Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2007

Sebenarnya sudah agak lama (beberapa minggu mungkin?) saya menemukan artikel tulisannya Mas  ini . Artikel yang bagus dan cukup mewakili beberapa isi kepala saya. Sayangnya saya tidak sesistematis itu mengungkapkannya  :mrgreen:

Lihat judul tulisan ini? Hmm… Bukan apa-apa sih. Cuma pernah terbaca fenomena di sekitar akan tuduhan beberapa orang-yang-hatinya-kurang-bahagia-(mungkin), betapa dunia terlihat begitu bersahabat pada si cantik dan sebaliknya, terlihat tak adil pada yang bukan cantik. Walaupun tentu saja pada kenyataannya banyak yang tak ambil pusing dengan hal itu. Ada yang cukup menjawab, `Ah, toh cantik itu relatif kan?`. Jadi biasa saja. Tapi seorang teman dengan iseng bilang, `Iya sih, katanya cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak…` (halaah). Maksud? Ah, sudahlah. Akan tidak penting dibahas. 😛

Eh, sebenarnya bukan hanya cantik saja sih, ganteng atau tampan juga sama. Hanya saja entah kenapa wacana keperempuanan biasanya terkesan lebih mencuat dan menonjol? :mrgreen:   *jangan tanya saya karena saya pun tak tahu *  😎

Ini kutipan tulisan  tersebut :

Ini bukan hasil riset, tapi opini pribadi. Saya sendiri menganggap berbeda antara ‘cantik’, ‘manis’, ‘cute’, ‘menarik/attraktif’, dan ‘jelita’. Karena menyangkut perasaan, saya sulit membuat pembatasan jelas tentang kategori-kategorinya. Ada yang menurut saya cantik, tapi somehow, kok tidak menarik. Ada juga yang sebenarnya kurang cantik, tapi somehow lagi, kok ya sangat menarik.

Saya mengusulkan kita menggunakan istilah charming untuk orang-orang yang tidak peduli cantik atau tidak, tetapi menarik. Berlaku untuk pria dan wanita. Istilah charming ini juga dipakai, supaya judul yang saya gunakan bagus dan berima (“charming” itu penting!)

Nah, menurut saya, charming itu tidak terkait dengan kecantikan fisik. Intinya, charming adalah kemampuan membuat nyaman dan enak untuk orang-orang dalam melihat kita. Jadi, charming ini saya usulkan untuk mengganti beautiful dalam literatur economics of beauty.

Seperti ditunjukkan dalam riset-riset, ternyata memang charming itu penting! Orang-orang charming mendapat penghasilan yang lebih besar, lebih sedikit berprilaku kriminal, dan lebih disukai untuk dipilih.

Sekarang, apakah dunia tidak adil? Sementara cantik/ganteng itu fisikal, kalau anda mau sepakat, charm itu tidak terkait dengan fisik. Anda bisa saja ganteng, tapi belum tentu charming. Anda mungkin kurang cantik, tapi bisa jadi charming (bisa juga tidak). Jadi, charm itu bukan kualitas yang given, tetapi kualitas yang bisa didapatkan, bisa dipelajari. Charm terkait dengan bagaimana kita ingin menampilkan diri kita. Personal branding. personal positioning, yang bisa dirancang. Nah, kalau begitu, dunia itu tidak tak adil. Netral. Karena jadinya tergantung kita, mau belajar jadi charming atau tidak?

Selanjutnya, bagaimana menjadi charming ? Nah, untuk yang ini saya juga masih perlu banyak belajar, he33x. Mungkin orang-orang yang telah charming di luar sana tertarik menjelaskan?

Dengan sendirinya kalimat judul itu ter-negasikan ya? (menurut saya  begitu, secara saya setuju dengan tulisan tersebut). Dan diantara sekian banyak yang kita punya, yang terpenting tentu saja berusaha mensyukuri apa yang sudah Tuhan anugerahkan. 🙂

Btw, jadi teringat dengan omongan salah satu temen saya dulu saat ditanya `kenapa` tentang pilihannya. ” Dia memang biasa aja, tapi charming-nya itu…” jawabnya sambil tersenyum penuh arti. … Agaknya dia sudah punya konsep melihat charming tidaknya seseorang ya? :mrgreen:

Jadi? Ya… intinya (based on the article) :

“Charming adalah kemampuan membuat nyaman dan enak untuk orang-orang dalam melihat kita”

Dan, iya lagi. Karena saya setuju dengan usulan `charming` tersebut -dan itu jauh lebih penting daripada cantik atau ganteng- mungkin itu bisa saya pakai nanti. *bletaak*  😛

Errr… pertanyaannya masih ada tuh kan? `Bagaimana Menjadi Charming?`  :mrgreen:

 

Ps:

–  Lihat tulisan lengkapnya disini

–  Buat Mas Lucky,  `saya kutip disini tulisannya. Ijin ya`. 🙂

Read Full Post »

Kadang-kadang terlintas pertanyaan, mau nge-blog sampai kapan? Ya, sampai kapan? Retoris tentu saja.

Sepertinya akan seru juga saat catatan isi kepala, katarsis, dan entah apa-apa hal disini dibaca lagi entah lima tahun mendatang, sepuluh tahun kemudian, dan seterusnya. Hmm… Bakal ada perasaan aneh macam apa ya? Bisa jadi reaksinya sekitar senyum-senyum lucu, manggut-manggut aneh campur heran, sedikit kaget atau mungkin  juga banyak. Perasaan ga nyangka ternyata bisa nulis dan pernah mikir kaya gitu, atau yang lebih parah, pura-pura syok, “Heh?! Memang aku pernah nulis kaya gini ya?”.  😆

Belum lagi kalau membaca komen-komen dan tanggapan beragam mulai dari setuju tidak setuju, yang ngamuk-ngamuk mungkin belum ada sih sejauh ini. Whuaah… entah gimana nanti spektrum rasa di hati dan pikiran pas baca-baca lagi semuanya. Ketawa mungkin? Sampe ngakak? Agak tersentuh? Tercerahkan? Ngajak mikir? Atau apalagi ya? Atau sambil membaca komen itu terpikir pula pada tiap orang yang menuliskan komen tersebut? Bagaimana beragamnya karakter dan logika berpikir, hirarki kepribadiannya, atau mungkin sikap arogannya saat melontarkan ide atau pendapat? Bisa jadi. Bisa jadi.

Hmm… beberapa malah sudah menjadi orang dekat yang tidak sekedar blogger yang nulis komen aja. Orang-orang yang awalnya hanya dikenal lewat komentar yang intens di entry yang ditulis. Berlanjut ke YM dan makin akrab. Orang-orang yang bahkan tidak pernah ditemui, hanya kesamaan ide, pikiran dan beberapa kecenderungan lucu dan aneh kemudian dihubungkan satu sama lain. Hei, mereka tersebar di beberapa belahan bumi pula. Hebat juga blog ini. Ternyata ini memang bukan sekedar tren atau kebiasaan menghabiskan waktu selain chat atau surfing, donlot atau yang lainnya deh. Yah, paling gak begitulah yang dirasakan sejauh ini. Entah bagi yang lain. 🙄

Hmm, bukan tentang apa-apa sih. Sedikit tentang animo menulis pribadi yang mungkin suatu saat akan lenyap tanpa sebab (mudah-mudahan saja tidak), atau terbengkalainya draft-draft yang tidak sempat diedit dan di-publish. Tentang ide dan harapan (halaah!) yang tidak sempat tumpah. Tentang minimnya waktu dan padatnya kesibukan. Atau alasan lain yang paling manusiawi, Malas dan Bosan. Banyak. Akan ada banyak kemungkinan sebab. Mungkin juga akan ada sedikit pertanyaan tentang konsistensi? Waww, sebegitunya pentingnya kah sebuah blog? Hingga konsistensi pun dipertaruhkan disana? Jawabannya tentu saja tergantung tiap pribadi, sudah sejauh apa dia menggunakan blog sebagai media pribadinya untuk bicara, sudah sejauh apa keterikatan pikirannya pada sebuah blog. Atau mungkin lagi, sudah sejauh apa ia menaruh harapan bahwa `isi omongan` dan cuap-cuap aneh di blognya bisa punya pengaruh yang signifikan pada orang yang kebetulan blogwalking, kesasar, atau memang pengunjung setia blognya. Pengaruh yang tentu saja tetap bermata dua, tergantung bagaimana persepsi dan pola pikir yang membacanya.

Sampai pada titik ini, saya angkat salut pada mereka, yang menulis karena mereka ingin berbagi, agar ide dan pikiran tidak hanya berputar di dalam batok kepalanya sendiri, tapi keluar, lalu sirkulasi ide dan tawaran pendapat baru mulai ada. Begitu terus. Menyenangkan. Dunia maya yang hening jadi terlihat dinamis, dan tentu saja jangan salah, ada `pertempuran ide` yang setiap saat terus terjadi, pergesekan idealisme, pertentangan pola pikir dan sikap. Semua. Semuanya. Hening tapi bising?

Maka, seandainya tiga, atau lima tahun mendatang ataupun sepuluh tahun  kemudian, nama-nama blog di blogroll itu masih `hidup` dan empunya masih bergentayangan di blogosphere dengan responnya, dengan komen dukungannya, pencerahan, meluruskan, (juga yang suka menghujat? 😛  menuding?, teriak-teriak tidak setuju, atau apalah yang lain, seperti yang biasa kita lihat hari ini), berbagi pengetahuan dan lain-lain, yang jelas masih seperti saat ini, tentu saja mereka blogger hebat. Mereka hebat karena tetap (berusaha) ada. Entahlah, begitulah menurut saya. Mereka konsisten dengan apa yang mereka lakoni (padahal cuma ngeblog aja 😛 ). Walaupun tentu saja cap inkonsisten tidak akan sembarangan mampir pada mereka yang mungkin tidak lagi `ada`. (Asalkan tetap saling kenal aja sih. 😛 ). Biasa saja. Ada banyak hal yang tidak perlu justifikasi hitam putih begitu. A atau non-A. Begitu kan? :mrgreen:

Ya. Mungkin akan ada perasaan aneh dan perasaan lain yang belum bisa diprediksi itu suatu hari. Entah kapan. Suatu saat nanti.  We will see, we will see…  :mrgreen:

Read Full Post »

Jadi Dewasa

Biasanya jadi orang dewasa banyak ga enaknya. Harus memikirkan kehidupan yang mereka jalani. Orang-orang di sekitar mereka, anak mereka, saudara mereka dan sebagainya. Ga enak deh kayanya. Capek pikiran. Capek badan.

Eh, belum lagi kalau ada masalah. Iya, masalah. Errr… masalah itu apa ya? Pokoknya sesuatu yang terjadi berbeda antara yang diharapkan dengan kenyataan. Terbentuklah masalah. Lagi. Jadi dewasa rupanya banyak ga enaknya. Harus menentukan pilihan sendiri, disuruh tanggung jawab sendiri, disuruh jalan sendiri, dilepas sendiri. Ah, kayanya bener nih, jadi orang dewasa banyak susahnya.

Mendingan jadi anak kecil aja. Terus begitu. Nyaman. Dunianya tentram. Dijaga selalu. Dilindungi. Dikhawatirkan. Ditemani ibu saat takut, ditenangkan saat sedih. Disemangati oleh ayah, diajari supaya kuat. Intinya kita tidak dibiarkan berjalan sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Kunci Keseragaman Kolektif

Perhatian : Tulisan ini agak sedikit panjang.

Kadang-kadang saya mikir, apa ya yang bisa membuat suatu kelompok punya kebaikan yang seragam yang hampir sama kadarnya di hampir semua elemen anggotanya? Langsung saja contohnya. Misalnya,  keseragaman dalam menjaga loyalitas terhadap kelompok yang dengan nyata dicatat sejarah hingga hari ini, seperti harakiri. Demi menjaga rahasia dan kehormatan kelompoknya, seorang samurai rela melakukan bunuh diri. Sikap mempertahankan loyalitasnya seragam. Apa yang bisa membangun keseragaman sikap seperti ini? Doktrin kah? Untuk kasus samurai ini, boleh jadi. Untuk hal-hal yang lain, selain doktrin, berupa apa? Hmm. mungkin, lingkungan  hidup yang membentuk mereka dan kemudian menjadikan mereka mengkonstruksi sikap itu dalam pikirannya, mennghujamkannya dalam-dalam lalu keluarlah sebagai sesuatu yang terlihat seragam sebagai sikap khas komunitas.

Pengaruh lingkungan sosial yang konstruktif ini agaknya yang terlihat cukup potensial terjadi. Karena hal ini terjadi secara alami dan `tidak disengaja`. Beda dengan doktrin tadi, ada kesengajaan membentuk sikap, kesengajaan untuk menerapkan itu dalam diri dan kesengajaan-kesengajaan yang lain yang memang sudah dirancang agar berujung pada satu keseragaman. Done. itu doktrinisasi. (lebih…)

Read Full Post »

Again, August Moment

Dulu saya pernah nemu dan baca komen lucu tapi begitu mengena. Lupa dimananya. Intinya komen itu diberikan saat menanggapi kondisi carut marut di hampir berbagai lini kehidupan bangsa Indonesia ini. Mulai dari korupsi, kerukunan hidup antar umat beragama, ketidakstabilan perekonomian, stabilitas politik yang tidak menentu, supremasi hukum yang entah bagaimana cara menjelaskannya, kejujuran individual yang punya imbas pada kejujuran kolektif yang masih jadi barang mahal, kualitas pendidikan yang ngos-ngosan dibandingkan dengan negara tetangga (Indonesia di peringkat ke 117 dari 175 negara di dunia, Malaysia di peringkat ke 58,  lihat disini lebih jelasnya ). Intinya, masih banyak hal yang tidak beres di negeri ini. Negeri yang kaya, negeri yang pernah disebut oleh seorang analis Jepang (walau dengan setengah bercanda), negeri yang diberkahi dengan kekayaan alam yang bikin iri bangsa lain, yang bisa digunakan untuk hidup warganya hingga tujuh turunan sambil ongkang-ongkang kaki. Ya, kasian ya kita. (Butuh pengertian dan pemakluman yang luar biasa untuk keanehan ini, entahlah).

Ah, iya, komennya itu begini “Indonesia mungkin perlu ditabrak meteor dulu, sudah hancur semua, lalu sulap lagi, lalu mulai lagi dari awal”. Begitu sih lebih kurang. Kalau ada yang tahu komen itu bilang ya. :mrgreen: (lebih…)

Read Full Post »

Tradisi Minum Sake

 Benar. itu salah satu hal yang paling terkenal disini. Minum sake, biiru (bir) dan minuman beralkohol lainnya. Uniknya, ini jadi semacam tren (apa memang sudah tradisi? :mrgreen: ) khusus pada even-even tertentu disamping juga menjadi kebiasaan yang tidak istimewa lagi di kehidupan sehari-hari keluarga Jepang. Hanya saja jadi unik dan agak mengagetkan mungkin bagi kita yang  tidak biasa dengan hal ini, didukung oleh perbedaan budaya yang lumayan mencolok.

Misalnya setelah ada perayaan tertentu, entah itu acara kelulusan, penerimaan mahasiswa baru, menyambut tahun baru, atau sekedar presentasi final hasil riset di lab, maka akan ada namanya acara nomikai (minum sama-sama) antara mahasiswa dan dosen. Ataupun ada acara `syukuran` ( :mrgreen: ) anggota keluarga yang kebetulan lagi sukses atau `dapat rejeki`  (halaah, Indonesia banget istilahnya) salah satunya akan diekspresikan dengan acara minum sake ini. Ah iya, ada tradisi kalau ada bayi lahir, ada upacara khusus dimana bayi akan dicicipkan rasa nasi dan makanan lainnya, juga sake!  :mrgreen:  (lebih…)

Read Full Post »

Jangan Sok Tahu™

*kesambet mode ON*

Kamu (apa kalian ya?)
Kalau tidak tahu jangan sok tahu™!
Orang yang lagi tertekan bisa ngomong hal di luar dugaan lho
Juga bisa bertindak macam-macam dan (bisa jadi) mengerikan
Orang yang lagi banyak pikiran bisa-bisa mau makan orang (ga kebayang?)
Orang yang lagi tertekan bisa meledak tiba-tiba kalau tersentuh di titik rawan
Orang yang lagi banyak pikiran bisa bikin kebakaran!
Heh?! Kagetan?
Masa sih kamu (atau kalian?)  gak tahu yang kaya beginian?

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »