Untuk slogan yang sering digadang-gadang banyak orang tentang “memaafkan tanpa melupakan” atau “memaafkan berarti melupakannya sekaligus”, keduanya seperti frase tak berasa buat saya. Paling gak untuk saat ini. Entahlah, mungkin terdengar seperti curcol? biar saja lah kalau begitu.
Kalau diingat-ingat, saya agaknya bukan tipe orang yang pendendam atau yang sulit memaafkan. Tapi entah juga, ada kejadian yang membuat saya tak bisa lupa, menjadikan saya lebih banyak belajar, lebih berhati-hati, yang bermuara pada berkurangnya intensitas interaksi. Ketika diperhatikan, sebenarnya bukan disengaja untuk diperlakukan sedemikian rupa, namun terjadi begitu saja. Ketika disadari, ternyata sudah berlaku begitu.
Benar sekali jika ada yang bilang, kalau berkenaan dengan perkara hati, konflik perasaan, akan sulit menimbang-nimbang dengan batasan yang jelas. Ketika kondisi hati sedang pas, kompak dengan fikiran, semua bisa dilihat dengan objektif dan lapang. Sekali waktu kondisinya tidak begitu, terasa sekali ada hal-hal yang pada state tertentu mulai menimbulkan gonjang ganjing tak jelas, rasa enak tak enak dan hal-hal semacam itu lah.
Untuk sebuah kejadian beberapa waktu lalu yang jika suatu waktu kembali terlintas di pikiran, saya menganggap dan meyakin-yakinkan diri saya bahwa semua sudah selesai dengan baik. Tak ada yang perlu dirisaukan lagi. Tentang hal-hal seperti komunikasi atau interaksi yang tidak bisa kembali seperti dulu-dulu lagi, saya mencoba menerimanya dengan begitu adanya. Saya tidak mau lagi terlibat emosi dengan hal-hal yang membuat saya tidak nyaman tiap kali teringat kejadian ini. Sampai hari ini pun dibilang paham dengan apa yang terjadi, saya sendiri meragukannya. Dibilang tak paham, beberapa topik yang memicu hal ini terjadi sangat jelas merusak batas kenyamanan saya. Hingga kemudian, saya pun menasehati diri untuk tidak terlalu memikirkannya, bahkan lebih jauh lagi, melupakannya sebisa saya.
Ohya, ini bukan hal semacam kecenderungan perasaan laki-laki ke wanita, bukan hal-hal semacam itu. Lebih ke cara berkomunikasi dan berinteraksi seseorang itu, yang secara pribadi membuat saya tidak nyaman. Seseorang yang notabenenya adalah adik angkatan di jurusan saya ketika saya masih kuliah dulu. Berulang kali terjadi konflik-konflik kecil, yang awalnya saya anggap bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, jadi biar begitu saja, dimaafkan lalu kembali biasa. Dan lucunya, yang terjadi seterusnya adalah, tiap kali saya memaafkan kesalahan-kesalahan itu, hal-hal aneh yang dilakukannya makin bermunculan, dan tebak… makin parah. Bukannya tidak pernah dibicarakan. Pernah, bahkan beberapa kali, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Yang berujung pada hal yang mencengangkan, ketika dibicarakan bukannya makin baik tapi makin membuat saya tidak mengerti dan kesal.
Sampai pada titik ini, saya mencoba meriviu ulang hal-hal ke belakang. Hingga akhirnya terjadi hal yang cukup serius, kalau kata sahabat saya, kembali orang tersebut bikin ulah. Saya terfikir satu hal, jika saya memang tidak nyaman berinteraksi (katakanlah berteman, karena bagaimanapun, kami pernah kuliah di Jurusan yang sama) sebaiknya saya memang membatasi langkah saya dari interaksi dengannya. Karena mungkin yang menjadi masalahnya adalah, karakternya yang menurut saya agak menyebalkan tidak cocok dengan saya , dan cara interaksinya yang kurang sopan, yang menjadikan saya lebih memilih menjauh. Bukan masalah kesalahan yang dia perbuat sekali atau dua kali. Umm, bagaimana ya menjelaskannya, sulit juga ya ternyata.
Sampai saat sekarang pun, saya bersikap datar tak menentu. Tak menentu karena saya mencoba bersikap biasa, walau jauh di hati saya, saya tidak bersikap natural terhadap orang ini. Saya memilih menolak memberikan alamat blog saya ini misalnya ketika sempat ditanyakan olehnya. Saya juga memilih tidak menambahkannya di list teman di salah satu akun jejaring sosial saya. Pernah ada di list dulunya, tapi dengan sangat menyesal dan saya ingat sekali, sepertinya saya menghapusnya dengan penuh keyakinan. Berkali pun permintaan add-as-friend-nya saya abaikan. Entahlah, bukannya tidak dimaafkan, tapi berulangkali saya menjelaskan tiap kali dia mendesak penjelasan, ini pilihan saya untuk menjaga kenyamanan saya, dan saya ingin pilihan saya kali ini dihargai. Atas apapun alasannya saya belum berfikir untuk merubahnya. Jika bertemu, hanya sekedarnya saja. Sekedar yang benar-benar sekedarnya.
Hingga kemudian ketika “forgiven not forgotten” digadang-gadang lagi, saya hanya bisa tersenyum, walau mungkin dalam hati. Mungkin benar juga, saya sudah memaafkan semuanya, mencoba mengikhlaskan yang pernah terjadi, melapangkan hati untuk hal-hal yang pernah begitu merong-rong kenyamanan saya, tapi entah mengapa, beberapa hal masih bisa saya ingat dengan jelas. Oh well, call me whatsoever, but yes, sometimes I remember bad thing as well as the way I keep good thing inside my mind and heart. Tapi… hei, ternyata ada perubahan terbesar dan sangat saya syukuri. Rasa tertekan tiap kali nama atau kejadian yang berhubungan dengan sosok itu disebut, sudah menguap entah kemana. Mungkin waktu memang benar sangat menolong dalam banyak hal. Bahkan ketika ada secuil perasaan menyayangkan ketika salah satu adik angkatan lainnya yang begitu mengaguminya dan kemudian menaruh hati padanya dengan alasan bahwa dia aneh dan misterius, saya bisa cukup biasa untuk kemudian bilang, “Toh tiap orang memang beda-beda”.



Kayaknya OOT, tapi sekadar pengen berbagi…
Dulu sekali, waktu masih kerja di radio, seorang pakar motivasi pernah membagi pribadi manusia ke dalam tiga level; personality, character, dan temperamen. Ibarat gunung es, personality itu yang terlihat di permukaan, sementara temperamen tertanam jauuh di dasar lautan.
Personality gampang dipalsukan, dan manusia cenderung memanis-maniskan personality, apalagi di hadapan orang yang masih kurang dikenal.
Temperamen, di sisi lain, sangat sulit diubah, sifatnya menahun, dan konstan di manapun manusia itu berada.
Akhirnya, hanya karakter yang menjadi patokan saya dalam menilai seseorang, termasuk diri sendiri. Karakter yang baik masih akan tetap bercahaya, sekalipun temperamen seseorang, misalnya pemarah.
Saya setuju, karakter setiap orang memang berbeda-beda; mengenali berbagai karakter manusia akan membantu kita menentukan sikap yang paling tepat dalam berhadapan dengan orang tersebut.
Dan beberapa pekan yang lalu, saya sempat salah mengambil sikap; saya menegur seseorang yang ternyata tidak sanggup menerima kritikan, bahkan memutarbalikkan fakta kalau sayalah yang tidak mau menerima teguran. Hasilnya cukup menyakitkan, saya diblok dari pertemanan di FB
.
Tapi ya sudahlah, saya pikir, kalau gaya menegur saya yang kelewatan, saya harus introspeksi diri; bersikap straightforward, yang saya kira tak harus menjadi masalah (apalagi kami sesama lelaki), ternyata tak selamanya tepat dipakai ke semua orang, karena toh, manusia tak ada yang sama…
*jadi numpang ngeblog di sini…*
Menurut saya, Hiruta; Mengampuni dan melupakan itu satu urusan, tapi rekonsiliasi itu urusan lain. Keduanya bukanlah urutan mata rantai. Rekonsiliasi atau berhubungan kembali susah dicapai selama efek trauma masih ada. Bukan cuma butuh waktu, tapi pihak yang (dianggap) bersalah juga harus berusaha keras merebut kembali kepercayaan dan rasa nyaman saat berinteraksi. Tidak gampang, memang..
@ Amd
Makasih lho Mas Amed udah mau sharing…
Iya, sering terjadi apa yang menjadi parameter buat kita gak bisa selamanya pas digunakan untuk orang lain juga.
Btw, semoga belum telat untuk ngucapin, selamat menunaikan ibadah puasa ya, mohon maaf atas lamanya saya menjawab komen Mas Amed ini.
@ jensen99
sepakat!! Ini sungguh bukan perkara gampang, ya Jensen.
Mohon maaf saya telat jawabin komennya ya…
@ Arief rakhman
thank you for the star,
salam kenal…