Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

Run Away

Run away?

Hei. Janji itu harusnya ditepati kan? Errr, iya sih, tapi kalau tidak bisa diupayakan lagi, hendaknya ada pemakluman kan? Heee? Tidak bisa begitu. Yang namanya sudah pernah berjanji, harusnya satu-satunya jawaban baik adalah pemenuhan janji itu sendiri. Kalau sudah selain itu, atas alasan apapun, itu artinya orang yang tidak menepati janji kan? Akui saja lah.

Sebentar. Sebentar. Begini. Tidak adakah pengecualian? Misalnya saja, untuk janji pada diri sendiri seperti ini. Berjanji untuk melakukan sesuatu yang berat lalu kondisi di kemudian hari ternyata berbalik total. Ya, itu sesuatu yang berat. Lalu, agar terasa mudah dan seperti azam[1] kuat untuk bisa melakukannya, dibentuklah sedemikian rupa keinginan dan harapan itu, supaya beban moral dan beban perasaannya terasa kokoh untuk menyelesaikan tantangannya. Memang sempat terlintas sih, jangan-jangan bakal gagal, tapi demi sebuah janji penting, itu harus tetap dilakukan dan harus sukses. Hmm, ok. Terus?

Sayangnya ada yang terlewatkan, tak ada batas waktu yang ditetapkan untuk pemenuhan janjinya. Ck! Itu dia salahnya. Itu dia! Jika tak ada batas waktu, kemudian mengatakan bahwa sudah gagal memenuhinya, itu lebih tidak sportif kan? Itu berarti kewajiban untuk menunaikannya tidak berbatas. Masih bisa diupayakan. Masih harus dicoba untuk ditunaikan. Sampai kapanpun. Baru dianggap selesai saat janji itu tertunaikan. Jika belum sukses, ia akan mengikuti kemanapun, sampai kapanpun. Terutang. Hingga mati. Hush! Jangan menakut-nakuti begitu.

Salah sendiri. Huh! Kenapa suka cari penyakit sih? Kenapa perkara penting seperti ini dibuat main-main? Sembarangan! Siapa yang mau main-main? Karena ini masalah serius lah makanya diperlakukan seperti itu. Siapa sangka di tengah jalan jadi hancur begini? Ternyata itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan. 

Eh, sebentar, tahu dari mana, kemampuan melakukannya sudah di batas optimal? Pakai parameter apa? Standar mana? Ada-ada saja. Hmm, parameter? Standar? Kuberi tahu ya, secara logika aja, coba lihat : perencanaan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan kondisi ‘lapangan’ yang berubah di luar dugaan sebelumnya. Lihat, semua jadi berantakan. Bagaimana mungkin bisa?

Ya ampun. Kenapa cepat menyerah sih? Itu yang namanya sudah batas optimal yang bisa diusahakan? Dasar mental rapuh! Kenapa tidak naikkan sedikit sih itu harapanmu? Mana jurus hebat ekspektasi tinggi ala mu itu? Mana? Harusnya untuk masalah internal begini, kamu memaksimalkan potensimu satu itu. Bukan mundur dan lari begini. Astaga. Aku lari ? Terus, apalagi namanya kalau bukan lari? Aku coba realistis kok. Bagiku, aku sudah mengupayakan di ambang batas, dan ternyata aku gagal, jadi aku ingin menyelesaikannya di sini. Kalau menurutmu itu namanya `lari`, yah, aku lari kalau begitu. Aku cuma tak mau terbeban, apalagi sampai mati, seperti katamu tadi. Kalau gara-gara ini aku dicap mengingkari janji, itu konsekuensi yang cukup adil lah. Biar saja. Aku memang tidak bisa menang, tapi aku sudah berusaha semampuku, setidaknya aku tidak jadi pecundang kan?

… Kamu ini. Berhentilah berbuat hal-hal konyol seperti ini. Hei, kok konyol sih? Biasa saja. Kadang kita harus terima kegagalan dengan kepala tegak. Karena tidak semua kesalahan bersumber dari kita. … Sini! Kamu sering berlebihan, terkadang. Kamu harus ubah itu. Atau, paling tidak, untuk sekarang, akuilah itu. Ah, masa separah itu sih? Biasa saja.

Kamu kadang tidak jujur. Hmm, menurutmu begitu ya? Menurutku bukan, bicara seperti ini padamu, karena aku cuma ingin membantumu untuk paham sesuatu yang sulit aku jelaskan. Kamu bikin rumit masalah, itu yang aku tahu. Maafkan aku. Huff, Kadang aku tidak bisa memahamimu. Bukan salahmu kok. Jangan terlalu dipikirkan. ^^

Terkadang memang ada hal-hal yang harus kita coba terima sekalipun kita belum paham. Pahamnya datang belakangan. Bisa jadi kan? :D. Huh, kamu masih bisa pasang ekspresi begitu? Ahahaha. Kamu itu kadang khawatirnya berlebihan, lho. Aku jujur kok dengan ekspresi itu, kamu yang harusnya belajar menganalisa ekspresi lebih tajam, jadi komentarmu akan senada dengan keadaanku yang sebenarnya. 😛

Ya ampun, Kamu ini… !! 👿 Ahahaha. Oke, oke, aku gak akan ngomong lagi deh. ^^

Hm, jadi bagaimana? Apanya? Janji itu tadi? Iya. Ya, begitu itu. Hari ini, aku sudah akui aku gagal menepatinya. Walaupun menyedihkan tapi aku sadar aku harus jujur pada diri sendiri, aku tidak bisa melakukan hal itu. Terlalu berat. Atau… jangan-jangan memang seperti itu takdirnya ya? Harusnya aku senang ya? Bisanya menyalahkan takdir. Jelek benar. 😛

Terserahmu saja. Ah iya, boleh aku bilang sesuatu? Apa? Kadang kamu terlalu keras pada diri sendiri. Kenapa sih sulit sekali memaafkan diri sendiri? Ah, kenapa aku gak merasa kayak begitu ya? Itulah kamu. Apa-apa semua diukur ke diri. Lho? Ya iya dong? Masa ngukurnya ke orang lain? Gak lucu. :P. Kamu tetap keras kepala ya? Hmm, entahlah. Yang penting aku tidak terhutang janji lagi yang aku sendiri tidak akan bisa lagi melakukannya.

Yah, kita lihat saja bagaimana nanti. Begitu kan? Bagaimanapun kita berekspektasi, benar tidaknya pilihan kita bisa diverifikasi pada kenyataan nanti kan? Oke, oke. terus, kalau tidak ada apapun yang terjadi, bagaimana? Errr, bagaimana ya? Yah, biar begitu saja, mau bagaimana lagi. 😛

Terima kasih ya. Bleh, untuk banyak hal, aku yang harusnya mengucapkan terima kasih. Yeee, ngasal. Bener! Gak lah! Serius? Serius! Oh! If so, No thanks needed then. Wah, gak baik juga kalau begitu. Heee? Iya, itu artinya kita kehilangan satu cara menghargai kebaikan orang lain walaupun kadang orang itu tidak berniat begitu. Dia niat atau tidak, kita menghargai yang dia lakukan. Sederhana saja sebenarnya kan? Lah, jadi panjang gitu. Biarin! 😛

Thanks anyway. You`re welcome. ^^

Read Full Post »

Malu Hati…

If I were given the opportunity to present a gift to the next generation, it would be the ability to laugh at yourself. (Charles Shultz -1922 – 2000) “

Yah, mari kita tertawakan bersama. Walaupun sebenarnya, kalau diingat lagi, menyebalkan. Hufff!! Ya ampun. Memalukan! 😥

 Thanks for the gift, Shultz! 😐

 

Read Full Post »

Kepuraan itu perlu?

Kepuraan itu (mungkin) perlu…?

 

Jangan-jangan sesekali kepuraan itu perlu. Menyepuh benteng ini dengan besi dan baja mengkilap. Hingga bangunan kayu yang hampir roboh lapuk pun tersembunyi di sebalik itu.

 

 

Kupikir mungkin sesekali kepuraan itu perlu juga. Agar selesai tanya tanpa ujung itu. Hingga waktu sisanya segera terpakai untuk merenung. Atau… untuk berkabung?

 

 

(Kepuraan itu munafik, katamu. Terserahmu saja jika memang ingin menyebutnya begitu. (pesanku, coba juga lihat dari sisi lain, jangan-jangan sudut pandangmu terlalu `kanan` untuk membela diri?). Huff, tapi harusnya kau paham kenapa aku pilih ini. (heh? Aku pun tampak seperti menyelamatkan diri ya?). Saat tak cukup terima dengan komitmenku harusnya kau beranjak saja dari persimpangan ini. Pergilah. Jangan lagi ada vonis-vonis itu. Biarkan lagi aku belajar menata tapak di jalan agar-agar. Agar aku cukup kuat untuk terus mengayun langkah. Aku pasti bisa. Yakin saja.)

 

 

Yah, aku akan baik-baik saja, kataku. Kau tahu kan, aku hanya pura-pura. Maafkan ya. Tapi biarkanlah begini. Sekali ini saja.

 

Read Full Post »

Kepercayaan itu Mahal…

 “I hear no one, I trust no one”. Itu status YM salah seorang teman saya belum lama ini. Kemarin setelah menemuinya di kantornya, kami memutuskan makan siang bareng setelah sekian lama tidak melakukannya karena kini masing-masing punya kesibukan yang berbeda. Setelah makan siang, sharing banyak hal, hingga sampai juga ke bahasan tentang status YM-nya itu. Hihihi. Dan terungkap, ternyata itu ungkapan kekesalannya pada seseorang atas kekecewaan yang bertumpuk. Mungkin agak berlebihan kesannya karena sebabnya memang cuma gara-gara satu orang itu tapi pernyataannya itu `kena` ke semua orang. “Gak separah itu kok, cuma karena lagi kesal aja, dan cuma sama satu orang itu aja sebenarnya…” dia meluruskan hal itu kemudian. Saya cuma bisa senyum-senyum. Kalau sudah masalah perasaan, memang agak payah sih. `Kan?  :mrgreen:  

Pada kesempatan yang lain sebelumnya dan sudah agak lama juga, waktu itu saya masih di Fukui dan chatting lewat YM dengan salah seorang teman saya. Sehabis cerita-cerita, dia sempat menanyakan pendapat saya, “kira-kira sampai berapa kali kita bisa percaya pada orang lain, jika sebelumnya kepercayaan yang kita berikan pernah disalahgunakan”. Waktu itu saya menjawabnya setengah serius, “tergantung kitanya ingin percaya seberapa banyak lagi…”. Teman saya itu malah tertawa. Dari reaksinya yang seperti itu, saya sempat berpikir mungkin jawaban saya itu di luar ekspektasi dia. Bisa jadi dia membayangkan (bisa jadi juga tidak) jawaban akan berupa : cukup sekali itu, atau boleh diberikan satu atau dua kali lagi, jika masih dikhianati juga lebih baik dicukupkan. 

Sebenarnya saya tidak sesetengah serius itu juga sih, karena bagi saya memang seperti itu yang akan saya lakukan. Menyerahkan keputusan untuk akan percaya atau tidak lagi pada diri kita sendiri, bukan pada patokan jumlah bilangan tertentu. :mrgreen:  

Maka bisa saja setelah ada sekali atau dua kali kepercayaan itu disalahgunakan, saya masih bisa memutuskan untuk mempercayai lagi dengan pertimbangan tertentu, dan bisa jadi pula memutuskan untuk menyelesaikan memberikan amanah apapun walaupun pengkhianatan itu baru terjadi sekali dengan lagi-lagi mempertimbangkan banyak hal. Kenapa? Ya, benar. Tentu saja karena kepercayaan itu bukan perkara main-main.  

Tiap kita tentunya merupakan orang dengan tipe yang berbeda satu sama lain. Ada yang bisa dengan mudah memutuskan untuk percaya dan memberikan kepercayaan pada orang lain, ada pula yang butuh waktu yang lama, mulai dari proses pemikiran yang panjang, analisa yang mendalam, pertimbangan dari banyak sisi, penilaian track-record segala macam, hingga akhirnya memutuskan untuk mengamanahkan  atau tidak mengamanahkan sesuatu pada orang lain. Ini berlaku pada semua hal dan aspek kehidupan, termasuk wilayah sensitif itu, perasaan. 😛 

Maka sama juga, saat ada kejadian tidak diinginkan, pengkhianatan atas kepercayaan yang telah diberikan itu, mungkin ada yang langsung memutuskan untuk tidak akan pernah percaya lagi, ada juga yang berani mengambil resiko untuk memberikan kepercayaan itu untuk kali selanjutnya. Tidak ada yang salah dengan hal ini, menurut saya, karena yang paling mengerti bagaimana kepercayaan semahal itu bisa dikhianati dan bagaimana memilih orang yang tepat untuk diberikan kepercayaan itu kembali adalah kita sendiri. Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah saat kita terburu-buru dan memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang dan tanpa pikir panjang atas apapun keputusan yang kita ambil, baik itu memutuskan untuk percaya lagi setelah ada lebih dari satu kali penyalahgunaan kepercayaan itu, ataupun keputusan berat untuk tidak memberikan kesempatan selanjutnya setelah kepercayaan pertama tidak dikelola dengan sungguh-sungguh. Jadinya bukan masalah jumlah bilangan yang kemudian menjadi dasar untuk memutuskan, tapi pertimbangan dari sosok orang itu sendiri, apa yang telah terjadi, dan apa yang mungkin akan terjadi. Seyogianya kembali lagi seperti di atas tadi, ada banyak hal yang patut kita perhitungkan saat memutuskan untuk memberikan kepercayaan atau tidak memberikannya. Dan buat saya misalnya, jadinya bisa saja saya memilih untuk percaya lagi dengan catatan tertentu dan bisa jadi pula menyelesaikannya disitu saja,  menjadikan kepercayaan itu kesempatan yang pertama sekaligus yang terakhir untuk orang tersebut. 

Anyhow, mengelola kepercayaan sampai kapanpun tentu akan tetap menjadi hal yang berat. Saking beratnya akan menyakitkan saat mendapati diri kita tidak dipercayai lagi hanya karena sedikit kesalahan yang kita lakukan namun dampaknya yang sangat fatal bagi orang yang mempercayakan kepercayaannya pada kita.  Mengenai orang-orang yang mau bertahan dan berharap begitu besar untuk memperoleh kembali kepercayaan setelah beberapa kali mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan buat mereka, saya sempat tersentak sendiri saat mengikuti salah satu acara televisi, Andy`s Diary beberapa waktu lalu. Jadi saat itu ditampilkan beberapa cuplikan edisi K!ck Andy yang dianggap mempunyai nilai khusus di kalangan pemirsa di antara edisi lainnya. Iya, itu program televisi yang pembawa acaranya sendiri mengatakan bahwa ia ingin orang menonton tayangan programnya tidak dengan akal saja, tapi dengan hati juga.  

Nah, salah satu edisi yang diangkat disana di antara edisi-edisi yang lain adalah  kisah tentang seorang bapak yang dua anak laki-lakinya terjerumus Narkoba berkali-kali, hingga akhirnya mereka berhasil sembuh dan kedua anak laki-lakinya saat itu juga hadir bersama ayah mereka. Saya ingat kata-kata bapak tersebut saat itu kurang lebih seperti ini,” Saya rela kehilangan apa saja harta saya asalkan anak-anak saya bisa keluar dari pengaruh Narkoba”.

Pada kesempatan yang sama,  salah seorang anaknya menyampaikan sesuatu mewakili dirinya dan saudaranya pada ayah mereka. Ada bagian yang begitu saya catat di kepala. Bagian yang saya sebut sempat bikin saya tersentak. Kata mereka, “ … terima kasih yang begitu besar buat papa atas harapan yang tak pernah hilang…”  

Heh, benar-benar laki-laki yang hebat kan? Dia tidak berhenti percaya dan menaruh harapan agar anaknya sembuh padahal sempat berkali-kali kepercayaannya `dikhianati`. Hingga akhirnya ketegaran menunggu itu berbuah hasil, kedua anaknya berhasil keluar dari ketergantungan pada obat-obat terlarang itu.  

Memang sulit sekali mengharapkan bisa dipercaya untuk kali selanjutnya setelah kepercayaan yang pernah diberikan pada kita, rusak. Tapi memutuskan tidak percaya lagi saat ada kesungguhan dari mereka untuk menebusnya, sama sulitnya. Kalau sudah seperti ini, semua kembali pada diri kita, kita hanya perlu melakukan hal yang tepat dengan pertimbangan yang matang bukan menyandarkannya pada jumlah bilangan kesempatan yang mungkin kita berikan semata. 

Dan di satu sisi yang lain, rasanya cukup adil juga menghukum mereka yang pernah mengkhianati kepercayaan yang pernah diberikan dengan tidak lagi memberikan amanah apapun (setelah melalui pertimbangan tertentu, tentunya) pada mereka. Agar mereka juga belajar arti penting mengemban kepercayaan yang sudah diberikan. Karena Kepercayaan itu mahal, jenderal…!

Sayangnya, mungkin tidak semua orang sadar dan cukup bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan pada mereka. 🙄 

*soundtrack-nya cukup mendukung, Please Forgive Me-nya Bryan Adam*  😆

Read Full Post »