Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2007

Akhirnya wabah itu  menular sampai kemari, mulai di sini, lanjut ke sini, mbak Ma juga tuh, dengan avatar baru plus image headernya. ^_^

Maka, sejak kemarin, Jejakpena resmi pakai avatar baru. Yang image pena dan tinta itu? Hmm, boleh dong ganti, itu dipakai sejak blog ini ada. Udah lama kan ya? Nanti pas kumat mau nostalgia jaman-jaman awal blog ini, bisa jadi pakai avatar yang dulu. ūüėõ

Sekalian ganti suasana… Setelah utak- atik sana sini,¬† jadilah saya pakai Ayu Tsukimiya ini, salah satu tokoh fiktif dalam serial Kanon, novel visual Jepang. Hmm… ada cerita aneh nan lucu sebenarnya, tapi sudahlah, kurang penting dibahas. *lirik tetangga sebelah*

Beda dengan Sora dan Geddhoe yang minta tanggapan bagaimana perubahan avatarnya,  saya terlanjur egois ini, mau ditentang atau dikritik, dipuji atau dikasi senyum, untuk beberapa waktu ke depan mau pakai ini dulu kayanya.

ayu-tsukimiya.gif

Sudah ah, there`s nothing for explaining more (what a lovely lazy ¬†girl ya) ūüėÄ

Read Full Post »

Agak khawatir sih sebenarnya, cuma lihat saja dulu. Sesuatu yang belum pernah dijalani bukan berarti akan langsung tidak berhasil atau hasilnya akan jauh dari yang diharapkan bukan?

Berawal dari telefon dari seseorang beberapa hari yang lalu, di tengah petang yang lapang dan menghabiskan waktu seharian tanpa keluar dari kamar yang selintas-lintas terasa begitu membosankan. Cerita-cerita, sapa-sapa, dan tukar kabar lalu sang penelfon mengutarakan maksudnya. Si penelfon sendiri bukan sosok tak dikenal, dia sering ke asrama jika ada acara party atau sekedar ngumpul-ngumpul anak asrama. Waktu acara makan malam Idul Adha di asrama yang disekaliankan dengan acara akhir tahun  beberapa waktu lalu, kami saling berkenalan. Nyatanya bagi saya saat itu memang langsung tertangkap  sosoknya yang cerdas dan  matang  Walaupun di perjumpaan selanjutnya kekanakan yang manis pun tetap muncul sewaktu-waktu. Serasa bertemu teman sebaya yang bisa diajak seru-seruan dan perbincangan lazimnya anak-anak seusia kami.

Jadi? Ya… jadinya dialah murid yang akan saya ajar. (Halaa, gaya nya bilang murid. Entah ibu guru seperti apa nanti penjelmaan saya ūüėõ )

Oh ya, dia itu bukannya mau belajar mata kuliah Kuantum atau Optik atau Laser atau sejenisnya itu. Kalaupun benar, saya pasti dengan lapang dada dan semangat juang 45 berusaha meyakinkannya bahwa saya bukanlah orang yang tepat untuk itu. Sendirinya masih begini, hendak memberi kuliah buat orang lain? Nanti-nanti tuh ūüėõ

Fumiko, sebut saja namanya begitu. Dia akan berkunjung ke Indonesia Agustus ini, bersama beberapa teman SMU-nya, mereka ikut dalam kegiatan kemanusiaan (masih belum tahu afiliasinya ke lembaga mana) yang akan diadakan di daerah Indonesia yang terkena bencana. Masih belum tahu pula daerah mana saja yang kan mereka kunjungi. Sekalian mengisi liburan musim panas, kak, begitu katanya. Oh ya, dia satu tahun lebih muda dari saya, jadinya saya tidak bakal jadi ibu guru, kakak guru? Ganjil benar sebutannya. 

Jadi sudah jelas saya akan mengajarkan kuliah apa? Upss, pelajaran apa? Iya, Bahasa Indonesia.¬†Seperti kebetulan saja. Kebetulan? Oh… sudah baca postingan ini tentang salah satu kekuatan Bahasa Indonesia?

Jadi mulai bulan depan saya akan mengajarkan Bahasa Indonesia pada seorang Japanese ini. Berat  agaknya, bukankah belajar Bahasa Indonesia bagi sebagian kita terkadang terasa begitu asing daripada saat berbicara Bahasa Indonesia itu sendiri? Bagaimana pula saat kita memberikan penjelasan bagi seseorang yang benar-benar asing dengan bahasa ini sendiri? Begitulah kira-kira perbandingannya.

Hufff, kalau dipikir-pikir, mungkin akan lebih mudah kayanya ya mengajarkan sesuatu pada seseorang yang memang blank tentang sesuatu itu sendiri, daripada mengajarkannya pada seseorang yang sudah paham atau advance tentang sesuatu itu. Oh tidak, ini tergantung apa yang ingin diajarkan juga sebenarnya. Coba jika ingin menjelaskan masalah Mekanika Kuantum Relativistik pada orang yang tidak pernah bersentuhan dengan Fisika Kuantum misalnya, akan banyak kesulitan-kesulitan yang akan ditemui oleh si pembelajar itu sendiri. Juga kejadian serupa berlaku pula di ilmu-ilmu yang lain.

Hmm…¬† bagaimana¬†jadinya¬† privat ini nanti? Tidak tahu. ¬†Maklum saja, ini pengalaman pertama mengajarkan bahasa Indonesia pada orang asing.¬†Satu hal yang akan sangat membantu adalah gadis ini benar-benar mengagumkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Lancar dengan pronuonciation yang berbeda dari tipikal bahasa Inggris Japanese biasanya. Kagum saya nih. Emm… secara level Japanese saya memang tidak bisa diandalkan,¬†hatta untuk ikut Noryoku Shikken level kecil sekalipun. Bisa dibayangkan mengajrkan bahasa Indonesia dengan Japanese berantakan? Alamat berantakan lah itu privatnya ūüėõ

Satu hal lagi, ayah Fumiko adalah salah satu dosen di Universitas Fukui ini. Gyaaa.. tiba-tiba saya jadi berkeinginan kuat untuk mengenal ayahnya ini. Siapa tahu beliau salah satu sensei di fakultas saya? Who ho ho… *langsung memikirkan daftar mata kuliah parah akhir-akhir ini berikut usaha antisipasinya*

Doakan saja saya bisa jadi ibu guru yang baik. *kok masih tidak yakin ini dengan diri sendiri*.

Sehingga mulai ¬†beberapa waktu ke depan, agenda weekend saya mulai bertambah, tidak bisa lagi seenaknya menyusun jadwal atau meng-cancel list semau saya. Ada amanah baru. Kita lihat sejauh mana komitmen saya, hu hu…

Lhaa, terkait dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini, ternyata setelah sya lihat-lihat lagi, sejak SD hingga bangku SMU saya pernah punya kesan kurang menyenangkan dengan pelajaran ini dan atau dengan gurunya.

Waktu SD, saya sering kena tegur kalau Pe-eR karangan terlalu pendek dan tidak detil, gaya penceritaannya terlalu semau saya. Lhaa padahal itu karangan bebas. Saya tidak boleh begini, tidak boleh begitu. (-_-) Harap diingat bahwa guru bahasa Indonesia ketika SD begitu ramai, tiap naik kelas berganti pula, dan ada beberapa kok yang dengan mereka saya tidak punya masalah seperti yang saya sebutkan di atas.

Waktu SLTP. Haduuh, ini mengenaskan sebenarnya. Ketika kelas satu SLTP, saya pernah saking kurang antusias dengan pelajaran satu ini, nekat baca komik selagi pelajaran berlangsung. Tentunya saya memutuskan seperti itu setelah bikin perhitungan bahwa sang Ibu Guru akan melakukan ini, menyuruh si A menjawab, si B menuliskan ke papan tulis, lalu bentuk kelompok dan begini dan begitu. Begitu tersusun dan dapat diperkirakan senantiasa. Entah mengapa, hari itu semua berjalan tidak sesuai prediksi saya. Bisa ditebak, kehancuran hipotesa saya bahwa si Ibu akan begini dan begitu dalam waktu 2 x 45 menit selama ini.

Sang ibu berjalan ke deretan meja kami dan saya yang kebetulan duduk di¬†meja paling depan tentu saja¬†kaget. Rasanya¬†kesadarn saya terbanting begitu kuat.¬†“Alarm bahaya” terlanjur¬†tidak efektif. Sang ibu Guru datang sambil memberikan contoh penggunaan gaya bahasa Metafora (wiih, ternyata saya masih bisa mengingat satu gaya bahasa ini). Yang jadi contoh kalimatnya? Subjek kalimatnya? Saya? Anda benar!!¬†Ayo tebak kalimatnya…

Saya kurang ingat seperti apa sih. *Bletaak*(Sok nyuruh nebak orang lain pula). Yang jelas intinya beliau “kagum” dengan saya, di kalimat itu loh. T_T

Untuk sosoknya, beliau sebenarnya ibu guru yang lembut kok, cuma hmm… metode belajarnya yang terkadang menurut saya begitu monoton dan kurang variatif.¬† Selanjutnya di kelas dua dan kelas tiga tidak ada masalah seputar pelajaran ini, selain saya yang keteter menghafal begitu banyak karya sastra, pujangga, demonstrasi deklamasi puisi,¬† mementaskan drama, dan tentu saja karangan yang seperti¬†tidak ada habisnya. Oh ya, guru bahasa kelas tiga saya teramat sangat teliti dan begitu sensitif dengan tanda baca, cara penulisan dan hal-hal kecil lainnya. Gaya tulisan dengan huruf kapital tidak pada tempatnya, menyingkat kata ulang dengan simbol angka dan coretan cantik lainnya sungguh tidak diperkenankan. Juga kemampuan beliau menganalisa kalimat dan karangan kami. Mengerikan, mengagumkan. Ah, di satu sisi sejujurnya saya tetap mengagumi kelebihan beliau ini. Benar-benar terasa dan penting sekali terlebih saat mengikuti Ujian Akhir… *memaksakan diri untuk sadar*

Nah, sekarang giliran di SMU? Ada kesan kecewa yang saya catat sampai hari ini, Eh, bukan dendam loh. Sama sekali bukan. Penyebabnya mungkin bagi sebagian orang akan terlihat begitu sepele, tapi bagi saya saat itu berat sekali rasanya untuk mengikhlaskan. 

Ceritanya kami sekelas diberi tugas membuat cerpen, dengan jumlah lembar minimal dibatasi. Lupa saya tepatnya berapa. Yang jelas saya menjadi satu-satunya yang menyerahkan tugas karangan itu terakhir, telat seminggu. Sudah minta ijin memang sebelumnya ke beliau karena waktu itu ikut Tim Olimpiade sekolah ke luar kota. Bayangkan karena obsesi saya yang begitu besar untuk menyelesaikan cerpen besutan saya sendiri, saya masih utak-atik ending ceritanya hingga larut malam sebelum tidur di asrama tempat perlombaan itu dilangsungkan.

Jadi pada hari itu masuk sekolah seperti biasa, dan tiba jam pelajaran bahasa Indonesia itu, saya serahkan lah cerita karangan saya, sambil minta maaf atas keterlambatan mengumpulkannya. Karena hanya satu-satunya, cerita saya itu langsung dibaca saat itu juga. Saya senyum-senyum dengan perasaan tidak karuan, menunggu reaksi beliau selanjutnya. Maka selanjutnya…

” Ini kamu ambil dari mana? cerita saduran bukan?”

Eh?? kaget bukan main saat kalimat itu meluncur datar dari  sang Ibu Guru. Crashh!!! Kurang dari sepuluh menit setelah cerpen itu di tangan beliau, pertanyaan itu seperti membunuhi keriangan saya hari itu. Oh ya, kebetulan pula hari itu, bertepatan dengan hari lahir saya, dan teman-teman sekelas dengan gaya usil anak SMu baru saja sukses mengerjai saya. Rupanya perasaan senang itu tamat sudah di jam terakhir sekolah hari itu. Semua terdiam dan menatap saya.

” Saya tulis sendiri kok Bu”,Bela saya.

“Settingnya kok Jepang? Seperti cerita saduran saja…”

Selanjutnya saya menjelaskan ke beliau. Tidak ada tanggapan berarti. Agaknya beliau yakin sekali, saya tidak menulis cerita itu. Saya mencomot cerita itu entah darimana. Padahal hanya karena settingnya bukan Indonesia. Saya sempat dipanggil ke kantor beliau, disana penjelasan saya melebar. Agaknya memang serius mengingat ini termsuk salah satu tugas yang mempengaruhi nilai kenaikan kelas. Beliau terima penjelasan saya setelah saya bersikeras menjelaskan alur, penokohan sampai konflik cerita. Ampuun deh. Tragisnya, hingga ke akhirnya tidak ada kata minta maaf dari beliau. Mungkin beliau menganggap ini masalah sepele saja barangkali ya? Nilai saya juga biasa saja tuh, tidak lebih baik dari semester sebelumnya, he he… Bahasa Indonesia saya memang standar banget. Sampai sekarang pun kalau lihat file cerpen itu, bisa ditebak kalau saya langsung terbayang kejadian ini. Payah ah untuk dilupakan. Sedangkan di kelas tiga, guru bahasa Indonesia saya begitu menyenangkan, walaupun tetap saja nilai saya di pelajaran ini tidak meningkat terlalu signifikan. Paling tidak perasaan saya jauh lebih nyaman saat mengikuti pelajarannya.

*balik lagi ke masa sekarang*

Giliran saya yang mengajarkan bahasa Indonesia ini. Mudah-mudahan bisa jadi ibu guru yang baik, hi hi…

Bahasa Indonesia itu penting memang, kemampuan berbahasa saat menggunakannya juga penting, pernah saya hampir bermasalah gara-gara penulisan bahasa Indonesia ini, hu hu… Hati-hati ya kalau berbahasa Indonesia… baik lisan maupun tulisan…

*lihat ke atas*

Wah,¬† sudah panjang.¬† Gomen… gomen… sampai lupa diri ini.

Read Full Post »

Sumeba Miyako…

Dziiiing…

Kembali sesuatu yang tak serius diluncurkan…T_T

Ini tentang kehidupan para anak. Mereka yang kebetulan karena sesuatu dan banyak hal akhirnya tidak tinggal bersama orang tua mereka lagi. Hidup dan tinggal jauh dari pengawasan orang tua. Bergerak dan berpindah bebas tanpa tertangkap pengamatan orang tua.

Dahulu, pergi merantau dan kemudian tinggal jauh dari orang tua biasanya banyak terjadi pada anak laki-laki.¬†Sebab lazim ¬†mereka melakukannya banyak dengan alasan untuk mencari pekerjaan. Dalam kurun waktu belakangan ini bertambah lazim fenomena dimana anak mulai berpikir melanjutkan belajarnya di luar kota, di luar daerah dan praktis tidak tinggal dengan orang tua. Kemudian waktu terus berjalan dan saat ini pun fenomena anak perempuan yang melanjutkan belajarnya di luar daerah atau bekerja di luar daerah pun menjadi sama biasanya. Terlebih lagi biasanya keadaan semacam ini mudah sekali ditemukan saat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Adalah hal biasa bila kemudian kita mendapati anak daerah yang belajar di ibu kota atau sebaliknya yang di kota besar memilih perguruan tinggi di luar kotanya, walaupun hmm… agaknya ini agak jarang ya.

Kemudian semua terlihat begitu berbeda. Saat tinggal dengan orang tua dan tinggal sendiri. Terlebih lagi lingkungan baru yang di beberapa kasus mungkin tidak begitu terasa tantangannya. Ini sih relatif karena ¬†kemampuan adaptasi dan daya tahan tiap orang berbeda. Ada yang biasa saja dan tidak aneh-aneh walaupun tinggal berjauhan dari orang tua, tak jarang ada yang berubah sedikit, sedikit lebih banyak dan akhirnya banyak berubah. Perubahan dalam arti positif maupun negatif. Lihat saja contoh di sekitar kita, saat di kampung halaman atau di kota kelahirannya, saat tinggal bersama orang tua, sikap dan gaya hidupnya lurus-lurus saja, giliran saat dilepas pergi, karena terpengaruh lingkungan dan teman misalnya, malah berbalik arah. Tak pelak, kondisi sebaliknya pun pasti ada, dari yang semula kurang “terstruktur” dengan baik, karena lingkungan dan teman-temannya mereka, akhirnya jadi lebih terarah.¬† Ada yang begitu-begitu saja? Hmm… total stagnasi agaknya tidak mungkin. Tetap ada yang berubah, tapi mungkin lebih ke perubahan yang tidak terlalu teramati.

So far, paling tidak kalau sudah membicarakan para “aktivis” home stay ini, ada beberapa hal yang identik dengan kehidupan mereka ini, paling tidak menurut saya yang termasuk salah satu jajaran para homestay-ers :

  1. Menjadi penjaga bagi diri sendiri. Benar, kalau biasanya ada orang tua yang begitu telaten menjaga kita dan kita tidak lepas dari pengawasan mereka, maka mulai sekarang, kitalah yang menjaga diri kita sendiri. Menjaga diri baik dari segi kesehatan maupun dari keterjerumusan pada hal-hal yang tidak baik dan menjerumuskan. Jika terjerumus pada hal yang baik, itu tentu jadi hal yang perlu disyukuri dan dipertahankan. Menjaga kesehatan? Ini dia masalah yang sering ditemukan. Saat tinggal dengan orang tua, ambil contoh jadwal makan yang teratur, pagi hari sarapan telah disiapkan, ketika pulang makan siang telah sedia, dan makan malam yang menyenangkan dengan keluarga. Sekarang saat telah menyandang gelar anak kos entah kenapa banyak yang bermasalah dengan hal ini (ffuih.. jangan-jangan jadi tersangka utamanya ini T_T). Kalau ditanya tentu ada saja penyebab dan alasannya. Pernah kami ke rumah sakit mengantarkan teman yang pingsan tiba-tiba di pintu gerbang rumah kosnya saat hendak ke rumah sakit, kabarnya dia memang punya gejala Thypus. Lalu pas di UGD, pertanyaan¬†dari¬†dokter yang menanganinya ke kami yang ikut mengantar? “Dia anak kos ya?” Gyaa… keren benar tebakan dokter ini.
  2. Menjadi penjaga kepercayaan orang tua. Sudah pastilah. Jauh-jauh orang tua bela-belain menyekolahkan anaknya, mengirimkan uang rutin bulanan, tentunya mereka menaruh kepercayaan besar pada anak mereka. Dan lihat saja, banyak yang terlihat seperti kurang sadar dengan hal ini. Seperti lupa diri bahwa ia sedang memikul amanah besar dan kepercayaan orang tuanya agar ia menuntut ilmu sebaik-baiknya.
  3. Terpaksa belajar berasosiasi dengan orang lain. Bagaimana kemudian kita tinggal seatap atau bahkan seruang dengan orang lain yang berbeda kebiasaannya dengan kita mungkin, berbeda cara pandangnya dengan kita mungkin, berbeda penyikapannya saat ada masalah dan banyak beda lainnya. Kalau tidak bijak bersikap atau lebih mengedepankan ego saat ada masalah atau hal yang tidak sesuai dengan  prinsip dan kebiasaan yang kita punya, bisa ditebak berujung kemana kejadiannya. Maka, kita harus terpaksa mau belajar bersosialisasi dengan orang lain, mencoba menghargai perbedaan yang ada, dan kalau mau lebih, mencoba memahami orang lain.
  4. Terpaksa menjadi manusia mandiri. Tiba-tiba seperti punya rumah tangga sendiri. Single. Kalau biasanya hanya belajar saja dengan sesekali membantu orang tua di rumah, maka kini tambah satu lagi tugas besar, mengurus diri sendiri… Semua harus dikerjakan sendiri. Tiba-tiba kita dituntut keadaan agar jadi pribadi yang mandiri. Pastinya tidak ada yang langsung sukses pada masa-masa awal seperti ini, ada saja masalah-masalah kecil hingga besar yang terlihat begitu menganggu,¬†lalu seiring waktu, akhirnya kita tertempa¬†dan terbiasa dengan keadaan seperti ini.
  5. Menjadi pasien pengidap homesick. Tidak tahu juga ya… Level keparahan penyakit ini berbeda- beda tergantung imunitas tiap orang tentunya. Kalau dipikir-pikir ini penyakit yang¬†paling terkenal dan diderita banyak orang yang tinggal jauh dari rumah orang tuanya. Wajar sajalah, malah akan jadi aneh jika yang tidak¬†pernah menderita penyakit ini. Tinggal kemudian bagaimana menyikapinya saja kan ya?

Dan lucunya adalah email dari teman yang saya terima sekitar dua hari lalu. Topik emailnya langsung homesick. Ya ampun… Ceritanya dia baru sepuluh hari tinggal di Bandung, karena melanjutkan kuliah di STT Telkom. Lucu juga sekaligus menggemaskan. Masa sih baru sepuluh hari sudah homesick, agak kelewatan ini mengingat dia sudah tinggal di asrama sejak SMU. Gejala penyakitnya berkisar dengan kangen masakan ibu dan rindu perberantem-an dengan adik perempuannya. Ckck ck… What a homesick he has. Saya? Mmm.. sudah pastilah ikut jadi korban, seperti yang saya sebut tadi, gejalanya berbeda tiap orang. ^_^

Hmm… baru lima. Apalagi ya? Ada tambahan? Ohh…satu tambahan¬†dari saya, habis buat ini tiba-tiba saya terfikir, kalau postingan ini sedikit terasa aura diskriminasinya, dari tadi nyebut-nyebut anak kos, tidak mesti sebenarnya, yang tidak nge-kos tapi tinggal di rumah sendiri tapi tidak dengan orang tua, dan ehm… memang membicarakan para single yang punya rumah kedua setelah rumah orang tua mereka. Tapi buat para orang tua yang kebetulan membaca, mudah2an tidak rugi membaca karangan tidak penting saya ini, hi hi…

Oh ya, satu tambahan lagi, (Aaa, katanya cuma satu tadi), butuh waktu memang untuk bisa terbiasa dengan kehidupan baru yang berbeda dengan sebelumnya dan terlebih lagi dihadapi seorang diri. Wajar saja, bukankah semua butuh proses?

Dan Mmm… lagi satu hal (Ini benar2 tambahan terakhir, janji!! ), ada pepatah Jepang yang bilang begini

– „ā§šłĽ„ÄÄ„āĀ „Āį„ÄÄťÉĹ„ÄÄ-

dimana …

„ā§šłĽ¬†¬†¬† : su (kanji)

„āĀ¬†¬†¬†¬†¬† : me (hiragana)

„Āį¬†¬†¬†¬†¬†¬†: ba (hiragana)

ťÉŬ†¬†¬†¬†¬†¬†: miyako (kanji)

„ā§šłĽ„āĀ„ĀįťÉŬ†¬† : sumeba miyako

Seperti itu katanya,

“Wherever you live, once you get used to live there, it becomes home”¬†

¬†Hmm… ada benarnya juga kan ya? ūüôā

Baiklah, tidak akan ada tambahan lagi dari saya…

Dzinggg…

*Menghilang*

Read Full Post »

Yang Terganti…

Jadinya memang tidak ada yang abadi. Semuanya akan mengalami perubahan, yang kekal hanya perubahan itu sendiri…

Ehm, tidak seserius itu kok. Cuma berubah tampilan saja.

 Yes, she did. Lalu ia menjelaskan dengan gaya meyakinkan,  bahwa dirinya sedang dilanda kejenuhan dan kemudian mencari kesibukan dengan mengulik dashboard blognya lalu menilik-nilik beberapa template yang dirasa cocok. Dan Misty-Look ini pun jadi pilihan, menggantikan style Neat-nya Topi Peltonen.

Sebenarnya mau cari yang lebih representatif dengan isi kepalanya dirinya, beberapa yang dicoba hasilnya kurang pas. Eh, bukan kurang pas kualitas bagusnya, karena kan sungguh kelewatan mengapresiasi karya orang lain dengan cara begitu sedangkan diri sendiri belum mampu, huh… , maka¬†maksudnya itu adalah kurang pas dengan dirinya… dengan suasana hatinya, plus dengan jiwa pemalasnya…

Namun, agaknya yang ini cukup bisa menenangkan. Hmm, paling gak sampai saat ini setelah diubah, lumayan deh. I wish i could stand there, halaah…

Tidak tahu lah, mudah-mudahan oke saja dengan template ini, walau tetap memungkinkan nanti dia akan berubah lagi. Entah¬† kalau sudah ketemu dengan image header yang berkenan di hati dan dirasa pas buat diletak disana itu… mungkin.¬†Sudah, sudah, nantilah itu…

Eh… tiba-tiba setelah diperhatikan, rasanya ada yang mirip dengan salah satu blog deh. Punya Anak¬† yang rajin gambar ini, yaa…kurang lebih lah, walaupun kayanya dengan suasana berkabut begitu, ada aura mistis yang tertangkap di template ini.¬†*Glekk*

Oh ya, mungkin salah satu penyebab kenapa saya merasa mirip, karena sama-sama ada pohon yang rantingnya menjulai kali ya? Pohon sakura di tempat Sora menjulai ke kanan bawah, sedang disini ranting-rantingnya (saya tidak bisa mengenali ini pohon apa) ke kiri bawah menjulai ke danau (?).

Hmm, this Misty-Look, does it convey another feeling ? Beda yang lihat tentu beda pula pendapatnya…

Read Full Post »

Maunya sih begitu… *bletaak*

Inilah manusia, apa coba yang tidak diinginkan ūüôā

Setelah dapat dari milis dan teringat dengan salah satu kasus kejadian, akhirnya saya putuskan untuk menulis entry. Mmm… lagipun, lihat ini… blog tidak ter-update lagi dengan tulisan baru, lengkaplah sudah alasannya.

Sudah basbang memang,  bagi yang sudah tahu lalu membaca ini, kan ilmunya tidak berkurang, malah bisa share and berbagi dukungan, kritik dan saran.

Hmm, Saya punya sahabat  dengan gambaran yang diberikan oleh kalimat itu. Banyak yang mengagumi sosoknya memang, saya saja yang perempuan termasuk coba. Banyak juga yang patah hati saat ia menikah. *tidak penting*

Kalau ada kalimat semacam, “She`s just a well-rounded girl”, berarti seorang gadis yang punya banyak keahlian, atau serba bisa, atau istilah lainnya multi talenta? Ya ya… itu dia.

Dan saya pun tergiring kemana-mana. Pikiran maksudnya. Dari contoh itu, bagaimana pun talenta dan keahlian si gadis ini, keadaan ini pasti tidak boundless. Sebut saja penjegalnya semisal, no body`s perfect, yang terkenal itu.¬†(e.g untuk laki-laki,¬† bagaimanapun ¬†keren, baik hati, cerdas, wawasan luas, pengetahuan agamanya bagus, tetap saja ada kekurangannya. Oh ya, di salah satu buku yang pernah saya baca tentang bagaimana seorang perempuan yang menyimpan kekagumannya dalam-dalam terhadap laki-laki yang menurut penggambarannya begitu sempurna, dan dia menguatkan hal itu dengan, “kalaupun dia punya kekurangan maka kekurangannya itu adalah karena ia terlalu sempurna”. Ck ckck…

Suatu ketika, anggaplah sang sosok sempurna itu, yang bisa melakukan banyak hal dengan tingkat kesuksesan di atas rata-rata, yang sikap baiknya membuat semua  orang nyaman saat bersamanya, yang nilai fisiknya diatas 8 hampir semua yang menjadi kriteria manusia sukses melekat pada sosok itu.

Maka,¬†jika kemudian tiba-tiba disela dengan, “Ah, no body`s perfect…” tadi itu, apa yang kemudian terjadi? Paling tidak terlintas dua maksud¬†di dalam¬†pernyataan itu, positif dan negatif.

Maksud positif sudah jelas. Untuk mengingatkan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.¬†Bagaimana pun banyaknya kelebihan seseorang, tetap ada sisi kurangnya. Pasti itu. Maksud negatif? Apa ya? Tipe manusia sirik alias berpenyakit hati kali ya…? ūüôā

Selalu ada kontradiksi yang melekat pada tiap hal. Apapun itu. Karena disanalah penyeimbangnya. Disaat kita merasa bahwa kita bisa melakukan yang terbaik, saat itu pula kita juga harus yakin, kita tidak sesempuna itu. Disaat kita yakin bahwa kita telah banyak tahu, sekaligus pula kita hendaknya paham itu sedikit sekali dibandingkan dengan apa yang ada sebenarnya.

Misalnya pula contoh konyol mengantisipasi figuritas berlebihan versi pribadi saya  saat melihat ada manusia dengan kelebihan rata-rata di atas manusia biasa lainnya. Saat begitu besar kekaguman itu maka harusnya saya juga cukup siap untuk melihat kekurangannya yang mungkin akan menjadi sesuatu yang paling mengejutkan.

Agaknya karena itu pula, maka kita sering diingatkan untuk memandang sesuatu dari banyak sisi, karena  menjadikan kita lebih bijak saat bersikap, dan dewasa dalam memahami sesuatu. Kita pun jadi terhindar dari kekecewaan berlebih saat misalnya jagoan kita atau orang yang kita kagumi itu melakukan kesalahan. Karena biasanya sengaja atau tidak kita telah meng-claim bahwa harusnya dengan kapasitas seistimewa itu, ia bisa melakukan suatu tugas dengan score 9, namun saat ia hanya mampu dengan score 7 misalnya, sontak semua kekesalan melimpah padanya. Dan jika ada kesalahan rasanya sulit sekali ada pemakluman logis yang diberikan. Berat.

Maka kalau ada a well-rounded girl, dengan segala kelebihan dan keahlian, dia tetap punya sisi  kemanusiaan yang manusiawi, kekurangan. Lagian, mana ada orang yang ABC kepribadiannya hingga Z selamanya dalam keadaan terbaik? Tidak ada. Pasti ada anehnya.  Proporsional dalam memandang sesuatu tentu lebih baik.

Read Full Post »

Oh,¬†bukan hanya anda, mudah-mudahan kita semua… Ah,¬†tiba-tiba¬†setelah mengetikkan judul itu, saya¬†jadi teringat slogan yang populer ¬†ini¬†di tempatnya pak Rony -dan juga di beberapa blog yang kemudian juga memasangnya-, sejak beberapa waktu lalu terkait terkuaknya kasus kekerasan di STPN.¬† Tapi ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu.¬†Cuma salah satu kekurang kerjaan saya nulis entry pengisi masa luang nan lapang selama libur Golden Week. Libur? Benar… \(^_^)/

Gak papa ya, saya cerita-cerita perkara hidup saya lagi ūüėÄ

Sebagaimana faktanya bahwa di semester kali ini, ahirnya saya terambil mata kuliah sosial budaya. Terambil? Benar! Niatnya itu ambil mata kuliah yang banyak mahasiswa¬†Jepang tapi pengantarnya bahasa Inggris, jadi waktu ngisi KRS milihnya Theory of English Communication, apalagi pas lihat dosen pengajarnya, begitu cerita ke teman yang pernah ambil mata kuliah dengan dosen itu, langsung dikasi ucapan selamat sekaligus dukungan bahwa sebaiknya mata kuliah ini memang diambil. Rupanya beberapa hari kemudian dihubungi pihak gakuiseika,¬† mata kuliah yang saya pilih itu gak dibuka di semester kali ini, tapi di Fall semester, he he…berarti diriku salah pilih range mata kuliah toh? Akhirnya disarankan untuk mengambil Theory of Cross Cultural, secara dosen yang ngajarnya sama, barangkali mereka¬†salah tangkap bahwa saya itu nge-fans dosennya bukan mata kuliahnya kali? Ffuihh…

Jadilah setelah pernah say good bye untuk mata kuliah sosiologi zaman tingkat I dan II dahulu (heh he.. berasa tua ini sekarang), akhirnya di tingkat akhir begini bertemu kembali dengan “saudara” mata-mata kuliah sosial lagi. Awalnya agak kaget dan sejujurnya kurang pas di hati, setelah sibuk tanya sana sini kelegaan dan syukurnya juga kesiapan untuk hadir di kelas pun datang. Satu lagi.. ada rasa penasaran¬† saat menunggu hari perkuliahan tiba setelah libur musim semi kemarin itu. Halaa… bilang aja¬†kekhawatiran ¬†gak bisa adaptasi… ūüėõ Mmm…iya juga sebenarnya, takutnya logika sosio kultural saya yang memang minim ini gak bisa mengikuti teori-teori seputar masalah itu misalnya…

Begitu jadwal kuliah keluar.. ya¬†ampuun…naas pertama adalah kuliah itu diberikan pada periode satu, pagi!!¬†¬†Hampir selalu dalam keterburuan dan keengganan, apalagi kalau hujan… T_T.

Syukurnya¬†naas tak berlanjut. Lalu bagaimana setelah pertemuan pertama? Wah… sampai ga tega begini mengakuinya… Saya langsung suka dengan mata kuliah ini. Sang dosen, Charles Jannuzi, seorang Amerika benar-benar bikin simpati saya meningkat secara signifikan sepanjang perkuliahan berlangsung. Hmm… tidak tahu apakah ini cukup objektif ataukah subjektif secara mengikut kenyamanan saya pribadi dalam mengikuti kuliah ini. Untuk minggu depan akan memasuki pertemuan keempat. Salah satu yang jadi nilai tambah interest saya dengan mata kuliah ini, selain gaya khas tak lazim dan keramahan dosennya adalah bahwa salah satu media belajarnya¬† dengan film. Di dua pertemuan lalu sebelum libur¬†¬†ini ¬†yang pertama disuguhkan adalah Baraka.

Lucunya, saat pertama sang dosen mengatakan bahwa film yang akan ditonton di perkuliahan minggu depan adalah Baraka itu, pikiran saya malah mutar-mutar tak jelas dan tidak sensitif dengan judul itu. Bahkan sesaat sebelum dosen datang, teman saya menanyakan bagaimana preparing saya tentang film yang akan ditonton, uwaaa.. baru ingat dan sadar bahwa saya totally blank dengan perkuliahan hari ini… betapa mengenaskan antusiasme mahasiswa satu ini… Dan selintas teman itu sempat memamerkan catatan hasil perburuannya, hanya sempat tertangkap sedikit, “Baraka is a blessing… ” dan terputus disana karena ternyata sang dosen telah datang dan kuliah pun dimulai.¬†

Sebelum pemutaran film start, dosen sempat menanyakan apakah ada yang tahu arti kata baraka itu. Dan tiba-tiba saja, saya terlonjak sadar, teringat kata mubarak. Hingga ” is it from Arabic language?” pun dengan spontan meluncur. “Yes, it is…” Begitu diiyakan saya malah kemudian merutuki ketololan dan ketulatit-an pikiran saya,¬† kenapa bisa baru sekarang ngeh dengan kata itu?? Ya ampuunn!! Padahal jelas sekali bukan? Baraka! Ya, Baraka…

Oh ya, ¬†salah satu perkara menggelikan saat tirai¬† jendela yang panjang berwarna hitam ditarik untuk mencegah cahaya masuk sehingga fokus hanya ke dua layar¬†menggantung di ¬†kiri kanan depan adalah warning No Sleeping, he he… Dimana-mana ternyata fitrah manusia emm… lebih khususnya mahasiswa…agaknya sama ya.¬† Suasana gelap dan remang komposisi cahaya dari layar itu memang moment yang tepat untuk melanjutkan tidur sisa pagi tadi. ¬†¬†ūüôā

Lebih lanjut… direktor Baraka ini adalah Ron Fricke, saat ditanya kenal tidak dengan nama itu, hampir semua dengan segenap hati menjawab polos tak kenal… termasuk saya… :mrgreen:

Dirilis tahun 1992, film ini tanpa dialog hanya musik dan gambar saja. Yang lebih bikin saya tergaet ini adalah Indonesia masuk salah satu lokasi syutingnya diantara 24 negara tempat film ini dibuat.  Tentang budaya tradisional dan kehidupan modern, tentang alam dan peradaban manusia dari masa ke masa.

Habis nonton film itu dalam dua kali pertemuan, saya malah terfikir dan tergiring pada suatu pertanyaan. Hal apakah yang paling esensial bagi runtuhnya peradaban manusia, baik sejak dahulu hingga sekarang? Adakah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan urun peran disana? Sepertinya iya.

Lalu misalnya saya lahir di tengah-tengah keluarga¬†suku Dayak, mungkin saya akan merasa itulah hidup normal yang semestinya. Terserah dunia luar menilainya sebagai kehidupan primitif. Atau juga dengan pemujaan dan kepercayaan pada kesucian sungai Gangga yang diyakini masyarakat India sebagai tempat menyucikan diri, jika saya hidup disana maka saya juga akan berperilaku dan hidup dengan adat istiadat seperti itu bukan? Karena seperti itulah yang saya lihat dan saya dapat seak saya lahir dan besar disana misalnya.¬† Atau pula jika saya ditakdirkan lahir sebagai bagian dari keluarga samurai misalnya, atau juga di Iran sana, otomatis gaya hidup saya akan seperti selazimnya gaya hidup dan kebiasaan orang-orang disana tentunya… Dan tetap saya akan berpandangan kehidupan seperti itulah yang semestinya buat saya.

Karena saya lahir di Indonesia misalnya, (ini fakta ya…) dengan kebiasaan hidup di tengah keluarga muslim, mendapatkan dan menjalani semua aktivitas hidup hingga menjadi kebiasaan dan laku hidup sehari-hari… maka¬†kemudian yang terlintas adalah,¬†seperti inilah kehidupan yang patut dan pantas bagi saya dan mungkin saya tidak akan bisa survive seandainya tiba-tiba saya harus tinggal dan hidup dengan laku tak lazim yang tidak pernah saya lihat dan lakukan sebelumnya…

Wah… payahnya itu memang subjektif benar, jadi peluang didebat dan tidak disetujui tentu saja terbuka lebar… ūüôā

Di tengah masa lapang¬†dari aktivitas kuliah dan lab karena liburan ini, ternyata hati saya tidak selapang anggapan awal.. karena hingga sekarang pun, usaha perburuan textbook untuk mata kuliah ini belum ada hasilnya. Waktu kemarin itu teman bilang ada di koperasi sekolah, kami tidak langsung bersegera hunting, jadinya sampai sekarang belum dapat.¬† Lagipun kalau beli di luar¬† harganya bisa jadi lebih mahal… T_T

Mau bilang apa? Salah sendiri juga… -_-

Read Full Post »