Ya, ya, post ini kembali tentang hal pribadi Hiruta. Mungkin nanti-nanti kita akan bahas lagi perkara-perkara di luar Hiruta sana.
Iya na shumatsu. (Iya na = tidak menyenangkan/tidak diinginkan, shumatsu = weekend). Begitulah. Itu perasaan saya sejak semalam hingga petang hari ini, Minggu pukul 3 tadi.
Weekend kali ini tidak seperti yang diharapkan. Bermasalah. -__-`
Ya, mulai dari kemarin hingga hari ini. Penyebabnya benda kecil saja tapi begitu penting. Dompet. Jum`at malam kemarin, saya meninggalkannya di tas jinjing yang berisi perlengkapan shalat dan beberapa benda kecil lainnya. Seperti biasa tas itu memang sengaja saya tinggalkan di lab dan berdiamlah dompet itu disana hingga saya menyadarinya petang kemarin.
Kemarin ada festival musim panas dekat stasiun, saya dan beberapa teman Japanese janjian untuk nonton festival itu, dan kami akan bertemu di stasiun dalam pukul 7 malam. Jadi saya harus ke lab dan mengambil dompet saya terlebih dahulu. Setengah jam lagi kereta api tiba saya masih di depan pintu lab yang terkunci. Biasanya Lab memang terkunci di hari biasa setelah pukul 7 malam dan sepanjang hari di hari Sabtu dan Minggu. Card yang biasa digunakan untuk masuk tentu saja ada di dompet di dalam sana. Berharap nasib baik ada anak lab atau sensei yang tiba-tiba datang karena biasanya ada sensei atau senior yang suka bekerja di lab meskipun hari libur, sehingga saya memutuskan menunggu beberapa lama. Malangnya, tidak seorang pun yang datang hari itu. Jam menunjukkan hampir pukul 6.40 dan kereta api sudah tiba. Yah… nasib. Sebenarnya sempat terpikir untuk sms teman satu lab, tapi waktunya sudah sempit dan tentu saja akan begitu merepotkan memintanya datang dan membawakan enter-card miliknya. Sudahlah. jadi rencana hari itu gagal gara-gara tidak punya dompet.
Begitu sampai di rumah, ngecek mailbox, ada tagihan HP dan rekening listrik. Saya merencanakan membayarnya di convenient-store hari ini, tapi mesti ke ATM dulu, gak ada uang sekarang. Tapi kartu ATM-nya? Di dalam dompet tentu saja. Ya Tuhanku… T_T. Batas akhirnya memang bukan hari ini tapi saya sudah merencanakannya untuk membayarkannya hari ini. Ini mengesalkan. Di luar rencana. Heuu…
Hari ini, Minggu. Seperti biasa kalau tidak ada rencana khusus keluar di pagi hari, kegiatannya adalah beres-beres kamar dan laundry. Saat sudah siap dengan cucian ke mesin cuci, baru sadar kalau saya tidak punya koin. Lagi-lagi, dompet. Tetangga kamar sudah keluar sejak tadi, kalau enggak, saya tentu bisa pinjam koin 100 yen darinya. -__-`.
Sebenarnya sejak pagi saya sudah sms teman satu lab, mau pinjam card-nya petang nanti. Sayangnya dia tidak memberi jawaban hingga pukul 3. Padahal saya sudah berada di puncak kekesalan. Beberapa kali saya sempat tergerak bawa cucian ke mesin cuci (Aneh, lupa ga punya koin bisa berulang-ulang gitu
) dan gara-gara itu, jadi teringat lagi kekesalan pada dompet yang ketinggalan. Kekesalan gara-gara dompet masih berlanjut saat pukul satu siang saya sempat bersemangat, ada rencana keluar sendiri dalam pukul tiga, jalan-jalan ke toko buku dan kepingin makan donat. Hingga beberapa menit kemudian jadi buyar, dompet tidak ada di tangan. Mengesalkan. Sempat melirik HP dengan pesimis, jangan-jangan teman saya lagi di luar Fukui, ini hari Minggu, nak. Huwaaa… Masa harus sampai Senin besok saya hidup tanpa dompet? T_T
Pukul tiga lewat. Satu mail masuk ke HP.
“Ade katmane? Saya ke kaikan sekarang. Tunggu di depan pintu pagar ye?”. Heee… dia mau antarkan card-nya?? Alhamdulillah. Baiknya. Eh iya, teman saya ini memang anak Malaysia.
”Ok, thanks”. Sent. Ahahahaha… yokatta. Saya langsung turun dan ke gate belakang asrama. Agak lama juga saya berdiri di sana. Ah, gak papa, gak papa, tumben saya gak sampai bosan menunggu.
. Lalu dia sampai. Dari balik pintu mobil saya cengengesan (ini kedua kalinya saya pinjam card dia,
), kartu segera berpindah tangan. Balikinnya besok aja, katanya. Saya mengangguk.Whuaaa.. leganya, saya sampai lupa tanya kenapa sms-nya telat. Ahihihi… sudahlah, yang penting sekarang card sudah ada di tangan, ke lab, ambil dompet dan silakan tunaikan semua yang gagal dari kemarin hingga hari ini.
Huff… padahal cuma gara-gara dompet ya. Cuma? Cuma benda kecil, memang, tapi penting. Begitu tidak di tangan, kerepotannya terasa sekali. Padahal masih ketinggalan, kalau sampai kehilangan? Ugh, pelupanya parahan sih. Makanya lain kali harus hati-hati ini.
Jadi, rencana awal pukul tiga kayanya bakal terealisasi, meskipun diundurkan tiga jam.
Tak apa lah. Jadi juga hari ini menghabiskan akhir Minggu sendiri, sambil jalan kaki ke stasiun kereta api karena sepeda dipinjam teman. (Ceritanya, gara-gara gak ada dompet tadi dan sms yang belum dijawab teman, saya menolak ajakan teman keluar. Rupanya ada yang tidak punya sepeda. Yakin saya gak bakal keluar, jadi dipinjamkan saja. Haa… masih gara-gara dompet rupanya?
)
Aha…keluar dari toko buku, menyusuri jalan dekat stasiun yang pasti ramai, ( bakal pemandangan yang paling mungkin ditemui adalah pasangan kencan yang menghabiskan weekend sama-sama.
), makan di luar? Restoran dan warung makan biasanya penuh pada jam makan malam di akhir pekan begini, agak malas kayanya. Jadi singgah ke Mister-Donut aja dan duduk sebentar disana. Yaiyy…menyenangkan sepertinya (semoga saja).
Ahihihi….kisah tragis dompet saya akhirnya bisa happy-ending juga.(halaah)
–
Anyway, semoga akhir Minggu anda juga menyenangkan ya.



wah wah hiruta
dapat minggu yang tidak enak
tapi sukur deh dompetnya kan balik lagi
He eh, dah balik lagi benda `itu`
Hari Minggu-nya jadi lumayan deh akhirnya
ahahahahahaha,, makanya,, bayar tagihan jangan nunggu hari terakhir,, jangan suka lupa naro barang,,
*Padahal Ma juga kaya gitu, malah lebih parah!*
Haiyaaah, jumpa sodara…
*jabat tangan*
Wah dompetpun dah jadi kitab suci toh…. kekekeke…..
*kaboooooooor ke langit ke 7*
eh malah lebih penting dari kitab suci keknya tuh.
*ngakak dari langit ke 7*
wah keknya saat tepat untuk hatrik nih.
*siyul siyul di langit ke 7*
*timpuk yang hetrik*
Heh?! kitabh suchi yang mana Mas?
Bleh, jadi segampang itu mondar-mandir dari langit ke 7. Langit-langit, ngkali?
duh, anak ini…
dompet kok bisa ketinggalan, absurd sekali ceritamu, nak
coba ya, kalau sampai dompetnya hilang, berarti kan nggak bisa laundry, gak bisa bayar listrik, gak bisa bayar tagihan hp, terus gak bisa makan…
…lha, kalau nggak makan kan bisa mati? fatal sekali, lho
~penalaranAbsurd
~
*baca komen yud1*
…
Hmm… `Dompet dan kematian` ?
*catat judul post baru*
Puwass?
*Timpuk tukang nalar-absurd*
catat.. mba ini sering melupakan barangnya di Lab
*konsulidasi dengan kepala sekolah buat jaga-jaga sapa tau tiketnya ketinggalan juga*
Haaa? kok `sering` ? Baru sekali ini kok Mas.
Jangan digeneralisir lho…
Tiket ketinggalan di lab?

Hush, jangan didoain dong…
(halaah)
me too……
Sukurlah, saya gak sampai segitu pelupanya… Baru 2 kali kelupaan gak bawa kunci studio (padahal dah disiapin di atas meja) padahal ada jadual rekaman materi, dua kali ninggalin kunci studio di dalam studio (kasusnya mirip ya?), dan sekali lupa nggak ngunci kamar kos padahal ditinggal sampai sekian jam dan di dalam kamar ada berbagai barang penting (laptop, printer, buku-buku, baju-baju, sepatu, kasur, satu set piring, mangkok, mug, sendok garpu, lemari, dan sprei). Nggak pelupa kan?
@ itikkecil
Benarkah Mbak?
Paling tidak saya tidak ciut, bukan cuma saya yang pelupa.
@ suandana
Ah, cuma gitu aja pelupanya ya? Syukurlah.
Hohoho… ada yang lebih parah dari saya…
Huhu, jadi inget. Saya pernah ninggalin kunci kamar di kampung eh, kota Jambi tercinta *halah!*
Dan..dengan terpaksa minta bantuan iparnya ibu kos membobol pintu kamar. Jadilah semalaman tidur dengan pintu tak berkunci, hohoh!
Tapi bisa jadi pengalaman kan, setelahnya jadi inget sama kunci. Atau, dlm kasus *hasyah!* mbak JePe, lebih baik ngantongin dompet
Barusan saja saya ketinggalan kunci kos di kantor. Terpaksa deh saya balik lagi. *keknya saya juga termasuk pelupa nih*
@ Takodok
Wuaah… lupa memang milik siapa saja.
Iya ya, terapi buat orang pelupa mungkin harus sering-sering diingatkan dulu, nanti jadi `aware` sendiri, mungkin?
Ahihihihi… jadi lucu juga ya kalau sampai lupa begitu, tapi kayanya sesekali memang bakal ada deh kejadian kaya gitu.
*pergi sambil timpuk Desti yang narsis*
@ danalingga
Kaan? Kaan?
Ada saudara lagi nih… *tertawa jumawa*