Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni 13th, 2007

Halaah…

Saya sedang nak mengarut sekarang ni. Nak ke tak baca ? :mrgreen: *kesambet Malay*

Ehem. Sungguh. Ini akan jadi sesuatu yang kurang penting (mungkin) tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak posting. Mau posting yang serius, belum selesai digarap, daripada hancur dan garing lebih baik langsung saja  saya tulis yang sudah jelas-jelas garing kan ya? 😛

Eh… judul itu sungguhan ada lho. Mulai populer di kehidupan saya beberapa hari ini. Hmm… tepatnya sejak Kamis minggu lalu. Aka-chan (anak bayi) siapa? Eh… bukaan… bukaan… bukan anak bayi yang itu maksud saya.  Walaupun kemarin saya sempat jadi relawan ikut belanja pernak pernik maternity, tapi ini asli ga ada hubungannya ke sana. Ini menyenangkan bagi saya lho. Minta maaf kalau nantinya tidak ke anda. 😛 . Ini masih dalam rangka cari kesenangan di sesuatu yang lain . Dan tidak bisa dipungkiri, terkadang hal-hal sepele bisa punya imbas yang signifikan ke perasaan. Bleh… (bicara apa ini?). Jadi? Mari bersenang-senang… 😀

Sebenarnya ini mungkin agak sedikit memalukan kalau diceritain, tapi saya ga salah dong. Ini fakta sih. Jadi faktanya, sejak minggu lalu  di kelas bahasa panggilan itu jatuh ke saya. Oh… tunggu… tunggu… jangan menuduh saya narsis  sok imut atau anak kecil. Yang punya inisiatif manggil itu orang lain lho. Jadi sekali lagi, ini fakta.  :mrgreen:

Gara-garanya cuma sepele, abis ada yang giliran speech di depan kelas, terus ada beberapa hal terkait yang dijelaskan oleh sensei lalu entah kenapa menjurus ke topik anak kecil, ibu dan adik bayi. Tiba-tiba Chin san, chinese student, nyeletuk…  “Aaah, kanojo mo aka chan yo!” (Eh, dia ini pun aka-chan lho…). Spontan. Dan seisi kelas langsung setuju T_T. Berulang kali saya protes tapi sia-sia aja. Huff…  dia itu kalau sudah ngomong berpengaruh kali sih di kelas (-_-). Alasannya sama dengan kejadian tahun lalu, saat di kelas buat surprise birthday party untuk teman yang ulang tahun. Ketahuan jadinya saya yang paling kecil di kelas. Sejak itu dipanggillah dengan akhiran “chan”. Jadinya, katakanlah nama saya hiruta-san, sejak itu menjadi hiruta-chan (seringnya pas dipanggil, “chan” malah bertransformasi jadi “chang”) atau Jepe-chan. Sekedar contoh saja itu ah… jangan terlalu dipikirkan 😛 .

Hmm… Sebenarnya ada seorang lagi anak cowo yang tahun lahirnya sama, tapi katanya dia, saya tetap lebih muda. Karena dianggap sama-sama “anak kecil”, belakangan dia kebagian panggilan yang sama juga. Baguslah, paling gak saya ga sendiri… ^^;  Tapi benar kok, di kelas itu, rata-rata usianya itu sudah dua puluh tiga ke atas, jadi maklum saja kalau mereka merasa kami masih adik-adik. Walaupun sebenarnya saya pribadi tidaklah terlalu rewel masalah umur ini. Tua ya tua saja, kalau memang masih muda, kecil… ya sudah. Tidak ada yang perlu diributkan harusnya. Emm… intinya sih, mau masih muda atau tua, atau bagaimana, itu  bukan sesuatu yang harus bikin rewel lah. (dikejar seseorang nih!)  :mrgreen:  

Maka hingga hari ini, resmilah saya dipanggil aka-chan begitu. Ah.. tentu saja hanya terbatas teman-teman dekat dan para sensei kelas bahasa saja. Awalnya aneh dan tidak terima sih, tapi setelah dua jam pertama dipanggil begitu sampai sekarang, kayanya itu menyenangkan ya? Seperti terus didoakan agar tetap muda… (whohoho.. harap bersabar diri bagi yang ingin kalap)  :mrgreen:

Oh ya… setelah sukses menabalkan stempel aka-chan ke saya, pembahasan berlanjut ke cuaca. Konon kabarnya, orang Jepang merasa sebagai orang yang paling banyak dan paling sering bicara cuaca dibandingkan bangsa lainnya di dunia. Dan saya merasakan sendiri akhirnya, topik pembicaraan yang akan paling sering ditanyakan saat berkenalan atau bertemu dengan orang Jepang adalah, bagaimana cuaca di negara anda, bagaimana dengan cuaca Jepang, sudah terbiasa dengan empat musim disini dan tipe-tipe sejenis seputar cuaca. Disamping tentu saja mereka juga suka tanya makanan. Bagus juga sih, coba sempat mereka tanya bagaimana stabilitas politik dan kondisi pendidikan, hmm… topik yang terlalu melelahkan untuk dibahas sebagai pembicaraan ringan di awal-awal perkenalan. Lagipun jangan-jangan saya bisa kehabisan nafas kalau sudah bicara seputar masalah itu. So complicated.

Ah iya, jadi kembali ke cuaca. Sepanjang natsu (musim panas), curah hujan yang paling tinggi jatuh di bulan Juni. Kalau sudah bicara hujan…hmm… saya termasuk yang senang saat mendengarnya. Entah kenapa saya suka hujan. Aneh tidak?  🙄   Ah… ini maksudnya bukan seperti yang suka sengaja cari gara-gara dengan jalan tanpa payung tanpa tujuan yang jelas di tengah derasnya hujan.  Sama sekali bukan. Beraktivitas di luar ruangan di saat hujan lebat, petir dan angin badai (bagaimana? lengkap bukan kengeriannya?), itu sesuatu yang saya hindari. Jika tidak terpaksa benar, saya akan lebih suka melakukannya setelah hujan reda.

Jadi begitulah, saya penyuka hujan. Mengamatinya saat jarum-jarum air menyentuh genangan air lalu berbaur dengan yang lain. Nyaman saja rasanya. Dan beberapa waktu belakangan ini, dari akhir Mei hingga sekarang, hujan cukup sering turun. Sabtu Minggu kemarin malah deras-deras hingga gerimis jadinya. Kebalikan ya? ^_^ Kadang sejak subuh hingga sore. Kenyamanan saya lainnya adalah mendengarkan bunyi tuk-tuk-nya itu. Seru. Apalagi saat memandangnya dari balkon kamar. Eh, dari kamar di lantai tiga ini, yang nampak  malah cuma roof-top apartemen seberang sih. 😛  Ah… Biarpun begitu tetap saja saya teguh pendirian (bleh…). Pokoknya hujan itu menyenangkan. Walaupun saya sendiri tidak ingat sejak kapan kesenangan ini mulai melekat. Kayanya sudah lama benar 🙄

 Aaa… *tiba-tiba ingat sesuatu*

Waktu SMU saya pernah baca… (maaf lagi-lagi lupa bacaannya) cerpen kalau ga salah. Anak cewe sih yang katanya kalau sedang sedih dan ingin menangis, dia akan senang melakukannya sambil berjalan dalam hujan. Biar orang lain ga tahu kalau dia sedang sedih. Hmm… aneh juga ya, rasanya terlalu mendramatisir begitu. Kalau sampai sakit? Atau pingsan di jalan, dalam genangan air hujan? Apa gak ngeri tuh? (dooh… imajinasi… ). Hmm… tiap orang itu memang punya keunikan sendiri-sendiri.  Asal metode  ini (halaah) ga langsung digeneralisir sebagai gaya mellow anak perempuan pada umumnya saja.  😉  Ingat! dikatakan bahwa, generalisir itu khas orang yang malas berpikir. 🙂

 Nah… kalau yang faktanya saya ini menyukai hujan, merasa nyaman dengan hujan… biarkan saja begitu. Saya agak aneh memang. (Secara hampir semua teman saya tidak suka sih dan saya dibilang aneh jadinya…). Ada benarnya juga… jarang-jarang banget ada orang yang suka hujan. Ah, biarkan sajalah… Terlanjur sih.  ( What a lovely strange aka-chan ya…) 😀 

– hmm… mengarut dah selesai – :mrgreen:

*Malay mode off*

Note :
judulnya di-apdet ^^; (Harap jangan kaget menemukan kerancuan dalam judul… Inggris, Japanese dan bahasa Indonesia 😛 )
Iklan

Read Full Post »