Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2008

Tulus Tidak Tulus

Sekali waktu beberapa hari lalu, entah bagaimana saya dan seorang teman yang sudah lama tidak terlibat perbincangan rada serius seperti itu bisa sampai ke bahasan tulus tidak tulus ini. Oh iya, tulus dan tidak tulusnya tidak secara umum, ini dalam konteks kecenderungan perasaan secara istimewa pada seseorang. Oke, lebih jelas lagi, saat menyukai orang lain. Kebetulan teman saya itu, lebih muda beberapa tahun dari saya dan ‘tema’ kedatangannya hari itu sedikit ada hubungannya dengan apdetan perasaannya pada seseorang, yang ia kagumi secara diam-diam tapi serius. Ugh.

Dan cerita hari itu pun mengalir cepat dalam waktu yang relatif singkat karena diburu senja. Akhirnya ngomong-ngomong ‘berbau’ curhat itu mengerucut pada definisi tulus tidak tulus yang benar-benar subjektif, tentu saja.

Jadi, teman saya itu mendapat tuduhan ‘tidak tulus’ dari temannya -yang juga tahu dan turut diceritakan ‘permasalahannya itu’- setelah ia menceritakan bagaimana perasaaanya terakhir kali tentang orang yang disukainya dikaguminya itu. Setelah dia agak-agak tahu atau ‘merasa’ orang yang disukainya itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, dia merasa cukup ringan dan mudah untuk melupakan perasaannya itu. Karenanya temannya itu kesal dan jadilah vonis ‘tidak tulus’ itu mampir padanya.

Hmm, apa ya? Saya pribadi malah berpikir istilah itu kurang tepat untuk digunakan disana. Tapi saya ‘rada’ bisa paham kenapa rekan dari teman saya itu bisa mengatakan hal seperti itu. Boleh jadi dalam pandangannya, yang namanya tulus menyukai seseorang, (saya agak kurang enak untuk menyebut ‘mencintai’ disini 😛 .) berarti kita tetap bisa menjaga perasaan itu apapun realitanya, entah orang tersebut menyukai kita atau tidak. Bisa terus seperti itu dan hal itu punya nilai kebahagiaan tersendiri bagi kita yang menyukainya. Jadi mungkin seperti itu kalau menilik kondisi saat ia menggunakan kata yang bermakna sebaliknya tadi, ‘tidak tulus’.

Lucunya, saya sendiri tidak merasa seperti itu. Kadang kala saya berpikir, saat kita menyukai orang lain, harapan kita tentunya orang tersebut idealnya punya perasaan yang sama dan akhirnya bisa sama-sama. Jadi, saat memang keadaannya kemudian tidak seperti itu, -orang tersebut tidak menyukai kita misalnya- tentunya kita harus segera menyadari langkah terbaik buat kita dan buat orang tersebut : menyelesaikan perasaan itu sampai di disitu. Frankly, we should stop that feeling. Tidak tulus? Bagi saya itu ‘sedang’ tidak ada hubungannya kesana.

Mungkin saya akan memakai frase ‘tidak tulus’ itu untuk menggambarkan kondisi dimana misalnya kita memilih ‘jalan’ dengan seseorang karena berfikir dia bisa menguntungkan kita dalam hal dan waktu tertentu misalnya. Ada lho seorang teman yang tiba-tiba berpacaran saat melakukan suatu penelitian dan orang yang dipacarinya tersebut bisa mengoperasikan suatu software yang rumit -dan penggunaannya strategis sekali dalam penelitian itu- dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata. Setelah pulang dari penelitian kemudian mereka putus. Seandainya dalam hati yang perempuannya, suka dan putusnya itu ada hubungannya dengan keadaan strategis yang bermanfaat itu, menurut saya seperti itulah tidak tulus. Itu seandainya lho, seandainya. Putus atau tetap jalan itu urusan pribadi mereka tentu saja.

Back to topic, jadi jika kita menyukai seseorang dan kemudian mengetahui seseorang tersebut ternyata memilih orang lain atau ternyata tidak menyukai kita, saat kita memutuskan untuk ‘berhenti’ menyukainya, hal itu tidak tak tulus. Toh misalnya saja, jika membandel untuk tetap menyukainya sampai kapan pun dan terus bertahan dalam stage itu, tidak ada keuntungan dalam hal apapun. Berbesar hati saja dengan realita yang terjadi. Dan tulus tidak tulusnya perasaan kita tidak bisa digantungkan pada seberapa lama kita perlu bertahan dengan perasaan itu, walaupun tentu saja ada beberapa orang yang bersedia mempertahankan perasaan pada orang yang disukai sekalipun sudah tidak ada harapan apapun, dengan mengemukakan alasan bahwa perasaannya itu tulus. (Banyak tuh kayaknya di sinetron kita? Atau bisa jadi juga ada banyak di kehidupan nyata)

Kalau kemudian dikatakan bahwa menyelesaikan perasaan seperti itu tidak mudah dan merupakan pilihan yang berat, saya tidak akan menyangkal, itu ada benarnya. Tapi itu sudah bab lain lagi kan? Sudah keluar dari konteks tadi. Tetap tidak ada hubungannya antara ketulusan menyukai seseorang dengan kemampuan kita memulihkan keadaan. Itu lebih ke bagaimana kemampuan kita menyikapi realita yang terjadi. Kenyataannya orang tersebut tidak menyukai kita atau telah memilih orang lain misalnya, maka kalau mau bertahan terus seperti itu, kita akan seperti orang yang tidak mau menghadapi kenyataan. Toh, tidak akan ada kebaikannya selain mungkin kebahagiaan semu dalam diri kita? Selebihnya? Yah… anda mungkin paham maksud saya. ^^

Memilih bertahan untuk tetap menyukai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama mungkin mirip dengan bertahan untuk bermain petak umpet[1] dengan orang yang sudah pulang ke rumahnya. Bagaimana mungkin kita tetap akan menunggu dia mencari tempat kita sembunyi? Bukankah lebih baik kita juga berhenti bermain dan pulang saja? ^^

Ps :
[1] Permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak. Ada yang bersembunyi dan ada yang giliran jaga. Pernah main? :mrgreen:

Iklan

Read Full Post »