Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘katarsis’ Category

Di dunia ini, sememangnya akan ada orang-orang yang diberkahi dengan kebaikan hati dan kesempurnaan yang ‘hampir’ di sana sini itu, dan ini sangat potensial memicu hati orang salah paham tanpa membutuhkan usaha yang berarti darinya, atau lebih parah lagi, dia atau mereka yang masuk golongan ini bahkan tidak tahu apa-apa.  (Juni 2012)

Lihat, jika tanpa melakukan apa-apa saja mereka sudah bisa membuat orang lain salah paham, bagaimana jika memang mereka melakukan hal-hal menjurus yang sangat rentan itu? Siapa yang mau bertanggung jawab pada sebuah keadaan akhir itu? Haha. Sepertinya jangan terlalu berbesar hati dan menumpuk harapan akan ada orang baik yang akan datang menolong memberikan bantuan yang memang diharapkan. Sulit! Karena sudah ada tipe bantuan yang kita inginkan, dan terkadang kita sendiri sudah menutup diri pada kemungkinan bantuan jenis lain, kan? Walaupun bisa saja bantuan ini terdengar lebih memungkinkan dalam mengurangi kemudaratan yang terlanjur sudah terjadi. Ah, manusia.

Sungguh memang ada kejadian yang terjadi di dunia nyata sehingga muncullah kata-kata model begitu di atas sana. Sungguh memang telah terjadi kekacauan yang belum selesai dibereskan hingga saat ini. Buntu juga kadang kalau terlalu difikirkan. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terjadi. Mau disesali? Sebenarnya terlalu rugi juga, tidak menghasilkan apapun dan jelas tidak bisa membalikkan waktu untuk mencegahnya agar tidak terjadi. Paling tidak untuk sekarang bagaimana caranya agar sedikit menolong keadaan dengan tidak terlalu memperburuknya. To soothe the pain? Who might help? You better ask yourself, my dear! haha

Saya juga sedang mengasihani diri saya sendiri mengapa jadinya seperti ini. Hal-hal yang disadari begitu terlambat, yang mungkin bahkan waktu untuk memperbaikinya hampir pasti tidak ada lagi kecuali saya mau nekad dan mengorbankan apa yang ada. Tapi kata orang, untuk kebahagiaan yang mungkin sejatinya memang akan buat saya, kenapa tidak. Tentu saja kalau memang akan benar begitu, saya akan dengan bersuka cita bergegas melakukannya, tapi bagaimana jika tidak? Ternyata kadang plin-plan dan takut berkorban itu tipis sekali batasannya?

Kali ini saya juga belajar terlalu banyak. Entah semua itu bisa saya serap dengan baik dan tidak melakukan kesalahan, karena semua terasa mendadak penuh dan menggembung. Saya juga belajar tentang hal yang tidak pernah selesai ditamatkan para manusia, tentang ketulusan. Saya belajar banyak.

Terasa sekali carut marut entry ini, nyaris seperti potongan puzzle yang terlempar ke sana kemari mencari pola susunannya. See? Saya pun malas mengurutnya satu persatu. Biar begini saja dulu. Semuanya butuh waktu, apalagi saya. Kali ini seperti hampir habis tenaga hati dan fikiran saya (owh, hampir ya?? ) cuma  gara-gara hal seperti ini. Tapi bukankah pada setiap hujan akhirnya akan berujung pada sebuah reda? Dan saya sedang menunggu hujan itu berhenti. Semoga segera dan tak lama lagi…

Iklan

Read Full Post »

Arti Kesedihan Itu

Definisikan padaku arti kesedihan itu yang sesungguhnya.

Kau tahu apa? Hanya aku yang menyimpan dan mendekapnya dalam-dalam. Membawanya berlari dan berjalan dalam gagap yang seperti tak berkesudahan.

Mungkin pekik pada langit yang riuh itu kadang tak juga sanggup meredam.

Mengapa bisa?

Tanyakan saja pada karat hati.

Well, lama tak menulis lagi, saya malah merasa mati gaya untuk nge post. Kebetulan saya menemukan file ini yang sudah berwujud sejak beberapa waktu lalu, bisa dikatakan sudah agak lama lah. Mungkin potongan kata-kata yang mencerminkan galau begitu turut menjadi representasi dari kegalauan saat menuliskannya. Sebenarnya apa ya yang terjadi pada saya saat itu. Mencoba mengingat-ngingat tapi tetap saja belum sempurna ingatan itu kembali. Jadi biar sedemikian rupa saja dulu, semoga potongan puzzle yang lain menyusul untuk melengkapi ingatan tentang apa yang terjadi saat itu. *halaah*

Read Full Post »

That Inside Thing

Untuk slogan yang sering digadang-gadang banyak orang tentang “memaafkan tanpa melupakan” atau “memaafkan berarti melupakannya sekaligus”, keduanya seperti frase tak berasa buat saya. Paling gak untuk saat ini. Entahlah, mungkin terdengar seperti curcol? biar saja lah kalau begitu.

Kalau diingat-ingat, saya agaknya bukan tipe orang yang pendendam atau yang sulit memaafkan. Tapi entah juga, ada kejadian yang membuat saya tak bisa lupa, menjadikan saya lebih banyak belajar, lebih berhati-hati, yang bermuara pada berkurangnya intensitas interaksi. Ketika diperhatikan, sebenarnya bukan disengaja untuk diperlakukan sedemikian rupa, namun terjadi begitu saja. Ketika disadari, ternyata sudah berlaku begitu.

Benar sekali jika ada yang bilang, kalau berkenaan dengan perkara hati, konflik perasaan, akan sulit menimbang-nimbang dengan batasan yang jelas. Ketika kondisi hati sedang pas, kompak dengan fikiran, semua bisa dilihat dengan objektif dan lapang. Sekali waktu kondisinya tidak begitu, terasa sekali ada hal-hal yang pada state tertentu mulai menimbulkan gonjang ganjing tak jelas, rasa enak tak enak dan hal-hal semacam itu lah. 🙂

Untuk sebuah kejadian beberapa waktu lalu yang jika suatu waktu kembali terlintas di pikiran, saya menganggap dan meyakin-yakinkan diri saya bahwa semua sudah selesai dengan baik. Tak ada yang perlu dirisaukan lagi. Tentang hal-hal seperti komunikasi atau interaksi yang tidak bisa kembali seperti dulu-dulu lagi, saya mencoba menerimanya dengan begitu adanya. Saya tidak mau lagi terlibat emosi dengan hal-hal yang membuat saya tidak nyaman tiap kali teringat kejadian ini. Sampai hari ini pun dibilang paham dengan apa yang terjadi, saya sendiri meragukannya. Dibilang tak paham, beberapa topik yang memicu hal ini terjadi sangat jelas merusak batas kenyamanan saya. Hingga kemudian, saya pun menasehati diri untuk tidak terlalu memikirkannya, bahkan lebih jauh lagi, melupakannya sebisa saya.

Ohya, ini bukan hal semacam kecenderungan perasaan laki-laki ke wanita, bukan hal-hal semacam itu. Lebih ke cara berkomunikasi dan berinteraksi seseorang itu, yang secara pribadi membuat saya tidak nyaman. Seseorang yang notabenenya adalah adik angkatan di jurusan saya ketika saya masih kuliah dulu. Berulang kali terjadi konflik-konflik kecil, yang awalnya saya anggap bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, jadi biar begitu saja, dimaafkan lalu kembali biasa. Dan lucunya, yang terjadi seterusnya adalah, tiap kali saya memaafkan kesalahan-kesalahan itu, hal-hal aneh yang dilakukannya makin bermunculan, dan tebak… makin parah. Bukannya tidak pernah dibicarakan. Pernah, bahkan beberapa kali, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Yang berujung pada hal yang mencengangkan, ketika dibicarakan bukannya makin baik tapi makin membuat saya tidak mengerti dan kesal.

Sampai pada titik ini, saya mencoba meriviu ulang hal-hal ke belakang. Hingga akhirnya terjadi hal yang cukup serius, kalau kata sahabat saya, kembali orang tersebut bikin ulah. Saya terfikir satu hal, jika saya memang tidak nyaman berinteraksi (katakanlah berteman, karena bagaimanapun, kami pernah kuliah di Jurusan yang sama) sebaiknya saya memang membatasi langkah saya dari interaksi dengannya. Karena mungkin yang menjadi masalahnya adalah, karakternya yang menurut saya agak menyebalkan tidak cocok dengan saya , dan cara interaksinya yang kurang sopan, yang menjadikan saya lebih memilih menjauh. Bukan masalah kesalahan yang dia perbuat  sekali atau dua kali. Umm, bagaimana ya menjelaskannya, sulit juga ya ternyata. :mrgreen:

Sampai saat sekarang pun, saya bersikap datar tak menentu. Tak menentu karena saya mencoba bersikap biasa, walau jauh di hati saya, saya tidak bersikap natural terhadap orang ini. Saya memilih menolak memberikan alamat blog saya ini misalnya ketika sempat ditanyakan olehnya. Saya juga memilih tidak menambahkannya di list teman di salah satu akun jejaring sosial saya. Pernah ada di list dulunya, tapi dengan sangat menyesal dan saya ingat sekali, sepertinya saya menghapusnya dengan penuh keyakinan. Berkali pun permintaan add-as-friend-nya saya abaikan. Entahlah, bukannya tidak dimaafkan, tapi berulangkali saya menjelaskan tiap kali dia mendesak penjelasan, ini pilihan saya untuk menjaga kenyamanan saya, dan saya ingin pilihan saya kali ini dihargai. Atas apapun alasannya saya belum berfikir untuk merubahnya. Jika bertemu, hanya sekedarnya saja. Sekedar yang benar-benar sekedarnya. 😐

Hingga kemudian ketika “forgiven not forgotten” digadang-gadang lagi, saya hanya bisa tersenyum, walau mungkin dalam hati. Mungkin benar juga, saya sudah memaafkan semuanya, mencoba mengikhlaskan yang pernah terjadi, melapangkan hati untuk hal-hal yang pernah begitu merong-rong kenyamanan saya, tapi entah mengapa, beberapa hal masih bisa saya ingat dengan jelas. Oh well, call me whatsoever, but yes, sometimes I remember bad thing as well as the way I keep good thing inside my mind and heart. Tapi… hei, ternyata ada perubahan terbesar dan sangat saya syukuri. Rasa tertekan tiap kali nama atau kejadian yang berhubungan dengan sosok itu disebut, sudah menguap entah kemana. Mungkin waktu memang benar sangat menolong dalam banyak hal. Bahkan ketika ada secuil perasaan menyayangkan ketika salah satu adik angkatan lainnya yang begitu mengaguminya dan kemudian menaruh hati padanya dengan alasan bahwa dia aneh dan misterius, saya bisa cukup biasa untuk kemudian bilang, “Toh tiap orang memang beda-beda”.


Read Full Post »