Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jepang’ Category

Anda pernah dikenali tapi bukan dengan identitas diri anda sendiri? Misalnya saja dengan identitas keluarga, kelompok atau organisasi, sekolah, tahun angkatan di kampus, atau apalah yang anda adalah atau pernah menjadi bagian dari hal itu sehingga identitas non-diri-pribadi tersebut bisa melekat pada diri anda.

Misalnya saja pertanyaan sejenis ini, “Ooh… rupanya ini anaknya Pak Budi ya? Pantesan mirip. Ayah kamu itu temen kuliah saya lho, dan blablabla… Ayah kamu itu suka blablabla, kamu juga ?”   :mrgreen:

atau, “Kamu cucunya Pak Hasan ya? Saya sempat sama-sama beliau masa jaman Belanda dulu lho. Kakek kamu itu blablabla…”. Pernah? Saya pernah. :mrgreen:

Ataupun contoh yang sering terjadi seperti misalnya kita dikenali melalui asal SMU, berdasarkan tahun angkatan masuk kuliah, organisasi yang diikuti dan sebagainya. Yah… sedikit banyaknya terkadang identitas kolektif seperti ini memang punya pengaruh terhadap diri kita.

Dalam lingkup yang lebih luas misalnya, identitas kebangsaan. Secara tidak langsung dan tidak dapat terelakkan kita tentu saja akan dikait-kaitkan dengan identitas itu. Terkadang ada stereotip yang perlu dijelaskan karena keadaan sebenarnya tidaklah begitu adanya, misalnya. Ada yang terkadang cuma termakan hoax dan hal-hal kaya gini tentu perlu diluruskan. Ataupun sikap sosial mainstream yang terkadang malah bertolak belakang dengan sikap sosial pribadi kita, saya memilih untuk menjelaskannya, sejauh yang saya tahu tentunya. Saya kira hal ini penting karena terkadang kesimpulan yang diambil bisa berakhir pada imej bentukan yang salah kaprah.

Terkait dengan sikap pribadi ini, dulu saya pernah punya pengalaman lucu pada saat tour kampus ke Little World di Nagoya. Dari namanya, ini memang `dunia` yang isinya negara-negara yang ada di dunia (tentu tidak semuanya). Setelah kunjungan ke beberapa negara, tibalah saya dan beberapa teman lainnya di `Indonesia`. Kebetulan yang jadi miniatur negara Indonesia adalah Bali, lengkap dengan candi dan gapuranya yang cantik, serta gambar-gambar yang menampilkan kebudayaan dan gaya hidup sehari-hari. Bisa ditebak apa reaksi teman-teman saya? :mrgreen:

“Kok gak ada mirip-miripnya yasama kamu?” Mereka bertanya dengan polos dan keheranan. Saya faham dengan maksud mereka dan sejak awal di pintu masuk rada ada firasat bakal ditanya kaya begitu. Beruntung sekali di bagian sudut lain ‘Indonesia’ ini ada beberapa poster yang menampilkan kebudayaan beberapa provinsi di Indonesia, saya berusaha menjelaskan, bahwa setiap daerah ini punya keragaman budaya dan kekhasannya masing-masing, bahkan juga bahasa daerahnya yang berbeda di tiap daerah. Ada rasa bangga saat itu dan begitu bersyukur. Apalagi saat mereka bilang, “Hebat ya, ternyata ada banyak macam begitu…”.  Saya lega rasanya. :mrgreen:

Di lain waktu, hal lain yang sering ditanya kalau sudah ngobrol-ngobrol di asrama adalah keadaan di negara masing-masing. Kebiasaan remaja dan anak muda pada umumnya, gaya hidup, budaya belajar, pergaulan, kegiatan volunteer oleh remaja, dan hal-hal lainnya. Gara-gara ini saya jadi sering bilang, saya kurang tepat kalau dijadikan parameter bagaimana anak Indonesia pada umumnya. “Saya tidak cukup syarat untuk jadi representasi anak muda di negara saya”. Eh, rupanya statemen seperti ini akhirnya mewabah karena ternyata semuanya juga enggak PEDE merasa bahwa dirinya bukan representasi remaja dan anak muda pada umumnya di negara mereka. Siapa sangka semua pada setuju?  😆

Misalnya seorang teman dari Amerika yang disebut oleh beberapa mahasiswa dari China, bahwa dia bukan tipikal gadis Amerika pada umumnya. Gadis ini tidak suka pesta, tidak mau minum dan mabuk, rajin ke gereja, rajin banget belajarnya, sopan dan agak serius. :mrgreen: Contoh remaja Amerika yang unik kan. Atau yang dari Polandia, mahasiswi Bio-Technology ini katanya jauh dari kesan romantis cewek Eropa seumuran dia pada umumnya, disamping tegas, sering panik, pelupa dan dikabarkan kami memiliki kemiripan dalam hal terakhir itu.  :mrgreen:   Akhirnya keduanya malah ikutan bilang hal yang sama, “Kami jangan dianggap representasi dari remaja seusia kami dari negara kami, karena banyak `penyimpangan`…” 😆

Walaupun begitu, rupanya memang terlihat bahwa kita tidak bisa langsung `melepaskan diri` dari identitas kolektif yang tanpa sengaja atau tidak, melekat pada diri kita. Jelek? Tidak kok, malah menurut saya, kita memang perlu kok punya identitas kolektif disamping identitas pribadi diri kita. Disamping tentu saja ada beberapa pengecualian, seperti misalnya, jika ada sikap kolektif yang menurut kita tidak layak atau bertentangan dengan sikap pribadi kita, dan saat kita juga diasosiasikan dengan sikap yang sama, kita tentu saja boleh tidak terima dan melakukan klarifikasi. Mengenai hal ini, seseorang telah menjelaskannya dengan cukup baik disini. 🙂

Bagaimana dengan identitas kolektif yang membanggakan?

Jika kita berbicara tentang identitas kebangsaan, maka salah satu tanda pengenalnya tentu bahasa. Ada bangsa yang `diberkahi` karena bahasa nasional mereka juga dipelajari dan digunakan oleh banyak bangsa di dunia, bahkan penguasaannya pada level tertentu menjadi syarat melamar pekerjaan dan melanjutkan sekolah. You know who they are. 🙂

Lagi-lagi cerita kalau ngumpul-ngumpul saat senggang di lobi asrama. Biasanya beberapa mahasiswa mahasiswi asal China  bermain kartu, anak-anak yang lain sekedar nonton mereka main atau memilih main game, nonton, atau berdiskusi kecil tentang agama.  Sering banget diskusi seperti ini kemudian melebar, alot, panas, bahkan pernah hampir ribut. Biasa, topik sensitif. :mrgreen:

Saat-saat santai begitu, pada umumnya menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Jepang atau sesekali kami juga saling mengajarkan potongan-potongan kata dan kalimat yang mudah diingat dari bahasa masing-masing.  Terkadang jika ada lebih dari satu orang yang senegara, hampir dipastikan mereka akan menggunakan bahasa mereka sendiri. Saat momen seperti ini sedang berlangsung, teman yang dari Amerika suka protes. “Use Englishplease… In English please…” Kadang dengan ekspresi merengek atau mengusili pembicaraan atau permainan. Kadang dijawab, “Sebentar dulu, gak enak berantem atau ngeledek pake bahasa Inggris nih…”. Yang mau tidak mau mengundang gelak tawa kami. Atau kali lain, gadis ini nyeletuk, “Gak adil nih, kalian bisa ngomong sesuatu yang saya tidak paham, tapi kalian semua bisa paham apa yang saya bilang…”
Jawaban standar anak-anak yang sudah sangat populer saat itu, “Ubahlah bahasa nasionalmu, Nak… jangan bahasa Inggris”.  :mrgreen:

Saya pernah iseng tanya pada gadis itu bagaimana perasaannya saat bahasa nasionalnya dipakai oleh hampir semua bangsa di dunia, bahkan dipelajari dan dijadikan standar kurikulum pendidikan di hampir beberapa negara. Dia tersenyum lucu…”Senang dan… bangga, hehehe…”. Iya ya, tentu saja menyenangkan dan membanggakan saat identitas kolektif (dalam hal ini bahasa) kita dikenal dengan imej positif dan sekaligus dipelajari dan diikuti oleh bangsa lain. Saya kok ya penasaran bagaimana rasanya jenis perasaan `senang` dan `bangga` itu?

Suatu kali saya  diundang menghadiri acara seminar yang diadakan di Nagoya University. Temanya konon, Student Discussion on Tsunami Disaster Experiences. Salah satu agenda diskusi ini diantaranya adalah presentasi dari beberapa mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Jepang. Ada tiga orang mahasiswi dari Indonesia yang diundang melakukan presentasi, tentang bagaimana pengalaman mereka saat Tsunami dan kegiatan sebagai relawan yang mereka lakukan di masa kritis pasca tsunami saat itu. Seorang mahasiswi Master dari ITB yang menceritakan tentang pengalaman beliau saat gempa dan tsunami di Pangandaran pada 2006 lalu, dan dua mahasiswi lagi dari Unsyiah yang menjelaskan pengalaman mereka saat Tsunami di Aceh dan peran mahasiswa dalam bidang keilmuwan dan peran mereka di masyarakat sesudah musibah  itu. Dilanjutkan dengan presentasi dari pihak OGASA, suatu organisasi kemanusiaan peduli bencana di Aceh yang dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa Jepang dari Osaka University. Pihak OGASA diwakili oleh ketua dan tiga orang anggotanya.

Hal menarik yang ingin saya ceritakan kemudian adalah saat acara pembukaan diskusi ini, saat seluruh peserta dipersilahkan memperkenalkan diri. Audiens-nya adalah Bapak-Bapak mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia yang sedang melanjutkan sekolah di sana, Para Sensei dan Researcher-staff dari Lab. Geofisika disana, mahasiwa Jepang dan para staf JICA dari Filiphina, Papua Nugini dan Costarika yang konon sebagai reviewer.

Tiba saat masing-masing memperkenalkan diri, tentu saja semua menggunakan bahasa Inggris, dan ada juga mahasiswa Indonesia yang sudah lama tinggal di sana yang menggunakan Japanese-English. Ketika giliran pihak OGASA memperkenalkan diri, dimulai dari sang ketuanya. Tebak! Ia berbicara dalam bahasa Indonesia yang lancar. Hueh… 😯
Saya terpesona beberapa saat. (halaah). Dan… bahasa Indonesia-nya sopan banget, teratur. Lalu diikuti rekan-rekannya yang lain. Keren! Ups, mungkin saya agak berlebihan, soalnya ini forum internasional gitu lho, dan mereka di awalnya dengan bangga bilang begini, ” Baiklah, saya akan memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia…”. Diakhir salam perkenalan mereka dihujani tepuk tangan oleh semua. 🙂 Presentasi mereka pun kadang diselingi dengan kalimat bahasa Indonesia. Setelah acara selesai, sepanjang coffee-break, berpuas-puaslah kami berbicara dalam bahasa Indonesia dengan mereka dan juga saat berkirim email. Tanya punya tanya, ternyata diantara mereka ada yang sudah tahun kedua kuliah di jurusan sastra Bahasa Indonesia di universitasnya. Pantes juga sih ya. Whatever, saat itu saya langsung disergap rasa senang dan… bangga aneh, hehehe… Mungkin perasaan jenis ini yang dimaksud teman saya dari Amerika itu ya? Besar kemungkinan iya, walaupun mungkin kadarnya tidak sama.  :mrgreen:

Ternyata begitu ya, ada saat-saat kita merasa bangga, ketika salah satu simbol dari identitas kolektif kita diikuti dan diapresiasi oleh bangsa lain dan… perasaan itu menyenangkan walau agak sulit dijelaskan.  🙂

Iklan

Read Full Post »

 

Sabtu kemarin saya mengunjungi seorang teman yang tinggal di Matsuoka. Saya diundang ke tempatnya karena saya jarang main kesana. Beliau ini juga mahasiswa di universitas yang sama tapi di fakultas kedokteran yang terletak di Matsuoka, bukan di Bunkyo kampus. Jadilah saya yang tidak berpengalaman ke Matsuoka dengan kereta api mulai ngecek jadwal dan rute dan akhirnya berangkat sendirian ke sana. Perjalanan dengan kereta api memakan waktu lebih kurang 20 meni dengan satu kali ganti kereta dan sesampai disana mbak tersebut sudah menunggu sejak lama di Matsuoka eki karena ada salah paham. Mbak ini seorang dokter muslim Kyrgistan, tapi dia menjelaskan bahwa dia agak berbeda dengan muslim pada umumnya yaitu tidak melakukan ibadah shalat dan tidak puasa, saya baru ber-o-o ria sambil mengangguk-angguk . Tapi beliau tetap mengkonsumsi daging yang halal (yang ini sama ya) tapi tidak memakan ikan mentah (katanya tidak boleh). Beda-beda ya ternyata. :mrgreen:

 

 

 

BTT,
Maka dari sana saya pun ditawarkan buat jalan-jalan. Karena saya segera balik Oktober ini, saya pun diajaknya mengunjungi Maruoka Jo (Maruoka castle), yang terletak di Maruoka, Fukui. Cuaca yang agak mendung dan udara sejuk pun cukup bersahabat. Diputuskan akhirnya saya nge-rental sepeda dari stasiun Maruoka dan dimulailah sepedaan menuju Maruoka kastil itu yang merupakan kastil tertua di Jepang, berumur lebih dari 400 tahun.

 

Maruoka Jo ini dibangun di atas bukit pada tahun 1556 oleh Shibata katsutoyo yang merupakan seorang kepala Samurai pada periode Azumi-Momoyama. Tak banyak detil sejarah tentang kastil ini yang saya rekam ataupun saya tampung di memori saya. :mrgreen:

 

Saat kami mengunjunginya tempo hari, kastil ini tampak sepi. Tidak ramai pengunjung yang memadati kastil. Dari luar kastil ini tampak terawat walaupun pernah rusak saat gempa melanda Fukui dulu. Fondasi kastil adalah batu-batu besar dan elemen lainnya mulai dari lantai, tiang penyangga dan dinding dibuat dari kayu. Tangga depan kastil terbuat dari batu dengan bentuk yang landai sehingga bangunan kastil tiga lantai ini tampak berdiri menjulang.

Saat memasuki Jo ini, saya sedikit kaget. Tidak ada barang-barang peninggalan apapun yang biasanya akan kita temui saat mengunjungi kastil-kastil tua. (setidaknya beberapa yang pernah saya kunjungi memiliki aksesoris peninggalan yang dipajang di bagian dalam kastil). Namun disini, ruangan kastil terhampar kosong dengan lantai kayu yang walaupun sudah tua dimakan waktu namun tetap licin mengkilap, nampak terawat. Di lantai dasar hanya ada foto-foto kastil yang ada di seluruh Jepang. Hanya itu. Lainnya? Hmm, hanya ada suara pemandu yang menjelaskan dalam bahasa Jepang tentang sejarah dan asal usul Maruoka Jo tersebut. Lalu kami beranjak ke lantai dua lewat satu-satunya tangga kayu yang begitu curam. Tali disediakan untuk pegangan saat naik atau turun melalui tangga tersebut. Di lantai dua pun sama, tidak ada barang-barang peninggalan para samurai itu. Di sini jendela dibuat hingga menyentuh lantai dan diberi jeruji yang terbuat dari kayu. Pemandangan wilayah Maruoka dan Fukui walaupun tidak terlalu jelas jangkauannya mulai terlihat dari sini. Menuju lantai tiga, tangga kayunya terletak di sudut kanan dan nampak begitu menyempil. Berbeda dengan tangga di lantai dua yang terletak di bagian kiri hampir ke tengah ruangan. Pastilah ada tujuan dibuat sedemikian rupa.

 

 

p9290138.JPG

 

Bagian kaki bukit yang kini dijadikan taman sebelum orang-orang harus menaiki tangga menuju bukit tempat kastil berdiri.

 

 

maruoka2.jpg

 

Bangunan kastil tampak dari sisi kiri dengan tangga batu yang cukup landai.

 

p9290153.JPG

 

Lantai dasar kastil. Terdapat foto-foto kastil yang tersebar di seluruh wilayah Jepang lainnya digantungkan di dinding.

 

 

maruoka3.jpg

 

Lantai dua dengan jendela yang memungkinkan cahaya masuk dari keempat sisi bangunan kastil

 

p9290154.JPG

 

Jendela dengan jeruji dari kayu di lantai dasar.

 

 

maruoka4.jpg

 

Lantai paling atas dengan jendela yang kecil di keempat sisi bangunan. Sama seperti lantai dua, tidak ada barang yang mengisi ruangan.

 

maruoka5.jpg

 

Tangganya begitu curam dan licin. Insiden kecil pun terjadi, saya terpelanting jatuh saat hampir mencapai ujung akhir tangga bawah padahal sudah pegangan pada tali yang disediakan. 😦

 

p9290158.JPG

 

Tampak dari atas permukaan kota yang diambil dari salah satu jendela di lantai dua

 

p9290162.JPG

 

Pelataran depan kastil tampak dari lantai tiga, terdapat kedai teh dengan penyajian khas Jepang dan pengunjung dapat menikmati sambil duduk di bangku panjang.

 

p9290169.JPG

 

 

 

Tangga menuju dan kembali dari kastil. Di depan sana itu adalah kedai soba dan juga restoran kecil serta kedai oleh-oleh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

Begitulah hasil jalan-jalannya dan sekaligus merupakan jalan-jalan terakhir saya untuk tahun ini di sini. Secara keseluruhan perjalanannya menyenangkan. Sangat. Saya bertemu teman saya yang sangat jarang untuk bisa saling bertemu karena masing-masing punya kesibukan. Ah iya, tanpa disangka saat kami sudah turun ke bawah dan memasuki kedai untuk melirik-lirik koleksi jualan disana, ternyata kami bertemu dengan dua temannya teman saya yang berasal dari Rusia. Benar-benar di luar dugaan. Sayangnya karena saking larut dalam obrolan, sampai lupa waktu. Dengan terburu-buru balik ke Matsuoka, belanja beberapa makanan untuk makan malam, lalu makan malam bareng dengan sedikit tergesa karena takut ketinggalan kereta api terakhir. Saya agak kelelahan juga, karena saat dalam perjalanan balik dari Maruoka Jo, saat hampir tiba di kampus Matsuoka, ban depan sepedanya kempes. 😐

Perjalanan menuju stasiun Matsuoka kami diantar oleh temannya teman saya yang kebetulan membawa mobil. Walaupun terburu-buru akhirnya kami berhasil mendapatkan kereta api untuk pulang. Saat tiba kembali di stasiun depan kampus Fukui, lega rasanya walaupun penat sekali. Anyway, It was really nice last trip.

maruoka-jo-masa-fuyu.jpg

Gambar yang ini diambil dari sini, penampakan Maruoka Jo saat musim dingin. Tampak kokoh dengan anggunnya. *hueeh bahasamu, Nak* :mrgreen:

– Beberapa gambar berasal dari sini dan koleksi pribadi.   

-Thank you for Nailya, Natalie and Alyssa. You all served me alot. 🙂

 


Read Full Post »

Tradisi Minum Sake

 Benar. itu salah satu hal yang paling terkenal disini. Minum sake, biiru (bir) dan minuman beralkohol lainnya. Uniknya, ini jadi semacam tren (apa memang sudah tradisi? :mrgreen: ) khusus pada even-even tertentu disamping juga menjadi kebiasaan yang tidak istimewa lagi di kehidupan sehari-hari keluarga Jepang. Hanya saja jadi unik dan agak mengagetkan mungkin bagi kita yang  tidak biasa dengan hal ini, didukung oleh perbedaan budaya yang lumayan mencolok.

Misalnya setelah ada perayaan tertentu, entah itu acara kelulusan, penerimaan mahasiswa baru, menyambut tahun baru, atau sekedar presentasi final hasil riset di lab, maka akan ada namanya acara nomikai (minum sama-sama) antara mahasiswa dan dosen. Ataupun ada acara `syukuran` ( :mrgreen: ) anggota keluarga yang kebetulan lagi sukses atau `dapat rejeki`  (halaah, Indonesia banget istilahnya) salah satunya akan diekspresikan dengan acara minum sake ini. Ah iya, ada tradisi kalau ada bayi lahir, ada upacara khusus dimana bayi akan dicicipkan rasa nasi dan makanan lainnya, juga sake!  :mrgreen:  (lebih…)

Read Full Post »

Japan Corruption?

Heh? Di negara maju kaya begitu masih ada korupsi? Masa sih?

He eh. Iya. Ada kok.

Sudah basbang ni ceritanya. Malam itu seperti biasa, balik dari kampus, istirahat sebentar sambil nonton serial detektif yang rada horor, penyelidikan kasus bunuh diri keluarga. Seru-seru tapi bikin merinding  dan ngeri sendiri (halaah). 

Setelah serial detektif itu selesai, niatnya mau matikan TV, tapi kemudian…Zero News! Berita jam dua belas. Ugh… karena agak kelelahan hari itu, jadi ya sudah, liat headline beritanya aja kalau gitu, pikir saya. Topik utama berita tengah malam itu lumayan bikin saya tercengang. Menteri Pertanian Jepang, Toshikatsu Matsuoka ditemukan bunuh diri. Haa? 😯
*niat mo ngantuk terbang entah kemana*
*antusias muncul entah darimana*

Wah… jangan-jangan ini ada hubungannya dengan tuduhan korupsi atas Matsuoka beberapa waktu lalu? Iya, beberapa waktu belakangan, ada blow up berita mengenai isu skandal korupsi yang dikaitkan ke Matsuoka ini.

Ternyata benar. Toshikatsu Matsuoka, Menteri Agraria Jepang ini, melakukan bunuh diri setelah ia dihubungkan dengan skandal korupsi. Menteri berusia 62 tahun tersebut ditemukan gantung diri di rumah kediamannya di Tokyo. Adapun tuduhan yang ditimpakan padanya adalah kemungkinan bahwa ia menerima dana kampanye untuk ditukar dengan tender pemerintah bagi perusahaan. Lalu dua pejabat tinggi juga ditahan sehubungan dengan skandal ini.

Diduga kuat penyebab utama aksi bunuh diri Matsuoka ini adalah tuduhan korupsi terhadap dirinya itu. Karena tidak sanggup menahan malu jadinya begitu. Catat! Itu baru tuduhan… Dan kabarnya Perdana Menteri Shinzo Abe cukup terpukul dengan kematian Matsuoka ini. Selama ini Abe dirasa banyak pihak sering membela Matsuoka, dan ada yang menilai ini akan mempersulit posisi Abe ke depan dan kemungkinan akan kalah dalam pemilihan parlemen Juli ini. Saya enggak tahu banyak sih masalah ini. 🙄

Bleh… akhirnya saya cukup sabar hingga berita selesai dan sesudah itu saya malah jadi kepikiran sendiri. Mungkin ini salah satu dampak buruk nonton berita.

Ya, saya jadi berpikir aneh sendiri. Benar-benar menakjubkan ini orang. Demi harga diri, menanggung rasa malu yang tidak tertahankan, ia lebih memilih menamatkan riwayatnya. Padahal belum juga skandal itu terbukti, masih tuduhan! Bagaimana? Terpikir sesuatu? Hahaha… saya tebak ya, tentang rasa malu dan harga diri koruptor Indonesia? Benar tidak? :mrgreen:

Hmm…Ditempat kita selain rasa malu (dan tentu saja moral) yang masih bermasalah, faktor pendukung lainnya adalah lemahnya supremasi hukum. Banyak kasus korupsi yang terlantar dan tidak jelas ujungnya. Jadinya hukum di Indonesia dirasa cukup lumayan `nyaman`  untuk korupsi. 😦

Btw, dari artikel yang ditulis Dhoni Handoko, salah seorang pengamat, ada lucu-lucuan nih. Mengenai tindakan yang diambil kaisar China terhadap koruptor di negerinya. Kaisar yang memerintah pada masa dinasti itu, menetapkan hukuman bagi para koruptor. Selain hukuman badan (apa dicambuk ya? Atau yang pembuatan peti mati itu? -kurang jelas- ), koruptor harus membayar denda sebuah batu bata besar kepada pemerintah. Pada masa akhir kekaisarannya, berdirilah tembok China sepanjang 13.000 mil itu. 😆

Lalu di tempat kita? Hmm… katanya, meskipun supremasi hokum di Indonesia dapat diterapkan sehebat-hebatnya, ditambah hukuman membayar denda batu bata besar, koruptor di Indonesia tidak akan mampu membangun tembok 1 mil panjangnya. 😆

Errrr… balik lagi ke kasus korupsi di Jepang. :mrgreen:
Jadi? Iya, dengan kejadian pada 28 Mei lalu ini, nampak juga bahwa Jepang pun punya masalah penyalahgunaan kekuasaan seperti yang kita punya. Di Jepang pun ada korupsi. Tapi rasa malu saat korupsi itu terungkap masih begitu besar. Salah satu buktinya bisa kita dapatkan dengan melihat kasus Matsuoka ini. 😉

Lalu bagaimana dengan negeri kita? Ah, bukan maksud saya dengan pertanyaan `standar` itu, mengisyaratkan bahwa sesekali ingin dengar berita bunuh diri dari pejabat yg tertuduh korupsi kok.  😛  *mengerikan*  Tapi heran saja, memberantas korupsi ini di tempat kita kok rasanya tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan ya. Satu kasus korupsi sedang diusut, tiba-tiba muncul lagi dua, tiga dan seterusnya kasus baru. Lalu ada isu penyuapan lagi pada kasus yang sedang diusut. Dan seterusnya… Lalu…? *tertawa getir*

Kasus korupsi Matsuoka di Jepang itu, selesai dengan ending tragis begitu. Kasus-kasus korupsi di Indonesia belum punya ending. Entahlah. (tidak bertanggung jawabkah jawaban macam ini? ). Entah ending seperti apa yang cocok buat masalah korupsi di Indonesia.


Bicara masalah bunuh diri di Jepang. Ini merupakan polemik besar bagi Jepang sendiri. Jepang terkenal dengan angka bunuh diri tertinggi dunia. Survey tahun 2006 menunjukkan bahwa setiap tahunnya angka bunuh diri mencapai 30.000-an. Mengerikan ya? Hmm itulah faktanya. Ini sudah masuk masalah lainnya sih. Dan terkait hal ini, di tahun 2006, di Jepang sudah ada Undang-Undang Anti Bunuh Diri, yang concern lebih ke tindakan preventifnya yaitu pelayanan konsultasi mental yang harus wajib ada di tiap perusahaan dan kantor.

FYI, salah satu site wisata di Fukui, namanya Toujinbou, laut dengan tepian karang yang cukup terkenal pamornya ini dulunya sering digunakan sebagai tempat jisatsu (bunuh diri). Halaah… aneh-aneh saja. Tapi katanya sampai sekarang masih ada kejadian sih. Salah seorang student asal Malaisya pernah lagi main kesana, di karang-karangnya itu, tiba-tiba  di depan sana, agak menjorok ke tepi karang, ada yang terjun. Blash!! Kelanjutannya? Saya tidak tahu. Bunuh diri, itu cukup menjelaskan, Agaknya. :mrgreen:

Read Full Post »

Menunaikan Janji ^^

Ahem. Iya nih, mau menepati janji dulu yang sempat saya bilang tempo hari.  Jadi ini dia beberapa hasil skrinsyutnya. Maaf enggak banyak dan mungkin kurang representatif dengan keadaaan nyatanya, but I`ve tried my best :mrgreen:

Seperti yang pernah saya dongengkan (halaah) kemarin itu pada 16 Juni lalu, pendakian Mt. Arashimadake  dengan ketinggiannya 1523,5 m ini masih dalam wilayah Fukui prefecture. Disebut juga sebagai Ono-Fuji.  Karena bentuknya yang kaya piramid  keren, rada mirip sama saudara sepupunya, gunung Fuji 😆

arashimadake.jpg

Penampakan Arashimadake ini diambil dari sini

Sedangkan beberapa penampakan di bawah berikut ini hasil tangkapan saya, sang fotografer amatiran 😛 . 

Here goes…

starting point

1. Starting point… Yang nampak di kejauhan itu Mt. Arashimadake-nya.

p1040257.jpg

2. Masih di kakinya ^^;

p1040259.jpg

3. Hijau sepenuh mata…  \^o^/

p1040276.jpg

4. Salah satu bagian dalam, menuju puncak  ^^;

puncak Haku-san

5. Tetangga Arashimadake, Mt. Hakusan (2.702 m), masih ada salju bersisa…

p1040275.jpg

6.  Masih wajah Hakusan yang diambil dari atas Arashimadake ^^;

Yap, janji sudah dipenuhi, maafkan agak sedikit terlambat.

Ah iya, kan saya sempat bilang bahwa acara hiking ini akan cukup sekali saja dalam hidup saya (halaah), tiba-tiba pas kemarin itu ketemu dengan sensei yang sama, saya diajak lagi untuk pendakian ke Hakusan 20-21 Agustus nanti. Whohoho… Lalu? Hmm… final decision, biar Arashimadake tetap jadi yang pertama dan yang terakhir saja 😉

Read Full Post »

Weekend kemarin akan jadi cerita sejarah yang mungkin akan dengan senang hati dijadikan dongeng buat anak dan cucu nanti. (Mhuahahaha… lagi stress). Dorongan melakukan kegiatan ini adalah rasa penasaran sekaligus menyalurkan emosi negatif, tegang dan perasaan terbeban yang numpuk (halaah).

Lalu apa yang saya lakukan di Sabtu Minggu kemarin rupanya? Bersih-bersih rumah? Ngerjain tugas? Main Badminton? Belanja? Ahh… bukan salah satu dari itu. Baiklah, kita mulai dari hari Sabtunya. Kegiatan di Sabtu   kemarin benar-benar  sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Yama ni nobotta! Hiking? Iya… Hiking!!

Tidak dalam rangka apapun. Tercetus di akhir Mei lalu saat di kelas lagi bahas-bahas orang gunung. Lalu tentu saja Fuji-san yang terkenal itu. Jadi disusunlah rencana pendakian itu. Diputuskan untuk melakukannya pada Weekend, dipilihlah hari Sabtu, 16 Juni kemarin dan gunung dijadikan tujuan masih dalam wilayah Fukui, Arashimadake. Sehari sebelum hari H, saat pertemuan di kelas, rencana pendakian ini sempat terancam batal jika cuaca di hari Sabtu nanti tidak mendukung. Hujan adalah faktor utamanya. Jika hujan turun otomatis kami tidak akan berangkat. Berbahaya karena lereng gunung ini terkenal cukup curam dan pendakiannya terkenal sulit.

Sore hari Jumat, Anya (tetangga kamar) bilang kalau ramalan cuaca pada hari Sabtu tepat seperti yang diharapkan. Mudah-mudahan saja akan begitu nantinya. Dan benar, Sabtu pagi, matahari bersinar cukup cerah. Start dari asrama pukul 8 pagi dengan peserta 7 orang termasuk sensei. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dengan mobil untuk sampai ke gunung itu. Setelah siap-siap perlengkapan, pendakian mulai pada pukul 09.45 waktu setempat.

Eh, ada beberapa yang unik. Di titik start itu ada box yang mirip box telepon umum. Disana kita menuliskan nama, umur, no. HP, instansi, dan alamat. Jadi setiap peserta wajib mengisi daftar itu demikian juga setelah kembali nanti. Jadi, kalau ada peserta yang menemui masalah selama pendakian atau terlambat kembali, akan mudah dilakukannya pencarian dan pengiriman Tim SAR. Saya tidak tahu apakah hal serupa juga diterapkan di Indonesia, karena memang belum pernah ikut klub Pencinta Alam atau sejenisnya sebelumnya.

Lalu? Hmm… ada peralatan unik yang bagi saya aneh. Bel. Aah, lonceng lebih tepatnya. Kata sensei, dua hal yang berbahaya di gunung-gunung Jepang adalah beruang (kuma) dan ular. Ular bagi saya, di gunung Indonesia pun sama halnya kan? Lha ini beruang! Ampuun…seramnya. Maka itulah fungi loncengnya. Dengan bunyi lonceng itu, beruang tidak akan mendekat dan akan memilih jalan lain, karena sebenarnya beruang juga tidak suka bertemu manusia. Saya takut? Jelaslah, kebayang gak ketemu dengan sosok 2 meter atau lebih itu lalu dikoyak moyak? (T_T) tragis bukan? Kata teman saya yang tidak ikut pendakian ini, “If you meet kuma, just run as fast as you can, you don`t need to believe that bel!” Wajahnya tegang dan tendensi kalimatnya itu…
Mhuahahaa… iyalah… Mana mau tunggu kompromi dengan beruang??

Dan pendakian itu benar-benar menyenangkan adanya. Saya ketemu ular yang besar dan panjang, sayangnya hanya saya dan teman saya yang melihatnya, tidak terjadi aksi pembunuhan. Kami tidak seberani itu :P. Ularnya pun hanya melintas saja. Hufff…

Pendakian ini begitu melelahkan dan tentu saja menyenangkan. Dapat dibayangkan bagaimana? Hmm… Biasanya bernafas di antara gedung-gedung dan bangunan tinggi. Mendengarkan suara lalu lalang mobil dan motor, suara kereta api yang melintas setiap hari di rel tepat di samping asrama setiap 10 dan 40 menit sekali, lonceng di pagi buta dan di awal malam dari Otera (kuil) yang agak jauh dari asrama tapi tetap terdengar setiap harinya, juga suara anak-anak yang bermain di taman depan asrama pada sore hari, musik keras dan pesta dansa dansi yang dibuat di loby bawah pada waktu-waktu tertentu… Bosan. Suntuk. Sumpek (Apalagi? 😛 )

Lalu Sabtu kemarin itu, pohon-pohon hijau di sepenuh mata. Udara segar yang dengan rakus kami hirup penuh-penuh. Bau hutan yang lembab, bau tanah yang becek dan kadang sedikit berlumpur, suara binatang hutan, serangga yang merayap di tanah bergerombol… gemerisik daun-daun, juga puncak Haku-san, tetangganya Arashimadake ini yang terlihat di seberang, yang masih tertutup salju. Kereeen. Indah banget. Kelegaan pertama tentu saja saat tiba dengan selamat di puncak. Arashimadake dengan ketinggian 1.523,5 meter ini termasuk dalam deretan hyaku meizan (100 gunung terkenal di Jepang), dan pendakiannya dikenal dengan tingkat sulit yang lumayan. Curamnya memang tajam. Jadi kebayanglah saya yang dengan kerennya melakukan pendakian ini. Whohoho… keren? Enggak ding, Sangat tidak tepat memakai istilah itu. Habisnya banyakan tersengal-sengal dan kelelahannya itu seperti menghisap semua cairan tubuh (halaah). Ah, yang jelas hal menyenangkan yang didapat cukup imbang.

Tiba dipuncak dalam pukul 01.54. Kimochi ii… (nyamannyaa…). Benar-benar tidak ada apa-apanya kita dibanding ciptaan-Nya yang penuh seni itu. Saya jadi tambah mengkeret. Apalagi saat melihat hijau di sekeliling bawah… Salju yang sedikit tertutup kabut di seberang, angin puncak yang berbeda, tekanan udara yang berbeda, dan…langit. Iya, langit terasa begitu dekat (paling gak dibanding yang biasa dilihat). Awannya seperti jalaran yang begitu tergesa-gesa, rasanya seperti mendengar gemuruh kalau membayangkan bagaimana dia bergerak. Keren. Tak tertandingi. Hmm… saya kurang perbendaharaan kata-kata bagus. Yang jelas saya mau bilang kalau itu benar-benar mencengangkan. Takjub, dan senang bisa melihatnya langsung. Pertama dalam hidup!!

Makan siang di puncak sama-sama, tentu saja dengan bekal yang dibawa masing-masing. Tapi lebih banyak makan bekal dari sensei :P. Ransel sensei kami itu penuh buah. Ampuun. Beliau itu yang paling tua, 55 tahun lebih udah usianya, paling cepat di antara kami, paling ceria, paling kuat, dan selalu sampai lebih dulu. Ckckck… sensei ini benar-benar mengagumkan.

Oh ya, kami juga mengambil apapun yang bisa diambil. Tentu saja tanpa melanggar kode etik, “Ambillah apapun, gambarnya saja”. Perjalanan kembali ke bawah pada pukul 02.20 waktu setempat dan sampai di kaki gunungnya memakan waktu 3 jam. Oh ya, yang lucunya, pas kami awal-awal mendaki, kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sudah turun, ada yang mendaki pada awal hari. Mereka itu para obaachan dan ojiichan (nenek dan kakek) yang usianya rata-rata ditaksir di atas 50 tahun. 😯 Iya,kami kaget-kaget, malu juga. Soalnya baru awal mendaki tapi udah mulai kelelahan dan itu nampak banget. Mhuahaha… yang muda aja kalah sama yang tua. Sehat banget ya mereka…

Jadi begitulah, lega kali begitu bisa sampai di bawah kembali. Dalam perjalanan balik itu saya mulai seperti kehabisan energi soalnya. Penatnya. Hingga untuk menyalurkan emosi negatif, saya menceracau dalam bahasa Indonesia, jadi enggak ada yang paham saya bicara apa :P. Habisnya itu benar-benar melelahkan sih. Detik-detik terakhir di perjalanan pulang itu, enggak ada pohon, cuma ilalang, dan jalan menuju ke bawah itu kerikil campur cadas-cadas besar. Panas, gerah, air minum habis. Bleh… perjuangan berat. Sempat terpikir untuk berguling-guling saja saking gak kuat lagi jalan. Pulang balik itu SEPULUH kilometer saudara-saudara. Dan saya baru pertama sekali melakukannya. Saya juga tidak melakukan latihan jalan sebelum-sebelumnya. Dan saya juga bukan atlit lari jarak jauh yang terbiasa dengan kekuatan tungkai yang terlatih rutin. Bukan. Maka makum saja dalam perjalanan pulang di mobil, saya lebih banyak diam dan .. tidur! :P. Tiba di rumah? WHohoho… rating tidur paling cepat dalam kurun waktu belakangan ini. Pukul 10 kurang udah ga sadar lagi. Terkapar dengan sukses. T_T.

Hari Minggunya jadi batal keluar rumah. Beres-beres seadanya saja dan menyembuhkan pegal-pegal yang mulai menjajah… 😛

Ah, anyway, saya senang kok dengan pendakiannya. I was so tired (kalau gak mau dibilang it was tiring 😛 ) but i was so exciting. Ureshikatta yo ^^;. Saya masuk Top Five saat tiba di puncak dan Top Four (halaah) saat tiba di bawah, dari 7 orang total peserta. Hiyahaha.. That was not too bad, i think :P, deshou?  Sekali lagi, cukup imbanglah dengan kepenatan yang saya dapat. ^_^

Oh ya, mau tahu apa isi ceracau saya dalam Bahasa Indonesia sewaktu dalam perjalanan balik ke bawah?
-Ya Tuhan, kenapa perjalanan balik ini jadi terasa lebih panjang dan begitu melelahkan. Aku menyukai pendakian hari ini, tapi aku janji, ini yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku. Cukuplah sekali ini saja-

Dou? Ganbatta deshou? :mrgreen:

Hmm… Agustus nanti pendakian ke Fuji-san mulai dibuka, saya mau sih ikut kalau ada yang rencana hiking, tapi dengan bus aja… 😛

Ps : skrinsyut menyusul Insya Allah, masih tersebar di beberapa penjuru soalnya 😛

 

 

Read Full Post »

 Ah, memang sudah jelas itu dua hal yang tidak bisa disamakan. Total bertabrakan hukum pengerjaannya. Sake termasuk dalam list minuman yang dilarang untuk muslim. Mencicipinya walau hanya setetes, hukumnya sudah jelas bermuara ke mana, haram. Lalu poligami? Ada nash-nya dalam Al Qur an (An-Nisaa : 3). Poligami diperbolehkan dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu. Anjuran? hmm… beberapa menafsirkannya seperti rukhsah (keringanan), semacam pintu exit bagi kemudaratan. Oleh karena itu sudah pasti ini dua hal yang bertabrakan. Lalu kenapa klausa di judul itu jadi begitu? Hmm… tunggu dulu, itu benar ada dan diucapkan seseorang.

Silahkan baca kejadian nonfiktif berikut. Ini akan sedikit panjang. Sungguh. Sebenarnya agak sulit juga bagi saya untuk menuliskannya, tapi semoga saja semangat untuk berbagi lebih kentara daripada kesan berani bicara tanpa ilmu. 😉

Jaa… hajimemashou ka? *gaya pesulap Jepang*

Awal kejadiannya di beberapa waktu lalu, seperti biasa kalau ada yang mau wisudaan, atau menyambut tahun baru atau ada anak baru masuk Lab, akan ada yang namanya nomikai (pergi minum), yang itu juga berarti acara minum bersama, mabuk bersama, makan sama-sama antara dosen dan para mahasiswanya. Seperti yang disebutkan tadi, ini kisah nonfiktif, para pelaku yang terlibat saat kejadian masih hidup semuanya, dan yang menceritakannya termasuk salah satu saksi mata sekaligus peserta aktif disana 😀

Yang dipilih adalah kedai tradisional Jepang yang letaknya tidak jauh dari kampus dan ternyata begitu dekat dengan tempat tinggal saya. Kedainya walaupun tidak begitu besar namun terasa nyaman. Gerombolan kami menempati tempat yang sudah dipesan sebelumnya, di bagian lesehan. Jadi dengan 2 meja panjang dan alas duduk, terpisah jadi dua grup. Saya dan dua gadis teman saya asal Malaysia dipersilahkan duduk semeja dengan dua orang sensei dan seorang laboran yang bertugas di  lab Quantum Electronics Research (QER) itu. Mahasiswa perempuan di lab QER hanya kami bertiga saat itu. (sekarang mereka telah menyelesaikan belajarnya dan pulang ke negerinya).

Baik, lanjut lagi ke meja makannya. Ada beberapa kejadian “andalah pusat perhatian” yang kemudian terjadi. Pertama, dimulai saat order menu. Hanya kami yang ditanyakan mau minum apa. Yang lainnya ternyata akan pesan bir yang seragam.  Dua teman saya pilih kora (cola) sedangkan saya tentu saja minuman orange kesukaan saya yang sulit  tergantikan oleh apapun… hatta oleh bir paling mahal sekalipun . Ah, sebenarnya itu juga alternatif yang mudah ditemukan kalau minum atau makan di luar, bebas dari keraguan ketidakhalalan. Anak-anak yang lain menatap dengan penuh perhatian layaknya menyimak jawaban ujian yang diberikan dosen saja. Beberapa mengangguk-angguk saat diberitahu bahwa kami tidak minum sake atau bir atau minuman beralkohol lainnya. Beberapa tersenyum saja, agaknya mereka sudah tahu sebelumnya.

Setelah bersulang, “Campaign!!”, kejadian “andalah pusat perhatian” yang kedua kalinya terjadi saat menu makanan set kolektif dibawakan. Semua memandang (lagi-lagi) dengan penuh perhatian saat Sensei bilang “Ini gak papa kan ya?” sambil menunjuk nampan Sashimi  diletakkan di depan kami. “Ini juga bukan daging lho, ikan yang dimasak”, tunjuknya ke piring lainnya. Kami mengiyakan dengan anggukan, “Thanks” plus senyum. Lalu salah satu dari mereka menjelaskan kalau kami tidak boleh makan daging yang tidak halal disamping tentu saja buta niku (daging babi) yang sudah jelas-jelas dilarang.Beberapa ada yang terkaget-kaget gitu, ada juga yang mesem-mesem aja…. huff…

Di sela-sela makan, sambil menunggu makanan selanjutnya datang, beberapa mulai menambah minuman birnya, juga sensei. Malah sensei pembimbing riset saya lumayan “kuat” kalau soal minum. Katanya sanggup bertahan untuk tidak mabuk walaupun sudah bergelas-gelas begitu minumnya. Bleh… heran juga sih. Sensei satu lagi cuma dua gelas setelah itu malah sama-sama minum orange seperti saya.

Lalu perbincangan seputar bagaimana rasanya tinggal di negeri orang, jauh dari orang tua, mampir ke kami. Apalagi anak perempuan, sulit tidak atau bagaimana? Bagaimana hidup di lingkungan yang kulturnya berbeda, ada masalah dengan keleluasaan beribadah atau tidak? Hingga ke kerudung yang kami pakai. Apakah semua wanita di Indonesia dan Malaysia yang muslimnya memakai kerudung seperti kami? Apakah ada pemaksaan jika ada yang tidak memakainya? … dan seterusnya. Oh iya, pertanyaannya dalam bahasa yang halus kok, dan saya menuliskannya inti pertanyaannya saja. Percayalah mereka akan hati-hati sekali dalam mengajukan pertanyaan, tidak seradak seruduk menerobos sensitifitas orang lain. 😉

Hingga kemudian…

“Oh ya, saya dengar, di Indonesia boleh menikahi lebih dari satu istri ya? Apa benar begitu?”, sensei yang duduk paling ujung dekat dinding, pembimbing riset saya, tiba-tiba seperti “membanting” kesadaran  dengan keras. Heeee??? wacana poligami nih… Dooh… saat itu (bahkan sampai sekarang kan ya?) tema poligami yang mengundang pro kontra sedang maraknya dibicarakan, mulai dari media elektronik, surat kabar, internet (blogosphere), lalu disini juga?!? Ya ampun. populer benar isu satu ini… hmm…. harus hati-hati nih ngasi penjelasan…

“Eh, iya sih, tapi bukan semua kok, itu cuma buat muslim aja…” Jawaban pertama dari saya. Sensei yang berada di depan saya seperti terperanjat. Heh… kayanya baru pertama tahu nih sensei…

“Heee….? Benar ya? Berarti muslim di Malaysia juga? Yang di Arab juga ya???”. Tampaknya sensei satu ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dua teman saya yang ditanya mengangguk mengiyakan. “Iya, tapi memang cuma bagi muslim saja ….”

“Waaah, minum sake sedikit saja tidak boleh kan ya? Ini, menikah lebih dari satu dibolehkan? Hebat sekali ini!” Beliau melanjutkan keterkejutannya dengan statemen kesimpulan yang…. kacaw (menurut saya,  -_-). Tapi wajar saja sih, agak mencolok memang keadaan ini dan bagi mereka yang di luar Islam, mestinya penjelasan yang diberikan bisa “menjawab” juga sekaligus bisa meluruskan miss-persepsi yang misalnya terlanjur terjadi. Saya mulai khawatir saya tidak semampu itu untuk melakukannya…

Dosen pembimbing riset saya, Niki sensei hanya tersenyum. Agaknya tidak terlalu kaget? Hmm… mungkin. Ekspresinya agak aneh begitu, saya sampai tidak berani menafsirkan jenis perasaan apa yang diwakili oleh ekspresi wajah beliau saat itu.

Sensei yang satu lagi melanjutkan, “Jadi istrinya boleh dua ya?”, kami jawab, “Maksimalnya empat sih…”. Beliau tambah kaget, “Heee?? Empat?…”. Saya buru-buru menimpali, ” Tapi syaratnya enggak mudah kok sensei, beda sekali dengan saat pertama menikah. Ada kondisi-kondisi tertentu…”.  Teman saya juga menambahkan, “Harus punya uang banyak dan kecukupan harta untuk memastikan bahwa ia bisa mensejahterakan istri-istrinya itu… ya kan?” Dia menoleh ke saya. Lho?! Tentu saja gak cuma itu aja.

Bukan uang semata atau adil yang bagaimana yang jadi pertimbangannya kan? Jadilah akhirnya kami menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dengan dibarengi diskusi-diskusi kecil di antara kami bertiga. Kami berusaha menjelaskan dengan hati-hati dan memilih-milih bahasa yang tepat. Menjelaskan perihal agama, ibadah, keyakinan, larangan dan perintah, dalam bahasa sendiri saja menuntut penjelasan yang baik dan bahasa yang tepat, dan kehati-hatian dalam menyampaikan, apalagi dalam bahasa asing begini? Berraaat…

Kurang lebih kami mencoba menjelaskan, bahwa bukan hanya harta yang menjadi tolak ukur seseorang akhirnya berpoligami. Fenomena yang disampaikan teman saya tadi, biasanya lelaki setelah punya uang banyak dan hidup berkecukupan akan berpikir untuk menambah istri adalah fakta yang juga tidak bisa disangkal, pikir saya.Walaupun tentu saja tidak bisa digeneralisir bahwa akhirnya yang melakukan poligami selalunya orang yang punya kecukupan harta. Disini dituntut kemampuan berlaku adil, baik secara lahiriah maupun non lahiriah. Jangan sampai setelah bertambahnya `tim kerja` dalam kehidupan rumah tangga, keharmonisan di dalamnya seperti terbang entah kemana. Dan setelah dirunut kembali, tidak ada aturan per point, syarat baku perihal poligami ini. Malah terkadang keputusan subjektif dari pihak suami misalnya, menganggap kondisinya perlu berpoligami dengan alasan-alasan tertentu, dengan mudah bisa melakukan poligami ini. Hhh… saat itu saya mengeluh dalam hati, harusnya saya harus siap diri lebih banyak untuk hal-hal seperti ini. Salah-salah menjelaskan, bisa saja Islam tambah tercitrakan negatif, mengingat sekarang ini pun, imej Islam terlanjur dikait-kaitkan dengan hal negatif. Karena bukan berarti dengan adanya dalil tentang poligami dalam Al Quran, Islam memberi kebebasan sebesar-besarnya pada para suami untuk menambah istri, secara pada ayat yang sama dijelaskan, jika tidak mampu berlaku adil, cukuplah seorang saja.

Lalu sensei menanyakan berapa kira-kira persentase laki-laki muslim yang melakukan poligami di Indonesia, lalu di Malaysia… Bisa ditebak, kami tidak bisa menjawab dengan data konkrit. Sedikit, itu jawab saya. Begitu juga di Malaysia, tidak banyak, kata teman saya. Benar kan? (duh, jangan-jangan salah lagi nih jawabannya, tidak banyak kan yang melakukan poligami?). Lelaki yang melakukan poligami memang tidak dalam jumlah besar tapi mulai jadi fenomenal, terlebih lagi akhir-akhir ini. Hingga kemudian wacana poligami ini jadi sedemikian marak diperbincangkan, mengundang pro kontra yang tidak ada habisnya.

Pertanyaan selanjutnya masih seputar itu. Bagaimana dengan keluarga kami sendiri? Ketiga kami dengan cepat dan dengan ekspresi yang hampir senada menjawab, bahwa ayah hanya punya seorang saja, yaitu ibu kami. ^_^ . Lalu ketegangan di antara kami bertiga (dalam hati) mulai berangsur-angsur kembali ke titik nol setelah pertanyaan satu ini. “Yokatta” ujar sensei dibarengi senyum lebar, mengikuti senyum kami yang terkembang setelah menjawab tadi. Lalu perbincangan berlanjut ke hal-hal lain, yang jauh lebih ringan daripada wacana poligami ini. Thanks God.

Sampai sekarang pun sebenarnya saya masih menyimpan kekhawatiran  tentang penjelasan kami masalah poligami ini. Bayangkan sajalah, yang menjelaskannya orang yang punya wawasan yang baik, bahasa yang bagus, tetap saja ada ada pro kontra dan sikap tidak bersahabat, apalagi kami-kami ini yang berusaha menjelaskan sejauh yang kami paham dan kapasitas ilmu yang begini ini. (-_-). Benar-benar berat bukan?

Terus, kalau giliran kami yang dipoligami bagaimana? Whahaha… itu bukan pertanyaan selanjutnya dari sensei kok, itu diskusi intern kami bertiga akhirnya. Ah, padahal sedikit lagi kan hampir nyambung kesana, kenapa sensei tidak menanyakannya saja ya? Untuk menjaga perasaan kami? Hmm… boleh jadi.

Kalau boleh bilang, sebenarnya bukan poligaminya yang bermasalah. Lalu kenapa sampai saat ini tetap saja ada yang mengecam atau bahkan mendukung tindakan ini? Saya melihatnya hal ini lebih kepada personalnya dan lebih kepada bagaimana masyarakat memandang adab berpoligaminya sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat begitu sensitif dengan hal ini karena fenomena sosial yang mereka dapati kehidupan rumah tangga poligami pada kebanyakannya jauh dari kesan rumah tangga nabawi dulu. Rasul dulu melakukan poligami, malah lebih dari empat istri. Tapi ketika dirunut kembali, beliau melakukannya dengan begitu banyak tujuan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan da`wah Islam masa itu. Dan beliau melakukan poligami ini justru pada masa-masa akhir hidup beliau, setelah melewati tiga puluh tahun dari masa muda beliau.

Mengapa beliau berbesanan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi Aisyah dan Hafsah, mengapa pula beliau menikahkan putri beliau, Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, Ruqayyah lalu disusul Ummu Kulsum dengan Usman bin Affan, mengisyaratkan bahwa beliau ingin benar-benar menjalin hubungan yang erat dengan empat orang tersebut, yang dikenal paling banyak berkorban untuk kepentingan Islam pada masa-masa krisis hingga akhirnya keadaan krisis ini dapat terlewati dengan selamat.

Dikatakan bahwa diantara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi ummahatul mukminin, Rasul hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam dan memadamkan kemarahna mereka terhadap Islam. Setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzum, yang satu perkampungan dengan Abu Jahal dan Khalid bin Walid, dinikahi Rasul, membuat sikap Khalid bin Walid tidak segarang sikapnya sewaktu perang Uhud. Bhakan akhirnya ia masuk Islam tak lama setelah itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Begitu pula dengan Abu Sufyan yang tidak berani menghadapi permusuhan setelah beliau menikahi putrinya, Ummu Habibah. Juga sama kejadiannya dengan Bani Al-Musthaliq dan Bani An-Nhadir, yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah beliau menikahi Juwairiyah dan Shafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan wanita yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dirinya dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan seratus keluarga dari kaumnya. Karena itu pada saat itu para sahabat berkata, “Mereka adalah para besan Rasulullah”. Tentu saja ini begitu berkesan bukan? ^^;

Jadi itu hanya sedikit gambaran bagaimana poligami Rasulullah yang menggambarkan tujuan poligami beliau. Lalu dengan fenomena poligami hari ini? Ah, pastilah pro kontra akan tetap ada. Seperti yang pernah disampaikan di salah satu mendiang blog seleb, tidak perlu sampai gontok-gontokan bahwa pendapatnya yang paling benar. Jika memang berbeda pandangan dan tidak ingin ada yang berubah dengan pandangannya masing-masing, maka sepakat saja untuk tidak sepakat, lalu sepakat pula untuk menghargai ketidaksepakatan itu.

Lalu…? Lalu…? Bagaimana pula pandangan saya pribadi perihal poligami ini? (Menghela nafas dulu  :mrgreen: )

 Ah, kalau saya yang ditanyakan  bagaimana saya memandang poligami. Hmm… biasa saja. Sejujurnya saya bukanlah orang yang anti-poligami hingga membenci mati-matian siapa saja yang melakukannya. Tidak sampai sebegitunya. Lalu saya mendukungnya? Ah… alangkah baiknya kita tidak selalu mematok dua hal sebagai kemungkinan jawaban. Jika bukan A maka mesti B. Seperti yang pernah diulas disini. Karena memang tidak baik begitu. Saya hanya merasa  lebih nyaman saja dengan fenomena lelaki yang menjalankan monogami kok 😉

-Unvaluable part-

Maka, seandainya saja suatu hari nanti, ada dialog seperti ini :

dari-anto.jpg

 

     

  😆

Dialog di atas itu hanya rekayasa dan fiktif adanya, jika ada kesamaan nama tokoh dan kejadian itu hanya kebetulan belaka. :mrgreen:

Eh, begini-begini, saya tetap salut dan menyimpan kekaguman lho, pada perempuan-perempuan yang bersedia berbagi kebahagiaan dengan yang lain meskipun itu berarti ada sedikit kebahagiaan yang hilang dari hatinya. Kalau gak ikhlas kayanya rentan banget ya dengan sedih-sedih dan penyakit hati. Kayanya saya masih belum bisa seperti mereka….

Ah, walaupun begitu, saya tetap pada pikiran saya, juga pada apa yang saya yakini bahwa penilaian Yang Maha Bijak itu selalunya unpredictable. Apalagi dengan skenarionya yang tidak tertebak oleh siapapun. Dia pasti punya penilaian sendiri saat naluri manusiawi perempuan merasakan ketidakridhaan saat diduakan. Hmm… lagipula, lelaki yang adil dan sempurna dalam tiap jejak dan kasih pada semua istrinya itu telah tiada. Kalau ada yang begitu, siapa yang menolak? Masalahnya enggak ada lagi… T_T

Ffuih… ffuih… sudah ah. Terasa subjektif ya? Saya sudah berusaha mengejawantah secara objektif  sih tapi jika kemudian terasa tidak begitu yah apa boleh buat, terkadang memang kerangka fikir dan emosi kita berpengaruh terhadap apa yang kemudian keluar dari pemikiran kita bukan?  *bela diri* :mrgreen:

 References are taken from : Syamil Qur an dan terjemahan, Shirah Nabawiyah (author : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury),  Nomikai event, March 2007

Read Full Post »

Older Posts »