Dulu saya pernah nemu dan baca komen lucu tapi begitu mengena. Lupa dimananya. Intinya komen itu diberikan saat menanggapi kondisi carut marut di hampir berbagai lini kehidupan bangsa Indonesia ini. Mulai dari korupsi, kerukunan hidup antar umat beragama, ketidakstabilan perekonomian, stabilitas politik yang tidak menentu, supremasi hukum yang entah bagaimana cara menjelaskannya, kejujuran individual yang punya imbas pada kejujuran kolektif yang masih jadi barang mahal, kualitas pendidikan yang ngos-ngosan dibandingkan dengan negara tetangga (Indonesia di peringkat ke 117 dari 175 negara di dunia, Malaysia di peringkat ke 58, lihat disini lebih jelasnya ). Intinya, masih banyak hal yang tidak beres di negeri ini. Negeri yang kaya, negeri yang pernah disebut oleh seorang analis Jepang (walau dengan setengah bercanda), negeri yang diberkahi dengan kekayaan alam yang bikin iri bangsa lain, yang bisa digunakan untuk hidup warganya hingga tujuh turunan sambil ongkang-ongkang kaki. Ya, kasian ya kita. (Butuh pengertian dan pemakluman yang luar biasa untuk keanehan ini, entahlah).
Ah, iya, komennya itu begini “Indonesia mungkin perlu ditabrak meteor dulu, sudah hancur semua, lalu sulap lagi, lalu mulai lagi dari awal”. Begitu sih lebih kurang. Kalau ada yang tahu komen itu bilang ya.
Sekilas terlihat ada rasa pesimis disana, di komen itu. Rasanya memang sudah tidak ada harapan untuk merubah kondisi ini selain menunggu keajaiban saking begitu kompleksitasnya masalah yang ada. Kasian sih, tapi tidak bisa disalahkan, lha sudah dari hari ke hari tahun ke tahun, begitu banyak harapan-harapan yang ada lalu hancur lagi, begitu seterusnya siklusnya. Kalau kemudian orang-orang jadi resisten dan pesimis (atau sok skeptis), tidak bisa disalahkan juga. Realita yang terjadi terus menerus mengajarkan mereka bahwa kegagalan sering jadi ending tiap harapan yang dibangun awalnya.
Ada seorang teman lagi yang menulis di blognya, dia mengutip dari blognya temennya lagi yang bikin analisis asal-asalan. Sayangnya saya lupa linknya. Jadi, menurutnya, ada tiga tipe bangsa di dunia. Tipe pertama, bangsa yang banyak bicara dan banyak berbuat, ini tipe-tipenya bangsa Amerika, Inggris, Australia. Lalu tipe yang sedikit bicara tapi banyak berbuat, masuk didalamnya, Bangsa Cina, Jepang, Korea. Lalu tipe ketiga, yang lain bicara lain pula saat berbuatnya, katanya itu Indonesia. T_T
Ahahahaa… entahlah, pas bacanya saya mau marah sih, manusia baik-baik yang memegang idealisme dan prinsip kebenaran itu masih banyak yang hidup di Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi, stigma itu ada dan cukup beralasan. Ah, iya, itu bukan generalisasi menurut saya. Itu stigma, logika pengenalan kolektif yang digunakan untuk melakukan pendekatan.
Jadi, stigma-stigma itu tidak bisa disalahkan. Pendekatan secara kolektif lalu disimpulkan. Stigma sedikit berbeda dengan generalisir, karena itu terkait bagaimana seseorang menyimpulkan kesannya tentang sesuatu, sedangkan generalisir seringkali lebih cenderung pada justifikasi. Contoh stigma yang juga sering kita temui, Paris identik dengan citra romantis dan kiblat mode, juga manusia-manusianya (benar atau tidak stigma tersebut, yang jelas mereka punya alasan untuk itu), atau Indonesia yang terkenal sebagai salah satu bangsa korup (
), bangsa Eropa distigma sebagai bangsa penjajah di masa lalu, bangsa yahudi sebagai kaum cerdas, bangsa Amerika sebagai bangsa super power, bangsa Arab sebagai bangsa keras dan suka bertikai (sejarah nih) dan mungkin masih banyak stigma-stigma yang lain. Jadi terlihat jelas bukan antara generalisasi dengan stigmatisasi ini?
Ah, balik lagi ke inti pembicaraan, tentang bangsa Indonesia ini (haiyaah). Kalau mau sok-asal mikir-mikir solusi masalah agaknya tidak terlalu susah. (toh bicara saja apa beratnya sih?
) *kerasukan nasionalisme sesaat*
Maka, kalau ditarik-tarik lagi, ditilik-tilik lagi kesana kemari, diantara sekian banyak list carut marut kondisi di negeri ini, sebenarnya ada dua masalah utama, kebodohan dan kemiskinan.
Contoh kecil, jika anda suatu hari bertugas sebagai staf dinas penyuluhan, yang memberikan penyuluhan dan pengarahan akan pentingnya pendidikan dan sosialisasi kebijakan dan peraturan baru di suatu kampung terpencil dan jauh dari sentuhan modern. Bicara peraturan pada orang yang lapar dan pada orang yang bodoh sama seperti cari gara-gara bukan? Jadi apa? Simpel saja. Kalau mau didengarkan, kenyangkan dulu mereka. Pintarkan dulu mereka. Kalau belum melakukan tahap itu, jangan sok percaya diri berkoar-koar tentang bagaimana pendidikan menyumbang peran bagi kemajuan pembangunan. Tentang bagaimana pentingnya mentaati peraturan-peraturan yang ada yang sebenarnya justru membantu mempermudah urusan-urusan kita. Tidak bisa begitu. Anda bisa-bisa menciptakan musuh baru jika menutup mata pada fenomena mereka yang lapar dan mereka yang tidak paham niat baik anda.
Jadi apa?
Lihat dulu, mereka lapar kan? Urus itu dulu. Lalu apa? Charge their mind. Itu kalau mau benar-benar serius mencari solusi permasalahan sih. Mempelajari permasalahan itu sendiri lalu memikirkan hal-hal solutif yang mungkin diterapkan. Maka, selama mereka masih kelaparan (miskin) dan juga bodoh (ketertinggalan informasi) usaha perbaikan akan sia-sia, atau minimal akan berhasil dalam waktu yang laaamaaa.. Lah, mereka tidak mengerti apa pentingnya mematuhi peraturan jika mereka tetap lapar dan tidak bisa mencari uang. Mereka lebih ingin anaknya tidak mati daripada sekolah. Siapa yang salah. Apa Indonesia-nya yang salah? Entahlah, jangan tanya saya. Kalau saya mau ngasal lagi, saya akan main tunjuk lagi, itu pemerintah yang salah. *dipenggal*
Pemerintah itu kan komposisi dari pemimpin dan orang-orang di sekelilingnya. Maka. pemimpin itu mesti dibantu orang-orang yang jujur juga. Pemimpin yang baik enggak cukup, orang di sekitarnya juga harus orang-orang yang otaknya tidak kotor, jadi jujur pas bikin laporan berapa orang miskin, berapa orang lapar, berapa sekolah yang gaji guru honornya tidak terbayarkan, berapa rumah sakit yang pelayanan ternyata masih bermasalah. Dan sebagainya dan sebagainya. Mudah kan? Jadi, jika mereka bermasalah, tinggal salahkan saja pemerintah. Gampang.
Lalu, apa masalahnya selesai setelah main tunjuk begitu? Well, sampai hari ini, sikap `tidak keren` dan pengecut begitu belum pernah tercatat berhasil sih. Perlu usaha konkrit yang realistis dan juga kerja sama semua pihak. Ada mereka yang bekerja dan kita ikut jadi kontrol sosialnya. Kita ingatkan terus kinerja mereka yang `kebetulan` diamanahkan buat ngurusin itu. Jangan bosan-bosan `mengingatkan` mereka. Kalau nanti ada yang bilang, kalian ini bisanya kritik saja, kalau kalian di posisi itu toh kalian akan mungkin melakukan hal yang sama dan sebagainya, sebagainya, santai saja, toh mereka yang ngomong begitu juga gak berbuat apa-apa kan? Biar sajalah. Mending kita dong, paling gak udah menunjukkan kepedulian dan ngeritik ngomong.
Jadi intinya itu deh. (menurut saya sih
). Sejahterakan dulu manusia-manusianya lalu beri pendidikan layak. Dua hal itu saja? Ahahaha… Tentu saja tidak. Waaks, tiba-tiba ingat lagi, MORAL! Yah… gimana nih? Salah satu persoalan berat lainnya itu, ya itu, dekadensi moral. Contoh sepele lagi, dimana coba moral orang yang beginian ; bantuan untuk pengentasan kemiskinan masih aja bisa dimanipulasi ? Atau juga bagaimana dana pendidikan yang 25 % dari Anggaran Belanja Negara agar tidak dikorupsi, masih diragukan. Bleh. (spicles)… Hanya mereka yang tahu dan (tentu saja Tuhan yang Maha Tahu itu). Oh Mine.
–
Seandainya ada nenek-nenek dengan usia 62 tahun dengan kekayaan yang melimpah ruah, harusnya anak-anak, cucu, cicit dan keturunan sang nenek ini tidak perlu hidup susah kan? Tapi entahlah, kehidupan keluarga nenek ini terus saja bermasalah dari tahun ke tahun, kasihan sih anak-anaknya, tapi mau bagaimana lagi, sebagian dari mereka seperti pasrah pada keadaan dan memilih menjalani keadaan yang ada. Bisa jadi ini juga penyebab bahwa kehidupan keluarga mereka begitu-begitu saja ya? Entahlah. Tetangga-tetangga mereka saja bingung, masa sih dengan kekayaan yang begitu menggiurkan, anak-anak, cucu, cicit dan keturunannya masih ada yang hidup susah begitu. Aneh ini.
Lhaa, Indonesia sih sama umurnya dengan nenek itu, tanggal Tujuh Belas nanti. Tapi nasibnya jangan disama-samain gitu dong. Mau bagaimana lagi, habisnya mirip.
. Kalau mau pasrah terus sama keadaan dan memilih menutup mata pada kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita, ya sudah, sama kan dengan kehidupan keluarga si nenek itu, sudah tua tapi begini-begini aja sampai kapanpun. Masa sih ada keajaiban jatuh dari langit? Ada-ada aja.
–
Hayo main tebak-tebakan, di ulang tahun ke berapa nanti, Indonesia sudah bebas dari korupsi, pendidikannya tidak mahal lagi, orang miskin bener-bener berkurang saat disensus, bukan hanya di laporan tapi juga di lapangan. Any idea?
–
Semoga bangsa ini menjadi lebih baik ke depannya. Aaamin.
(Renungan menjelang Agustusan, dirgahayu kemerdekaan RI ke 62)



ciri khas mbak jepe, walau kepingin marah, masih lemah lembut jua
ehm … setuju sekali mbak, memulai dari yang paling kecil lebih baik ketimbang berdiam diri dan berkeluh kesah.
Kapan Indonesia bebas korupsi?
Jawab: tahun depan !!! … ga tau depan yang mana *asli bercanda*
refleksi HUT RI nya asyik lho, salut.
Merdeka !!!
Ahihihihi… saya keliatannya pengen marah ya Cak?
Tahun depan? Bebas Korupsi? SIAP!!
Saya gak yakin juga sih, tapi saya turut mengaminkan. Benerr!
Terima kasih Cak, saya jadi gak enak. *bletaak*
Yak. M.E.R.D.E.K.A !! hohoho…
*angkat bambu runcing*
ahahahahahahahaahaha,,
kok Ma mikir bebas korupsi itu susah banget ya?
udah rada mati rasa sih,,
*itu ga boleh, Ma*
Laah, siapa coba yang mikir kalau buat bebas korupsi itu ga susah banget, Ma? Gak ada kayanya.
Yak. Ga boleh gitu Ma. Ga boleh.
Mbak apa ya maksudnya “bukan hanya di laporan”
( pura-pura gak tahu ah)
he he he khas Mbak Hiruta tulisannya adem
Merdeka dan Damai
Merdeka dan Korupsi
eh maksudnya Merdeka dari Korupsi
Agustus ingat belom merdeka
Tanggal muda ingat belom gajian
Tanggal tua ingat korupsi belum diberantas
Tahun depan mengulang lagi dari atas…
trus……
*dirikan negara sendiri aja ya*
solusi? susah… mungkin. tapi saya mikir gampangnya saja, sih.
saya tidak suka mengharapkan orang lain akan berhenti korupsi, pungli akan hilang, dan sebagainya. (bisa) bikin sakit hati, dan tidak banyak yang bisa saya lakukan soal itu.
tapi kalau saya bisa bisa mengisi kemerdekaan dengan hal yang baik (bekerja. membangun bangsa secara tidak langsung. sekalian cari uang
), menurut saya itu cukup.
karena saya yakin, masih cukup banyak orang-orang seperti saya. sedikit-sedikit, saya cukup optimis bahwa Indonesia masih berkembang ke arah yang lebih baik… yah, walaupun mungkin relatif lambat, sih.
…yah, lebih baik melakukan sedikit hal yang baik daripada hanya memikirkan dan menyumpahi hal yang jelek, kan?
@ secondprince
Pura-pura itu… hmm pokoknya gitu deh.
Terima kasih…
@ almascatie
Haiyaah… jadi kaya begitu…
@ yud1
Keren! (komennya loh ya!) *bletaak*
Saya juga yakin kok masih banyak orang-orang baik dan jujur dan berusaha membangun lebih baik…
Errr…
kok hanya? Kalau dibaca lagi nampak lho gimana maksud saya nulis ini. Saya sih mikirnya walaupun kita punya peran pribadi sendiri-sendiri baiknya kita punya kepedulian, gitu sih kira-kira. Kesannya jadi kaya menyumpahi ya?
Ahihihi… beda interpretasi kali,
anyway, saya setuju, tiap orang harus `berbuat` walau dengan caranya masing-masing
no idea. korupsi, itu hal yang sulit dihilangkan. wong di dunia bisnis hal itu kentel banget. seperti nunggu kapan babi bisa terbang
*baca komen cK*
Bleh, saya juga no idea sih sebenernya. Tapi gak papa lah, berbuat semampu kita aja, masalah hasil liat nanti.
Akhirnya….. mulai dari kita sendiri…. soal kapan korupsinya akan habis, gak tau kapan. Budaya malu dan sanksi sosial memang harusnya ada di sini. kayak ceritamu itu soal menteri yang bunuh diri di sana. Kalau gak salah, saya pernah dengar cerita di daerah Sumatera Barat tapi gak tau dimananya. Kalau ada yang korupsi, pas yang bersangkutan ngadain hajatan ataupun pas lebaran, warga sekitar dan kerabatnya gak mau dateng. Kayaknya itu yang lebih manjur hukumannya. daripada di penjara, tapi di luaran dihormati orang karena duitnya banyak hasil
malingkorupsi.Bener banget Mbak. Mulai dari diri kita sendiri.
Iya. terkadang sanksi moral lebih terasa ya `sakitnya`.
[...] banyak blogger akan menuliskan tema yang sama. Dan pagi ini saja kulihat sudah ada yang nulis di sini, di sini dan di sini. Tapi dari hasil obrolan dengan Caplang di ym kemarin, aku terpikir untuk [...]
korupsi?
jadi inget salah satu buku yg saya baca di gramed,
Korupsi? Kesalahan atau kenikmatan?
:p
emang ada ya negara yg bebas korupsi ? …
*garuk-garuk kepala*
benar ya, masalah utamanya adalah kemiskinan dan kebodohan?
memangnya orang kaya dan pintar itu kemungkinan korupsinya lebih kecil?
ikut AA Gym aja, 3M (mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini)
*gatek mode ON*
buka halaman utama jepe kok ada ‘Warning:Unresponsive Script’
nan de kana?
*gatek mode OFF*
-eva-
)
(in case hiruta-san bertanya kembali
[...] 15th, 2007 by ummu hafiz Tertarik dengan tulisan hiruta-san, saya teringat dengan satu tulisan yang sangat menarik. Pesan yang ingin disampaikan: perlu [...]
Merdeka!!!!
Hajar semua rintangan yang menghadang, dan semoga kita memang telah menjadi manusia yang merdeka.
@ Ai
Korupsi itu kesalahan yang nikmat, gitu kali, Ai.
@ Joerig™
Katanya belum ada sih Teh.
Pernah baca, kalau indeks bebas korupsi itu `10,0`, baru Skotlandia yang indeks keberhasilannya 9,5.
Gakpapa kan, kalau Indonesia tiba-tiba jadi lebih hebat dari Scotland? langsung jadi 10? *mengigau*
–
Ah, maksudnya kebebasan korupsi di Indonesia tidak seperti sekarang sih, itu maksudnya, bisa berkurang sedikit demi sedikit, kalau hilang? Uwaah, gak tahu bilang senangnya.
@ ummu hafiz
Setuju Mbak dengan `3 Mulai` itu.
Udah bilang juga sih, gak hanya kebodohan dan kemiskinan. Tapi paling tidak, berbicara dengan orang yang cerdas yang sedang tidak lapar, (dan memegang nilai-nilai moral) sudah pasti jauuuuh lebih mudah dan lebih `berhasil`, menurut saya.
Heee? nani sore? wah, saya juga enggak tahu Mbak.
@ danalingga
Siap! Mari berbuat! (gaya tentara mau berangkat perang)
M.E.R.D.E.K.A !
merdekaaahhhhhh!!!!!
duh, telat sehari, sayah *ngusap jidat*
Nah ini dia yang membuat sulit…
Sepertinya memang saat ini kerusakan kita itu sudah melembaga…sudah membentuk suatu sistem baru, yaitu sistem yang rusak.
Jika kebobrokan bisa menyebar kenapa kebaikan sepertinya lumayan lebih sulit untuk menyebar ya?
Seperti karat pada logam…
Karat biasanya muncul secara perlahan tapi kenapa “terapi” penghilangan karat tidak bisa secara perlahan juga ya? Penghilangan karat secara perlahan dan per bagian ternyata sama saja membiarkan penyebaran karat di bagian yang lain.
Haruskah bagian yang berkarat itu dibuang secara bersama dan kemudian ditambal dengan logam baru?
Tetapi pembuangan karat secara sekaligus tsb membutuhkan usaha yang lebih…kita membutuhkan las untuk melemahkan logam itu
Pokoknya, SEMANGAT!!! Sori, telat… Habis bertualang (bo’ong, jangan dipercaya… cari alasan saja kok)
@ venus
Merdeka!!
Gak papa telat. Gak papa, Mbak.
@ deking
Hiihhh… memang sulit bener ya?!
jadi gimana dong?
Ah, pokoknya™ kita mengusahakan perbaikan sebisa kita aja. Pelan. Lama. Gak papa.
@ suandana
Un, tetep semangat. ^^
pengakuan bo`ong-nya diterima, Mas.
kapan ya bisa bebas dari korupsi???
nunggu aku jadi presiden kali ya kekeke…
ga mungkin ya hehehe
di jepang ada acara agustusan juga ga ya???
Yak. kapan mencalonkan diri Mas?
Ah, iya KBRI di Tokyo ada bikin acara apa gitu untuk tujuh belasan katanya. Saya gak ikut, kejauhan sih.