Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2007

Kembara Akal Yang… aneh?

tadaima1.jpg

Maaf, tempo hari, belakangan ini saya …

Brakk!!!

Lagi! Mencari hal-hal yang bisa dilabeli sebagai alasan. Mencari kambing hitam? Bolehlah disebut begitu.

Baik! Dengan beberapa hari, -hmm hampir genap dua minggu pun ūüė¶ – tidak ada entry baru setelah episode mengenaskan itu, akhirnya dengan sukses muncul kembali, Alhamdulillah… lengkap dengan beberapa list yang berhasil dikambinghitamkan. Betapa baik hatinya manusia satu ini… :mrgreen:

Katanya, makin dengan percaya diri seseorang me-list-kan berkarung alasan atas satu atau lebih ketidaksuksesan atau pada suatu masalah, makin tampak kerdil sosok itu. Mengerikan ini !!

Halaa… kenapa macam itu pula? Kerdilkah saya karena beralasan tidak bisa nge-blog dengan beberapa sebab penting? Begitukah kesimpulannya? Oh,¬†tentu saja¬†¬†berikut¬†beserta agenda malang melintang di blogosphere dan urun koment pun saya telantarkan. So, kerdilkah saya? Saya fikir, tidak penting lah, penegasan itu. ūüėÄ

Tapi begini, kasus saya ini agak beda. Sungguh! Jadi pengecualian saja ya?! *bletak*

Oke oke… saya tidak beralasan deh, mau mengaku saja bahwa beberapa waktu belakangan beberapa kejadian tak baik nan tak beruntung terjadi. Tak semua objek penderitanya saya sih tapi terkena imbas deritanya. Sama saja ya? ūüė¶

Kenapa ya kita tak bisa selalu mengemudi kontroling isi kepala kita? Isi otak kita? Kenapa? Tiba-tiba saja dalam kurun waktu tertentu terjadi hal aneh, asing atau apalah …¬†yang tidak menyenangkan, tidak menguntungkan, membuat tidak nyaman¬†dengan begitu saja. Kalau boleh memilih “mereka” itu datang secara beruntun atau satu satu, agaknya pilihan pertama langsung terasa jauuuh lebih baik dan menenangkan. Sayangnya tidak ada pilihan. Begitu saja terjadi. Bisa satu satu, bisa beruntun. Tak ada aba-aba atau isyarat…

¬†Jadi begitulah, untuk ukuran anak seusia saya (???), masalah-masalah itu berat. Oh, harap diingat, kemampuan serta daya tahan tiap tubuh dan fikiran tentu saja berbeda dan relatif tiap orang kan ya? Buat saya itu tidak mudah dan bisa menjelma masalah, tapi¬†buat orang lain bisa jadi bukan apa-apa. Sebaliknya pula bagi saya¬†misalnya mengomentari¬†sesuatu seperti… “oh…cuma gara-gara itu?”, buat seseorang yang lain bisa jadi seperti diminta mengangkat bukit Sinai (bisa jadi lho!!). Relatif memang.

Keadaan begini agaknya lumrah terjadi….(who ho ho…coba cari kawan pula??). Sekali waktu atau beberapa kali dalam hidup kita, ada kalanya kita merasa buntu dan di dera masalah. Ada yang berlarut-larut hingga jadi seperti larutan jenuh kimia, ada yang selesai dalam waktu singkat. Tergantung jenis masalah dan penyikapan orang yang “jatuh” dan atau tertimpa tangga ini. Bisa jadi ada kan? Bisa jadi. Dan beberapa waktu lalu, “mereka” ini menyambangi saya. Mau menolak tentu tak bisa. Diterima, sudah seharusnya, lhaa memang jatah datangnya ke saya.

Beruntun. Tidak mengenakkan. Mulai dari perkara fikiran sampai teknis. Buerrrat!! Tidak bisa fokus. Termasuk berimbas ke nge-blog. Cuma sempat reply koment. Karena seperti merasa ada yang tak nyaman saat ngecek mailbox ada koment yang masuk ke blog. Jadi aktivitas blogging ini memang telantar beberapa waktu.

Sebenarnya tidak nyaman, tapi karena ketidaknyamanan ini pun, tak boleh buat apa-apa. Masalah yang tali temali saja belum tuntas, jadinya menyepilah saya dari blogosphere beberapa waktu lalu. Walau sempat menjenguk beberapa tanpa jejak koment disana. Sungguhan parah ini.

Iya. Terkadang kita tidak bisa menguasai kembara akal ini. Hatta ini punya pribadi sekalipun. Relevansinya juga ke hati bisa jadi…

Sudahlah. Seaneh apapun keadaan yang mengenaskan itu. Akhirnya satu persatu pamit pergi. Fffuihh. Katanya lagi masalah itu bisa mendewasakan diri yang ditimpa masalah. Agaknya saya termasuk yang setuju. Kalau hidup mengalir begitu saja, tidak ada yang berlaku, rasanya kurang seru. Aha… disamping kurang seru, ada satu tambahan lagi, bukankah tanda sayangnya Allah salah satunya ditunjukkan dengan menguji daya tahan kita dengan masalah, dengan ujian? Whuu, beda kasusnya lagi dengan cari-cari masalah kan ya? Beda itu!

Sungguh, kembara akal yang aneh. Jadi, penyebabnya pun bisa ditilik juga sebenarnya. Tidak bisa tidak, saya ikut andil dalam rangka kedatangan masalah itu. Agaknya lebih baik disimpan. Rahasia saja ya. Bisa jadi ceroboh, tidak sabar, kurang perhitungan dan mungkin banyak lagi. Aaa…kalau dilistkan semua¬†mana yang tinggal untuk disimpan?

Buat yang sampai ngopi dan gelar tikar, yang bawa payung segala sekalian katanya ada janji dengan teman di sini. Bahkan ada yang kesemutan … juga semuanya… Thanks alot. Saya sudah balik ke rumah… ūüôā

Note : the picture is taken from here

 

Iklan

Read Full Post »

Mengenaskan…

Parah…

Menyedihkan…

Lebih parah lagi entry ini gak lengkap

ūüė¶

                                                 : : untuk hari ini : :

Maaf, belum sempat Up date lagi, Insya Allah segera begitu ada kelapangan waktu yang tepat dan kondisi yang “terstruktur” kembali. Segera kok, maaf jika membuat anda jadi menunggu

Read Full Post »

Tentunya momen ini diingat banyak orang. Terlebih lagi, setelah peristiwa ini terjadi, menjadi salah satu faktor Jepang melepaskan Indonesia sebagai daerah jajahannya.

Pelajaran sejarah pahit yang harus diterima Jepang sebagai salah satu konsekuensi peperangan. Putar jam waktu ke masa Agustus 1945 sebentar ya…Walaupun bukan sejarawan, (jauh banget dari sana), juga kalau ada yang salah-salah kesebut, koreksi aja… Ini juga cuma sedikit cerita, sisa jalan-jalan Maret kemarin ke Hiroshima,¬† di kompleks bekas pengeboman Nuklir 62 tahun yang lalu.

Bercerita dimulai…

Setelah dengan sukses Jepang memporakporandakan Pearl Harbour, bom pertama oleh negara lain dalam sejarah Amerika di tahun 1941,¬†4 tahun kemudian, US di bawah pimpinan presiden Harry S. Truman saat itu, melancarkan serangan bom balasan yang lebih telak. Ya, Bom Nuklir …

Ini memang pengeboman Nuklir pertama dalam sejarah manusia. Dan terencana dengan begitu matang. US mengurus izin untuk penggunaan senjata ini kemana-mana, hingga akhirnya keluar persetujuan. Meski fakta sejarah juga menyatakan bahwa hampir seluruh ilmuwan saat itu dan banyak pihak lain menentangnya.

Dan pada 6 Agustus 1945, pagi hari musim panas yang cerah, langit kota Hiroshima begitu bersih, tak ada awan. Pukul 8 lewat 15 menit, sebuah bom Nuklir (Uranium),¬† Little Boy, (namanya cute benar?)¬†dijatuhkan di Hiroshima. Bukan di bagian pusat latihan militer Jepang di kota ini, tapi di tengah-tengah kota. Dalam radius 2 Km semua¬†luluh lantak dan terbakar.¬†Lebih dari 200.000, ada pula¬†sumber yang menyebutkan estimasi 140.000 lebih. Dari museum yang kami kunjungi, disebutkan lebih dari 200.000¬†nyawa melayang dalam sekejap dan¬†ribuan lainnya luka-luka dan penderitaan akibat radiasi bom atom itu menanti… Menyisakan penderitaan panjang dan kengerian di hari-hari selanjutnya…

gedung-yg-dibom-di-hiroshima.jpg

Kemudian disusul pula pada 9 Agustus, Nagasaki yang menjadi sasaran. Fat Man (Plutonium) dijatuhkan disana dimana sebelumnya beberapa kota yang lain seperti Kyoto, Yokohama dan Kokura sempat dimasukkan dalam list target.

Dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota di negeri Sakura ini, Jepang mengundurkan diri dari perang. Kekalahan telak yang harus terbayar mahal.

Fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa perang selalu membawa kerugian besar yang irreversibel bukan?

slm-dibom.jpg

Hhhh..cerita nonfiksi ini pun selesai…

Masih Maret kala itu, udara musim dingin tinggal sisa-sisa. Musim semi bersiap mengganti posisinya…tapi sempat tertangkap…Early sakura di Hiroshima…

early-sakura.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

:: Up date ::

Sedikit tambahan terkait dengan koment Mbak Rey tentang jugun ianfu.¬† Ini memang bisa disebut sebagai dosa kecil seperti yang disebut Mas ini. Jugun ianfu merupakan istilah untuk wanita yang dipaksa untuk menjadi “pemuas” bagi tentara Jepang yang ada di Indonesia dan beberapa negara jajahan Jepang lainnya, dalam kurun¬†1942 – 1945.

Di Indonesia, sebagaimana yang dikatakan Sora, bahwa kononnya di Padang sempat terjadi perekrutan namun ditentang oleh Bung Hatta. Tentang perekrutan di Padang ini, saya belum dapat informasi, mungkin nanti akan saya tambahkan lagi begitu ada. Tapi yang jelas di Indonesia, para perempuan  biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan (diambil begitu saja di jalan atau bahkan di rumah mereka), diiming-imingi untuk sekolah ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara.

Sampai saat ini, para mantan jugun ianfu masih merasakan trauma psikologis dan gangguan fungsi fisik akibat pengalaman pahit yang pernah mereka alami. Belum lagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi dengan benar, justru menganggap mereka sebagai wanita penghibur (tanpa paksaan).

Jugun ianfu, salah satu kebijakan Militer Jepang

Penelitian sejarah ke dalam pemerintah Jepang mencatat beberapa alasan untuk pendirian rumah bordil militer. Pertama, penguasa Jepang mengharapkan dengan menyediakan akses mudah ke budak seks, moral dan keefektivan militer tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan mengadakan rumah bordil dan menaruh mereka di bawah pengawasan resmi, pemerintah berharap dapat mengatur penyebaran penyakit kelamin. Terakhir, pengadaan rumah bordil di garis depan menyingkirkan kebutuhan untuk memberikan ijin istirahat bagi tentara.

Menurut riset oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Eurasia, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari jugun ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.

Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.

Pada tahap awal perang, penguasa Jepang mengambil pelacur melalui cara konvensional. Iklan yang menawarkan pekerjaan sebagai pelacur muncul di koran-koran yang terbit di Jepang dan koloni Jepang di Korea, Manchukuo, dan daratan Tiongkok. Banyak yang menanggapi iklan ini dahulunya merupakan pelacur dan menawarkan jasa mereka sukarela. Yang lainnya dijual oleh keluarga mereka kepada militer karena kesulitan ekonomi.

Namun, sumber ini dengan cepat mengering, terutama dari Jepang. Menteri Urusan Luar Negeri menolak pengeluaran visa perjalanan bagi pelacur Jepang, karena merasa akan mencemari nama Kekaisaran Jepang. Militer kemudian mencari wanita penghibur di luar Jepang, terutama dari Korea dan Tiongkok. Banyak wanita dibohongi¬† untuk bergabung ke rumah bordil militer. Lainnya diculik. Pelacur Jepang yang tetap tinggal di rumah bordil militer sering menjadi karayukisan, atau manajer rumah bordil, menyisakan wanita penghibur non-Jepang menjadi korban pemerkosaan beruntun.( Source nya, kochira desu ¬†ūüôā )

Dan kekaisaran Jepang memang tidak pernah resmi mengakui atau melakukan permintaan maaf  kepada negara-negara bekas jajahannya itu. Tiap orang pasti punya analisa dan judgement sendiri-sendiri. Diakui sebagai Super Power di Asia memang tidak lantas serta merta menghilangkan imej negatif  negara ini di PD II dulu. Kalau  itu berpengaruh pada penilaian kita terhadap sosok Jepang, proporsional dan tetap objektif  agaknya lebih bijak kita lakukan.

Read Full Post »

Hari ini begitu tiba di lab, senyum sendiri. Iya Iya, udah ganti posisi kemarin sore. Kan mau masuk student baru¬†¬†di semester baru ini.¬† Baik itu Undergraduate Tahun 4 atau yang Master tahun 1. Awalnya saya agak kurang semangat juga saat memasuki semester baru di lab ni. Pasalnya, dua teman yang perempuan asal Malaysia sudah bertolak pulang ke negara mereka, sudah selesai. Tinggal sendiri dan jadi yang satu-satunya perempuan pula. Oh ya, sepanjang bangunan lab ini mulai lantai 1 sampai lantai 3, kayanya makhluk bernama perempuan juga¬†sulit dijumpai. Hhh..sudahlah… sudah..terlalu didramatisir deh jadinya…

Nah, ada yang unik juga masalah pindah posisi ini. Yang senior, katakanlah misalnya yang Master tahun 2,¬† posisinya boleh milih yang sudut, dekat dinding dan paling “nyaman” dari pengamatan “dunia luar”. Sedangkan yang M-ichi, dan Under Graduate tahun 4 bisa memilih tempat yang tersisa. Biasanya yang berada di ruas jalan atau pinggiran yang sering dilalui sensei. Hi hi..so, kalau ada apa-apa…langsung ketahuan deh, misalnya lagi baca komik online, atau lagi ngapain gitu. Dan sekarang, yang baru aja sotsugyou (wisuda) yang tahun 4 ada ada beberapa orang yang mo lanjut ke Master (Senang deh, gak terlalu asing jadinya suasana Lab, karena gak semua anak baru) diantara mereka. Karena sebelumnya mereka tuh sama seperti saya, junior2 yang sekarang naik tingkat dan mereka lanjutnya di lab yang sama, maka boleh milih mau pindah posisi dimana. Tentunya di group yang sudah ditentukan. Kebetulan di lab Kuantum Elektronika ini, ada tiga group yang dibawahi dua sensei. Semua student, baik yang sebelumnya tahun 4 dan sekarang mau lanjut ke Master, dan yang Master tahun II, udah ganti-ganti posisi. Jadi yang belakangan masuk nanti, silakan pilih posisi yang masih kosong dan jangan terlalu berharap posisi ternyaman karena seperti yang saya bilang tadi, biasanya yang tinggal ya yang dekat ruas jalan, tempat ¬†lewat-lewat dan melintas-lintasnya Sensei dan lainnya…

Kemarin itu, begitu datang saya langsung ngerjain apa gitu, sok sibuk,, eh sekeliling juga pada geser-geser…angkat-angkat komputer, atau yang bawa laptop juga mindahin laptopnya ke tempat baru. Riang benar ni anak-anak orang.

“Za, gak mau pindah?” Kuroyanagi san nanya…

“Eh? Saya juga boleh pindah ya? Mmm…kemana ya?” *Sok culun*

“Kemana aja boleh, kesana itu boleh, kesini juga masih kosong” Sambil nunjuk ke meja tak jauh dari meja komputer saya, itu tempat Kuroyanagi sebelumnya…

Menghabiskan banyak waktu buat mikir gak penting. Terkadang begitulah saya ini. Harusnya bisa memutuskan sesuatu dengan tepat dalam waktu yang singkat kan? Susah deh. Abis mikir-mikir…Tempat yang sekarang sih oke aja, walauun memang, layar komputernya itu bisa dilihat ama siapa aja. Begitu terbukanya posisi saya bagi siapa saja yang lewat dan mondar-mandir di belakang. Sensei pun sering tiba-tiba tanpa saya sadari rupanya udah berdiri di belakang, lihat-lihat apa yang saya kerjakan. Coba ya kalau pas lagi nge-blog atau lagi koment atau lagi blogwalking trus ketahuan Sensei…What will happen ya? Hi hi…gak mau ah ngebayanginnya… ūüôā

Selama ini kayanya gak masalah,¬† secara saya mulai “surfing” and blogging (he he..) abis jam belajar dan kalau jam wajib udah abis. Tanpa sepengetahuan sensei tentunya, hi hi… warui gakusei ne (mahasiswa bandel nih). Atau juga kalau pas hari libur dan gak ada kerjaan.

Lanjut lagi…Terus, hari ini dipersilakan pindah? Di group saya ini, yang posisi sudut dan dekat dinding, yang ternyaman, sudah terisi…dua-duanya anak Master. Kalau yang sebelah lemari…agak segan nih kayanya, karena disebelah kirinya udah ada anak Master baru yang baru masuk. Tinggal yang ujung¬†disamping Horiuchi-san. Pindah gak ya? Kalau¬†pindah,¬†saya¬† jadi lebih mudah nanya-nanya kalau ada yang gak bisa secara kemarin pun, Horiuchi duduk di sebelah saya dan kebetulan mengerjakan riset yang sama. Oke…saya pindah!! Tapi…jangan-jangan tempat yang itu udah ada yang carter duluan. He he..teringat biasanya kan kita suka carter-carter duluan gitu kan ya? Siapa tahu mereka ini ada yang suak begitu juga… ūüėÄ

Pas mau ditanya itu orang pada keluar semua, satu persatu pergi.¬†Iyalah..udah jam setengah tujuh. Kegiatan lab belum mulai sepenuhnya karena anak baru lab belum masuk semuanya. Aktif normal mulai 9 April nanti. JAdi wajar kalau ada¬† yang pulang cepat daripada biasanya.¬† Hiyaaa..gimana ini. Masa tiba-tiba tanpa nanya saya langsung pindah gitu? Gak sopan benar kan ya? Trus Horiuchi san balik masuk. Aaa…yokatta…

“Ano..Horiuchi san, asoko de suwatte mo ii desu ka?” (Horiuchi san, Boleh nggak saya duduk disana?) Sambil nunjuk tempat yang dimaksud…

“Eh? Asoko? ii yo”.(Eh? Disana ? Boleh boleh…) jawabnya sambil ngangguk. Horreee…Langsung deh, bilang ke teman di YM, matiin komputer, tarik kabel sana, copot sini, Ffuiuuu..dia juga bantu angkat-angkat..bantu masang-masang…trus saya beres-beres laci, kok baru sadar, isi laci yang satu pada makanan dan coklat doang? Ya ampuun, nih anak!! *Jleb jleb…*

Jadilah akhirnya pindah posisi dan ganti suasana. Senangnyaaa…Pas Sensei masuk…Heh he..cuma senyum aja. No comment. Ya Maklumlah beliau kan semua pada tukar-tukar posisi, ke tempat yang lebih baik dari sebelumnya, masa saya tidak ikutan.

Nice. I`d like it. Beberapa kelebihan daripada posisi yang lama langsung terlihat. Biasanya harus berbalik ke belakang kalau mau lihat jam dinding, sekarang tinggal lihat ke arah samping aja, gak terlalu mutar kepalanya (he he..appaa coba..). Trus kalau sensei datang langsung nampak karena berhadapan arah pintu, biasanya menyamping.¬† Dari posisi sekarang, langsung nampak ke ruangan Sensei, jadi mudah tahunya Sensei lagi ada di ruangannya atau nggak. He he he…banyak keuntungan yang tidak terlalu signifikan ya? Gak papa lah secara sebenarnya saya memnag menyenangi posisi yang sekarang.

Mudah-mudahan dengan posisi baru ini ikut berefek kepada semangat saya untuk lebih baik lagi di semester ini. Pasti tidak seseram yang dibayangkan…Hhh..semoga saja ya…Lagian juga dengan posisi baru ini, dimana layar komputer¬† agak terlindung dari serbuan tatapan massa Lab, siapa tahu saya bisa¬† lebih intens nge-blog,¬†blogwalking dan ngasi koment¬†rajin belajar nantinya.

¬†Untuk semua yang ¬†juga¬†mulai semester baru atau udah di tengah semester atau yang udah mulai ujian, kita sama-sama berjuang.¬†Ganbarimashou…

*Angkat bambu runcing*

Read Full Post »