Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2007

Untung Rugi Pemaksaan

Tentu sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa atau setengah hati atau tidak dengan keinginan hati, tentu hasilnya berbanding lurus juga. Tidak optimal. Apalagi jika dipaksa oleh orang lain untuk melakukan. Intinya, sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan tanpa paksaan, ataupun pemaksaan baik dari diri sendiri maupun dari pihak lain. Tapi tentu saja ada pengecualian di tiap hal. Ada paksaan dan pemaksaan dari orang lain yang bertujuan baik hanya saja saat memulai melakukannya ada sedikit rasa not-willing dari diri kita sendiri, misalnya. Untuk paksaan atau pemaksaan dalam konteks ini tentu saja tidak masalah.

Mungkin kita ingat saat masih kecil dan sakit lalu kita dipaksa untuk minum obat yang pahitnya bukan main. Saya yang sering sakit-sakitan dulu sering `bermusuhan` dengan ayah karena saya yang tidak suka minum obat sering `diintimidasi` oleh ayah untuk minum obat. 👿

Maka, berbeda dengan anak-anak, seorang dewasa (weleh, siapa ini yang udah merasa dewasa??) biasanya tidak suka disuruh-suruh, dipaksa-paksa, apalagi terkait dengan masalah pribadi. Ego seorang dewasa. Jadi, sama seperti orang lain juga, saya tidak suka dipaksa-paksa. Apalagi jika itu termasuk pada pemaksaan kehendak pribadi orang tersebut. Wah, alamat ‘cuaca` gak bagus tuh. :mrgreen:

Misalnya saja, untuk sebuah pemaksaan dengan dalih alasan : cobalah dulu, nanti kamu akan bisa jika sudah terbiasa. Mungkin itu bisa dibenarkan untuk mencoba sesuatu yang baru dan saya tidak sukai sebelumnya. Tapi tetap saja, kalau sudah terlalu digiring-giring begitu, siapa yang nyaman? Saya rasa anda juga akan sepakat. Jika orang lain tidak mau, tidak suka, saya tidak akan memaksa, karena saya tahu bagaimana rasanya tidak nyaman dipaksa-paksa. Bolak balik sih, karena saya tidak suka melakukan hal itu pada orang lain, saya juga tidak suka saat saya diperlakukan begitu oleh orang lain. Begitu kan? Sayangnya tentu tidak semua berlaku seperti ingin kita. 😦

Jika saya dipaksa untuk sesuatu yang netral, dengan caranya yang muslihat, sedikit manipulasi, hingga saya bahkan tidak sadar diri saya sedang dipaksa, mungkin saya tidak akan terlalu menampakkan ketidaknyamanan bahkan mungkin tidak akan komplen, lah saya sendiri tidak sadar saya dipaksa?Tapi akan lain halnya jika saya dipaksa untuk sesuatu yang tidak saya sukai sejak awal. Seseorang memaksakan kehendaknya, ini sih sama saja cari gara-gara. -__-“

Baik. Mungkin ada pembelaan lain, Lihat dulu alasannya. Oke, alasannya menurut dirinya pribadi, supaya keadaannya menjadi lebih baik dan untuk keleluasaan dirinya, kemudian dia memaksakannya pada saya, tanpa memperhatikan kenyamanan saya. Bagaimana mungkin saya bersedia melakukannya? Padahal dengan keadaan sebelumnya, tidak ada masalah, tidak ada hal yang merugikan yang terjadi. Jadi kenapa harus mengubahnya? Parahnya lagi, justru perubahan itu sesuatu yang jelas-jelas bikin saya terganggu. Saya tidak bisa berpura-pura nyaman dengan keadaan yang sebenarnya malah sebaliknya kan? Melelahkan, menyebalkan.

Dan keparahan masih berlanjut, setelah dijelaskan alasan ketidaknyamanan itu, saya masih dipaksa untuk melakukannya. Huh. Dengan dalih, lama kelamaan saya akan terbiasa menjalaninya. Terbiasakah? Bagaimana mungkin saya membiasakan diri dengan hal yang jelas-jelas sejak awal tidak membuat saya nyaman? Saya kok pesimis hal itu akan terjadi. Tidak bisa disangkal, ada hal-hal yang awalnya berat, tapi setelah terbiasa melakukannya, akan terasa ringan, dan mungkin saat awalnya, anda mencobanya dengan setengah hati, terpaksa namun di akhirnya anda menjadi terbiasa dengannya. Sayangnya hal ini berbeda. Benar-benar berbeda. Sejak awal itu adalah hal yang menganggu kenyamanan pribadi dan tidak dapat diusahakan agar ke depannya isa terbiasa dengan ketidaknyamanan itu hingga akhirnya bisa merasa nyaman? Hohoho…

Ibu dan ayah saya tidak pernah memaksa saya makan udang. Sejak kecil saya tidak suka udang, kalaupun saya makan, itu adalah udang dengan ukuran yang sangat keciiill sekali. (Ibu saya harus sabar saat membersihkannya 😐 ). Padahal udang itu mengandung protein tinggi, tapi saya tidak suka. Ayah dan Ibu saya hanya mengajak saya mencoba, tapi tidak pernah sampai memaksa-maksa saya untuk makan. Walaupun akhirnya sekarang saya sudah berusaha untuk makan udang selayaknya orang lain, saya seanng melakukannya karena saya tidak merasa dibawah tekanan.

Tapi masalah ini? Sudah dijelaskan bahwa alasannya adalah ketidaknyamanan, tapi tetap saja memaksa. Setiap hari jadi penuh denga rasa tak nyaman tapi tidak diperdulikan? Dia senang tujuannya tercapai tapi tidak memikirkan perasaan orang lain. Bagaimana bisa? Harusnya dia paham bahwa meng-codekan pikiran dan perasaan itu tidak semudah itu, hanya dengan mencoba lalu akan terbiasa. Kalau dari awal tidak nyaman, mau membiasakan bagaimana? Hmm, mungkin sesuatu jadi terlihat agak sedikit sulit karena di satu sisi orang tersebut adalah orang yang kita segani dan punya hubungan baik sebelumnya, tapi jika terus-terusan tidak mau mengerti juga, agaknya saya mesti menyerah juga. Lewat jalan yang lebih keras tegas !! 👿

Ahahaha… benar lah itu, lebih baik melakukan sesuatu karena terpaksa daripada dibawah paksaan walau dua-duanya tetap saja sama tidak baiknya. 😛 . ‘Kan?

Read Full Post »

Apdet? Apdet!!

Wah, lama juga sejak lebaran blog ini dibiarkan begini aja. Kasiannya. Akhirnya memang jam online saya menurun drastis daripada sebelumnya ditambah lagi dengan kondisi fisik yang tiba-tiba drop, lengkaplah sudah keterabaian apdetan blog ini. 😐

Walaupun begitu, akhirnya hari ini bisa nulis lagi, senangnya… 😛 Jadinya tentu saja saya jadi tidak mengikuti perkembangan di blogosfer dalam beberapa waktu belakangan ini, untuk itu saya mohon maaf, juga dengan komen-komen yang sempat terbiarkan begitu saja tanpa tanggapan,  saya mohon maaf juga.

Sudahlah, intinya semoga saya bisa kembali nge-blog lagi walaupun dengan intensitas yang jauh berkurang daripada sebelumnya. Hiatus itu disatu sisi enak di sisi lain malah menyiksa, bakalan gak sehat kalau kelamaan, berbulan-bulan atau sampai menahun? Waah, mudah-mudahan ga sampai kaya begitu ya… 🙂

Read Full Post »

Kebersamaan nge-blog bersama para blogonita dan blogonito sekalian, kali-kali aja ada salah komen, silap kata pas jawabin komen, atau yang lainnya, semua-semuanya, mohon dilapangkan maaf ya.  :mrgreen:

Huehehehe… langsung aja. Sebenarnya ingin mengucapkan :

  ~Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H~

Mohon Maaf Lahir dan Batin  🙂

Ps :

Buat yang mudik, semoga selamat di jalan dan dapat berlebaran bersama keluarga dan kerabat semuanya. 🙂

Read Full Post »

 

Sabtu kemarin saya mengunjungi seorang teman yang tinggal di Matsuoka. Saya diundang ke tempatnya karena saya jarang main kesana. Beliau ini juga mahasiswa di universitas yang sama tapi di fakultas kedokteran yang terletak di Matsuoka, bukan di Bunkyo kampus. Jadilah saya yang tidak berpengalaman ke Matsuoka dengan kereta api mulai ngecek jadwal dan rute dan akhirnya berangkat sendirian ke sana. Perjalanan dengan kereta api memakan waktu lebih kurang 20 meni dengan satu kali ganti kereta dan sesampai disana mbak tersebut sudah menunggu sejak lama di Matsuoka eki karena ada salah paham. Mbak ini seorang dokter muslim Kyrgistan, tapi dia menjelaskan bahwa dia agak berbeda dengan muslim pada umumnya yaitu tidak melakukan ibadah shalat dan tidak puasa, saya baru ber-o-o ria sambil mengangguk-angguk . Tapi beliau tetap mengkonsumsi daging yang halal (yang ini sama ya) tapi tidak memakan ikan mentah (katanya tidak boleh). Beda-beda ya ternyata. :mrgreen:

 

 

 

BTT,
Maka dari sana saya pun ditawarkan buat jalan-jalan. Karena saya segera balik Oktober ini, saya pun diajaknya mengunjungi Maruoka Jo (Maruoka castle), yang terletak di Maruoka, Fukui. Cuaca yang agak mendung dan udara sejuk pun cukup bersahabat. Diputuskan akhirnya saya nge-rental sepeda dari stasiun Maruoka dan dimulailah sepedaan menuju Maruoka kastil itu yang merupakan kastil tertua di Jepang, berumur lebih dari 400 tahun.

 

Maruoka Jo ini dibangun di atas bukit pada tahun 1556 oleh Shibata katsutoyo yang merupakan seorang kepala Samurai pada periode Azumi-Momoyama. Tak banyak detil sejarah tentang kastil ini yang saya rekam ataupun saya tampung di memori saya. :mrgreen:

 

Saat kami mengunjunginya tempo hari, kastil ini tampak sepi. Tidak ramai pengunjung yang memadati kastil. Dari luar kastil ini tampak terawat walaupun pernah rusak saat gempa melanda Fukui dulu. Fondasi kastil adalah batu-batu besar dan elemen lainnya mulai dari lantai, tiang penyangga dan dinding dibuat dari kayu. Tangga depan kastil terbuat dari batu dengan bentuk yang landai sehingga bangunan kastil tiga lantai ini tampak berdiri menjulang.

Saat memasuki Jo ini, saya sedikit kaget. Tidak ada barang-barang peninggalan apapun yang biasanya akan kita temui saat mengunjungi kastil-kastil tua. (setidaknya beberapa yang pernah saya kunjungi memiliki aksesoris peninggalan yang dipajang di bagian dalam kastil). Namun disini, ruangan kastil terhampar kosong dengan lantai kayu yang walaupun sudah tua dimakan waktu namun tetap licin mengkilap, nampak terawat. Di lantai dasar hanya ada foto-foto kastil yang ada di seluruh Jepang. Hanya itu. Lainnya? Hmm, hanya ada suara pemandu yang menjelaskan dalam bahasa Jepang tentang sejarah dan asal usul Maruoka Jo tersebut. Lalu kami beranjak ke lantai dua lewat satu-satunya tangga kayu yang begitu curam. Tali disediakan untuk pegangan saat naik atau turun melalui tangga tersebut. Di lantai dua pun sama, tidak ada barang-barang peninggalan para samurai itu. Di sini jendela dibuat hingga menyentuh lantai dan diberi jeruji yang terbuat dari kayu. Pemandangan wilayah Maruoka dan Fukui walaupun tidak terlalu jelas jangkauannya mulai terlihat dari sini. Menuju lantai tiga, tangga kayunya terletak di sudut kanan dan nampak begitu menyempil. Berbeda dengan tangga di lantai dua yang terletak di bagian kiri hampir ke tengah ruangan. Pastilah ada tujuan dibuat sedemikian rupa.

 

 

p9290138.JPG

 

Bagian kaki bukit yang kini dijadikan taman sebelum orang-orang harus menaiki tangga menuju bukit tempat kastil berdiri.

 

 

maruoka2.jpg

 

Bangunan kastil tampak dari sisi kiri dengan tangga batu yang cukup landai.

 

p9290153.JPG

 

Lantai dasar kastil. Terdapat foto-foto kastil yang tersebar di seluruh wilayah Jepang lainnya digantungkan di dinding.

 

 

maruoka3.jpg

 

Lantai dua dengan jendela yang memungkinkan cahaya masuk dari keempat sisi bangunan kastil

 

p9290154.JPG

 

Jendela dengan jeruji dari kayu di lantai dasar.

 

 

maruoka4.jpg

 

Lantai paling atas dengan jendela yang kecil di keempat sisi bangunan. Sama seperti lantai dua, tidak ada barang yang mengisi ruangan.

 

maruoka5.jpg

 

Tangganya begitu curam dan licin. Insiden kecil pun terjadi, saya terpelanting jatuh saat hampir mencapai ujung akhir tangga bawah padahal sudah pegangan pada tali yang disediakan. 😦

 

p9290158.JPG

 

Tampak dari atas permukaan kota yang diambil dari salah satu jendela di lantai dua

 

p9290162.JPG

 

Pelataran depan kastil tampak dari lantai tiga, terdapat kedai teh dengan penyajian khas Jepang dan pengunjung dapat menikmati sambil duduk di bangku panjang.

 

p9290169.JPG

 

 

 

Tangga menuju dan kembali dari kastil. Di depan sana itu adalah kedai soba dan juga restoran kecil serta kedai oleh-oleh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

Begitulah hasil jalan-jalannya dan sekaligus merupakan jalan-jalan terakhir saya untuk tahun ini di sini. Secara keseluruhan perjalanannya menyenangkan. Sangat. Saya bertemu teman saya yang sangat jarang untuk bisa saling bertemu karena masing-masing punya kesibukan. Ah iya, tanpa disangka saat kami sudah turun ke bawah dan memasuki kedai untuk melirik-lirik koleksi jualan disana, ternyata kami bertemu dengan dua temannya teman saya yang berasal dari Rusia. Benar-benar di luar dugaan. Sayangnya karena saking larut dalam obrolan, sampai lupa waktu. Dengan terburu-buru balik ke Matsuoka, belanja beberapa makanan untuk makan malam, lalu makan malam bareng dengan sedikit tergesa karena takut ketinggalan kereta api terakhir. Saya agak kelelahan juga, karena saat dalam perjalanan balik dari Maruoka Jo, saat hampir tiba di kampus Matsuoka, ban depan sepedanya kempes. 😐

Perjalanan menuju stasiun Matsuoka kami diantar oleh temannya teman saya yang kebetulan membawa mobil. Walaupun terburu-buru akhirnya kami berhasil mendapatkan kereta api untuk pulang. Saat tiba kembali di stasiun depan kampus Fukui, lega rasanya walaupun penat sekali. Anyway, It was really nice last trip.

maruoka-jo-masa-fuyu.jpg

Gambar yang ini diambil dari sini, penampakan Maruoka Jo saat musim dingin. Tampak kokoh dengan anggunnya. *hueeh bahasamu, Nak* :mrgreen:

– Beberapa gambar berasal dari sini dan koleksi pribadi.   

-Thank you for Nailya, Natalie and Alyssa. You all served me alot. 🙂

 


Read Full Post »

Ini masalah keimanan. Ini masalah keyakinan. Begitu katanya. Eh, terus? Berkurangkah keimanan kita pada Tuhan yang kita imani saat kita menghargai makluk ciptaan Tuhan yang berbeda keyakinan dengan kita? Berkurangkah ketaatan kita pada Tuhan-yang perintah-Nya kita lakukan dan kita aware pada larangan-Nya-  saat kita berusaha menghormati saudara kita yang tidak `senama` dengan kita? Berkurangkah? Atau hilangkah sama sekali?

Kalau iya, betapa mengulah-nya tuhan seperti itu. Jika dengan berbuat baik pada sesama manusia, dan kebetulan isi bumi ini tidak hanya satu penganut keyakinan, lalu tuhan marah dan mengutuk-ngutuk umat tersebut lalu memberi azab yang maha pedih, Betapa mengerikannya tuhan yang ingin disembah dengan mematikan semua saraf kemanusiaan kita.  Lalu nama tuhan pun digunakan untuk memurkai manusia yang berbeda. Nama tuhan pun dilabel pada tiap usaha `mendekatkan` manusia pada `jalan tuhan mereka`. Nama tuhan mereka pakai dimanapun untuk kepentingan-kepentingan yang entah apalah itu namanya. Lucu. Eh, sedih sih sebenarnya. 😦

Entah kenapa sejak dulu saya tidak pernah merasa bahwa Tuhan akan cemburu dan marah-marah kalau saya baik pada teman yang juga punya tuhan yang lain. Entah kenapa saya tidak pernah merasa bahwa Tuhan akan mengutuk saya jika saya menghormati mereka selayaknya saya menghormati orang lain juga. Entah kenapa saya tidak pernah merasa bahwa Tuhan saya sakit hati dan menganggap saya menduakan-Nya jika saya menghargai teman saya yang beribadah menurut kepercayaannya. Saya tidak pernah merasa Tuhan itu mengulah-ngulah seperti itu. Tuhan saya disembah dan dianggap tinggi oleh hamba-Nya tanpa perlu menjadi tinggi dengan jalan merendahkan tuhan dan keyakinan yang dianut orang lain. Tuhan saya pasti tidak seperti itu. Saya ingin percaya dengan `laku` seperti ini saja. ( Orang akan percaya pada apa yang ingin dipercayainya  :mrgreen: )

Memprihatinkan kehidupan umat beragama yang seperti ini. Warnanya beragam tapi saling meracuni warna. Mengapa tidak biarkan saja warna warni itu seperti itu. Bukankah tidak ada paksaan dalam memilih `warna` ?

*Hooii, itu toleransi namanya!! Itu pelajaran PPKN waktu Sekolah Dasar, Nak!!*

Lha? Iya, semua dengan lancar menuliskan dan menguraikan jawaban atau menjawab diskusi dengan jawaban-jawaban cerdas tentang toleransi umat beragama, tenggang rasa antar pemeluk keyakinan, semua tahu teori-teori itu. Tapi kalau sudah ke kehidupan nyata, teori itu tertolak. masih ada saja yang sentimen (bahkan tidak sadar bahwa dia sedang sentimen, sebegitunya…) jika sudah berbeda keyakinan. Yang satu merasa keyakinannya terancam jika berbuat baik pada pemeluk agama yang lain. Aneh. Aneh. masa iya tuhan sengaja menciptakan keanekaragaman seperti itu dengan satu tujuan akhir, ada kaum yang harus dilenyapkan dan hanya satu yang kaum dengan keyakinan terpilih yang berhak `hidup` di bumi. Begitu? saya tidak hendak percaya ending dunia seperti itu yang dimaui Tuhan. Terserah jika ada yang berkeyakinan bahwa orang-orang yang berbeda adalah musuh, patut dimusuhi sekalipun mereka berbuat baik pada kita.  Silahkan saja. Tidak ada yang memaksa.

Kadang terpikir pula, tidak bisakah dipakai  kebenaran relatif? Meyakini dan mengimani Tuhan yang kita sembah namun menghargai pula keyakinan umat lain, secara teori dan secara praktek. Tak bisa kah? Kalau anda yang tak bisa lalu anda dengan sesuka hati mengatakan, `Itu yang dikehendaki-Nya…`, mungkin anda perlu cari alasan yang sedikit lebih cerdas-lah. Jangan bawa-bawa tuhan begitu. Bilang saja anda yang belum bisa lebih baik dalam hal saling menghargai perbedaan. Sebut saja dengan langsung dan jelas,  Jangan pakai lagi `memang seperti itu kehendak tuhan`. Ganti saja.  Jangan lagi suka  memperalat tuhan.  😎

Waktu hiatus kadang saya sempat baca-baca juga dan benar sekali, ini fenomena klasik yang terus menerus terjadi. Ramai yang sudah menuliskan hal ini. Sora bahkan nulis puisi, euy. Makanya kalau pun saya menulis tulisan ini, tak lebih dari sekedar mengeluarkan sumbatan pikiran saja.  :mrgreen:

Btw bagi yang sedang ber-Ramadhan, apakabar puasanya? Udah ada yang bolong? (dilempar para blogonita[1]). Atau blogonito[2] jangan-jangan juga ada yang punya uzur[3]?  :mrgreen:

Anyway, Happy Ramadhan buat yang tengah menjalankan. 🙂

ket :
[1] Istilah paling ngasal sejagat, buat para blogger cewek.  😛
[2] Istilah yang sama parahnya, kali ini tentu buat yang cowok.  😆
[3] keadaan yang tidak memungkinkan seseorang berpuasa dengan beberapa sebab dan alasan tertentu.

Ps :

I`m coming into blogosphere again. Akhirnya… \^o^/

Alhamdulillah, *tepuk-tepuk lengan baju, copot label `hiatus`*

:mrgreen:

 

Read Full Post »