Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Around The World’ Category

Kebersamaan nge-blog bersama para blogonita dan blogonito sekalian, kali-kali aja ada salah komen, silap kata pas jawabin komen, atau yang lainnya, semua-semuanya, mohon dilapangkan maaf ya.  :mrgreen:

Huehehehe… langsung aja. Sebenarnya ingin mengucapkan :

  ~Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H~

Mohon Maaf Lahir dan Batin  🙂

Ps :

Buat yang mudik, semoga selamat di jalan dan dapat berlebaran bersama keluarga dan kerabat semuanya. 🙂

Iklan

Read Full Post »

The Fox New TV (US) asked him ; ” When you look into the mirror in the morning
what do you say to yourself ” 
He answered : I see the person in the mirror and tell him, “Remember, you are no more than a small servant, ahead of you today is the heavy responsibility, and that is to serve the Iranian nation”.  

And this was how the broadcaster introduced him.
Ahmedi Nijad, the Iranian President who astonished many when he first reached to the office of the Presidency by donating all the high valued Iranian carpets to one of the mosques in Tehran by replacing them with the low cost ordinary carpets.

 

He observed that there was a huge extravagant langue for receiving and welcoming the VIPs and he ordered it to be closed and asked the Protocol office to arrange for an ordinary room instead with the wooden chairs, though more impressive in fact…!
  
On many instances he joins the cleaning staff of the municipality for leaning the streets in the area where his home and the Presidency Office locates.
  
Under his authority whenever he appoints any minister to his post he gets a signed document from him with many points, particularly highlighting that he shall remain poor and that his personal and his relatives accounts will be watched and the day he leaves the ministry shall be with dignity, and therefore it is not lawful for him or his relatives to take any advantage of his office.
  
First of all he declared himself all the “Big” wealth and property he owned was a Peugeot 504 car, model 1977, an old small house inherited from his father forty years ago in one of the poorest zones in Tehran. His accounts with a zero balance and the only money comes in to his a/c was from. His salary from the university as a lecturer with an amount of US$ 250 only.
  
For your information the President still lives in that same house. This is all what he owns; the president of one of the world’s important countries; strategically,
economically, politically and with regard to its oil and defense.
  
He even doesn’t take his personal salary with the argument that all the wealth belongs to the nation and he is the safeguard over it.
  
One of the things that impressed the staff at the presidency is the bag the president brings with him every day, which contains his breakfast, some sandwiches or bread with olive oil and cheese prepared by his wife and eats and enjoys it with all happiness, While he stopped all the deliveries of the special food used to come for the president.
  
One of the other things he changed was his personal carrier “the presidents Aircraft” to a cargo aircraft in order to save the spending from the public treasuryand he ordered that he will be flying with the ordinary airline in the economic class.
  
He organizes meetings every now and then with all the ministers to know their activities and efficiency and he closed down the office of the manager of the president and any minister can enter to his office without any permission. He also stopped the welcome ceremonies like the red carpet, the photo session orany personal advertisement or respect of any kind while visiting any place in the country.
  
Whenever he has to stay in any of the hotels he asks them to make sure not to give him a room with any big bed because he doesn’t like to sleep on beds but rather likes to sleep on the ground on a simple mattress with a blanket.Does any of such manners and practices shows any disrespect for the high post of the president ?? And also during the prayer he is not sitting in the first row.

Hmm… Judul artikel di atas itu, `God loves those who are humble in their personal life` kutipan dari bagaimana reporter The Fox New mengangkat berita tentang sosok itu, yang saya temukan di Multiply teman. Sisi lain dari sosok presiden sebuah negara ( yang berani punya sikap menolak intervensi negara besar sekalipun). Yang paling mencuat kemarinnya adalah ketika pengembangan industri nuklir Iran yang diklaim oleh Amerika (berdasarkan laporan CIA) sebagai proyek senjata nuklir, padahal Iran sudah berulang kali menjelaskan bahwa proyek Nuklirnya bukan untuk senjata, dan bahkan begitu kooperatif saat pihak IAEA (The International Atomic Agency) melakukan verifikasi ke pusat pengembangan nuklir di negaranya ini. Haa…. jadi bahas hal ini. Baik, cukup segitu saja, karena kali ini hanya berbicara dalam lingkup kehidupan sosial pribadi presiden Iran-nya, bukan negaranya. :mrgreen:

Maka, ternyata saya masih bisa tercenung sesaat setelah membaca artikel itu. Juga saat membaca balasan emailnya buat menjawab surat-surat dari ibu-ibu Amerika yang khawatir akan keselamatan anaknya yang kebetulan sedang berada di Iran. Atau ucapan selamat Natal darinya di website pribadinya buat mereka yang merayakan. Atau saat melihat langsung di Zero News, program berita salah satu stasiun TV Jepang beberapa waktu lalu, saat ia mempersilahkan dengan ramah reporter berita TV Jepang yang menunggu waktu wawancara dengannya selepas shalat Jum`at.

Hee… masih banyak ternyata yang membuat saya berpikir berkali-kali tentang sosok itu, terlepas dari berbagai konflik politis yang melingkupi kehidupannya terkait dengan jabatannya sebagai kepala negara sebuah negeri seperti Iran. tidak bisa tidak, saya seperti merasakan nyaman (yang aneh?) saat mendengar namanya disebut. Ah, bukan, bukan, semoga ini bukan refleksi figuritas berlebihan. Laki-laki ini punya sikap. Itu kecam positif jiwa saya.  

Dan pertanyaan yang mendobrak sisi psikologis tak terduga (subjektif-red 😛 ) yang dilontarkan The Fox News itu rasanya cukup keren juga untuk bisa mengorek isi kepala dan paradigma berpikir sosok-sosok pemimpin kita, apa mungkin bisa kita terapkan ya? :mrgreen: Tanya saja mereka dengan tiba-tiba, “Apa yang anda katakan pada diri anda saat memandang cermin tiap paginya?”

Hohoho… Bagaimana hasilnya? Entahlah. *tidak punya prediksi  sama sekali* 🙄

Ahahahaha… ya, ya… saya ngaku deh, ngaku. Saya memang cukup angkat salut pada sosok Ahmadinejad itu. Sosok nyata negarawan yang tidak asal bicara saat bilang ingin jadi `pelayan rakyat`.

Kagum. Bagaimana? Cukup dengan jawaban itu? :mrgreen:

Karenanya jangan heran kalau saya tampak rada persuasif begini. Anda boleh tidak setuju kok, ini pandangan pribadi saja. 🙂

Read Full Post »

Tentunya momen ini diingat banyak orang. Terlebih lagi, setelah peristiwa ini terjadi, menjadi salah satu faktor Jepang melepaskan Indonesia sebagai daerah jajahannya.

Pelajaran sejarah pahit yang harus diterima Jepang sebagai salah satu konsekuensi peperangan. Putar jam waktu ke masa Agustus 1945 sebentar ya…Walaupun bukan sejarawan, (jauh banget dari sana), juga kalau ada yang salah-salah kesebut, koreksi aja… Ini juga cuma sedikit cerita, sisa jalan-jalan Maret kemarin ke Hiroshima,  di kompleks bekas pengeboman Nuklir 62 tahun yang lalu.

Bercerita dimulai…

Setelah dengan sukses Jepang memporakporandakan Pearl Harbour, bom pertama oleh negara lain dalam sejarah Amerika di tahun 1941, 4 tahun kemudian, US di bawah pimpinan presiden Harry S. Truman saat itu, melancarkan serangan bom balasan yang lebih telak. Ya, Bom Nuklir …

Ini memang pengeboman Nuklir pertama dalam sejarah manusia. Dan terencana dengan begitu matang. US mengurus izin untuk penggunaan senjata ini kemana-mana, hingga akhirnya keluar persetujuan. Meski fakta sejarah juga menyatakan bahwa hampir seluruh ilmuwan saat itu dan banyak pihak lain menentangnya.

Dan pada 6 Agustus 1945, pagi hari musim panas yang cerah, langit kota Hiroshima begitu bersih, tak ada awan. Pukul 8 lewat 15 menit, sebuah bom Nuklir (Uranium),  Little Boy, (namanya cute benar?) dijatuhkan di Hiroshima. Bukan di bagian pusat latihan militer Jepang di kota ini, tapi di tengah-tengah kota. Dalam radius 2 Km semua luluh lantak dan terbakar. Lebih dari 200.000, ada pula sumber yang menyebutkan estimasi 140.000 lebih. Dari museum yang kami kunjungi, disebutkan lebih dari 200.000 nyawa melayang dalam sekejap dan ribuan lainnya luka-luka dan penderitaan akibat radiasi bom atom itu menanti… Menyisakan penderitaan panjang dan kengerian di hari-hari selanjutnya…

gedung-yg-dibom-di-hiroshima.jpg

Kemudian disusul pula pada 9 Agustus, Nagasaki yang menjadi sasaran. Fat Man (Plutonium) dijatuhkan disana dimana sebelumnya beberapa kota yang lain seperti Kyoto, Yokohama dan Kokura sempat dimasukkan dalam list target.

Dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota di negeri Sakura ini, Jepang mengundurkan diri dari perang. Kekalahan telak yang harus terbayar mahal.

Fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa perang selalu membawa kerugian besar yang irreversibel bukan?

slm-dibom.jpg

Hhhh..cerita nonfiksi ini pun selesai…

Masih Maret kala itu, udara musim dingin tinggal sisa-sisa. Musim semi bersiap mengganti posisinya…tapi sempat tertangkap…Early sakura di Hiroshima…

early-sakura.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

:: Up date ::

Sedikit tambahan terkait dengan koment Mbak Rey tentang jugun ianfu.  Ini memang bisa disebut sebagai dosa kecil seperti yang disebut Mas ini. Jugun ianfu merupakan istilah untuk wanita yang dipaksa untuk menjadi “pemuas” bagi tentara Jepang yang ada di Indonesia dan beberapa negara jajahan Jepang lainnya, dalam kurun 1942 – 1945.

Di Indonesia, sebagaimana yang dikatakan Sora, bahwa kononnya di Padang sempat terjadi perekrutan namun ditentang oleh Bung Hatta. Tentang perekrutan di Padang ini, saya belum dapat informasi, mungkin nanti akan saya tambahkan lagi begitu ada. Tapi yang jelas di Indonesia, para perempuan  biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan (diambil begitu saja di jalan atau bahkan di rumah mereka), diiming-imingi untuk sekolah ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara.

Sampai saat ini, para mantan jugun ianfu masih merasakan trauma psikologis dan gangguan fungsi fisik akibat pengalaman pahit yang pernah mereka alami. Belum lagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi dengan benar, justru menganggap mereka sebagai wanita penghibur (tanpa paksaan).

Jugun ianfu, salah satu kebijakan Militer Jepang

Penelitian sejarah ke dalam pemerintah Jepang mencatat beberapa alasan untuk pendirian rumah bordil militer. Pertama, penguasa Jepang mengharapkan dengan menyediakan akses mudah ke budak seks, moral dan keefektivan militer tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan mengadakan rumah bordil dan menaruh mereka di bawah pengawasan resmi, pemerintah berharap dapat mengatur penyebaran penyakit kelamin. Terakhir, pengadaan rumah bordil di garis depan menyingkirkan kebutuhan untuk memberikan ijin istirahat bagi tentara.

Menurut riset oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Eurasia, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari jugun ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.

Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.

Pada tahap awal perang, penguasa Jepang mengambil pelacur melalui cara konvensional. Iklan yang menawarkan pekerjaan sebagai pelacur muncul di koran-koran yang terbit di Jepang dan koloni Jepang di Korea, Manchukuo, dan daratan Tiongkok. Banyak yang menanggapi iklan ini dahulunya merupakan pelacur dan menawarkan jasa mereka sukarela. Yang lainnya dijual oleh keluarga mereka kepada militer karena kesulitan ekonomi.

Namun, sumber ini dengan cepat mengering, terutama dari Jepang. Menteri Urusan Luar Negeri menolak pengeluaran visa perjalanan bagi pelacur Jepang, karena merasa akan mencemari nama Kekaisaran Jepang. Militer kemudian mencari wanita penghibur di luar Jepang, terutama dari Korea dan Tiongkok. Banyak wanita dibohongi  untuk bergabung ke rumah bordil militer. Lainnya diculik. Pelacur Jepang yang tetap tinggal di rumah bordil militer sering menjadi karayukisan, atau manajer rumah bordil, menyisakan wanita penghibur non-Jepang menjadi korban pemerkosaan beruntun.( Source nya, kochira desu  🙂 )

Dan kekaisaran Jepang memang tidak pernah resmi mengakui atau melakukan permintaan maaf  kepada negara-negara bekas jajahannya itu. Tiap orang pasti punya analisa dan judgement sendiri-sendiri. Diakui sebagai Super Power di Asia memang tidak lantas serta merta menghilangkan imej negatif  negara ini di PD II dulu. Kalau  itu berpengaruh pada penilaian kita terhadap sosok Jepang, proporsional dan tetap objektif  agaknya lebih bijak kita lakukan.

Read Full Post »

Ehm…itu memang salah satu judul drama Jepang yang populer beberapa tahun lalu, mungkin sekitar 6 atau 7 tahun lalu…Sebentar, saya ingat-ingat dulu, waktu itu saya SLTP atau awal SMU mungkin? Ah, lebih kurang begitu, kalau tidak tepat, maaf ya, saya memang tidak berhasil me-recall ingatan saya…(Sorry…)

Drama itu mengisahkan tentang…ah, pasti hampir semua sudah nonton atau paling tidak tahu tentang drama ini. Haiyaa..kenapa pula membahas drama kisah cinta coba? Eh, tenang…tenang, lanjutkan membaca dulu…

Dalam banyak hal dan keadaan saya memang kurang terstruktur dengan baik (heee…?). Kali ini mungkin saat nge-blog. Agak lain juga sih ketika menuliskan judul postingan itu, sempat membayangkan, jangan-jangan ada yang merasa seperti gejala mual, pusing, eneg, atau langsung mau muntah darah (ah..ah..jangan ya…) pas melihatnya. Atau bisa juga yang seperti ini, penasaran, ingin tahu kisah cinta siapa yang dibicarakan, si blogger kah, atau seorang yang mengamanahkan kisah cintanya saat bertemu dengan si blogger di salah satu sudut Tokyo mungkin. Halaa…ga jelas. Sudahlah…identifikasi reaksi pembaca saat melihat judul kita cukupkan.

Gini, sebenarnya tidak ada siapapun yang tiba-tiba naksir dengan siapa yang lainnya atau juga jatuh cinta saat ke Tokyo beberapa waktu lalu. Tidak ada sama sekali. Percayalah. Emm..setidaknya begitulah yang saya tahu. he… he…

Kami pergi ke Tokyo bukan karena travelling menghabiskan masa Haru Yasumi (Libur Musim Semi). Ada seminar Nuklir dan kunjungan ke Nuclear Power Station-nya Jepang di Ibaraki dekat Tokyo. Hanya dua hari dan sensei berbaik hati memberikan keluangan waktu beberapa jam pada hari terakhir bagi yang mau jalan-jalan seputar Tokyo. Masing-masing pun berpencar dan wajib kumpul kembali di bandara pada waktu yang ditentukan.

Kami bertiga memutuskan untuk ke Tokto Tower, dan ternyata ada pula anak-anak yang satu lab dengan kami yang juga mau kesana secara mereka belum pernah pergi sebelumnya. They are Japanese all. Rupanya ada juga orang Jepang yang belum pernah kesana, awalnya begitu pikir saya, namun kemudian..ah itu kan sama sekali tidak aneh, sama seperti saya yang belum pernah ke Tugu Monas misalnya, dan mungkin juga banyak anak Indonesia lainnya…

Tokyo Tower…A really nice symbol of Japan. It is not only being popular just because of people says manytimes, but its interesting and wonderfull itself made it really has been like what people say. Ah, begitulah lebih kurang. Dunno how to figure it by my poor words… It seems like I have nothing more to say for …hiks…

p3020069.JPG

Its tall is 333 m, since its opening in 1958, this tower has been the world`s tallest self-supporting steel tower. Wahahaha… Keren. Lebih tinggi daripada menara Eiffel Paris yang tingginya 320 meter. Beratnya 4000 ton, dan menghabiskan 28.000 liter cat atau sama dengan 140 drum cat (gak tahu nih drum standar mana…). Catnya itu memang cuma warna orange dan putih mengikuti ketentuan Hukum Sipil Penerbangan (Civil aeronautic Law).

Dari Tokyo Tower, dengan ketinggian 250 meter di atas sana melihat pemandangan dari atas kota Tokyo menjadi keniscayaan. Bukan langsung dari 333 m, karena memang 250 meter itu batas ketinggian maksimal yang dibuka untuk umum, mereka menyebutnya Business hours, dan ada tingkatannya, yaitu Special Observatory (250 m) dan main Observatory (150 m). Kalau ada yang high-phobia (takut ketinggian) pasti tantangan besar pas di lantai satu tingkat di bawah Main Observatory. Di salah satu bagian lantai tersebut, lantainya diberi kaca, jadi tampaklah hingga ke bawah sana dengan jelas. Kami sempat shock semua kok awalnya, gak berani menjejakkan kaki ke kaca tersebut, memang gamang rasanya. Namun setelah dicoba-coba… wah…keren kali…Subhanallah, beneran keren. Pas lihat ke bawah… T_T (aslinya takut campur seram dan exciting meluap).

Hmm…jadi begitu saja kisahnya…Semuanya normal-normal saja. Yang membayangkan bakal mendapati Love Story gara-gara judul gak mutu itu, maaf ya…maaf deh..soalnya seperti yang saya katakan, seseorang itu terkadang kurang terstruktur dengan baik sewaktu-waktu. Dan waktu ini, sayalah orangnya…Really, occcasionally i am unpredictable one, even by myself…

Eh, bentar, siapa tahu mungkin sebenarnya memang ada kisah “seru” itu di sana…Who knows? Mmm..misalnya ada yang habis nikah trus kesana, ah…ngawur !!
🙂 

Read Full Post »

Saya coba bahas sedikit tentang Teknologi Nuklir Indonesia ah…Ini cuma analisa saya saja. Mencoba mengejawantah secara objektif tapi kalau nanti terasa begitu subjektif ya..maaf saja. Kan seseorang itu memang dipengaruhi oleh gaya berfikirnya sendiri…(hehe… alesann).

Heeh?!! Indonesia sudah mengembangkan Nuklir? Kerja sama bareng siapa? Udah berapa lama? Sejauh ini bagaimana perkembangannya? Adakah pihak-pihak yang tidak suka dan merasa “kecut” jika mengetahui Indonesia sudah mengembangkan Sistem Teknologi Nuklir ini?

Hmm..kurang tahu juga apa yang akan terjadi jika akhirnya Indonesia berhasil built-in Power Energy ini. Satu hal yang perlu dicatat, Iran mendukung rencana Indonesia. Tapi masih tak tahulah. Toh, November kemarin, banyak yang tak setuju dan melancarkan protes keras saat Menlu Hasssan Wirayuda mau menandatangani kerja sama bidang pengembangan Energi Nuklir dengan pihak Australia. Alasannya, masalah safety, Kondisi geologi Indonesia sangat rawan untuk membangun central energi nuklir ini. Again, entahlah… (tak bertanggung jawab kah jawaban macam ini?)

Kemarin, saya mengikuti seminar Energi Nuklir. Kebetulan dua lab di Departemen Electrical Engineering, salah satunya lab kami, kebagian jadi panitia. Pematerinya Jacques Bouchard, dari Prancis. Bouchard ini chairmannya GIF (Generation IV International Forum). Forum pengembangan teknologi nuklir yang hingga hari ini beranggotakan 13 negara. Ada Jepang disana dan ehm..tentu saja ada USA. Hih hih..gak tanggung-tanggung, ketuanya langsung yang ngasi materi. But, …hmm hmm…
Let I laugh for a while…whoa ho ho…

Mmm…bayangkanlah, semua slide presentasinya English Full, Bouchard menyampaikannya dalam bahasa Perancis dan translaternya menerjemahkan ke bahasa Jepang. Whee..wut de conference, men!!
Aneh aja sebenarnya. But let it be. Saya malah lebih tertarik menceritakan saat diskusi dengan para mahasiswa. Saya menanyakan bagaimana manajemen safety yang dilakukan oleh pemerintah Perancis sejak tahun 1985 hingga sekarang dalam proses pengembangan teknologi “mendebarkan” satu ini.
 

Tentu saya jelaskan juga, bahwa salah satu alasan kenapa banyak masyarakat di NEGARA SAYA menolak dibangunnya site untuk Power Energy ini adalah karena masalah keamanan apalagi terkait kondisi geologi Indonesia yang rawan.
 

Tanpa dinyana, dia tanya lebih dahulu dari Negara mana saya berasal, Indonesia? Wow, actually Indonesia really has a good point to develope this Nuclear Technology, like China. So many gold are there, yah…bla bla bla”
Dia juga mengurai panjang lebar bahwa tidak ada kaitan antara kondisi geologis dengan level safety utk mengembangkannya. But, ujungnya, Bouchard sempat menyinggung bahwa Indonesia lain lagi masalahnya, (hih hih..daku orang Indonesia merasa “tersentuh”) tersandung pada beberapa persoalan dalam negerinya. Salah satu yang terkait adalah manajemen sumber daya alamnya (yang melimpah) yang kurang terorganisir dengan baik. But, here we are talking about future, so why not?! Sambil tersenyum “manis” melirik ke kiri kanan stafnya. Halaa…pandai benar ini orang diskusinya…
 

Salah seorang student Malaysia yang bersebelahan dengan saya mengajukan pertanyaan yang hampir sama, memungkinkan kah apabila Malaysia berniat mengembangkan system Energi Nuklir ini? Jawabnya pun kurang lebih sama. Haiyaa…
 

But, ada hal menarik yang selanjutnya terjadi, karena salah seorang mahasiswa Master asal Syiria yang awalnya bertanya, kembali mengacungkan tangan dan mengatakan bahwa menurutnya, pertanyaannya yang pertama belum terjawab. Siapakah yang punya wewenang dalam percaturan politik dunia untuk memutuskan bahwa suatu negara boleh mengembangkan system energi ini sedangkan negara tertentu lain tak boleh? Kebijakan seperti itu siapa yang memutuskan? Tapi Bouchard tak menjawabnya dengan jelas. Kurang tahu juga kenapa. Tapi, anak Master itu terakhir diskusinya dengan saya. Katanya, bagaimana pun Bouchard akan memilih tidak menjawab pertanyaan itu secara terang-terangan. Akan ada banyak rentetan lain yang mengikuti jawaban pertanyaan itu seandainya nanti Bouchard menjelaskannya sejelas-jelasnya. Ada sesuatu? (Halaah..saya paling tidak suka konspirasi nih)
 

But, logic saja sebenarnya, diantara 13 negara yang join di generasi IV itu, Iran yang nota bene nya mmg lagi sibuk-sibuknya dalam pengembangan teknologi ini malah tak ada disana. Australia yang menggagas kerja sama Nuklir dengan Indonesia juga gak ada tuh. Anggota Generasi IV yang dibawahi Bouchard sekarang ini didalamnya ada Jepang, Prancis tentunya, USA, Inggris, Switzerland, Korea Selatan, Afrika selatan, Russia, China, Uni Eropa, Kanada, Brazil dan Argentina.
 Yup, tidak ada Indonesia. Belum?

Hee…berharap suatu saat ada nama Negara kita disana? Hmm…tidak mesti disana sebenarnya. Saya pribadi malah memang sangat ingin Indonesia mengembangkan Teknologinya. Nuklir? Yah, tidak hanya Nuklir saja. Itu sumber daya alam melimpah-limpah tapi kita hanya duduk manis dan senantiasa menganggukkan kepala bahwa kita punya banyak “simpanan”. Bahkan seorang analis Jepang menyebutkan bahwa sebenarnya, bila manajemen negeri kita baik, khususnya ttg SDA ini, warga Indonesia bisa hidup santai-santai (ongkang-ongkang kaki) hingga tujuh turunan saking kayanya negeri dengan kandungan alam.

 Well, Orang Pintar pun sebenarnya kita punya banyak. Juga orang-orang yang sadar bahwa banyak ketidakberesan yang perlu dibereskan. Jadi mungkin tinggal memikirkan cara yang tepat saja? So, bolehlah pertanyaannya selanjutnya seperti ini,
Kapan ya kita bisa berubah? Mmm..gini gini…pertanyaan ini bukan seperti menjual mimpi rapuh kok, tapi lebih kepada bahwa masih begitu besar peluang di depan kita dan banyak harapan disana. Tinggal kitanya nih, para hidup di sini untuk berbuat.
Halaaa…berteori selalunya lebih mudah daripada prakteknya. Tak apa, jalankan saja teori yang sudah ada itu sebisa kita. Karena hingga hari ini masalah kita adalah selalu “malpraktek” saat tiba di lapangan.
Oh ya, balik lagi ke Seminar Nuklir tadi, India ternyata gak ada ya di GEN IV itu. Baru nyadar saya. Padahal kan Nuklir India udah keren banget sekarang. Satu lagi, Iran tetap bersikukuh kan masalah Nuklir itu? Logis juga kenapa negeri Ahmadinejad ini tak masuk perhimpunan itu. Logis tidak?

Read Full Post »