Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2008

Asal muasal turunnya entry ini sebenarnya memang setelah membaca postingan terbaru di blog Sora, Kesadaran yang datang belakangan. Ini di luar konteks pesan moralnya lho, tapi terkait dengan kejadian yang menginspirasinya itu. Awalnya saya senyum-senyum saja tapi akhirnya meledak juga jadi ketawa, teringat dengan kejadian mirip yang pernah terjadi dulu. Duluuu sekali.

Saat itu saya masih tahun pertama bangku kuliah, kira-kira semesteran dua dan bergabung dengan sebuah organisasi eksternal kampus. Saya ditunjuk sebagai staf redaksi mading. Berhubung kru mading sendiri tidak punya sekretariat khusus, maka tempat pengerjaan mading di tiap edisinya biasanya di kerjakan barengan di rumah saya. kebetulan anggota madingnya yang cuma beberapa orang adalah perempuan juga. Setelah terbit beberapa edisi, akhirnya di rubrik bebas yang memang di peruntukkan untuk memuat tulisan dari luar kru mading bisa eksis. Ada beberapa tulisan yang masuk dari orang yang berbeda hingga akhirnya ada satu orang yang rajin menyumbang tulisannya.

Biasanya jika ada sumbangan tulisan dari luar seperti itu, untuk sampai ke redaksi caranya mudah saja, tinggal dititipkan ke anggota redaksi seminggu sebelum deadline dan kemudian tulisan tersebut akan dinilai kelayakannya untuk kemudian dimuat. Biasanya tulisan dari luar itu hampir selalunya lelaki dan tulisannya bagus-bagus terutama yang satu orang misterius itu. Kenapa misterius? Karena beliau hanya menggunakan inisial nama (berbeda dengan penulis lainnya) dan hanya menuliskan alamat emailnya di akhir tulisannya. Selalu seperti itu.

Lalu apa pentingnya hal ini dibahas? Dimana nyambungnya dengan judulnya? Ahahaha. Bacalah sedikit lagi dulu.

Ternyata sejak awal membaca tulisan-tulisannya saya sudah suka dengan artikel-artikel tersebut. Bahasanya lugas dan runtut dan gaya penyampaiannya itu khas. Analitis, bernas dan mencerahkan. Hueeh, intinya, tulisannya bagus sekali. Di samping itu yang menarik adalah saat membaca artikel-artikelnya itu saya seperti bisa meng-asses bahwa terkadang kami punya pemikiran yang sama saat memandang hal-hal atau masalah tertentu yang dibahas olehnya. Kadang saat kru yang lain merasa tidak setuju atau salah paham dengan inti tulisannya saya mencoba menjelaskan bahwa yang ingin disampaikan oleh beliau itu tidaklah seperti itu, tapi menurut saya lebih ke seperti ini dan seperti ini dan saya setuju dengan apa yang disampaikannya. Kadang kru yang lain sempat bengong. :mrgreen:

Jadi apa? Hmm, jadi belum apa-apa, hanya dengan membaca tulisan-tulisan beliau saat itu saya sudah kagum dan simpati dan sedikit penasaran dengan orangnya. Dan saya sadar akan hal itu. ^^ . Kru mading yang lain juga sempat penasaran dengan sosok ini tapi akhirnya kita semua jadi terbiasa dengan kemisteriusan itu. Yang penting tulisannya ada, layak muat dan bagus. Semua di antara kami tidak ada yang melakukan investigasi (halaah) apapun.

Hingga suatu hari di rapat divisi saat dimana semua anggota divisi harus hadir dan saya tahu ada beberapa orang asing yang agaknya tidak pernah terlihat sebelum-sebelumnya. Oh ya, kadang ada anggota yang tidak saling kenal dikarenakan keterlibatannya yang kurang aktif, jadinya jika ada nama tapi bahkan orangnya tidak terlalu dikenal oleh anggota satunya, itu jadi hal yang cukup dimaklumi karena anggota organisasi ini yang semuanya mahasiswa itu bisa dibilang punya aktivitas dan kesibukan masing-masing juga.

Jadi setelah selesai rapat, ada yang hendak menyerahkan tulisannya. Katanya untuk rubrik bebas itu!! Gubrak. Begitu melihat nama email dan inisial di akhir tulisannya itu, weleeh, jadi ini dia orangnya. Ckckckc. Akhirnya ketemu juga tanpa disangka-sangka dan terencana. Hebat banget, analisa spontan! :mrgreen:

Sedikit basa-basi dan tentu saja akhirnya saya ketahui juga namanya. Yatta! Beberapa hari kemudian, saat antri di ATM depan kampus, ketemu lagi dan baru ketahuan ternyata kami satu kampus, angkatannya dua tingkat di atas saya walaupun beda fakultas. Saat itu jadinya ngobrol agak banyak, disinggungnya juga tentang kontribusinya di mading yang mungkin untuk beberapa waktu ke depan akan berkurang karena beliau akan segera menjalani koasistensi di sebuah rumah sakit. Dari cara berbicaranya saja sudah kelihatan bahwa beliau memang cerdas. Bicaranya juga tidak terlalu banyak, tidak juga terlalu sedikit, tidak semisterius caranya menyampaikan idenya lewat artikel itu, beliau ternyata cukup ramah tapi tidak berlebihan. Tapi memang tertangkap bahwa beliau orang yang serius dan suka berpikir. Pas. :mrgreen:

Begitulah ceritanya. Kesimpulannya? Iyalah, udah bisa ditangkap kan? Yah, walaupun agak beda sedikit sih. Tapi maksudnya itu nyambung kan ya? :mrgreen:
Di Savage Garden itu dikatakan tentang orang yang jatuh cinta bahkan sebelum bertemu, dalam hal ini, ini tentang kekaguman bahkan sebelum bertemu dengan orang tersebut. Dan bagusnya, setelah bertemu kekaguman itu tidak rusak. 😀

Eh, iya ya? Ternyata kesukaan atau juga kekaguman terhadap seseorang sebelum bertemu orangnya bisa terjadi bukan cuma lewat internet aja ya? Di dunia nyata juga bisa 🙄 *tersadar*

Read Full Post »