Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Agak khawatir sih sebenarnya, cuma lihat saja dulu. Sesuatu yang belum pernah dijalani bukan berarti akan langsung tidak berhasil atau hasilnya akan jauh dari yang diharapkan bukan?

Berawal dari telefon dari seseorang beberapa hari yang lalu, di tengah petang yang lapang dan menghabiskan waktu seharian tanpa keluar dari kamar yang selintas-lintas terasa begitu membosankan. Cerita-cerita, sapa-sapa, dan tukar kabar lalu sang penelfon mengutarakan maksudnya. Si penelfon sendiri bukan sosok tak dikenal, dia sering ke asrama jika ada acara party atau sekedar ngumpul-ngumpul anak asrama. Waktu acara makan malam Idul Adha di asrama yang disekaliankan dengan acara akhir tahun  beberapa waktu lalu, kami saling berkenalan. Nyatanya bagi saya saat itu memang langsung tertangkap  sosoknya yang cerdas dan  matang  Walaupun di perjumpaan selanjutnya kekanakan yang manis pun tetap muncul sewaktu-waktu. Serasa bertemu teman sebaya yang bisa diajak seru-seruan dan perbincangan lazimnya anak-anak seusia kami.

Jadi? Ya… jadinya dialah murid yang akan saya ajar. (Halaa, gaya nya bilang murid. Entah ibu guru seperti apa nanti penjelmaan saya 😛 )

Oh ya, dia itu bukannya mau belajar mata kuliah Kuantum atau Optik atau Laser atau sejenisnya itu. Kalaupun benar, saya pasti dengan lapang dada dan semangat juang 45 berusaha meyakinkannya bahwa saya bukanlah orang yang tepat untuk itu. Sendirinya masih begini, hendak memberi kuliah buat orang lain? Nanti-nanti tuh 😛

Fumiko, sebut saja namanya begitu. Dia akan berkunjung ke Indonesia Agustus ini, bersama beberapa teman SMU-nya, mereka ikut dalam kegiatan kemanusiaan (masih belum tahu afiliasinya ke lembaga mana) yang akan diadakan di daerah Indonesia yang terkena bencana. Masih belum tahu pula daerah mana saja yang kan mereka kunjungi. Sekalian mengisi liburan musim panas, kak, begitu katanya. Oh ya, dia satu tahun lebih muda dari saya, jadinya saya tidak bakal jadi ibu guru, kakak guru? Ganjil benar sebutannya. 

Jadi sudah jelas saya akan mengajarkan kuliah apa? Upss, pelajaran apa? Iya, Bahasa Indonesia. Seperti kebetulan saja. Kebetulan? Oh… sudah baca postingan ini tentang salah satu kekuatan Bahasa Indonesia?

Jadi mulai bulan depan saya akan mengajarkan Bahasa Indonesia pada seorang Japanese ini. Berat  agaknya, bukankah belajar Bahasa Indonesia bagi sebagian kita terkadang terasa begitu asing daripada saat berbicara Bahasa Indonesia itu sendiri? Bagaimana pula saat kita memberikan penjelasan bagi seseorang yang benar-benar asing dengan bahasa ini sendiri? Begitulah kira-kira perbandingannya.

Hufff, kalau dipikir-pikir, mungkin akan lebih mudah kayanya ya mengajarkan sesuatu pada seseorang yang memang blank tentang sesuatu itu sendiri, daripada mengajarkannya pada seseorang yang sudah paham atau advance tentang sesuatu itu. Oh tidak, ini tergantung apa yang ingin diajarkan juga sebenarnya. Coba jika ingin menjelaskan masalah Mekanika Kuantum Relativistik pada orang yang tidak pernah bersentuhan dengan Fisika Kuantum misalnya, akan banyak kesulitan-kesulitan yang akan ditemui oleh si pembelajar itu sendiri. Juga kejadian serupa berlaku pula di ilmu-ilmu yang lain.

Hmm…  bagaimana jadinya  privat ini nanti? Tidak tahu.  Maklum saja, ini pengalaman pertama mengajarkan bahasa Indonesia pada orang asing. Satu hal yang akan sangat membantu adalah gadis ini benar-benar mengagumkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Lancar dengan pronuonciation yang berbeda dari tipikal bahasa Inggris Japanese biasanya. Kagum saya nih. Emm… secara level Japanese saya memang tidak bisa diandalkan, hatta untuk ikut Noryoku Shikken level kecil sekalipun. Bisa dibayangkan mengajrkan bahasa Indonesia dengan Japanese berantakan? Alamat berantakan lah itu privatnya 😛

Satu hal lagi, ayah Fumiko adalah salah satu dosen di Universitas Fukui ini. Gyaaa.. tiba-tiba saya jadi berkeinginan kuat untuk mengenal ayahnya ini. Siapa tahu beliau salah satu sensei di fakultas saya? Who ho ho… *langsung memikirkan daftar mata kuliah parah akhir-akhir ini berikut usaha antisipasinya*

Doakan saja saya bisa jadi ibu guru yang baik. *kok masih tidak yakin ini dengan diri sendiri*.

Sehingga mulai  beberapa waktu ke depan, agenda weekend saya mulai bertambah, tidak bisa lagi seenaknya menyusun jadwal atau meng-cancel list semau saya. Ada amanah baru. Kita lihat sejauh mana komitmen saya, hu hu…

Lhaa, terkait dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini, ternyata setelah sya lihat-lihat lagi, sejak SD hingga bangku SMU saya pernah punya kesan kurang menyenangkan dengan pelajaran ini dan atau dengan gurunya.

Waktu SD, saya sering kena tegur kalau Pe-eR karangan terlalu pendek dan tidak detil, gaya penceritaannya terlalu semau saya. Lhaa padahal itu karangan bebas. Saya tidak boleh begini, tidak boleh begitu. (-_-) Harap diingat bahwa guru bahasa Indonesia ketika SD begitu ramai, tiap naik kelas berganti pula, dan ada beberapa kok yang dengan mereka saya tidak punya masalah seperti yang saya sebutkan di atas.

Waktu SLTP. Haduuh, ini mengenaskan sebenarnya. Ketika kelas satu SLTP, saya pernah saking kurang antusias dengan pelajaran satu ini, nekat baca komik selagi pelajaran berlangsung. Tentunya saya memutuskan seperti itu setelah bikin perhitungan bahwa sang Ibu Guru akan melakukan ini, menyuruh si A menjawab, si B menuliskan ke papan tulis, lalu bentuk kelompok dan begini dan begitu. Begitu tersusun dan dapat diperkirakan senantiasa. Entah mengapa, hari itu semua berjalan tidak sesuai prediksi saya. Bisa ditebak, kehancuran hipotesa saya bahwa si Ibu akan begini dan begitu dalam waktu 2 x 45 menit selama ini.

Sang ibu berjalan ke deretan meja kami dan saya yang kebetulan duduk di meja paling depan tentu saja kaget. Rasanya kesadarn saya terbanting begitu kuat. “Alarm bahaya” terlanjur tidak efektif. Sang ibu Guru datang sambil memberikan contoh penggunaan gaya bahasa Metafora (wiih, ternyata saya masih bisa mengingat satu gaya bahasa ini). Yang jadi contoh kalimatnya? Subjek kalimatnya? Saya? Anda benar!! Ayo tebak kalimatnya…

Saya kurang ingat seperti apa sih. *Bletaak*(Sok nyuruh nebak orang lain pula). Yang jelas intinya beliau “kagum” dengan saya, di kalimat itu loh. T_T

Untuk sosoknya, beliau sebenarnya ibu guru yang lembut kok, cuma hmm… metode belajarnya yang terkadang menurut saya begitu monoton dan kurang variatif.  Selanjutnya di kelas dua dan kelas tiga tidak ada masalah seputar pelajaran ini, selain saya yang keteter menghafal begitu banyak karya sastra, pujangga, demonstrasi deklamasi puisi,  mementaskan drama, dan tentu saja karangan yang seperti tidak ada habisnya. Oh ya, guru bahasa kelas tiga saya teramat sangat teliti dan begitu sensitif dengan tanda baca, cara penulisan dan hal-hal kecil lainnya. Gaya tulisan dengan huruf kapital tidak pada tempatnya, menyingkat kata ulang dengan simbol angka dan coretan cantik lainnya sungguh tidak diperkenankan. Juga kemampuan beliau menganalisa kalimat dan karangan kami. Mengerikan, mengagumkan. Ah, di satu sisi sejujurnya saya tetap mengagumi kelebihan beliau ini. Benar-benar terasa dan penting sekali terlebih saat mengikuti Ujian Akhir… *memaksakan diri untuk sadar*

Nah, sekarang giliran di SMU? Ada kesan kecewa yang saya catat sampai hari ini, Eh, bukan dendam loh. Sama sekali bukan. Penyebabnya mungkin bagi sebagian orang akan terlihat begitu sepele, tapi bagi saya saat itu berat sekali rasanya untuk mengikhlaskan. 

Ceritanya kami sekelas diberi tugas membuat cerpen, dengan jumlah lembar minimal dibatasi. Lupa saya tepatnya berapa. Yang jelas saya menjadi satu-satunya yang menyerahkan tugas karangan itu terakhir, telat seminggu. Sudah minta ijin memang sebelumnya ke beliau karena waktu itu ikut Tim Olimpiade sekolah ke luar kota. Bayangkan karena obsesi saya yang begitu besar untuk menyelesaikan cerpen besutan saya sendiri, saya masih utak-atik ending ceritanya hingga larut malam sebelum tidur di asrama tempat perlombaan itu dilangsungkan.

Jadi pada hari itu masuk sekolah seperti biasa, dan tiba jam pelajaran bahasa Indonesia itu, saya serahkan lah cerita karangan saya, sambil minta maaf atas keterlambatan mengumpulkannya. Karena hanya satu-satunya, cerita saya itu langsung dibaca saat itu juga. Saya senyum-senyum dengan perasaan tidak karuan, menunggu reaksi beliau selanjutnya. Maka selanjutnya…

” Ini kamu ambil dari mana? cerita saduran bukan?”

Eh?? kaget bukan main saat kalimat itu meluncur datar dari  sang Ibu Guru. Crashh!!! Kurang dari sepuluh menit setelah cerpen itu di tangan beliau, pertanyaan itu seperti membunuhi keriangan saya hari itu. Oh ya, kebetulan pula hari itu, bertepatan dengan hari lahir saya, dan teman-teman sekelas dengan gaya usil anak SMu baru saja sukses mengerjai saya. Rupanya perasaan senang itu tamat sudah di jam terakhir sekolah hari itu. Semua terdiam dan menatap saya.

” Saya tulis sendiri kok Bu”,Bela saya.

“Settingnya kok Jepang? Seperti cerita saduran saja…”

Selanjutnya saya menjelaskan ke beliau. Tidak ada tanggapan berarti. Agaknya beliau yakin sekali, saya tidak menulis cerita itu. Saya mencomot cerita itu entah darimana. Padahal hanya karena settingnya bukan Indonesia. Saya sempat dipanggil ke kantor beliau, disana penjelasan saya melebar. Agaknya memang serius mengingat ini termsuk salah satu tugas yang mempengaruhi nilai kenaikan kelas. Beliau terima penjelasan saya setelah saya bersikeras menjelaskan alur, penokohan sampai konflik cerita. Ampuun deh. Tragisnya, hingga ke akhirnya tidak ada kata minta maaf dari beliau. Mungkin beliau menganggap ini masalah sepele saja barangkali ya? Nilai saya juga biasa saja tuh, tidak lebih baik dari semester sebelumnya, he he… Bahasa Indonesia saya memang standar banget. Sampai sekarang pun kalau lihat file cerpen itu, bisa ditebak kalau saya langsung terbayang kejadian ini. Payah ah untuk dilupakan. Sedangkan di kelas tiga, guru bahasa Indonesia saya begitu menyenangkan, walaupun tetap saja nilai saya di pelajaran ini tidak meningkat terlalu signifikan. Paling tidak perasaan saya jauh lebih nyaman saat mengikuti pelajarannya.

*balik lagi ke masa sekarang*

Giliran saya yang mengajarkan bahasa Indonesia ini. Mudah-mudahan bisa jadi ibu guru yang baik, hi hi…

Bahasa Indonesia itu penting memang, kemampuan berbahasa saat menggunakannya juga penting, pernah saya hampir bermasalah gara-gara penulisan bahasa Indonesia ini, hu hu… Hati-hati ya kalau berbahasa Indonesia… baik lisan maupun tulisan…

*lihat ke atas*

Wah,  sudah panjang.  Gomen… gomen… sampai lupa diri ini.

Read Full Post »

Apa yang salah dengan sebuah negeri bernama Indonesia? Alamnya diberkahi dengan banyak kandungan berharga. Namun tatap mata tidak sejahtera dan terluka tetap saja ada. Terus bergelayut disana. Apa yang salah dengan negeri ini?

Ia memang masih negeri berkembang. Tapi mengapa begitu sulit merangkak menaikkan taraf hidup warganya? Ah… tentu bukan salah negaranya. Lalu orangnyakah? Mungkin kurang lebih begitulah. Harus mau mengakui. orang-orang yang hidup di negeri itu yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi disana tentunya.

Kalau ditanya apa yang pertama sekali harus dilakukan agar Indonesia “membaik” keadaannya? Sulit sekali rasanya menjawab pertanyaan itu. Perlu jawaban bijaksana untuk pertanyaan yang terkesan pelik sederhana. Karena rasanya setiap permasalahan memang seperti deadline yang menunggu solusi. Mulai dari segi pendidikan, ekonomi, politik, sosial…semua…semua… Dalam tiap lini kehidupan, Indonesia terlihat carut marut. Duhai, tentu bukan salah nama itu jika ia harus menyandang beberapa predikat tak baik yang didengungkan beberapa lembaga survei. Mulai dari rekor level korupsi yang tinggi di  tingkat Asia Tenggara, lalu di kawasan Asia Pasifik. Apa ini?

Juga angka kemiskinan, lalu pendidikannya. Walau bukan berarti Indonesia tak punya prestasi sama sekali. Bukan menafikan hal itu. tentu kita ingat TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang menjuarai Olimpiade Fisika Internasional kemarin lalu dengan fantastis. Tapi ini tentu kondisi riil sehari-hari dan persebaran tingkat pemenuhan kebutuhan bagi anak didik dan juga kulaitas pendidikan Indonesia yang masih jauh. Memprihatinkan.

Indonesia sungguh mempunyai potensi sebagaimana orang lain dan negaranya miliki. Orang-orang pintar dan “mengerti” kita punya. Anak didik yang giat dan cerdas pun kita ada. Belum lagi back up sumber daya alam yang melimpah-limpah, kurang apalagi?

Entahlah. Mungkin permasalahan di Indonesia terlalu complicated dan sambung menyambung. Namun seperti ada benang merah di tiap kasus yang terjadi.  Moral ! Ya. Moral-lah yang kini tak terkendali dengan baik dinegeri kita. Dekadensi moral bukan yang hingga menjadikan seseorang  dan beberapa lainnya lupa dan tega memanipulasi dana yang bukan haknya. Level moral yang rendah saat ini mendominasi tiap keadaan.  Mereka dengan tanpa malu dan dengan kesadaran penuh melakukan pemerasaan berkedok potongan atau komisi di tiap bantuan. Entahlah, sulit sekali menjelaskan fenomena yang satu ini.  Bagaimana mungkin masih mau menggelapkan dana bantuan untuk korban bencana alam misalnya. Bantuan yang jelas-jelas untuk orang yang sedang sekarat, sedang berusaha memulihkan trauma, sedang berusaha mengembalikan kesadaran dan azzam kuat untuk kembali menjalani hidup seperti semula dengan susah payah? Mereka masih mau memakan dana itu? Ah, Sulit dipercaya memang tapi seperti itulah adanya. Inilah Indonesia.

Sungguh, bukan salah nama Indonesia jika ada warga miskin yang merasa kecewa dengan apa yang terjadi. Dan terkadang mereka merasa tak ada solusi konkrit dari pemerintah. Juga bukan salah nama Indonesia jika para guru masih tak jelas nasibnya. Padahal di tangan mereka lah, negeri mempertaruhkan masa depannya. Pendidikan adalah ujung tombak melakukan pembangunan, membangun peradaban yang lebih baik. But, once again, This is Indonesia.

No doubt in it. Negeri ini masih ada dalam peradaban dunia. Selama masih ada keinginan orang-orang yang berhenti berharap selama itu pula pintu kemungkinan menuju lebih baik terbuka lebar. Negeri ini belum terlalu buruk dan hancur untuk ditangisi. Masih begitu banyak peluang yang ada untuk memperbaiki saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

Hhhh…apa ya? Saya selalunya yakin koruptor itu memang banyak di Indonesia. Orang-orang tak jujur dengan amanah yang mereka emban juga banyak dan ada dimana-mana. Orang-orang tak ikhlas bekerja juga berserakan. Orang-orang yang asal kerja dan asal bersuara juga masih banyak jumlahnya. Orang-orang dengan moralitas yang meragukan juga hidup di negeri ini, termasuk juga orang-orang yang mungkin tidak sadar mereka sedang “melubangi kapal” negeri dengan usaha mereka sehari-hari…

Sebagaimana juga yang saya yakini bahwa masih begitu banyak orang jujur hidup disini. Begitu banyak orang yang bekerja dengan bersih juga dengan dedikasi sepenuh hati. Mereka masih hidup di Indonesia. Begitu banyak guru yang bekerja membangun peradaban intelektual dengan kerja nyata dan sungguh-sungguh. Juga orang-orang yang membenci kerja tak halal dan tak jelas tersebar di seantero Indonesia. Mereka masih hidup dan senantiasa menganyam kehidupan dengan cara yang benar dan bermoral. Masih banyak orang-orang baik yang mungkin kita tak mengenalnya.  Mereka yang juga punya azzam kuat suatu saat Indonesia bisa bebas dari moralitas memprihatinkan beberapa (eee..include gak ya segitu?) warganya.

Ya, kapankah itu? Tentu tak tertebak kapan waktu itu datang. Terus berusaha dan bersiap-siap saja. Bisa jadi saatnya makin dekat. Kita ikut urun peran disana, mempercepat datangnya masa itu atau memperlambat. Dengan kebiasaan sehari-hari kita. Dengan kebersihan dalam tiap kerja kita. Dalam tiap kesungguhan usaha kita. Semuanya…Kitalah makhluk Indonesia penentu itu semua.

Read Full Post »

Saya coba bahas sedikit tentang Teknologi Nuklir Indonesia ah…Ini cuma analisa saya saja. Mencoba mengejawantah secara objektif tapi kalau nanti terasa begitu subjektif ya..maaf saja. Kan seseorang itu memang dipengaruhi oleh gaya berfikirnya sendiri…(hehe… alesann).

Heeh?!! Indonesia sudah mengembangkan Nuklir? Kerja sama bareng siapa? Udah berapa lama? Sejauh ini bagaimana perkembangannya? Adakah pihak-pihak yang tidak suka dan merasa “kecut” jika mengetahui Indonesia sudah mengembangkan Sistem Teknologi Nuklir ini?

Hmm..kurang tahu juga apa yang akan terjadi jika akhirnya Indonesia berhasil built-in Power Energy ini. Satu hal yang perlu dicatat, Iran mendukung rencana Indonesia. Tapi masih tak tahulah. Toh, November kemarin, banyak yang tak setuju dan melancarkan protes keras saat Menlu Hasssan Wirayuda mau menandatangani kerja sama bidang pengembangan Energi Nuklir dengan pihak Australia. Alasannya, masalah safety, Kondisi geologi Indonesia sangat rawan untuk membangun central energi nuklir ini. Again, entahlah… (tak bertanggung jawab kah jawaban macam ini?)

Kemarin, saya mengikuti seminar Energi Nuklir. Kebetulan dua lab di Departemen Electrical Engineering, salah satunya lab kami, kebagian jadi panitia. Pematerinya Jacques Bouchard, dari Prancis. Bouchard ini chairmannya GIF (Generation IV International Forum). Forum pengembangan teknologi nuklir yang hingga hari ini beranggotakan 13 negara. Ada Jepang disana dan ehm..tentu saja ada USA. Hih hih..gak tanggung-tanggung, ketuanya langsung yang ngasi materi. But, …hmm hmm…
Let I laugh for a while…whoa ho ho…

Mmm…bayangkanlah, semua slide presentasinya English Full, Bouchard menyampaikannya dalam bahasa Perancis dan translaternya menerjemahkan ke bahasa Jepang. Whee..wut de conference, men!!
Aneh aja sebenarnya. But let it be. Saya malah lebih tertarik menceritakan saat diskusi dengan para mahasiswa. Saya menanyakan bagaimana manajemen safety yang dilakukan oleh pemerintah Perancis sejak tahun 1985 hingga sekarang dalam proses pengembangan teknologi “mendebarkan” satu ini.
 

Tentu saya jelaskan juga, bahwa salah satu alasan kenapa banyak masyarakat di NEGARA SAYA menolak dibangunnya site untuk Power Energy ini adalah karena masalah keamanan apalagi terkait kondisi geologi Indonesia yang rawan.
 

Tanpa dinyana, dia tanya lebih dahulu dari Negara mana saya berasal, Indonesia? Wow, actually Indonesia really has a good point to develope this Nuclear Technology, like China. So many gold are there, yah…bla bla bla”
Dia juga mengurai panjang lebar bahwa tidak ada kaitan antara kondisi geologis dengan level safety utk mengembangkannya. But, ujungnya, Bouchard sempat menyinggung bahwa Indonesia lain lagi masalahnya, (hih hih..daku orang Indonesia merasa “tersentuh”) tersandung pada beberapa persoalan dalam negerinya. Salah satu yang terkait adalah manajemen sumber daya alamnya (yang melimpah) yang kurang terorganisir dengan baik. But, here we are talking about future, so why not?! Sambil tersenyum “manis” melirik ke kiri kanan stafnya. Halaa…pandai benar ini orang diskusinya…
 

Salah seorang student Malaysia yang bersebelahan dengan saya mengajukan pertanyaan yang hampir sama, memungkinkan kah apabila Malaysia berniat mengembangkan system Energi Nuklir ini? Jawabnya pun kurang lebih sama. Haiyaa…
 

But, ada hal menarik yang selanjutnya terjadi, karena salah seorang mahasiswa Master asal Syiria yang awalnya bertanya, kembali mengacungkan tangan dan mengatakan bahwa menurutnya, pertanyaannya yang pertama belum terjawab. Siapakah yang punya wewenang dalam percaturan politik dunia untuk memutuskan bahwa suatu negara boleh mengembangkan system energi ini sedangkan negara tertentu lain tak boleh? Kebijakan seperti itu siapa yang memutuskan? Tapi Bouchard tak menjawabnya dengan jelas. Kurang tahu juga kenapa. Tapi, anak Master itu terakhir diskusinya dengan saya. Katanya, bagaimana pun Bouchard akan memilih tidak menjawab pertanyaan itu secara terang-terangan. Akan ada banyak rentetan lain yang mengikuti jawaban pertanyaan itu seandainya nanti Bouchard menjelaskannya sejelas-jelasnya. Ada sesuatu? (Halaah..saya paling tidak suka konspirasi nih)
 

But, logic saja sebenarnya, diantara 13 negara yang join di generasi IV itu, Iran yang nota bene nya mmg lagi sibuk-sibuknya dalam pengembangan teknologi ini malah tak ada disana. Australia yang menggagas kerja sama Nuklir dengan Indonesia juga gak ada tuh. Anggota Generasi IV yang dibawahi Bouchard sekarang ini didalamnya ada Jepang, Prancis tentunya, USA, Inggris, Switzerland, Korea Selatan, Afrika selatan, Russia, China, Uni Eropa, Kanada, Brazil dan Argentina.
 Yup, tidak ada Indonesia. Belum?

Hee…berharap suatu saat ada nama Negara kita disana? Hmm…tidak mesti disana sebenarnya. Saya pribadi malah memang sangat ingin Indonesia mengembangkan Teknologinya. Nuklir? Yah, tidak hanya Nuklir saja. Itu sumber daya alam melimpah-limpah tapi kita hanya duduk manis dan senantiasa menganggukkan kepala bahwa kita punya banyak “simpanan”. Bahkan seorang analis Jepang menyebutkan bahwa sebenarnya, bila manajemen negeri kita baik, khususnya ttg SDA ini, warga Indonesia bisa hidup santai-santai (ongkang-ongkang kaki) hingga tujuh turunan saking kayanya negeri dengan kandungan alam.

 Well, Orang Pintar pun sebenarnya kita punya banyak. Juga orang-orang yang sadar bahwa banyak ketidakberesan yang perlu dibereskan. Jadi mungkin tinggal memikirkan cara yang tepat saja? So, bolehlah pertanyaannya selanjutnya seperti ini,
Kapan ya kita bisa berubah? Mmm..gini gini…pertanyaan ini bukan seperti menjual mimpi rapuh kok, tapi lebih kepada bahwa masih begitu besar peluang di depan kita dan banyak harapan disana. Tinggal kitanya nih, para hidup di sini untuk berbuat.
Halaaa…berteori selalunya lebih mudah daripada prakteknya. Tak apa, jalankan saja teori yang sudah ada itu sebisa kita. Karena hingga hari ini masalah kita adalah selalu “malpraktek” saat tiba di lapangan.
Oh ya, balik lagi ke Seminar Nuklir tadi, India ternyata gak ada ya di GEN IV itu. Baru nyadar saya. Padahal kan Nuklir India udah keren banget sekarang. Satu lagi, Iran tetap bersikukuh kan masalah Nuklir itu? Logis juga kenapa negeri Ahmadinejad ini tak masuk perhimpunan itu. Logis tidak?

Read Full Post »