Tentu sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa atau setengah hati atau tidak dengan keinginan hati, tentu hasilnya berbanding lurus juga. Tidak optimal. Apalagi jika dipaksa oleh orang lain untuk melakukan. Intinya, sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan tanpa paksaan, ataupun pemaksaan baik dari diri sendiri maupun dari pihak lain. Tapi tentu saja ada pengecualian di tiap hal. Ada paksaan dan pemaksaan dari orang lain yang bertujuan baik hanya saja saat memulai melakukannya ada sedikit rasa not-willing dari diri kita sendiri, misalnya. Untuk paksaan atau pemaksaan dalam konteks ini tentu saja tidak masalah.
Mungkin kita ingat saat masih kecil dan sakit lalu kita dipaksa untuk minum obat yang pahitnya bukan main. Saya yang sering sakit-sakitan dulu sering `bermusuhan` dengan ayah karena saya yang tidak suka minum obat sering `diintimidasi` oleh ayah untuk minum obat.
Maka, berbeda dengan anak-anak, seorang dewasa (weleh, siapa ini yang udah merasa dewasa??) biasanya tidak suka disuruh-suruh, dipaksa-paksa, apalagi terkait dengan masalah pribadi. Ego seorang dewasa. Jadi, sama seperti orang lain juga, saya tidak suka dipaksa-paksa. Apalagi jika itu termasuk pada pemaksaan kehendak pribadi orang tersebut. Wah, alamat ‘cuaca` gak bagus tuh.
Misalnya saja, untuk sebuah pemaksaan dengan dalih alasan : cobalah dulu, nanti kamu akan bisa jika sudah terbiasa. Mungkin itu bisa dibenarkan untuk mencoba sesuatu yang baru dan saya tidak sukai sebelumnya. Tapi tetap saja, kalau sudah terlalu digiring-giring begitu, siapa yang nyaman? Saya rasa anda juga akan sepakat. Jika orang lain tidak mau, tidak suka, saya tidak akan memaksa, karena saya tahu bagaimana rasanya tidak nyaman dipaksa-paksa. Bolak balik sih, karena saya tidak suka melakukan hal itu pada orang lain, saya juga tidak suka saat saya diperlakukan begitu oleh orang lain. Begitu kan? Sayangnya tentu tidak semua berlaku seperti ingin kita.
Jika saya dipaksa untuk sesuatu yang netral, dengan caranya yang muslihat, sedikit manipulasi, hingga saya bahkan tidak sadar diri saya sedang dipaksa, mungkin saya tidak akan terlalu menampakkan ketidaknyamanan bahkan mungkin tidak akan komplen, lah saya sendiri tidak sadar saya dipaksa?Tapi akan lain halnya jika saya dipaksa untuk sesuatu yang tidak saya sukai sejak awal. Seseorang memaksakan kehendaknya, ini sih sama saja cari gara-gara. -__-”
Baik. Mungkin ada pembelaan lain, Lihat dulu alasannya. Oke, alasannya menurut dirinya pribadi, supaya keadaannya menjadi lebih baik dan untuk keleluasaan dirinya, kemudian dia memaksakannya pada saya, tanpa memperhatikan kenyamanan saya. Bagaimana mungkin saya bersedia melakukannya? Padahal dengan keadaan sebelumnya, tidak ada masalah, tidak ada hal yang merugikan yang terjadi. Jadi kenapa harus mengubahnya? Parahnya lagi, justru perubahan itu sesuatu yang jelas-jelas bikin saya terganggu. Saya tidak bisa berpura-pura nyaman dengan keadaan yang sebenarnya malah sebaliknya kan? Melelahkan, menyebalkan.
Dan keparahan masih berlanjut, setelah dijelaskan alasan ketidaknyamanan itu, saya masih dipaksa untuk melakukannya. Huh. Dengan dalih, lama kelamaan saya akan terbiasa menjalaninya. Terbiasakah? Bagaimana mungkin saya membiasakan diri dengan hal yang jelas-jelas sejak awal tidak membuat saya nyaman? Saya kok pesimis hal itu akan terjadi. Tidak bisa disangkal, ada hal-hal yang awalnya berat, tapi setelah terbiasa melakukannya, akan terasa ringan, dan mungkin saat awalnya, anda mencobanya dengan setengah hati, terpaksa namun di akhirnya anda menjadi terbiasa dengannya. Sayangnya hal ini berbeda. Benar-benar berbeda. Sejak awal itu adalah hal yang menganggu kenyamanan pribadi dan tidak dapat diusahakan agar ke depannya isa terbiasa dengan ketidaknyamanan itu hingga akhirnya bisa merasa nyaman? Hohoho…
Ibu dan ayah saya tidak pernah memaksa saya makan udang. Sejak kecil saya tidak suka udang, kalaupun saya makan, itu adalah udang dengan ukuran yang sangat keciiill sekali. (Ibu saya harus sabar saat membersihkannya
). Padahal udang itu mengandung protein tinggi, tapi saya tidak suka. Ayah dan Ibu saya hanya mengajak saya mencoba, tapi tidak pernah sampai memaksa-maksa saya untuk makan. Walaupun akhirnya sekarang saya sudah berusaha untuk makan udang selayaknya orang lain, saya seanng melakukannya karena saya tidak merasa dibawah tekanan.
Tapi masalah ini? Sudah dijelaskan bahwa alasannya adalah ketidaknyamanan, tapi tetap saja memaksa. Setiap hari jadi penuh denga rasa tak nyaman tapi tidak diperdulikan? Dia senang tujuannya tercapai tapi tidak memikirkan perasaan orang lain. Bagaimana bisa? Harusnya dia paham bahwa meng-codekan pikiran dan perasaan itu tidak semudah itu, hanya dengan mencoba lalu akan terbiasa. Kalau dari awal tidak nyaman, mau membiasakan bagaimana? Hmm, mungkin sesuatu jadi terlihat agak sedikit sulit karena di satu sisi orang tersebut adalah orang yang kita segani dan punya hubungan baik sebelumnya, tapi jika terus-terusan tidak mau mengerti juga, agaknya saya mesti menyerah juga. Lewat jalan yang lebih keras tegas !!
Ahahaha… benar lah itu, lebih baik melakukan sesuatu karena terpaksa daripada dibawah paksaan walau dua-duanya tetap saja sama tidak baiknya.
. ‘Kan?



vertamax dulu..
saya tidak suka dipaksa!
tapi sukanya memaksa
Ada yang memaksa anda ya
Tidak baik itu main paksa
@ cK
Siapa aja korbannya chika?
@ almirza
Betul…
dipaksa ngapain tho?
*usil nanya*
Paksaan ? Cikal bakal Otoritasi. Nggak suka.
Ralat
Kecuali saya
Saya juga tidak suka dipaksa melakukan sesuatu yang tidak saya sukai, tapi saya sering memaksa anak-anak saya untuk belajar…
@ Sheling Ford
Pokoknya™ sesuatu yang bikin gak enak…
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Iya tuh… Kita samaan dong…
@ almirza
Hee? Kalau Almirza yang maksa boleh? Begitu??
*timpuk2*
@ suandana
Itu gakpapa, kata ayah saya…
HO OH! setuju sangadh! bakalan jadi ngga enak kalo qt nglakuin sesuatu itu gara-gara difaksa!!! setuju sangadh! contohna kek saia, saia ini sering difaksa mberesin kamar, fadahal kan ndak ferlu difaksa,
kafan-kafansaia juga bakal mberesin sendiri!!!_______
ah ya “Siapa aja korbannya chika? ”
saia termasuk korban dan juga merangkaf sebagai partner
hmm…
…mmh.
‘memaksa’ orang itu ada seninya, lho. believe it or not
yaah, intinya sih kira-kira bagaimana membuat keadaan di mana ‘pihak terpaksa’ akan harus mengeluarkan cost/effort/apalah yang lebih besar untuk semua jalan di luar keinginan ‘pihak pemaksa’.
*hai-yah! jadi belibet gini seh*
nah. gak percaya? coba, misalnya ambil contoh soal adik kecil yang gak mau makan udang.
karena si adik kecil ini gak mau makan udang, maka harus dilakukan sesuatu sehingga dia merasa bahwa ‘makan udang’ adalah pilihan paling ‘menguntungkan’ buat dia. perkara dia sebel sih urusan nanti!
itu sih gampang. kita bisa mengkondisikan bahwa ‘harga’ makanan selain udang itu mahal. misalnya begini: gak makan udang = gak makan malam -sadis-
, atau kalau gak makan udang harus siapin piring lauk sendiri, ambil lauk sendiri, dan cuci piring lauknya sendiri. pokoknya, bikin repot deh kalau gak mau makan udang!
sekali dua kali belum mempan. nanti juga si adik kecil ini mau makan udang sendiri, kok (walaupun terpaksa? biarin aja, siapa peduli?
).
yak. yak. akhirnya, kita bisa ‘memaksa’ adik kecil ini makan udang, kan?
Hohohoho,,
Speaking of terpaksa, hari sabtu kemaren Ma ngerasa banget kena kaya gitu, antara ada yang encourage Ma buat kuliah, dan ada yang bilang gapapa ga kuliah, tapi dikasih embel2 ‘gapapa, udah gede kan? asal ntar nilainya bagus,,’ di belakangnya,,
*rada ga nyambung ya?*
dan yang lebih kerasa itu komen orang yang kedua itu, jadi biar kesannya ngebebasin Ma buat ngapain, tapi tetep ‘maksa’ buat inget tujuannya,, dan yang kaya gitu ga bikin kesel, tapi mikir,,
*ngelirik yang komen di atas Ma*
*lirik komen di atas*
itu juga ada triknya,
mbakMasimply said, daripada kita repot-repot ‘memaksa’ seorang anak bersih-bersih rumah, jauh lebih enak kalau kita bisa ‘mencuci otak’ supaya dia mau bersih-bersih rumah dengan sukarela…
…rada susah di awal, tapi habis itu ditinggal beres deh. hoho!
btw, akhirnya gak jadi kuliah, kan?
walaupun sebenarnya sih bukan urusan saya amat ada orang mau kuliah atau nggak mau kuliah, saya ini bukan cowok pemaksa kok
~awass
~nantiAdaYangCemburuu
arrrgh…. saya gak mau dipaksa…..
Tapi kadang-kadang, orang yang merasa dipaksa tidak merasa nyaman untuk melakukan hal yang dipaksa itu. Padahal kalau hal itu dilakukan dengan sukarela, mungkin hasilnya akan berbeda. Kalau saya lebih suka membuat seseorang merasa kalau ia melakukan hal tersebut karena keinginannya sendiri.
tapi kadang dipaksa itu enak jga kok
- dipaksa nikahin pacar gitu*
- dipaksa ambil uang
- dipaksa jadi Mentri
- dipaksa jadi juragan kost
dll
dipaksa melakukan apa ya ??
*ngeres mode = on*
@ Hoek

*pasang antivirus wabah ‘f’ *
Itu kan difaksa karena pas disuruh baik-baik gak mempan, gak?
*antivirus tidak bekerja dengan baik*
@ yud1
Betul, sayangnya gak semua orang ‘bersedia’ memepelajari seninya itu
…
Eh, saya malah lupa bagaimana trik Ibu saya saat menawarkan udang dan saya makan untuk pertama kalinya lho… Saat itu saya gak sadar lagi ‘dikerjai’ agaknya…
@ Rizma
Un, lebih manjur cara kayak gitu memang…
@ itikkecil
Iya Mbak, beban psikologisnya pun jadinya beda banget antara melakukan sesuatu dengan sukarela dan terpaksa…
@ almascatie
…
Gak sekalian aja, dipaksa nerima warisan, dipaksa untuk menerima hadiah mobil, dipaksa menikah dengan orang yang disukai, dst… *ngakak*
@ CY
*siram CY dengan bensin*
*bakar*
*puwas*
*lirik komen di atas*
Ih… mbak hiruta ternyata sadis, maen bakar bakar.
Tapi kadang kalo nggak memaksa diri sendiri, suatu perkerjaan bisa nggak selesai lho.
iya nih, membakar seseorang adalah bukan cara yang baik untuk mengakhiri hidup seseorang JePe..
*OOT teroooosssss*
sama, ga suka deh dipaksa.
tapi setuju ma *danalingga diatas…
kadang harus maksa diri buat melakukan sesuatu.
@ danalingga
Ehehehe… masa sih?
Wah, betul. Tapi yang ini beda kok, Mas
@ arief
Lah, ganti dong komennya Rifu, dari dulu masa kaya gitu terus tanggapannya.
*kabur*
@ bakazero
Sama ya? *TOSS!*
Eh, eh, itu setuju sama bagian yang mana? yang saya sadis apa yang ttg pekerjaan?
saya juga gak tahan dipaksa ~.~. males juga belajar untuk suka terhadap hal yang dipaksa. Lagian tergantung juga sih siapa yang maksa:
- Kalo yang maksa ortu: yaaaa mo diapain lagi, itung2 berbakti ama ortu
- kalo yang maksa temen: duh, itung2 mempererat friendship
- kalo yang maksa pacar: pake paksa2an sgala.. kan idup untuk saling mengerti perbedaan bukannya untuk membuat semua tidak berbeda.
- kalo yang maksa boss: itung2 demi posisi deh, daripada turun jabatan jadi OB haha
- kalo yang maksa orang gak dikenal: siapa lo siapa gua, gua nya siapanya lo, lonya siapanya gua = =!
jadi intinya, saya kalo dipaksa biasanya mikir hal2 yang bisa didapet dari paksaan tersebut. jadi at least ada sedikit dorongan daripada ngedumel sepanjang tersiksa paksaannya hueheue
kalau biacara masalah pemaksaan aku mungkin sangat setuju kalau pemaksaan itu untuk kebaikan orang banyak
ada beberapa yang aku anggap layak untuk di paksa
diantaranya adalah
gantung paksa para koruptur negeri ini
salam kenal dari pendatang baruuuuuu
Sist… blognya diapdet donk
@jejakpena
maksudnya comment danalingga no.18…
pasrah dengan keadaan…
menerima keadaan…
pilih yang mana yah?
@ sandymc
Kalau dipaksa untuk yang kayak gitu saya suka nurut kok,
yang ini bener beda deh kasusnya… hehehe…
Salam kenal, Sandy
@ 3l3ctr0n
Hohoho, terus kerugian karena korupsinya siapa yang nanggung, ntar?
@ alex
Lagi genting, minta tolong di-apdet-kan bisa?
*ditimpuk*
@ bakazero
ah, souka…
Katanya gak baik menyerah pada keadaan, tapi berusaha menerima kenyataan beda lagi kondisinya dengan menerima keadaan, atau salah?
Yang pasti pilihan nomor satu itu saya hindari, kayaknya…
Di-difaksa kawin?
*jitak Abu Onta*
Anak kecil usil!!
Auch, sakit mama -___-
Hentikan panggilan itu…
[...] Dulu saya merasa dejavu *lirik lagi* ketika saya membaca komentar di bawah ini yang memicu saya menyebutnya sister kemudiannya. [...]
[...] Dulu saya merasa dejavu *lirik lagi* ketika saya membaca komentar di bawah ini yang memicu saya menyebutnya sister kemudiannya. [...]