Itu salah satu judul film yang sudah saya tonton lebih dari dua kali. Awal nontonnya sudah lumayan lama tapi berhubung baru sempat nulis lagi disini, akhirnya yah baru sekarang jadi post.
Di Flightplan ini, kembali Jodie disandingkan dengan anak-anak. Figuran bocah berusia 6 tahun yang mengingatkan saya pada A Little Man Tate, atau Anna and The King versi baru saat ia beradu akting dengan Chow Yun Fat. Oh ya, bedanya di Flightplan ini anak perempuan. Ini termasuk film yang saya sukai karena masuk kriteria : Ada yang tinggal usai kita menontonnya.
Adegan awal menampakkan Pratt (Jodie Foster) yang menunggu kereta api untuk pulang dan sesaat diacak dengan alur maju-mundur, bergantian dengan kilasan-kilasan saat ia menunggui jenazah suaminya di kamar mayat rumah sakit. Serasa kemudian ia pulang bersama suaminya ke apartemen mereka hingga kemudian ia tersadar dari ketidakrelaannya bahwa suaminya telah mati.
Seminggu kemudian Pratt yang tinggal di Berlin ini berencana terbang pulang ke rumah orang tuanya di New York, bersama anak perempuannya yang berusia 6 tahun, Julia (Marlene Lawston) sekaligus membawa serta jenazah suaminya tersebut. Hingga kemudian setelah check-in bersama anaknya, dan ia sempat tertidur beberapa jam kemudian di pesawat, saat terbangun Jodie tidak mendapati Julia di seat-nya.
Ternyata seluruh awak pesawat dan juga salah seorang penumpang yang ternyata adalah polisi udara menjelaskan bahwa Pratt hanya sendiri, tidak seperti yang diyakininya bahwa ia bersama Julia. Aneh.
Buat saya, tiap potongan adegan dalam flightplan ini dirancang cukup alot dan memicu adrenalin dan tidak tertebak! Penonton dibiarkan menebak-nebak sendiri kebenaran yang sesungguhnya terjadi hingga kemudian satu persatu fakta mulai disuguhkan kepermukaan. Karakter Pratt yang nampak terguncang dengan kematian suaminya tampil dengan baik, terluka namun berusaha tegar.
Sehabis menyelesaikan film ini saya tercerahkan, ternyata bertahan dengan keyakinan diri sendiri di saat tidak seorang pun mempercayai kita, memang benar-benar tak terbayangkan. Semuanya kemudian bergantung pada usaha kita satu-satunya yang berkeras bahwa sesuatu yang kita yakini itu benar adanya. Dan untuk karakter seperti Miss Pratt yang begitu “kuat” dan sebelumnya bekerja sebagai engineer, namun naluri keibuannya begitu kentara dan alami, benar-benar bikin saya jatuh hati. Perwatakan yang bagus! J
Karakter lain yang menarik perhatian saya malah bukan polisi udara, Carson (Peter Sarsgaard), (sama sekali bukan pengaruh protagonist-antagonis), tapi ke Pilot pesawatnya, Captain Rich (Sean Bean). Entah aja, langsung berkesan dari pertama lihat.
. Dan rasanya kok puas banget ya saat menyaksikan tampang merasa-begitu-berdosa Kapten Rich ini di bagian akhirnya.
Anyway, tontonan yang bagus. Recommended.



Pilem cewek? Hmm…
Kemana aja mbak?
*malah OOT*
Btw, soal bertahan pada keyakinan itu kok jadi teringat pada sosok Nabi ya?
ah Hiruta….
*peluk-peluk Hiruta*
saya belum tentu sanggup kalau harus yakin pada sesuatu sementara yang lain bilang itu gak bener….
aaahhhhhh.. mbak jepeeeeeeeee *hug*
sepertinya seru, dicari deh nanti
Tidak selalu apa yang kita yakini dan percayai sama dengan orang lain kan Mbak
dan untuk bertahan dengan keyakinan yang berbeda dari kebanyakan keyakinan keyakinan yang ada memang sulit *baru tahu*
Tapi? bagaimana nasib mereka yang tidak pernah meyakini apapun ya Mbak?
keren banget pas mbak Jodie mengetahui jejak tangan anaknya di kaca jendela pesawat
Sebelumnya buat semua, maaf banget baru bisa balas komentarnya sekarang.
@ manusia super
Gak juga, malah masuk kategori thriller lho, Fadil…
@ dana
Kemarin ngungsi ke Mars bentar, Mas. Lagi mumet di bumi.
Iya juga ya. Beneran deh para Nabi itu orang-orang hebat.
@ itikkecil
Uwaah… *peluk juga*
Saya pernah ngerasa kaya gitu lho mbak pas kelas satu SMU. Yakin gak bersalah tapi cuma sendirian dan sekelas gak ada yang percaya. Ternyata dikerjai sih karena lagi ultah. *sebal*
Hehehe…
@ takochan
Kangen juga!!
Yup, cari terus yaa…
@ Mr.El-Adani
Nasibnya? Hmm, pertanyaan sulit…
@ Heri
Iya. Juga dialog mereka di Taxi. Hehehe.
Astaga! Ternyata saya telah ketinggalan berita kembalinya Hiruta selama 2 minggu!
Happy to see U again…
Flightplan? Ah, thriller yang keren. Sayang, pesawatnya fiktif…
Hohoho, bagian yang paling menantang dari “meyakini sesuatu” justru adalah “menjadi beda sendiri”…
keren bangettttt deh pokoke.
gw juga cinta abiessss.