Perhatian : Tulisan ini agak sedikit panjang.
Kadang-kadang saya mikir, apa ya yang bisa membuat suatu kelompok punya kebaikan yang seragam yang hampir sama kadarnya di hampir semua elemen anggotanya? Langsung saja contohnya. Misalnya, keseragaman dalam menjaga loyalitas terhadap kelompok yang dengan nyata dicatat sejarah hingga hari ini, seperti harakiri. Demi menjaga rahasia dan kehormatan kelompoknya, seorang samurai rela melakukan bunuh diri. Sikap mempertahankan loyalitasnya seragam. Apa yang bisa membangun keseragaman sikap seperti ini? Doktrin kah? Untuk kasus samurai ini, boleh jadi. Untuk hal-hal yang lain, selain doktrin, berupa apa? Hmm. mungkin, lingkungan hidup yang membentuk mereka dan kemudian menjadikan mereka mengkonstruksi sikap itu dalam pikirannya, mennghujamkannya dalam-dalam lalu keluarlah sebagai sesuatu yang terlihat seragam sebagai sikap khas komunitas.
Pengaruh lingkungan sosial yang konstruktif ini agaknya yang terlihat cukup potensial terjadi. Karena hal ini terjadi secara alami dan `tidak disengaja`. Beda dengan doktrin tadi, ada kesengajaan membentuk sikap, kesengajaan untuk menerapkan itu dalam diri dan kesengajaan-kesengajaan yang lain yang memang sudah dirancang agar berujung pada satu keseragaman. Done. itu doktrinisasi.
—
Kita lihat contoh nyata yang sepele penerapan kebaikan atau keteraturan yang seragam yang terjadi secara `alami`, kebiasaan buang sampah pada tempatnya. Coba lihat, seberapa banyak masyarakat kita yang merasakan kecanggungan saat mencampakkan bungkus permen, botol air mineral, bungkus snack, atau sekalian, kantung plastik besar dengan seenaknya. Canggung? Ahihihi, kebalik, kebalik, sikap canggungnya adalah saat membiarkan sampah itu di tangan, atau memilih memasukkannya ke tas, saku baju/celana, sampai kemudian membuangnya saat menemukan tong sampah. See? Buang sampah sembarangan sudah jadi `kebiasaan buruk` yang seragam di tempat kita. Jangan bersedih hati jika ternyata bukan kebaikan seragam yang menajdi contohnya.
Contoh lain. Merokok di tempat umum (haiyaah, lirik-lirik yang merokok, maaf ya, ini dikhususkan buat yang ngerokok secara brutal kok
).
Mereka, saat merokok di tempat umum, dengan ketegaan luar biasa membiarkan orang terbatuk-batuk hebat, mengasapi anak bayi, meracuni nenek-nenek dan merampas oksigen bebas orang lain, dan sebagainya. Berapa banyak sih yang sensitif dan mau memperhatikan masalah ini. Tapi, fenomena seragam para perokok yang mudah ditemukan ya seperti itu, merokok dengan sadar sesadar-sadarnya bahwa di sekelilingnya itu tempat umum tapi hanya memikirkan diri sendiri, bahwa dia melakukannya karena mudharat, ketagihan rokok dan jika tidak melakukannya adalah siksaan. Haa? Kebrutalan yang… seragam?
(Hei! ini kok lagi-lagi keseragaman yang gak baik sih yang dijadiin contohnya?
)
Wah. Baiklah, sekarang contoh kebaikan seragamnya. Bangsa Italia misalnya, dikenal dengan gaya kerjanya yang aneh dan gila-gilaan (setidaknya begitulah yang pernah diceritakan dosen saya). Mereka akan sarapan sedikit sekali pagi-pagi benar dan makan siang agak terlambat. Pada saat jam makan siang, restoran-restoran dan kedai makanan akan buka seperti biasa. Lalu setelah waktu makan siang, mereka akan bekerja kembali. Di saat jam kerja dan di luar waktu makan siang ini, jangan harap kita bisa menemukan restoran yang buka. Nope. Ada cerita, seorang Amerika yang mengeluarkan sumpah serapah saat ia berada di Italia suatu hari. Ia kehausan sehaus-hausnya dan sialnya itu di luar waktu makan siang orang-orang, dan tentu saja tak ada restoran yang buka, meski hanya untuk sebotol air mineral saja. Aneh ini. (Ahihihi… saat mendengar ceritanya saya sempat nyeletuk dalam hati, memangnya ga ada vending machine dekat situ?
). Jadi bangsa Italia ini terkenal sekali dengan budaya kerjanya yang unik ini. Keseragaman yang baik kayanya?
Selanjutnya budaya buang sampah masyarakat Jepang. Pemerintah mereka tidak perlu lagi memberlakukan denda jika ada yang buang sampah sembarangan ataupun melakukan pembuangan sampah yang tidak sesuai jenis sampah dengan jadwal perhari yang telah ditetapkan di seluruh Jepang. Tidak akan ada denda. Karena semua telah punya pikiran dan sikap patuh hukum yang seragam. Biasanya jika ada orang asing yang `bandel` teguran bisa didapatkan dari siapa saja, entah itu nenek-nenek, ibu-ibu rumah tangga, atau bapak-bapak yang kebetulan memergoki perbuatan itu. Dan tentu saja tidak ada doktrin. Ini lahir sebagai akibat kontsruksi sosial yang terus menerus dan akhirnya menjadi sebuah sikap universal di mana pun.
Atau juga misalnya, kesadaran merokok tidak di tempat umum. Mereka akan merokok di tempat khusus yang disediakan, atau di pojokan yang jauh dari keramaian. Tidak akan kita dapati mereka yang merokok di dalam kereta api, bus, di ruang tunggu stasiun atau tempat-tempat publik lainnya. Kesadaran akan hal ini sudah membudaya dan menjadi sikap kolektif. Juga sikap ingin membantu orang lain. Jika ada orang asing yang terlihat celingak celinguk atau gelisah tidak jelas di tempat umum, entah misalnya tersesat tidak tahu jalan, sepeda yang rusak dan kehujanan (pengalaman pribadi
), tidak tahu bagaimana memilih jurusan bus, salah naik kereta api, atau cara membeli tiket di ticket-machine, akan ada saja orang Jepang yang bersedia bertanya kesulitan kita dan menawarkan bantuan. Entah itu ternyata bapak-bapak tua, anak muda, mbak-mbak cantik yang sekilas terlihat sombong karena dandanannya yang wah, atau anak-anak sekolah. Mereka akan menanyakan `ada apa` atau `ada yang bisa dibantu` atau `kenapa?` dan pertanyaan simpatik lainnya serta menawarkan bantuan. Sikap kolektif ini sudah membudaya. Lagi-lagi seragam.
Untuk kasus peraturan, misalnya di kantor, sekolah, janji profesional, Japanese sangat strict akan masalah waktu. Mereka yang biasanya terlihat begitu ramah akan berkata dengan tegas dan jelas masalah ketidaksukaan mereka akan keterlambatan, betapa waktu semenit pun sangat penting adanya. Jika dengan mudah kita sepele pada satu menit atau menit-menit yang lain, suatu saat kita akan mudah mengabaikan keterlambatan belasan menit, setengah jam, dan seterus-seterusnya. Haa? Kedisiplinan yang juga seragam?
Maka, sama halnya dengan hal-hal yang umum menjadi sikap di masyarakat kita. Jika suatu kali, kita menemukan ibu-ibu yang minta tolong karena kehabisan ongkos atau mengatakan anaknya sedang sakit misalnya, di bus, kereta api, atau dimana, beberapa kita akan langsung punya pikiran lain, `Wah, jangan-jangan pengemis penipu nih`, dan (mungkin) akan memilih sikap tidak membantu, karena pada kebanyakan memang banyak penipu dengan gaya penipuan sejenis itu yang biasa kita temui di sekitar kita. Sikap seragam yang hampir mungkin disetujui oleh lainnya adalah, dengan tidak membantu.
Masih ada lagi. Sikap meninggikan ego yang seragam. Lagi-lagi contoh sepele, jika ada dua orang yang bertabrakan di jalan misalnya, entah kenapa sikap paling umum yang terlihat adalah, bisa jadi keduanya akan sama-sama marah-marah, merasa orang lain yang lebih dulu menyenggolnya dan merasa tidak salah. Padahal kalau sama-sama minta maaf bakalan selesai toh? toh sama-sama sakit juga? ![]()
Tapi tidak, malah lebih memilih menyalahkan orang lain, bersungut-sungut. Hampir seragam. (saya gak bilang ada yang tidak begitu ya, tapi pada umumnya, seperti itulah yang terjadi.). Jika kita ketemu orang yang setelah kita tabrak (kita tahu itu salah kita) lalu orang tersebut yang lebih dulu minta maaf, apa pikiran yang pertama terlintas? “Huwaaa… orang ini baik banget. Manusia langka!” Gitu mungkin? Karena apa ? Kita sudah menstigma, bahwa pada umumnya di masyarakat kita, tingkat mengendalikan ego untuk hal-hal sepele macam itu masih bermasalah.
Ada lagi misalnya orang yang suka mengeluarkan sumpah serapah saat lama di lampu merah, begitu hijau, dan mobil di depannya belum jalan, dengan semangat juang 45, membunyikan klakson sekencang-kencangnya karena kesal. Waww… sikap kaya gini lumayan seragam juga ya?
***
Dari contoh keseragaman yang baik dan tidak baiknya itu, kita bisa lihat, bukan doktrin yang bekerja disana, bukan. kebaikan dan ketidakbaikan itu hasil konstruksi lingkungan sosial, yang dipersepsikan oleh tiap individu, tertanam dalam tiap diri, lalu lahir sebagai sikap pribadi, hingga kemudian terlihat sebagai sikap kolektif, mencitrakan sikap khas suatu komunitas. Seragam, baik itu baik ataupun tidak baik.
Jadi? Jadi? Berarti karena lingkungan yang membentuk orang bisa seperti itu? Atau karena sikap individu yang awalnya memang sudah `beres` dengan dirinya dan moralitasnya, hingga kemudian bisa menyumbang keseragaman di komunitasnya? Yang mana duluan? Lingkungan yang membentuk orang bisa baik atau bisa seenaknya, atau memang sikap tiap pribadi yang kemudian mengkonstruksi lingkungan sosialnya menjadi komunitas yang baik dan kondusif?
Jadi yang mana lebih dulu yang bisa menjadi kunci efektifnya? Ahem. Jangan bawa-bawa teori Ayam-Telur itu ya. Teori itu diabaikan disini.
Saya lebih suka bilang, bahwa itu ada di individu. Ya, individu itu komponen dari komunitas sosial kan? Ada yang sudah `pas` dengan manusia-manusia Italia yang punya semangat kerja keras yang lain daripada bangsa lain di dunia.(Ah, anda boleh bilang ada pengaruh budaya turun temurun sih, tapi sekali lagi, kita abaikan dulu untuk pembenaran pendapat saya ini
). Dan juga ada yang `telah teratur` dengan sikap dan moral seorang manusia Jepang yang ; tidak mau merokok di tempat umum, mau membuang sampah sesuai jadwal dan tidak sembarangan, punya sense of help yang spontan, tidak tergerak buat ngerusuh walau saat mabuk sekalipun dan sebagainya. Juga mungkin memang sudah begitu `ego` seorang manusia Indonesia, yang langsung bisa marah-marah kalau ada nyenggol dikit, yang lebih memilih mengemis dengan menipu daripada bekerja baik-baik, yang lebih memilih diam jika ada ketidakberesan karena mungkin takut dianggap melawan arus, dan sebagainya.
Jadi? (lagi)
Kalau ada yang salah dengan kondisi sosial masyarakat kita hari ini, boleh dong kita bilang, ada yang salah sama manusia-manusianya. Bukan lingkungan sosialnya. Kalau ada masalah dekadensi moral hari ini di hampir semua bagian kehidupan, mulai dari lurah-lurah, tukang ojek, anak sekolah yang hobi tawuran, tukang jambret, penipu dengan gaya pengemis, sampai ke konglomerat dengan moral tanda tanya, pegawai rumah sakit yang acuh tak acuh jika yang datang berobat adalah orang miskin, atau pejabat korup, jangan salahkan iklim sosial Indonesia. Manusianya yang salah. Jadi kalau mau berubah, tiap orang yang `bermasalah` harus disadarkan dulu. Eh, bukan berarti gak ada lagi satupun manusia `normal` lah, masih, masih banyak. Saya sangat yakin akan hal itu. Masih banyak orang baik yang tidak kita kenal. Cuma, gak bisa bersandar sama itu saja kan? Orang-orang yang `moral`nya sakit harus menjalani rehabilitasi mental, harus disadarkan, atau itu bisa terus-menerus menular dan mencemari mental orang baik-baik tadi. Bahaya kan?
Jadi kalau mau membentuk komunitas yang baik dengan keseragaman yang kadarnya sama di hampir semua level anggota komunitas itu, manusia-manusianya juga harus jadi manusia-manusia yang santun dulu, ya kan?
Eh? Bener gak ya? Tak tahulah. Pokoknya™ menurut saya sih begitu.



hiruta absen dulu
Yak. ^^
*conteng absen*
*ambil kursi, duduk, nunggu komentar*
hem kalo fasis merupakan suatu kelompok yang seragam juga ?
*numpang ngiklan dulu sebelum komen beneran*
adik kecilku yang baik,
kadang mungkin tidak terlihat, tapi kamu mungkin akan menyadari bahwa begitu banyak hal-hal yang, di Indonesia, tidak bisa sebagus bayangan kita.
ini adalah tempat di mana kejujuran tidak selalu bisa hidup, dan kita tidak bisa memastikan bahwa semua orang adalah orang baik. sama, mungkin di mana-mana. kamu mungkin akan memahami lebih banyak setelah ini.
ini adalah tempat di mana ketika kamu tersesat di tengah malam, kamu tidak tahu apakah seseorang yang kamu temui akan membantu atau malah merampok dan mengambil semua hartamu. tapi kamu tahu, bahwa manusia hidup dengan tolong-menolong.
ini adalah tempat di mana kamu mungkin tidak tahu bahwa orang-orang yang kelihatannya membutuhkan bantuanmu mungkin sebenarnya bermaksud menipu, atau sedang benar-benar dalam kesulitan besar. tapi kamu tahu, bahwa nurani untuk membantu akan selalu ada; kadang, terpaksa berhadapan oleh kewaspadaan akan kelicikan.
ini adalah tempat di mana kamu tidak bisa selalu hidup dengan seratus persen jujur, dan mungkin nanti kamu akan benar-benar mengerti perbedaan antara ‘idealisme’ dan ‘realita’. tapi kamu tahu, bahwa kejujuran akan dibawa mati, dan idealisme harus hidup dalam diri.
aku tahu, mungkin karena aku telah lebih dulu melangkah. tapi kamu tahu, bahwa kamu benar.
::
*ahem*
intinya sih, percayalah bahwa masih banyak orang baik di Indonesia. masih banyak orang jujur di Indonesia, dan masih banyak orang Indonesia yang tepat waktu dan tidak buang sampah sembarangan.
…salah satunya, saya
~walah
~kokJadiPanjang?
@ danalingga
Hmm, bisa jadi mas. Bisa jadi.
@ yud1
Eeeeh…? ya kak?
*berhenti main ayunan*
*duduk mendengarkan*
…
*angguk-angguk*
kak, saya gak sekedar percaya lho, saya yakin malah. Di atas saya udah nulis kan?
” Eh, bukan berarti gak ada lagi satupun manusia `normal` lah, masih, masih banyak. Saya sangat yakin akan hal itu. Masih banyak orang baik yang tidak kita kenal. Cuma, gak bisa bersandar sama itu saja kan? Orang-orang yang `moral`nya sakit harus menjalani rehabilitasi mental, harus disadarkan, atau itu bisa terus-menerus menular dan mencemari mental orang baik-baik tadi ”
–
Kakakku yang (juga) baik,
Kita tahu bahwa banyak `idealisme` dan `realita` yang gak bertemu di dunia nyata sana. Bener banget. Aslinya saya skeptis kalau liat fakta, tapi saya masih bisa mikir bahwa hal-hal itu masih bisa `diusahakan`.
Dimana-mana manusia baik dan manusia jahat itu ada. Bener. Dimana-mana ketidakberesan itu ada. Iya. Tapi bukan berarti dengan memaklumi `hukum alam` ini, menjadikan kita sebagai orang yang hanya bisa maklum keadaan dan hanya `mengandalkan` diri kita dan `orang-orang baik` lainnya itu aja kan?
Di antara sekian banyak sikap pesimis kita dengan keadaan sekarang, sambil terus menjaga idealisme pribadi agar tidak ikut terseret arus, kita mesti berusaha melakukan sesuatu kan?
Sambil menjadi manusia baik yang taat hukum, yang disiplin, yang jujur, tentunya kita juga harus mau mengingatkan orang lain yang menyepelekan hukum, yang tidak jujur, yang masih sembarangan. Supaya imbang.
Dan kalaupun itu tidak punya pengaruh yang signifikan, paling gak saya udah lega, enggak menyimpan `sakit hati` dan kekecewaan itu di dalam, dan lega juga paling gak saya udah berusaha berbuat semampu saya.
Menurut saya begitu kak.
Makasih atas tanggapannya ya, ^^ *keren lho, serius*
*senang bisa punya kakak yang jujur dan ga suka buang sampah sembarangan*
–
*main ayunan lagi*
Mbakku yang baik
tulisannya menarik saya jadi mikir nih soalnya,
Mbak masalah lingkungan dan individunya mungkin bukan yang mana duluan tapi yang mana yang lebih dominan
secara pribadi Mbak ya saya pernah bingung mau buang sampah dimana karena susah nemuin tempat sampah padahal udah disimpen dulu
jadinya terpaksa saya buang sembarangan mungkin salah saya juga ya kenapa gak buang saja dari awal hahahaha
Mbakku yang baik
saya salut tuh dengan keseragaman kolektif yang baik
sekarang saya sadar Mbak ternyata Mbak orang baik ,lho lho kenapa ini
maaf Mbak maksudnya saya akan mencoba untuk menetapkan niat untuk berubah
yang penting kan niat dulu
saya serius lho, Mbak ini baik banget
uuups maaf maksudnya
saya serius
Nah Mbak komen saya bener nggak????????
Salam damai dan saya bingung
*Sekarang saya jadi `mbak` nih*
Ahihihihi…
Sampahnya dikantongin dulu sampe nemu tong sampah atau buang di tong sampah pas nyampe rumah.
Sambil ngusulin ke lembaga terkait, banyakin tong sampah dimana-mana, biar ga ada alasan lagi buat buang sampah sembarangan.
Pernah dengar, `saat kita mau buang sampah pada tempatnya, saat itu juga seorang perusak lingkungan udah berkurang satu`, dan tentunya sikap kaya gini berlaku buat semua hal. Dan saya percaya itu. ^^
He eh. karena udah dominan dan jadi sikap mayoritas, kasian yang minoritas yang niatnya menjaga kebersihan lingkungan (dalam kasus buang sampah misalnya), yang ga mau datang telat masuk kantor, yang ga mau bayar uang suap, yang ga mau ga berlaku jujur dan ga mau-ga mau yang lain yang udah jadi sikap mayoritas. Kasian kan, mereka jadi `tertindas` dan terzalimi, padahal mereka orang-orang baik.
Makanya, mesti yang sikap minoritas itu tegak, walaupun itu pastinya pelan, lama, gakpapa, yang penting diusahakan terus…
Bharma juga baik kok. Makasih ya, saya jadi gak enak. *bletaak*
ahhh….mslh sosial kembali.;…
puyeng lahh
kali ini ga mo komen dulu..
numpang pamer avatar dan ud baru ajahh…*ditimpuk hiruta*
Santai aja, Yume… (walaah, dasar grace nih, ganti lagi ya?)
Dibandingin sama presiden, puyeng kita masih dikit kayanya. *dipenggal*
*timpuk grace ah…*
mbakku yang sangat hati-hati dalam menulis *pendapat pribadi, boleh diprotes*
… dan selayaknya diwujudkan dalam bentuk nyata … dimanapun, kapanpun oleh siapapun (yang mau) *eh, koq jadi seperti iklan ya …*
Jika boleh berpendapat (biasanya boleh), saya lebih menghargai orang yang telah berbuat (kebaikan) dan memberi manfaat nyata kepada sesama dibanding yang diam dan melantunkan guman:” emang dah kayak gitu, mo diapain lagi”.
Saya lebih memilih melawan arus dibanding mengikuti pusaran arus yang salah, misalnya:korupsi. Kalaupun harus kehilangan jabatan (biasanya malah ditawari lho) karena sikap tersebut, ada sesuatu yg pantas dibanggakan, yakni: tidak terjerumus dalam pusaran arus. *maaf mbak, beraroma curhat, hehehe*
So, memulai dari diri sendiri (untuk berbuat baik), sedikitnya telah memberikan sumbangsih terhadap pembentukan komunitas yg baik pula meski (lagi-lagi) dalam skala kecil.
Memang tidak mudah, namun tanpa memulai, … cita-cita tinggallah cita-cita.
Karena itu … *halah* … saya sependapat dengan inti tulisan “mbakku yang baik” ini …
buset! beneran panjang banget postingannya *ngos2an sambil siap2 ngrokok di pojokan*
Ahehehehe… ada cakmoki…
Kita sealiran nih kayanya Cak.
Errrr… makasih lagi, saya beneran jadi gak enak nih.
*dilindas kereta api*
@venus
Udah warning lho, Mbak… saya gak salah ya.
Ahihihihi… sila.sila. ^^
entah kenapa…. kayaknya banyak orang yang terjerumus dalam keseragaman kolektif ini…. padahal kalau dipaksa untuk disiplin di tempat lain pasti bisa… entah apa yang salah ya…..
Yap. Bener banget Mbak.
Itu sering dibahas juga lho. Orang-orang kita bisa segera jadi disiplin dan baik di tempat lain. Tapi begitu kembali ke lingkungan yang kurang kondusif, jadi balik lagi. Padahal pastinya mereka kecewa dan berontak sama keadaan itu, tapi lagi-lagi, sikap mayoritas yang menang. Ngikut jadi keseragaman kolektif yang udah ada jadinya. -__-`
Setuju deh pokoknya
Siip. Nambah genk lagi.
Bener. Setuju. Lalu gimana cara menyadarkannya?
Ahahahaa… usahanya ya?
Kalau di dunia maya, nulis di blog, kasi kritik *bletaak*, kemukakan fakta penyimpangan dan alternatifnya kalau bisa, syukur-syukur ada oknum yang baca dan tersadar *lirik cakmoki, ya kan Cak?* , atau orang lain yang baca ikut tercerahkan (halaah!).
Dan saya lumayan percaya, tulisan itu punya efek yang cukup signifikan. Orang bisa berantem gara-gara tulisan, bisa jadi kan orang juga jadi baik dan pengen berubah gara-gara baca tulisan.
Di dunia nyata, jangan mau ikut sikap mayoritas.
*ngomong enak betul*,
Misalnya udah ga buang sampah sembarangan, ngingatin juga orang lain, mau negur (pake seni tentunya). Intinya memang mulai dari diri sendiri, syukur-syukur nular ke orang lain.
Yang merokok sembarangan, usulin sama pemda setempat dibangun tempat khusus ngerokok, atau buat larangan yang sifatnya moriil di tempat umum, tempel stiker ga boleh ngerokok di angkot, buat seminar `Merokoklah dengan Keren`, atau kirim opini ke majalah, koran, mading kampus/sekolah, propaganda isu yang baik kan bagus.
Buat seminar yang undangannya khusus perokok semua, temanya `asapilah sesama perokok saja` atau apalah yang lain yang bisa membuat mereka tercerahkan.
(Ugh, udah ga jelas nih saya -__-` )
Hei, fatwa MUI yang “ngerokok itu Haram” juga disosialisasikan! Buat baliho, spanduk, selebaran, kaya musim kampanye gitu…
*sadar tiba-tiba*
Apalagi ya?
Yang ga disiplin, hmm yang suka datang telat dikasi warning bahwa itu berpengaruh ke Indeks prestasi kerja (ini mah bukan PNS sih) dan juga gaji, tunjangan, bonus.
Untuk korupsi? *tertawa getir*
Apa ya? kayanya dikasi teror psikologis aja deh…
formatnya gimana ? *mikir-mikir juga nih*
–
Aarghh!
Pokoknya jangan jadi NATO. Bener itu.
Jangan bosan-bosan sih bagusnya, sabar juga, dan tentu saja jangan lupa minta sama Tuhan. Doa orang yang sabar katanya cepat dikabulkan.
–
(Halah. Guh ini, Tiga kalimatnya bikin saya capek. Heeuuu… -_-` )
*pergi makan es krim*
Usul kepada Mbak Jejak yang baik (niru gaya beberapa komen di atas
)…
Bagaimana kalau setelah menyelesaikan studi dan kembali ke Indonesia, menjadi seorang guru saja? Setidaknya dapat
mencuci otakmengajarkan hal-hal yang baik kepada anak-anakya…ya… begitu ternyata ya.
*manggut manggut sambil ngelus jenggot*
@ suandana
Usulnya bagus tapi entah kenapa saya yakinnya saya jauh dari tipe `ibu guru`
Kacaw Mas.
Ah iya, Semangat! *tetep*
@ danalingga
Ahihihihi… entah juga Mas, itu pendapat saya sih
Bleh, sikap tubuh baru nih ?
Mmm…masyarakat jepang, itali, yang dicontohin mbak itu social capital-nya bagus…tapi apa ya yg bikin social capital itu? *buka-buka buku lagi…;p
IMHO, tentu saja mulainya personal, dari orang, atau sekelompok orang yang ‘berkuasa’ dalam artian sanagt menghegemoni, sehingga pengaruhnya dominan dan yang lain juga kecipratan, bahkan berprilaku seragam, jadi keseragaman kolektif. Di perusahaan berarti dari manajemen puncak atau pendiri. Di masayarakat berarti dari para pemimpinnya. Dari negara ya berarti dari pemerintahnya.
Nilai2 itu juga ditegakkan konsisten, dengan teladan, ada mekanisme reward-punishment, ada insentif, yang tak pandang bulu dan adil. jadinya semua juga ngeh, dengan mengikuti ini saya diuntungkan juga. social capital yang kuat terbentuk.
Kalau di Indonesia? hehehe…jadi inget pemerintah jaman dulu bikin Gerakan Disiplin Nasional. Konsep ada, infrastruktur ada, aparat yang make rompi kuning berlambang garuda gede di punggung dengan tulisan besar “PENEGAK DISIPLIN” berseliweran. Ga disiplin2 juga nih bangsa. ya iya, wong “pemimpin” itu juga gagal mendisiplinkan anak2nya buat nggak manfaatin fasilitas negara…
Saya skeptis ama pemerintah. Mari merebut ‘kuasa’nya aja, bukan dalam pengertian posisi (posisi juga boleh sih, tapi ntar lah…), tapi ide/wacana yang menghegemoni, hingga pengaruh buruk pimpinan brengsek itu kalah ama kekuatan kita. ayo bicara dan bertindak, bikin kelompok2 sadar! Semoga social capital kita menguat nantinya!
*hehehe, komen terpanjang saya di blog orang. komen paling sok tahu, paling khotbah, dan paling semnagat juga
Huwaaa… komennya keren !! T_T *tepuk tangan*
Yak, berarti social capital nya harus kuat juga ya.
Ahihihi…
(halaah!)
SAMA Mas!
Saya juga udah ga nyebut pemerintah lagi minta mereka negakin disiplin, minta mereka benerin aparat hukum atau apalah. Udah skeptis.
SETUJU! Social capital-nya harus kuat. Orang baik harus bisa muncul sebagai mayoritas sikap!
Ahahahaha… kan keren gitu komennya. Gapapa. Gapapa.
*Yes, nambah genk lagi*
kesimpulan sayah itu jadi orang dewasa ternyata menakutkan

*salam kenal mba*
Heee,ga semenakutkan itu sih sebenernya.
Makanya kali ya, abis itu saya malah nulis post `jadi Dewasa` itu.
Biar jadi terapi mungkin?
Salam kenal kembali, Cici