Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni 21st, 2007

Weekend kemarin akan jadi cerita sejarah yang mungkin akan dengan senang hati dijadikan dongeng buat anak dan cucu nanti. (Mhuahahaha… lagi stress). Dorongan melakukan kegiatan ini adalah rasa penasaran sekaligus menyalurkan emosi negatif, tegang dan perasaan terbeban yang numpuk (halaah).

Lalu apa yang saya lakukan di Sabtu Minggu kemarin rupanya? Bersih-bersih rumah? Ngerjain tugas? Main Badminton? Belanja? Ahh… bukan salah satu dari itu. Baiklah, kita mulai dari hari Sabtunya. Kegiatan di Sabtu   kemarin benar-benar  sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Yama ni nobotta! Hiking? Iya… Hiking!!

Tidak dalam rangka apapun. Tercetus di akhir Mei lalu saat di kelas lagi bahas-bahas orang gunung. Lalu tentu saja Fuji-san yang terkenal itu. Jadi disusunlah rencana pendakian itu. Diputuskan untuk melakukannya pada Weekend, dipilihlah hari Sabtu, 16 Juni kemarin dan gunung dijadikan tujuan masih dalam wilayah Fukui, Arashimadake. Sehari sebelum hari H, saat pertemuan di kelas, rencana pendakian ini sempat terancam batal jika cuaca di hari Sabtu nanti tidak mendukung. Hujan adalah faktor utamanya. Jika hujan turun otomatis kami tidak akan berangkat. Berbahaya karena lereng gunung ini terkenal cukup curam dan pendakiannya terkenal sulit.

Sore hari Jumat, Anya (tetangga kamar) bilang kalau ramalan cuaca pada hari Sabtu tepat seperti yang diharapkan. Mudah-mudahan saja akan begitu nantinya. Dan benar, Sabtu pagi, matahari bersinar cukup cerah. Start dari asrama pukul 8 pagi dengan peserta 7 orang termasuk sensei. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dengan mobil untuk sampai ke gunung itu. Setelah siap-siap perlengkapan, pendakian mulai pada pukul 09.45 waktu setempat.

Eh, ada beberapa yang unik. Di titik start itu ada box yang mirip box telepon umum. Disana kita menuliskan nama, umur, no. HP, instansi, dan alamat. Jadi setiap peserta wajib mengisi daftar itu demikian juga setelah kembali nanti. Jadi, kalau ada peserta yang menemui masalah selama pendakian atau terlambat kembali, akan mudah dilakukannya pencarian dan pengiriman Tim SAR. Saya tidak tahu apakah hal serupa juga diterapkan di Indonesia, karena memang belum pernah ikut klub Pencinta Alam atau sejenisnya sebelumnya.

Lalu? Hmm… ada peralatan unik yang bagi saya aneh. Bel. Aah, lonceng lebih tepatnya. Kata sensei, dua hal yang berbahaya di gunung-gunung Jepang adalah beruang (kuma) dan ular. Ular bagi saya, di gunung Indonesia pun sama halnya kan? Lha ini beruang! Ampuun…seramnya. Maka itulah fungi loncengnya. Dengan bunyi lonceng itu, beruang tidak akan mendekat dan akan memilih jalan lain, karena sebenarnya beruang juga tidak suka bertemu manusia. Saya takut? Jelaslah, kebayang gak ketemu dengan sosok 2 meter atau lebih itu lalu dikoyak moyak? (T_T) tragis bukan? Kata teman saya yang tidak ikut pendakian ini, “If you meet kuma, just run as fast as you can, you don`t need to believe that bel!” Wajahnya tegang dan tendensi kalimatnya itu…
Mhuahahaa… iyalah… Mana mau tunggu kompromi dengan beruang??

Dan pendakian itu benar-benar menyenangkan adanya. Saya ketemu ular yang besar dan panjang, sayangnya hanya saya dan teman saya yang melihatnya, tidak terjadi aksi pembunuhan. Kami tidak seberani itu :P. Ularnya pun hanya melintas saja. Hufff…

Pendakian ini begitu melelahkan dan tentu saja menyenangkan. Dapat dibayangkan bagaimana? Hmm… Biasanya bernafas di antara gedung-gedung dan bangunan tinggi. Mendengarkan suara lalu lalang mobil dan motor, suara kereta api yang melintas setiap hari di rel tepat di samping asrama setiap 10 dan 40 menit sekali, lonceng di pagi buta dan di awal malam dari Otera (kuil) yang agak jauh dari asrama tapi tetap terdengar setiap harinya, juga suara anak-anak yang bermain di taman depan asrama pada sore hari, musik keras dan pesta dansa dansi yang dibuat di loby bawah pada waktu-waktu tertentu… Bosan. Suntuk. Sumpek (Apalagi? 😛 )

Lalu Sabtu kemarin itu, pohon-pohon hijau di sepenuh mata. Udara segar yang dengan rakus kami hirup penuh-penuh. Bau hutan yang lembab, bau tanah yang becek dan kadang sedikit berlumpur, suara binatang hutan, serangga yang merayap di tanah bergerombol… gemerisik daun-daun, juga puncak Haku-san, tetangganya Arashimadake ini yang terlihat di seberang, yang masih tertutup salju. Kereeen. Indah banget. Kelegaan pertama tentu saja saat tiba dengan selamat di puncak. Arashimadake dengan ketinggian 1.523,5 meter ini termasuk dalam deretan hyaku meizan (100 gunung terkenal di Jepang), dan pendakiannya dikenal dengan tingkat sulit yang lumayan. Curamnya memang tajam. Jadi kebayanglah saya yang dengan kerennya melakukan pendakian ini. Whohoho… keren? Enggak ding, Sangat tidak tepat memakai istilah itu. Habisnya banyakan tersengal-sengal dan kelelahannya itu seperti menghisap semua cairan tubuh (halaah). Ah, yang jelas hal menyenangkan yang didapat cukup imbang.

Tiba dipuncak dalam pukul 01.54. Kimochi ii… (nyamannyaa…). Benar-benar tidak ada apa-apanya kita dibanding ciptaan-Nya yang penuh seni itu. Saya jadi tambah mengkeret. Apalagi saat melihat hijau di sekeliling bawah… Salju yang sedikit tertutup kabut di seberang, angin puncak yang berbeda, tekanan udara yang berbeda, dan…langit. Iya, langit terasa begitu dekat (paling gak dibanding yang biasa dilihat). Awannya seperti jalaran yang begitu tergesa-gesa, rasanya seperti mendengar gemuruh kalau membayangkan bagaimana dia bergerak. Keren. Tak tertandingi. Hmm… saya kurang perbendaharaan kata-kata bagus. Yang jelas saya mau bilang kalau itu benar-benar mencengangkan. Takjub, dan senang bisa melihatnya langsung. Pertama dalam hidup!!

Makan siang di puncak sama-sama, tentu saja dengan bekal yang dibawa masing-masing. Tapi lebih banyak makan bekal dari sensei :P. Ransel sensei kami itu penuh buah. Ampuun. Beliau itu yang paling tua, 55 tahun lebih udah usianya, paling cepat di antara kami, paling ceria, paling kuat, dan selalu sampai lebih dulu. Ckckck… sensei ini benar-benar mengagumkan.

Oh ya, kami juga mengambil apapun yang bisa diambil. Tentu saja tanpa melanggar kode etik, “Ambillah apapun, gambarnya saja”. Perjalanan kembali ke bawah pada pukul 02.20 waktu setempat dan sampai di kaki gunungnya memakan waktu 3 jam. Oh ya, yang lucunya, pas kami awal-awal mendaki, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sudah turun, ada yang mendaki pada awal hari. Mereka itu para obaachan dan ojiichan (nenek dan kakek) yang usianya rata-rata ditaksir di atas 50 tahun. 😯 Iya,kami kaget-kaget, malu juga. Soalnya baru awal mendaki tapi udah mulai kelelahan dan itu nampak banget. Mhuahaha… yang muda aja kalah sama yang tua. Sehat banget ya mereka…

Jadi begitulah, lega kali begitu bisa sampai di bawah kembali. Dalam perjalanan balik itu saya mulai seperti kehabisan energi soalnya. Penatnya. Hingga untuk menyalurkan emosi negatif, saya menceracau dalam bahasa Indonesia, jadi enggak ada yang paham saya bicara apa :P. Habisnya itu benar-benar melelahkan sih. Detik-detik terakhir di perjalanan pulang itu, enggak ada pohon, cuma ilalang, dan jalan menuju ke bawah itu kerikil campur cadas-cadas besar. Panas, gerah, air minum habis. Bleh… perjuangan berat. Sempat terpikir untuk berguling-guling saja saking gak kuat lagi jalan. Pulang balik itu SEPULUH kilometer saudara-saudara. Dan saya baru pertama sekali melakukannya. Saya juga tidak melakukan latihan jalan sebelum-sebelumnya. Dan saya juga bukan atlit lari jarak jauh yang terbiasa dengan kekuatan tungkai yang terlatih rutin. Bukan. Maka makum saja dalam perjalanan pulang di mobil, saya lebih banyak diam dan .. tidur! :P. Tiba di rumah? WHohoho… rating tidur paling cepat dalam kurun waktu belakangan ini. Pukul 10 kurang udah ga sadar lagi. Terkapar dengan sukses. T_T.

Hari Minggunya jadi batal keluar rumah. Beres-beres seadanya saja dan menyembuhkan pegal-pegal yang mulai menjajah… 😛

Ah, anyway, saya senang kok dengan pendakiannya. I was so tired (kalau gak mau dibilang it was tiring 😛 ) but i was so exciting. Ureshikatta yo ^^;. Saya masuk Top Five saat tiba di puncak dan Top Four (halaah) saat tiba di bawah, dari 7 orang total peserta. Hiyahaha.. That was not too bad, i think :P, deshou?  Sekali lagi, cukup imbanglah dengan kepenatan yang saya dapat. ^_^

Oh ya, mau tahu apa isi ceracau saya dalam Bahasa Indonesia sewaktu dalam perjalanan balik ke bawah?
-Ya Tuhan, kenapa perjalanan balik ini jadi terasa lebih panjang dan begitu melelahkan. Aku menyukai pendakian hari ini, tapi aku janji, ini yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku. Cukuplah sekali ini saja-

Dou? Ganbatta deshou? :mrgreen:

Hmm… Agustus nanti pendakian ke Fuji-san mulai dibuka, saya mau sih ikut kalau ada yang rencana hiking, tapi dengan bus aja… 😛

Ps : skrinsyut menyusul Insya Allah, masih tersebar di beberapa penjuru soalnya 😛

 

 

Iklan

Read Full Post »