Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2007

Spring is Coming…

yokatta!! Semester baru semangat baru…

Harusnya postingan ini bisa lebih panjang, mengingat list yang harusnya meramaikan sudah kedip-kedip mata menunggu dituliskan. 

Yappari kono jikan ga nai kana…(Halaah. Alasan deh selalu, memang kayanya gak ada waktu… padahal… ūüėõ ).

Beneran, nanti akan kupompa lagi semangat yang turun naik saat ini. Harus…harus..perjuangan hingga ke akhir… yang penting apdet dulu deh walau sedikit, nanti disambung lagi, onegai ne… ūüėõ

Read Full Post »

Menjaga Kesyukuran, sulitkah?

Entahlah…
Terkadang terasa benar ketidaksyukuran diri atas apa yang ada dan apa yang telah diberi-Nya. Begitu pemurahnya Allah. Bahkan malu sendiri saat melihat kesyukuran dan kualitas diri yang masih compang camping begini selama ini.

Kebaikan dan kemudahan yang lapang terus hadir. Bahkan untuk sesuatu mimpi yang agak mustahil awalnya, yang belakangan¬† bergelayut pun jadi nyata adanya. Entah juga ya…karena sampai hari ini pun, logika di kepala masih tak beraturan tempat menyusun potongan puzzle mimpi di dalamnya.

Ya…Adalah mimpi ketika harapan besar itu hadir. Keinginan hati untuk bersama walau sebentar, agar diberi waktu dan kecukupan usia untuk berdiri menatap langit di belahan bumi-Nya bagian ini. Berdiri menjejak kaki di daratan ini. Bukan sendiri. Tapi bersama. Selama ini, akan ada bening yang mengalir saat tiap kali menyemai harap itu. Rasa seperti memelihara segunung harap yang terlalu sulit untuk didaki hatta dengan pendakian gigih nan panjang sekalipun. Ya, seperti itulah adanya harap itu selama ini…

Hingga Allah berbaik hati mengirimkan momen ini. Ya Allah…begitu cepatnya doa ini terjawab dan Kau kabulkan ia dengan serta merta. Engkau kirim dua sosok itu ke hadapan. Menjemput tatap mata hangat mereka dan pelukan erat di dua bahu ini. Rindu yang sudah tak berbentuk menjelma bongkahan-bongkahan kecil es yang menjadi air, mengalir, menyusupkan energi lain didalam sini…

Saat menyulam mimpi itu dulu, sempat terbersit, bahwa pertemuan sekejap pun boleh. Asalkan bertemu. Asalkan bisa menatap. Mendengar suaranya. Merengkuh sosoknya. Sekejap saja pun bisa. Tapi Allah berikan lebih dari itu. Lebih dari sekejap. Bersama melepas cerita yang terpendam begitu lamanya, menikmati tawa mereka yang lapang, dukungan yang kuat, keriangan yang hangat, semuanya…semuanya kembali di hari-hari kemarin…
Seperti mimpi saja ini, sungguh…

Maka,
Allah, ampuni atas kekurangsyukuran ini, betapa pemakluman besar-Mu tak termaknai dengan baik oleh kami. Betapa terus Engkau beri kenikmatan dan kemudahan tapi masih saja kami larut, alpa dan jatuh bangun dalam jenak kelalaian. Ampuni kami…

“Maka Nikmat Tuhan-Mu manakah yang engkau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa irabbikumaa tukadz dzibaan…”

Ya, harusnya kesyukuran terus meninggi, walau dalam bagaimana keadaan dan sesuatu apa terjadi…
Mampukah kami menjaga kesyukuran ini Rabbi?

Deep inside my heart, i always can feel many kind of people so warm and behave so friendly…
Terima kasih untuk orang-orang baik dan hangat yang datang dan hadir di kehidupan ini, Allah…
Engkau saja yang menjaga keterikatan hati-hati kami…
Hingga entah sampai kapan…

I`ll be missing you again, like the days before you came, keeping that moment here, deepest inside

See you again soon, someday…somewhere…

Although when the season changes…

Iro iro arigatou ne,
PS :
Terinspirasi setelah pertemuan dengan dua sahabat,  di Nagoya, on last Wednesday, March 20th, 2007

Read Full Post »

Word as sharp as Sword

Ya, sudah lama benar ujar-ujar ini tentang betapa, begitu, sangat, alangkah,  tajamnya kata-kata. So, macam basbang sikit lah postingan kali ini.

Seberapa tajamnya tentu tergantung pemilihan diksinya, gaya bertuturnya, juga ide yang disampaikannya. Hal yang sederhana kalau disampaikan dengan kata-kata yang tajamnya sampai bikin silau (kok silau??!!), akan crash juga akhirnya. Dan tentu, kata-kata yang digunakan punya pengaruh besar terhadap bagaimana tersampainya maksud ke objek yang mendengar (media audio) atau yang melihat (visual) sekaligus membaca, atau yang menggunakan keduanya (audio visual). Jadi, memang bermain benar peranan kata-kata ini.

Nge-blog juga pakai kata-kata…Halaah..iya iya..pakai komputer, laptop, HP…plus pakai fikiran. Dan kata-katalah yang menjadi ujung tombak penyampaian maksud dan pesan sang blogger kepada dunia (you see? Dunia !!)

Dan kata-kata yang akhirnya diputuskan sang blogger untuk berurut dalam baris-baris kalimat di blognya itulah yang kemudian mewakili dirinya bicara. Cerminan isi kepala, paradigma berfikir, hirarki kepribadian pun tertuang lewat kata-kata disana. Mulailah  kemudian para aktifis blogwalking melihat dan membaca sekalian urung komentar disana. Tanggapan ini jelas macam-macam adanya, pro-kontra pun pastinya ada.

Sejauh mana ketajaman kata-kata anda mempengaruhi sampainya maksud ke pembaca? Oh sebentar deh, takutnya malah dikira kata-kata tajam itu sungguhan sejenis kata-kata yang bisa mengiris-iris hati, jantung, perasaan? Bukan laa…ini lebih kepada menukiknya makna dan maksud yang ingin disampaikan, benar-benar sampai¬†dengan tepat ke targetnya.¬†

Untuk cepat tajam gak mungkinlah¬† instan bisa langsung dalam sekejap malam. Butuh waktu, proses dan material pengasahnya tentu. Hingga kemudian kata-kata kita pun mampu mencincang, mengiris, memotong bahkan membabat (lhaa..katanya tadi bukan yang seperti ini maksudnya..gimana sih?) dengan baik. Sila fikirkan dengan gaya sendiri-sendiri…

Oh ya, bedanya sih pedang itu diakui kehebatannya saat ia mampu menaklukkan lawan sang Tuan. Kalau kata-kata hebat ? Ini agaknya sulit diidentifikasi oleh yang Empunya kata secara kasat mata langsung. Bukan hanya logika yang bermain, karena ada hati disana. Bagaimana kata-kata bisa menggerakkan fikiran dan menggugah perasaan? (dia ni tempatnya di hati kan ya? )„ÄÄrasa macam tak ada parameter mutlak karena setiap karakter orang tentu level tersentuhnya dengan ketajaman kata-kata akan berbeda…

Saya mo pertajam pedang kata-kata saya lah dulu… *siap-siap ngasah…*

Does it take time? Sure! Seorang pemecah batu akhirnya berhasil memecah bongkahan batu besar pada hantaman yang ke-100. Tapi bukan hantaman ke-seratus itu yang memcahkan batu itu. So? Ya, Mulai dari pukulan pertama kali, kedua, dan seterusnya lah…hingga pukulan yang seratus, yang akhirnya menjadikan batu itu berkeping hancur…

Eh, tapi mempertajam kata-kata gak mesti lah¬† nunggu hingga postingan ke-seratus baru bisa bilang, “udah tajam…”, sungguh gak mesti sama sekali…

Hmm, di WP ni (versi bahasa Indonesia tentunya), blog yang postingannya udah seratusan,¬†adakah? Kalau¬† misalnya umur blognya¬† setahunan, bablolita (bayi blog di bawah lima tahun),¬† anggap genap 365 hari, kalau rajin ngup-date 3 hari sekali (Hi hi…) pasti udah ada tuh yang sampai seratus…

Eh, Ada nggak? Blog siapa ya? *klik sana sini*

Read Full Post »

Ehm…itu memang salah satu judul drama Jepang yang populer beberapa tahun lalu, mungkin sekitar 6 atau 7 tahun lalu…Sebentar, saya ingat-ingat dulu, waktu itu saya SLTP atau awal SMU mungkin? Ah, lebih kurang begitu, kalau tidak tepat, maaf ya, saya memang tidak berhasil me-recall ingatan saya…(Sorry…)

Drama itu mengisahkan tentang…ah, pasti hampir semua sudah nonton atau paling tidak tahu tentang drama ini. Haiyaa..kenapa pula membahas drama kisah cinta coba? Eh, tenang…tenang, lanjutkan membaca dulu…

Dalam banyak hal dan keadaan saya memang kurang terstruktur dengan baik (heee…?). Kali ini mungkin saat nge-blog. Agak lain juga sih ketika menuliskan judul postingan itu, sempat membayangkan, jangan-jangan ada yang merasa seperti gejala mual, pusing, eneg, atau langsung mau muntah darah (ah..ah..jangan ya…) pas melihatnya. Atau bisa juga yang seperti ini, penasaran, ingin tahu kisah cinta siapa yang dibicarakan, si blogger kah, atau seorang yang mengamanahkan kisah cintanya saat bertemu dengan si blogger di salah satu sudut Tokyo mungkin. Halaa…ga jelas. Sudahlah…identifikasi reaksi pembaca saat melihat judul kita cukupkan.

Gini, sebenarnya tidak ada siapapun yang tiba-tiba naksir dengan siapa yang lainnya atau juga jatuh cinta saat ke Tokyo beberapa waktu lalu. Tidak ada sama sekali. Percayalah. Emm..setidaknya begitulah yang saya tahu. he… he…

Kami pergi ke Tokyo bukan karena travelling menghabiskan masa Haru Yasumi (Libur Musim Semi). Ada seminar Nuklir dan kunjungan ke Nuclear Power Station-nya Jepang di Ibaraki dekat Tokyo. Hanya dua hari dan sensei berbaik hati memberikan keluangan waktu beberapa jam pada hari terakhir bagi yang mau jalan-jalan seputar Tokyo. Masing-masing pun berpencar dan wajib kumpul kembali di bandara pada waktu yang ditentukan.

Kami bertiga memutuskan untuk ke Tokto Tower, dan ternyata ada pula anak-anak yang satu lab dengan kami yang juga mau kesana secara mereka belum pernah pergi sebelumnya. They are Japanese all. Rupanya ada juga orang Jepang yang belum pernah kesana, awalnya begitu pikir saya, namun kemudian..ah itu kan sama sekali tidak aneh, sama seperti saya yang belum pernah ke Tugu Monas misalnya, dan mungkin juga banyak anak Indonesia lainnya…

Tokyo Tower…A really nice symbol of Japan. It is not only being popular just because of people says manytimes, but its interesting and wonderfull itself made it really has been like what people say. Ah, begitulah lebih kurang. Dunno how to figure it by my poor words… It seems like I have nothing more to say for …hiks…

p3020069.JPG

Its tall is¬†333 m, since its opening in 1958, this tower has been the world`s tallest self-supporting steel tower. Wahahaha… Keren. Lebih tinggi daripada menara Eiffel Paris yang tingginya 320 meter. Beratnya 4000 ton, dan menghabiskan 28.000 liter cat atau sama dengan 140 drum cat (gak tahu nih drum standar mana…). Catnya itu memang cuma warna orange dan putih mengikuti ketentuan Hukum Sipil Penerbangan (Civil aeronautic Law).

Dari Tokyo Tower, dengan ketinggian 250 meter di atas sana melihat pemandangan dari atas kota Tokyo menjadi keniscayaan. Bukan langsung dari 333 m, karena memang 250 meter itu batas ketinggian maksimal yang dibuka untuk umum, mereka menyebutnya Business hours, dan ada tingkatannya, yaitu Special Observatory (250 m) dan main Observatory (150 m). Kalau ada yang high-phobia (takut ketinggian) pasti tantangan besar pas di lantai satu tingkat di bawah Main Observatory. Di salah satu bagian lantai tersebut, lantainya diberi kaca, jadi tampaklah hingga ke bawah sana dengan jelas. Kami sempat shock semua kok awalnya, gak berani menjejakkan kaki ke kaca tersebut, memang gamang rasanya. Namun setelah dicoba-coba… wah…keren kali…Subhanallah, beneran keren. Pas lihat ke bawah… T_T (aslinya takut campur seram dan exciting meluap).

Hmm…jadi begitu saja kisahnya…Semuanya normal-normal saja. Yang membayangkan bakal mendapati Love Story gara-gara judul gak mutu itu, maaf ya…maaf deh..soalnya seperti yang saya katakan, seseorang itu terkadang kurang terstruktur dengan baik sewaktu-waktu. Dan waktu ini, sayalah orangnya…Really, occcasionally i am unpredictable one, even by myself…

Eh, bentar, siapa tahu mungkin sebenarnya memang ada kisah “seru” itu di sana…Who knows? Mmm..misalnya ada yang habis nikah trus kesana, ah…ngawur !!
ūüôā¬†

Read Full Post »