Sekali waktu beberapa hari lalu, entah bagaimana saya dan seorang teman yang sudah lama tidak terlibat perbincangan rada serius seperti itu bisa sampai ke bahasan tulus tidak tulus ini. Oh iya, tulus dan tidak tulusnya tidak secara umum, ini dalam konteks kecenderungan perasaan secara istimewa pada seseorang. Oke, lebih jelas lagi, saat menyukai orang lain. Kebetulan teman saya itu, lebih muda beberapa tahun dari saya dan ‘tema’ kedatangannya hari itu sedikit ada hubungannya dengan apdetan perasaannya pada seseorang, yang ia kagumi secara diam-diam tapi serius. Ugh.
Dan cerita hari itu pun mengalir cepat dalam waktu yang relatif singkat karena diburu senja. Akhirnya ngomong-ngomong ‘berbau’ curhat itu mengerucut pada definisi tulus tidak tulus yang benar-benar subjektif, tentu saja.
Jadi, teman saya itu mendapat tuduhan ‘tidak tulus’ dari temannya -yang juga tahu dan turut diceritakan ‘permasalahannya itu’- setelah ia menceritakan bagaimana perasaaanya terakhir kali tentang orang yang disukainya dikaguminya itu. Setelah dia agak-agak tahu atau ‘merasa’ orang yang disukainya itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, dia merasa cukup ringan dan mudah untuk melupakan perasaannya itu. Karenanya temannya itu kesal dan jadilah vonis ‘tidak tulus’ itu mampir padanya.
Hmm, apa ya? Saya pribadi malah berpikir istilah itu kurang tepat untuk digunakan disana. Tapi saya ‘rada’ bisa paham kenapa rekan dari teman saya itu bisa mengatakan hal seperti itu. Boleh jadi dalam pandangannya, yang namanya tulus menyukai seseorang, (saya agak kurang enak untuk menyebut ‘mencintai’ disini
.) berarti kita tetap bisa menjaga perasaan itu apapun realitanya, entah orang tersebut menyukai kita atau tidak. Bisa terus seperti itu dan hal itu punya nilai kebahagiaan tersendiri bagi kita yang menyukainya. Jadi mungkin seperti itu kalau menilik kondisi saat ia menggunakan kata yang bermakna sebaliknya tadi, ‘tidak tulus’.
Lucunya, saya sendiri tidak merasa seperti itu. Kadang kala saya berpikir, saat kita menyukai orang lain, harapan kita tentunya orang tersebut idealnya punya perasaan yang sama dan akhirnya bisa sama-sama. Jadi, saat memang keadaannya kemudian tidak seperti itu, -orang tersebut tidak menyukai kita misalnya- tentunya kita harus segera menyadari langkah terbaik buat kita dan buat orang tersebut : menyelesaikan perasaan itu sampai di disitu. Frankly, we should stop that feeling. Tidak tulus? Bagi saya itu ‘sedang’ tidak ada hubungannya kesana.
Mungkin saya akan memakai frase ‘tidak tulus’ itu untuk menggambarkan kondisi dimana misalnya kita memilih ‘jalan’ dengan seseorang karena berfikir dia bisa menguntungkan kita dalam hal dan waktu tertentu misalnya. Ada lho seorang teman yang tiba-tiba berpacaran saat melakukan suatu penelitian dan orang yang dipacarinya tersebut bisa mengoperasikan suatu software yang rumit -dan penggunaannya strategis sekali dalam penelitian itu- dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata. Setelah pulang dari penelitian kemudian mereka putus. Seandainya dalam hati yang perempuannya, suka dan putusnya itu ada hubungannya dengan keadaan strategis yang bermanfaat itu, menurut saya seperti itulah tidak tulus. Itu seandainya lho, seandainya. Putus atau tetap jalan itu urusan pribadi mereka tentu saja.
Back to topic, jadi jika kita menyukai seseorang dan kemudian mengetahui seseorang tersebut ternyata memilih orang lain atau ternyata tidak menyukai kita, saat kita memutuskan untuk ‘berhenti’ menyukainya, hal itu tidak tak tulus. Toh misalnya saja, jika membandel untuk tetap menyukainya sampai kapan pun dan terus bertahan dalam stage itu, tidak ada keuntungan dalam hal apapun. Berbesar hati saja dengan realita yang terjadi. Dan tulus tidak tulusnya perasaan kita tidak bisa digantungkan pada seberapa lama kita perlu bertahan dengan perasaan itu, walaupun tentu saja ada beberapa orang yang bersedia mempertahankan perasaan pada orang yang disukai sekalipun sudah tidak ada harapan apapun, dengan mengemukakan alasan bahwa perasaannya itu tulus. (Banyak tuh kayaknya di sinetron kita? Atau bisa jadi juga ada banyak di kehidupan nyata)
Kalau kemudian dikatakan bahwa menyelesaikan perasaan seperti itu tidak mudah dan merupakan pilihan yang berat, saya tidak akan menyangkal, itu ada benarnya. Tapi itu sudah bab lain lagi kan? Sudah keluar dari konteks tadi. Tetap tidak ada hubungannya antara ketulusan menyukai seseorang dengan kemampuan kita memulihkan keadaan. Itu lebih ke bagaimana kemampuan kita menyikapi realita yang terjadi. Kenyataannya orang tersebut tidak menyukai kita atau telah memilih orang lain misalnya, maka kalau mau bertahan terus seperti itu, kita akan seperti orang yang tidak mau menghadapi kenyataan. Toh, tidak akan ada kebaikannya selain mungkin kebahagiaan semu dalam diri kita? Selebihnya? Yah… anda mungkin paham maksud saya. ^^
Memilih bertahan untuk tetap menyukai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama mungkin mirip dengan bertahan untuk bermain petak umpet[1] dengan orang yang sudah pulang ke rumahnya. Bagaimana mungkin kita tetap akan menunggu dia mencari tempat kita sembunyi? Bukankah lebih baik kita juga berhenti bermain dan pulang saja? ^^
Ps :
[1] Permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak. Ada yang bersembunyi dan ada yang giliran jaga. Pernah main?



Aihhh.. kangen mbak jepe *peluk2 dolo
Setuju lah, kalo kasusnya kayak temen mbak jepe, bukan tidak tulus, tapi menghadapi kenyataan.
eh mbak, bisa jg gak ya hub. yg tidak tulus lebih langgeng daripada yg tulus? Karna kepentingan mereka sama dan lama? Hummm… terserah deh, yg penting mrk nyaman
Ehehehe, iya ya, lama tak jumpa… *peluk Desti juga*
Bisa jadi awalnya gak tulus trus belakangan malah jadi tulus, siapa tahu kan? Walaupun kayaknya saya agak kurang suka dengan hal kayak begini.
Tapi yah betul itu, selama mereka nyaman, gak ada masalah…
Jika memang ada yang tulus sebenar-benarnya tulus, saya malah mo kenalan, mo berguru kepadanya.
hirutaaa!! *pelukan dulu*
hhmm…kalau itu mah bukannya nggak tulus, tapi mencoba menerima keadaan yang ada. masa mundur dibilangnya nggak tulus. memangnya mau sampai kapan menyukai seseorang yang nggak kunjung tiba?
memang susah melupakan seseorang yang disayang. proses penghapusan itu bukan berarti tidak tulus. bisa aja dia tulus menyukai, namun akhirnya memilih mundur demi kebahagian orang itu sendiri.
duh…bingung bilangnya. saya ngerti tapi bingung mau jelasinnya..
maapkan saya hiruta. nggak nemu kata-kata yang tepat…
dengan menyukai secara diam2 itu saja, sudah mengartikan kalau dia menyukainya itu dengan tulus sebenarnya. tokh, dia tidak meminta imbalan apa2 kan?
iya, mending pulang dan berhenti saja bermain petak umpet, kalau orang yg pengen dicari ntah di mana adanya..jangan2 dia udah pulang..tapi kitany malah masih nunggu dan terus nyari..
waduh..rugi waktu, rugi tenaga..capek deh…hihihihi..
jasi mirip sama ikhlas dan tidak ikhlas, memang ikhlas itu adalah suatu pemberian bukan dari sisi manusianya
setuju sama ck. bukannya gak tulus sih, tapi realistis. Kita toh tidak mungkin memaksa orang untuk suka sama kita.
tulus sama ikhlas beda ga yaa??
tulus…
cinta…
ikhlas…
????
kalau emang tulus kayaknya dia bakal relain tu sang kekasih untuk memilih yang terbaik untuk orang yang dia cintai, kalau menurut hasil perenungan saya selama dua hari dua malam di atas atap kampus, maka saya berada pada satu kesimpula kalau…
ternyata untuk mencintai tak pernah harus untuk saling memiliki.
ne sabda dari saya
Ah, sikap temenmu itu dah bener kok…
karena mencintai itu HARUS memiliki…
jadi kalo tak bisa dimiliki ya tak perlu lagi dicintai…
gak nyambung kalo dibilang gak tulus…
smoga dia bisa mendapatkan orang lain yg akan membalas rasa sukanya…
kangen hiruta…*peluk*
untuk beberapa lama mungkin ada baiknya kita tetap menunggu..
tapi ketika kita sadar bahwa hari sudah senja dan waktunya pulang, ada dua pilihan;
satu, kita bisa keluar dari persembunyian dan menunjukkan muka kita (itu kalo dia masih bersikeras mencari)
ato,
dua, pulang ke rumah tanpa bicara apa2.
saya sih kadang2, lebih memilih yang pertama, no regret even if i want to move on.
atau kadang2 pilih yang ketiga, lupakan kalo pernah main petak umpet sama orang itu..
*analogi yang payah*
hehehe
ah,si mba jadi jarang nge blog kayaknya..
sudah di endonesa kah??
ini omongan tentang cinta yah?
*culun mode on*
Haloo, Apa kabar?
salam kenal …. ^^
Uch, Jangan sampai deh…
Intinya, Qt musti hati-hati dengan perasaan Qt, Jangan sampai suka sama orang yang nggak punya perasaan khusus ke kita
Atau setidaknya, setuju dibagian
*sebagian diedit
*
artinya: orang itu memang bukan Takdir kita. Buat apa repot-repot memikirkan orang yang sama sekali nggak mempedulikan perasaan kita, dan bukan apa-apa dari kita. iya khan? ^^
Maaf kalo kalimatnya rada ‘kejam’.
perlu waktu untuk lebih mengenal terlebih dahulu agar dapat lebih pasti dalam memutuskan apakah tulus atau tidak..
apalagi ktika tulus di sertakan dengan rasa cinta, maka biasanya akan bias antar tulus dan tidak tulus..
Cinta itu kan, perasaan sayang yang diberikan dengan tulus. Jadi, gak ada cinta yang gak tulus!
Mbak, saya orangnya tulus tapi tidak tulus
*maksudnya apa nih*
*Huee, numpuk lagi*
Maaf. Maaf sebelumnya sudah membuat menunggu.
@ danalingga
Kita barengan aja ya ntar kalau udah ketemu…
@ cK
Chikaaa… maaf lama ga muncul… *peluk-peluk*
I got it. Gak bikin bingung kok. Itu kan rada sama dengan maksud postingannya cK… ^^
@ Dy
Waah, ada benernya juga sih tu, ya… bisa diartikan dari banyak sisi lah kayaknya.
@ peyek
tulus itu bukan pemberian dari sisi manusianya?
*apa kita beda sudut pandang ya?*
@ itikkecil
Betul. Harus realistis. Setuju Mbak!
@ electron
Katanya sih iya.
Seorang electron bisa ngomong gini? Sejak kapaaan??
Hei. Hei. Curiga pernah patah hati nih, makanya bisa ngomong gitu…
*menjauh*
@ jensen99
Eheheh, saya pun setuju sama sikap dia sih sebenarnya… ^^
Wah, makasih doanya tuh.
*berasa jadi yang didoain*
*bletaaak!*
@ grace
Grace nih kemana aja selama ni? Kapan balik dari hiatusnya, Mbak? *peluk2 lagi*
Gak kok. Beneran deh. Saya bisa ngerti kenapa Grace bisa ngomong gini…
@ onoda
Iya, sudah kembali nih. BUkan salah karena di Indonesia kalau saya jadi jarang nge-blog, Mas, memang kesibukannya yang bikin sesak napas dan gak kompromi selama disini…
@almascatie
Hush. Almas gak ngerti kan? Diem-diem aja ya?
*ditimpuk*
@ BdSnowie
Kabarnya lumayan baik.
Salam kenal kembali, Mbak…^^
Eh, gak kok, gak terdengar kejam. Inti entry-nya memang begitu juga kan? ^^
Makasih ya sudah main-main…
@ oRiDo
Un, kadang masalah waktu pun turut andil ya…
@ suandana
Errr… boleh lah. Boleh lah. Mungkin kita agak beda kali ini Mas… hehehe…
@secondprince
Laah, Bharma sendirinya gak jelass!!
Suka gak tulus tapi bilangnya tulus?Iya gitu?
*jadi sadis gini?*
patah sih belum mbak, malah yang terjadi ketiban durian runtuh, tapi ga papa karena jatuhnya disamping saya.
sejak lampu mati padam mbak, jadi ga bisa OL, ujung ujungnya yang gitu deh, sering teringat kemana mana, dari yang dekat sampe yang jauh, gondok juga sih.
mendekat juga ga papa kok mbak, di jamin ga bakalan digigit
*liat komen di atas*
assalamu’alaikum…bolehlah kalau saya numpang mampir untuk bersilaturahim ???