Weekend kemarin akan jadi cerita sejarah yang mungkin akan dengan senang hati dijadikan dongeng buat anak dan cucu nanti. (Mhuahahaha… lagi stress). Dorongan melakukan kegiatan ini adalah rasa penasaran sekaligus menyalurkan emosi negatif, tegang dan perasaan terbeban yang numpuk (halaah).
Lalu apa yang saya lakukan di Sabtu Minggu kemarin rupanya? Bersih-bersih rumah? Ngerjain tugas? Main Badminton? Belanja? Ahh… bukan salah satu dari itu. Baiklah, kita mulai dari hari Sabtunya. Kegiatan di Sabtu kemarin benar-benar sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Yama ni nobotta! Hiking? Iya… Hiking!!
Tidak dalam rangka apapun. Tercetus di akhir Mei lalu saat di kelas lagi bahas-bahas orang gunung. Lalu tentu saja Fuji-san yang terkenal itu. Jadi disusunlah rencana pendakian itu. Diputuskan untuk melakukannya pada Weekend, dipilihlah hari Sabtu, 16 Juni kemarin dan gunung dijadikan tujuan masih dalam wilayah Fukui, Arashimadake. Sehari sebelum hari H, saat pertemuan di kelas, rencana pendakian ini sempat terancam batal jika cuaca di hari Sabtu nanti tidak mendukung. Hujan adalah faktor utamanya. Jika hujan turun otomatis kami tidak akan berangkat. Berbahaya karena lereng gunung ini terkenal cukup curam dan pendakiannya terkenal sulit.
Sore hari Jumat, Anya (tetangga kamar) bilang kalau ramalan cuaca pada hari Sabtu tepat seperti yang diharapkan. Mudah-mudahan saja akan begitu nantinya. Dan benar, Sabtu pagi, matahari bersinar cukup cerah. Start dari asrama pukul 8 pagi dengan peserta 7 orang termasuk sensei. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dengan mobil untuk sampai ke gunung itu. Setelah siap-siap perlengkapan, pendakian mulai pada pukul 09.45 waktu setempat.
Eh, ada beberapa yang unik. Di titik start itu ada box yang mirip box telepon umum. Disana kita menuliskan nama, umur, no. HP, instansi, dan alamat. Jadi setiap peserta wajib mengisi daftar itu demikian juga setelah kembali nanti. Jadi, kalau ada peserta yang menemui masalah selama pendakian atau terlambat kembali, akan mudah dilakukannya pencarian dan pengiriman Tim SAR. Saya tidak tahu apakah hal serupa juga diterapkan di Indonesia, karena memang belum pernah ikut klub Pencinta Alam atau sejenisnya sebelumnya.
Lalu? Hmm… ada peralatan unik yang bagi saya aneh. Bel. Aah, lonceng lebih tepatnya. Kata sensei, dua hal yang berbahaya di gunung-gunung Jepang adalah beruang (kuma) dan ular. Ular bagi saya, di gunung Indonesia pun sama halnya kan? Lha ini beruang! Ampuun…seramnya. Maka itulah fungi loncengnya. Dengan bunyi lonceng itu, beruang tidak akan mendekat dan akan memilih jalan lain, karena sebenarnya beruang juga tidak suka bertemu manusia. Saya takut? Jelaslah, kebayang gak ketemu dengan sosok 2 meter atau lebih itu lalu dikoyak moyak? (T_T) tragis bukan? Kata teman saya yang tidak ikut pendakian ini, “If you meet kuma, just run as fast as you can, you don`t need to believe that bel!” Wajahnya tegang dan tendensi kalimatnya itu…
Mhuahahaa… iyalah… Mana mau tunggu kompromi dengan beruang??
Dan pendakian itu benar-benar menyenangkan adanya. Saya ketemu ular yang besar dan panjang, sayangnya hanya saya dan teman saya yang melihatnya, tidak terjadi aksi pembunuhan. Kami tidak seberani itu
. Ularnya pun hanya melintas saja. Hufff…
Pendakian ini begitu melelahkan dan tentu saja menyenangkan. Dapat dibayangkan bagaimana? Hmm… Biasanya bernafas di antara gedung-gedung dan bangunan tinggi. Mendengarkan suara lalu lalang mobil dan motor, suara kereta api yang melintas setiap hari di rel tepat di samping asrama setiap 10 dan 40 menit sekali, lonceng di pagi buta dan di awal malam dari Otera (kuil) yang agak jauh dari asrama tapi tetap terdengar setiap harinya, juga suara anak-anak yang bermain di taman depan asrama pada sore hari, musik keras dan pesta dansa dansi yang dibuat di loby bawah pada waktu-waktu tertentu… Bosan. Suntuk. Sumpek (Apalagi?
)
Lalu Sabtu kemarin itu, pohon-pohon hijau di sepenuh mata. Udara segar yang dengan rakus kami hirup penuh-penuh. Bau hutan yang lembab, bau tanah yang becek dan kadang sedikit berlumpur, suara binatang hutan, serangga yang merayap di tanah bergerombol… gemerisik daun-daun, juga puncak Haku-san, tetangganya Arashimadake ini yang terlihat di seberang, yang masih tertutup salju. Kereeen. Indah banget. Kelegaan pertama tentu saja saat tiba dengan selamat di puncak. Arashimadake dengan ketinggian 1.523,5 meter ini termasuk dalam deretan hyaku meizan (100 gunung terkenal di Jepang), dan pendakiannya dikenal dengan tingkat sulit yang lumayan. Curamnya memang tajam. Jadi kebayanglah saya yang dengan kerennya melakukan pendakian ini. Whohoho… keren? Enggak ding, Sangat tidak tepat memakai istilah itu. Habisnya banyakan tersengal-sengal dan kelelahannya itu seperti menghisap semua cairan tubuh (halaah). Ah, yang jelas hal menyenangkan yang didapat cukup imbang.
Tiba dipuncak dalam pukul 01.54. Kimochi ii… (nyamannyaa…). Benar-benar tidak ada apa-apanya kita dibanding ciptaan-Nya yang penuh seni itu. Saya jadi tambah mengkeret. Apalagi saat melihat hijau di sekeliling bawah… Salju yang sedikit tertutup kabut di seberang, angin puncak yang berbeda, tekanan udara yang berbeda, dan…langit. Iya, langit terasa begitu dekat (paling gak dibanding yang biasa dilihat). Awannya seperti jalaran yang begitu tergesa-gesa, rasanya seperti mendengar gemuruh kalau membayangkan bagaimana dia bergerak. Keren. Tak tertandingi. Hmm… saya kurang perbendaharaan kata-kata bagus. Yang jelas saya mau bilang kalau itu benar-benar mencengangkan. Takjub, dan senang bisa melihatnya langsung. Pertama dalam hidup!!
Makan siang di puncak sama-sama, tentu saja dengan bekal yang dibawa masing-masing. Tapi lebih banyak makan bekal dari sensei
. Ransel sensei kami itu penuh buah. Ampuun. Beliau itu yang paling tua, 55 tahun lebih udah usianya, paling cepat di antara kami, paling ceria, paling kuat, dan selalu sampai lebih dulu. Ckckck… sensei ini benar-benar mengagumkan.
Oh ya, kami juga mengambil apapun yang bisa diambil. Tentu saja tanpa melanggar kode etik, “Ambillah apapun, gambarnya saja”. Perjalanan kembali ke bawah pada pukul 02.20 waktu setempat dan sampai di kaki gunungnya memakan waktu 3 jam. Oh ya, yang lucunya, pas kami awal-awal mendaki, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sudah turun, ada yang mendaki pada awal hari. Mereka itu para obaachan dan ojiichan (nenek dan kakek) yang usianya rata-rata ditaksir di atas 50 tahun.
Iya,kami kaget-kaget, malu juga. Soalnya baru awal mendaki tapi udah mulai kelelahan dan itu nampak banget. Mhuahaha… yang muda aja kalah sama yang tua. Sehat banget ya mereka…
Jadi begitulah, lega kali begitu bisa sampai di bawah kembali. Dalam perjalanan balik itu saya mulai seperti kehabisan energi soalnya. Penatnya. Hingga untuk menyalurkan emosi negatif, saya menceracau dalam bahasa Indonesia, jadi enggak ada yang paham saya bicara apa
. Habisnya itu benar-benar melelahkan sih. Detik-detik terakhir di perjalanan pulang itu, enggak ada pohon, cuma ilalang, dan jalan menuju ke bawah itu kerikil campur cadas-cadas besar. Panas, gerah, air minum habis. Bleh… perjuangan berat. Sempat terpikir untuk berguling-guling saja saking gak kuat lagi jalan. Pulang balik itu SEPULUH kilometer saudara-saudara. Dan saya baru pertama sekali melakukannya. Saya juga tidak melakukan latihan jalan sebelum-sebelumnya. Dan saya juga bukan atlit lari jarak jauh yang terbiasa dengan kekuatan tungkai yang terlatih rutin. Bukan. Maka makum saja dalam perjalanan pulang di mobil, saya lebih banyak diam dan .. tidur!
. Tiba di rumah? WHohoho… rating tidur paling cepat dalam kurun waktu belakangan ini. Pukul 10 kurang udah ga sadar lagi. Terkapar dengan sukses. T_T.
Hari Minggunya jadi batal keluar rumah. Beres-beres seadanya saja dan menyembuhkan pegal-pegal yang mulai menjajah…
Ah, anyway, saya senang kok dengan pendakiannya. I was so tired (kalau gak mau dibilang it was tiring
) but i was so exciting. Ureshikatta yo ^^;. Saya masuk Top Five saat tiba di puncak dan Top Four (halaah) saat tiba di bawah, dari 7 orang total peserta. Hiyahaha.. That was not too bad, i think
, deshou? Sekali lagi, cukup imbanglah dengan kepenatan yang saya dapat. ^_^
Oh ya, mau tahu apa isi ceracau saya dalam Bahasa Indonesia sewaktu dalam perjalanan balik ke bawah?
-Ya Tuhan, kenapa perjalanan balik ini jadi terasa lebih panjang dan begitu melelahkan. Aku menyukai pendakian hari ini, tapi aku janji, ini yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku. Cukuplah sekali ini saja-
Dou? Ganbatta deshou?
Hmm… Agustus nanti pendakian ke Fuji-san mulai dibuka, saya mau sih ikut kalau ada yang rencana hiking, tapi dengan bus aja…
Ps : skrinsyut menyusul Insya Allah, masih tersebar di beberapa penjuru soalnya



Wah… Selamat… Sudah mendaki gunung yang pertama. Percaya atau nggak? Walaupun waktu turun ngomong seperti itu… Tapi, insya Allah bakal ketagihan dan terpanggil untuk kembali menginjak gunung.
Mbak kalau cerita itu bagus banget, membuat saya jadi teringat pada gunung pertama saya (Semeru… Jadi kangen sama kabut Kumbolo, nih T_T).
O iya, kalau orang pergi ke gunung maka akan terlihat sifat aslinya. Ada hasil pengamatan yang mau dibagi? Ayo, berbagi… Berbagi…
keduaxxx…..
hiking….*mikir*
ga suka nihh..bikin pegel sihh…
tp penasaran ma gunung fujinya…!
mu lihatt dunkkk..!
skrinsyut~
di tunggu yahhhh! ^^
@ suandana
Terima kasih ^_^
Hmm… gimana ya, entah kenapa saya yakinnya mungkin cukup ini aja sekali seumur hidup
Lumayan berat lho pendakiannya, melelahkan…
Aah… jadi enggak enak *bletaak*
Eh? mungkin akan lebih teramati kalau misalnya sampai nginap atau waktunya lebih lama kan ya…
Pas yang ini, kayanya biasa aja, soalnya teman-teman satu asrama juga kurang lebih kebiasaannya udah tahu, tinggal sebangunan ^^;
Sejauh ini yang nampak ya ternyata saya enggak terlalu parah kadar kesehatannya, anak-anak yang lain juga, tetap sabar dan ceria walaupun udah cape dan lemas… Lucu-lucu juga, misalnya ada yang suka manjat pohon ternyatam dan sensei juga bisa gelantungan di pohon ternyata…
Eh… bukan yang kaya gini ya maksudnya?
@ 9racehime
*tertular grace*
ketigaxx…
Un, bukan pegal lagi kayanya, mau patah-patah kakinya, kalau aja bisa, begitu di rumah, dua kaki itu dilepas dulu lalu digantung sebentar… saking pegalnyaa (-_-)
Makanya saya mencukupkan sekali ini saja
Kalau gunung fuji-nya enggak punya
Skrinsyut dari Arashimadake ini maksudnya ya? Insya Allah segera… ^^;
ga ketemu beruang ya,,?? ga seru,,, (halahh,,)
jadi gimana pegel pegelnya,, udah enakan?
btw, Ma baca “kimochii”-nya jadi inget Kimi wa Petto yang ada Matsumoto Jun-nya,,
Jangan-jangan kalau ketemu dia, postingan ini enggak bakal ada ya?

Dikoyak lalu dimakan…
Pegelnya? Hmm…sudah lumayan… tinggal sisa-sisa…
Dooh…beneran fans-nya Matsumoto Jun ini
arashimadake,,,,hooo…kalo denger namanya ingetnya jamur shitake…nyam..~*ngiler*
yepp…saya penasaran ma gunung di jepang..psti lebih bersih ya???
hmmm….mbak jepe…saya jadi pen hiking juga nehh..sp tau bs ngilangin stres yg ada…*menghela nafas berat*
Yup, lebih mantep kalo nginep agak lama. Dak harus ke gunung sih, ke hutan atau pulau terpencil pun jadi. Pokoknya, ke tempat yang jarang dikunjungi manusia. Di sana, sifat aslinya bakal muncul tuh (katanya…).
Kalo yang gelantungan gitu mah, sepertinya masa kecil kurang bahagia tuh
# Mbak Hime
Ayo… hiking… Mumpung libur ‘kan? Mandalawangi asik tuh. Dekat pula dari Jakarta. Ayo, hiking…
*provokasi nih*
@ 9racehime
Keingat jamur? Ada-ada aja 9race ni…
Maaf ya masih belum lagi nih skrinsyutnya…
Heee?? 9race lagi stress ya? Waa… kaya Ma suandana bilang, ga mesti ke gunung, ga mesti hiking (ongkos energinya banyak, pegel, capek *provokator*
Kerjain sesuatu yang lain dari biasanya aja… ^^;
@ Suandana
Oh iya iya.. setuju kalau yang itu, bakal nampak sifat aslinya
Yang gelantungan itu…? Mhuahaha… mungkin itu saah satu penyaluran emosi negatif juga gak Mas?
Waa… diajakin hiking nih 9race, saya hmm… jera nih kayanya
@@ mbak jepe
wahh.. ndak jadi deh kl gt..ntar ketauan lagi sft2 asli saya…ga misterius lagi dehh…ga seru..*dilempar beruang sm mas suandana*
hmmm..hiking ya?? mahal ga sih kalo mo hiking itu?? pulang2 item ga?? trus badan psti sakit2 kan?? trus kalo nyasar gmn? kalo ga bs pulang?? *halah blg aja emg males!wekekek*
# Mbak Hime
*ngelempar beruang (teddy)*
Dulu (duluu… sekali T_T) hiking habis 50 ribu. Waktu pulang… Kalo saya sih, baik2 aja, tambah cakep malah *narsisnya ON nih*. Sobat saya yang itu jadi tambah item (tapi jadi lebih menarik
). Badan sakit? Nggak kok… nggak salah. Takut nyasar? Serahkan pada nasib baik aja. Kalo ga bisa pulang? Kan ada HaPe? Ayo, hiking… 
*provokasi belum OFF*
wah… kerennn… sudah pernah mendaki gunung di jepang…
hmm… aku juga ga mau kalah dari aka-chan senpai ah…
aku targetkan tahun depan harus ada gunung di jepang yang ditaklukkan… hohoho…
eh di pulau kyushu itu ada gunung ga sih??? jadi penasaran pengen naik-naik ke puncak gunung…
pengen ketemu kuma (ketemu yang nyanyi aja kali yah… –utada hikaru maksudnyah)
Wuaaa!! Nunggu skrinsyutnya nih. Pasti pemandangannya indah ya
Eh, ketemu kodok gak disana? Kodok disana keren2 gak? Ngobrol apa aja sama dia?
hehe, senang dan asiknya masih kalah sama kelelahan ya mbak? Saya ngerti. Waktu kuliah lapangan dulu, cari tumbuhan, capeknya lumayan jg. Padahal yg kita daki cuma bukit kecil di belakang rumah penduduk.
Nurunin jalan curam setinggi 5 meter aja takut. Akhirnya pake jurus pasang badan alias merosot ria. Kotor deh jinsnya!

Mana kena ledek sama dosennya lagi, malu!
Tapi…seru juga sih. Kalo ada yang ngajak lagi, mungkin masih dipikirin tapi berkemungkinan besar ditolak!
@ 9racehime
Whohoho… kurang panjang tuh, tambahin lagi listnya
Memang banyak cara dan gaya untuk bilang `enggak` ya…
@ suandana
Ehem… ehem… di bawah bayang masa lalu bersamanya ya Mas… *kabur*
@ YaYaN
Hihihi… ii kohai ne…
Tapi senpai harus bayar mahal, dengan pegal dan sakit
Katanya malahan Kyushu itu memang bergunung. Gunung api aktif terbesar di Jepang, gunung Aso (1592 m) ada disini. Enggak tahu bisa buat hiking atau enggak…
Kalau enggak mungkin disana cari aja yang lain
Sekalian kalau mau ke gunung Fuji-nya Mas ^^;
Kalau jumpa kuma, mungkin untuk bilang `konnichiwa` aja gak sempat
, keburu dikunyah
Haa?? Utada Hikaru = kuma bernyanyi ?
Hati-hati ditimpuk fans dia… Eh, Mas Yayan kan termasuk ya?
@ Takodok!
Maaf… maaf… masih belum sempat lagi nih (-_-)
Ketemu!! Desti gak ikut sih… Jadi enggak ada translater-nya,
Hehehe… iya nih, lemah kali ya…
Habisnya karena kepayahan itu, produktifitas saya jadi agak terganggu di beberapa hari berikutnya (halaaah… cari pembenaran )
Mhuahahaha… sama kita!!
ah crita hiking ternyata..kirain apa…
*nyepam abis hiatus nikmat sekali rasanya*
*Liat komen di atas*
Whohoho… ini bukan hantu hiatusnya Anto kan?
Begitu muncul langsung kumat nyepam, bleh…
Ah, anyway, selamat datang kembali ya…
SKRINSYUT….!!!
Ah, bingung mau ke Fuji ato ke Hua-shan @____@
Wew… Ada Kuma-chan XD XD
ckckck,, Shan In jalan jalan aja nih,, sana belajar buat SPMB,,
syuuh,, syuuh,,
hebaaat, kereeen … saya koq agak kurang percaya kalo kapok ya … soalnya berbaur dengan alam suatu saat akan dirindukan (biasanya sih)

Jadi kangen mau menyentuh rerumputan di perbukitan nih … perbanyak push-up ah *persiapan jelajah*
Alhamdulillah telah mencicipi Arashimadake dan kembali membawa ceria dan cerita walau kelelahan
Ditunggu skrinsyutnya ya …
beruang?? ketemu ga? ^_^
lumayan kan, itung2 olahraga ^_^
@ Master Li
gomen, belum tersaji
Eh… ada niat ke Hua san ya Shan In? Wow… keren…
Enggak ketemu sih, ga kebayang Aka-chan vs kuma-chan
@ Rizma
Iya ya… Shan In, fokus! fokus! (halaah sendirinya ga jelas padahal
)
@ cakmoki
Begitulah Cak, saya tetap ingin menjadikannya pengalaman yang pertama dan yang terakhir
Eh? Cak mau jelajah juga ya? Waah… ditunggu ceritanya…:)
Hehehe… iya, makasih Cak…
Skrinsyutnya akan segera
@ btyop
Walaah… mendakinya itu aja udah `olahraga` berat buat saya, kalau ditambah ketemu beruang? Kayanya dia yang olahraga `mulut`, ngunyah
Salam kenal ya ^^;
wuah.. seru banget tuh..
bisa ndaki gunung..
tapi nggak jadi orang gunung kan???
salam kenal, blogwalking, great blog
regards, manusiabiasa
Salam kenal Ricky, Makasih
Jadi orang gunung? Whohoho… enggak sampe kayanya, lagian kayanya kurang cocok deh, gak bakal bisa akur sama beruang sih
Wah wah… tambah satu lagi nih manusiabiasa
*
*kasi tahu Sora ah, teorema manusia biasa itu…
[...] mana sajakah saya akan menjejakkkan [...]
wwwooowwww enak dong naik gunung di sono. sseerrru bgt ttuhhh. tapi paling tidak lu dapet pengalaman yang luar biasa. heeheee.lam knl
Salam kenal juga, cikal
he eh, bener banget, dapat pengalaman luar biasa pertama kali seumur hidup… tapi penatnya ituuu… T_T
wah,aku kapan ya naik gunungnya…
kebayang capeknya naik gunung yang tinggi gitu..
gunung yang rendah aj kayaknya capek,ups!
[...] menyusuri pematang pinggir sungai dan lembah perbukitan. Rasa puas dan segar tak pernah membuat jera walau pulang kelelahan. Nongkrong di pokok kayu tepian sungai, melempar kail, merasakan lembutnya [...]