Jika saja suatu kali ada semacam kontes mengumpulkan batu-batu kecil di sepanjang pantai… Silakan mencari sebanyak-banyaknya sepanjang waktu yang diberikan dan yang dikehendaki para juri adalah batu dengan ukuran paling kecil dan paling unik. Cukup sederhana? Ah, agak rumit karena ada kriteria unik itu. Itu terlalu relatif dijadikan penilaian. Jadi diubah menjadi ukuran paling kecil saja dan paling ringan. Ini cukup mutlak untuk dijadikan standar.
Maka misalnya ada yang sudah mendapatkan hampir sekeranjang kecil penuh batu-batu yang ada lalu membawanya ke depan juri dan akhirnya setelah diperiksa ada satu terkecil seperti yang diinginkan Juri, -yang mengantar sebut saja si A- maka menjadi nominator.
Lalu datang pula B menyerahkan hasil usahanya. Hanya ada dua batu kecil yang ia bawa. Tak kurang tak lebih. Dan satu yang ukurannya paling kecil dinyatakan juri patut masuk nominasi karena ukurannya memang paling kecil (dan tentu saja ringan) daripada batu-batu hasil temuan yang lainnya.
Akhirnya ada dua nominator pemenang. Batu milik A dan milik B. Dengan proses penilaian yang cukup menegangkan karena memang baik batu milik A dan milik B hampir sama kecil dan sama ringannya akhirnya diputuskan batu milik B keluar sebagai pemenang. Berat batu miliknya hanya sedikit lebih ringan daripada batu milik A. Walaupun perbedaannya begitu tipis tapi begitulah, penilaian juri cukup fair, A dan B sama-sama hebat, tentu saja. Tapi tentu saja akan tetap ada yang menang dan yang tidak dalam pertandingan, biasa bukan? Dan kenyatannya memang batu A lebih berat daripada batu B dan ia harus terima keputusan itu.
Ada kekecewaan yang dipendam A. Kecewa yang disandarkannya pada anggapan bahwa ia menghabiskan waktu selama perlombaan itu untuk memilih sekian banyak batu untuk menemukan satu yang paling kecil dan paling ringan. Sedangkan B seperti yang dilihatnya dengan dua buah batu yang ia temukan ia menjadi pemenang. A menyesal telah buang-buang waktu memunguti batu-batu kecil yang ada sambil berharap satu yang paling kecil akan masuk keranjangnya. Nyatanya dengan batu sebanyak itu ia terkalahkan dengan satu batu milik B. B yang hanya punya dua batu. Sungguh menyakitkan. Ia yang bersusah payah ternyata dikalahkan oleh faktor keberuntungan B? Ya, apalagi jika bukan keberuntungan yang sedang ada di pihak B, jika tanpa susah payah akhirnya ia jadi pemenang? Ada yang salah disini. Jurikah? Atau dirinya? Atau keberuntungan B yang terasa tidak matching buat dirinya?
–
Ada dua orang pemecah batu yang memulai pekerjaannya. Batu yang sama besar dan alat pemecah batu yang sama kualitasnya. Mereka memulainya secara bersama-sama. Tukang batu pertama berhasil memecahkan batu pada ayunan ke-seratus. Sedangkan Tukang batu kedua menyelesaikan pekerjaannya hanya pada ayunan ke tujuh puluh, batu itu telah berbongkah menjadi pecahan kecil-kecil seperti yang diinginkan.
Tukang batu kedua sedikit punya kelegaan bahwa ternyata ia tidak selelah temannya karena akhirnya ia bisa memecah batu lebih cepat. Tukang batu pertama tidak terlalu ambil pusing toh, yang penting tujuannya mendapatkan bongkahan-bongkahan batu menjadi tercapai. Kalaupun ia sedikit lebih banyak mengeluarkan tenaga dan juga sedikit lebih lelah dari temannya, ia menganggapnya sebagai latihan kekuatan tangannya. Itu lebih baik daripada berpikir bahwa ia lebih lemah dan harusnya bisa lebih cepat mengalahkan temannya untuk memecah batu. Jadinya ia juga akan menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, tidak terlalu lelah dan hasilnya seperti yang ia inginkan. Berpikir seperti itu hanya akan menjadikan keadaan menjadi lebih baik terkecuali ia bisa menjadikannya sebagai cambuk agar lebih keras lagi saat memecah batu ke depannya. Di luar itu akan terasa buang-buang energi saja memperturutkan rasa tidak nyaman dengan ketangkasan temannya itu.
–
Terkadang saya berpikir bahwa dua kejadian itu sadar atau tidak bisa singgah bergantian di benak saya. Menghakimi diri sendiri. Atau juga mengagumi dan meyakini usaha yang sudah saya lakukan yang harusnya cukup bisa untuk bisa saya hargai sendiri. Terkadang bisa salah satunya yang mampir atau seperti sekaligus datang dan menjajah begitu rupa.
Seringnya mempermasalahkan tingkat kualitas dan kuantitas tidak terlalu buruk sebenarnya, tapi jika sudah berlebihan akan jadi bumerang juga buat logika berpikir. Tentu idealnya selaras saja antara kualitas dan kuantitas, walaupun definisi jumlahnya selalunya abstrak. Cenderung ke salah satu lalu menjadikannya konsep dalam berusaha bisa jadi menggiring ke ujung yang lebih fatal? Hmm… mungkin saja.
Pada akhirnya setelah sedikit pusing dan gemas dengan begitu lemahnya imunitas pikiran saya, saya bisa cukup belajar menerima bahwa tidak semua hal perlu dijustifikasi hitam putih. Sukses tidak sukses. Berguna tidak berguna. Ada yang lebih penting daripada itu. Makna dan nilai usaha yang akhirnya membuat kita nyaman bahwa kita sudah membuktikan eksistensi kita sebagai makhluk yang tak hanya perlu berpikir saja tapi juga perlu langkah riil, usaha! Dan saat usaha itu tidak berujung ke definisi sukses yang dianggap oleh orang lain, cap gagal juga tidak seharusnya kita berikan pada diri kita. Melihat sesuatu dari banyak sisi dengan objektif dan proporsional akan membantu kita jadi lebih nyaman daripada sekedar memainkan hitung-hitungan.
Kalau sudah seperti itu, saya sudah tidak terlalu ambil perduli lagi. Biarkan sajalah saat ada hasil dari sesuatu yang bisa jadi membuat saya merasa hancur sesaat tapi kemudian sesaat setelah itu saya menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Saya tidak perlu menyesal telah berbuat ini dan itu jika hasilnya Cuma segitu dan tidak memuaskan apalagi untuk disebut membahagiakan. Toh saya sudah berusaha optimal semampu saya. Atau bisa juga misalnya, tidak perlu senang yang berlebihan saat mungkin hanya dengan `dua batu` yang saya punya, saya bisa memenangkan pertandingan itu, karena bisa jadi orang lain jauh lebih baik kualitas usahanya dengan sekeranjang batunya. Walaupun bisa saja ada kemungkinan, saya juga mengumpulkan banyak batu sebenarnya tapi saya putuskan tidak semua saya bawa ke hadapan juri. Saya terlebih dulu menyisihkan batu-batu yang lain yang kira-kira terlalu besar dan menyisakan dua saja untuk dinilai.
. Hahaha… yang jelas berusaha biasa saja antara rasa senang dan rasa sedih itu tidak akan terlalu buruk.
(paling tidak bagi saya
)
Btw, definisi sukses hidup bagi tiap orang itu akan berbeda pastinya. Makanya ada banyak kepentingan dan jenis usaha yang relative untuk disebut sukses dan gagal. Walau tentu saja tetap ada sukses dan tidak sukses yang terdefinisikan berdasarkan kesepakatan bersama dan sedikit banyaknya menjadi tolak ukur pandangan orang secara umum.
–
Well, for every though I ever had before about everything, some had showed me how weakness I am, and some had me take the heaviest thing i didn`t expect much then I did. It was nice approaching and nice accomplishment either. Even at the end it didn`t go well as people hope. Nevertheless I feel and think, I wont change my glance about that since it helps much, not pain and not glad. It just needs adding attitude then.
One thing I can effort now is to learn much more wisely and keep thinking it carefully. Then just hope that it would find the gateway itself when I can not take it anymore.
–
Huff… Yaiyy… *unknown words*



Usaha ya?? Ma sih bukan tipe pekerja keras gitu,, tapi orang yang beruntung,, juga bukan tipe yang ambisius, tapi menerima hasil usaha Ma, berapapun itu,, (jadi Ma nih ga ada usaha usahanya ya??)
Kadang kadang Ma ngerasa kalo Ma ini jadi orang lain, mungkin Ma bakal kesel sama Ma,, dengan usaha setengahnya orang lain, dapet hasil yang sama,,
Ma sih bersyukur banget kaya gini, ngerasa bersalah dikit,, tapi orang orang sering bilang sama Ma,,
“Ma males aja udah kaya gini, gimana kalo rajin dikiit aja,,”
kan maless,, Ma lebih suka ngabisin waktu Ma yang lain buat jualan, maen dan ngobrol sama adek adek Ma, baca buku yang ga ada hubungannya sama kuliah, temenan ama adek kelas, pokoknya hal yang keliatan ga penting lainnya itu deh,, tapi Ma bahagia dengan itu,,
aneh ya Hiruta??
sukses itu jika : saya puas dengan semua yang telah saya lakukan meskipun dalam proses perencanaan, perjalanan, dan akhir dari semua itu adalah kegagalan.
Bukankah kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda?
Entah kenapa artikel ini memberikan gambaran mengenai beragamnya sikap dalam menghadapi kekalahan timnas Indonesia melawan timnas Arab Saudi.
Ada yang sedih, ada yang bangga, ada yang menyalahkan wasit, ada yang menyalahkan stamina, ada yang menyalahkan AFC, dan lain lain sikap yang beragam.
Mungkin di karenakan melihat kekalahan itu dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Eh gue kok jadi bahas kekalahan, bukannya kesuksesan ya?
Tapi tetep : Idup Indonesia!!!!!!!!!!
maksudnya A kali?
*rifu belum sukses*
# Rifu
Iya tuh, mungkin mau nulis A…
# Mbak Jejak
Kalau saya, sependapat dengan Siwi… Kalau saya puas dengan apa yang saya kerjakan, maka itu berarti saya sukses!
Sedang men-judge diri sendiri kah?
SEMANGAT!!!
*perasaan saya keseringan nulis kata ini ya…*
Sebenarnya permasalahan tsb antara process oriented vs product oriented
Ada istilah terkenal di kalangan para adventurer…
It’s the journey, not the destination
Tetapi memang mengubah suatu perjalanan menjadi lebih indah dari tujuan bukanlah hal yang mudah…
Ah ternyata memang bukan be good or be gone ya
memang yang namanya keberhasilan tidak bisa dilihat hanya dengan nilai boolean…
tapi sayangnya beberapa orang/pihak tidak berpikir seperti itu, berhasil atau tidak, itu saja….
yang namanya sukses tentunya gak lepas dari bagaimana kita menghadapi semua itu dan bagaimana kita
berusaha mendapatkan yg kita inginkan…
semoga sukses..
MERDEKA !!!! *LOH???
sukses itu jika………..bisa merampok bank..hahaha
*kabur
hhmm…nice posting hiruta ^^
memang kadang kesal kalo melihat orang yang meraih sesuatu lebih mudah, tapi hasilnya malah lebih baik daripada kita. ini seperti ada orang yg mencontek dan dapat nilai bagus, sedangkan kita yang belajar mati-matian hanya dapat sekian. kesal memang, tapi kita sudah berusaha melakukan sejujur dan sebutlah sehalal mungkin. saya rasa itu lebih membanggakan ketimbang berbuat curang. ada juga kasus lain. kita punya temen yang malesnya ampun-ampunan, tapi pas ulangan pinternya bukan main, lantaran IQ-nya tinggi. sedangkan kita (lagi-lagi) belajar mati-matian, tapi hanya dapat sekian.
dari contoh-contoh tersebut bukan berarti kita harus memilih jalan pintas atau menunggu bakat. Kita harus tetap berusaha. Dan usaha pun harus disertai doa. Insya Allah apa yang diinginkan akan terkabul
sepakat dengan chiw, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda
@ Rizma
Sejujurnya itu bukan hal yang aneh lho Ma.
-saya merasakan hal yang sama untuk beberapa hal-
@ chiw

Bagus… bagus… chiw. Itu ada benarnya juga.
Btw, ini ada hubungannya dengan sukses `dilamar` itu tidak ya?
*dilempar chiw*
@ danalingga
Eh… iya ya
Boleh juga tuh walaupun sebab saya nulis entry ini enggak ada hubungannya dengan itu. Lha saya ga nonton juga.
@ rifu
Corrected! Makasih Rifu
Ah. Jalan sukses itu tidak sesempit itu kayanya. Tega bener bilang kaya gitu.

Ahem, tapi bisa jadi juga jika, salah satu definisi `sukses` Rifu itu adalah …
*lari sebelum Rifu ngamuk*
Anyway, berjuang ya Rifu. Ditunggu apdet `perkembangannya`
@ Suandana
Ah. malah sebaliknya lho ^^
Lagi `baik-baikin` diri meskipun dia gagal ataupun sukses
He eh. Tetap.
Iya, pakaikan TM aja Mas
@ deKing
Hmm. Iya, bisa juga dilihat dari sudut pandang itu ya. Saya juga liatnya terserah bagaimana proses dan hasil yang sudah kita usahakan, harusnya kita cukup bisa menghargai diri sendiri saat hasilnya tidak sebaik orang lain. Dan juga menghargai kesuksesan orang lain seandainya pun usaha dia (mungkin di mata kita) tidak sekeras usaha kita.
Serta, tidak tergiring pada rasa berlebihan saat dengan usaha sedikit, pencapaian kita bisa fantastis. Kualitas usaha orang lain jangan-jangan lebih nyata daripada sekedar patokan hasil yang kita dapatkan. kurang lebih kaya gitu.
He eh Mas. Lagian itu terlalu `jahat` deh kayanya
@ btyop
Setuju Tyo. Dan parahnya kalau ada yang sampai`memenjarakan` diri dengan anggapan orang lain itu.
@ oRiDo
Iya Mas. Juga kesiapan mental saat lihat hasilnya kan ya.
Makasih linknya, Sukses juga buat Orido
@ NAYZ
Heh?!
Lho? Iya, itu apa itu?
@ kump45
Ah, saya gak kaget lho Mas. Definisi sukses tiap orang kan beda-beda
@ cK
Doumo cK.
Setuju.
*geleng-geleng takjub*
cK ternyata bisa bijak juga?
*kabur sejauh-jauhnya*
–
Hmm… cK keren deh ^^;
Ah, saya rasa dak perlu sampai segitunya… Karena yang sering nulis SEMANGAT itu kan bukan hanya saya *sok bijak ON*
Eh, kok sepertinya ada gosip soal orang yang komen di atas saya itu. Benarkah?
Kesuksesan ..tergantung sama hasil dan kepuasan kita tentunya..tapi saya sieh gak pernah puas sama yang udah dihasilkan ¬ ¬..hahah tipikal manusia banget ya saya ^^;
Hmmm,, kok kalo Ma baca baca lagi intinya beda sama yang Ma tangkep pertama ya?? tapi jadinya nyambung sama komen Ma (yang Ma kira bakal agak ga nyambung,,)
pertama kali Ma kira ini maksdunya kaya ‘rumput tetangga lebih hijau’ gitu lho,, jadi yang A iri sama yang B karena cuma ngambil dikit dan menang, dan yang B iri gara gara yang A ga perlu terlalu teliti dan ngambil semuanya aja buat dikumpul,,
kayanya Ma ga kebaca bagian yang B-nya menang deh ya,, masalahnya kalo yang B yang menang dia ga perlu iri kan,,? eh tapi sebenernya bisa tetep iri lho, iri sama usaha kerasnya A,, dan iri kenapa dia ga bisa se-rajin itu,,
Hahahaha,, ini sih Ma banget!
dududududu,,
*siyul siyul karena udah nyambung*
Hmm… soal usaha dan keberuntungan emang ga bisa dipisahkan. Apalagi dalam urusan pekerjaan.
Kalo menurutku sih, seharusnya kita hadapi saja semua itu dengan pikiran terbuka dan optimis. Karena orang yang seperti itu lebih sering berhasil.
*Meskipun saya ga termasuk di dalamnya*
gmn udah sukses belom??
Kalo saya, lebih ke proses daripada hasil. Apakah kita bisa ngaku sukses kalo misalnya hasilnya didapat dengan curang?
ya sayangnya tidak semua orang ataupun juri sekalipun bisa menilai dan menghargai usaha dan proses pencapaiannya, mereka cuma melihat result dari proses itu saja
@ suandana
Hahaha… Tanya orangnya deh Mas
@ chielicious
Walah, bukan mbak aja lho. Saya aja masih gitu kadang-kadang
Lagian katanya memang udah pada dasarnya manusia itu tidak puasan… *mencari alibi*
@ Rizma
Kali ada hubungannya dengan koreksi yang dibilang Rifu?
Hehehe… iya sih ya. Kalau ini udah gini beneran rumput tetangga akan selalu lebih hijau
Hohoho…
*gitu aja deh*
*ditimpuk Ma*
Walaah…
@ p4ndu_Falen45
Betull… betull…
Lhaa… mungkin bakalan masuk deh nanti, Pandu
@ kump45
Sedang `milih batunya` Mas…
@ itikkecil
Salam Kenal Mbak
Ah iya, kalau kasusnya begini, quote itu bisa berlaku ya Mbak
@ peyek
Mungkin karena memang keterbatasan mereka ya Pak. Asal kita ga sampai terjebak dengan hasil penilaian itu aja kan ya, entah itu kita gagal atau sukses di mata mereka…
bisa jadi
seluas lapangan bolaluas nih kalo dilihat dari beberapa sudut pandang yang berbeda-beda..misalnya :
pengemis 1 : “wah gw sdh sukses nih, sudah 1000 donatur yg gw kumpulkan dalam sehari ini”
pengemis 2 : “saya jg sdh sukses, tuh rumah baru saya”
pengemis 3 : “saya sukses deh..anak saya skrg jadi artis”
betul ga?
sukses itu kalo menurut saya, kita bisa bersyukur dengan hasil yang diperoleh, trus hasil itu juga bermanfaat bukan hanya untuk kita *alahsoktau*
@ kump45
Walaah… katanya sudut pandang yang luas masa contohnya pengemis semua?
Ah, kalau kasus saya `milih batu` sekarang ini `kebetulan` bukannya hal seputar itu Mas, `juri` nya lumayan jelas ada dan kadar `suksesnya` di tangan mereka. gitu deh ^^;
@ andalas
Yaiyy… orang bijak bertambah satu lagi
Kok malah kebayang Timnas Indonesia di Asiap Cup…
*Asian
*kabur*
Avatarnya… avatarnya berubah wujud lagi?? ckckck…
–
Ingat Timnas di Asian Cup? Hahaha…kaya Mas Danalingga bilang juga ya.
Anyway, itu cukup membanggakan lho Shan In.
Maju terus Indonesia \^0^/
*koufun shite iru suddenly*
Timnas? yang biarpun ga menang udah cukup membanggakan,, iya juga tuh,,
Padahal biasanya kan kalo ga menang ga dipuji puji, tapi kalo liat perlawanannya sih,, ga bisa lagi bilang apa apa,,
bener bener deh, yang mempersatukan Indonesia itu emang Bola,, ckckck,,
eh nambah dong,,
Kalo di Ma sih sukses itu achievement-nya ga cuma yang kasat mata kan,, Ma ngerasa udah lumayan sukses karena Ma udah jadi lebih pede, bahagia, sayang sama Ma sendiri, mulai bisa bilang ngga, dan bisa punya pendapat sendiri,,
Menurut orang lain sih itu ga penting,, menurut Ma,, susah banget bisa sampe di stage ini skarang,,
walah,,
*baru sadar terlalu banyak
muluttangan*Ma ini, udah nulis aja masih cerewet,,
terkadang saya juga merasa dunia ini gak fair
ada orang yang dapet sesuatu dan menurut pengelihatan saya usahanya itu gak sebanding dengan apa yang didapatkan
apakah faktor luck juga berperan………??
hehe.. maksudnya orang yg hampir sama aja sudut pandang dah berbeda…
btw, sukses itu kaya gmn seh??
*pura² ga ngerti
Hidup itu kejam kawan.
@ Fajar
biarin!! itu kan keberuntungan masing masing,, berkah tuhan tuh,, *apa sih Ma,,*
(rada berasa nih Ma,,)
@Ma
hihihihi saya kan tidak bermaksud
saya cuma pengen nge share perasaan saya aja,
@danalingga
*sedang berusaha melihat hidup ini dengan lebih indah*
*lagi-lagi meratap*
hmm..kayanya banyak orang yang bilang hidup itu kejam
padahal manusia sendiri kan yang membuat hidup ini jadi kelihatan ‘kejam’
bingung kalo semua orang bilang hidup ini kejam…trus sebenarnya yang meng-kejam-i kita siapa?
Menurut saya, kedua contoh di atas membandingkan antara usaha dan hasil yang didapat berdasarkan “yang nampak” ketika proses tersebut berlangsung hingga selesai.
Dalam hal contoh pertama, nampaknya usaha B tidak seberat usaha A dilihat dari banyaknya batu yg dikumpulkan. Namun siapa tahu untuk mendapatkan 2 batu tersebut si B menyusuri pantai lebih lama dan lebih teliti dibanding si A. Ini artinya bisa jadi kualitas usaha B lebih bagus dari A yang hanya mengandalkan banyaknya batu dengan harapan salah satunya adalah batu terkecil dan teringan.
Di balik itu, boleh jadi si B sudah berusaha lebih keras dibanding si A sebelum hari H, misalnya semalaman belajar menemukan tips dan menyusun rencana matang menghadapi hari H, sementara si A belajar tidak seefektif si B. (maaf, saya mencoba membandingkan keduanya di luar episode)
Terlepas dari penilaian juri, usaha keduanya patut mendapatkan penghargaan.
Mbak jepe,
Sejujurnya, saya belum bisa menangkap yang tersirat di balik postingan ini. Belum nyampe soalnya, …
Moga sukses ya
@ Chika,
ini chika aseli ya … *sambil menundukkan kepala mendengar fatwa ibu ustadzah chika*
iya saya baru sadar. *nunggu konfirmasi dari chika*
toh pada akhirnya kegagalan itu yang mengajarkan kita lebih banyak ketimbang kesuksesan…

kadang harga air mata bisa lebih mahal daripada suatu senyum bahagia…
@@ om fajar : luck?
bukan luck kali om…tapi turut campur tangan Tuhan…
eniwey, gmn interviewnya hiruta?
@hime
tetep aja namanya luck !!
interview apa nih hiruta ?
*sniff sniff*
*kesummon karena namanya disebut*
ada afa ini? ada afa? ada afa??
@ Rizma
Ahihihi… mungkin bisa begitu ya.
*tepuk tangan*
Anyway, itu keren Ma!
@ Fajar
Lucky itu anggap aja bonus Fajar. masalah fair enggaknya, arghh… itu salah satu ciri khas dunia, mungkin?
@ kump45
Walaah…
berarti definisinya sudah ada kan?
danalingga
Dan mati itu…?
@ lily
Ah, tenang aja Mbak, Mas Dana pakai icon kan di ujungnya.
@ cakmoki
Nice!
Waaa.. itu udah lumayan nyambung lho Cak,
Terima kasih… *senangnya*
@ hime hime
Waww… bahasanya…
Keren!
Ahem, interview-nya ya? Hmm… baik… baik…
@ Fajar
Interview dari pihak Administrasi kampus…
Bukan panggilan kerja.
@ cK
Lewat sini cK jalannya. *nunjuk Cakmoki dan danalingga*
Sukses itu jika kita punya tujuan dan kita sampai pada tujuan.
Gitu aja kok repot.
ahem, makanya Mas saya bilang definisi sukses orang itu beda-beda…
gak repot mas !
yah setuju ama hiruta, mari hargai perbedaan
rasanya basbang juga kalo hidup monoton
Ada banyak tipe orang sukses…
Sukses karena ketenangannya… (contoh : John Terry)
Sukses karena kerja kerasnya…. (contoh : Gattuso)
Sukses karena penampilannya…. (contoh : Beckham)
Sukses karena tim-nya……………..(contoh : J.D.Thomasson)
Sukses karena pelatihnya…………(contoh : Christiano Ronaldo)
Semua memiliki cara masing2 untuk sukses. Maka janganlah kita terlalu terfokus pada teori orang2 sukses (TDW, dsb.) karena pada dasarnya kita semua berbeda. Contoh saja semangat mereka dan ciptakan teori sukses yang baru…
@ Fajar
Yap. yap. ahihihihi…
makasih atas kesetujuannya Fajar (halaah)
@ purmana
Waww… *tepuk tangan*
keren! Setuju Mas, jangan sampai terpaku pada salah satu definisi saja. Benar ituh!
Ah, salam kenal
SAYA SETUJU DENGAN ANDA…..
SUKSES SELALU untuK ANDA……….