti*
Nanti kalau udah ada pengalaman, jangan lupa berbagi
euh… klo soal beginih pati rame… euheuhueuh…
yah… menghayati akan lebih baek lah gituh… sebab siapapun tidak bisa lari dari ketentuan jodoh teh…. kalau jodohnya pasti satu mungkin bisa diabaikan… tetapi kalau ternyata lebih… terpaksalah menghayatinyah…
Menghayati?
Anyway, tiap orang memang punya pilihan, dan tentu saja yang sudah memilih bertanggung jawab secara pribadi pada tiap konsekuensi pilihannya kan ya
[...] Upss,, sebelomnya nih,, Ma ga niat buat ngebahas hukum hukumnya, ayat ayat dan ushul ifqh-nya,, kalo mau nyari itu,, kayanya di sini aja deh ya,, kalo mau nyari tulisan poligami yang ga semerawutan kaya Ma ini,, di sini juga ada,, [...]
enak ya baca tulisannya, topik hangat kayak gitu tapi kesan tulisannya kok adem, menurut saya sih poligami itu topik yang mudah dibahas secara umum tapi sulit kalau mau mendetail, makanya secara pribadi biasanya agak sulit bahas yang satu ini, ya menyita perhatian dan kehati-hatian apalagi kalau yang diajak bicara itu wanita. Sebaliknya kalau laki-laki disekitar saya sih sepanjang pengalaman saya tentunya biasa-biasa aja bahkan kesannya mudah dan dimudahkan kalau bahas yang satu ini. Mbak komennya banyak ya, wah jadi ingin iri nih.
Ahihihi… bener Bharma, wacana yang satu ini memang sensitif banget bagi yang wanita. Perlu kehati-hatian dalam penyampaian, betul itu!
Iya kan ya, udah terlanjur jadi fenomena sosial di masyarakat kita, kalau yang lelaki nya pada umumnya suka gampang-gampang aja ketika diajak bicara masalah ini. *prihatin*
Ayo, Bharma nanti kalau udah lama nge-blog nya pasti rame yang datangin, semangat
Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.
Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.
Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.
Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.
Jadi umat muslim terjebak.
[...] PERTANYAAN TERBUKA BUAT SAUDARA B ALI: Singkat saja, apa sih mau anda dengan memposting komen spam ke mana-mana? [...]
*ngakak baca percakapan antara suami jejak pena dengan sang istri, si jejak pena sendiri*
*ngakak juga*
Aslinya, gak mau bakal ada dialog kaya gitu lho.
wew, di japan yah, me juga di japan nih…. tetap istiqomah di jalan Allah swt , ALLAHU AKBAR.
udah biaarin aja para kafirin itu mngujat islam, toh untuk apa di pusingin, toh mereka juga pusing dengan ajaran agama yg mereka peluk…………
[...] dan ada ajaran lain yang lebih mengena di hatinya. Sekedar mengatakan bahwa Islam itu mendukung poligami atau malah mengatakan ajaran Islam itu penuh dengan kekerasan bakal lebih kuterima ketimbang alasan [...]
itu…Si B ALI…meracuni pemikiran orang…
Jangan mengambil ari AL-Quran sepotong-potong lalu mengartikannya seenak udel mu..
*Maaf lho, mbak jejak pena…saya amat tidak setuju dengan commentnya si B ALI ini..
wah diskusi yg enak dibaca. meski ada yg sangat2 OOT. La kalo aku sendiri sih. pinginnya tetep 1 istri. 1 istri aja susah apalagi kalo dah punya anak (apalagi kalo banyak) gimana kalo banyak istri . Cuman aku juga gak anti. terserah pelakunya. toh aku gak dirugikan