Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Expired’ Category

Arti Kesedihan Itu

Definisikan padaku arti kesedihan itu yang sesungguhnya.

Kau tahu apa? Hanya aku yang menyimpan dan mendekapnya dalam-dalam. Membawanya berlari dan berjalan dalam gagap yang seperti tak berkesudahan.

Mungkin pekik pada langit yang riuh itu kadang tak juga sanggup meredam.

Mengapa bisa?

Tanyakan saja pada karat hati.

Well, lama tak menulis lagi, saya malah merasa mati gaya untuk nge post. Kebetulan saya menemukan file ini yang sudah berwujud sejak beberapa waktu lalu, bisa dikatakan sudah agak lama lah. Mungkin potongan kata-kata yang mencerminkan galau begitu turut menjadi representasi dari kegalauan saat menuliskannya. Sebenarnya apa ya yang terjadi pada saya saat itu. Mencoba mengingat-ngingat tapi tetap saja belum sempurna ingatan itu kembali. Jadi biar sedemikian rupa saja dulu, semoga potongan puzzle yang lain menyusul untuk melengkapi ingatan tentang apa yang terjadi saat itu. *halaah*

Iklan

Read Full Post »

That Inside Thing

Untuk slogan yang sering digadang-gadang banyak orang tentang “memaafkan tanpa melupakan” atau “memaafkan berarti melupakannya sekaligus”, keduanya seperti frase tak berasa buat saya. Paling gak untuk saat ini. Entahlah, mungkin terdengar seperti curcol? biar saja lah kalau begitu.

Kalau diingat-ingat, saya agaknya bukan tipe orang yang pendendam atau yang sulit memaafkan. Tapi entah juga, ada kejadian yang membuat saya tak bisa lupa, menjadikan saya lebih banyak belajar, lebih berhati-hati, yang bermuara pada berkurangnya intensitas interaksi. Ketika diperhatikan, sebenarnya bukan disengaja untuk diperlakukan sedemikian rupa, namun terjadi begitu saja. Ketika disadari, ternyata sudah berlaku begitu.

Benar sekali jika ada yang bilang, kalau berkenaan dengan perkara hati, konflik perasaan, akan sulit menimbang-nimbang dengan batasan yang jelas. Ketika kondisi hati sedang pas, kompak dengan fikiran, semua bisa dilihat dengan objektif dan lapang. Sekali waktu kondisinya tidak begitu, terasa sekali ada hal-hal yang pada state tertentu mulai menimbulkan gonjang ganjing tak jelas, rasa enak tak enak dan hal-hal semacam itu lah. 🙂

Untuk sebuah kejadian beberapa waktu lalu yang jika suatu waktu kembali terlintas di pikiran, saya menganggap dan meyakin-yakinkan diri saya bahwa semua sudah selesai dengan baik. Tak ada yang perlu dirisaukan lagi. Tentang hal-hal seperti komunikasi atau interaksi yang tidak bisa kembali seperti dulu-dulu lagi, saya mencoba menerimanya dengan begitu adanya. Saya tidak mau lagi terlibat emosi dengan hal-hal yang membuat saya tidak nyaman tiap kali teringat kejadian ini. Sampai hari ini pun dibilang paham dengan apa yang terjadi, saya sendiri meragukannya. Dibilang tak paham, beberapa topik yang memicu hal ini terjadi sangat jelas merusak batas kenyamanan saya. Hingga kemudian, saya pun menasehati diri untuk tidak terlalu memikirkannya, bahkan lebih jauh lagi, melupakannya sebisa saya.

Ohya, ini bukan hal semacam kecenderungan perasaan laki-laki ke wanita, bukan hal-hal semacam itu. Lebih ke cara berkomunikasi dan berinteraksi seseorang itu, yang secara pribadi membuat saya tidak nyaman. Seseorang yang notabenenya adalah adik angkatan di jurusan saya ketika saya masih kuliah dulu. Berulang kali terjadi konflik-konflik kecil, yang awalnya saya anggap bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, jadi biar begitu saja, dimaafkan lalu kembali biasa. Dan lucunya, yang terjadi seterusnya adalah, tiap kali saya memaafkan kesalahan-kesalahan itu, hal-hal aneh yang dilakukannya makin bermunculan, dan tebak… makin parah. Bukannya tidak pernah dibicarakan. Pernah, bahkan beberapa kali, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Yang berujung pada hal yang mencengangkan, ketika dibicarakan bukannya makin baik tapi makin membuat saya tidak mengerti dan kesal.

Sampai pada titik ini, saya mencoba meriviu ulang hal-hal ke belakang. Hingga akhirnya terjadi hal yang cukup serius, kalau kata sahabat saya, kembali orang tersebut bikin ulah. Saya terfikir satu hal, jika saya memang tidak nyaman berinteraksi (katakanlah berteman, karena bagaimanapun, kami pernah kuliah di Jurusan yang sama) sebaiknya saya memang membatasi langkah saya dari interaksi dengannya. Karena mungkin yang menjadi masalahnya adalah, karakternya yang menurut saya agak menyebalkan tidak cocok dengan saya , dan cara interaksinya yang kurang sopan, yang menjadikan saya lebih memilih menjauh. Bukan masalah kesalahan yang dia perbuat  sekali atau dua kali. Umm, bagaimana ya menjelaskannya, sulit juga ya ternyata. :mrgreen:

Sampai saat sekarang pun, saya bersikap datar tak menentu. Tak menentu karena saya mencoba bersikap biasa, walau jauh di hati saya, saya tidak bersikap natural terhadap orang ini. Saya memilih menolak memberikan alamat blog saya ini misalnya ketika sempat ditanyakan olehnya. Saya juga memilih tidak menambahkannya di list teman di salah satu akun jejaring sosial saya. Pernah ada di list dulunya, tapi dengan sangat menyesal dan saya ingat sekali, sepertinya saya menghapusnya dengan penuh keyakinan. Berkali pun permintaan add-as-friend-nya saya abaikan. Entahlah, bukannya tidak dimaafkan, tapi berulangkali saya menjelaskan tiap kali dia mendesak penjelasan, ini pilihan saya untuk menjaga kenyamanan saya, dan saya ingin pilihan saya kali ini dihargai. Atas apapun alasannya saya belum berfikir untuk merubahnya. Jika bertemu, hanya sekedarnya saja. Sekedar yang benar-benar sekedarnya. 😐

Hingga kemudian ketika “forgiven not forgotten” digadang-gadang lagi, saya hanya bisa tersenyum, walau mungkin dalam hati. Mungkin benar juga, saya sudah memaafkan semuanya, mencoba mengikhlaskan yang pernah terjadi, melapangkan hati untuk hal-hal yang pernah begitu merong-rong kenyamanan saya, tapi entah mengapa, beberapa hal masih bisa saya ingat dengan jelas. Oh well, call me whatsoever, but yes, sometimes I remember bad thing as well as the way I keep good thing inside my mind and heart. Tapi… hei, ternyata ada perubahan terbesar dan sangat saya syukuri. Rasa tertekan tiap kali nama atau kejadian yang berhubungan dengan sosok itu disebut, sudah menguap entah kemana. Mungkin waktu memang benar sangat menolong dalam banyak hal. Bahkan ketika ada secuil perasaan menyayangkan ketika salah satu adik angkatan lainnya yang begitu mengaguminya dan kemudian menaruh hati padanya dengan alasan bahwa dia aneh dan misterius, saya bisa cukup biasa untuk kemudian bilang, “Toh tiap orang memang beda-beda”.


Read Full Post »

Asal muasal turunnya entry ini sebenarnya memang setelah membaca postingan terbaru di blog Sora, Kesadaran yang datang belakangan. Ini di luar konteks pesan moralnya lho, tapi terkait dengan kejadian yang menginspirasinya itu. Awalnya saya senyum-senyum saja tapi akhirnya meledak juga jadi ketawa, teringat dengan kejadian mirip yang pernah terjadi dulu. Duluuu sekali.

Saat itu saya masih tahun pertama bangku kuliah, kira-kira semesteran dua dan bergabung dengan sebuah organisasi eksternal kampus. Saya ditunjuk sebagai staf redaksi mading. Berhubung kru mading sendiri tidak punya sekretariat khusus, maka tempat pengerjaan mading di tiap edisinya biasanya di kerjakan barengan di rumah saya. kebetulan anggota madingnya yang cuma beberapa orang adalah perempuan juga. Setelah terbit beberapa edisi, akhirnya di rubrik bebas yang memang di peruntukkan untuk memuat tulisan dari luar kru mading bisa eksis. Ada beberapa tulisan yang masuk dari orang yang berbeda hingga akhirnya ada satu orang yang rajin menyumbang tulisannya.

Biasanya jika ada sumbangan tulisan dari luar seperti itu, untuk sampai ke redaksi caranya mudah saja, tinggal dititipkan ke anggota redaksi seminggu sebelum deadline dan kemudian tulisan tersebut akan dinilai kelayakannya untuk kemudian dimuat. Biasanya tulisan dari luar itu hampir selalunya lelaki dan tulisannya bagus-bagus terutama yang satu orang misterius itu. Kenapa misterius? Karena beliau hanya menggunakan inisial nama (berbeda dengan penulis lainnya) dan hanya menuliskan alamat emailnya di akhir tulisannya. Selalu seperti itu.

Lalu apa pentingnya hal ini dibahas? Dimana nyambungnya dengan judulnya? Ahahaha. Bacalah sedikit lagi dulu.

Ternyata sejak awal membaca tulisan-tulisannya saya sudah suka dengan artikel-artikel tersebut. Bahasanya lugas dan runtut dan gaya penyampaiannya itu khas. Analitis, bernas dan mencerahkan. Hueeh, intinya, tulisannya bagus sekali. Di samping itu yang menarik adalah saat membaca artikel-artikelnya itu saya seperti bisa meng-asses bahwa terkadang kami punya pemikiran yang sama saat memandang hal-hal atau masalah tertentu yang dibahas olehnya. Kadang saat kru yang lain merasa tidak setuju atau salah paham dengan inti tulisannya saya mencoba menjelaskan bahwa yang ingin disampaikan oleh beliau itu tidaklah seperti itu, tapi menurut saya lebih ke seperti ini dan seperti ini dan saya setuju dengan apa yang disampaikannya. Kadang kru yang lain sempat bengong. :mrgreen:

Jadi apa? Hmm, jadi belum apa-apa, hanya dengan membaca tulisan-tulisan beliau saat itu saya sudah kagum dan simpati dan sedikit penasaran dengan orangnya. Dan saya sadar akan hal itu. ^^ . Kru mading yang lain juga sempat penasaran dengan sosok ini tapi akhirnya kita semua jadi terbiasa dengan kemisteriusan itu. Yang penting tulisannya ada, layak muat dan bagus. Semua di antara kami tidak ada yang melakukan investigasi (halaah) apapun.

Hingga suatu hari di rapat divisi saat dimana semua anggota divisi harus hadir dan saya tahu ada beberapa orang asing yang agaknya tidak pernah terlihat sebelum-sebelumnya. Oh ya, kadang ada anggota yang tidak saling kenal dikarenakan keterlibatannya yang kurang aktif, jadinya jika ada nama tapi bahkan orangnya tidak terlalu dikenal oleh anggota satunya, itu jadi hal yang cukup dimaklumi karena anggota organisasi ini yang semuanya mahasiswa itu bisa dibilang punya aktivitas dan kesibukan masing-masing juga.

Jadi setelah selesai rapat, ada yang hendak menyerahkan tulisannya. Katanya untuk rubrik bebas itu!! Gubrak. Begitu melihat nama email dan inisial di akhir tulisannya itu, weleeh, jadi ini dia orangnya. Ckckckc. Akhirnya ketemu juga tanpa disangka-sangka dan terencana. Hebat banget, analisa spontan! :mrgreen:

Sedikit basa-basi dan tentu saja akhirnya saya ketahui juga namanya. Yatta! Beberapa hari kemudian, saat antri di ATM depan kampus, ketemu lagi dan baru ketahuan ternyata kami satu kampus, angkatannya dua tingkat di atas saya walaupun beda fakultas. Saat itu jadinya ngobrol agak banyak, disinggungnya juga tentang kontribusinya di mading yang mungkin untuk beberapa waktu ke depan akan berkurang karena beliau akan segera menjalani koasistensi di sebuah rumah sakit. Dari cara berbicaranya saja sudah kelihatan bahwa beliau memang cerdas. Bicaranya juga tidak terlalu banyak, tidak juga terlalu sedikit, tidak semisterius caranya menyampaikan idenya lewat artikel itu, beliau ternyata cukup ramah tapi tidak berlebihan. Tapi memang tertangkap bahwa beliau orang yang serius dan suka berpikir. Pas. :mrgreen:

Begitulah ceritanya. Kesimpulannya? Iyalah, udah bisa ditangkap kan? Yah, walaupun agak beda sedikit sih. Tapi maksudnya itu nyambung kan ya? :mrgreen:
Di Savage Garden itu dikatakan tentang orang yang jatuh cinta bahkan sebelum bertemu, dalam hal ini, ini tentang kekaguman bahkan sebelum bertemu dengan orang tersebut. Dan bagusnya, setelah bertemu kekaguman itu tidak rusak. 😀

Eh, iya ya? Ternyata kesukaan atau juga kekaguman terhadap seseorang sebelum bertemu orangnya bisa terjadi bukan cuma lewat internet aja ya? Di dunia nyata juga bisa 🙄 *tersadar*

Read Full Post »

Maunya sih begitu… *bletaak*

Inilah manusia, apa coba yang tidak diinginkan 🙂

Setelah dapat dari milis dan teringat dengan salah satu kasus kejadian, akhirnya saya putuskan untuk menulis entry. Mmm… lagipun, lihat ini… blog tidak ter-update lagi dengan tulisan baru, lengkaplah sudah alasannya.

Sudah basbang memang,  bagi yang sudah tahu lalu membaca ini, kan ilmunya tidak berkurang, malah bisa share and berbagi dukungan, kritik dan saran.

Hmm, Saya punya sahabat  dengan gambaran yang diberikan oleh kalimat itu. Banyak yang mengagumi sosoknya memang, saya saja yang perempuan termasuk coba. Banyak juga yang patah hati saat ia menikah. *tidak penting*

Kalau ada kalimat semacam, “She`s just a well-rounded girl”, berarti seorang gadis yang punya banyak keahlian, atau serba bisa, atau istilah lainnya multi talenta? Ya ya… itu dia.

Dan saya pun tergiring kemana-mana. Pikiran maksudnya. Dari contoh itu, bagaimana pun talenta dan keahlian si gadis ini, keadaan ini pasti tidak boundless. Sebut saja penjegalnya semisal, no body`s perfect, yang terkenal itu. (e.g untuk laki-laki,  bagaimanapun  keren, baik hati, cerdas, wawasan luas, pengetahuan agamanya bagus, tetap saja ada kekurangannya. Oh ya, di salah satu buku yang pernah saya baca tentang bagaimana seorang perempuan yang menyimpan kekagumannya dalam-dalam terhadap laki-laki yang menurut penggambarannya begitu sempurna, dan dia menguatkan hal itu dengan, “kalaupun dia punya kekurangan maka kekurangannya itu adalah karena ia terlalu sempurna”. Ck ckck…

Suatu ketika, anggaplah sang sosok sempurna itu, yang bisa melakukan banyak hal dengan tingkat kesuksesan di atas rata-rata, yang sikap baiknya membuat semua  orang nyaman saat bersamanya, yang nilai fisiknya diatas 8 hampir semua yang menjadi kriteria manusia sukses melekat pada sosok itu.

Maka, jika kemudian tiba-tiba disela dengan, “Ah, no body`s perfect…” tadi itu, apa yang kemudian terjadi? Paling tidak terlintas dua maksud di dalam pernyataan itu, positif dan negatif.

Maksud positif sudah jelas. Untuk mengingatkan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bagaimana pun banyaknya kelebihan seseorang, tetap ada sisi kurangnya. Pasti itu. Maksud negatif? Apa ya? Tipe manusia sirik alias berpenyakit hati kali ya…? 🙂

Selalu ada kontradiksi yang melekat pada tiap hal. Apapun itu. Karena disanalah penyeimbangnya. Disaat kita merasa bahwa kita bisa melakukan yang terbaik, saat itu pula kita juga harus yakin, kita tidak sesempuna itu. Disaat kita yakin bahwa kita telah banyak tahu, sekaligus pula kita hendaknya paham itu sedikit sekali dibandingkan dengan apa yang ada sebenarnya.

Misalnya pula contoh konyol mengantisipasi figuritas berlebihan versi pribadi saya  saat melihat ada manusia dengan kelebihan rata-rata di atas manusia biasa lainnya. Saat begitu besar kekaguman itu maka harusnya saya juga cukup siap untuk melihat kekurangannya yang mungkin akan menjadi sesuatu yang paling mengejutkan.

Agaknya karena itu pula, maka kita sering diingatkan untuk memandang sesuatu dari banyak sisi, karena  menjadikan kita lebih bijak saat bersikap, dan dewasa dalam memahami sesuatu. Kita pun jadi terhindar dari kekecewaan berlebih saat misalnya jagoan kita atau orang yang kita kagumi itu melakukan kesalahan. Karena biasanya sengaja atau tidak kita telah meng-claim bahwa harusnya dengan kapasitas seistimewa itu, ia bisa melakukan suatu tugas dengan score 9, namun saat ia hanya mampu dengan score 7 misalnya, sontak semua kekesalan melimpah padanya. Dan jika ada kesalahan rasanya sulit sekali ada pemakluman logis yang diberikan. Berat.

Maka kalau ada a well-rounded girl, dengan segala kelebihan dan keahlian, dia tetap punya sisi  kemanusiaan yang manusiawi, kekurangan. Lagian, mana ada orang yang ABC kepribadiannya hingga Z selamanya dalam keadaan terbaik? Tidak ada. Pasti ada anehnya.  Proporsional dalam memandang sesuatu tentu lebih baik.

Read Full Post »

Word as sharp as Sword

Ya, sudah lama benar ujar-ujar ini tentang betapa, begitu, sangat, alangkah,  tajamnya kata-kata. So, macam basbang sikit lah postingan kali ini.

Seberapa tajamnya tentu tergantung pemilihan diksinya, gaya bertuturnya, juga ide yang disampaikannya. Hal yang sederhana kalau disampaikan dengan kata-kata yang tajamnya sampai bikin silau (kok silau??!!), akan crash juga akhirnya. Dan tentu, kata-kata yang digunakan punya pengaruh besar terhadap bagaimana tersampainya maksud ke objek yang mendengar (media audio) atau yang melihat (visual) sekaligus membaca, atau yang menggunakan keduanya (audio visual). Jadi, memang bermain benar peranan kata-kata ini.

Nge-blog juga pakai kata-kata…Halaah..iya iya..pakai komputer, laptop, HP…plus pakai fikiran. Dan kata-katalah yang menjadi ujung tombak penyampaian maksud dan pesan sang blogger kepada dunia (you see? Dunia !!)

Dan kata-kata yang akhirnya diputuskan sang blogger untuk berurut dalam baris-baris kalimat di blognya itulah yang kemudian mewakili dirinya bicara. Cerminan isi kepala, paradigma berfikir, hirarki kepribadian pun tertuang lewat kata-kata disana. Mulailah  kemudian para aktifis blogwalking melihat dan membaca sekalian urung komentar disana. Tanggapan ini jelas macam-macam adanya, pro-kontra pun pastinya ada.

Sejauh mana ketajaman kata-kata anda mempengaruhi sampainya maksud ke pembaca? Oh sebentar deh, takutnya malah dikira kata-kata tajam itu sungguhan sejenis kata-kata yang bisa mengiris-iris hati, jantung, perasaan? Bukan laa…ini lebih kepada menukiknya makna dan maksud yang ingin disampaikan, benar-benar sampai dengan tepat ke targetnya. 

Untuk cepat tajam gak mungkinlah  instan bisa langsung dalam sekejap malam. Butuh waktu, proses dan material pengasahnya tentu. Hingga kemudian kata-kata kita pun mampu mencincang, mengiris, memotong bahkan membabat (lhaa..katanya tadi bukan yang seperti ini maksudnya..gimana sih?) dengan baik. Sila fikirkan dengan gaya sendiri-sendiri…

Oh ya, bedanya sih pedang itu diakui kehebatannya saat ia mampu menaklukkan lawan sang Tuan. Kalau kata-kata hebat ? Ini agaknya sulit diidentifikasi oleh yang Empunya kata secara kasat mata langsung. Bukan hanya logika yang bermain, karena ada hati disana. Bagaimana kata-kata bisa menggerakkan fikiran dan menggugah perasaan? (dia ni tempatnya di hati kan ya? ) rasa macam tak ada parameter mutlak karena setiap karakter orang tentu level tersentuhnya dengan ketajaman kata-kata akan berbeda…

Saya mo pertajam pedang kata-kata saya lah dulu… *siap-siap ngasah…*

Does it take time? Sure! Seorang pemecah batu akhirnya berhasil memecah bongkahan batu besar pada hantaman yang ke-100. Tapi bukan hantaman ke-seratus itu yang memcahkan batu itu. So? Ya, Mulai dari pukulan pertama kali, kedua, dan seterusnya lah…hingga pukulan yang seratus, yang akhirnya menjadikan batu itu berkeping hancur…

Eh, tapi mempertajam kata-kata gak mesti lah  nunggu hingga postingan ke-seratus baru bisa bilang, “udah tajam…”, sungguh gak mesti sama sekali…

Hmm, di WP ni (versi bahasa Indonesia tentunya), blog yang postingannya udah seratusan, adakah? Kalau  misalnya umur blognya  setahunan, bablolita (bayi blog di bawah lima tahun),  anggap genap 365 hari, kalau rajin ngup-date 3 hari sekali (Hi hi…) pasti udah ada tuh yang sampai seratus…

Eh, Ada nggak? Blog siapa ya? *klik sana sini*

Read Full Post »