Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2007

Gomen ne…

Dua kata dalam bahasa Jepang di atas berarti, `maaf ya`. 

Lalu? :mrgreen:

Ahem. Ternyata pekerjaan maaf itu lumayan rumit ya. Bagi yang memaafkan maupun bagi orang yang dimaafkan. Setelah berhasil memaafkan atau dimaafkan, ada keadaan yang irreversible, tidak bisa kembali ke kondisi semula. Apa ini disebabkan karena belum menyeluruhnya proses memaafkan yang dilakukan? Ada hubungannya kesana tidak ya?

Kita coba lihat. Benarkah dengan niat memaafkan itu berarti pencapaian yang kita inginkan adalah melepaskan beban di hati sekaligus menjadikan keadaan kembali seperti sebelum terjadi apapun?

Yang pertama, tergantung kesalahannya. Mungkin itu bisa jadi sebab utama. Ada jenis masalah yang memang terlalu sepele untuk tidak dimaafkan, ada pula yang cukup serius dan butuh waktu serta energi yang tidak sedikit untuk kemudian kita ikhlas memaafkan. Yang selanjutnya, tergantung person-nya. Ada kan orang yang susah marah atau tersinggung, tapi sekalinya terluka, susah sekali mendapatkan maaf dari jenis karakter seperti ini. Ada pula yang memang dasarnya pemaaf banget, beruntunglah jika berurusan dengan orang seperti ini, tidak perlu bersusah berat untuk dimaafkan, walau untuk hal yang berat dan serius sekalipun. Sering-sering aja pun gak masalah kayanya. *bletak*  :mrgreen:

Lalu, tentang orang-orang yang potensial memicu ketersinggungan hingga kemudian menjadikan kita `dituntut`oleh keadaan untuk memaafkan. Bagi saya pribadi, tersinggung oleh saudara kandung, orang tua selalunya tidak pernah sampai pada keadaan yang sampai sebegitunya hingga perlu didramatisir bahwa “ah, saya harus memaafkan nih, mereka kan orang-orang dekat yang saya cintai”. Tidak pernah, paling tidak sepanjang saya mulai bisa mengingat. Bahkan tanpa harus bilang “iya, sudah dimaafkan” pada kakak laki-laki saya misalnya setelah kami marahan, saya bisa langsung lupa dan keadaan kembali normal seperti biasa. Karena mereka orang-orang dekat saya? Bisa jadi.

Lalu keadaan menjadi lain jika orang-orang dekat itu awalnya adalah orang lain yang kemudian secara perlahan menjadi orang-orang yang mulai kita catat di hati. Orang yang kita beri kepercayaan lebih di antara orang lain. Maka, entah kenapa, keadaan sakit saat tersinggung oleh mereka akan sedikit menguras energi saat kita harus memaafkan. Dan untuk state ini, bisa jadi ada hubungannya dengan quote berikut,

“People you love there in the best position to hurt you”

Bisa jadi. Bagi siapa saja. Orang yang kita akui dekat tanpa kita sadari juga potensial untuk mengecewakan dan saat kecewa terkadang berbeda sekali keadaannya untuk dimaafkan daripada orang lain. Ah, tentu saja ini akan relatif , tergantung mau dilihat dari sisi mana.

Kembali ke permasalahan, apakah maaf itu memang proses recovery yang ampuh untuk sebuah kesalahan? Ternyata tidak. Pada beberapa kasus, setelah proses memaafkan, ternyata keadaan tidak bisa dikembalikan ke keadaan semula. Dengan ujung yang seperti ini, bisakah kita katakan itu proses memaafkan yang gagal? Ha… entah juga. Jika memaafkan bisa didefinisikan sebagai usaha untuk mengikhlaskan apa yang dilakukan seseorang terhadap kita dan juga itu berimbas pada membaiknya kondisi kita sendiri lalu bisa mengembalikan semua seperti sedia kala seperti hubungan baik pada awalnya, maka di saat usaha dan keadaan itu tidak tercapai, maka sebutlah itu proses kegagalan memaafkan. Tapi sepertinya ada baiknya kita persempit saja, memaafkan bisa didefinisikan sebagai batas keadaan dimana kita akhirnya mengikhlaskan kesalahan orang lain, masalah keadaan setelah itu reversible atau tidak, itu lain lagi halnya.

Lalu, jika ada yang bilang begini,
Cewe1 : Berarti kamu sebenarnya belum ikhlas memaafkan dia…
Cewe2 : Lho? Sudah dimaafkan kok. Diikhlaskan.
Cewe1 : Tapi sikap kamu ga kaya dulu lagi. Kenapa?
Cewe2 : Well, itu gak tahu sih. Yang pasti saya sudah memaafkannya.
Cewe1 : Sepertinya sih belum… atau minimal, belum ikhlas 😛
Cewe2 : Hee…? 😕

Entahlah, mungkin definisi memaafkan bagi cewe1 adalah proses yang harusnya menyeluruh dan mampu mengembalikan keadaan seperti tidak pernah terjadi apapun. Lalu benarkah tidak ada rasa tulus memaafkan oleh cewe2 saat kemudian didapati bahwa sikapnya terhadap orang yang melukainya tidak kembali ke keadaan semula?

Hmm. Jadi ingat contoh jaman dulu,
Rasulullah memalingkan wajahnya saat Hindun datang. Tentu saja Hindun merasa sedih dan menyesal tapi dia tidak bisa merubah keadaan itu. Rasulullah selalu memalingkan wajahnya. Beliau sudah memaafkan Hindun, tapi selalunya merasa tidak tahan jika mengingat bahwa Hindun pernah menganiaya jenazah Hamzah -paman beliau- dengan memakan jantungnya. Gagalkah proses memaafkan beliau? 😀

Maka kalau dilihat-lihat lagi, usaha memaafkan itu layak diberi penghargaan tersendiri, apalagi misalnya untuk sampai pada kondisi bisa memaafkan itu, butuh perjuangan (halaah) dan agak menguras energi, mungkin. Jika kemudian dengan dimaafkan tapi keadaan tidak bisa kembali ke keadaan semula, mungkin itu sudah keluar dari konteks memaafkan itu sendiri.

Dengan begini, saya  merasa lega juga. Sebelumnya saya pernah merasa kalau saya ternyata hanya bilang sebatas perkataan saja bahwa saya sudah memaafkan orang tersebut tapi nyatanya sikap saya tidak seperti dulu-dulu lagi. Saya pernah ragu, jangan-jangan keadaan yang sebenarnya terjadi adalah bahwa saya tidak bisa pernah memaafkannya, tapi hanya sekedar meyakin-yakinkan diri bahwa saya sudah memaafkan. Tapi kemudian sesaat sebelum memutuskan menulis ini, jadi sadar bahwa proses memaafkan itu sudah selesai saya lakukan. Masalah kemudian hubungan baik itu tidak kembali lagi, itu sudah hal lain lagi.

Tapi, tentu saja kita pernah mendengar pernyataan yang seperti ini,”Tidak akan termaafkan, hingga kapanpun”. Untuk yang terakhir ini, maaf mungkin sudah keluar dari list pencapaian apapun yang ia inginkan? Bisa jadi. (Hati-hati ya kalau ketemu karakter seperti ini :mrgreen: )

Ah, yang namanya dalam hati manusia, sejauh apa sih yang bisa kita duga. Terlalu banyak rahasianya… :mrgreen:

 

Eh, sebentar, bagaimana pula menurut anda, apa dengan memaafkan itu harus juga berarti kita harus bisa kembali ke keadaan semula saat berinteraksi dengan orang yang kita maafkan?

Iklan

Read Full Post »

Jika saja suatu kali ada semacam kontes mengumpulkan batu-batu kecil di sepanjang pantai… Silakan mencari sebanyak-banyaknya sepanjang waktu yang diberikan dan yang dikehendaki para juri adalah batu dengan ukuran paling kecil dan paling unik. Cukup sederhana? Ah, agak rumit karena ada kriteria unik itu. Itu terlalu relatif dijadikan penilaian. Jadi diubah menjadi ukuran paling kecil saja dan paling ringan. Ini cukup mutlak untuk dijadikan standar.

Maka misalnya ada yang sudah mendapatkan hampir sekeranjang kecil penuh batu-batu yang ada lalu membawanya ke depan juri dan akhirnya setelah diperiksa ada satu terkecil seperti yang diinginkan Juri, -yang mengantar sebut saja si A- maka menjadi nominator.

Lalu datang pula B menyerahkan hasil usahanya. Hanya ada dua batu kecil yang ia bawa. Tak kurang tak lebih. Dan satu yang ukurannya paling kecil dinyatakan juri patut masuk nominasi karena ukurannya memang paling kecil (dan tentu saja ringan) daripada batu-batu hasil temuan yang lainnya.

 

Akhirnya ada dua nominator pemenang. Batu milik A dan milik B. Dengan proses penilaian yang cukup menegangkan karena memang baik batu milik A dan milik B hampir sama kecil dan sama ringannya akhirnya diputuskan batu milik B keluar sebagai pemenang. Berat batu miliknya hanya sedikit lebih ringan daripada batu milik A. Walaupun perbedaannya begitu tipis tapi begitulah, penilaian juri cukup fair, A dan B sama-sama hebat, tentu saja. Tapi tentu saja akan tetap ada yang menang dan yang tidak dalam pertandingan, biasa bukan? Dan kenyatannya memang batu A lebih berat daripada batu B dan ia harus terima keputusan itu.

Ada kekecewaan yang dipendam A. Kecewa yang disandarkannya pada anggapan bahwa ia menghabiskan waktu selama perlombaan itu untuk memilih sekian banyak batu untuk menemukan satu yang paling kecil dan paling ringan. Sedangkan B seperti yang dilihatnya dengan dua buah batu yang ia temukan ia menjadi pemenang. A menyesal telah buang-buang waktu memunguti batu-batu kecil yang ada sambil berharap satu yang paling kecil akan masuk keranjangnya. Nyatanya dengan batu sebanyak itu ia terkalahkan dengan satu batu milik B. B yang hanya punya dua batu. Sungguh menyakitkan. Ia yang bersusah payah ternyata dikalahkan oleh faktor keberuntungan B? Ya, apalagi jika bukan keberuntungan yang sedang ada di pihak B, jika tanpa susah payah akhirnya ia jadi pemenang? Ada yang salah disini. Jurikah? Atau dirinya? Atau keberuntungan B yang terasa tidak matching buat dirinya?


Ada dua orang pemecah batu yang memulai pekerjaannya. Batu yang sama besar dan alat pemecah batu yang sama kualitasnya. Mereka memulainya secara bersama-sama. Tukang batu pertama berhasil memecahkan batu pada ayunan ke-seratus. Sedangkan Tukang batu kedua menyelesaikan pekerjaannya hanya pada ayunan ke tujuh puluh, batu itu telah berbongkah menjadi pecahan kecil-kecil seperti yang diinginkan.

Tukang batu kedua sedikit punya kelegaan bahwa ternyata ia tidak selelah temannya karena akhirnya ia bisa memecah batu lebih cepat. Tukang batu pertama tidak terlalu ambil pusing toh, yang penting tujuannya mendapatkan bongkahan-bongkahan batu menjadi tercapai. Kalaupun ia sedikit lebih banyak mengeluarkan tenaga dan juga sedikit lebih lelah dari temannya, ia menganggapnya sebagai latihan kekuatan tangannya. Itu lebih baik daripada berpikir bahwa ia lebih lemah dan harusnya bisa lebih cepat mengalahkan temannya untuk memecah batu. Jadinya ia juga akan menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, tidak terlalu lelah dan hasilnya seperti yang ia inginkan. Berpikir seperti itu hanya akan menjadikan keadaan menjadi lebih baik terkecuali ia bisa menjadikannya sebagai cambuk agar lebih keras lagi saat memecah batu ke depannya. Di luar itu akan terasa buang-buang energi saja memperturutkan rasa tidak nyaman dengan ketangkasan temannya itu.


Terkadang saya berpikir bahwa dua kejadian itu sadar atau tidak bisa singgah bergantian di benak saya. Menghakimi diri sendiri. Atau juga mengagumi dan meyakini usaha yang sudah saya lakukan yang harusnya cukup bisa untuk bisa saya hargai sendiri. Terkadang bisa salah satunya yang mampir atau seperti sekaligus datang dan menjajah begitu rupa.

Seringnya mempermasalahkan tingkat kualitas dan kuantitas tidak terlalu buruk sebenarnya, tapi jika sudah berlebihan akan jadi bumerang juga buat logika berpikir. Tentu idealnya selaras saja antara kualitas dan kuantitas, walaupun definisi jumlahnya selalunya abstrak. Cenderung ke salah satu lalu menjadikannya konsep dalam berusaha bisa jadi menggiring ke ujung yang lebih fatal? Hmm… mungkin saja.

Pada akhirnya setelah sedikit pusing dan gemas dengan begitu lemahnya imunitas pikiran saya, saya bisa cukup belajar menerima bahwa tidak semua hal perlu dijustifikasi hitam putih. Sukses tidak sukses. Berguna tidak berguna. Ada yang lebih penting daripada itu. Makna dan nilai usaha yang akhirnya membuat kita nyaman bahwa kita sudah membuktikan eksistensi kita sebagai makhluk yang tak hanya perlu berpikir saja tapi juga perlu langkah riil, usaha! Dan saat usaha itu tidak berujung ke definisi sukses yang dianggap oleh orang lain, cap gagal juga tidak seharusnya kita berikan pada diri kita. Melihat sesuatu dari banyak sisi dengan objektif dan proporsional akan membantu kita jadi lebih nyaman daripada sekedar memainkan hitung-hitungan.

Kalau sudah seperti itu, saya sudah tidak terlalu ambil perduli lagi. Biarkan sajalah saat ada hasil dari sesuatu yang bisa jadi membuat saya merasa hancur sesaat tapi kemudian sesaat setelah itu saya menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Saya tidak perlu menyesal telah berbuat ini dan itu jika hasilnya Cuma segitu dan tidak memuaskan apalagi untuk disebut membahagiakan. Toh saya sudah berusaha optimal semampu saya. Atau bisa juga misalnya, tidak perlu senang yang berlebihan saat mungkin hanya dengan `dua batu` yang saya punya, saya bisa memenangkan pertandingan itu, karena bisa jadi orang lain jauh lebih baik kualitas usahanya dengan sekeranjang batunya. Walaupun bisa saja ada kemungkinan, saya juga mengumpulkan banyak batu sebenarnya tapi saya putuskan tidak semua saya bawa ke hadapan juri. Saya terlebih dulu menyisihkan batu-batu yang lain yang kira-kira terlalu besar dan menyisakan dua saja untuk dinilai. :P. Hahaha… yang jelas berusaha biasa saja antara rasa senang dan rasa sedih itu tidak akan terlalu buruk. 😛 (paling tidak bagi saya :mrgreen: )

Btw, definisi sukses hidup bagi tiap orang itu akan berbeda pastinya. Makanya ada banyak kepentingan dan jenis usaha yang relative untuk disebut sukses dan gagal. Walau tentu saja tetap ada sukses dan tidak sukses yang terdefinisikan berdasarkan kesepakatan bersama dan sedikit banyaknya menjadi tolak ukur pandangan orang secara umum. 🙂


Well, for every though I ever had before about everything, some had showed me how weakness I am, and some had me take the heaviest thing i didn`t expect much then I did. It was nice approaching and nice accomplishment either. Even at the end it didn`t go well as people hope. Nevertheless I feel and think, I wont change my glance about that since it helps much, not pain and not glad. It just needs adding attitude then.
One thing I can effort now is to learn much more wisely and keep thinking it carefully. Then just hope that it would find the gateway itself when I can not take it anymore. 😛

Huff… Yaiyy… *unknown words* :mrgreen:

Read Full Post »

Japan Corruption?

Heh? Di negara maju kaya begitu masih ada korupsi? Masa sih?

He eh. Iya. Ada kok.

Sudah basbang ni ceritanya. Malam itu seperti biasa, balik dari kampus, istirahat sebentar sambil nonton serial detektif yang rada horor, penyelidikan kasus bunuh diri keluarga. Seru-seru tapi bikin merinding  dan ngeri sendiri (halaah). 

Setelah serial detektif itu selesai, niatnya mau matikan TV, tapi kemudian…Zero News! Berita jam dua belas. Ugh… karena agak kelelahan hari itu, jadi ya sudah, liat headline beritanya aja kalau gitu, pikir saya. Topik utama berita tengah malam itu lumayan bikin saya tercengang. Menteri Pertanian Jepang, Toshikatsu Matsuoka ditemukan bunuh diri. Haa? 😯
*niat mo ngantuk terbang entah kemana*
*antusias muncul entah darimana*

Wah… jangan-jangan ini ada hubungannya dengan tuduhan korupsi atas Matsuoka beberapa waktu lalu? Iya, beberapa waktu belakangan, ada blow up berita mengenai isu skandal korupsi yang dikaitkan ke Matsuoka ini.

Ternyata benar. Toshikatsu Matsuoka, Menteri Agraria Jepang ini, melakukan bunuh diri setelah ia dihubungkan dengan skandal korupsi. Menteri berusia 62 tahun tersebut ditemukan gantung diri di rumah kediamannya di Tokyo. Adapun tuduhan yang ditimpakan padanya adalah kemungkinan bahwa ia menerima dana kampanye untuk ditukar dengan tender pemerintah bagi perusahaan. Lalu dua pejabat tinggi juga ditahan sehubungan dengan skandal ini.

Diduga kuat penyebab utama aksi bunuh diri Matsuoka ini adalah tuduhan korupsi terhadap dirinya itu. Karena tidak sanggup menahan malu jadinya begitu. Catat! Itu baru tuduhan… Dan kabarnya Perdana Menteri Shinzo Abe cukup terpukul dengan kematian Matsuoka ini. Selama ini Abe dirasa banyak pihak sering membela Matsuoka, dan ada yang menilai ini akan mempersulit posisi Abe ke depan dan kemungkinan akan kalah dalam pemilihan parlemen Juli ini. Saya enggak tahu banyak sih masalah ini. 🙄

Bleh… akhirnya saya cukup sabar hingga berita selesai dan sesudah itu saya malah jadi kepikiran sendiri. Mungkin ini salah satu dampak buruk nonton berita.

Ya, saya jadi berpikir aneh sendiri. Benar-benar menakjubkan ini orang. Demi harga diri, menanggung rasa malu yang tidak tertahankan, ia lebih memilih menamatkan riwayatnya. Padahal belum juga skandal itu terbukti, masih tuduhan! Bagaimana? Terpikir sesuatu? Hahaha… saya tebak ya, tentang rasa malu dan harga diri koruptor Indonesia? Benar tidak? :mrgreen:

Hmm…Ditempat kita selain rasa malu (dan tentu saja moral) yang masih bermasalah, faktor pendukung lainnya adalah lemahnya supremasi hukum. Banyak kasus korupsi yang terlantar dan tidak jelas ujungnya. Jadinya hukum di Indonesia dirasa cukup lumayan `nyaman`  untuk korupsi. 😦

Btw, dari artikel yang ditulis Dhoni Handoko, salah seorang pengamat, ada lucu-lucuan nih. Mengenai tindakan yang diambil kaisar China terhadap koruptor di negerinya. Kaisar yang memerintah pada masa dinasti itu, menetapkan hukuman bagi para koruptor. Selain hukuman badan (apa dicambuk ya? Atau yang pembuatan peti mati itu? -kurang jelas- ), koruptor harus membayar denda sebuah batu bata besar kepada pemerintah. Pada masa akhir kekaisarannya, berdirilah tembok China sepanjang 13.000 mil itu. 😆

Lalu di tempat kita? Hmm… katanya, meskipun supremasi hokum di Indonesia dapat diterapkan sehebat-hebatnya, ditambah hukuman membayar denda batu bata besar, koruptor di Indonesia tidak akan mampu membangun tembok 1 mil panjangnya. 😆

Errrr… balik lagi ke kasus korupsi di Jepang. :mrgreen:
Jadi? Iya, dengan kejadian pada 28 Mei lalu ini, nampak juga bahwa Jepang pun punya masalah penyalahgunaan kekuasaan seperti yang kita punya. Di Jepang pun ada korupsi. Tapi rasa malu saat korupsi itu terungkap masih begitu besar. Salah satu buktinya bisa kita dapatkan dengan melihat kasus Matsuoka ini. 😉

Lalu bagaimana dengan negeri kita? Ah, bukan maksud saya dengan pertanyaan `standar` itu, mengisyaratkan bahwa sesekali ingin dengar berita bunuh diri dari pejabat yg tertuduh korupsi kok.  😛  *mengerikan*  Tapi heran saja, memberantas korupsi ini di tempat kita kok rasanya tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan ya. Satu kasus korupsi sedang diusut, tiba-tiba muncul lagi dua, tiga dan seterusnya kasus baru. Lalu ada isu penyuapan lagi pada kasus yang sedang diusut. Dan seterusnya… Lalu…? *tertawa getir*

Kasus korupsi Matsuoka di Jepang itu, selesai dengan ending tragis begitu. Kasus-kasus korupsi di Indonesia belum punya ending. Entahlah. (tidak bertanggung jawabkah jawaban macam ini? ). Entah ending seperti apa yang cocok buat masalah korupsi di Indonesia.


Bicara masalah bunuh diri di Jepang. Ini merupakan polemik besar bagi Jepang sendiri. Jepang terkenal dengan angka bunuh diri tertinggi dunia. Survey tahun 2006 menunjukkan bahwa setiap tahunnya angka bunuh diri mencapai 30.000-an. Mengerikan ya? Hmm itulah faktanya. Ini sudah masuk masalah lainnya sih. Dan terkait hal ini, di tahun 2006, di Jepang sudah ada Undang-Undang Anti Bunuh Diri, yang concern lebih ke tindakan preventifnya yaitu pelayanan konsultasi mental yang harus wajib ada di tiap perusahaan dan kantor.

FYI, salah satu site wisata di Fukui, namanya Toujinbou, laut dengan tepian karang yang cukup terkenal pamornya ini dulunya sering digunakan sebagai tempat jisatsu (bunuh diri). Halaah… aneh-aneh saja. Tapi katanya sampai sekarang masih ada kejadian sih. Salah seorang student asal Malaisya pernah lagi main kesana, di karang-karangnya itu, tiba-tiba  di depan sana, agak menjorok ke tepi karang, ada yang terjun. Blash!! Kelanjutannya? Saya tidak tahu. Bunuh diri, itu cukup menjelaskan, Agaknya. :mrgreen:

Read Full Post »

Iya! Rupanya ada! Hohoho… baru sadar saya! *tertawa bahagia*

Jadi begini, tadi kemasan kopi instan saya jatuh ke lantai dapur. Tanpa sengaja pandangan  tertumbuk ke image anak perempuan di bagian belakang kemasan itu. Anak perempuan yang sedang minum kopi? Benar sekali. Menarik ini! (Paling ga menurut saya, 😛 ). Menurut anda bagaimana? Kalau liat iklan entah itu di televisi, majalah, atau gambar di kemasan kopi yang dijual, pasti model iklannya itu laki-laki kan ya? Walaupun tentu saja penikmat kopi banyak juga kok yang perempuan.

Walaah… sebenarnya ga penting sih, cuma saya surprise saja. Ada kopi khusus anak perempuan euy. Saya sering beli tapi enggak seteliti sampe ke belakang kemasannya itu biasanya. Baru hari ini terbongkar, pas kopi itu tinggal satu lagi.. T_T.

Oh ya, Saya sertakan barang buktinya ya? Bagian belakang kemasannya. ^^;

p7080008.jpg

Jadi itu dia kemasan Coffe Au latte-nya. Saya bukan peminum kopi (doang) 😛 . Ga bisa kalau cuma kopi begitu aja… Makanya seringnya kalaupun saya beli bubuk kopi instan, selalunya saya tambahkan susu. 😛

Well, itu dia ternyata, ada kopi khusus sampai image-nya itu anak perempuan segala… :P. Ah, yang penting rasanya sedap dan saya suka. Itu aja sih kayanya. :mrgreen:

Err…Iya, tiba-tiba saya teringat kasus penge-mas-an (Kaidah bahasanya ancur :mrgreen: ) saya belakangan ini. Saya kira ini momen yang lumayan tepat buat melakukan konferensi pers (halaah) seperti yang diusulkan Mas ini. Walaupun saya tetap saja terheran-heran. :mrgreen: Soalnya begini, di `Si Saya` itu saya berpidato jelas mengenai diri saya lho, anak perempuan berusia sekian-sekian dan beberapa atribut tidak penting sekedar mengenalkan diri. Tapi anehnya saya tetap di-mas-kan *sedih berat*  (dramatisir mode on)

Hahaha… jadi baiklah, mungkin mereka ga sempat baca lagi ya bagian atasnya, walaupun saya sangat menyarankan, kalau kita memang ingin menggunakan kata sapaan kepada blogger yang bagi kita mungkin masih belum jelas gender-nya, bisa cek dulu di halaman about-nya ditambah pakai kira-kira sedikit, ini menjurus ke laki-laki atau perempuan. Kalaupun itu cukup merepotkan, atau misalnya tidak tercantum tentang diri si blogger itu, pakai sekaligus penulisan “mas/mbak”, atau boleh juga tidak menggunakan sapaan yang merujuk ke gender, mungkin ini akan cukup membantu dari kesalahan me-mas-kan atau me-mbak-kan, kayanya. 😀

Anyway…baiklah, saya, jejakpena a.k.a Hiruta itu anak perempuan lho. Kalau mau sedikit repot bisa di baca disini. 😛

Read Full Post »

Menunaikan Janji ^^

Ahem. Iya nih, mau menepati janji dulu yang sempat saya bilang tempo hari.  Jadi ini dia beberapa hasil skrinsyutnya. Maaf enggak banyak dan mungkin kurang representatif dengan keadaaan nyatanya, but I`ve tried my best :mrgreen:

Seperti yang pernah saya dongengkan (halaah) kemarin itu pada 16 Juni lalu, pendakian Mt. Arashimadake  dengan ketinggiannya 1523,5 m ini masih dalam wilayah Fukui prefecture. Disebut juga sebagai Ono-Fuji.  Karena bentuknya yang kaya piramid  keren, rada mirip sama saudara sepupunya, gunung Fuji 😆

arashimadake.jpg

Penampakan Arashimadake ini diambil dari sini

Sedangkan beberapa penampakan di bawah berikut ini hasil tangkapan saya, sang fotografer amatiran 😛 . 

Here goes…

starting point

1. Starting point… Yang nampak di kejauhan itu Mt. Arashimadake-nya.

p1040257.jpg

2. Masih di kakinya ^^;

p1040259.jpg

3. Hijau sepenuh mata…  \^o^/

p1040276.jpg

4. Salah satu bagian dalam, menuju puncak  ^^;

puncak Haku-san

5. Tetangga Arashimadake, Mt. Hakusan (2.702 m), masih ada salju bersisa…

p1040275.jpg

6.  Masih wajah Hakusan yang diambil dari atas Arashimadake ^^;

Yap, janji sudah dipenuhi, maafkan agak sedikit terlambat.

Ah iya, kan saya sempat bilang bahwa acara hiking ini akan cukup sekali saja dalam hidup saya (halaah), tiba-tiba pas kemarin itu ketemu dengan sensei yang sama, saya diajak lagi untuk pendakian ke Hakusan 20-21 Agustus nanti. Whohoho… Lalu? Hmm… final decision, biar Arashimadake tetap jadi yang pertama dan yang terakhir saja 😉

Read Full Post »