Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2007

Apa yang salah dengan sebuah negeri bernama Indonesia? Alamnya diberkahi dengan banyak kandungan berharga. Namun tatap mata tidak sejahtera dan terluka tetap saja ada. Terus bergelayut disana. Apa yang salah dengan negeri ini?

Ia memang masih negeri berkembang. Tapi mengapa begitu sulit merangkak menaikkan taraf hidup warganya? Ah… tentu bukan salah negaranya. Lalu orangnyakah? Mungkin kurang lebih begitulah. Harus mau mengakui. orang-orang yang hidup di negeri itu yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi disana tentunya.

Kalau ditanya apa yang pertama sekali harus dilakukan agar Indonesia “membaik” keadaannya? Sulit sekali rasanya menjawab pertanyaan itu. Perlu jawaban bijaksana untuk pertanyaan yang terkesan pelik sederhana. Karena rasanya setiap permasalahan memang seperti deadline yang menunggu solusi. Mulai dari segi pendidikan, ekonomi, politik, sosial…semua…semua… Dalam tiap lini kehidupan, Indonesia terlihat carut marut. Duhai, tentu bukan salah nama itu jika ia harus menyandang beberapa predikat tak baik yang didengungkan beberapa lembaga survei. Mulai dari rekor level korupsi yang tinggi di  tingkat Asia Tenggara, lalu di kawasan Asia Pasifik. Apa ini?

Juga angka kemiskinan, lalu pendidikannya. Walau bukan berarti Indonesia tak punya prestasi sama sekali. Bukan menafikan hal itu. tentu kita ingat TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang menjuarai Olimpiade Fisika Internasional kemarin lalu dengan fantastis. Tapi ini tentu kondisi riil sehari-hari dan persebaran tingkat pemenuhan kebutuhan bagi anak didik dan juga kulaitas pendidikan Indonesia yang masih jauh. Memprihatinkan.

Indonesia sungguh mempunyai potensi sebagaimana orang lain dan negaranya miliki. Orang-orang pintar dan “mengerti” kita punya. Anak didik yang giat dan cerdas pun kita ada. Belum lagi back up sumber daya alam yang melimpah-limpah, kurang apalagi?

Entahlah. Mungkin permasalahan di Indonesia terlalu complicated dan sambung menyambung. Namun seperti ada benang merah di tiap kasus yang terjadi.  Moral ! Ya. Moral-lah yang kini tak terkendali dengan baik dinegeri kita. Dekadensi moral bukan yang hingga menjadikan seseorang  dan beberapa lainnya lupa dan tega memanipulasi dana yang bukan haknya. Level moral yang rendah saat ini mendominasi tiap keadaan.  Mereka dengan tanpa malu dan dengan kesadaran penuh melakukan pemerasaan berkedok potongan atau komisi di tiap bantuan. Entahlah, sulit sekali menjelaskan fenomena yang satu ini.  Bagaimana mungkin masih mau menggelapkan dana bantuan untuk korban bencana alam misalnya. Bantuan yang jelas-jelas untuk orang yang sedang sekarat, sedang berusaha memulihkan trauma, sedang berusaha mengembalikan kesadaran dan azzam kuat untuk kembali menjalani hidup seperti semula dengan susah payah? Mereka masih mau memakan dana itu? Ah, Sulit dipercaya memang tapi seperti itulah adanya. Inilah Indonesia.

Sungguh, bukan salah nama Indonesia jika ada warga miskin yang merasa kecewa dengan apa yang terjadi. Dan terkadang mereka merasa tak ada solusi konkrit dari pemerintah. Juga bukan salah nama Indonesia jika para guru masih tak jelas nasibnya. Padahal di tangan mereka lah, negeri mempertaruhkan masa depannya. Pendidikan adalah ujung tombak melakukan pembangunan, membangun peradaban yang lebih baik. But, once again, This is Indonesia.

No doubt in it. Negeri ini masih ada dalam peradaban dunia. Selama masih ada keinginan orang-orang yang berhenti berharap selama itu pula pintu kemungkinan menuju lebih baik terbuka lebar. Negeri ini belum terlalu buruk dan hancur untuk ditangisi. Masih begitu banyak peluang yang ada untuk memperbaiki saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

Hhhh…apa ya? Saya selalunya yakin koruptor itu memang banyak di Indonesia. Orang-orang tak jujur dengan amanah yang mereka emban juga banyak dan ada dimana-mana. Orang-orang tak ikhlas bekerja juga berserakan. Orang-orang yang asal kerja dan asal bersuara juga masih banyak jumlahnya. Orang-orang dengan moralitas yang meragukan juga hidup di negeri ini, termasuk juga orang-orang yang mungkin tidak sadar mereka sedang “melubangi kapal” negeri dengan usaha mereka sehari-hari…

Sebagaimana juga yang saya yakini bahwa masih begitu banyak orang jujur hidup disini. Begitu banyak orang yang bekerja dengan bersih juga dengan dedikasi sepenuh hati. Mereka masih hidup di Indonesia. Begitu banyak guru yang bekerja membangun peradaban intelektual dengan kerja nyata dan sungguh-sungguh. Juga orang-orang yang membenci kerja tak halal dan tak jelas tersebar di seantero Indonesia. Mereka masih hidup dan senantiasa menganyam kehidupan dengan cara yang benar dan bermoral. Masih banyak orang-orang baik yang mungkin kita tak mengenalnya.  Mereka yang juga punya azzam kuat suatu saat Indonesia bisa bebas dari moralitas memprihatinkan beberapa (eee..include gak ya segitu?) warganya.

Ya, kapankah itu? Tentu tak tertebak kapan waktu itu datang. Terus berusaha dan bersiap-siap saja. Bisa jadi saatnya makin dekat. Kita ikut urun peran disana, mempercepat datangnya masa itu atau memperlambat. Dengan kebiasaan sehari-hari kita. Dengan kebersihan dalam tiap kerja kita. Dalam tiap kesungguhan usaha kita. Semuanya…Kitalah makhluk Indonesia penentu itu semua.

Iklan

Read Full Post »

Garing…

Hmm..akhir-akhir ini saya merasa aneh sendiri. Entahlah. Ke kampus ogah-ogahan. BAngun tidur males-malesan. Kenapa ini? Sungguh tidak nyaman rasanya. Seperti kehilangan sesuatu? Apa ya? hih…masih tak tahu…

Malam kemarin di kaikan gaduh benar. Ada party di bangunan B. Musik dan dansa dansi jelas ada. Dari balkon kamar di lantai tiga, ngeliat ke bawah..Waduh orangnya tumpek blek tawa dan gaduhnya ke luar. Kenapa gak buat di lobby lantai satu aja coba? Kan lumayan teredam suasana gembira ributnya itu? Walhasil, tidur jadi gak nyenyak (-__-). Hingga dinihari musiknya masih nyaring banget.

Kayanya Orang Jepang yang apartemennya di samping asrama ikut terganggu deh. Japanese itu biasanya gak terlalu suka dengan ribut-ribut dan bising-bising. Apalagi udah larut malam gitu. Pernah pas pertama salju turun, malam itu bertepatan dengan pestanya student yang Chinese, mereka buatnya di lobby bawah. Begitu salju turun, ada yang jejeritan, trus menjelang jam 12, pada main lempar booa salju di halaman kaikan (asrama). Wheee..saya diajakin main tapi gak tahan, cuma lihat-lihat aja dari balkon kamar sambil ngambil-gambil gambar. Dinginnya ampuuun…! Dingin berrraatt…kok bisa coba pada nekad main bola salju. Hiiih… Hidungnya berdarah, sedikit sih 😛 ,  kalau suhu drop cepat gitu… (Tapi tetap aja, musim dingin is the one i`d like the most).

Lanjut lagi, waktu lagi seru-serunya main sambil sesekali ditingkahi teriakan, jeritan dan tawa tiwi, ada Okaasan yang datang, katanya sih jangan terlalu ribut, soalnya ini udah malam dan banyak yang udah pada istirahat. Aaaa..anak-anak pada ciut plus malu dan segan dan entah apalah lagi. Kena tegur waakss. Mereka masih melanjutkan main untuk beberapa saat lamanya dan tentunya dengan minimalisir bunyi-bunyi apapun. Hi hi…dasar tuh. Lagian benar kan, masa main-mainnya udah larut malam kaya gitu tapi berasa masih siang bolong. Terang aja tuh Okaasan negur. Pasti udah kesal banget. Jadi pelajaran juga nih buat siapapun.

Lagian…gimana ya…Saya juga bisa ngerasa sendiri, terkadang anak-anak asrama ini kalau udah bikin acara, entah apaa aja, pasti full music dan dansa dansinya gak ketinggalan. Trus berisiknya tuh bisa sampai dini hari. Kaya hari ini nih. Beruntung dengan alasan capek karena telat balik dari lab, saya bisa absen dari acara itu. Kalo gak… saya bisa kelimpungan sendiri.

Hmm…saat budaya dan gaya hidup berbeda ya? Ini lah salah satu tantangannya. Haus kuat-kuat jaga diri. Paling tidak,  kita berusaha untuk tidak terpengaruhi atau tercemari. Berat memang. Halaaaa..hidup kan memang ga selalunya mudah. Kalau semua lancar-lancar aja ya bukan dunia namanya…

Read Full Post »

Kita Beda, Boleh?

Belakangan saya sering blogwalking ke beberapa blog yang pengunjungnya tuh rame di tiap postingan. Seleb blog kali ya?Dan saya menemukan hal unik dan berbeda yang belum pernah saya temukan  sebelumnya (atau saya kali yang telat tahu? he he…). Di beberapa blog, postingannya tali temali antara satu dengan yang lain. Blogger yang ini mereview postingan blog lain lalu nanti blogger lain memposting hal senada di blognya. Komentar? wah, di beberapa blog, komentarnya melonjak naik dan fasilitas komentnya benar-benar jadi ajang diskusi. Ada yang pro ada yang kontra malah kayanya terkesan ada yang “musuhan”… he he..itu analisa saya saja, semoga aja misuh-misuhnya ga beneran.

Intinya yang satu berbeda dengan yang lainnya. Kita bisa faham lah antara blogger yang satu berbeda logika dan cara pandang, tapi kayanya sikap menerima perbedaan agak minim tuh.  Siapa yang salah? Wah, saya jadi nyesal juga kenapa pertanyaan ini bisa muncul. Sekedar menanyakan siapa yang salah dan siapa yang benar lalu justifikasi, ini salah dan ini yang benarnya, khawatirnya malah tak memberi solusi konkrit.

Bijak saat menghadapi perbedaan. Lebih kurang itu dulu ya kayanya. Saat orang lain berbeda dengan kita atau ide kita, bukan langsung berarti mereka salah atau patut disalahkan bukan? Walau bisa juga dipahami bahwa yang mendasari orang untuk memberi kritikan baik secara halus ataupun tidak adalah karena ketidaknyamanan saat mendapati hal-hal yang secara prinsipil berbeda dengan yang diyakini. Bisa dipahami. Namun, penyampaian yang kurang diplomatis (he..?) dan men-judge ide yang mengemukakan juga jadinya tidak efektif. Hasilnya malah atmosfir diskusinya jadi kurang bersahabat.

Hmm…Ini cuma an introduction aja dulu. Belum kesimpulan final since i am still in looking forward the lately progress. Bisa saja analisis ini terlempar mentah dengan kemungkinan yang terjadi di kemudian hari.  Nanti Insya Allah saya akan nulis juga bagaimana perkembangan selanjutnya…

Whatever, nice blogosphere. Sarat ide dan hal unik yang mungkin tak tersentuh sebelumnya.

Read Full Post »

Pindah ke Lain Hati

Apa coba? Sungguh judul yang ngasal. Ffuuihh..sebenarnya saya sedang khawatir saja. Sensei memaksa menyarankan saya untuk mengganti topik riset ke Zirconium. Padahal saya sudah terlanjur jatuh hati dengan Isotop Calcium dan mulai rajin (kata siapa coba?) ngulik-ngulik bahan yang ada hubungannya dengan research itu. Tapi sekarang? Hh…harus mulai lagi dari awal dengan Zirconium itu? *Kecewa*

Tapi kan kita harus lihat sisi lainnya juga. Ada hikmahnya tuh. Daripada bersusah berat mengerjakan semuanya tentang Isotop Calcium dengan pendinginan laser itu sendiri karena Horiuchi-san yang anak Master itu pun sudah berpindah mengerjakan Zirconium. Jadi mungkin sensei kasihan juga kalau saya yang “anak bungsu” di lab ngerjain riset Calcium itu sendirian. Sensei tetap bilang kalau ada apapun jangan sungkan tanya ke Horiuchi. Haiyaa…mungkin sensei menilai diriku agak pemalu? heh heh he…padahal saya segan nanya karena pasti Horiuchi akan menjawabnya dengan Japanese lancar yang mengalir seperti air. Tinggal saya yang bengong dan memaksa tersenyum sambil menggeleng..”Wakaranai (gak ngerti..). Perjuangan selalu berat ya Allah? Kuatkan, semoga langkah ini sampai hingga ke tujuan.

Ah, tidak ada yang sulit dan berat jika kita yakin dan mau belajar keras. Yakin saja lalu ya..lakukan!!

Read Full Post »

Saya coba bahas sedikit tentang Teknologi Nuklir Indonesia ah…Ini cuma analisa saya saja. Mencoba mengejawantah secara objektif tapi kalau nanti terasa begitu subjektif ya..maaf saja. Kan seseorang itu memang dipengaruhi oleh gaya berfikirnya sendiri…(hehe… alesann).

Heeh?!! Indonesia sudah mengembangkan Nuklir? Kerja sama bareng siapa? Udah berapa lama? Sejauh ini bagaimana perkembangannya? Adakah pihak-pihak yang tidak suka dan merasa “kecut” jika mengetahui Indonesia sudah mengembangkan Sistem Teknologi Nuklir ini?

Hmm..kurang tahu juga apa yang akan terjadi jika akhirnya Indonesia berhasil built-in Power Energy ini. Satu hal yang perlu dicatat, Iran mendukung rencana Indonesia. Tapi masih tak tahulah. Toh, November kemarin, banyak yang tak setuju dan melancarkan protes keras saat Menlu Hasssan Wirayuda mau menandatangani kerja sama bidang pengembangan Energi Nuklir dengan pihak Australia. Alasannya, masalah safety, Kondisi geologi Indonesia sangat rawan untuk membangun central energi nuklir ini. Again, entahlah… (tak bertanggung jawab kah jawaban macam ini?)

Kemarin, saya mengikuti seminar Energi Nuklir. Kebetulan dua lab di Departemen Electrical Engineering, salah satunya lab kami, kebagian jadi panitia. Pematerinya Jacques Bouchard, dari Prancis. Bouchard ini chairmannya GIF (Generation IV International Forum). Forum pengembangan teknologi nuklir yang hingga hari ini beranggotakan 13 negara. Ada Jepang disana dan ehm..tentu saja ada USA. Hih hih..gak tanggung-tanggung, ketuanya langsung yang ngasi materi. But, …hmm hmm…
Let I laugh for a while…whoa ho ho…

Mmm…bayangkanlah, semua slide presentasinya English Full, Bouchard menyampaikannya dalam bahasa Perancis dan translaternya menerjemahkan ke bahasa Jepang. Whee..wut de conference, men!!
Aneh aja sebenarnya. But let it be. Saya malah lebih tertarik menceritakan saat diskusi dengan para mahasiswa. Saya menanyakan bagaimana manajemen safety yang dilakukan oleh pemerintah Perancis sejak tahun 1985 hingga sekarang dalam proses pengembangan teknologi “mendebarkan” satu ini.
 

Tentu saya jelaskan juga, bahwa salah satu alasan kenapa banyak masyarakat di NEGARA SAYA menolak dibangunnya site untuk Power Energy ini adalah karena masalah keamanan apalagi terkait kondisi geologi Indonesia yang rawan.
 

Tanpa dinyana, dia tanya lebih dahulu dari Negara mana saya berasal, Indonesia? Wow, actually Indonesia really has a good point to develope this Nuclear Technology, like China. So many gold are there, yah…bla bla bla”
Dia juga mengurai panjang lebar bahwa tidak ada kaitan antara kondisi geologis dengan level safety utk mengembangkannya. But, ujungnya, Bouchard sempat menyinggung bahwa Indonesia lain lagi masalahnya, (hih hih..daku orang Indonesia merasa “tersentuh”) tersandung pada beberapa persoalan dalam negerinya. Salah satu yang terkait adalah manajemen sumber daya alamnya (yang melimpah) yang kurang terorganisir dengan baik. But, here we are talking about future, so why not?! Sambil tersenyum “manis” melirik ke kiri kanan stafnya. Halaa…pandai benar ini orang diskusinya…
 

Salah seorang student Malaysia yang bersebelahan dengan saya mengajukan pertanyaan yang hampir sama, memungkinkan kah apabila Malaysia berniat mengembangkan system Energi Nuklir ini? Jawabnya pun kurang lebih sama. Haiyaa…
 

But, ada hal menarik yang selanjutnya terjadi, karena salah seorang mahasiswa Master asal Syiria yang awalnya bertanya, kembali mengacungkan tangan dan mengatakan bahwa menurutnya, pertanyaannya yang pertama belum terjawab. Siapakah yang punya wewenang dalam percaturan politik dunia untuk memutuskan bahwa suatu negara boleh mengembangkan system energi ini sedangkan negara tertentu lain tak boleh? Kebijakan seperti itu siapa yang memutuskan? Tapi Bouchard tak menjawabnya dengan jelas. Kurang tahu juga kenapa. Tapi, anak Master itu terakhir diskusinya dengan saya. Katanya, bagaimana pun Bouchard akan memilih tidak menjawab pertanyaan itu secara terang-terangan. Akan ada banyak rentetan lain yang mengikuti jawaban pertanyaan itu seandainya nanti Bouchard menjelaskannya sejelas-jelasnya. Ada sesuatu? (Halaah..saya paling tidak suka konspirasi nih)
 

But, logic saja sebenarnya, diantara 13 negara yang join di generasi IV itu, Iran yang nota bene nya mmg lagi sibuk-sibuknya dalam pengembangan teknologi ini malah tak ada disana. Australia yang menggagas kerja sama Nuklir dengan Indonesia juga gak ada tuh. Anggota Generasi IV yang dibawahi Bouchard sekarang ini didalamnya ada Jepang, Prancis tentunya, USA, Inggris, Switzerland, Korea Selatan, Afrika selatan, Russia, China, Uni Eropa, Kanada, Brazil dan Argentina.
 Yup, tidak ada Indonesia. Belum?

Hee…berharap suatu saat ada nama Negara kita disana? Hmm…tidak mesti disana sebenarnya. Saya pribadi malah memang sangat ingin Indonesia mengembangkan Teknologinya. Nuklir? Yah, tidak hanya Nuklir saja. Itu sumber daya alam melimpah-limpah tapi kita hanya duduk manis dan senantiasa menganggukkan kepala bahwa kita punya banyak “simpanan”. Bahkan seorang analis Jepang menyebutkan bahwa sebenarnya, bila manajemen negeri kita baik, khususnya ttg SDA ini, warga Indonesia bisa hidup santai-santai (ongkang-ongkang kaki) hingga tujuh turunan saking kayanya negeri dengan kandungan alam.

 Well, Orang Pintar pun sebenarnya kita punya banyak. Juga orang-orang yang sadar bahwa banyak ketidakberesan yang perlu dibereskan. Jadi mungkin tinggal memikirkan cara yang tepat saja? So, bolehlah pertanyaannya selanjutnya seperti ini,
Kapan ya kita bisa berubah? Mmm..gini gini…pertanyaan ini bukan seperti menjual mimpi rapuh kok, tapi lebih kepada bahwa masih begitu besar peluang di depan kita dan banyak harapan disana. Tinggal kitanya nih, para hidup di sini untuk berbuat.
Halaaa…berteori selalunya lebih mudah daripada prakteknya. Tak apa, jalankan saja teori yang sudah ada itu sebisa kita. Karena hingga hari ini masalah kita adalah selalu “malpraktek” saat tiba di lapangan.
Oh ya, balik lagi ke Seminar Nuklir tadi, India ternyata gak ada ya di GEN IV itu. Baru nyadar saya. Padahal kan Nuklir India udah keren banget sekarang. Satu lagi, Iran tetap bersikukuh kan masalah Nuklir itu? Logis juga kenapa negeri Ahmadinejad ini tak masuk perhimpunan itu. Logis tidak?

Read Full Post »

What a white Day

_2030180.jpg

Hei!! Akhirnya dia datang juga hari ini? Setelah beberapa hari bertahan dalam enggan. Thanks sudah mau datang. Did you know? I miss you already, since the first time a saw you in the night. So white and calm, but The God also give you a very strong cold, whatever you are, I miss you already. Let`s keep this friendship although just for while…

Hmm…It seems like i wanna walk with you along the street today. Would you?

_2030212.jpg

Read Full Post »