“I hear no one, I trust no one”. Itu status YM salah seorang teman saya belum lama ini. Kemarin setelah menemuinya di kantornya, kami memutuskan makan siang bareng setelah sekian lama tidak melakukannya karena kini masing-masing punya kesibukan yang berbeda. Setelah makan siang, sharing banyak hal, hingga sampai juga ke bahasan tentang status YM-nya itu. Hihihi. Dan terungkap, ternyata itu ungkapan kekesalannya pada seseorang atas kekecewaan yang bertumpuk. Mungkin agak berlebihan kesannya karena sebabnya memang cuma gara-gara satu orang itu tapi pernyataannya itu `kena` ke semua orang. “Gak separah itu kok, cuma karena lagi kesal aja, dan cuma sama satu orang itu aja sebenarnya…” dia meluruskan hal itu kemudian. Saya cuma bisa senyum-senyum. Kalau sudah masalah perasaan, memang agak payah sih. `Kan?
Pada kesempatan yang lain sebelumnya dan sudah agak lama juga, waktu itu saya masih di Fukui dan chatting lewat YM dengan salah seorang teman saya. Sehabis cerita-cerita, dia sempat menanyakan pendapat saya, “kira-kira sampai berapa kali kita bisa percaya pada orang lain, jika sebelumnya kepercayaan yang kita berikan pernah disalahgunakan”. Waktu itu saya menjawabnya setengah serius, “tergantung kitanya ingin percaya seberapa banyak lagi…”. Teman saya itu malah tertawa. Dari reaksinya yang seperti itu, saya sempat berpikir mungkin jawaban saya itu di luar ekspektasi dia. Bisa jadi dia membayangkan (bisa jadi juga tidak) jawaban akan berupa : cukup sekali itu, atau boleh diberikan satu atau dua kali lagi, jika masih dikhianati juga lebih baik dicukupkan.
Sebenarnya saya tidak sesetengah serius itu juga sih, karena bagi saya memang seperti itu yang akan saya lakukan. Menyerahkan keputusan untuk akan percaya atau tidak lagi pada diri kita sendiri, bukan pada patokan jumlah bilangan tertentu.
Maka bisa saja setelah ada sekali atau dua kali kepercayaan itu disalahgunakan, saya masih bisa memutuskan untuk mempercayai lagi dengan pertimbangan tertentu, dan bisa jadi pula memutuskan untuk menyelesaikan memberikan amanah apapun walaupun pengkhianatan itu baru terjadi sekali dengan lagi-lagi mempertimbangkan banyak hal. Kenapa? Ya, benar. Tentu saja karena kepercayaan itu bukan perkara main-main.
Tiap kita tentunya merupakan orang dengan tipe yang berbeda satu sama lain. Ada yang bisa dengan mudah memutuskan untuk percaya dan memberikan kepercayaan pada orang lain, ada pula yang butuh waktu yang lama, mulai dari proses pemikiran yang panjang, analisa yang mendalam, pertimbangan dari banyak sisi, penilaian track-record segala macam, hingga akhirnya memutuskan untuk mengamanahkan atau tidak mengamanahkan sesuatu pada orang lain. Ini berlaku pada semua hal dan aspek kehidupan, termasuk wilayah sensitif itu, perasaan.
Maka sama juga, saat ada kejadian tidak diinginkan, pengkhianatan atas kepercayaan yang telah diberikan itu, mungkin ada yang langsung memutuskan untuk tidak akan pernah percaya lagi, ada juga yang berani mengambil resiko untuk memberikan kepercayaan itu untuk kali selanjutnya. Tidak ada yang salah dengan hal ini, menurut saya, karena yang paling mengerti bagaimana kepercayaan semahal itu bisa dikhianati dan bagaimana memilih orang yang tepat untuk diberikan kepercayaan itu kembali adalah kita sendiri. Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah saat kita terburu-buru dan memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang dan tanpa pikir panjang atas apapun keputusan yang kita ambil, baik itu memutuskan untuk percaya lagi setelah ada lebih dari satu kali penyalahgunaan kepercayaan itu, ataupun keputusan berat untuk tidak memberikan kesempatan selanjutnya setelah kepercayaan pertama tidak dikelola dengan sungguh-sungguh. Jadinya bukan masalah jumlah bilangan yang kemudian menjadi dasar untuk memutuskan, tapi pertimbangan dari sosok orang itu sendiri, apa yang telah terjadi, dan apa yang mungkin akan terjadi. Seyogianya kembali lagi seperti di atas tadi, ada banyak hal yang patut kita perhitungkan saat memutuskan untuk memberikan kepercayaan atau tidak memberikannya. Dan buat saya misalnya, jadinya bisa saja saya memilih untuk percaya lagi dengan catatan tertentu dan bisa jadi pula menyelesaikannya disitu saja, menjadikan kepercayaan itu kesempatan yang pertama sekaligus yang terakhir untuk orang tersebut.
Anyhow, mengelola kepercayaan sampai kapanpun tentu akan tetap menjadi hal yang berat. Saking beratnya akan menyakitkan saat mendapati diri kita tidak dipercayai lagi hanya karena sedikit kesalahan yang kita lakukan namun dampaknya yang sangat fatal bagi orang yang mempercayakan kepercayaannya pada kita. Mengenai orang-orang yang mau bertahan dan berharap begitu besar untuk memperoleh kembali kepercayaan setelah beberapa kali mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan buat mereka, saya sempat tersentak sendiri saat mengikuti salah satu acara televisi, Andy`s Diary beberapa waktu lalu. Jadi saat itu ditampilkan beberapa cuplikan edisi K!ck Andy yang dianggap mempunyai nilai khusus di kalangan pemirsa di antara edisi lainnya. Iya, itu program televisi yang pembawa acaranya sendiri mengatakan bahwa ia ingin orang menonton tayangan programnya tidak dengan akal saja, tapi dengan hati juga.
Nah, salah satu edisi yang diangkat disana di antara edisi-edisi yang lain adalah kisah tentang seorang bapak yang dua anak laki-lakinya terjerumus Narkoba berkali-kali, hingga akhirnya mereka berhasil sembuh dan kedua anak laki-lakinya saat itu juga hadir bersama ayah mereka. Saya ingat kata-kata bapak tersebut saat itu kurang lebih seperti ini,” Saya rela kehilangan apa saja harta saya asalkan anak-anak saya bisa keluar dari pengaruh Narkoba”.
Pada kesempatan yang sama, salah seorang anaknya menyampaikan sesuatu mewakili dirinya dan saudaranya pada ayah mereka. Ada bagian yang begitu saya catat di kepala. Bagian yang saya sebut sempat bikin saya tersentak. Kata mereka, “ … terima kasih yang begitu besar buat papa atas harapan yang tak pernah hilang…”
Heh, benar-benar laki-laki yang hebat kan? Dia tidak berhenti percaya dan menaruh harapan agar anaknya sembuh padahal sempat berkali-kali kepercayaannya `dikhianati`. Hingga akhirnya ketegaran menunggu itu berbuah hasil, kedua anaknya berhasil keluar dari ketergantungan pada obat-obat terlarang itu.
Memang sulit sekali mengharapkan bisa dipercaya untuk kali selanjutnya setelah kepercayaan yang pernah diberikan pada kita, rusak. Tapi memutuskan tidak percaya lagi saat ada kesungguhan dari mereka untuk menebusnya, sama sulitnya. Kalau sudah seperti ini, semua kembali pada diri kita, kita hanya perlu melakukan hal yang tepat dengan pertimbangan yang matang bukan menyandarkannya pada jumlah bilangan kesempatan yang mungkin kita berikan semata.
Dan di satu sisi yang lain, rasanya cukup adil juga menghukum mereka yang pernah mengkhianati kepercayaan yang pernah diberikan dengan tidak lagi memberikan amanah apapun (setelah melalui pertimbangan tertentu, tentunya) pada mereka. Agar mereka juga belajar arti penting mengemban kepercayaan yang sudah diberikan. Karena Kepercayaan itu mahal, jenderal…!
Sayangnya, mungkin tidak semua orang sadar dan cukup bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan pada mereka.
*soundtrack-nya cukup mendukung, Please Forgive Me-nya Bryan Adam*



hhmm…bener banget. kepercayaan itu mahal. sekali orang ditusuk dari belakang, akan sulit untuknya menyembuhkan luka ‘tusukan’ tersebut. malah kadang walau lukanya sudah hilang, tapi bekas di ‘hati’ yang sulit hilang. itu yang biasanya terjadi…
tapi bagaimanapun setiap manusia punya kesempatan kedua. tinggal orang yang diberi kesempatan tersebut, apakah dia mau berubah, atau terus melanggar kepercayaan yang diberikan. semua balik ke pribadi masing-masing.
Kepercayaan itu memang mahal. Sebab saya sendiri mengalami sangat susah mempercayai seseorang yang sudah menghianati kepercayaan itu.
Ah, seandainya kepercayaan tidak perlu dihianati. *ngelamun*
aihh..saia juga fernah ngrasain, gimana ndak difercaya walofun sudah bersungguh-sungguh sangadh untuk membuktikan kalo saia dafadh difercaya *flashback*
ah ya, tafi memang lebih sulidh lagi untuk tetaf fercaya setelah dikhianati berkali-kali, butuh jiwa yang besar sangadh dan hati yang tulus sangadh.
*merenung*
Tabungan kepercayaan….
Bisa diambil sedikit demi sedikit, atau melakukan hal bodoh dengan menariknya sekaligus
saat tabungan itu habis…
tak ada lagi kepercayaan, dan kita sendiri
begitu barangkali
-salam-
OOT : sudah lama ngak chat, jarang OL yah skrg?
saya paling suebel kalok ada yang sangsi dengan diriku
Berkali-kali dikhianati tapi masih pantang mundur, walau sampai dicap bodoh lah, naif lah, hmff..
memang mahal sih…
Kepercayaan biasanya diiringi dengan harapan, makanya pengkhianatan benar-benar menyakitkan karena pengkhianatan meluluhlantakkan harapan yang ada
Mungkin alternatifnya, saat kita mempercayai dan berharap, iringi saja dengan keyakinan bahwa kita siap menanggung resikonya
Singkatnya sih sebagai perimbangan buat harapan yang ada
*ah maaf kalau bahasanya agak runyam, mau cepat-cepat sih*
Salam
Kbetulan ini lagi jadi pembicaraan hangat diantara gank karena ada teman yg ceroboh bocorin rahasia.
Teman yg ‘dikhianati’ merasa sangat dikecewakan karena:
1) soal menjaga rahasia itu seharusnya gak perlu dipesani lg. sdh harus tau sndiri, apa yg boleh & pantang diceritain ke orang lain…
2) barang rusak bisa dibeli, uang bisa diganti, tapi kata2 gak mungkin ditarik kembali. akibatnya bukan cuma fatal, tapi permanen! point of no return…
3) spertinya kata “permanen” di poin #2 ini yg buat kesempatan kedua (so far) jd tertutup… padahal keduanya sebelumnya sangat karib…
Kpercayaan memang mahal…
i trust none.
sumtime i even find it hard to trust my one self..
bukan cuma mahal, tapi precious, ne?
ehh! itu ad misspell
mohon diganti..
makasih..
*lg error dgn tugas mnumpuk*
everyman is for himself lah ya intinya
susah memang untuk percaya lagi kalau orang itu sudah mengkhianati kepercayaan kita.
sama susahnya untuk membuat orang lain percaya kalau kita pernah mengkhianati orang itu.
*bacabacabaca*
hmm…
daripada repot-repot, mendingan percaya seperlunya aja. jangan kelebihan, kekurangan sedikit sih gak masalah. masalahnya selesai, kan?
maksa!
lagu ini kan terusannya ‘please forgive me, can’t stop loving you…’ nyambung dari mana?
@ cK
Sayangnya ga semua orang ada yang bersedia memberikan kali kedua itu kan ya?
@ danalingga
Itu dia sulitnya, Mas…
@ Hoek Soegirang
Cieee…
Saia turut berduka cita, Hoek…
*ketularan gaya ngomong Hoek jadinya*
@ goop
Seperti tabungan? Hmm, boleh juga tuh…
@ aRuL
OOT juga : Iyyaa…
saya sering dapet offline message SPAM-nya aRul kok…
@ Abeeayang™
Terkadang itu tergantung dari performance kita sendiri gak?
*kabur*
@ takochan
Waaah…
Harus ada evaluasi tuh, Desti…
@ secondprince
Betul. Betul. Ada kepercayaan, ada harapan
*gakpapa kok Bharma, gak terlalu runyam juga kok*
@ jensen99
Wah, turut prihatin, Mas…
@ grace isnt back yet
Yah, begitulah…
BTW, good luck dengan tugasnya ya…
*nunggu grace balik nge-blog*
@ shinobigatakutmati
Ahaha… pada hakikatnya, untuk semua hal, kayak gitu kan ya?
@ itikkecil
Betul, mbak…
@ yud1
Dengan percaya seperlunya juga kadang masalah tetap timbul pas kita dikhianati kan? Ingin tetap percaya lagi atau selesai sampai di situ…
Gak terlalu juga, tergantung pemaknaannya yud1…
Setuju!
Tapi Ma rada kepikiran komennya Bharma, berhubung Ma itu orangnya rada kaya gitu, suka punya punya ekspektasi gitu lho sama orang orang yang Ma percaya, dan kaya yang sering Bharma bilang dari dulu, Ma ga boleh sering-sering gitu, masalahnya bakal sedih sendiri,,
Sayangnya, Ma suka ga kapok sih, tetep aja kaya gitu,,
Tapi, membiarkan diri sendiri dimanfaatin dan dikhianatin itu bego kan? apa itu artiyna ikhlas dan berbesar hati?
:: Rizma
~sori(rada)Nyampah
~silakanDipikirkanMaksudSaya
~peace
@ma :
itu curhat ya ma? ini bukan tentang yang waktu itu kan?
*sok tau*
deal ut tittlenya “kepercayaan itu mahal”
#butuh waktu lama untuk membangun kepercayaan dan butuh waktu singkat ut menghancurkannya
i hear every one, yet i try to trust no one…
semua orang punya potensi untuk jadi pengkhianat, dan semua orang juga memiliki kesempatan yang sama untuk dikhianati, semua tergantung sama personalnya….
tapi paling enak jadi pengkhianat
ha ha ha LOL
apalagi jadi pengkhianat rakyat
@ Rizma
You got the answer already…
Pakailah sesuatu sesuai kondisi…
@ yud1
Hus. Hus. Dilarang (rada) nyampah, Mas…
*lirik-lirik Ma*
@ suba
Makasih…
Salam Kenal.
@ 3l3ctr0n
Hei! You can trust me, can’t you?
*ditimpuk sama “sang pembuat puisi itu” *
Ssst, jangan begitu…
Kata mereka, sebenarnya mereka ngerasa gak enak tapi gak kepikir cara lain…
*kacaw*
malam hiruta chan
.
bener..bener..kepercayaan itu mmg mahal, dan sekali dia pergi susah untuk datang ya ke2 kalinya
[...] ini sering menimbulkan rasa sakit yang sulit dimengerti dalam suatu hubungan. Sebagian orang menjalani hubungan dengan sikap bahwa mereka peduli dengan hubungan yang dijalin. [...]
salam kenal
@ Dy
*jawab komen siang-siang*
Siang Dy-chan…
Weleeeh. Iya!!
@ Bimoseptyop
Salam kenal juga
mmmm bisa dipertimbangkan
baru tau kalau mereka juga merasa ga enak
sedikit ngomongin tentang sedikit bagian dari kepercayaan.
kepercayaan bahwa kita jujur dan terbuka. dipupuk dengan selalu berkata apa adanya.
masalahnya tidak segampang itu. ketika sesuatu yang apa adanya itu menyakitkan untuk orang yang kita butuhkan kepercayaannya bahwa kita selalu jujur dan terbuka. ketika orang itu justru ingin percaya bahwa kita tak akan pernah menyakiti hatinya.
kita bisa apa?
*serious mode off*
liat komen yud1 dan respon dari hiruta.. hmmm, berarti ada yang tak bisa berhenti mencintai hiruta?
ehm
ini bukan tentang cinta kan?
*bletak-bletak, duhh* ..maklum, belum cukup umur kalo soal yg satu itu, jadinya gak begitu peka
*serius poll* saya paling gak percaya sama koruptor dengan dalih apapun *kejam mode:on*, sayangnya saat ini, kepercayaan hampir selalu diberikan kepada mereka, namun saya tidak pernah berhenti berharap …hehehe, sekalian nitip woro-woro anti korupsi mbak
kepercayaan itu mahal jenderal…!!
*kayak pernah denger*
@ 3l3ctr0n
@ Rifu
Kalau kata yud1, harus ada seninya…
Iya gitu?
@ cakmoki
Termasuk juga Cak…
Makanya, untuk yang seperti itu saya juga setuju, cukup disitu aja kesempatannya. Masalahnya gak semua berpikir kayak gitu, mereka muncul lagi akhirnya…:(
Mari!
@ lahapasi
Iya ya? apa karena mirip frase dialog yang sering diulang di TV setiap September dulu itu ya?