Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2007

Rainen no Yume

Wew, lama offline dari blog ini dikarenakan kesibukan menjelang lebaran Idul Adha lalu yang saya habiskan bersama keluarga di rumah dan ternyata ada beberapa hal lain yang berturut-turut terjadi, hingga dua even penting, Hari Raya Idul Adha bagi umat Muslim dan Hari Raya Natal bagi umat Kristiani terlewat dari postingan blog saya ini. Karenanya walau sudah terlambat, saya tetap ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H dan juga Selamat Natal buat mereka yang merayakan. 🙂

Dan begitu datang kembali disini, tahu-tahu ada yang memberikan tugas! Mas Lucky yang menjadi tersangka utama ini memberikan PR buat saya, menuliskan 8 resolusi di tahun depan. Ini tidak adil sebenarnya mengingat resolusi beliau sendiri hanya dikerjakan setengahnya saja. Well, mungkin sebutan beliau untuk dirinya sendiri itu ada benarnya juga : laki-laki yang tidak punya keinginan. 😆

Hmm, jadi…

*Rainen no yume? (Mimpi tahun depan?). Walah, mau mimpi apa ya untuk tahun depan nanti? 🙄 *

Kalau diingat-ingat lagi, ini memang untuk pertama kalinya saya dikerjai di-tag untuk menuliskan resolusi tahun baru di blog sini. Biasanya saya melakukannya hanya di catatan pribadi saja. Kadang list-nya banyak kadang sedikit. Kadang mengenaskan kadang menyenangkan, dalam hal keterkaitannya dengan kondisi di tahun sebelumnya. Ataupun juga, terkadang target-target itu sungguh menjadi motivasi yang menimbulkan perasaan ‘aneh’ jika mereka merupakan hal-hal yang lumayan besar dan tidak pernah dicoba sebelumnya. :mrgreen:

Yah, jadi untuk tahun 2008 ini saya harus mengerjakan pe-er yang serupa dengan pe-er cK, Fajar, Desti, dan teman-teman lain yang mungkin sudah lebih dulu menyelesaikannya. Setelah dipikir-pikir, resolusi saya (halaah, gayanya) di 2008 itu, mungkin hal-hal berikut ini :

1. Wisuda S1 disini secepatnya

2. Melanjutkan sekolah

3. Membenahi dan melakukan inventaris pada buku-buku bacaan

4. Ingin belajar fotografi dengan lebih fokus

5. Menabung dengan serius :mrgreen:

6. Mengurangi minum kopi mengingat kondisi kesehatan sekarang yang patut diperhitungkan. (Hanya mengurangi, bukan menghilangkan. 😛 )

7. Menjaga kekonsistenan hati. (Mmhuahaha)

8. Mesti ada satu lagi ya? Apa ya? Hmm, kopdar, mungkin? 🙂

Jadi begitulah daftar harapan saya nanti. Entahlah, apa semua itu dapat dilakukan oleh dua tangan saya ini (bleh! bahasamu, Nak!). Sejujurnya tentu saja saya berkeinginan kuat, saat mengevaluasi daftar itu di akhir tahun nanti, saya tidak merasa sebagai orang yang tidak memenuhi janji pada dirinya sendiri. Yah, semoga saja. Dan semoga juga target sukses dan target gagal di tahun lalu jadi pelajaran berharga untuk lebih ‘profesional’ dan berpengalaman dalam menjalani hidup di tahun 2008. 🙂

Dan akhirnya, tahun pun berganti lagi. *rasanya cepat banget* 😐

Maka buat semua…

HAPPY NEW YEAR 2008

AKEMASHITE OMEDETO GOZAIMASU

Semoga segala kebaikan dan kesuksesan di tahun lalu tetap bertahan dan target baru di 2008 dapat tercapai.

Buat teman-teman para blogger, menyenangkan sekali bisa mengenal kalian semua di tahun lalu, mudah-mudahan di tahun depan pun tetap seperti itu. Thank you so much for being good friends. 😀

Ps :

Sebenarnya masih ingin nge-tag teman-teman yang lain yang belum menuliskan resolusi mereka di blognya, tapi khawatirnya mereka sibuk dan jadinya malah merepotkan, jadi ya, diselesaikan saja ‘lemparan PR’ ini disini. :mrgreen:

Read Full Post »

Postingan Patah Hati

Pas dilihat lagi, ternyata tiga postingan terbaru  disini termasuk postingan ‘patah hati’ ya? 🙄

Oh, wait. Ini bukan kondisi patah hati dengan makna seperti yang sering digunakan itu kok. Beneran. Dua kata itu cuma menggambarkan keadaan hati yang tidak menyenangkan, entah itu berupa kekecewaan, sedih, tidak nyaman dan perasaan setipe lainnya.

Awalnya, yang menggunakan istilah ini adalah tante saya, isteri dari sepupu ayah yang rumahnya berdekatan dengan rumah kami. Beliau itu suka menyebut ‘patah hati’ untuk menggambarkan kondisi saat anaknya yang masih balita menangis karena mainannya jatuh, kehausan, merajuk, dan yang lainnya, yang jelas kondisi gak bahagia. :mrgreen:

Lalu penggunaanya meluas saat saya pernah kepergok lagi sedih oleh beliau. Hihihi. Itu terjadi  beberapa tahun lalu. Akhirnya istilah itu pun jadi populer dan saya sendiri jadi sering menggunakannya. Keren juga rasanya bilang ‘patah hati’ saat ingin mengatakan seorang anak kecil yang menangis karena mainannya direbut oleh adiknya, atau teman yang sedih karena nilai kuis atau midterm-nya jelek. Ah iya, tentu saja istilah ini masih cocok dan sangat bisa jika digunakan saat orang memang patah hati beneran. Kan kondisinya itu sama, dirundung kesedihan. :mrgreen:

Yah, oleh karena itulah, tiga entry terakhir kemarin memang pantas disebut entry patah hati juga. Patah hati versi saya, tentunya.  😛

*kurang kerjaan banget nulis ginian, tapi yah, biarkan sajalah*  😛

 Ps:

Mudah-mudahan gak ada yang salah paham ya gara-gara judul postingannya kayak begitu.  :mrgreen:

Read Full Post »

Loyalitas

Agak aneh juga ketika menyadari bahwa sekarang ini ada dalam stage seperti ini. Kecewa…? Entahlah. Tapi terpikir lagi, bahwa bukankah sejak awal pun saya bergabung dalam komunitas itu memang karena nilai-nilai yang saya akui baik dan saya merasakannya bahkan saat saya masih berdiri di luar sana, lalu saya membuktikannya sendiri. Ya, karena nilai-nilai itu yang kemudian pun saya pegang dan membuat saya nyaman hingga sekarang. Bukan karena orang seorang, atau materi atau entah apa yang lainnya.  

Maka, saat kemudian bermunculan banyak  hal yang tidak memuaskan, orang-orang yang mulai tidak konsisten, atau ada yang malah menyelewengkan nilai-nilai itu sedemikian rupa, saya tidak (atau belum) menjadikannya sebagai alasan untuk pergi. Toh saya datang bukan karena mereka. Dan itu pilihan saya secara sadar.  

Maka (lagi), jika harus ada kecewa itu, dan ternyata tidak sekecil yang saya bayangkan, mungkin itu juga tidak lepas dari kesalahan saya pribadi, (ini salah satu penyakit saya) saya terlalu berekspektasi tinggi pada mereka. Karenanya, supaya berimbang harusnya saya juga siap untuk kecewa. Kemudian,  saat memang nyata kecewa, kekecewaan itu bukan lantas menjadi excuse untuk memutuskan diri.  Walau kita bisa mandiri dan independen, pada hakikatnya, kita tidak pernah bisa benar-benar sendiri. Kita tahu itu. Karena terkadang kita perlu diingatkan agar konsisten, dan untuk hal itu, tentu saja tidak selalunya kita bisa mengandalkan diri sendiri. Mungkin itu juga alasan tambahan mengapa saya tidak beranjak. Hingga kemudian, saya menemukan satu-satunya kenyamanan, membuat saya tenang,   karena pada akhirnya saya sadar, pada satu titik akhir nanti, sejak dari dulu pun hingga sekarang ini, segala sesuatu memang hanya akan tinggal antara saya dan Allah saja. Tidak lebih, tidak kurang.  

Terpikir juga, mungkin saya perlu untuk mendiskusikan hal ini secara konkrit dan jelas. Karena di satu sisi kita bisa mengatakan sebodo amat dengan persangkaan orang lain, namun di sisi lain, disalahpahami bukanlah kondisi yang menyenangkan, dan membiarkannya sama saja seperti menanam bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu, yang korbannya bisa saja tak hanya kita seorang, bisa lebih dari itu.

Maka, (lagi-lagi) jika ada yang bertanya, “dengan keadaan yang tidak memuaskan seperti sekarang, kenapa tidak pergi saja?”, mudah-mudahan mereka bisa (paling tidak) untuk mencoba memahami sesuatu sekalipun sesuatu itu mungkin tidak (atau belum) bisa mereka terima.

Maybe there’s always a reason to stay… itu ada benarnya juga.Yah, maybe. 🙂    

 

Read Full Post »