Feeds:
Pos
Komentar

Tadaima…!

Ya ampun empunya blog ini, menelantarkan rumah sampe sebegininya. Sebelum yang lain, mohon dimaafkan atas ketidaknyamanan jika komentar-komentar atau sapaan dari teman-teman yang mampir disini dari kemarin itu ada yang tidak dijawab hingga lama. Forgive me, my bad. Dan saya berharap  postingan ini mewakili rasa penyesalan terdalam saya (jadi norak begitu) dan permohonan maaf sekaligus tanggapan atas itu semua. Mohon kelapangan maafnya. 😐
*bowing*

Kesibukan di dunia nyata terkadang benar-benar melelahkan dan menyita perhatian. Kadang bahkan sampai lupa untuk menghela nafas (yang ini asli berlebihan!). Jadinya kembali rumah kesayangan ini terbengkalai lagi beberapa waktu kemarin.

Sekarang saya sudah “pulang”. Mudah-mudahan semangat menulis ini tidak harus mengalah dengan rasa lelah, mood, kesehatan fisik yang belakangan sering drop, atau koneksi inetnya yang kita Tau-Sama-Tau, atau apalah itu, keterbatasan-keterbatasan lain yang ikut menyumbang peran. Insya Allah semoga tidak, karena saya ingin tetap terus menulis selagi saya masih bisa.

Jadi? Yah, akhirnya saya nulis lagi disini. Senangnyaa… Bahkan sampai ada yang sms, saya disuruh “ngurus” jejakpena ini lagi, kangen katanya. (hihihi). Thank you! I did it.  :mrgreen:

Sekalian saya pamit juga sebentar. Sampai dua minggu ke depan saya tidak ada di tempat. Ada acara diseminasi budaya siaga bencana Tsunami di Nagoya University dan field trip ke tiga daerah yang pernah terkena Tsunami di Jepang. Mudah-mudahan saya tetap bisa mengakses internet di sela-sela jadwal kegiatan yang tampak cukup padat. Saya akan berjuang untuk itu. hohoho. Tulisan tentang perjalanannya mungkin akan saya tulis nanti, Insya Allah. Semoga semua berjalan lancar dan sesuai perencanaan. Mohon doanya.  🙂

Karena Kita Memang Beda

“Laki-laki dan perempuan berpikir secara berbeda, memahami permasalahan secara berbeda, menekankan pentingnya segala sesuatu secara berbeda, dan mengalami dunia di sekelilingnya lewat saringan yang sangat berbeda.” (Why Men Never Remember and Women Never Forget,  By : Dr. Marianne J. Legato)

Entah kenapa saya selalu tertarik dan tidak bosan dengan topik satu ini. Tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam banyak hal. Bagaimana keselarasan dan saling melengkapi dalam membangun komitmen saat berhubungan secara personal, atau kekompakan dan bekerjasama dalam batasan professional, sampai ketidaknyambungan pada hal remeh temeh hingga perkara besar. Saya menyukai cara berpikir dan gaya diskusi serta pola analisis laki-laki dan juga mengagumi betapa sensitive dan intuitifnya kaum perempuan, pada kemampuan berempati mereka yang jauh di atas laki-laki, bagaimana mereka berbagi banyak hal dengan sesamanya, dan masih banyak lagi lah, jadi saya tulis dan lain-lain saja. :mrgreen:  

Dalam bukunya yang berjudul Why Men Never Remember and Women Never Forget ini, Marianne J. Legato mengungkapkan hal-hal baru yang terkadang memang sama sekali belum atau tidak kita ketahui terkait perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan juga menegaskan apa-apa yang mungkin sering kita dengar. Jadi, untuk kesekian kalinya, memang benarlah, karena dua jenis kelamin ini berbeda, tak heran frase `I Can`t understand girls` atau “laki-laki memang susah untuk mengerti” sering diulang bahkan kadang jadislogan. Belum-belum saya akan menganjurkan anda untuk mau membacanya, minimal seperti saya, menjadikannya teman pengantar tidur, (bukankah dengan membaca kadang bisa mendatangkan kantuk? 😛 ) atau penambah koleksi bacaan anda dan anda tak akan menyesal saat mendapati buku ini ada diantara jejeran buku lainnya di lemari buku anda, karena saya akan katakan apa adanya, buku ini memang bagus, selain tentu saja kenyataan bahwa di mata saya, entah kenapa lay-out covernya nampak agak aneh, kalau tidak mau dikatakan tidak menarik, sih. :mrgreen: . Well, kali ini saya selamat dengan mengusung pepatah jadul nan bijak, don`t judge a book from its cover. Yaiyy. :mrgreen: 

Laki-laki dan perempuan memang berbeda, tetapi memahami alasan ilmiah mengenai mengapa kita begitu tidak serupa-dan strategi yang bisa kita gunakan untuk menyingkirkan pertengkaran klasik di antara kita- memampukan kita mengatasi perbedaan itu, bijak menyikapinya dan kemudian membantu kita dalam berkomunikasi dan tentu saja itu berujung pada hasil positif, meningkatnya kualitas hubungan interaksi kita baik itu hubungan personal, keluarga juga kehidupan professional.

Mungkin kita akrab dengan keluhan perempuan bahwa laki-laki tidak pernah mendengarkan dengan baik… dan keluhan laki-laki bahwa perempuan tidak berhenti berbicara. Nyah, tentu perempuan akan berhenti berbicara jika laki-laki langsung memahami ucapannya, kan? Lalu bagaimana pula dengan frasa yang sering dilontarkan oleh kaum adam –Aku bukan pembaca pikiran?
Atau pertanyaan mengapa laki-laki tidak menanyakan arah, mengapa perempuan selaluingin membicarakan hubungan? Mengapa laki-laki tidak tidak bisa melihat bahwa ada yang menganggu perempuan, dan masih banyak hal-hal senada yang kemudian dibahas di sini namun kalau dilihat lagi, pertanyaan besar yang dijawab oleh buku Legato ini adalah Mengapa begitu sulit bagi laki-laki dan perempuan untuk saling mengerti dan apa yang bisa kita lakukan untuk bisa lebih saling mengerti.

Tentang penulisnya sendiri, Dr. Marianne J. Legato adalah professor obat klinis di Columbia University , tempat ia mendirikan dan mengetuai Partnership for Gender-Spesific Medicine (saya juga baru tahu bahwa ada obat spesifik jender) dan terlibat dalampenelitian-penelitan yang ternyata mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan memproses obat secara berbeda. Dalam dekade terakhir terjadi peningkatan minat dalam mencari tahu karaktrerisitik alami dan pentingnya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Ilmu pengetahuan baru mengenai obat spesifik jendermemberikan pemahaman yang luar biasa mengenai bagaimana jenis kelamin biologis kita mengubah cara kita bertingkah laku di dunia- dan bahkan cara kita mengalami penyakit. Kita begitu berbeda, sangat berbeda, dalam setiap system tubuh, dari kulit yang menyelimuti kita, sampai ke jantung sampai organ perut yang memproses makanan kita. Hal itu terutama terlihatpada otak, organ dengan berat 1,5 kg yang menaungi segala sesuatu yang menjadikan kita manusia : hasrat kita, pemahaman kita, penghargaan kita akan dunia yang diciptakan, dan seluruh kehidupan intelektual dan emosi kita.

Dr. Legato juga membantu menjelaskan perbedaan antara bagaimana laki-laki dan perempuan ini mendengarkan dan apa yang mereka dengar. Kemampuan laki-laki memproses bahasa dan memahami apa yang dikatakan kepada mereka mulai menghilang pada usia sekitar 35 tahun, sementara perempuan mempertahankan kemampuan ini sampai mereka mengalami menopause. Menguraikanmakna kata-kata lisan merupakan hal yang lebih mudah bagi perempuan. Pada mereka, kedua sisi otaknya terlibat dalam penguraian makna, sementara pada laki-laki, hanya sisi kiri yang terlibat dalam penguraiannya. Dan ada lebih banyak lagi perbedaan antara dua jenis kelamin ini.

Banyak komunikasi bergantung pada apa yang tidak diucapkan, yaitu ekspresi wajah dan ungkapan nonverbal lainnya. Perempuan mampu memahamirentang ekspresi wajah yang lebih beragamdengan tepat dibandingkan laki-laki, dan hal ini memberi mereka (mereka?? Hehehe ) keuntungan berempati. Perempuan juga mempunyai memori yang lebih baik atas kata-kata lisan, yang berartimereka cenderungmengingatperdebatan yang secara bijak telah lama dilupakan oleh laki-laki. (oh well) 

Namun akan salah untuk berpikir bahwa ada yang namanya otak maskulin atau otak feminine. Otak merupakan rangkaian kesatuan dengan bagian besar yang saling melengkapi di tengah-tengahnya, hal yang untungnya bisa membuat kita menjadi baik perempuan yang analitis maupun laki-laki yang sensitif. ^^ 

Entah orang lain, tapi saya yang membacanya bisa mengatakan, membaca buku ini anda seperti mendapatkan pengetahuan tentang apa yang selama ini sering membuat kita kesal dan penasaran bahkan lebih! Ya, ada hal-hal yang bisa kita pelajari satu sama lain, laki-laki dan perempuan , bisa dengan bijak menyikapi satu sama lain saat berinteraksi, menawarkan yang terbaik kepada satu sama lain dan dengan begitu dapat meningkatkan kualitas komunikasi kita, dalam hubungan personal dan professional, baik itu kehidupan intelektual maupun emosi kita. 🙂

Itu salah satu judul film yang sudah saya tonton lebih dari dua kali. Awal nontonnya sudah lumayan lama tapi berhubung baru sempat nulis lagi disini, akhirnya yah baru sekarang jadi post. 😦

Di Flightplan ini, kembali Jodie disandingkan dengan anak-anak. Figuran bocah berusia 6 tahun yang mengingatkan saya pada A Little Man Tate, atau Anna and The King versi baru saat ia beradu akting dengan Chow Yun Fat. Oh ya, bedanya di Flightplan ini anak perempuan.Ini termasuk film yang saya sukai karena masuk kriteria: Ada yang tinggal usai kita menontonnya.

Adegan awal menampakkan Pratt (Jodie Foster) yang menunggu kereta api untuk pulang dan sesaat diacak dengan alur maju-mundur, bergantian dengan kilasan-kilasan saat ia menunggui jenazah suaminya di kamar mayat rumah sakit. Serasa kemudian ia pulang bersama suaminya ke apartemen mereka hingga kemudian ia tersadar dari ketidakrelaannya bahwa suaminya telah mati.

Seminggu kemudian Pratt yang tinggal di Berlin ini berencana terbang pulang ke rumah orang tuanya di New York, bersama anak perempuannya yang berusia 6 tahun, Julia (Marlene Lawston) sekaligus membawa serta jenazah suaminya tersebut. Hingga kemudian setelah check-in bersama anaknya, dan ia sempat tertidur beberapa jam kemudian di pesawat, saat terbangun Jodie tidak mendapati Julia di seat-nya.

Ternyata seluruh awak pesawat dan juga salah seorang penumpang yang ternyata adalah polisi udara menjelaskan bahwa Pratt hanya sendiri, tidak seperti yang diyakininya bahwa ia bersama Julia. Aneh.

Buat saya, tiap potongan adegan dalam flightplan ini dirancang cukup alot dan memicu adrenalin dan tidak tertebak! Penonton dibiarkan menebak-nebak sendiri kebenaran yang sesungguhnya terjadi hingga kemudian satu persatu fakta mulai disuguhkan kepermukaan. Karakter Pratt yang nampak terguncang dengan kematian suaminya tampil dengan baik, terluka namun berusaha tegar.

Sehabis menyelesaikan film ini saya tercerahkan, ternyata bertahan dengan keyakinan diri sendiri di saat tidak seorang pun mempercayai kita, memang benar-benar tak terbayangkan. Semuanya kemudian bergantung pada usaha kita satu-satunya yang berkeras bahwa sesuatu yang kita yakini itu benar adanya. Untuk karakter seperti Miss Pratt yang begitu “kuat” dan sebelumnya bekerja sebagai engineer, namun naluri keibuannya begitu kentara dan alami, benar-benar bikin saya jatuh hati. Perwatakan yang bagus!

Karakter lain yang menarik perhatian saya malah bukan polisi udara, Carson (Peter Sarsgaard)-sama sekali bukan pengaruh protagonist-antagonis- tapi ke Pilot pesawatnya, Captain Rich (Sean Bean). Entah aja,langsung berkesan dari pertama lihat. :mrgreen:   Rasanya kok puas banget ya saat menyaksikan tampang merasa-begitu-berdosa Kapten Rich ini di bagian akhirnya. 😆

Anyway, tontonan yang bagus. Recommended. 😀

Kagum itu…

To love is to admire with the heart; to admire is to love with the mind

~ Theophile Gautier ~

Itu kata Theophile Gautier lho. Menurut saya kekaguman ini pun ada tingkatannya. Tapi walau begitu, untuk sekarang, gara-gara menemukan frase ini saya jadi tak nyaman hati. Saya mulai mencurigai diri sendiri. Ugh, bahaya ini. Jangan-jangan saya sering melakukan hal yang terakhir itu. Harus dicek-cek lagi agaknya… 🙄 :mrgreen:

Asal muasal turunnya entry ini sebenarnya memang setelah membaca postingan terbaru di blog Sora, Kesadaran yang datang belakangan. Ini di luar konteks pesan moralnya lho, tapi terkait dengan kejadian yang menginspirasinya itu. Awalnya saya senyum-senyum saja tapi akhirnya meledak juga jadi ketawa, teringat dengan kejadian mirip yang pernah terjadi dulu. Duluuu sekali.

Saat itu saya masih tahun pertama bangku kuliah, kira-kira semesteran dua dan bergabung dengan sebuah organisasi eksternal kampus. Saya ditunjuk sebagai staf redaksi mading. Berhubung kru mading sendiri tidak punya sekretariat khusus, maka tempat pengerjaan mading di tiap edisinya biasanya di kerjakan barengan di rumah saya. kebetulan anggota madingnya yang cuma beberapa orang adalah perempuan juga. Setelah terbit beberapa edisi, akhirnya di rubrik bebas yang memang di peruntukkan untuk memuat tulisan dari luar kru mading bisa eksis. Ada beberapa tulisan yang masuk dari orang yang berbeda hingga akhirnya ada satu orang yang rajin menyumbang tulisannya.

Biasanya jika ada sumbangan tulisan dari luar seperti itu, untuk sampai ke redaksi caranya mudah saja, tinggal dititipkan ke anggota redaksi seminggu sebelum deadline dan kemudian tulisan tersebut akan dinilai kelayakannya untuk kemudian dimuat. Biasanya tulisan dari luar itu hampir selalunya lelaki dan tulisannya bagus-bagus terutama yang satu orang misterius itu. Kenapa misterius? Karena beliau hanya menggunakan inisial nama (berbeda dengan penulis lainnya) dan hanya menuliskan alamat emailnya di akhir tulisannya. Selalu seperti itu.

Lalu apa pentingnya hal ini dibahas? Dimana nyambungnya dengan judulnya? Ahahaha. Bacalah sedikit lagi dulu.

Ternyata sejak awal membaca tulisan-tulisannya saya sudah suka dengan artikel-artikel tersebut. Bahasanya lugas dan runtut dan gaya penyampaiannya itu khas. Analitis, bernas dan mencerahkan. Hueeh, intinya, tulisannya bagus sekali. Di samping itu yang menarik adalah saat membaca artikel-artikelnya itu saya seperti bisa meng-asses bahwa terkadang kami punya pemikiran yang sama saat memandang hal-hal atau masalah tertentu yang dibahas olehnya. Kadang saat kru yang lain merasa tidak setuju atau salah paham dengan inti tulisannya saya mencoba menjelaskan bahwa yang ingin disampaikan oleh beliau itu tidaklah seperti itu, tapi menurut saya lebih ke seperti ini dan seperti ini dan saya setuju dengan apa yang disampaikannya. Kadang kru yang lain sempat bengong. :mrgreen:

Jadi apa? Hmm, jadi belum apa-apa, hanya dengan membaca tulisan-tulisan beliau saat itu saya sudah kagum dan simpati dan sedikit penasaran dengan orangnya. Dan saya sadar akan hal itu. ^^ . Kru mading yang lain juga sempat penasaran dengan sosok ini tapi akhirnya kita semua jadi terbiasa dengan kemisteriusan itu. Yang penting tulisannya ada, layak muat dan bagus. Semua di antara kami tidak ada yang melakukan investigasi (halaah) apapun.

Hingga suatu hari di rapat divisi saat dimana semua anggota divisi harus hadir dan saya tahu ada beberapa orang asing yang agaknya tidak pernah terlihat sebelum-sebelumnya. Oh ya, kadang ada anggota yang tidak saling kenal dikarenakan keterlibatannya yang kurang aktif, jadinya jika ada nama tapi bahkan orangnya tidak terlalu dikenal oleh anggota satunya, itu jadi hal yang cukup dimaklumi karena anggota organisasi ini yang semuanya mahasiswa itu bisa dibilang punya aktivitas dan kesibukan masing-masing juga.

Jadi setelah selesai rapat, ada yang hendak menyerahkan tulisannya. Katanya untuk rubrik bebas itu!! Gubrak. Begitu melihat nama email dan inisial di akhir tulisannya itu, weleeh, jadi ini dia orangnya. Ckckckc. Akhirnya ketemu juga tanpa disangka-sangka dan terencana. Hebat banget, analisa spontan! :mrgreen:

Sedikit basa-basi dan tentu saja akhirnya saya ketahui juga namanya. Yatta! Beberapa hari kemudian, saat antri di ATM depan kampus, ketemu lagi dan baru ketahuan ternyata kami satu kampus, angkatannya dua tingkat di atas saya walaupun beda fakultas. Saat itu jadinya ngobrol agak banyak, disinggungnya juga tentang kontribusinya di mading yang mungkin untuk beberapa waktu ke depan akan berkurang karena beliau akan segera menjalani koasistensi di sebuah rumah sakit. Dari cara berbicaranya saja sudah kelihatan bahwa beliau memang cerdas. Bicaranya juga tidak terlalu banyak, tidak juga terlalu sedikit, tidak semisterius caranya menyampaikan idenya lewat artikel itu, beliau ternyata cukup ramah tapi tidak berlebihan. Tapi memang tertangkap bahwa beliau orang yang serius dan suka berpikir. Pas. :mrgreen:

Begitulah ceritanya. Kesimpulannya? Iyalah, udah bisa ditangkap kan? Yah, walaupun agak beda sedikit sih. Tapi maksudnya itu nyambung kan ya? :mrgreen:
Di Savage Garden itu dikatakan tentang orang yang jatuh cinta bahkan sebelum bertemu, dalam hal ini, ini tentang kekaguman bahkan sebelum bertemu dengan orang tersebut. Dan bagusnya, setelah bertemu kekaguman itu tidak rusak. 😀

Eh, iya ya? Ternyata kesukaan atau juga kekaguman terhadap seseorang sebelum bertemu orangnya bisa terjadi bukan cuma lewat internet aja ya? Di dunia nyata juga bisa 🙄 *tersadar*

Tulus Tidak Tulus

Sekali waktu beberapa hari lalu, entah bagaimana saya dan seorang teman yang sudah lama tidak terlibat perbincangan rada serius seperti itu bisa sampai ke bahasan tulus tidak tulus ini. Oh iya, tulus dan tidak tulusnya tidak secara umum, ini dalam konteks kecenderungan perasaan secara istimewa pada seseorang. Oke, lebih jelas lagi, saat menyukai orang lain. Kebetulan teman saya itu, lebih muda beberapa tahun dari saya dan ‘tema’ kedatangannya hari itu sedikit ada hubungannya dengan apdetan perasaannya pada seseorang, yang ia kagumi secara diam-diam tapi serius. Ugh.

Dan cerita hari itu pun mengalir cepat dalam waktu yang relatif singkat karena diburu senja. Akhirnya ngomong-ngomong ‘berbau’ curhat itu mengerucut pada definisi tulus tidak tulus yang benar-benar subjektif, tentu saja.

Jadi, teman saya itu mendapat tuduhan ‘tidak tulus’ dari temannya -yang juga tahu dan turut diceritakan ‘permasalahannya itu’- setelah ia menceritakan bagaimana perasaaanya terakhir kali tentang orang yang disukainya dikaguminya itu. Setelah dia agak-agak tahu atau ‘merasa’ orang yang disukainya itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, dia merasa cukup ringan dan mudah untuk melupakan perasaannya itu. Karenanya temannya itu kesal dan jadilah vonis ‘tidak tulus’ itu mampir padanya.

Hmm, apa ya? Saya pribadi malah berpikir istilah itu kurang tepat untuk digunakan disana. Tapi saya ‘rada’ bisa paham kenapa rekan dari teman saya itu bisa mengatakan hal seperti itu. Boleh jadi dalam pandangannya, yang namanya tulus menyukai seseorang, (saya agak kurang enak untuk menyebut ‘mencintai’ disini 😛 .) berarti kita tetap bisa menjaga perasaan itu apapun realitanya, entah orang tersebut menyukai kita atau tidak. Bisa terus seperti itu dan hal itu punya nilai kebahagiaan tersendiri bagi kita yang menyukainya. Jadi mungkin seperti itu kalau menilik kondisi saat ia menggunakan kata yang bermakna sebaliknya tadi, ‘tidak tulus’.

Lucunya, saya sendiri tidak merasa seperti itu. Kadang kala saya berpikir, saat kita menyukai orang lain, harapan kita tentunya orang tersebut idealnya punya perasaan yang sama dan akhirnya bisa sama-sama. Jadi, saat memang keadaannya kemudian tidak seperti itu, -orang tersebut tidak menyukai kita misalnya- tentunya kita harus segera menyadari langkah terbaik buat kita dan buat orang tersebut : menyelesaikan perasaan itu sampai di disitu. Frankly, we should stop that feeling. Tidak tulus? Bagi saya itu ‘sedang’ tidak ada hubungannya kesana.

Mungkin saya akan memakai frase ‘tidak tulus’ itu untuk menggambarkan kondisi dimana misalnya kita memilih ‘jalan’ dengan seseorang karena berfikir dia bisa menguntungkan kita dalam hal dan waktu tertentu misalnya. Ada lho seorang teman yang tiba-tiba berpacaran saat melakukan suatu penelitian dan orang yang dipacarinya tersebut bisa mengoperasikan suatu software yang rumit -dan penggunaannya strategis sekali dalam penelitian itu- dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata. Setelah pulang dari penelitian kemudian mereka putus. Seandainya dalam hati yang perempuannya, suka dan putusnya itu ada hubungannya dengan keadaan strategis yang bermanfaat itu, menurut saya seperti itulah tidak tulus. Itu seandainya lho, seandainya. Putus atau tetap jalan itu urusan pribadi mereka tentu saja.

Back to topic, jadi jika kita menyukai seseorang dan kemudian mengetahui seseorang tersebut ternyata memilih orang lain atau ternyata tidak menyukai kita, saat kita memutuskan untuk ‘berhenti’ menyukainya, hal itu tidak tak tulus. Toh misalnya saja, jika membandel untuk tetap menyukainya sampai kapan pun dan terus bertahan dalam stage itu, tidak ada keuntungan dalam hal apapun. Berbesar hati saja dengan realita yang terjadi. Dan tulus tidak tulusnya perasaan kita tidak bisa digantungkan pada seberapa lama kita perlu bertahan dengan perasaan itu, walaupun tentu saja ada beberapa orang yang bersedia mempertahankan perasaan pada orang yang disukai sekalipun sudah tidak ada harapan apapun, dengan mengemukakan alasan bahwa perasaannya itu tulus. (Banyak tuh kayaknya di sinetron kita? Atau bisa jadi juga ada banyak di kehidupan nyata)

Kalau kemudian dikatakan bahwa menyelesaikan perasaan seperti itu tidak mudah dan merupakan pilihan yang berat, saya tidak akan menyangkal, itu ada benarnya. Tapi itu sudah bab lain lagi kan? Sudah keluar dari konteks tadi. Tetap tidak ada hubungannya antara ketulusan menyukai seseorang dengan kemampuan kita memulihkan keadaan. Itu lebih ke bagaimana kemampuan kita menyikapi realita yang terjadi. Kenyataannya orang tersebut tidak menyukai kita atau telah memilih orang lain misalnya, maka kalau mau bertahan terus seperti itu, kita akan seperti orang yang tidak mau menghadapi kenyataan. Toh, tidak akan ada kebaikannya selain mungkin kebahagiaan semu dalam diri kita? Selebihnya? Yah… anda mungkin paham maksud saya. ^^

Memilih bertahan untuk tetap menyukai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama mungkin mirip dengan bertahan untuk bermain petak umpet[1] dengan orang yang sudah pulang ke rumahnya. Bagaimana mungkin kita tetap akan menunggu dia mencari tempat kita sembunyi? Bukankah lebih baik kita juga berhenti bermain dan pulang saja? ^^

Ps :
[1] Permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak. Ada yang bersembunyi dan ada yang giliran jaga. Pernah main? :mrgreen:

Run Away

Run away?

Hei. Janji itu harusnya ditepati kan? Errr, iya sih, tapi kalau tidak bisa diupayakan lagi, hendaknya ada pemakluman kan? Heee? Tidak bisa begitu. Yang namanya sudah pernah berjanji, harusnya satu-satunya jawaban baik adalah pemenuhan janji itu sendiri. Kalau sudah selain itu, atas alasan apapun, itu artinya orang yang tidak menepati janji kan? Akui saja lah.

Sebentar. Sebentar. Begini. Tidak adakah pengecualian? Misalnya saja, untuk janji pada diri sendiri seperti ini. Berjanji untuk melakukan sesuatu yang berat lalu kondisi di kemudian hari ternyata berbalik total. Ya, itu sesuatu yang berat. Lalu, agar terasa mudah dan seperti azam[1] kuat untuk bisa melakukannya, dibentuklah sedemikian rupa keinginan dan harapan itu, supaya beban moral dan beban perasaannya terasa kokoh untuk menyelesaikan tantangannya. Memang sempat terlintas sih, jangan-jangan bakal gagal, tapi demi sebuah janji penting, itu harus tetap dilakukan dan harus sukses. Hmm, ok. Terus?

Sayangnya ada yang terlewatkan, tak ada batas waktu yang ditetapkan untuk pemenuhan janjinya. Ck! Itu dia salahnya. Itu dia! Jika tak ada batas waktu, kemudian mengatakan bahwa sudah gagal memenuhinya, itu lebih tidak sportif kan? Itu berarti kewajiban untuk menunaikannya tidak berbatas. Masih bisa diupayakan. Masih harus dicoba untuk ditunaikan. Sampai kapanpun. Baru dianggap selesai saat janji itu tertunaikan. Jika belum sukses, ia akan mengikuti kemanapun, sampai kapanpun. Terutang. Hingga mati. Hush! Jangan menakut-nakuti begitu.

Salah sendiri. Huh! Kenapa suka cari penyakit sih? Kenapa perkara penting seperti ini dibuat main-main? Sembarangan! Siapa yang mau main-main? Karena ini masalah serius lah makanya diperlakukan seperti itu. Siapa sangka di tengah jalan jadi hancur begini? Ternyata itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan. 

Eh, sebentar, tahu dari mana, kemampuan melakukannya sudah di batas optimal? Pakai parameter apa? Standar mana? Ada-ada saja. Hmm, parameter? Standar? Kuberi tahu ya, secara logika aja, coba lihat : perencanaan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan kondisi ‘lapangan’ yang berubah di luar dugaan sebelumnya. Lihat, semua jadi berantakan. Bagaimana mungkin bisa?

Ya ampun. Kenapa cepat menyerah sih? Itu yang namanya sudah batas optimal yang bisa diusahakan? Dasar mental rapuh! Kenapa tidak naikkan sedikit sih itu harapanmu? Mana jurus hebat ekspektasi tinggi ala mu itu? Mana? Harusnya untuk masalah internal begini, kamu memaksimalkan potensimu satu itu. Bukan mundur dan lari begini. Astaga. Aku lari ? Terus, apalagi namanya kalau bukan lari? Aku coba realistis kok. Bagiku, aku sudah mengupayakan di ambang batas, dan ternyata aku gagal, jadi aku ingin menyelesaikannya di sini. Kalau menurutmu itu namanya `lari`, yah, aku lari kalau begitu. Aku cuma tak mau terbeban, apalagi sampai mati, seperti katamu tadi. Kalau gara-gara ini aku dicap mengingkari janji, itu konsekuensi yang cukup adil lah. Biar saja. Aku memang tidak bisa menang, tapi aku sudah berusaha semampuku, setidaknya aku tidak jadi pecundang kan?

… Kamu ini. Berhentilah berbuat hal-hal konyol seperti ini. Hei, kok konyol sih? Biasa saja. Kadang kita harus terima kegagalan dengan kepala tegak. Karena tidak semua kesalahan bersumber dari kita. … Sini! Kamu sering berlebihan, terkadang. Kamu harus ubah itu. Atau, paling tidak, untuk sekarang, akuilah itu. Ah, masa separah itu sih? Biasa saja.

Kamu kadang tidak jujur. Hmm, menurutmu begitu ya? Menurutku bukan, bicara seperti ini padamu, karena aku cuma ingin membantumu untuk paham sesuatu yang sulit aku jelaskan. Kamu bikin rumit masalah, itu yang aku tahu. Maafkan aku. Huff, Kadang aku tidak bisa memahamimu. Bukan salahmu kok. Jangan terlalu dipikirkan. ^^

Terkadang memang ada hal-hal yang harus kita coba terima sekalipun kita belum paham. Pahamnya datang belakangan. Bisa jadi kan? :D. Huh, kamu masih bisa pasang ekspresi begitu? Ahahaha. Kamu itu kadang khawatirnya berlebihan, lho. Aku jujur kok dengan ekspresi itu, kamu yang harusnya belajar menganalisa ekspresi lebih tajam, jadi komentarmu akan senada dengan keadaanku yang sebenarnya. 😛

Ya ampun, Kamu ini… !! 👿 Ahahaha. Oke, oke, aku gak akan ngomong lagi deh. ^^

Hm, jadi bagaimana? Apanya? Janji itu tadi? Iya. Ya, begitu itu. Hari ini, aku sudah akui aku gagal menepatinya. Walaupun menyedihkan tapi aku sadar aku harus jujur pada diri sendiri, aku tidak bisa melakukan hal itu. Terlalu berat. Atau… jangan-jangan memang seperti itu takdirnya ya? Harusnya aku senang ya? Bisanya menyalahkan takdir. Jelek benar. 😛

Terserahmu saja. Ah iya, boleh aku bilang sesuatu? Apa? Kadang kamu terlalu keras pada diri sendiri. Kenapa sih sulit sekali memaafkan diri sendiri? Ah, kenapa aku gak merasa kayak begitu ya? Itulah kamu. Apa-apa semua diukur ke diri. Lho? Ya iya dong? Masa ngukurnya ke orang lain? Gak lucu. :P. Kamu tetap keras kepala ya? Hmm, entahlah. Yang penting aku tidak terhutang janji lagi yang aku sendiri tidak akan bisa lagi melakukannya.

Yah, kita lihat saja bagaimana nanti. Begitu kan? Bagaimanapun kita berekspektasi, benar tidaknya pilihan kita bisa diverifikasi pada kenyataan nanti kan? Oke, oke. terus, kalau tidak ada apapun yang terjadi, bagaimana? Errr, bagaimana ya? Yah, biar begitu saja, mau bagaimana lagi. 😛

Terima kasih ya. Bleh, untuk banyak hal, aku yang harusnya mengucapkan terima kasih. Yeee, ngasal. Bener! Gak lah! Serius? Serius! Oh! If so, No thanks needed then. Wah, gak baik juga kalau begitu. Heee? Iya, itu artinya kita kehilangan satu cara menghargai kebaikan orang lain walaupun kadang orang itu tidak berniat begitu. Dia niat atau tidak, kita menghargai yang dia lakukan. Sederhana saja sebenarnya kan? Lah, jadi panjang gitu. Biarin! 😛

Thanks anyway. You`re welcome. ^^