Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni 17th, 2007

 Ah, memang sudah jelas itu dua hal yang tidak bisa disamakan. Total bertabrakan hukum pengerjaannya. Sake termasuk dalam list minuman yang dilarang untuk muslim. Mencicipinya walau hanya setetes, hukumnya sudah jelas bermuara ke mana, haram. Lalu poligami? Ada nash-nya dalam Al Qur an (An-Nisaa : 3). Poligami diperbolehkan dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu. Anjuran? hmm… beberapa menafsirkannya seperti rukhsah (keringanan), semacam pintu exit bagi kemudaratan. Oleh karena itu sudah pasti ini dua hal yang bertabrakan. Lalu kenapa klausa di judul itu jadi begitu? Hmm… tunggu dulu, itu benar ada dan diucapkan seseorang.

Silahkan baca kejadian nonfiktif berikut. Ini akan sedikit panjang. Sungguh. Sebenarnya agak sulit juga bagi saya untuk menuliskannya, tapi semoga saja semangat untuk berbagi lebih kentara daripada kesan berani bicara tanpa ilmu. 😉

Jaa… hajimemashou ka? *gaya pesulap Jepang*

Awal kejadiannya di beberapa waktu lalu, seperti biasa kalau ada yang mau wisudaan, atau menyambut tahun baru atau ada anak baru masuk Lab, akan ada yang namanya nomikai (pergi minum), yang itu juga berarti acara minum bersama, mabuk bersama, makan sama-sama antara dosen dan para mahasiswanya. Seperti yang disebutkan tadi, ini kisah nonfiktif, para pelaku yang terlibat saat kejadian masih hidup semuanya, dan yang menceritakannya termasuk salah satu saksi mata sekaligus peserta aktif disana 😀

Yang dipilih adalah kedai tradisional Jepang yang letaknya tidak jauh dari kampus dan ternyata begitu dekat dengan tempat tinggal saya. Kedainya walaupun tidak begitu besar namun terasa nyaman. Gerombolan kami menempati tempat yang sudah dipesan sebelumnya, di bagian lesehan. Jadi dengan 2 meja panjang dan alas duduk, terpisah jadi dua grup. Saya dan dua gadis teman saya asal Malaysia dipersilahkan duduk semeja dengan dua orang sensei dan seorang laboran yang bertugas di  lab Quantum Electronics Research (QER) itu. Mahasiswa perempuan di lab QER hanya kami bertiga saat itu. (sekarang mereka telah menyelesaikan belajarnya dan pulang ke negerinya).

Baik, lanjut lagi ke meja makannya. Ada beberapa kejadian “andalah pusat perhatian” yang kemudian terjadi. Pertama, dimulai saat order menu. Hanya kami yang ditanyakan mau minum apa. Yang lainnya ternyata akan pesan bir yang seragam.  Dua teman saya pilih kora (cola) sedangkan saya tentu saja minuman orange kesukaan saya yang sulit  tergantikan oleh apapun… hatta oleh bir paling mahal sekalipun . Ah, sebenarnya itu juga alternatif yang mudah ditemukan kalau minum atau makan di luar, bebas dari keraguan ketidakhalalan. Anak-anak yang lain menatap dengan penuh perhatian layaknya menyimak jawaban ujian yang diberikan dosen saja. Beberapa mengangguk-angguk saat diberitahu bahwa kami tidak minum sake atau bir atau minuman beralkohol lainnya. Beberapa tersenyum saja, agaknya mereka sudah tahu sebelumnya.

Setelah bersulang, “Campaign!!”, kejadian “andalah pusat perhatian” yang kedua kalinya terjadi saat menu makanan set kolektif dibawakan. Semua memandang (lagi-lagi) dengan penuh perhatian saat Sensei bilang “Ini gak papa kan ya?” sambil menunjuk nampan Sashimi  diletakkan di depan kami. “Ini juga bukan daging lho, ikan yang dimasak”, tunjuknya ke piring lainnya. Kami mengiyakan dengan anggukan, “Thanks” plus senyum. Lalu salah satu dari mereka menjelaskan kalau kami tidak boleh makan daging yang tidak halal disamping tentu saja buta niku (daging babi) yang sudah jelas-jelas dilarang.Beberapa ada yang terkaget-kaget gitu, ada juga yang mesem-mesem aja…. huff…

Di sela-sela makan, sambil menunggu makanan selanjutnya datang, beberapa mulai menambah minuman birnya, juga sensei. Malah sensei pembimbing riset saya lumayan “kuat” kalau soal minum. Katanya sanggup bertahan untuk tidak mabuk walaupun sudah bergelas-gelas begitu minumnya. Bleh… heran juga sih. Sensei satu lagi cuma dua gelas setelah itu malah sama-sama minum orange seperti saya.

Lalu perbincangan seputar bagaimana rasanya tinggal di negeri orang, jauh dari orang tua, mampir ke kami. Apalagi anak perempuan, sulit tidak atau bagaimana? Bagaimana hidup di lingkungan yang kulturnya berbeda, ada masalah dengan keleluasaan beribadah atau tidak? Hingga ke kerudung yang kami pakai. Apakah semua wanita di Indonesia dan Malaysia yang muslimnya memakai kerudung seperti kami? Apakah ada pemaksaan jika ada yang tidak memakainya? … dan seterusnya. Oh iya, pertanyaannya dalam bahasa yang halus kok, dan saya menuliskannya inti pertanyaannya saja. Percayalah mereka akan hati-hati sekali dalam mengajukan pertanyaan, tidak seradak seruduk menerobos sensitifitas orang lain. 😉

Hingga kemudian…

“Oh ya, saya dengar, di Indonesia boleh menikahi lebih dari satu istri ya? Apa benar begitu?”, sensei yang duduk paling ujung dekat dinding, pembimbing riset saya, tiba-tiba seperti “membanting” kesadaran  dengan keras. Heeee??? wacana poligami nih… Dooh… saat itu (bahkan sampai sekarang kan ya?) tema poligami yang mengundang pro kontra sedang maraknya dibicarakan, mulai dari media elektronik, surat kabar, internet (blogosphere), lalu disini juga?!? Ya ampun. populer benar isu satu ini… hmm…. harus hati-hati nih ngasi penjelasan…

“Eh, iya sih, tapi bukan semua kok, itu cuma buat muslim aja…” Jawaban pertama dari saya. Sensei yang berada di depan saya seperti terperanjat. Heh… kayanya baru pertama tahu nih sensei…

“Heee….? Benar ya? Berarti muslim di Malaysia juga? Yang di Arab juga ya???”. Tampaknya sensei satu ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dua teman saya yang ditanya mengangguk mengiyakan. “Iya, tapi memang cuma bagi muslim saja ….”

“Waaah, minum sake sedikit saja tidak boleh kan ya? Ini, menikah lebih dari satu dibolehkan? Hebat sekali ini!” Beliau melanjutkan keterkejutannya dengan statemen kesimpulan yang…. kacaw (menurut saya,  -_-). Tapi wajar saja sih, agak mencolok memang keadaan ini dan bagi mereka yang di luar Islam, mestinya penjelasan yang diberikan bisa “menjawab” juga sekaligus bisa meluruskan miss-persepsi yang misalnya terlanjur terjadi. Saya mulai khawatir saya tidak semampu itu untuk melakukannya…

Dosen pembimbing riset saya, Niki sensei hanya tersenyum. Agaknya tidak terlalu kaget? Hmm… mungkin. Ekspresinya agak aneh begitu, saya sampai tidak berani menafsirkan jenis perasaan apa yang diwakili oleh ekspresi wajah beliau saat itu.

Sensei yang satu lagi melanjutkan, “Jadi istrinya boleh dua ya?”, kami jawab, “Maksimalnya empat sih…”. Beliau tambah kaget, “Heee?? Empat?…”. Saya buru-buru menimpali, ” Tapi syaratnya enggak mudah kok sensei, beda sekali dengan saat pertama menikah. Ada kondisi-kondisi tertentu…”.  Teman saya juga menambahkan, “Harus punya uang banyak dan kecukupan harta untuk memastikan bahwa ia bisa mensejahterakan istri-istrinya itu… ya kan?” Dia menoleh ke saya. Lho?! Tentu saja gak cuma itu aja.

Bukan uang semata atau adil yang bagaimana yang jadi pertimbangannya kan? Jadilah akhirnya kami menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dengan dibarengi diskusi-diskusi kecil di antara kami bertiga. Kami berusaha menjelaskan dengan hati-hati dan memilih-milih bahasa yang tepat. Menjelaskan perihal agama, ibadah, keyakinan, larangan dan perintah, dalam bahasa sendiri saja menuntut penjelasan yang baik dan bahasa yang tepat, dan kehati-hatian dalam menyampaikan, apalagi dalam bahasa asing begini? Berraaat…

Kurang lebih kami mencoba menjelaskan, bahwa bukan hanya harta yang menjadi tolak ukur seseorang akhirnya berpoligami. Fenomena yang disampaikan teman saya tadi, biasanya lelaki setelah punya uang banyak dan hidup berkecukupan akan berpikir untuk menambah istri adalah fakta yang juga tidak bisa disangkal, pikir saya.Walaupun tentu saja tidak bisa digeneralisir bahwa akhirnya yang melakukan poligami selalunya orang yang punya kecukupan harta. Disini dituntut kemampuan berlaku adil, baik secara lahiriah maupun non lahiriah. Jangan sampai setelah bertambahnya `tim kerja` dalam kehidupan rumah tangga, keharmonisan di dalamnya seperti terbang entah kemana. Dan setelah dirunut kembali, tidak ada aturan per point, syarat baku perihal poligami ini. Malah terkadang keputusan subjektif dari pihak suami misalnya, menganggap kondisinya perlu berpoligami dengan alasan-alasan tertentu, dengan mudah bisa melakukan poligami ini. Hhh… saat itu saya mengeluh dalam hati, harusnya saya harus siap diri lebih banyak untuk hal-hal seperti ini. Salah-salah menjelaskan, bisa saja Islam tambah tercitrakan negatif, mengingat sekarang ini pun, imej Islam terlanjur dikait-kaitkan dengan hal negatif. Karena bukan berarti dengan adanya dalil tentang poligami dalam Al Quran, Islam memberi kebebasan sebesar-besarnya pada para suami untuk menambah istri, secara pada ayat yang sama dijelaskan, jika tidak mampu berlaku adil, cukuplah seorang saja.

Lalu sensei menanyakan berapa kira-kira persentase laki-laki muslim yang melakukan poligami di Indonesia, lalu di Malaysia… Bisa ditebak, kami tidak bisa menjawab dengan data konkrit. Sedikit, itu jawab saya. Begitu juga di Malaysia, tidak banyak, kata teman saya. Benar kan? (duh, jangan-jangan salah lagi nih jawabannya, tidak banyak kan yang melakukan poligami?). Lelaki yang melakukan poligami memang tidak dalam jumlah besar tapi mulai jadi fenomenal, terlebih lagi akhir-akhir ini. Hingga kemudian wacana poligami ini jadi sedemikian marak diperbincangkan, mengundang pro kontra yang tidak ada habisnya.

Pertanyaan selanjutnya masih seputar itu. Bagaimana dengan keluarga kami sendiri? Ketiga kami dengan cepat dan dengan ekspresi yang hampir senada menjawab, bahwa ayah hanya punya seorang saja, yaitu ibu kami. ^_^ . Lalu ketegangan di antara kami bertiga (dalam hati) mulai berangsur-angsur kembali ke titik nol setelah pertanyaan satu ini. “Yokatta” ujar sensei dibarengi senyum lebar, mengikuti senyum kami yang terkembang setelah menjawab tadi. Lalu perbincangan berlanjut ke hal-hal lain, yang jauh lebih ringan daripada wacana poligami ini. Thanks God.

Sampai sekarang pun sebenarnya saya masih menyimpan kekhawatiran  tentang penjelasan kami masalah poligami ini. Bayangkan sajalah, yang menjelaskannya orang yang punya wawasan yang baik, bahasa yang bagus, tetap saja ada ada pro kontra dan sikap tidak bersahabat, apalagi kami-kami ini yang berusaha menjelaskan sejauh yang kami paham dan kapasitas ilmu yang begini ini. (-_-). Benar-benar berat bukan?

Terus, kalau giliran kami yang dipoligami bagaimana? Whahaha… itu bukan pertanyaan selanjutnya dari sensei kok, itu diskusi intern kami bertiga akhirnya. Ah, padahal sedikit lagi kan hampir nyambung kesana, kenapa sensei tidak menanyakannya saja ya? Untuk menjaga perasaan kami? Hmm… boleh jadi.

Kalau boleh bilang, sebenarnya bukan poligaminya yang bermasalah. Lalu kenapa sampai saat ini tetap saja ada yang mengecam atau bahkan mendukung tindakan ini? Saya melihatnya hal ini lebih kepada personalnya dan lebih kepada bagaimana masyarakat memandang adab berpoligaminya sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat begitu sensitif dengan hal ini karena fenomena sosial yang mereka dapati kehidupan rumah tangga poligami pada kebanyakannya jauh dari kesan rumah tangga nabawi dulu. Rasul dulu melakukan poligami, malah lebih dari empat istri. Tapi ketika dirunut kembali, beliau melakukannya dengan begitu banyak tujuan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan da`wah Islam masa itu. Dan beliau melakukan poligami ini justru pada masa-masa akhir hidup beliau, setelah melewati tiga puluh tahun dari masa muda beliau.

Mengapa beliau berbesanan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi Aisyah dan Hafsah, mengapa pula beliau menikahkan putri beliau, Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, Ruqayyah lalu disusul Ummu Kulsum dengan Usman bin Affan, mengisyaratkan bahwa beliau ingin benar-benar menjalin hubungan yang erat dengan empat orang tersebut, yang dikenal paling banyak berkorban untuk kepentingan Islam pada masa-masa krisis hingga akhirnya keadaan krisis ini dapat terlewati dengan selamat.

Dikatakan bahwa diantara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi ummahatul mukminin, Rasul hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam dan memadamkan kemarahna mereka terhadap Islam. Setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzum, yang satu perkampungan dengan Abu Jahal dan Khalid bin Walid, dinikahi Rasul, membuat sikap Khalid bin Walid tidak segarang sikapnya sewaktu perang Uhud. Bhakan akhirnya ia masuk Islam tak lama setelah itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Begitu pula dengan Abu Sufyan yang tidak berani menghadapi permusuhan setelah beliau menikahi putrinya, Ummu Habibah. Juga sama kejadiannya dengan Bani Al-Musthaliq dan Bani An-Nhadir, yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah beliau menikahi Juwairiyah dan Shafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan wanita yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dirinya dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan seratus keluarga dari kaumnya. Karena itu pada saat itu para sahabat berkata, “Mereka adalah para besan Rasulullah”. Tentu saja ini begitu berkesan bukan? ^^;

Jadi itu hanya sedikit gambaran bagaimana poligami Rasulullah yang menggambarkan tujuan poligami beliau. Lalu dengan fenomena poligami hari ini? Ah, pastilah pro kontra akan tetap ada. Seperti yang pernah disampaikan di salah satu mendiang blog seleb, tidak perlu sampai gontok-gontokan bahwa pendapatnya yang paling benar. Jika memang berbeda pandangan dan tidak ingin ada yang berubah dengan pandangannya masing-masing, maka sepakat saja untuk tidak sepakat, lalu sepakat pula untuk menghargai ketidaksepakatan itu.

Lalu…? Lalu…? Bagaimana pula pandangan saya pribadi perihal poligami ini? (Menghela nafas dulu  :mrgreen: )

 Ah, kalau saya yang ditanyakan  bagaimana saya memandang poligami. Hmm… biasa saja. Sejujurnya saya bukanlah orang yang anti-poligami hingga membenci mati-matian siapa saja yang melakukannya. Tidak sampai sebegitunya. Lalu saya mendukungnya? Ah… alangkah baiknya kita tidak selalu mematok dua hal sebagai kemungkinan jawaban. Jika bukan A maka mesti B. Seperti yang pernah diulas disini. Karena memang tidak baik begitu. Saya hanya merasa  lebih nyaman saja dengan fenomena lelaki yang menjalankan monogami kok 😉

-Unvaluable part-

Maka, seandainya saja suatu hari nanti, ada dialog seperti ini :

dari-anto.jpg

 

     

  😆

Dialog di atas itu hanya rekayasa dan fiktif adanya, jika ada kesamaan nama tokoh dan kejadian itu hanya kebetulan belaka. :mrgreen:

Eh, begini-begini, saya tetap salut dan menyimpan kekaguman lho, pada perempuan-perempuan yang bersedia berbagi kebahagiaan dengan yang lain meskipun itu berarti ada sedikit kebahagiaan yang hilang dari hatinya. Kalau gak ikhlas kayanya rentan banget ya dengan sedih-sedih dan penyakit hati. Kayanya saya masih belum bisa seperti mereka….

Ah, walaupun begitu, saya tetap pada pikiran saya, juga pada apa yang saya yakini bahwa penilaian Yang Maha Bijak itu selalunya unpredictable. Apalagi dengan skenarionya yang tidak tertebak oleh siapapun. Dia pasti punya penilaian sendiri saat naluri manusiawi perempuan merasakan ketidakridhaan saat diduakan. Hmm… lagipula, lelaki yang adil dan sempurna dalam tiap jejak dan kasih pada semua istrinya itu telah tiada. Kalau ada yang begitu, siapa yang menolak? Masalahnya enggak ada lagi… T_T

Ffuih… ffuih… sudah ah. Terasa subjektif ya? Saya sudah berusaha mengejawantah secara objektif  sih tapi jika kemudian terasa tidak begitu yah apa boleh buat, terkadang memang kerangka fikir dan emosi kita berpengaruh terhadap apa yang kemudian keluar dari pemikiran kita bukan?  *bela diri* :mrgreen:

 References are taken from : Syamil Qur an dan terjemahan, Shirah Nabawiyah (author : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury),  Nomikai event, March 2007

Iklan

Read Full Post »