Untuk siapa dialamatkan kata-kata di atas itu? Hmm… mungkin sudah kebayang jawabnya… Ya, untuk Islam. Bukan hal baru sebenarnya karena bukankah kita sudah seperti kebal biasa dengan segala citra negatif terhadap Islam hari ini?
Dua malam yang lalu saya tergiring pada sebuah tontonan singkat, video klip ini di youtube. Hmm… ini (mungkin) akan sedikit menyita pikiran anda beberapa saat walau durasinya hanya 6 menit 20 detik. Oh ya, karena memang topik utama dari entry ini adalah isi dari tayangan itu, maka agar nyambung nantinya dengan apa yang saya tuliskan, saya sarankan untuk melihatnya.
Isi pesan yang disampaikannya tentu saja sangat subjektif. Benar ada ketidakbenaran, kesalahpahaman dan penyimpulan yang agak semena-mena disana tapi tunggu, ada serpihan fakta kebenaran yang terselip-selip. Bukankah itu yang penting untuk kita raba? Belajar menerima kebenaran dari orang yang membenci kita akan sulit memang tapi ada yang mengatakan, orang yang memusuhimu, perkataannya mengandung kebenaran. (secara normal, hal ini akan disanggah, karena yang namanya musuh pasti akan bersilat lidah melemparkan kebohongan bukan? Tapi ada sisi lain dari seorang musuh, dimana ia akan mengutarakan sebab kejengkelannya dengan jujur, dan itu yang hendaknya bisa kita tangkap).
Judulnya sendiri jujur saja bikin agak merinding dan tentu saja dorongan untuk mengklik jadi menggebu-gebu gitu, Islam-The Religion of Hypocrites. Bagaimana? Bagaimana reaksi kita saat mendengarnya? Cukup sederhanakah untuk disodorkan jawaban bahwa itu terjadi karena mereka tidak mengenal Islam dengan baik? Mereka hanya melihat sisi lain dari Islam. Mereha harusnya tahu bahwa sebenarnya Islam tidak mengajarkan itu. Cukupkah dengan itu saja? Hmm… sepertinya masih kurang.
Maka, mesti ada sedikit penjelasan atau paling tidak alasan dari kita yang lebih `gila` untuk meng-counter tuduhan yang juga cukup `gila` itu bukan? Benarkah agama ini harus dibela dengan menanggung cacat bahwa Tuhan-lah dan Rasul-Nya yang menghendaki dibela dengan cara-cara seperti itu? Begitukah? Hmm… mungkin (masih) kurang cukup juga?
Tentu saja seperti yang kita yakini, bahwa Islam itu rahmatal lil`alamin. Apa maknanya? Dia adalah kebaikan bagi siapa saja. Bagi muslim dan selainnya. Jika muslim akan berkata dimana nama Allah disebut itulah tanah airnya, maka bagi yang bukan? Non-muslim? Tentu saja mereka (harusnya) juga akan nyaman saat dipayungi langit dan menjejak bumi-Nya. Tidak ada agenda membunuh dan merusuh jika hanya karena judul di hati mereka adalah `bukan Islam`. Tidak ada. Dulu, Nabi berda`wah dengan jalan damai, dan saat muslim diperangi barulah ayat yang mengizinkan untuk berperang turun. Dan perang masa itu adalah perang paling beradab yang pernah ada. Tidak akan disakiti anak-anak dan wanita. Mereka dilindungi. Dan saat beliau masuk Mekah dengan kemenangan mutlak, beliau bahkan tidak sedikitpun mengijinkan porak poranda di Mekkah, hatta dulunya mereka itu (kaum Quraisy) begitu kurang ajar dan kejam saat mengusir dan memperlakukan beliau dan para sahabat yang memeluk Islam sebelumnya. Beliau juga terpaksa hijrah dari tanah lahir beliau sendiri saat pedang khusus Quraisy begitu haus untuk menamatkan riwayat beliau dan da`wahnya. Maka, saat beliau kembali dengan kemenangan dan penaklukan Mekah, harusnya sudah cukup alasan untuk membunuhi siapa saja musuh beliau bukan?
Agaknya keteladanan pada sosok beliau dan cara da`wah beliau yang dulu itu mulai timbul tenggelam saat ini? Boleh jadi.
Hingga, coba lihat wajah Islam hari ini. Dituduh munafik! Wacana Islam agama yang damai seperti tertelan arus. Boleh, silahkan saja katakan itu propaganda mereka yang membenci Islam, mereka sengaja membuat konspirasi. Ada benarnya. Lalu coba perhatikan lagi. Mereka melakukannya karena kita (mungkin) mengijinkannya. Ada peluang bagi mereka untuk menabalkan label itu ke punggung dan dahi umat Muslim. Mereka punya alasan. Mereka punya kesempatan itu! Karena kita juga bukan?
Ini masalah? Whohoho… kita yang masih punya hati, akan sulit bilang bahwa sebenarnya itu bukan masalah besar. Ini masalah besar bukan? Islam itu dikatakan problem solver, menjawab permasalahan umat, begitu kan? Lalu jika orang-orang di dalamnya sendiri bermasalah, coba bayangkan bagaimana tatap penuh `lucu` mereka yang tertawa tak yakin saat kita dengan lantang kembali meneriakkan bahwa kita ini problem solver.
Lalu, apa jawaban dari permasalahan itu? Apa memangnya hal paling hebat yang bisa kita lakukan untuk paling tidak mengurangi atau malah bisa jadi mengubah stempel dan stigma negatif itu? Oh, jangan hal yang paling hebat, kesannya begitu melangit dan sulit terealisasi. Kalau begitu, pertanyaannya diganti, hal apa yang paling mungkin kita lakukan? Adakah? Hmm… mungkin bisa dimulai dengan, menanyakan pada diri kita sendiri. Sudah seperti apa Islam yang kita tampilkan bagi orang lain? Adakah kesholehan sosial yang santun dan membuat siapapun bisa tersenyum walaupun mereka berbeda dengan kita sudah berhasil kita wujudkan? Sudahkah berbuat baik kepada sesama muslim dan juga yang bukan muslim, tidak hanya kita jadikan sebagai slogan dan sebatas perkataan saja? Sudahkah kita introspeksi diri, jangan-jangan begitu sering kita melukai orang lain hanya dengan alasan kita ingin meninggikan kemuliaan agama kita. Sudahkah…? Ah, mungkin masih panjang listnya (Masih bisa ditambah )
Kalau belum, jangan salahkan kalau wacana hipokrit ini akan terus bertengger dan tanpa sadar kita urun peran disana.
Ah iya, kalau sudah bertanya, ada jawaban iya atau tidak lalu tentu tindakan paling hebat yang paling mungkin adalah berusaha menghadirkan sikap itu mulai dari sekarang. Ada baiknya juga kita percaya, bahwa ada perubahan besar yang mungkin terjadi saat kita mulai dengan perubahan kecil yang dilakukan oleh dua tangan kita. Siapa tahu bukan?
Ps :
Secara khusus silahkan memberikan tanggapan tentang isi video itu



hmmm, list-nya sangat mengena, mewakili banyak hal terutama realisasi di tengah masyarakat dalam keseharian.
Saya sangat paham jika setelah melihat cuplikan video tersebut mungkin akan menimbulkan reaksi luar biasa bagi sebagian orang. Mungkin tidak bagi sebagian lainnya. Inipun berpeluang menciptakan “fenomena” lain yg justru membenarkan isi video tersebut. Moga tidak.
Saya teringat salah satu ungkapan cendekiawan bahwa berbuat baik terhadap sesama dengan sikap tarohum *kadang dianggap sikap lemah* akan membuat siapapun bersimpati kendati tanpa diembel-embeli label agama, karena (masih menurut beliau) penilaian sejatinya terletak pada realisasi, bukan label semata, toh label akan mengikuti dengan sendirinya.
Paragraf terakhir rasanya (menurut saya) sebuah ajakan simpatik nan lemah lembut. Ah, … moga ajakan tersebut lebih menyadarkan kita, bukan sebaliknya.
mbak jepe, makasih … pelajaran mengesankan khususnya bagi saya, yg sehari-hari berhadapan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan keyakinan.
Sungguh, … sangat berharga.
*kehormatan bisa mendapat kesempatan awal*
maaf ya, … komennya terlalu panjang
Ah iya Cak, terkadang memang ada yang reaktif dan langsung ngamuk-ngamuk mungkin ya kalau liat… peluang munculnya `fenomena` itu sayangnya sepertinya selalu saja ada kan ya…
setuju
Ehm… makasih Cak (jadi ga enak hati nih *bletaak*)
Semoga mmg jadi seperti yang diharapkan ya ^^;
Eeeeh… sama-sama kok Cak, saya juga niatkannya itu buat diri sendiri, teringat nasib sendiri di tempat orang lain, pasti ga enak kali kalau kita diperlakukan seenaknya cuma gara-gara kita beda keyakinan dan jadi minoritas kan ya…
Whohoho… what a nice `pertamax` comment yah… panjang? gpp kok ^^;;
panjang? gpp kok, bagus gini …
hmm, menurut pendapat gw ada 3 hal yang menyebabkan timbulnya image jelek Islam di dunia barat (khususnya).
1. Kepentingan politik. Ini penyebab yang paling utama yang bahkan di Al-Qur’an pun disebutkan bahwa mereka (nasrani dan yahudi) tidak akan senang selama kita tidak mengikuti mereka. Sudah berlangsung dari jaman kakek kita belum lahir politik2 kotor untuk menjatuhkan Islam, kenapa? karena memang pada jaman dulu Islam sempat jaya2 nya hingga menjadi pusat peradaban. Mereka yang merasa terancam akan melakukan segala hal (apapun) itu untuk menjatuhkan dan berusaha agar tidak dapat bangkit lagi, and they did.
2. Generalisasi yang salah. Dengan adanya beberapa pihak yang melakukan tindakan anarkis (yang tentu saja dengan kepentingan mereka sendiri), pihak korban dengan mudahnya melakukan generalisasi bahwa Islam itu terroris lah, anarkis lah, whatever. Merupakan hal yang amat sangat picik dan 1000% dicampuri (lagi2) kepentingan politik agar semua dianggap jelek.
3. Sayangnya kita sendiri lama2 berpikir sama buruknya dengan mereka. Karena mendapat perlakuan yg semena-mena dan mendapat tekanan yg amat sangat dari Nasrani dan Yahudi, banyak dari umat Islam pun menggeneralisasi bahwa “mereka semua” jahat. Ini cukup fatal, benci dibalas benci, dendam dibalas dendam, yang ujung2nya menjadi lingkaran kebencian dan dendam yang ga ada abis2nya.
Ketiga hal diatas adalah murni pendapat gw, klo salah mohon dimaafkan. Benar atau salah nya mari kita cari bersama.
Saya belum lihat klip-nya (di-blok sama penjaga internet di sini T_T ), tapi sedikit banyak bisa menduga isinya setelah mendengar deskripsi panjang dari Mbak Jejak dan Pak Cak (sok tahu, ceritanya).
Yup. Saya setuju dengan pendapat bahwa klip yang isinya ‘cenderung’ mendiskreditkan seperti itu, akan membangkitkan emosi dan memancing tindakan anarkis yang akan memancing masalah lain. Dan saya juga setuju bahwa itu diakibatkan oleh kurangnya pemahaman umat akan agamanya sendiri serta adanya faktor luar (seperti yang diungkapkan Mas Bytop). Saya juga sangat setuju bahwa untuk mengatasi hal itu, harus dimulai dari diri kita sendiri.
SEMANGAT deh!
@ bytop
Iya,, sebenernya menurut Ma ga salah berusaha membela agama, dan sakit hati saat orang menghina Rasul, tapi caranya yang sebaiknya dibikin lebih baik,, bahasanya Joe sih, ‘lebih elegan,,’
Lagian, kalau kita melakukan hal yang sama, artinya kita sama aja sama mereka kan?
eh, satu lagi yang Ma tangkep dari video itu,,
Menurut Ma, mereka nganggep anekdot rasul dan sindiran penghinaan sama Rasul itu ‘hanya’,, jadi wajar kalo mereka nganggep tindakan muslim yang tersinggung itu aneh,,
Jadi, menurut Ma, sebagian reaksi itu sangat beralasan, cuma caranya aja,, agak ga manusiawi,, dan ga bikin orang simpatik,,
@ btyop
Setuju Tyo… dan karenanya kita juga `mesti` melakukan sesuatu
@ Suandana
Hehehe… gapapa kok Mas, kapan bisa dan kapan sempat aja liatnya ^^
Iya, ada hubungannya dengan cara memahami dan menerapkan self defense kita kayanya ya… disamping penyebab seperti yg disebut tyo…
Yap, mari mulai dari diri sendiri ^^
@ Rizma
Yap. Tentu saja usaha membela agama menjadi keharusan saat kehormatan kita diganggu gugat, sekali lagi caranya memang, tujuan baik kalau dicapai dengan cara yang salah, hasilnya enggak akan jadi sesuatu yang baik kan ya…
Ah… kalau saya liatnya enggak `sehanya` itu sih, soalnya tendensinya memang serius banget dan akan aneh aja kalau enggak ada reaksi dari umat Muslim sendiri, tapi sekali lagi, dalam aksi protes dan unjuk rasanya sampai anarkis begitu, kesannya orang Muslim hobi banget ngerusuh
…
Generalisasi akhirnya terjadi dan jadi imej jelek bagi Islam pada umumnya… ini yang sering dan serulang-ulang kejadian (-_-)
secara sederhana… bisa dikatakan,
‘kalau tidak ingin direndahkan orang lain, jangan memberi celah orang lain untuk merendahkan kita’
…bukan?
mbak jepe,,saya blom smpet liat v-klipnya..lemot bgt soalnya..mklum telkomnyet..
balik ke topik,
exactly, saya stuju dgn ini mbak jepe, dan untuk penjelasannya panjangnya, sudah terwakili dgn mas bytop di nomer 2&3….
@@yud1 :
bener juga sih,,tp perlu di tambah bahwa kita juga jgn smpai merendahkan orang lain lbh dahulu, karena ujungnya pasti ga akan ada habisnya dan hanya berputar2 di satu siklus “saling merendahkan”…
@ yud1
Hehehe… iya kayanya ya… secara sederhananya begitu ^^;;
Sekaligus lagi, sebenarnya kita juga ikut bertanggung jawab sama imej yang timbul di mata orang lain… baik itu imej baik maupun imej buruk…
@ 9racehime
, biar lengkap imajinasinya, (halaah…)
Un, ga papa kok, kapan bisa aja liatnya, tapi jangan sampai lupa
Iya, makanya dibilang kalau enggak mau `dikerjai` janganlah `mengerjai`, karena terkadang sifat pemaaf itu enggak tersebar rata di tiap hati manusia (walaah… menjalar kemana ni udahan…
)
Sedih
..
Iya Mbak, miris banget jadinya…
@ Yud1
TOP!!
@ Hiruta
Maksud Ma menurut yang bikin video dan orang orang yang antipati itu Hiruta,, dari kata kata di sana, kalo ga salah mereka bilang itu “hanya”,, tapi waktu mereka bilang kalo efek dari “hanya” umpatan dan karikatur itu ngebunuhin orang, iya, itu berlebihan,, (tapi Ma sampai sekarang masih belum percaya ada orang islam yang ampe ngebunuh literary ngebunuh orang karena itu,,)
Lagian kalo mau maen itung itungan jumlah orang yang dibunuh, orang islam masih kalah kok dalam jumlah ngebunuh,, tapi iklannya gencar,, jadi gitu deh,,
Ma ga tau sebenernya yang mau Ma omongin ini apa,, cuma,, biarpun mereka secara kelakuannya ga baik, sebagian itu ungkapan kekecewaan, sakit hati dan simpati,, bukannya ga mau memaapkan, tapi ada saatnya buat ngamuk kalo udah dihina hina,, (walaupun, lagi lagi,, caranya harus yang tepat,,)
Ehem… iya sih, tapi kenapa Ma pakai icon itu diujungnya? Saya jadi `buyar` begini…
–
Ah… souka…
Iya… iya… maksudnya saya juga kaya gitu Mbak Ma…
*diamuk Ma*
(kangen sama panggilan lama Ma
)
Apa apaan panggilan itu,,!!
tapi sekarang udah ada kok yang manggil gitu (dan ga Ma marain,,) heheheheh,,
(ampuun,, OOT!)
apanya yang “maksud saya juga itu” Hiruta?
Hehehe… saya tau lho siapa yang sekarang manggil Ma kaya gitu, ga dimarahin ya? Kenapa ? *curiga*
Aah maksud saya dengan “maksud saya juga kaya gitu” itu adalah penjelasan Ma di komen atas itu… ^^;
lhoo…apa ma marah ya kalo ada yg manggil mbak ma?
soalnya saya slama ini manggilnya mbak ma tuh…
maaf ya mbak ma…hehe..
*ngloyor pergi dgn anteng..*:mrgreen:
Eeh… hmm… kalau 9race yang manggil memang gak papa kayanya…
Ini lain lagi kok, ya kan Ma?
*lirik Ma*
Wuihh… Banyak pemakaian kata “kita” dan “mereka” euy~
(ga kok, yang awal ini ga usah ditanggapi. sekadar coretan belaka)
Ahemn, ahemn… Maaf, maaf. Saya belum melihat video-nya. Tanya kenapa? Ini sudah akhir bulan, dan saya overquota! Sekali lagi maaf, mungkin kalau OL di labkom sekolah atau di mana saja selain di rumah, akan saya coba lihat. Mungkin juga bulan depan, eh? Kita lihat saja.
Menurut saya–seperti yang sudah dilempar oleh para komentator sebelumnya–ini adalah problem lingkaran setan yang [mungkin, tapi semoga tidak] tak akan ada ujungnya. Selama kebencian, kecurigaan, dan lain-lain masih ada, dan ditunjukkan terang-terangan di depan publik tanpa ada rasa malu (bangga malah!), siklus ini tak akan pernah selesai. Di sini membenci yang di sana, di sana membenci yang di sini. Kapan selesainya? Parahnya lagi–seperti yang sudah disebut–bahwa justifikasi secara generalisasi masih dipakai. Ketika beberapa agama A melakukan tindakan anarkis, penganut agama lain dengan entengnya mencibir agama A sebagai agama yang anarkis. Toh… Penganut agama lain tersebut jelas berpikir mereka benar, melihat dari fakta di lapangan bahwa penganut agama A memang selalu disorot publik sebagai pelaku anarkis. Yang salah agama atau penganut agama sih…? Mari cermati ajaran agama lain terlebih dahulu, sebelum melakukan justifikasi yang tak bersumber.
Nah, kali ini saya mencoba terbuka, mencoba menguak sisi masa lalu saya yang bisa dibilang kurang mengenal Islam. Heee… Saya bisa dibilang newbie dalam menganut Islam, lho. Jadi saya mencoba berceloteh sebagai diri saya yang dulu, di mana mungkin dianggap sebagai “musuh” oleh beberapa pihak… *melirik*
Dulu ya… Waktu masih eSDe, saya sempat sekitar setahun mencicipi sebuah sekolah non-Islam, bukan sekolah umum, tapi bernafaskan agama (ya iyalah, toh waktu itu di buku raport saya belum dicantumkan kata “Islam” pada kolom agama). Saya tidak membicarakan apa yang diajari oleh para pengajar di sekolah tersebut. Ya, hanya sedikit menceritakan celotehan anak-anak SD saja.
(udahan dulu, sisanya obrolan ga jelas juntrungannya… anak kecil, suka gonta-ganti topik kalo bosan)
Hueee… Itu baru obrolan anak kecil. Saya malas menuliskan obrolan orang dewasa yang saya dengar dulu…
Kenapa? Meremehkan diskusi anak kecil? Ahahaaa…
Kalau sudah dari kecil ditanamkan pikiran seperti itu, coba bayangkan bagaimana kalau sudah dewasa?
Beruntunglah saya yang kemudian pindah sekolah dan kota, dan mengikuti “perubahan” yang dilakukan kedua orangtua saya. Sulit memang, harus mengikuti sesuatu yang dulu saya pikir sebagai sesuatu yang “tidak benar”, “jahat”, dan lain sebagainya.
Nah, sekarang bagaimana agar lingkaran setan ini bisa diminimaliskan seminimal mungkin–karena hampir mustahil untuk dihilangkan–agar konflik yang ada bisa sedikit diredam? Menurut saya ya kuncinya adalah hilangkan itu “hatred” dan segala jenis kecurigaan secara terang-terangan. Kembali saja kepada ajaran Ketuhanan yang damai, dengan benar-benar MEMAHAMI petunjuk Tuhan yang terangkai indah dalam setiap kata-kata pada kitab suci. Jujur ya, ini cuma celotehan anak kecil yang baru saja mendalami Islam, jadi bagi yang menganggap dirinya sudah hebat, ga usahlah dibaca.
Saya cuma ingin dunia ini ga ada saling benci antar agama gitu ^_^
Saya bukan pemeluk agama yang taat dan senantiasa tampil di depan umum membawa embel-embel agama, tapi saya mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mengekedepankan sikap plural. Ya, saya percaya perbedaan yang ada di dunia ini (termasuk perbedaan agama~) merupakan anugrah dari Tuhan.
Ya, harapan saya terlalu muluk memang… Tapi ga ada salahnya berharap, bukan?
(ups, kepanjangan…bersambung ya~)
@ Hiruta
Itu cinta,, cinta,,
*gile betul!!!!!!!*
@ Shan In
Amin,,
tapi,, buat kejadian yang kaya gitu, butuh semua pihak kan?? ga cuma satu,, walaupun semuanya dimulai dari diri sendiri,, (kok Ma bahasanya cynical gini ya?)
Mari kita coba keluar dulu dari lingkup agama, coba dianalisa secara umum maka akan terlihat penyebab utama semuanya itu adalah sifat “ingin balas dendam”. Memang hati rasanya panas bila di hina, tapi kalau tindakan “balas dendam” dilakukan maka balas membalas tiada akhir dan akan menembus batas reinkarnasi sekalipun. Coba kita bisa mencontoh Seorang “Mahatma Gandhi” atau “Mother Theresa”. Adakah sifat2 “balas dendam” dalam diri mereka?
Mari kita berantas sifat “balas dendam”, punahkan dari muka bumi ini, maka video-klip2 seperti di atas tidak akan pernah ada lagi…., saya jamin.
Contohlah Tuhan kita, Dia tidak membalas kekerasan dgn kekerasan. Kalau Dia melakukan itu apa kita semua masih bisa tegak dimuka bumi ini…??
Mbak Je Pe lam kenal….
Buat yang komen di atas Ma,, TOP!!!
(iseng amat ya cuma komen kaya gini,,)
@ Master Li
Errr…
…
Emm… maksud saya nulis itu ga ada niat banget buat diskriminasi Shan In, secara artikel ini mencoba menelaah dari sudut pandang saya seorang Muslim… makanya penggunaan kata-kata ganti tersebut itu jadi bertebaran (maaf kalau jadi ga nyaman…)
Ah, tentu saja adik kecil, kita punya keinginan yang sama
Yap, yap… harapan itu bisa jadi pendorong kita menyinkronkan antara keinginan dan kenyataan bukan ?
Disini dipersilahkan ber`muluk-muluk` lho, asalkan dibarengi dengan usaha nyata juga… (halaah gaya…)
Thanks buat tanggapannya ya. Bersambung? Okeh, ditunggu…
@ Rizma
Weleh… reaksi tepat seperti prediksi
Biasanya dengan bilang mulai dari sendiri itu sebenarnya ajakan buat semua untuk mulai berbuat …
)
(iya, sinis itu enggak menyelesaikan masalah padahal
@ CY
Setuju Mas, sifat ingin balas dendam itu memang `alami` ada kayanya… tergantung kemudian dia dominan muncul atau enggak aja di pribadi tiap manusia…
Oh ya, saya `sengaja` ambil lingkup ini dalam artian enggak secara umum, karena memang tujuannya untuk introspeksi dan renungan buat internal umat Muslim
Makanya bahasannya jadi terasa khusus begitu ^^;;
Salam kenal juga Mas, thanks atas tanggapannya ya
@ Rizmaa
He eh…
Mbaca `komen` memang malah terkadang lebih seru daripada postingan itu sendiri
Whohoho… baru sadar?
ups.. sorry.. baru sadar mau ralat nih
harusnya “Mahatma Gandhi” bukannya Indira Gandhi hehehe…
*terlalu semangat sih*
Walaah… saya entah kenapa asosiasinya itu memang ke Mahatma Gandhi-nya, bukan ke PM India itu, hehehe…
Saya perbaiki aja di komennya boleh ya?
boleh2 aja mbak hehehe…
@ CY
Hehe… udah diganti jadi `Mahatma` ^^;;
ハハハ、赤ちゃん、お爺ちゃんは来ました、可愛いそう!ハハハ!
でも、全然分からない。。。。。。。。。。。。。。。じゃね!
@ ojiichann-陳
お爺ちゃん ???!!
来ました ???!
ハハハ。。。 ありがとう !!!
も ありがとう お爺ちゃん 。。。:D
ハハハ。。。 インドネシア ご で ですから :lol:
ごめん ね
じゃ 。。。
—
,
What a nice visit Ojiichan
Thanks alot, I`m waiting for ur next coming.
May later I`ll write in English or mix it with Japanese? or in Chinese? So that u can include into commenting its content…
(Although i`m not sure with the last one, hehehe…)
Anyway, xie xie …
—
Mhuahahaha … Asli ga nyangka…
*submit komen sambil bekap-bekap mulut nahan ketawa*
Saya dari dulu tetap tidak mengerti kenapa agama atau Tuhan butuh di bela? Bukannya malah harusnya kita yang di bela?
Hmm… *mikir*
pada hakikatnya Tuhan itu tidak membutuhkan pembelaan, karena tunduk atau tidaknya manusia tidak berpengaruh sedikitpun pada nilai agungnya Tuhan, bukan begitu?
Jadi ada perbedaan disini antara penyebutan membela Tuhan dengan membela agama. Berjuang membela agama jadi penting jika sudah menyangkut usaha dari pihak luar untuk menghancurkan, karena ini berhubungan dengan kelangsungan eksistensi kita sendiri sebagai pemeluknya.
Jadi disini, saya anggap makna pembelaan yang Dana maksud adalah pembelaan dalam artian bereaksi berlebihan saat ada guncangan tapi dengan membabi buta dan arogan, seolah-olah usaha penghancuran seperti itulah yang `menyelamatkan` kehormatan Tuhan…
Kalau usaha pembelaan macam ini, memang jelas-jelas ga dibutuhkan kan ^^;
Dana mau dibela dengan cara apa? Yang ngancam Dana siapa?
Ah, mungkin sebagian `kita` merasa eksistensinya terancam surut, makanya perlu aksi pembelaan kaya begitu ya?
(Aaa…, Shan In, pemakaian kata gantinya masih ada nih :mrgeen: , jangan-jangan memang tak terhindarkan ya?
)
Waduh jelasinnya semangat banget nih. :mrgareen:
kira-kira apa sih di benak kita ketika kita bilang sedang membela agama?
Sebab menurut saya yang kita bela itu bukan agama, tapi rasa ketersinggungan atau kekhawatiran atau dll kita sendiri, jadi sebenarnya yang kita bela itu ya diri kita ini.
Biarin!
Daripada saya semangat ngerusuh dan misuh-misuh di luar sana coba
Wheew… ini lho yang yang saya sebut dengan “Kalau usaha pembelaan macam ini, memang jelas-jelas ga dibutuhkan kan ”
`merasa` membela agama tapi sebenarnya lagi membela ego diri.
Saya juga bilang di atas, “Ah, mungkin sebagian `kita` merasa eksistensinya terancam surut, makanya perlu aksi pembelaan kaya begitu ya?”
Errr…
jadi maksud saya bilang gitu ya itu, ada sebagian yg mungkin sebenarnya sedang membela ego sendiri tapi pake dalih agama…
intinya sebenarnya saya mo bilang (untuk kasus video ini ya), adalah wajar jika Muslim membela (bereaksi) terkait masalah kartun Nabi(secara tidak langsung itu pelecehan thd Islam) itu, tapi cara anarkis yang dilakukan malah membuyarkan tujuan baik itu sendiri …
(maafkan saya yang terlalu semangat ini Dana
)
Yup se7 dengan jeng jepe.
Soal reaksi kaum muslim itu ya manusiawi kok. Kita ini kan bukan malaikat. Yang ingin saya tekankan (juga) sebenarnya ya itu tadi, sebaiknya kita sadar dulu apa sih yg kita bela, agama atau diri kita? Baru deh di lanjutken.
(* tetep smangad*)
weitss….nancep abis nih mas dana…
membela agama atao membela ego sendiri..gitu kan?
*pergi lagi dgn tenang..td numpang liwat doang*:mrgreen:
@ danalingga
Un… *ngangguk*
tetep smangad! (halaah)
@ 9racehime
Weleh, ngerinya bilang2 nancep, teringat piso-piso dan senjata tajam sejenis lainnya *horor mode on*
hati-hati di jalan… *lambai-lambai*
(halaah)
*baca komen-komen…*
Wah, rame ya? Penuh semangat, dan TOP. Yah, walaupun sesuai tradisi di blognya Mbak Jejak, ada juga ’selingan’ yang masuk dengan ‘pas’ ke dalam topik. Tapi ada komen misterius dari Ojii-chan nih… Saya dak bisa baca T_T.
Terus SEMANGAT deh…
@ Suandana
Hihihi… jangan-jangan saya nih yang hiperaktif semangatnya reply komen Mas
Eh? Tradisi mana nih maksudnya Mas? *asli ga ngerti*
Gyaahahaha… misterius?
Kalau gitu saya terjemahin aja ya komennya Ojiichan itu
terjemahannya :
Hahaha, Aka chan, Ojiichan datang nih. Bagusnyaa!
(Ini maksudnya merujuk ke blog saya
) . Hahaha…Tapi saya dikit pun ga ngerti………… Sampai nanti ya!
–
Jadi begitu mas. Dan reply komen saya enggak jauh-jauh dari rasa senang sedikit, tersipu-sipu sedikit karena dipuji *bletaak*, dan ucapan terima kasih atas kunjungan Ojiichan-nya
Hehehe… enggak terlalu misterius ternyata ya…
[...] merasa pemilik tokoh agama, maka anda sudah di sebut beragama. Jangan sampai agama anda di tuduh agama hipokrit hanya karena tingkah laku anda tidak mencerminkan orang yang [...]
Dana,, kalo yang kita niatin buat dibela itu kehormatannya Rasul gimana?
Kaya misalnya orang menghina orang tua kita,, kita kan (kalo menurut Ma) bakal membela kehormatan orang tua kita,, bukan karena membela diri, tapi karena orang itu orang yang sangat kita cinta dan puji,,
(Ma agak ngarah ke setuju ke berantem yak,,?? maksudnya bukan itu kok,, tapi menurut Ma ada banyak alesan buat orang jadi kaya gitu,, selain sekedar emosi self defense,, dan lagi lagi,, caranya juga sebaiknya lebih elegan,,)
Ma, itu perlu kita renungkan juga yang kita bela kehormatan rasul, atau imajinasi kita tentang kehormatan rasul?
Hem…kehormatan orangtua yang bagaimana dulu? Contohnya dunk.
@ Rizma
Kalau itu kasusnya saya kok gak melihat ada masalah ya?
Sah-sah aja tuh… (menurut saya sih)
Jangan jadi rumit lho, membela kehormatan Rasul misalnya, atau contoh Ma, membela kehormatan orang tua, atas dasar kecintaan pada mereka dan atas dasar pijakan pada kebenaran, itu hal yang gak bisa dikategorikan membela ego pribadi, (dan lagi-lagi menurut saya)
@ danalingga
Hmm… membela kehormatan rasul…
Imajinasi kita tentang kehormatan rasul…
Ini maksudnya lebih kaya gini ya, karena salah persepsi (salah imajinasi juga
) bahwa kehormatan Rasul itu akan tegak dan hanya bisa diperjuangkan dengan cara misalnya, merusak, menghancurkan, brutal membabi buta, jadi sebenarnya tanpa sadar kita sedang ditunggangi oleh `ego` kita yang udah salah mempersepsi tadi?
Gitu bukan Mas? Kasi contoh deh kalau gak, biar jelas
(paling bisa bikin orang repot)
*dari kemarin2 mau nonton gagal melulu. telkom ncen kampret!*
@hiruta
maksud saya apanya sih di bela dari rasul itu? Nama baiknya kah, yang telah di hina? Lah emang ngaruh gitu ama rasul ketika dia misalnya saya hina nih, kok misalnya hiruta yang marah-marah dan membunuh saya? Sedangkan rasulnya aja tidak membunuh saya? Apakah mungkin karena hiruta merasa dapat mandat dari rasul untuk menghukum saya? Atau karena memang rasul menyuruh hiruta untuk membunuh saya yang telah menghinanya?
Kira kira gitu contohnya, apakah udah clear.
@ Shelling Ford
Walaah Joe… kasian betul. Cari yang tajir benwit deh bentar buat liat videonya aja.
Heh?! Malah tanpa sensored gitu nyebutnya?
@ danalingga
Oo… gitu maksudnya Mas Dana…^^
Saya sih liatnya untuk reaksi setelah melihat kartun Nabi itu sebagai bentuk kewajaran, ada ketidakrelaan bahwa seseorang yang kita yakini risalah yang dibawanya dihina dengan konsumsi lelucon yang menurut mereka yang membuatnya lucu. Jadi ini seperti suatu sikap dimana kita merasa ada sesuatu yang perlu kita jaga kehormatannya secara ia adalah sesuatu yang kita hormati, Rasul.
Terlepas dari anggapan bahwa, itu gak ngefek ke Rasulnya, atau Rasul ga minta dibela, ataupun lagi pemandatan dari Rasul untuk menghukum. Kita membela kehormatannya sebagai salah satu bentuk eksistensi rasa cinta. Cara menunjukkan pembelaan, ini yang harus hati-hati…
–
Heh?! Enggak mau saya jadi antagonis begitu!
Contohnya curang!!
*timpuk danalingga*
@hiruta
Gini ya hiruta, saya sebenarnya tidak menyalahkan orang yang marah itu. Tapi hanya sekedar ingin mengajak kita merenung dari sudut pandang lain nih. Sekedar brainstorming aja.
Nah kalo sudut pandang saya itu begini:
Bagian Pertama:
Di sini kita bicara Nabi Muhammad kan. Nah Nabi Muhammad ini kan telah berpulang kepadaNya dalam kemuliaan. Nah ketika misalnya Nabi di hina, bagi saya Nabi itu tetap mulia, tidak lantas menjadi hina ketika ada orang menghinanya. Makanya saya tidak merasa tersinggung ketika Nabi di hina, wong Nabi itu tetap mulia kok. Istilahnya ndak ngefek tuh.
Analoginya mungkin sama ketika orang menghina Tuhan, lah mau di hina bagaimanapun Tuhan tetap Tuhan, tidak berubah jadi Tuhan yang hina misalnya. Nah jika begitu ngapain saya merasa terhina, dan berusaha membela Tuhan. wong Tuhan itu tetap Tuhan di mata saya, ndak berubah oleh hinaan orang tersebut.
Intinya sih saya melihat Rasul tetap Mulia, sehingga saya ndak tersinggung walau dihina bagaimanapun.
Istilah gampangnya perasaan saya sudah di penuhi oleh kemuliaan Rasul, sehingga tidak punya ruang lagi untuk merasakan hinaan itu.
Bagian kedua:
Kalo saya lihat rasa marah itu lebih kepada rasa kepemilikan (istilah kerennya keterikatan atau bisa di sebut salah satu buah ego) kita terhadap rasul maupun Tuhan.
Analoginya adalah dari contohnya Ma tentang orang tua,
bahwa Ma marah karena orangtua Ma di hina
itu sebanding denga
Ma marah karena rasul Ma di hina
Ma marah karena Tuhan Ma di hina
Nah rasa marah itu semua di karenakan Ma mengasosiasikan rasul dan Tuhan itu sebagai milik Ma, sama seperti Ma mengasosiasikan orang tua sebagai milik Ma juga. Atau bisa di bilang karena milik Ma di ganggu, ya Ma tentu marah donk.
*moga moga ma iklas di jadiin contoh nih*
Eh jadi panjang banget yak? *hem bisa di jadiin artikel nih*
Dana!!!!!! itu pake nama Ma,,!!! kata katanya juga disamaaaiin!!!!! dasaaaaarrr!!
Hmm,, gapapa kok,,
*dengan tenangnya minum teh*
eh Dana, dari obrolan kemaren, jadinya Ma mikir, iya mereka emang ga bakal berkurang kemuliaannya karena di hina,,
Tapi Ma kayanya bakal tetep sedih deh, entah itu karena ego-nya Ma, rasa kepemilikan-nya Ma, sayang-nya Ma atau apapun itu,,
karena Ma bakal sedih kalo Ma mikir Ma bakal jadi ga sedih kalo mereka di hina, walaupun mereka ga sedih karena itu,,
(wadoh Ma nulisnya belibet)
yah begitulah,, tapi kata katanya Dana Ma pikirin kok,, dan Ma menerima pendapat Dana yang itu,,
jangan bosen2 ngajarin Ma ya,,
Keren!!!
[...] Nanya sama mas Dana masalah ini,, [...]
iya, makasih juga buat Hiruta ama Ma yang membuat saya dah mendefenisikan bagaimana perasaan saya mengenai hal ini.
Dan saya tidak pernah menyalahkan jika memang merasa sedih, manusiawi kok.
@ Rizma
Hehehe… mo bilang apa ya Ma? Nice.
@ danalingga
Walaah. Sama-sama makasih lho Mas, atas penjabarannya itu.
Lagipon, saye dah cakap banyak kat YM, pasal sedih dan manusiawi tu kan.
*kesambet*
Thanks anyway ^^;
napa tiba tiba kesambet roh malay begini jeng?? aje gile,,
nggak ngarti aku
@ Rizma
Entahlah Ma…
@ danalingga
Tidak mengapa. udah keluar dari batas penting kok.
@ danalingga,
Dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi. Kita, orang Nusantara, tidak bisa menuruti perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah. Apalagi menuruti perlakuan-perlakuan yang sekarang tidak manusiawi dengan kedok Islam.
Contoh dogma-dogma yang keliru di Al-Qur’an:
Soal poligami:
Umat muslim bilang wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Hal ini sangat keliru. Di Cina, dengan politik anak tunggal, orang Cina memilih anak laki-laki, hamilan anak perempuan biasanya digugurkan. Akibatnya, saat ini cowok lebih banyak daripada cewek. Jadi Al-Qur’an tidak berlaku di Cina. Jadi “wahyu” Tuhan yang di Al-Qur’an itu hanya berlaku di Arab saja. Dinisi kebenaran wahyu bisa dipertanyakan.
Soal halal-haram makanan:
Umat muslim mengharamkan daging babi. Hal ini sangat keliru. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia. Jantung atau paru-paru manusia yang sakit bisa diganti/dicangkok dengan jantung atau paru-paru babi. Ini adalah solusi yang ideal karena kelangkaan donor. Berarti Al-Qur’an tidak berlaku lagi disini. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.
Soal ke-najis-an binatang anjing:
Anjing adalah najis buat umat muslim. Hal ini sangat keliru karena anjing saat ini sangat membantu manusia, seperti: pelacakan narkoba dipakai oleh polisi duana, membantu menyelamatkan orang-orang yang masih hidup yang tertimbun oleh runtuhan bangunan akibat gempa bumi, menyelamatkan pendaki gunung yang ditimbun oleh longsoran salju, teman hidup dan pengantar orang buta, membantu peternak domba untuk mengembala ratusan domba di gunung-gunung, membantu menemukan pelaku kejahatan kriminal, menyelamatkan pemilik anjing yang sendirian yang korban kecelakan di rumahnya sendiri (anjing terus-terusan menggonggong sehingga tetangga datang untuk menyelamatkan pemilik anjing tersebut), dan banyak lagi. Disini, Al-Qur’an sama sekali tidak berlaku. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan yang ada di Al-Qur’an. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.
Dan banyak lagi dogma-dogma lainnya yang keliru yang kita dapatkan di Al-Qur’an.
Sebagai kesimpulan, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Melihat dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi, apakah Islam agama universal?
- Haruskan kita, orang Nusantara, meniru perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah?
- Haruskah kita, orang Nusantara, menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi sekarang dengan kedok Islam?
sesungguhnya kebenaran tidak dapat di ukur oleh lamanya ibadah, tingginya titel seseorang, gelar atw kedudukan, tapi sebagaimana kebenaran itu mampu melahirkan kekuatan pengendalian diri.
kalimat diatas, mungkin ini adalah jawaban dari seemua persoalan muslim, silahkan kaji dan pelajari, Insya Allah, kita akan menemukan tiitk temu jawaban dari semua persoalan islam.
wassalamu alaikum.
Allahu akbar.
yg ngelantur bahas alqur an, tau apa loe akan al qur an, basi banget deh kritikan2 kpda al qur an,,,,, wuhahahahhaha kelihatan gobloknya……..
lihat aja nanti , kebenaran adalah bukti bukan retorika……..
[...] Religion of Hypocrites, anyone? [...]
kalau ada yang menanyakan, kenapa Tuhan menciptakan kita semua berbeda?beda agama?beda warna kulit?beda bahasa?
lalu ada yang jawab”ini semua agar tidak terlintas dalam pikiran manusia bahwa Tuhan tidak mampu menciptakan yangn lain selain diri mu”
lantas apa hubungannya dengan topik dari mbak hiruta ni????
ada. bahkan kalau kita mau jujur dan mulali merenung, kita akan dapati kalau memang tak ada yang berjalan sesuai dengan kehendak diri sendiri.
sedikit respon dari hatinurani21. saya tidak tahu ini orang laki atau cewek, tapi tak masalah lah, karena saya juga bukan pengamat gender. satu kalimat….
“sekarang bukan bicara yang membuktikan, tapi bukti yang membicarakan”
sebenarnya kalau mau jujur dan membongkar semua hasil penafsiran yang ada dalam kepala kita, kemudia mencari kebenaran yang memang dengannya hati bisa jadi tenang, maka saya yakin kalau hatinurani akan membimbing kita kejalan yang benar.
God bless u all
sedddddddddddddddddddddddddddddih
sudah itu saja…
salam kenal