Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Opini’ Category

Anda pernah dikenali tapi bukan dengan identitas diri anda sendiri? Misalnya saja dengan identitas keluarga, kelompok atau organisasi, sekolah, tahun angkatan di kampus, atau apalah yang anda adalah atau pernah menjadi bagian dari hal itu sehingga identitas non-diri-pribadi tersebut bisa melekat pada diri anda.

Misalnya saja pertanyaan sejenis ini, “Ooh… rupanya ini anaknya Pak Budi ya? Pantesan mirip. Ayah kamu itu temen kuliah saya lho, dan blablabla… Ayah kamu itu suka blablabla, kamu juga ?”   :mrgreen:

atau, “Kamu cucunya Pak Hasan ya? Saya sempat sama-sama beliau masa jaman Belanda dulu lho. Kakek kamu itu blablabla…”. Pernah? Saya pernah. :mrgreen:

Ataupun contoh yang sering terjadi seperti misalnya kita dikenali melalui asal SMU, berdasarkan tahun angkatan masuk kuliah, organisasi yang diikuti dan sebagainya. Yah… sedikit banyaknya terkadang identitas kolektif seperti ini memang punya pengaruh terhadap diri kita.

Dalam lingkup yang lebih luas misalnya, identitas kebangsaan. Secara tidak langsung dan tidak dapat terelakkan kita tentu saja akan dikait-kaitkan dengan identitas itu. Terkadang ada stereotip yang perlu dijelaskan karena keadaan sebenarnya tidaklah begitu adanya, misalnya. Ada yang terkadang cuma termakan hoax dan hal-hal kaya gini tentu perlu diluruskan. Ataupun sikap sosial mainstream yang terkadang malah bertolak belakang dengan sikap sosial pribadi kita, saya memilih untuk menjelaskannya, sejauh yang saya tahu tentunya. Saya kira hal ini penting karena terkadang kesimpulan yang diambil bisa berakhir pada imej bentukan yang salah kaprah.

Terkait dengan sikap pribadi ini, dulu saya pernah punya pengalaman lucu pada saat tour kampus ke Little World di Nagoya. Dari namanya, ini memang `dunia` yang isinya negara-negara yang ada di dunia (tentu tidak semuanya). Setelah kunjungan ke beberapa negara, tibalah saya dan beberapa teman lainnya di `Indonesia`. Kebetulan yang jadi miniatur negara Indonesia adalah Bali, lengkap dengan candi dan gapuranya yang cantik, serta gambar-gambar yang menampilkan kebudayaan dan gaya hidup sehari-hari. Bisa ditebak apa reaksi teman-teman saya? :mrgreen:

“Kok gak ada mirip-miripnya yasama kamu?” Mereka bertanya dengan polos dan keheranan. Saya faham dengan maksud mereka dan sejak awal di pintu masuk rada ada firasat bakal ditanya kaya begitu. Beruntung sekali di bagian sudut lain ‘Indonesia’ ini ada beberapa poster yang menampilkan kebudayaan beberapa provinsi di Indonesia, saya berusaha menjelaskan, bahwa setiap daerah ini punya keragaman budaya dan kekhasannya masing-masing, bahkan juga bahasa daerahnya yang berbeda di tiap daerah. Ada rasa bangga saat itu dan begitu bersyukur. Apalagi saat mereka bilang, “Hebat ya, ternyata ada banyak macam begitu…”.  Saya lega rasanya. :mrgreen:

Di lain waktu, hal lain yang sering ditanya kalau sudah ngobrol-ngobrol di asrama adalah keadaan di negara masing-masing. Kebiasaan remaja dan anak muda pada umumnya, gaya hidup, budaya belajar, pergaulan, kegiatan volunteer oleh remaja, dan hal-hal lainnya. Gara-gara ini saya jadi sering bilang, saya kurang tepat kalau dijadikan parameter bagaimana anak Indonesia pada umumnya. “Saya tidak cukup syarat untuk jadi representasi anak muda di negara saya”. Eh, rupanya statemen seperti ini akhirnya mewabah karena ternyata semuanya juga enggak PEDE merasa bahwa dirinya bukan representasi remaja dan anak muda pada umumnya di negara mereka. Siapa sangka semua pada setuju?  😆

Misalnya seorang teman dari Amerika yang disebut oleh beberapa mahasiswa dari China, bahwa dia bukan tipikal gadis Amerika pada umumnya. Gadis ini tidak suka pesta, tidak mau minum dan mabuk, rajin ke gereja, rajin banget belajarnya, sopan dan agak serius. :mrgreen: Contoh remaja Amerika yang unik kan. Atau yang dari Polandia, mahasiswi Bio-Technology ini katanya jauh dari kesan romantis cewek Eropa seumuran dia pada umumnya, disamping tegas, sering panik, pelupa dan dikabarkan kami memiliki kemiripan dalam hal terakhir itu.  :mrgreen:   Akhirnya keduanya malah ikutan bilang hal yang sama, “Kami jangan dianggap representasi dari remaja seusia kami dari negara kami, karena banyak `penyimpangan`…” 😆

Walaupun begitu, rupanya memang terlihat bahwa kita tidak bisa langsung `melepaskan diri` dari identitas kolektif yang tanpa sengaja atau tidak, melekat pada diri kita. Jelek? Tidak kok, malah menurut saya, kita memang perlu kok punya identitas kolektif disamping identitas pribadi diri kita. Disamping tentu saja ada beberapa pengecualian, seperti misalnya, jika ada sikap kolektif yang menurut kita tidak layak atau bertentangan dengan sikap pribadi kita, dan saat kita juga diasosiasikan dengan sikap yang sama, kita tentu saja boleh tidak terima dan melakukan klarifikasi. Mengenai hal ini, seseorang telah menjelaskannya dengan cukup baik disini. 🙂

Bagaimana dengan identitas kolektif yang membanggakan?

Jika kita berbicara tentang identitas kebangsaan, maka salah satu tanda pengenalnya tentu bahasa. Ada bangsa yang `diberkahi` karena bahasa nasional mereka juga dipelajari dan digunakan oleh banyak bangsa di dunia, bahkan penguasaannya pada level tertentu menjadi syarat melamar pekerjaan dan melanjutkan sekolah. You know who they are. 🙂

Lagi-lagi cerita kalau ngumpul-ngumpul saat senggang di lobi asrama. Biasanya beberapa mahasiswa mahasiswi asal China  bermain kartu, anak-anak yang lain sekedar nonton mereka main atau memilih main game, nonton, atau berdiskusi kecil tentang agama.  Sering banget diskusi seperti ini kemudian melebar, alot, panas, bahkan pernah hampir ribut. Biasa, topik sensitif. :mrgreen:

Saat-saat santai begitu, pada umumnya menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Jepang atau sesekali kami juga saling mengajarkan potongan-potongan kata dan kalimat yang mudah diingat dari bahasa masing-masing.  Terkadang jika ada lebih dari satu orang yang senegara, hampir dipastikan mereka akan menggunakan bahasa mereka sendiri. Saat momen seperti ini sedang berlangsung, teman yang dari Amerika suka protes. “Use Englishplease… In English please…” Kadang dengan ekspresi merengek atau mengusili pembicaraan atau permainan. Kadang dijawab, “Sebentar dulu, gak enak berantem atau ngeledek pake bahasa Inggris nih…”. Yang mau tidak mau mengundang gelak tawa kami. Atau kali lain, gadis ini nyeletuk, “Gak adil nih, kalian bisa ngomong sesuatu yang saya tidak paham, tapi kalian semua bisa paham apa yang saya bilang…”
Jawaban standar anak-anak yang sudah sangat populer saat itu, “Ubahlah bahasa nasionalmu, Nak… jangan bahasa Inggris”.  :mrgreen:

Saya pernah iseng tanya pada gadis itu bagaimana perasaannya saat bahasa nasionalnya dipakai oleh hampir semua bangsa di dunia, bahkan dipelajari dan dijadikan standar kurikulum pendidikan di hampir beberapa negara. Dia tersenyum lucu…”Senang dan… bangga, hehehe…”. Iya ya, tentu saja menyenangkan dan membanggakan saat identitas kolektif (dalam hal ini bahasa) kita dikenal dengan imej positif dan sekaligus dipelajari dan diikuti oleh bangsa lain. Saya kok ya penasaran bagaimana rasanya jenis perasaan `senang` dan `bangga` itu?

Suatu kali saya  diundang menghadiri acara seminar yang diadakan di Nagoya University. Temanya konon, Student Discussion on Tsunami Disaster Experiences. Salah satu agenda diskusi ini diantaranya adalah presentasi dari beberapa mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Jepang. Ada tiga orang mahasiswi dari Indonesia yang diundang melakukan presentasi, tentang bagaimana pengalaman mereka saat Tsunami dan kegiatan sebagai relawan yang mereka lakukan di masa kritis pasca tsunami saat itu. Seorang mahasiswi Master dari ITB yang menceritakan tentang pengalaman beliau saat gempa dan tsunami di Pangandaran pada 2006 lalu, dan dua mahasiswi lagi dari Unsyiah yang menjelaskan pengalaman mereka saat Tsunami di Aceh dan peran mahasiswa dalam bidang keilmuwan dan peran mereka di masyarakat sesudah musibah  itu. Dilanjutkan dengan presentasi dari pihak OGASA, suatu organisasi kemanusiaan peduli bencana di Aceh yang dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa Jepang dari Osaka University. Pihak OGASA diwakili oleh ketua dan tiga orang anggotanya.

Hal menarik yang ingin saya ceritakan kemudian adalah saat acara pembukaan diskusi ini, saat seluruh peserta dipersilahkan memperkenalkan diri. Audiens-nya adalah Bapak-Bapak mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia yang sedang melanjutkan sekolah di sana, Para Sensei dan Researcher-staff dari Lab. Geofisika disana, mahasiwa Jepang dan para staf JICA dari Filiphina, Papua Nugini dan Costarika yang konon sebagai reviewer.

Tiba saat masing-masing memperkenalkan diri, tentu saja semua menggunakan bahasa Inggris, dan ada juga mahasiswa Indonesia yang sudah lama tinggal di sana yang menggunakan Japanese-English. Ketika giliran pihak OGASA memperkenalkan diri, dimulai dari sang ketuanya. Tebak! Ia berbicara dalam bahasa Indonesia yang lancar. Hueh… 😯
Saya terpesona beberapa saat. (halaah). Dan… bahasa Indonesia-nya sopan banget, teratur. Lalu diikuti rekan-rekannya yang lain. Keren! Ups, mungkin saya agak berlebihan, soalnya ini forum internasional gitu lho, dan mereka di awalnya dengan bangga bilang begini, ” Baiklah, saya akan memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia…”. Diakhir salam perkenalan mereka dihujani tepuk tangan oleh semua. 🙂 Presentasi mereka pun kadang diselingi dengan kalimat bahasa Indonesia. Setelah acara selesai, sepanjang coffee-break, berpuas-puaslah kami berbicara dalam bahasa Indonesia dengan mereka dan juga saat berkirim email. Tanya punya tanya, ternyata diantara mereka ada yang sudah tahun kedua kuliah di jurusan sastra Bahasa Indonesia di universitasnya. Pantes juga sih ya. Whatever, saat itu saya langsung disergap rasa senang dan… bangga aneh, hehehe… Mungkin perasaan jenis ini yang dimaksud teman saya dari Amerika itu ya? Besar kemungkinan iya, walaupun mungkin kadarnya tidak sama.  :mrgreen:

Ternyata begitu ya, ada saat-saat kita merasa bangga, ketika salah satu simbol dari identitas kolektif kita diikuti dan diapresiasi oleh bangsa lain dan… perasaan itu menyenangkan walau agak sulit dijelaskan.  🙂

Iklan

Read Full Post »

Ini masalah keimanan. Ini masalah keyakinan. Begitu katanya. Eh, terus? Berkurangkah keimanan kita pada Tuhan yang kita imani saat kita menghargai makluk ciptaan Tuhan yang berbeda keyakinan dengan kita? Berkurangkah ketaatan kita pada Tuhan-yang perintah-Nya kita lakukan dan kita aware pada larangan-Nya-  saat kita berusaha menghormati saudara kita yang tidak `senama` dengan kita? Berkurangkah? Atau hilangkah sama sekali?

Kalau iya, betapa mengulah-nya tuhan seperti itu. Jika dengan berbuat baik pada sesama manusia, dan kebetulan isi bumi ini tidak hanya satu penganut keyakinan, lalu tuhan marah dan mengutuk-ngutuk umat tersebut lalu memberi azab yang maha pedih, Betapa mengerikannya tuhan yang ingin disembah dengan mematikan semua saraf kemanusiaan kita.  Lalu nama tuhan pun digunakan untuk memurkai manusia yang berbeda. Nama tuhan pun dilabel pada tiap usaha `mendekatkan` manusia pada `jalan tuhan mereka`. Nama tuhan mereka pakai dimanapun untuk kepentingan-kepentingan yang entah apalah itu namanya. Lucu. Eh, sedih sih sebenarnya. 😦

Entah kenapa sejak dulu saya tidak pernah merasa bahwa Tuhan akan cemburu dan marah-marah kalau saya baik pada teman yang juga punya tuhan yang lain. Entah kenapa saya tidak pernah merasa bahwa Tuhan akan mengutuk saya jika saya menghormati mereka selayaknya saya menghormati orang lain juga. Entah kenapa saya tidak pernah merasa bahwa Tuhan saya sakit hati dan menganggap saya menduakan-Nya jika saya menghargai teman saya yang beribadah menurut kepercayaannya. Saya tidak pernah merasa Tuhan itu mengulah-ngulah seperti itu. Tuhan saya disembah dan dianggap tinggi oleh hamba-Nya tanpa perlu menjadi tinggi dengan jalan merendahkan tuhan dan keyakinan yang dianut orang lain. Tuhan saya pasti tidak seperti itu. Saya ingin percaya dengan `laku` seperti ini saja. ( Orang akan percaya pada apa yang ingin dipercayainya  :mrgreen: )

Memprihatinkan kehidupan umat beragama yang seperti ini. Warnanya beragam tapi saling meracuni warna. Mengapa tidak biarkan saja warna warni itu seperti itu. Bukankah tidak ada paksaan dalam memilih `warna` ?

*Hooii, itu toleransi namanya!! Itu pelajaran PPKN waktu Sekolah Dasar, Nak!!*

Lha? Iya, semua dengan lancar menuliskan dan menguraikan jawaban atau menjawab diskusi dengan jawaban-jawaban cerdas tentang toleransi umat beragama, tenggang rasa antar pemeluk keyakinan, semua tahu teori-teori itu. Tapi kalau sudah ke kehidupan nyata, teori itu tertolak. masih ada saja yang sentimen (bahkan tidak sadar bahwa dia sedang sentimen, sebegitunya…) jika sudah berbeda keyakinan. Yang satu merasa keyakinannya terancam jika berbuat baik pada pemeluk agama yang lain. Aneh. Aneh. masa iya tuhan sengaja menciptakan keanekaragaman seperti itu dengan satu tujuan akhir, ada kaum yang harus dilenyapkan dan hanya satu yang kaum dengan keyakinan terpilih yang berhak `hidup` di bumi. Begitu? saya tidak hendak percaya ending dunia seperti itu yang dimaui Tuhan. Terserah jika ada yang berkeyakinan bahwa orang-orang yang berbeda adalah musuh, patut dimusuhi sekalipun mereka berbuat baik pada kita.  Silahkan saja. Tidak ada yang memaksa.

Kadang terpikir pula, tidak bisakah dipakai  kebenaran relatif? Meyakini dan mengimani Tuhan yang kita sembah namun menghargai pula keyakinan umat lain, secara teori dan secara praktek. Tak bisa kah? Kalau anda yang tak bisa lalu anda dengan sesuka hati mengatakan, `Itu yang dikehendaki-Nya…`, mungkin anda perlu cari alasan yang sedikit lebih cerdas-lah. Jangan bawa-bawa tuhan begitu. Bilang saja anda yang belum bisa lebih baik dalam hal saling menghargai perbedaan. Sebut saja dengan langsung dan jelas,  Jangan pakai lagi `memang seperti itu kehendak tuhan`. Ganti saja.  Jangan lagi suka  memperalat tuhan.  😎

Waktu hiatus kadang saya sempat baca-baca juga dan benar sekali, ini fenomena klasik yang terus menerus terjadi. Ramai yang sudah menuliskan hal ini. Sora bahkan nulis puisi, euy. Makanya kalau pun saya menulis tulisan ini, tak lebih dari sekedar mengeluarkan sumbatan pikiran saja.  :mrgreen:

Btw bagi yang sedang ber-Ramadhan, apakabar puasanya? Udah ada yang bolong? (dilempar para blogonita[1]). Atau blogonito[2] jangan-jangan juga ada yang punya uzur[3]?  :mrgreen:

Anyway, Happy Ramadhan buat yang tengah menjalankan. 🙂

ket :
[1] Istilah paling ngasal sejagat, buat para blogger cewek.  😛
[2] Istilah yang sama parahnya, kali ini tentu buat yang cowok.  😆
[3] keadaan yang tidak memungkinkan seseorang berpuasa dengan beberapa sebab dan alasan tertentu.

Ps :

I`m coming into blogosphere again. Akhirnya… \^o^/

Alhamdulillah, *tepuk-tepuk lengan baju, copot label `hiatus`*

:mrgreen:

 

Read Full Post »

Kunci Keseragaman Kolektif

Perhatian : Tulisan ini agak sedikit panjang.

Kadang-kadang saya mikir, apa ya yang bisa membuat suatu kelompok punya kebaikan yang seragam yang hampir sama kadarnya di hampir semua elemen anggotanya? Langsung saja contohnya. Misalnya,  keseragaman dalam menjaga loyalitas terhadap kelompok yang dengan nyata dicatat sejarah hingga hari ini, seperti harakiri. Demi menjaga rahasia dan kehormatan kelompoknya, seorang samurai rela melakukan bunuh diri. Sikap mempertahankan loyalitasnya seragam. Apa yang bisa membangun keseragaman sikap seperti ini? Doktrin kah? Untuk kasus samurai ini, boleh jadi. Untuk hal-hal yang lain, selain doktrin, berupa apa? Hmm. mungkin, lingkungan  hidup yang membentuk mereka dan kemudian menjadikan mereka mengkonstruksi sikap itu dalam pikirannya, mennghujamkannya dalam-dalam lalu keluarlah sebagai sesuatu yang terlihat seragam sebagai sikap khas komunitas.

Pengaruh lingkungan sosial yang konstruktif ini agaknya yang terlihat cukup potensial terjadi. Karena hal ini terjadi secara alami dan `tidak disengaja`. Beda dengan doktrin tadi, ada kesengajaan membentuk sikap, kesengajaan untuk menerapkan itu dalam diri dan kesengajaan-kesengajaan yang lain yang memang sudah dirancang agar berujung pada satu keseragaman. Done. itu doktrinisasi. (lebih…)

Read Full Post »

Japan Corruption?

Heh? Di negara maju kaya begitu masih ada korupsi? Masa sih?

He eh. Iya. Ada kok.

Sudah basbang ni ceritanya. Malam itu seperti biasa, balik dari kampus, istirahat sebentar sambil nonton serial detektif yang rada horor, penyelidikan kasus bunuh diri keluarga. Seru-seru tapi bikin merinding  dan ngeri sendiri (halaah). 

Setelah serial detektif itu selesai, niatnya mau matikan TV, tapi kemudian…Zero News! Berita jam dua belas. Ugh… karena agak kelelahan hari itu, jadi ya sudah, liat headline beritanya aja kalau gitu, pikir saya. Topik utama berita tengah malam itu lumayan bikin saya tercengang. Menteri Pertanian Jepang, Toshikatsu Matsuoka ditemukan bunuh diri. Haa? 😯
*niat mo ngantuk terbang entah kemana*
*antusias muncul entah darimana*

Wah… jangan-jangan ini ada hubungannya dengan tuduhan korupsi atas Matsuoka beberapa waktu lalu? Iya, beberapa waktu belakangan, ada blow up berita mengenai isu skandal korupsi yang dikaitkan ke Matsuoka ini.

Ternyata benar. Toshikatsu Matsuoka, Menteri Agraria Jepang ini, melakukan bunuh diri setelah ia dihubungkan dengan skandal korupsi. Menteri berusia 62 tahun tersebut ditemukan gantung diri di rumah kediamannya di Tokyo. Adapun tuduhan yang ditimpakan padanya adalah kemungkinan bahwa ia menerima dana kampanye untuk ditukar dengan tender pemerintah bagi perusahaan. Lalu dua pejabat tinggi juga ditahan sehubungan dengan skandal ini.

Diduga kuat penyebab utama aksi bunuh diri Matsuoka ini adalah tuduhan korupsi terhadap dirinya itu. Karena tidak sanggup menahan malu jadinya begitu. Catat! Itu baru tuduhan… Dan kabarnya Perdana Menteri Shinzo Abe cukup terpukul dengan kematian Matsuoka ini. Selama ini Abe dirasa banyak pihak sering membela Matsuoka, dan ada yang menilai ini akan mempersulit posisi Abe ke depan dan kemungkinan akan kalah dalam pemilihan parlemen Juli ini. Saya enggak tahu banyak sih masalah ini. 🙄

Bleh… akhirnya saya cukup sabar hingga berita selesai dan sesudah itu saya malah jadi kepikiran sendiri. Mungkin ini salah satu dampak buruk nonton berita.

Ya, saya jadi berpikir aneh sendiri. Benar-benar menakjubkan ini orang. Demi harga diri, menanggung rasa malu yang tidak tertahankan, ia lebih memilih menamatkan riwayatnya. Padahal belum juga skandal itu terbukti, masih tuduhan! Bagaimana? Terpikir sesuatu? Hahaha… saya tebak ya, tentang rasa malu dan harga diri koruptor Indonesia? Benar tidak? :mrgreen:

Hmm…Ditempat kita selain rasa malu (dan tentu saja moral) yang masih bermasalah, faktor pendukung lainnya adalah lemahnya supremasi hukum. Banyak kasus korupsi yang terlantar dan tidak jelas ujungnya. Jadinya hukum di Indonesia dirasa cukup lumayan `nyaman`  untuk korupsi. 😦

Btw, dari artikel yang ditulis Dhoni Handoko, salah seorang pengamat, ada lucu-lucuan nih. Mengenai tindakan yang diambil kaisar China terhadap koruptor di negerinya. Kaisar yang memerintah pada masa dinasti itu, menetapkan hukuman bagi para koruptor. Selain hukuman badan (apa dicambuk ya? Atau yang pembuatan peti mati itu? -kurang jelas- ), koruptor harus membayar denda sebuah batu bata besar kepada pemerintah. Pada masa akhir kekaisarannya, berdirilah tembok China sepanjang 13.000 mil itu. 😆

Lalu di tempat kita? Hmm… katanya, meskipun supremasi hokum di Indonesia dapat diterapkan sehebat-hebatnya, ditambah hukuman membayar denda batu bata besar, koruptor di Indonesia tidak akan mampu membangun tembok 1 mil panjangnya. 😆

Errrr… balik lagi ke kasus korupsi di Jepang. :mrgreen:
Jadi? Iya, dengan kejadian pada 28 Mei lalu ini, nampak juga bahwa Jepang pun punya masalah penyalahgunaan kekuasaan seperti yang kita punya. Di Jepang pun ada korupsi. Tapi rasa malu saat korupsi itu terungkap masih begitu besar. Salah satu buktinya bisa kita dapatkan dengan melihat kasus Matsuoka ini. 😉

Lalu bagaimana dengan negeri kita? Ah, bukan maksud saya dengan pertanyaan `standar` itu, mengisyaratkan bahwa sesekali ingin dengar berita bunuh diri dari pejabat yg tertuduh korupsi kok.  😛  *mengerikan*  Tapi heran saja, memberantas korupsi ini di tempat kita kok rasanya tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan ya. Satu kasus korupsi sedang diusut, tiba-tiba muncul lagi dua, tiga dan seterusnya kasus baru. Lalu ada isu penyuapan lagi pada kasus yang sedang diusut. Dan seterusnya… Lalu…? *tertawa getir*

Kasus korupsi Matsuoka di Jepang itu, selesai dengan ending tragis begitu. Kasus-kasus korupsi di Indonesia belum punya ending. Entahlah. (tidak bertanggung jawabkah jawaban macam ini? ). Entah ending seperti apa yang cocok buat masalah korupsi di Indonesia.


Bicara masalah bunuh diri di Jepang. Ini merupakan polemik besar bagi Jepang sendiri. Jepang terkenal dengan angka bunuh diri tertinggi dunia. Survey tahun 2006 menunjukkan bahwa setiap tahunnya angka bunuh diri mencapai 30.000-an. Mengerikan ya? Hmm itulah faktanya. Ini sudah masuk masalah lainnya sih. Dan terkait hal ini, di tahun 2006, di Jepang sudah ada Undang-Undang Anti Bunuh Diri, yang concern lebih ke tindakan preventifnya yaitu pelayanan konsultasi mental yang harus wajib ada di tiap perusahaan dan kantor.

FYI, salah satu site wisata di Fukui, namanya Toujinbou, laut dengan tepian karang yang cukup terkenal pamornya ini dulunya sering digunakan sebagai tempat jisatsu (bunuh diri). Halaah… aneh-aneh saja. Tapi katanya sampai sekarang masih ada kejadian sih. Salah seorang student asal Malaisya pernah lagi main kesana, di karang-karangnya itu, tiba-tiba  di depan sana, agak menjorok ke tepi karang, ada yang terjun. Blash!! Kelanjutannya? Saya tidak tahu. Bunuh diri, itu cukup menjelaskan, Agaknya. :mrgreen:

Read Full Post »

Sumeba Miyako…

Dziiiing…

Kembali sesuatu yang tak serius diluncurkan…T_T

Ini tentang kehidupan para anak. Mereka yang kebetulan karena sesuatu dan banyak hal akhirnya tidak tinggal bersama orang tua mereka lagi. Hidup dan tinggal jauh dari pengawasan orang tua. Bergerak dan berpindah bebas tanpa tertangkap pengamatan orang tua.

Dahulu, pergi merantau dan kemudian tinggal jauh dari orang tua biasanya banyak terjadi pada anak laki-laki. Sebab lazim  mereka melakukannya banyak dengan alasan untuk mencari pekerjaan. Dalam kurun waktu belakangan ini bertambah lazim fenomena dimana anak mulai berpikir melanjutkan belajarnya di luar kota, di luar daerah dan praktis tidak tinggal dengan orang tua. Kemudian waktu terus berjalan dan saat ini pun fenomena anak perempuan yang melanjutkan belajarnya di luar daerah atau bekerja di luar daerah pun menjadi sama biasanya. Terlebih lagi biasanya keadaan semacam ini mudah sekali ditemukan saat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Adalah hal biasa bila kemudian kita mendapati anak daerah yang belajar di ibu kota atau sebaliknya yang di kota besar memilih perguruan tinggi di luar kotanya, walaupun hmm… agaknya ini agak jarang ya.

Kemudian semua terlihat begitu berbeda. Saat tinggal dengan orang tua dan tinggal sendiri. Terlebih lagi lingkungan baru yang di beberapa kasus mungkin tidak begitu terasa tantangannya. Ini sih relatif karena  kemampuan adaptasi dan daya tahan tiap orang berbeda. Ada yang biasa saja dan tidak aneh-aneh walaupun tinggal berjauhan dari orang tua, tak jarang ada yang berubah sedikit, sedikit lebih banyak dan akhirnya banyak berubah. Perubahan dalam arti positif maupun negatif. Lihat saja contoh di sekitar kita, saat di kampung halaman atau di kota kelahirannya, saat tinggal bersama orang tua, sikap dan gaya hidupnya lurus-lurus saja, giliran saat dilepas pergi, karena terpengaruh lingkungan dan teman misalnya, malah berbalik arah. Tak pelak, kondisi sebaliknya pun pasti ada, dari yang semula kurang “terstruktur” dengan baik, karena lingkungan dan teman-temannya mereka, akhirnya jadi lebih terarah.  Ada yang begitu-begitu saja? Hmm… total stagnasi agaknya tidak mungkin. Tetap ada yang berubah, tapi mungkin lebih ke perubahan yang tidak terlalu teramati.

So far, paling tidak kalau sudah membicarakan para “aktivis” home stay ini, ada beberapa hal yang identik dengan kehidupan mereka ini, paling tidak menurut saya yang termasuk salah satu jajaran para homestay-ers :

  1. Menjadi penjaga bagi diri sendiri. Benar, kalau biasanya ada orang tua yang begitu telaten menjaga kita dan kita tidak lepas dari pengawasan mereka, maka mulai sekarang, kitalah yang menjaga diri kita sendiri. Menjaga diri baik dari segi kesehatan maupun dari keterjerumusan pada hal-hal yang tidak baik dan menjerumuskan. Jika terjerumus pada hal yang baik, itu tentu jadi hal yang perlu disyukuri dan dipertahankan. Menjaga kesehatan? Ini dia masalah yang sering ditemukan. Saat tinggal dengan orang tua, ambil contoh jadwal makan yang teratur, pagi hari sarapan telah disiapkan, ketika pulang makan siang telah sedia, dan makan malam yang menyenangkan dengan keluarga. Sekarang saat telah menyandang gelar anak kos entah kenapa banyak yang bermasalah dengan hal ini (ffuih.. jangan-jangan jadi tersangka utamanya ini T_T). Kalau ditanya tentu ada saja penyebab dan alasannya. Pernah kami ke rumah sakit mengantarkan teman yang pingsan tiba-tiba di pintu gerbang rumah kosnya saat hendak ke rumah sakit, kabarnya dia memang punya gejala Thypus. Lalu pas di UGD, pertanyaan dari dokter yang menanganinya ke kami yang ikut mengantar? “Dia anak kos ya?” Gyaa… keren benar tebakan dokter ini.
  2. Menjadi penjaga kepercayaan orang tua. Sudah pastilah. Jauh-jauh orang tua bela-belain menyekolahkan anaknya, mengirimkan uang rutin bulanan, tentunya mereka menaruh kepercayaan besar pada anak mereka. Dan lihat saja, banyak yang terlihat seperti kurang sadar dengan hal ini. Seperti lupa diri bahwa ia sedang memikul amanah besar dan kepercayaan orang tuanya agar ia menuntut ilmu sebaik-baiknya.
  3. Terpaksa belajar berasosiasi dengan orang lain. Bagaimana kemudian kita tinggal seatap atau bahkan seruang dengan orang lain yang berbeda kebiasaannya dengan kita mungkin, berbeda cara pandangnya dengan kita mungkin, berbeda penyikapannya saat ada masalah dan banyak beda lainnya. Kalau tidak bijak bersikap atau lebih mengedepankan ego saat ada masalah atau hal yang tidak sesuai dengan  prinsip dan kebiasaan yang kita punya, bisa ditebak berujung kemana kejadiannya. Maka, kita harus terpaksa mau belajar bersosialisasi dengan orang lain, mencoba menghargai perbedaan yang ada, dan kalau mau lebih, mencoba memahami orang lain.
  4. Terpaksa menjadi manusia mandiri. Tiba-tiba seperti punya rumah tangga sendiri. Single. Kalau biasanya hanya belajar saja dengan sesekali membantu orang tua di rumah, maka kini tambah satu lagi tugas besar, mengurus diri sendiri… Semua harus dikerjakan sendiri. Tiba-tiba kita dituntut keadaan agar jadi pribadi yang mandiri. Pastinya tidak ada yang langsung sukses pada masa-masa awal seperti ini, ada saja masalah-masalah kecil hingga besar yang terlihat begitu menganggu, lalu seiring waktu, akhirnya kita tertempa dan terbiasa dengan keadaan seperti ini.
  5. Menjadi pasien pengidap homesick. Tidak tahu juga ya… Level keparahan penyakit ini berbeda- beda tergantung imunitas tiap orang tentunya. Kalau dipikir-pikir ini penyakit yang paling terkenal dan diderita banyak orang yang tinggal jauh dari rumah orang tuanya. Wajar sajalah, malah akan jadi aneh jika yang tidak pernah menderita penyakit ini. Tinggal kemudian bagaimana menyikapinya saja kan ya?

Dan lucunya adalah email dari teman yang saya terima sekitar dua hari lalu. Topik emailnya langsung homesick. Ya ampun… Ceritanya dia baru sepuluh hari tinggal di Bandung, karena melanjutkan kuliah di STT Telkom. Lucu juga sekaligus menggemaskan. Masa sih baru sepuluh hari sudah homesick, agak kelewatan ini mengingat dia sudah tinggal di asrama sejak SMU. Gejala penyakitnya berkisar dengan kangen masakan ibu dan rindu perberantem-an dengan adik perempuannya. Ckck ck… What a homesick he has. Saya? Mmm.. sudah pastilah ikut jadi korban, seperti yang saya sebut tadi, gejalanya berbeda tiap orang. ^_^

Hmm… baru lima. Apalagi ya? Ada tambahan? Ohh…satu tambahan dari saya, habis buat ini tiba-tiba saya terfikir, kalau postingan ini sedikit terasa aura diskriminasinya, dari tadi nyebut-nyebut anak kos, tidak mesti sebenarnya, yang tidak nge-kos tapi tinggal di rumah sendiri tapi tidak dengan orang tua, dan ehm… memang membicarakan para single yang punya rumah kedua setelah rumah orang tua mereka. Tapi buat para orang tua yang kebetulan membaca, mudah2an tidak rugi membaca karangan tidak penting saya ini, hi hi…

Oh ya, satu tambahan lagi, (Aaa, katanya cuma satu tadi), butuh waktu memang untuk bisa terbiasa dengan kehidupan baru yang berbeda dengan sebelumnya dan terlebih lagi dihadapi seorang diri. Wajar saja, bukankah semua butuh proses?

Dan Mmm… lagi satu hal (Ini benar2 tambahan terakhir, janji!! ), ada pepatah Jepang yang bilang begini

– イ主 め ば 都 -

dimana …

イ主    : su (kanji)

め      : me (hiragana)

ば      : ba (hiragana)

都      : miyako (kanji)

イ主めば都   : sumeba miyako

Seperti itu katanya,

“Wherever you live, once you get used to live there, it becomes home” 

 Hmm… ada benarnya juga kan ya? 🙂

Baiklah, tidak akan ada tambahan lagi dari saya…

Dzinggg…

*Menghilang*

Read Full Post »

Maunya sih begitu… *bletaak*

Inilah manusia, apa coba yang tidak diinginkan 🙂

Setelah dapat dari milis dan teringat dengan salah satu kasus kejadian, akhirnya saya putuskan untuk menulis entry. Mmm… lagipun, lihat ini… blog tidak ter-update lagi dengan tulisan baru, lengkaplah sudah alasannya.

Sudah basbang memang,  bagi yang sudah tahu lalu membaca ini, kan ilmunya tidak berkurang, malah bisa share and berbagi dukungan, kritik dan saran.

Hmm, Saya punya sahabat  dengan gambaran yang diberikan oleh kalimat itu. Banyak yang mengagumi sosoknya memang, saya saja yang perempuan termasuk coba. Banyak juga yang patah hati saat ia menikah. *tidak penting*

Kalau ada kalimat semacam, “She`s just a well-rounded girl”, berarti seorang gadis yang punya banyak keahlian, atau serba bisa, atau istilah lainnya multi talenta? Ya ya… itu dia.

Dan saya pun tergiring kemana-mana. Pikiran maksudnya. Dari contoh itu, bagaimana pun talenta dan keahlian si gadis ini, keadaan ini pasti tidak boundless. Sebut saja penjegalnya semisal, no body`s perfect, yang terkenal itu. (e.g untuk laki-laki,  bagaimanapun  keren, baik hati, cerdas, wawasan luas, pengetahuan agamanya bagus, tetap saja ada kekurangannya. Oh ya, di salah satu buku yang pernah saya baca tentang bagaimana seorang perempuan yang menyimpan kekagumannya dalam-dalam terhadap laki-laki yang menurut penggambarannya begitu sempurna, dan dia menguatkan hal itu dengan, “kalaupun dia punya kekurangan maka kekurangannya itu adalah karena ia terlalu sempurna”. Ck ckck…

Suatu ketika, anggaplah sang sosok sempurna itu, yang bisa melakukan banyak hal dengan tingkat kesuksesan di atas rata-rata, yang sikap baiknya membuat semua  orang nyaman saat bersamanya, yang nilai fisiknya diatas 8 hampir semua yang menjadi kriteria manusia sukses melekat pada sosok itu.

Maka, jika kemudian tiba-tiba disela dengan, “Ah, no body`s perfect…” tadi itu, apa yang kemudian terjadi? Paling tidak terlintas dua maksud di dalam pernyataan itu, positif dan negatif.

Maksud positif sudah jelas. Untuk mengingatkan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bagaimana pun banyaknya kelebihan seseorang, tetap ada sisi kurangnya. Pasti itu. Maksud negatif? Apa ya? Tipe manusia sirik alias berpenyakit hati kali ya…? 🙂

Selalu ada kontradiksi yang melekat pada tiap hal. Apapun itu. Karena disanalah penyeimbangnya. Disaat kita merasa bahwa kita bisa melakukan yang terbaik, saat itu pula kita juga harus yakin, kita tidak sesempuna itu. Disaat kita yakin bahwa kita telah banyak tahu, sekaligus pula kita hendaknya paham itu sedikit sekali dibandingkan dengan apa yang ada sebenarnya.

Misalnya pula contoh konyol mengantisipasi figuritas berlebihan versi pribadi saya  saat melihat ada manusia dengan kelebihan rata-rata di atas manusia biasa lainnya. Saat begitu besar kekaguman itu maka harusnya saya juga cukup siap untuk melihat kekurangannya yang mungkin akan menjadi sesuatu yang paling mengejutkan.

Agaknya karena itu pula, maka kita sering diingatkan untuk memandang sesuatu dari banyak sisi, karena  menjadikan kita lebih bijak saat bersikap, dan dewasa dalam memahami sesuatu. Kita pun jadi terhindar dari kekecewaan berlebih saat misalnya jagoan kita atau orang yang kita kagumi itu melakukan kesalahan. Karena biasanya sengaja atau tidak kita telah meng-claim bahwa harusnya dengan kapasitas seistimewa itu, ia bisa melakukan suatu tugas dengan score 9, namun saat ia hanya mampu dengan score 7 misalnya, sontak semua kekesalan melimpah padanya. Dan jika ada kesalahan rasanya sulit sekali ada pemakluman logis yang diberikan. Berat.

Maka kalau ada a well-rounded girl, dengan segala kelebihan dan keahlian, dia tetap punya sisi  kemanusiaan yang manusiawi, kekurangan. Lagian, mana ada orang yang ABC kepribadiannya hingga Z selamanya dalam keadaan terbaik? Tidak ada. Pasti ada anehnya.  Proporsional dalam memandang sesuatu tentu lebih baik.

Read Full Post »

Word as sharp as Sword

Ya, sudah lama benar ujar-ujar ini tentang betapa, begitu, sangat, alangkah,  tajamnya kata-kata. So, macam basbang sikit lah postingan kali ini.

Seberapa tajamnya tentu tergantung pemilihan diksinya, gaya bertuturnya, juga ide yang disampaikannya. Hal yang sederhana kalau disampaikan dengan kata-kata yang tajamnya sampai bikin silau (kok silau??!!), akan crash juga akhirnya. Dan tentu, kata-kata yang digunakan punya pengaruh besar terhadap bagaimana tersampainya maksud ke objek yang mendengar (media audio) atau yang melihat (visual) sekaligus membaca, atau yang menggunakan keduanya (audio visual). Jadi, memang bermain benar peranan kata-kata ini.

Nge-blog juga pakai kata-kata…Halaah..iya iya..pakai komputer, laptop, HP…plus pakai fikiran. Dan kata-katalah yang menjadi ujung tombak penyampaian maksud dan pesan sang blogger kepada dunia (you see? Dunia !!)

Dan kata-kata yang akhirnya diputuskan sang blogger untuk berurut dalam baris-baris kalimat di blognya itulah yang kemudian mewakili dirinya bicara. Cerminan isi kepala, paradigma berfikir, hirarki kepribadian pun tertuang lewat kata-kata disana. Mulailah  kemudian para aktifis blogwalking melihat dan membaca sekalian urung komentar disana. Tanggapan ini jelas macam-macam adanya, pro-kontra pun pastinya ada.

Sejauh mana ketajaman kata-kata anda mempengaruhi sampainya maksud ke pembaca? Oh sebentar deh, takutnya malah dikira kata-kata tajam itu sungguhan sejenis kata-kata yang bisa mengiris-iris hati, jantung, perasaan? Bukan laa…ini lebih kepada menukiknya makna dan maksud yang ingin disampaikan, benar-benar sampai dengan tepat ke targetnya. 

Untuk cepat tajam gak mungkinlah  instan bisa langsung dalam sekejap malam. Butuh waktu, proses dan material pengasahnya tentu. Hingga kemudian kata-kata kita pun mampu mencincang, mengiris, memotong bahkan membabat (lhaa..katanya tadi bukan yang seperti ini maksudnya..gimana sih?) dengan baik. Sila fikirkan dengan gaya sendiri-sendiri…

Oh ya, bedanya sih pedang itu diakui kehebatannya saat ia mampu menaklukkan lawan sang Tuan. Kalau kata-kata hebat ? Ini agaknya sulit diidentifikasi oleh yang Empunya kata secara kasat mata langsung. Bukan hanya logika yang bermain, karena ada hati disana. Bagaimana kata-kata bisa menggerakkan fikiran dan menggugah perasaan? (dia ni tempatnya di hati kan ya? ) rasa macam tak ada parameter mutlak karena setiap karakter orang tentu level tersentuhnya dengan ketajaman kata-kata akan berbeda…

Saya mo pertajam pedang kata-kata saya lah dulu… *siap-siap ngasah…*

Does it take time? Sure! Seorang pemecah batu akhirnya berhasil memecah bongkahan batu besar pada hantaman yang ke-100. Tapi bukan hantaman ke-seratus itu yang memcahkan batu itu. So? Ya, Mulai dari pukulan pertama kali, kedua, dan seterusnya lah…hingga pukulan yang seratus, yang akhirnya menjadikan batu itu berkeping hancur…

Eh, tapi mempertajam kata-kata gak mesti lah  nunggu hingga postingan ke-seratus baru bisa bilang, “udah tajam…”, sungguh gak mesti sama sekali…

Hmm, di WP ni (versi bahasa Indonesia tentunya), blog yang postingannya udah seratusan, adakah? Kalau  misalnya umur blognya  setahunan, bablolita (bayi blog di bawah lima tahun),  anggap genap 365 hari, kalau rajin ngup-date 3 hari sekali (Hi hi…) pasti udah ada tuh yang sampai seratus…

Eh, Ada nggak? Blog siapa ya? *klik sana sini*

Read Full Post »

Older Posts »