Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2007

Ada quote lama dari seorang teman lama (haiyaah…). Enggak tahu apa itu murni ciptaannya sendiri atau mungkin nemu, ngutip, mungut dari mana. ūüėõ

Doa tanpa usaha itu bohong, usaha tanpa doa itu sombong

Saya? Ehem… entah kenapa waktu itu bahkan sampe sekarang pun, kayanya malas buat menyanggah, secara itu ada benarnya, pikir saya. Sebagai orang yang punya Tuhan tempat meminta dan memohon, harusnya keyakinan ini (sudah cukup enggak) terlupakan. Mesti berbarengan antara usaha dengan berdoa pada-Nya. Kalaupun lupa minta? Yah… saya juga enggak berani bilang anda itu sok hebat sih, tapi pada kenyataannya mestinya kita sadar, Tuhan itu mengatur terkabul tidaknya suatu keinginan. Kasus satunya lagi, keasyikan berdoa, minta segala yang terbaik dari yang ada, minta apa-apa yang dimaui saja tapi ya begitu, enggak ada usaha apapun. Bakalan terealisasikah itu permintaan? Dalam hal ini kita enggak sedang main untung-untungan lho. Karena itu lain lagi, sifatnya `tiba-tiba` dan di luar perhitungan.

Dan sebagai contoh antara kesinkronan doa-usaha dan usaha-doa ini… Skala kecil dalam contoh sederhana,
” Ya Tuhan aku sangat lapar, berilah aku makanan”. Kalau cuma begitu aja tanpa berusaha mencari makanan itu sendiri, terserah dengan macam-macam cara, entah itu ngubek-ngubek dapur nyari Indomie, keluar rumah pergi beli di warung, atau juga minta traktir teman :P, yakin saja kita akan terus berada dalam keadaan sulit, kondisi kelaparan yang nyata.

Atau skala yang lumayan besar, dalam rangka nasionalisme misalnya (haiyaah), “Ya Tuhan, hancurkanlah korupsi di negara Indonesia yang melimpah kekayaan alamnya tapi banyak orang miskinnya ini…”, tapi kalau kitanya ongkang-ongkang kaki tanpa berbuat apa-apa, malah tetap membiarkan keadaan terus mengalir begitu saja, tetap pasrah dan nurut saja misalnya saat buat harus KTP bayar sekian, ngurus SIM juga masih bayar, ditilang lalu lebih milih membayar sejumlah nominal pada petugas Polantas di jalan raya, ngurus perpanjangan SIM juga begitu, atau saat ada korupsi di lingkungan kerja dan karena dilakukan bersama-sama lantas anda merasa tidak bisa berbuat apa-apa dan diam saja, ah… itu jadinya apa?¬†Apa Indonesia bisa tiba-tiba langsung¬† menghilang dari posisi kelima negara terkorup di dunia? Hmm… itu pertanyaan retorika yang cukup potensial dicap menyebalkan ya? ūüėõ .

Masih banyak contoh lainnya, saat kita berdoa ingin terbebas dari himpitan ketidakstabilan ekonomi dan kebijakan moneter yang begini di negara kita tapi kita tidak berbuat apa-apa di tataran semampu kita, doa kita itu (mungkin) hanya jadi riuh di pucuk-pucuk langit kayanya. Realisasinya? Lhaa… kenapa tanya realisasi? Kita belum berbuat apa-apa tadi kan ? Jadinya ya begitu-begitu aja. Ga ada hasil apa-apa…

Jadi begitulah,¬†mestinya ada¬†keseriusan dalam doa-doa itu. Usaha. Jalannya sejajar. Atau kalau tidak jangan misuh-misuh sudah capek berdoa¬†lalu nyebut-nyebut Tuhan tidak mau dengar doa saya. Ataupun juga sudah bersusah-susah dengan usaha, lupa minta doa, hebat banget nih kita. :P. Oh ya, Selalu saja ada jalan untuk menyangkal opini lho, coba liat bagaimana orang yang tidak percaya eksistensi Tuhan dan dengan jelas mereka tidak merasa perlu punya ketergantungan dengan tempat minta doa, toh banyak mereka yang sukses-sukses aja dengan usaha dan kehidupannya. Kalau itu bagaimana? Whohoho… jangan tanya saya deh, saya enggak tahu jawab ituh, secara saya cuma mau nulis beberapa kalimat ini buat pembenaran quote di atas itu. :mrgreen:

Btw, pernah ada yang ngasi contoh ini dulu ke saya, mungkin juga sudah sering dengar.

Seorang lelaki paruh baya suatu hari tersesat di dalam hutan. Menjelang¬†senja akhirnya ia benar-benar tidak bisa menemukan jalan pulang. Malam pun turun. Tiba-tiba di tengah kegelapan malam, samar-samar dalam beberapa puluh meter di hadapannya ia melihat¬†gerombolan serigala lapar sudah berjajar dengan seringainya. Takut? Jelas! Lalu apa yang dilakukannya? Lelaki itu lantas memejamkan matanya, lalu berdoa, “Wahai Tuhanku, hilangkan para serigala lapar itu dari hadapanku…”. Lalu sekejap kemudian ia membuka matanya kembali. Ajaib! Para serigala itu benar-benar hilang dari hadapannya. Ia tersenyum. Lalu ia berbalik untuk segera menemukan jalan pulang. Begitu ia memutar badannya, ia melihat gerombolan serigala. Salah seekor dari mereka, agaknya ini `tetua`, sedang memimpin doa. Terheran-heran si lelaki bertanya pada tetua serigala itu,” kalian sedang baca doa apa?”, lalu sang serigala yang ditanya menjawab dengan tenang, “Doa makan, saudaraku”…

Hmm… pesan moral untuk pribadi :
Sesuatu itu tidak akan berubah kalau kita tidak merubahnya.

– Maafkan atas entry aneh ini, saya sedang frustasi, sedang berharap hasil akhir yang sinkron antara usaha dengan doa… (-_-) –

Read Full Post »

Untuk siapa dialamatkan kata-kata di atas itu? Hmm… mungkin sudah kebayang jawabnya… Ya, untuk Islam. Bukan hal baru sebenarnya karena bukankah kita sudah seperti kebal biasa dengan segala citra negatif terhadap Islam¬†hari ini?

Dua¬†malam yang lalu saya tergiring pada sebuah tontonan singkat, video klip ini¬†di youtube.¬† Hmm… ini (mungkin) akan sedikit menyita pikiran anda beberapa saat walau durasinya hanya¬†6 menit 20 detik. Oh ya, karena memang topik utama dari entry ini adalah isi dari tayangan itu, maka agar nyambung nantinya dengan apa yang saya tuliskan,¬†saya sarankan untuk melihatnya. ūüôā

Isi pesan yang disampaikannya tentu saja sangat subjektif. Benar ada ketidakbenaran, kesalahpahaman dan penyimpulan yang agak semena-mena disana tapi tunggu, ada serpihan fakta kebenaran yang terselip-selip. Bukankah itu yang penting untuk kita raba? Belajar menerima kebenaran dari orang yang membenci kita akan sulit memang tapi ada yang mengatakan, orang yang memusuhimu, perkataannya mengandung kebenaran. (secara normal, hal ini akan disanggah, karena yang namanya musuh pasti akan bersilat lidah melemparkan kebohongan bukan? Tapi ada sisi lain dari seorang musuh, dimana ia akan mengutarakan sebab kejengkelannya dengan jujur, dan itu yang hendaknya bisa kita tangkap).

Judulnya sendiri jujur saja bikin agak merinding dan tentu saja dorongan untuk mengklik jadi menggebu-gebu gitu, Islam-The Religion of Hypocrites. Bagaimana? Bagaimana reaksi kita saat mendengarnya? Cukup sederhanakah untuk disodorkan jawaban bahwa itu terjadi karena mereka tidak mengenal Islam dengan baik? Mereka hanya melihat sisi lain dari Islam. Mereha harusnya tahu bahwa sebenarnya Islam tidak mengajarkan itu. Cukupkah dengan itu saja? Hmm… sepertinya masih kurang.

Maka, mesti ada sedikit penjelasan atau paling tidak alasan¬†dari ¬†kita yang lebih `gila` untuk meng-counter tuduhan yang juga cukup `gila` itu bukan? Benarkah agama ini harus dibela dengan menanggung cacat bahwa¬†Tuhan-lah dan Rasul-Nya yang menghendaki dibela dengan cara-cara seperti itu? Begitukah? Hmm… mungkin (masih) kurang cukup juga?

Tentu saja seperti yang kita yakini, bahwa Islam itu rahmatal lil`alamin. Apa maknanya? Dia adalah kebaikan bagi siapa saja. Bagi muslim dan selainnya. Jika muslim akan berkata dimana nama Allah disebut itulah tanah airnya, maka bagi  yang bukan? Non-muslim? Tentu saja mereka (harusnya)  juga akan nyaman saat dipayungi langit dan menjejak bumi-Nya. Tidak ada agenda  membunuh dan merusuh jika hanya karena judul di hati mereka adalah `bukan Islam`. Tidak ada. Dulu, Nabi berda`wah dengan jalan damai, dan saat muslim diperangi barulah ayat yang mengizinkan untuk berperang turun. Dan perang masa itu adalah perang paling beradab yang pernah ada. Tidak akan disakiti anak-anak dan wanita. Mereka dilindungi. Dan saat beliau masuk Mekah dengan kemenangan mutlak, beliau bahkan tidak sedikitpun mengijinkan porak poranda di Mekkah, hatta dulunya mereka itu (kaum Quraisy) begitu kurang ajar dan kejam saat mengusir dan memperlakukan beliau dan para sahabat yang memeluk Islam sebelumnya. Beliau juga terpaksa hijrah dari tanah lahir beliau sendiri saat pedang khusus Quraisy begitu haus untuk menamatkan riwayat beliau dan da`wahnya. Maka, saat beliau kembali dengan kemenangan dan penaklukan Mekah, harusnya sudah cukup alasan untuk membunuhi siapa saja musuh beliau bukan?

Agaknya keteladanan pada sosok beliau dan cara da`wah beliau yang dulu itu mulai timbul tenggelam saat ini? Boleh jadi.

Hingga, coba lihat wajah Islam hari ini. Dituduh munafik! Wacana Islam agama yang damai seperti tertelan arus. Boleh, silahkan saja katakan itu propaganda mereka yang membenci Islam, mereka sengaja membuat konspirasi. Ada benarnya. Lalu coba perhatikan lagi. Mereka melakukannya karena kita (mungkin) mengijinkannya. Ada peluang bagi mereka untuk menabalkan label itu ke punggung dan dahi umat Muslim. Mereka punya alasan. Mereka punya kesempatan itu! Karena kita juga bukan?
Ini masalah? Whohoho… kita yang masih punya hati, akan sulit bilang bahwa sebenarnya itu bukan masalah besar. Ini masalah besar bukan?¬†Islam itu dikatakan problem solver, menjawab permasalahan umat, begitu kan? Lalu jika orang-orang di dalamnya sendiri bermasalah, coba bayangkan bagaimana tatap penuh `lucu` mereka yang tertawa tak yakin saat kita dengan lantang kembali meneriakkan bahwa kita ini problem solver.

Lalu, apa jawaban dari permasalahan itu? Apa memangnya hal paling hebat yang bisa kita lakukan untuk paling tidak mengurangi atau malah bisa jadi mengubah stempel dan stigma negatif itu? Oh, jangan hal yang paling hebat, kesannya begitu melangit dan sulit terealisasi. Kalau begitu, pertanyaannya diganti, hal apa yang paling mungkin kita lakukan? Adakah? Hmm… mungkin bisa dimulai dengan, menanyakan pada¬†diri kita sendiri. Sudah seperti apa Islam yang kita tampilkan bagi orang lain? Adakah kesholehan sosial yang santun dan membuat siapapun bisa tersenyum walaupun mereka berbeda dengan kita sudah berhasil kita wujudkan? Sudahkah berbuat baik kepada sesama muslim dan juga yang bukan muslim, tidak hanya kita jadikan sebagai slogan dan sebatas perkataan saja? Sudahkah kita introspeksi diri, jangan-jangan begitu sering kita melukai orang lain hanya dengan alasan kita ingin meninggikan kemuliaan agama kita. Sudahkah…? Ah, mungkin masih panjang listnya (Masih bisa ditambah )

Kalau belum, jangan salahkan kalau wacana hipokrit¬†ini akan terus bertengger dan tanpa sadar kita urun peran disana. ūüėČ

Ah iya, kalau sudah bertanya, ada jawaban iya atau tidak lalu tentu tindakan¬†paling hebat yang paling mungkin¬†adalah berusaha menghadirkan sikap itu mulai dari sekarang.¬†Ada baiknya juga kita percaya, bahwa¬†ada perubahan besar yang mungkin terjadi saat kita mulai dengan perubahan kecil yang dilakukan oleh dua tangan kita. Siapa tahu bukan?¬† ūüėČ

Ps :

Secara khusus silahkan memberikan tanggapan tentang isi video itu ūüôā

Read Full Post »

Weekend kemarin akan jadi cerita sejarah yang mungkin akan dengan senang hati dijadikan dongeng buat anak dan cucu nanti. (Mhuahahaha… lagi stress). Dorongan melakukan kegiatan ini¬†adalah rasa penasaran sekaligus menyalurkan emosi negatif, tegang dan perasaan terbeban yang numpuk (halaah).

Lalu apa yang saya lakukan di Sabtu Minggu kemarin rupanya? Bersih-bersih rumah? Ngerjain tugas? Main Badminton? Belanja? Ahh… bukan salah satu dari itu. Baiklah, kita mulai dari hari Sabtunya. Kegiatan di Sabtu¬†¬† kemarin benar-benar¬† sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Yama ni nobotta! Hiking? Iya… Hiking!!

Tidak dalam rangka apapun. Tercetus di akhir Mei lalu saat di kelas lagi bahas-bahas orang gunung. Lalu tentu saja Fuji-san yang terkenal itu. Jadi disusunlah rencana pendakian itu. Diputuskan untuk melakukannya pada Weekend, dipilihlah hari Sabtu, 16 Juni kemarin dan gunung dijadikan tujuan masih dalam wilayah Fukui, Arashimadake. Sehari sebelum hari H, saat pertemuan di kelas, rencana pendakian ini sempat terancam batal jika cuaca di hari Sabtu nanti tidak mendukung. Hujan adalah faktor utamanya. Jika hujan turun otomatis kami tidak akan berangkat. Berbahaya karena lereng gunung ini terkenal cukup curam dan pendakiannya terkenal sulit.

Sore hari Jumat, Anya (tetangga kamar) bilang kalau ramalan cuaca pada hari Sabtu tepat seperti yang diharapkan. Mudah-mudahan saja akan begitu nantinya. Dan benar, Sabtu pagi, matahari bersinar cukup cerah. Start dari asrama pukul 8 pagi dengan peserta 7 orang termasuk sensei. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dengan mobil untuk sampai ke gunung itu. Setelah siap-siap perlengkapan, pendakian mulai pada pukul 09.45 waktu setempat.

Eh, ada beberapa yang unik. Di titik start itu ada box yang mirip box telepon umum. Disana kita menuliskan nama, umur, no. HP, instansi, dan alamat. Jadi setiap peserta wajib mengisi daftar itu demikian juga setelah kembali nanti. Jadi, kalau ada peserta yang menemui masalah selama pendakian atau terlambat kembali, akan mudah dilakukannya pencarian dan pengiriman Tim SAR. Saya tidak tahu apakah hal serupa juga diterapkan di Indonesia, karena memang belum pernah ikut klub Pencinta Alam atau sejenisnya sebelumnya.

Lalu? Hmm… ada peralatan unik yang bagi saya aneh. Bel. Aah, lonceng lebih tepatnya. Kata sensei, dua hal yang berbahaya di gunung-gunung Jepang adalah beruang (kuma) dan ular. Ular bagi saya, di gunung Indonesia pun sama halnya kan? Lha ini beruang!¬†Ampuun…seramnya. Maka itulah fungi loncengnya. Dengan bunyi lonceng itu, beruang tidak akan mendekat dan akan memilih jalan lain, karena sebenarnya beruang juga tidak suka bertemu manusia. Saya takut? Jelaslah, kebayang gak ketemu dengan sosok 2 meter atau lebih itu lalu dikoyak moyak? (T_T) tragis bukan? Kata teman saya yang tidak ikut pendakian ini, “If you meet kuma, just run as fast as you can, you don`t need to believe that bel!” Wajahnya tegang dan tendensi kalimatnya itu…
Mhuahahaa… iyalah… Mana mau tunggu kompromi dengan beruang??

Dan pendakian itu benar-benar menyenangkan adanya. Saya ketemu ular yang besar dan panjang, sayangnya hanya saya dan teman saya yang melihatnya, tidak terjadi aksi pembunuhan. Kami tidak seberani itu :P. Ularnya pun hanya melintas saja. Hufff…

Pendakian ini begitu melelahkan dan tentu saja menyenangkan. Dapat dibayangkan bagaimana? Hmm… Biasanya bernafas di antara gedung-gedung dan bangunan tinggi. Mendengarkan suara lalu lalang mobil dan motor, suara kereta api yang melintas setiap hari di rel tepat di samping asrama setiap 10 dan 40 menit sekali, lonceng di pagi buta dan di awal malam dari Otera (kuil) yang agak jauh dari asrama tapi tetap terdengar setiap harinya, juga suara anak-anak yang bermain di taman depan asrama pada sore hari, musik keras dan pesta dansa dansi yang dibuat di loby bawah pada waktu-waktu tertentu… Bosan. Suntuk. Sumpek (Apalagi? ūüėõ )

Lalu Sabtu kemarin itu, pohon-pohon hijau di sepenuh mata. Udara segar yang dengan rakus kami hirup penuh-penuh. Bau hutan yang lembab, bau tanah yang becek dan kadang sedikit berlumpur, suara binatang hutan, serangga yang merayap di tanah bergerombol… gemerisik daun-daun, juga puncak Haku-san, tetangganya Arashimadake ini yang terlihat di seberang, yang masih tertutup salju. Kereeen. Indah banget. Kelegaan pertama tentu saja saat tiba dengan selamat di puncak. Arashimadake dengan ketinggian 1.523,5 meter ini termasuk dalam deretan hyaku meizan (100 gunung terkenal di Jepang), dan pendakiannya dikenal dengan tingkat sulit yang lumayan. Curamnya memang tajam. Jadi kebayanglah saya yang dengan kerennya melakukan pendakian ini. Whohoho… keren? Enggak ding, Sangat tidak tepat memakai istilah itu. Habisnya banyakan tersengal-sengal dan kelelahannya itu seperti menghisap semua cairan tubuh (halaah). Ah, yang jelas hal menyenangkan yang didapat cukup imbang.

Tiba dipuncak dalam pukul 01.54. Kimochi ii… (nyamannyaa…). Benar-benar tidak ada apa-apanya kita dibanding ciptaan-Nya yang penuh seni itu. Saya jadi tambah mengkeret. Apalagi saat melihat hijau di sekeliling bawah… Salju yang sedikit tertutup kabut di seberang, angin puncak yang berbeda, tekanan udara yang berbeda, dan…langit. Iya, langit terasa begitu dekat (paling gak dibanding yang biasa dilihat). Awannya seperti jalaran yang begitu tergesa-gesa, rasanya seperti mendengar gemuruh kalau membayangkan bagaimana dia bergerak. Keren. Tak tertandingi. Hmm… saya kurang perbendaharaan kata-kata bagus. Yang jelas saya mau bilang kalau itu benar-benar mencengangkan. Takjub, dan senang bisa melihatnya langsung. Pertama dalam hidup!!

Makan siang di puncak sama-sama, tentu saja dengan bekal yang dibawa masing-masing. Tapi lebih banyak makan bekal dari sensei :P. Ransel sensei kami itu penuh buah. Ampuun. Beliau itu yang paling tua, 55 tahun lebih udah usianya, paling cepat di antara kami, paling ceria, paling kuat, dan selalu sampai lebih dulu. Ckckck… sensei ini benar-benar mengagumkan.

Oh ya, kami juga mengambil apapun yang bisa diambil. Tentu saja tanpa melanggar kode etik, “Ambillah apapun, gambarnya saja”. Perjalanan kembali ke bawah pada pukul 02.20 waktu setempat dan sampai di kaki gunungnya memakan waktu 3 jam. Oh ya, yang lucunya, pas kami awal-awal mendaki, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sudah turun, ada yang mendaki pada awal hari. Mereka itu para obaachan dan ojiichan (nenek dan kakek) yang usianya rata-rata ditaksir di atas 50 tahun. ūüėĮ Iya,kami kaget-kaget, malu juga. Soalnya baru awal mendaki tapi udah mulai kelelahan dan itu nampak banget. Mhuahaha… yang muda aja kalah sama yang tua. Sehat banget ya mereka…

Jadi begitulah, lega kali begitu bisa sampai di bawah kembali. Dalam perjalanan balik itu saya mulai seperti kehabisan energi soalnya. Penatnya. Hingga untuk menyalurkan emosi negatif, saya menceracau dalam bahasa Indonesia, jadi enggak ada yang paham saya bicara apa :P. Habisnya itu benar-benar melelahkan sih. Detik-detik terakhir di perjalanan pulang itu, enggak ada pohon, cuma ilalang, dan jalan menuju ke bawah itu kerikil campur cadas-cadas besar. Panas, gerah, air minum habis. Bleh… perjuangan berat. Sempat terpikir untuk berguling-guling saja saking gak kuat lagi jalan. Pulang balik itu SEPULUH kilometer saudara-saudara. Dan saya baru pertama sekali melakukannya.¬†Saya juga¬†tidak melakukan latihan jalan sebelum-sebelumnya. Dan saya juga bukan atlit lari jarak jauh yang terbiasa dengan kekuatan tungkai yang terlatih rutin. Bukan. Maka makum saja dalam perjalanan pulang di mobil, saya lebih banyak diam dan .. tidur! :P. Tiba di rumah? WHohoho… rating tidur paling cepat dalam kurun waktu belakangan ini. Pukul 10 kurang udah ga sadar lagi. Terkapar dengan sukses. T_T.

Hari Minggunya jadi batal keluar rumah. Beres-beres seadanya saja dan menyembuhkan pegal-pegal yang mulai menjajah… ūüėõ

Ah, anyway, saya senang kok dengan pendakiannya. I was so tired (kalau gak mau dibilang it was tiring ūüėõ ) but i was so exciting. Ureshikatta yo ^^;. Saya masuk Top Five saat tiba di puncak dan Top Four (halaah) saat tiba di bawah, dari 7 orang total peserta. Hiyahaha.. That was not too bad, i think :P, deshou?¬† Sekali lagi, cukup imbanglah dengan kepenatan yang saya dapat. ^_^

Oh ya, mau tahu apa isi ceracau saya dalam Bahasa Indonesia sewaktu dalam perjalanan balik ke bawah?
-Ya Tuhan, kenapa perjalanan balik ini jadi terasa lebih panjang dan begitu melelahkan. Aku menyukai pendakian hari ini, tapi aku janji, ini yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku. Cukuplah sekali ini saja-

Dou? Ganbatta deshou? :mrgreen:

Hmm… Agustus nanti pendakian ke Fuji-san mulai dibuka, saya mau sih ikut kalau ada yang rencana hiking, tapi dengan bus aja… ūüėõ

Ps : skrinsyut menyusul Insya Allah, masih tersebar di beberapa penjuru soalnya ūüėõ

 

 

Read Full Post »

¬†Ah, memang sudah jelas¬†itu dua hal yang tidak bisa disamakan.¬†Total bertabrakan hukum pengerjaannya.¬†Sake termasuk dalam list minuman yang dilarang¬†untuk muslim. Mencicipinya walau hanya setetes, hukumnya¬†sudah jelas bermuara ke mana, haram. Lalu poligami? Ada nash-nya dalam Al Qur an (An-Nisaa : 3). Poligami diperbolehkan dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu. Anjuran? hmm… beberapa menafsirkannya seperti rukhsah (keringanan), semacam pintu exit bagi kemudaratan. Oleh karena itu¬†sudah pasti ini dua hal yang bertabrakan. Lalu kenapa klausa di judul itu jadi begitu? Hmm… tunggu dulu, itu benar ada dan diucapkan seseorang.

Silahkan baca kejadian nonfiktif berikut. Ini akan sedikit panjang. Sungguh. Sebenarnya agak sulit juga bagi saya untuk menuliskannya, tapi semoga saja semangat untuk berbagi lebih kentara daripada kesan berani bicara tanpa ilmu. ūüėČ

Jaa… hajimemashou ka? *gaya pesulap Jepang*

Awal kejadiannya¬†di beberapa waktu lalu, seperti biasa kalau ada yang mau wisudaan, atau menyambut tahun baru atau ada anak baru masuk Lab, akan ada yang namanya nomikai (pergi minum), yang itu juga berarti acara minum bersama, mabuk bersama, makan sama-sama antara dosen dan para mahasiswanya. Seperti yang disebutkan tadi, ini kisah nonfiktif, para pelaku yang terlibat saat kejadian masih hidup semuanya, dan yang menceritakannya termasuk salah satu saksi mata sekaligus peserta aktif¬†disana ūüėÄ

Yang dipilih adalah kedai tradisional Jepang yang letaknya tidak jauh dari kampus dan ternyata begitu dekat dengan tempat tinggal saya. Kedainya walaupun tidak begitu besar namun terasa nyaman. Gerombolan kami menempati tempat yang sudah dipesan sebelumnya, di bagian lesehan. Jadi dengan 2 meja panjang dan alas duduk, terpisah jadi dua grup. Saya dan dua gadis teman saya asal Malaysia dipersilahkan duduk semeja dengan dua orang sensei dan seorang laboran yang bertugas di  lab Quantum Electronics Research (QER) itu. Mahasiswa perempuan di lab QER hanya kami bertiga saat itu. (sekarang mereka telah menyelesaikan belajarnya dan pulang ke negerinya).

Baik, lanjut lagi ke meja makannya. Ada beberapa kejadian “andalah pusat perhatian” yang kemudian terjadi. Pertama, dimulai saat order menu. Hanya kami yang ditanyakan mau minum apa. Yang lainnya ternyata akan pesan bir yang seragam.¬†¬†Dua teman saya pilih kora (cola) sedangkan saya tentu saja minuman orange kesukaan saya yang¬†sulit ¬†tergantikan oleh apapun… hatta oleh bir paling mahal sekalipun . Ah, sebenarnya itu juga¬†alternatif yang mudah ditemukan kalau minum atau makan di luar, bebas dari keraguan ketidakhalalan. Anak-anak yang lain menatap dengan penuh perhatian layaknya menyimak jawaban ujian yang diberikan dosen saja. Beberapa mengangguk-angguk saat diberitahu bahwa kami tidak¬†minum sake atau bir atau minuman beralkohol lainnya. Beberapa tersenyum saja, agaknya mereka sudah tahu sebelumnya.

Setelah bersulang, “Campaign!!”, kejadian “andalah pusat perhatian” yang kedua kalinya terjadi saat menu makanan set kolektif dibawakan. Semua memandang (lagi-lagi) dengan penuh perhatian saat Sensei bilang “Ini gak papa kan ya?” sambil menunjuk nampan Sashimi¬† diletakkan di depan kami. “Ini juga bukan daging lho, ikan yang dimasak”, tunjuknya ke piring lainnya. Kami mengiyakan dengan anggukan, “Thanks” plus senyum. Lalu salah satu dari mereka menjelaskan kalau kami tidak boleh makan daging yang tidak halal disamping tentu saja buta niku (daging babi) yang sudah jelas-jelas dilarang.Beberapa ada yang terkaget-kaget gitu, ada juga yang mesem-mesem aja…. huff…

Di sela-sela makan, sambil menunggu makanan selanjutnya datang, beberapa mulai menambah minuman birnya, juga sensei. Malah sensei pembimbing riset saya lumayan “kuat” kalau soal minum. Katanya sanggup bertahan untuk tidak mabuk walaupun sudah bergelas-gelas begitu minumnya. Bleh… heran juga sih. Sensei satu lagi cuma dua gelas setelah itu malah sama-sama minum orange seperti saya.

Lalu perbincangan seputar bagaimana rasanya tinggal di negeri orang, jauh dari orang tua, mampir ke kami. Apalagi anak perempuan, sulit tidak atau bagaimana? Bagaimana hidup di lingkungan yang kulturnya berbeda, ada masalah dengan keleluasaan beribadah atau tidak? Hingga ke kerudung yang kami pakai. Apakah semua wanita di Indonesia dan Malaysia yang muslimnya memakai kerudung seperti kami? Apakah ada pemaksaan jika ada yang tidak memakainya? … dan seterusnya. Oh iya, pertanyaannya dalam bahasa yang halus kok, dan saya menuliskannya inti pertanyaannya saja. Percayalah mereka akan hati-hati sekali dalam mengajukan pertanyaan, tidak seradak seruduk menerobos sensitifitas orang lain. ūüėČ

Hingga kemudian…

“Oh ya, saya dengar, di Indonesia boleh menikahi lebih dari satu istri ya? Apa benar begitu?”, sensei yang duduk paling ujung dekat dinding, pembimbing riset saya, tiba-tiba seperti “membanting” kesadaran¬† dengan keras. Heeee??? wacana poligami nih… Dooh… saat itu (bahkan sampai sekarang kan ya?)¬†tema poligami yang mengundang pro kontra sedang maraknya dibicarakan, mulai dari media elektronik, surat kabar, internet (blogosphere), lalu disini juga?!? Ya ampun. populer benar isu satu ini… hmm…. harus hati-hati nih ngasi penjelasan…

“Eh, iya sih, tapi bukan semua kok, itu cuma buat muslim aja…” Jawaban pertama dari saya. Sensei yang berada di depan saya seperti terperanjat. Heh… kayanya baru pertama tahu nih sensei…

“Heee….? Benar ya? Berarti muslim di Malaysia juga? Yang di Arab juga ya???”. Tampaknya sensei satu ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.¬†Dua teman saya yang ditanya mengangguk mengiyakan. “Iya, tapi memang cuma bagi muslim saja ….”

“Waaah, minum sake sedikit saja tidak boleh kan ya? Ini, menikah lebih dari satu dibolehkan? Hebat sekali ini!” Beliau melanjutkan keterkejutannya dengan statemen kesimpulan yang…. kacaw (menurut saya,¬† -_-). Tapi wajar saja sih, agak mencolok memang keadaan ini dan bagi mereka yang di luar Islam, mestinya penjelasan yang diberikan bisa “menjawab” juga sekaligus bisa meluruskan miss-persepsi yang misalnya terlanjur terjadi. Saya mulai khawatir saya tidak semampu itu untuk melakukannya…

Dosen pembimbing riset saya, Niki sensei hanya tersenyum. Agaknya tidak terlalu kaget? Hmm… mungkin. Ekspresinya agak aneh begitu, saya sampai tidak berani menafsirkan jenis perasaan apa yang diwakili oleh ekspresi wajah beliau saat itu.

Sensei yang satu lagi melanjutkan,¬†“Jadi istrinya boleh dua¬†ya?”, kami jawab, “Maksimalnya empat sih…”. Beliau tambah kaget, “Heee?? Empat?…”. Saya buru-buru menimpali, ” Tapi syaratnya enggak mudah kok sensei, beda sekali dengan saat pertama menikah. Ada kondisi-kondisi tertentu…”.¬† Teman saya juga menambahkan, “Harus punya uang banyak dan kecukupan harta untuk memastikan bahwa ia bisa mensejahterakan istri-istrinya itu… ya kan?” Dia menoleh ke saya. Lho?! Tentu saja gak cuma itu aja.

Bukan uang semata atau adil yang bagaimana yang jadi pertimbangannya kan? Jadilah akhirnya kami menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dengan dibarengi diskusi-diskusi kecil di antara kami bertiga. Kami berusaha menjelaskan dengan hati-hati dan memilih-milih bahasa yang tepat. Menjelaskan perihal agama, ibadah, keyakinan, larangan dan perintah, dalam bahasa sendiri saja menuntut penjelasan yang baik dan bahasa yang tepat, dan kehati-hatian dalam menyampaikan, apalagi dalam bahasa asing begini? Berraaat…

Kurang lebih kami mencoba menjelaskan, bahwa bukan hanya harta yang menjadi tolak ukur seseorang akhirnya berpoligami. Fenomena yang disampaikan teman saya tadi, biasanya lelaki setelah punya uang banyak dan hidup berkecukupan akan berpikir untuk menambah istri adalah fakta yang juga tidak bisa disangkal, pikir saya.Walaupun tentu saja tidak bisa digeneralisir bahwa akhirnya yang melakukan poligami selalunya orang yang punya kecukupan harta. Disini dituntut kemampuan berlaku adil, baik secara lahiriah maupun non lahiriah. Jangan sampai setelah bertambahnya `tim kerja` dalam kehidupan rumah tangga, keharmonisan di dalamnya seperti terbang entah kemana. Dan setelah dirunut kembali, tidak ada aturan per point, syarat baku perihal poligami ini. Malah terkadang keputusan subjektif dari pihak suami misalnya, menganggap kondisinya perlu berpoligami dengan alasan-alasan tertentu, dengan mudah bisa melakukan poligami ini. Hhh… saat itu saya mengeluh dalam hati, harusnya saya harus siap diri lebih banyak untuk hal-hal seperti ini. Salah-salah menjelaskan, bisa saja Islam tambah tercitrakan negatif, mengingat sekarang ini pun, imej Islam terlanjur dikait-kaitkan dengan hal negatif. Karena bukan berarti dengan adanya dalil tentang poligami dalam Al Quran, Islam memberi kebebasan sebesar-besarnya pada para suami untuk menambah istri, secara pada ayat yang sama dijelaskan, jika tidak mampu berlaku adil, cukuplah seorang saja.

Lalu sensei menanyakan berapa kira-kira persentase laki-laki muslim yang melakukan poligami di Indonesia, lalu di Malaysia… Bisa ditebak, kami tidak bisa menjawab dengan data konkrit. Sedikit, itu jawab saya. Begitu juga di Malaysia, tidak banyak, kata teman saya. Benar kan? (duh, jangan-jangan salah lagi nih jawabannya, tidak banyak kan yang melakukan poligami?). Lelaki yang melakukan poligami memang tidak dalam jumlah besar tapi mulai jadi fenomenal, terlebih lagi akhir-akhir ini. Hingga kemudian wacana¬†poligami ini jadi sedemikian marak diperbincangkan, mengundang pro kontra yang tidak ada habisnya.

Pertanyaan selanjutnya masih seputar itu. Bagaimana dengan keluarga kami sendiri?¬†Ketiga kami dengan cepat dan dengan ekspresi yang hampir senada menjawab, bahwa ayah hanya punya seorang saja, yaitu ibu kami. ^_^ . Lalu ketegangan di antara kami bertiga (dalam hati) mulai berangsur-angsur kembali ke titik nol setelah pertanyaan satu ini. “Yokatta” ujar sensei dibarengi senyum lebar, mengikuti senyum kami yang terkembang setelah menjawab tadi. Lalu perbincangan berlanjut ke hal-hal lain, yang jauh lebih ringan daripada wacana poligami ini. Thanks God.

Sampai sekarang pun sebenarnya saya masih menyimpan kekhawatiran  tentang penjelasan kami masalah poligami ini. Bayangkan sajalah, yang menjelaskannya orang yang punya wawasan yang baik, bahasa yang bagus, tetap saja ada ada pro kontra dan sikap tidak bersahabat, apalagi kami-kami ini yang berusaha menjelaskan sejauh yang kami paham dan kapasitas ilmu yang begini ini. (-_-). Benar-benar berat bukan?

Terus, kalau giliran kami yang dipoligami bagaimana? Whahaha… itu bukan pertanyaan selanjutnya dari sensei kok, itu diskusi intern kami bertiga akhirnya. Ah, padahal sedikit lagi kan hampir nyambung kesana, kenapa sensei tidak menanyakannya saja ya? Untuk menjaga perasaan kami? Hmm… boleh jadi.

Kalau boleh bilang, sebenarnya bukan poligaminya yang bermasalah. Lalu kenapa sampai saat ini tetap saja ada yang mengecam atau bahkan mendukung tindakan ini? Saya melihatnya hal ini lebih kepada personalnya dan lebih kepada bagaimana masyarakat memandang adab berpoligaminya sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat begitu sensitif dengan hal ini karena fenomena sosial yang mereka dapati kehidupan rumah tangga poligami pada kebanyakannya jauh dari kesan rumah tangga nabawi dulu. Rasul dulu melakukan poligami, malah lebih dari empat istri. Tapi ketika dirunut kembali, beliau melakukannya dengan begitu banyak tujuan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan da`wah Islam masa itu. Dan beliau melakukan poligami ini justru pada masa-masa akhir hidup beliau, setelah melewati tiga puluh tahun dari masa muda beliau.

Mengapa beliau berbesanan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi Aisyah dan Hafsah, mengapa pula beliau menikahkan putri beliau, Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, Ruqayyah lalu disusul Ummu Kulsum dengan Usman bin Affan, mengisyaratkan bahwa beliau ingin benar-benar menjalin hubungan yang erat dengan empat orang tersebut, yang dikenal paling banyak berkorban untuk kepentingan Islam pada masa-masa krisis hingga akhirnya keadaan krisis ini dapat terlewati dengan selamat.

Dikatakan bahwa diantara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi ummahatul mukminin, Rasul hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam dan memadamkan kemarahna mereka terhadap Islam. Setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzum, yang satu perkampungan dengan Abu Jahal dan Khalid bin Walid, dinikahi Rasul, membuat sikap Khalid bin Walid tidak segarang sikapnya sewaktu perang Uhud. Bhakan akhirnya ia masuk Islam tak lama setelah itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Begitu pula dengan Abu Sufyan yang tidak berani menghadapi permusuhan setelah beliau menikahi putrinya, Ummu Habibah. Juga sama kejadiannya dengan Bani Al-Musthaliq dan Bani An-Nhadir, yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah beliau menikahi Juwairiyah dan Shafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan wanita yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dirinya dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan seratus keluarga dari kaumnya. Karena itu pada saat itu para sahabat berkata, “Mereka adalah para besan Rasulullah”. Tentu saja ini begitu berkesan bukan? ^^;

Jadi itu hanya sedikit gambaran bagaimana poligami Rasulullah yang menggambarkan tujuan poligami beliau. Lalu dengan fenomena poligami hari ini? Ah, pastilah pro kontra akan tetap ada. Seperti yang pernah disampaikan di salah satu mendiang blog seleb, tidak perlu sampai gontok-gontokan bahwa pendapatnya yang paling benar. Jika memang berbeda pandangan dan tidak ingin ada yang berubah dengan pandangannya masing-masing, maka sepakat saja untuk tidak sepakat, lalu sepakat pula untuk menghargai ketidaksepakatan itu.

Lalu…? Lalu…? Bagaimana pula pandangan saya pribadi perihal poligami ini? (Menghela nafas dulu¬† :mrgreen: )

¬†Ah, kalau saya yang ditanyakan¬† bagaimana saya memandang poligami. Hmm… biasa saja. Sejujurnya saya bukanlah orang yang anti-poligami hingga membenci mati-matian siapa saja yang melakukannya. Tidak sampai sebegitunya. Lalu saya mendukungnya? Ah… alangkah baiknya kita tidak selalu mematok dua hal sebagai kemungkinan jawaban. Jika bukan A maka mesti B. Seperti yang pernah diulas disini. Karena memang tidak baik begitu. Saya hanya merasa ¬†lebih nyaman saja dengan fenomena lelaki yang menjalankan monogami kok ūüėČ

-Unvaluable part-

Maka, seandainya saja suatu hari nanti, ada dialog seperti ini :

dari-anto.jpg

 

     

¬†¬†ūüėÜ

Dialog di atas itu hanya rekayasa dan fiktif adanya, jika ada kesamaan nama tokoh dan kejadian itu hanya kebetulan belaka. :mrgreen:

Eh, begini-begini, saya tetap salut dan menyimpan kekaguman lho, pada perempuan-perempuan yang bersedia berbagi kebahagiaan dengan¬†yang lain meskipun itu berarti ada sedikit kebahagiaan yang hilang dari hatinya.¬†Kalau gak ikhlas kayanya rentan banget ya dengan sedih-sedih dan penyakit hati. Kayanya saya masih belum bisa seperti mereka….

Ah, walaupun begitu, saya tetap pada pikiran saya, juga pada¬†apa yang saya yakini bahwa penilaian Yang Maha Bijak itu selalunya unpredictable. Apalagi dengan skenarionya yang tidak tertebak oleh siapapun.¬†Dia pasti punya penilaian sendiri¬†saat naluri manusiawi perempuan merasakan ketidakridhaan saat diduakan. Hmm… lagipula, lelaki yang adil dan¬†sempurna dalam tiap jejak dan kasih pada semua istrinya itu telah tiada.¬†Kalau ada yang begitu, siapa yang menolak? Masalahnya enggak ada lagi… T_T

Ffuih… ffuih…¬†sudah ah.¬†Terasa subjektif ya? Saya sudah berusaha¬†mengejawantah secara objektif¬†¬†sih tapi jika kemudian terasa tidak begitu yah apa boleh buat, terkadang memang kerangka fikir dan emosi kita berpengaruh terhadap apa yang kemudian keluar dari pemikiran kita bukan?¬† *bela diri* :mrgreen:

 References are taken from : Syamil Qur an dan terjemahan, Shirah Nabawiyah (author : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury),  Nomikai event, March 2007

Read Full Post »

Halaah…

Saya sedang nak mengarut sekarang ni. Nak ke tak baca ? :mrgreen: *kesambet Malay*

Ehem. Sungguh. Ini akan jadi sesuatu yang kurang penting (mungkin) tapi saya¬†tidak bisa menahan diri untuk tidak posting. Mau posting yang serius, belum selesai digarap, daripada hancur dan garing lebih baik langsung saja¬† saya tulis yang sudah¬†jelas-jelas garing kan ya?¬†ūüėõ

Eh… judul itu sungguhan ada lho. Mulai populer di kehidupan saya beberapa hari ini. Hmm… tepatnya sejak Kamis minggu lalu. Aka-chan (anak bayi) siapa? Eh… bukaan… bukaan… bukan anak bayi yang itu maksud saya.¬† Walaupun kemarin saya sempat jadi relawan ikut belanja pernak pernik maternity, tapi ini asli ga ada hubungannya ke sana. Ini menyenangkan bagi saya lho. Minta maaf kalau nantinya tidak ke anda.¬†ūüėõ . Ini masih dalam rangka cari kesenangan di sesuatu yang lain . Dan tidak bisa dipungkiri, terkadang hal-hal sepele bisa punya imbas yang signifikan ke perasaan. Bleh… (bicara apa ini?). Jadi? Mari bersenang-senang… ūüėÄ

Sebenarnya ini mungkin agak sedikit memalukan kalau diceritain, tapi saya ga salah dong. Ini fakta sih.¬†Jadi faktanya, sejak minggu lalu ¬†di kelas bahasa panggilan itu jatuh ke saya. Oh… tunggu… tunggu… jangan menuduh saya narsis¬† sok imut atau anak kecil. Yang punya inisiatif manggil itu orang lain lho. Jadi sekali lagi, ini fakta.¬† :mrgreen:

Gara-garanya cuma sepele, abis ada yang giliran speech di depan kelas, terus ada beberapa hal terkait yang dijelaskan oleh sensei lalu entah kenapa menjurus ke topik anak kecil, ibu dan adik bayi. Tiba-tiba Chin san, chinese student, nyeletuk… ¬†“Aaah, kanojo¬†mo aka chan yo!” (Eh, dia ini pun aka-chan lho…). Spontan. Dan seisi kelas langsung setuju T_T. Berulang kali saya protes tapi sia-sia aja. Huff…¬† dia itu kalau sudah ngomong berpengaruh kali sih di kelas (-_-). Alasannya sama dengan¬†kejadian tahun lalu, saat di kelas buat surprise birthday party untuk teman yang ulang tahun. Ketahuan jadinya saya yang paling kecil di kelas. Sejak itu dipanggillah dengan akhiran “chan”. Jadinya, katakanlah nama saya hiruta-san, sejak itu menjadi hiruta-chan (seringnya pas dipanggil, “chan” malah bertransformasi jadi “chang”) atau Jepe-chan. Sekedar contoh saja itu ah… jangan terlalu dipikirkan ūüėõ .

Hmm… Sebenarnya ada seorang lagi anak cowo yang tahun lahirnya sama,¬†tapi katanya¬†dia, saya tetap lebih muda. Karena dianggap sama-sama “anak kecil”, belakangan dia kebagian panggilan yang sama juga. Baguslah, paling gak saya ga sendiri… ^^;¬† Tapi benar kok, di kelas itu, rata-rata usianya itu sudah dua puluh tiga ke atas, jadi maklum saja kalau mereka merasa kami masih adik-adik.¬†Walaupun sebenarnya saya pribadi tidaklah terlalu rewel masalah umur ini. Tua ya tua saja, kalau memang masih muda, kecil… ya sudah.¬†Tidak ada yang perlu diributkan harusnya. Emm… intinya sih, mau masih muda atau tua, atau bagaimana, itu ¬†bukan¬†sesuatu yang¬†harus bikin rewel lah. (dikejar¬†seseorang nih!)¬† :mrgreen:¬†¬†

Maka¬†hingga hari ini, resmilah saya dipanggil aka-chan begitu. Ah.. tentu saja hanya terbatas teman-teman dekat dan para sensei kelas bahasa saja. Awalnya aneh dan tidak terima sih, tapi setelah dua jam pertama dipanggil begitu sampai sekarang, kayanya itu menyenangkan ya? Seperti terus didoakan agar tetap muda… (whohoho.. harap bersabar diri bagi yang ingin kalap)¬† :mrgreen:

Oh ya… setelah sukses menabalkan stempel aka-chan ke saya, pembahasan berlanjut ke cuaca. Konon kabarnya, orang Jepang merasa sebagai orang yang paling banyak dan paling sering bicara cuaca dibandingkan bangsa lainnya di dunia. Dan saya merasakan sendiri akhirnya, topik pembicaraan yang akan paling sering ditanyakan saat berkenalan atau bertemu dengan orang Jepang adalah, bagaimana cuaca di negara anda, bagaimana dengan cuaca Jepang, sudah terbiasa dengan empat musim disini dan tipe-tipe sejenis seputar cuaca. Disamping tentu saja¬†mereka juga suka tanya makanan. Bagus juga sih, coba sempat mereka tanya bagaimana stabilitas politik dan kondisi pendidikan, hmm… topik yang terlalu melelahkan untuk dibahas sebagai pembicaraan ringan di awal-awal perkenalan. Lagipun jangan-jangan saya bisa kehabisan nafas kalau sudah bicara seputar masalah itu. So complicated.

Ah iya, jadi kembali ke cuaca. Sepanjang natsu (musim panas), curah hujan yang paling tinggi jatuh di bulan Juni. Kalau sudah bicara hujan…hmm… saya termasuk yang senang saat mendengarnya. Entah kenapa saya suka hujan. Aneh tidak?¬† ūüôĄ¬† ¬†Ah… ini maksudnya bukan seperti yang suka sengaja cari gara-gara dengan jalan tanpa payung tanpa tujuan yang jelas di tengah¬†derasnya hujan.¬† Sama sekali bukan. Beraktivitas di luar ruangan di saat hujan lebat, petir dan angin badai (bagaimana? lengkap bukan kengeriannya?), itu sesuatu yang saya hindari. Jika tidak terpaksa benar, saya akan¬†lebih suka melakukannya setelah hujan reda.

Jadi begitulah, saya penyuka hujan. Mengamatinya saat jarum-jarum air menyentuh genangan air lalu berbaur dengan yang lain. Nyaman saja rasanya. Dan beberapa waktu belakangan ini, dari akhir Mei hingga sekarang, hujan cukup sering turun. Sabtu Minggu kemarin malah deras-deras hingga gerimis jadinya. Kebalikan ya? ^_^ Kadang sejak subuh hingga sore.¬†Kenyamanan saya lainnya adalah mendengarkan bunyi tuk-tuk-nya itu. Seru.¬†Apalagi saat¬†memandangnya dari balkon kamar. Eh, dari kamar di lantai tiga ini, yang nampak¬† malah cuma roof-top apartemen seberang sih. ūüėõ¬†¬†Ah… Biarpun begitu tetap saja saya teguh pendirian (bleh…). Pokoknya hujan itu menyenangkan. Walaupun saya sendiri tidak ingat sejak kapan kesenangan ini mulai melekat. Kayanya sudah lama benar ūüôĄ

¬†Aaa… *tiba-tiba ingat sesuatu*

Waktu SMU saya pernah baca… (maaf lagi-lagi lupa bacaannya) cerpen kalau ga salah. Anak cewe sih yang katanya kalau sedang sedih dan ingin menangis, dia akan senang melakukannya sambil berjalan dalam hujan. Biar orang lain ga tahu kalau dia sedang sedih. Hmm… aneh juga ya, rasanya terlalu mendramatisir begitu. Kalau sampai sakit? Atau pingsan di jalan, dalam genangan air hujan? Apa gak ngeri¬†tuh?¬†(dooh… imajinasi… ). Hmm… tiap orang itu memang punya keunikan sendiri-sendiri.¬† Asal metode¬† ini (halaah) ga langsung digeneralisir sebagai gaya mellow anak perempuan pada umumnya saja. ¬†ūüėȬ† Ingat! dikatakan bahwa, generalisir itu khas orang yang malas berpikir. ūüôā

¬†Nah… kalau yang faktanya saya ini menyukai hujan, merasa nyaman dengan hujan… biarkan saja begitu. Saya agak aneh memang. (Secara hampir semua teman saya tidak suka sih dan saya dibilang¬†aneh jadinya…).¬†Ada benarnya juga… jarang-jarang banget ada orang yang suka hujan.¬†Ah, biarkan sajalah… Terlanjur sih.¬† (¬†What a lovely strange aka-chan ya…) ūüėĬ†

– hmm… mengarut dah selesai – :mrgreen:

*Malay mode off*

Note :
judulnya di-apdet¬†^^; (Harap jangan kaget menemukan kerancuan dalam judul… Inggris, Japanese dan bahasa Indonesia ūüėõ )

Read Full Post »

Taraa… Atarashi imeji wa mitai deshou?¬†*senangnya…*¬†¬†Nampak jelas kan ya?¬†

Un. Begitulah… ¬†

Kalau kemarin itu avatarnya yang Ayu Tsukimiya, sekarang disekaliankan dengan header image deh jadinya. Kebetulan banget Sora baru upload gambar baru. Whohoho.. langsung sukses dibajak nih.(Makasih ya Sora…). Habis gambarnya bagus sih.

Oh ya… awalnya bingung juga mau di-crop bagian mananya. Antara wajah sama jalannya. Inginnya sih tentu saja utuh. Apa daya, theme-nye MistyLook ini punya header yang agak sempit. Jadilah akhirnya bagian yang dipilih adalah seperti yang sekarang ini anda lihat. ^_^

Really thanks to the author for your kind help. Kono e wa totemo kirei datta. Doumo arigatou. Kreditnya dilunasi deh asal ga nyebut-nyebut angka berdigit :mrgreen:

Hufff… di sela-sela ketidaknyamanan di dunia nyata (halaah curhat :P) syukurnya keriangan masih tetap ada. ^^; Mungkin itu kali ya sebabnya kenapa ada yang pernah bilang, “sisakan selalu kantong kegembiraan”. Jadinya…saat ada hal-hal yang membuat kita urung tersenyum, kita masih¬†punya persediaan tawa yang lapang dan hati yang nyaman. Walaupun sisa-sisanya¬†mungkin… Pokoknya‚ĄĘ jangan sampai kantong itu kosong…

Buat Ma yang lagi dikejar-kejar UAS, Difo yang katanya juga lagi serius dan butuh¬†pelampiasan,¬†hingga harus minta maaf di salah satu entry- nya, atau Shan In yang lagi sibuk dengan persiapan SPMB dan dirundung “rasa aneh” yang berkepanjangan sampai dirangkum dalam trilogy begitu… (ampun, takutnya anak 13‚ĄĘ tahun¬† itu datang dan ngamuk disini pula) :mrgreen:…

Aah… Pokoknya‚ĄĘ¬† buat semuanya… baik-baik ya… ūüėȬ† kita senasib sih (-_-)

Ja, minna… mou sukoshi,¬†Ganbatte ne! ¬†^_^

Huff… legganyaa…

Hidup itu menyenangkan ya lika-likunya ūüėČ

Read Full Post »

Hmm… tadi beres-beres file bahan kuliah semester lalu.¬† Ga sengaja akhirnya ketemu dengan berkas lagu-lagu di file mata kuliah Japanese Traditional Industries. Coba… kurang nyambung ya agaknya? Kelas Industri kok malah ada nyanyi-nyanyi begitu? ūüôĄ

Hihi… sebenarnya gini… Di kelas ini di pertemuan tiap minggunya memang langsung mengunjungi site-site industri tradisional Jepang, jadi tidak¬†seperti¬†mata kuliah biasanya, dan tidak ada teori yang diberikan sebelumnya di kelas. Jadi langsung dihadapkan ke lapangan, eh ke industrinya itu maksudnya.¬†Sejauh yang¬†masih saya ingat nih¬† (memori dengan daya tahan lemah :P), industri yang pernah dikunjungi adalah Japanese pottery, Echizen Bamboo dolls, Japanese washi paper, Soba dojo (ini paling menyenangkan karena sehabis buat mie soba (mi hitam khas Jepang)¬† ini, kita makan-makan…indahnya), Echizen Cutley, dan beberapa lainnya (lupa… T_T).

 Tiap industri itu letaknya jauh dari kampus dan memakan waktu satu sampai satu setengah jam untuk sampai kesana dengan bus. Dari gakkou start pukul satu dan biasanya kembali dalam pukul 5 atau setengah 6. Dalam perjalanan menuju kesana, akan dijelaskan oleh dosen bagaimana asal-usul industri tersebut dan apa yang akan kami lakukan disana.

Lalu apa hubungannya dengan nyanyi-nyanyi? Ah.. di tiap perjalanan pulang, seringnya akan dibagikan lagu-lagu khas Jepang yang terkenal, biasanya lagu lama sih… Jadi disitulah mengapa akhirnya selain koleksi barang buatan sendiri sehabis kunjungan kesana, ada juga lagu-lagu Jepang lama dan antik.

Dan agaknya saya jadi suka dengan lirik Sukiyaki-nya Sakamoto Kyuu. (bukan Sakamoto Maaya nih ya? *lirik avatar seseorang*). Sukiyaki adalah nama populer lagu ini, Ue o muite arukou, di USA yang sempat menempati puncak¬† Billboard pop charts pda tahun 1963. Di Jepang sendiri lagu ini tetap jadi hit hingga saat ini. Emmh… saya sendiri suka Sukiyaki versi sekarang, jadinya tidak terlalu antik dan friendly saat didengarkan.

Kyu sendiri meninggal dalam kecelakaan pesawat Japan Air Lines 123 tahun 1985. Katanya sebelum meninggal Kyu sempat menuliskan surat perpisahan untuk istrinya. Kata dosen mata kuliah ini, kabarnya kecelakaan pesawat ini sempat mengundang kecaman ke pemerintah karena bantuan Tim SAR yang baru tiba paginya, hingga hanya 4¬† orang yang berhasil diselamatkan. (whohoho… jadi cerita-cerita Kyuu ya? :roll:)

Aaah… liriknya lagu Kyuu ini sendiri menceritakan kisah sedih sih.(Jangan-jangan karena itu ya saya jadi suka). Coba deh dilihat, kalau biasanya suka dengan lagu-lagu Jepang yang gaul dan populer saat ini dan anak muda banget, mungkin lagu ini memang antik benar.

Yang italic terjemahannya. Yang plain lirik lagunya. Saya tulis begitu terinspiirasi abis liat gimana di blog ini, rapi kali pas buat entry tentang lagu. (Padahal blog laki-laki lho :P… Makasih ya…).

Ja… douzo, kore o yonde … ^_^

Ue o Muite Arukou

(Sakamoto Kyuu)

Ue o muite arukou

Namida ga kobarenaiyouni

Omoidasu haruno hi

Hitori bocchinoyoru

(I look up when I walk

So the tears won`t fall

Remembering those happy spring days

But toninght I`m all alone)

Ue o muite arukou

Nijinda hoshi o kazoite

Omoidasu natsu no hi

Hitori bocchi no yoru

(I look up when I walk

Counting the stars with tearful eyes

Remembering those happy summer days

But tonight I`m all alone)

Shi awase wa kumo no ueni

Shi a wase wa sora no ueni

(Happiness lies beyond the clouds

Happiness lies above the sky)

Ue o muite arukou

Namida ga kobarenaiyouni

Nakinagara aruku

Hitoribocchi no yoru

(I look up when i walk

So the tears won`t fall

Though my heart is filled with sorrow

For tonight I`m all alone)

Kanashimi wa hoshi no kageni

Kanashimi wa tsuki no kageni

(Sadness hides in the shadow of the stars

Sadness lurks in the shadow of the moon)

Ue o muuite arukou

Namida ga kobarenaiyouni

Nakinagara aruku

Hitori bocchi no yoru

(I look up when I walk

So the tears won`t fall

Though my heart is filled with sorrow

For tonight i`m all alone)

Mungkin benar saya suka Sukiyaki ini lebih karena kata-katanya. Soalnya kalau dirata-rata lebih suka mana Ue o muite akukou ini dengan Nadasousou -nya Natsukawa Rimi, Nadasousou lebih jadi pilihan. Plus liriknya sekaligus musiknya. Sama-sama lagu antik. Emmh…sesekali mendengar lagu lama bisa menyenangkan lho apalagi pas suasana hati mendukung. ūüėõ

Read Full Post »

Older Posts »