Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerita’ Category

Anda pernah dikenali tapi bukan dengan identitas diri anda sendiri? Misalnya saja dengan identitas keluarga, kelompok atau organisasi, sekolah, tahun angkatan di kampus, atau apalah yang anda adalah atau pernah menjadi bagian dari hal itu sehingga identitas non-diri-pribadi tersebut bisa melekat pada diri anda.

Misalnya saja pertanyaan sejenis ini, “Ooh… rupanya ini anaknya Pak Budi ya? Pantesan mirip. Ayah kamu itu temen kuliah saya lho, dan blablabla… Ayah kamu itu suka blablabla, kamu juga ?”   :mrgreen:

atau, “Kamu cucunya Pak Hasan ya? Saya sempat sama-sama beliau masa jaman Belanda dulu lho. Kakek kamu itu blablabla…”. Pernah? Saya pernah. :mrgreen:

Ataupun contoh yang sering terjadi seperti misalnya kita dikenali melalui asal SMU, berdasarkan tahun angkatan masuk kuliah, organisasi yang diikuti dan sebagainya. Yah… sedikit banyaknya terkadang identitas kolektif seperti ini memang punya pengaruh terhadap diri kita.

Dalam lingkup yang lebih luas misalnya, identitas kebangsaan. Secara tidak langsung dan tidak dapat terelakkan kita tentu saja akan dikait-kaitkan dengan identitas itu. Terkadang ada stereotip yang perlu dijelaskan karena keadaan sebenarnya tidaklah begitu adanya, misalnya. Ada yang terkadang cuma termakan hoax dan hal-hal kaya gini tentu perlu diluruskan. Ataupun sikap sosial mainstream yang terkadang malah bertolak belakang dengan sikap sosial pribadi kita, saya memilih untuk menjelaskannya, sejauh yang saya tahu tentunya. Saya kira hal ini penting karena terkadang kesimpulan yang diambil bisa berakhir pada imej bentukan yang salah kaprah.

Terkait dengan sikap pribadi ini, dulu saya pernah punya pengalaman lucu pada saat tour kampus ke Little World di Nagoya. Dari namanya, ini memang `dunia` yang isinya negara-negara yang ada di dunia (tentu tidak semuanya). Setelah kunjungan ke beberapa negara, tibalah saya dan beberapa teman lainnya di `Indonesia`. Kebetulan yang jadi miniatur negara Indonesia adalah Bali, lengkap dengan candi dan gapuranya yang cantik, serta gambar-gambar yang menampilkan kebudayaan dan gaya hidup sehari-hari. Bisa ditebak apa reaksi teman-teman saya? :mrgreen:

“Kok gak ada mirip-miripnya yasama kamu?” Mereka bertanya dengan polos dan keheranan. Saya faham dengan maksud mereka dan sejak awal di pintu masuk rada ada firasat bakal ditanya kaya begitu. Beruntung sekali di bagian sudut lain ‘Indonesia’ ini ada beberapa poster yang menampilkan kebudayaan beberapa provinsi di Indonesia, saya berusaha menjelaskan, bahwa setiap daerah ini punya keragaman budaya dan kekhasannya masing-masing, bahkan juga bahasa daerahnya yang berbeda di tiap daerah. Ada rasa bangga saat itu dan begitu bersyukur. Apalagi saat mereka bilang, “Hebat ya, ternyata ada banyak macam begitu…”.  Saya lega rasanya. :mrgreen:

Di lain waktu, hal lain yang sering ditanya kalau sudah ngobrol-ngobrol di asrama adalah keadaan di negara masing-masing. Kebiasaan remaja dan anak muda pada umumnya, gaya hidup, budaya belajar, pergaulan, kegiatan volunteer oleh remaja, dan hal-hal lainnya. Gara-gara ini saya jadi sering bilang, saya kurang tepat kalau dijadikan parameter bagaimana anak Indonesia pada umumnya. “Saya tidak cukup syarat untuk jadi representasi anak muda di negara saya”. Eh, rupanya statemen seperti ini akhirnya mewabah karena ternyata semuanya juga enggak PEDE merasa bahwa dirinya bukan representasi remaja dan anak muda pada umumnya di negara mereka. Siapa sangka semua pada setuju?  😆

Misalnya seorang teman dari Amerika yang disebut oleh beberapa mahasiswa dari China, bahwa dia bukan tipikal gadis Amerika pada umumnya. Gadis ini tidak suka pesta, tidak mau minum dan mabuk, rajin ke gereja, rajin banget belajarnya, sopan dan agak serius. :mrgreen: Contoh remaja Amerika yang unik kan. Atau yang dari Polandia, mahasiswi Bio-Technology ini katanya jauh dari kesan romantis cewek Eropa seumuran dia pada umumnya, disamping tegas, sering panik, pelupa dan dikabarkan kami memiliki kemiripan dalam hal terakhir itu.  :mrgreen:   Akhirnya keduanya malah ikutan bilang hal yang sama, “Kami jangan dianggap representasi dari remaja seusia kami dari negara kami, karena banyak `penyimpangan`…” 😆

Walaupun begitu, rupanya memang terlihat bahwa kita tidak bisa langsung `melepaskan diri` dari identitas kolektif yang tanpa sengaja atau tidak, melekat pada diri kita. Jelek? Tidak kok, malah menurut saya, kita memang perlu kok punya identitas kolektif disamping identitas pribadi diri kita. Disamping tentu saja ada beberapa pengecualian, seperti misalnya, jika ada sikap kolektif yang menurut kita tidak layak atau bertentangan dengan sikap pribadi kita, dan saat kita juga diasosiasikan dengan sikap yang sama, kita tentu saja boleh tidak terima dan melakukan klarifikasi. Mengenai hal ini, seseorang telah menjelaskannya dengan cukup baik disini. 🙂

Bagaimana dengan identitas kolektif yang membanggakan?

Jika kita berbicara tentang identitas kebangsaan, maka salah satu tanda pengenalnya tentu bahasa. Ada bangsa yang `diberkahi` karena bahasa nasional mereka juga dipelajari dan digunakan oleh banyak bangsa di dunia, bahkan penguasaannya pada level tertentu menjadi syarat melamar pekerjaan dan melanjutkan sekolah. You know who they are. 🙂

Lagi-lagi cerita kalau ngumpul-ngumpul saat senggang di lobi asrama. Biasanya beberapa mahasiswa mahasiswi asal China  bermain kartu, anak-anak yang lain sekedar nonton mereka main atau memilih main game, nonton, atau berdiskusi kecil tentang agama.  Sering banget diskusi seperti ini kemudian melebar, alot, panas, bahkan pernah hampir ribut. Biasa, topik sensitif. :mrgreen:

Saat-saat santai begitu, pada umumnya menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Jepang atau sesekali kami juga saling mengajarkan potongan-potongan kata dan kalimat yang mudah diingat dari bahasa masing-masing.  Terkadang jika ada lebih dari satu orang yang senegara, hampir dipastikan mereka akan menggunakan bahasa mereka sendiri. Saat momen seperti ini sedang berlangsung, teman yang dari Amerika suka protes. “Use Englishplease… In English please…” Kadang dengan ekspresi merengek atau mengusili pembicaraan atau permainan. Kadang dijawab, “Sebentar dulu, gak enak berantem atau ngeledek pake bahasa Inggris nih…”. Yang mau tidak mau mengundang gelak tawa kami. Atau kali lain, gadis ini nyeletuk, “Gak adil nih, kalian bisa ngomong sesuatu yang saya tidak paham, tapi kalian semua bisa paham apa yang saya bilang…”
Jawaban standar anak-anak yang sudah sangat populer saat itu, “Ubahlah bahasa nasionalmu, Nak… jangan bahasa Inggris”.  :mrgreen:

Saya pernah iseng tanya pada gadis itu bagaimana perasaannya saat bahasa nasionalnya dipakai oleh hampir semua bangsa di dunia, bahkan dipelajari dan dijadikan standar kurikulum pendidikan di hampir beberapa negara. Dia tersenyum lucu…”Senang dan… bangga, hehehe…”. Iya ya, tentu saja menyenangkan dan membanggakan saat identitas kolektif (dalam hal ini bahasa) kita dikenal dengan imej positif dan sekaligus dipelajari dan diikuti oleh bangsa lain. Saya kok ya penasaran bagaimana rasanya jenis perasaan `senang` dan `bangga` itu?

Suatu kali saya  diundang menghadiri acara seminar yang diadakan di Nagoya University. Temanya konon, Student Discussion on Tsunami Disaster Experiences. Salah satu agenda diskusi ini diantaranya adalah presentasi dari beberapa mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Jepang. Ada tiga orang mahasiswi dari Indonesia yang diundang melakukan presentasi, tentang bagaimana pengalaman mereka saat Tsunami dan kegiatan sebagai relawan yang mereka lakukan di masa kritis pasca tsunami saat itu. Seorang mahasiswi Master dari ITB yang menceritakan tentang pengalaman beliau saat gempa dan tsunami di Pangandaran pada 2006 lalu, dan dua mahasiswi lagi dari Unsyiah yang menjelaskan pengalaman mereka saat Tsunami di Aceh dan peran mahasiswa dalam bidang keilmuwan dan peran mereka di masyarakat sesudah musibah  itu. Dilanjutkan dengan presentasi dari pihak OGASA, suatu organisasi kemanusiaan peduli bencana di Aceh yang dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa Jepang dari Osaka University. Pihak OGASA diwakili oleh ketua dan tiga orang anggotanya.

Hal menarik yang ingin saya ceritakan kemudian adalah saat acara pembukaan diskusi ini, saat seluruh peserta dipersilahkan memperkenalkan diri. Audiens-nya adalah Bapak-Bapak mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia yang sedang melanjutkan sekolah di sana, Para Sensei dan Researcher-staff dari Lab. Geofisika disana, mahasiwa Jepang dan para staf JICA dari Filiphina, Papua Nugini dan Costarika yang konon sebagai reviewer.

Tiba saat masing-masing memperkenalkan diri, tentu saja semua menggunakan bahasa Inggris, dan ada juga mahasiswa Indonesia yang sudah lama tinggal di sana yang menggunakan Japanese-English. Ketika giliran pihak OGASA memperkenalkan diri, dimulai dari sang ketuanya. Tebak! Ia berbicara dalam bahasa Indonesia yang lancar. Hueh… 😯
Saya terpesona beberapa saat. (halaah). Dan… bahasa Indonesia-nya sopan banget, teratur. Lalu diikuti rekan-rekannya yang lain. Keren! Ups, mungkin saya agak berlebihan, soalnya ini forum internasional gitu lho, dan mereka di awalnya dengan bangga bilang begini, ” Baiklah, saya akan memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia…”. Diakhir salam perkenalan mereka dihujani tepuk tangan oleh semua. 🙂 Presentasi mereka pun kadang diselingi dengan kalimat bahasa Indonesia. Setelah acara selesai, sepanjang coffee-break, berpuas-puaslah kami berbicara dalam bahasa Indonesia dengan mereka dan juga saat berkirim email. Tanya punya tanya, ternyata diantara mereka ada yang sudah tahun kedua kuliah di jurusan sastra Bahasa Indonesia di universitasnya. Pantes juga sih ya. Whatever, saat itu saya langsung disergap rasa senang dan… bangga aneh, hehehe… Mungkin perasaan jenis ini yang dimaksud teman saya dari Amerika itu ya? Besar kemungkinan iya, walaupun mungkin kadarnya tidak sama.  :mrgreen:

Ternyata begitu ya, ada saat-saat kita merasa bangga, ketika salah satu simbol dari identitas kolektif kita diikuti dan diapresiasi oleh bangsa lain dan… perasaan itu menyenangkan walau agak sulit dijelaskan.  🙂

Read Full Post »

Yah, finally, she’s back! I mean, I’m back! :mrgreen:

Thank God. Begitu dihitung-hitung, sadar tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja akhirnya blog ini telantar untuk waktu yang lama bahkan saya pribadi sangat faham bahwa ini sudah begitu keterlaluan. Apa mau dikata, mungkin takdirnya sudah begitu. Entri terakhir di jejakpena ini sudah sejak 24 November 2008 lalu. Berarti sudah hampir tiga tahun saya melakukan pembiaran paling kejam sejagat (agar lebih dramatik, :p ) terhadap blog yang sungguh mati saya suka ini. Ketidakmampuan saya untuk melakukan update rutin selama ini harap tidak menjadi bukti apapun untuk meragukan kesetiaan saya untuk menulis. Hanya saja… oh sudahlah, tidak perlu ada spekulasi lagi, yang penting saya sudah kembali menulis lagi. Buat saya, seperti yang saya pernah bilang, jika terlalu jago saya menuliskan begitu banyak alasan untuk menjawab semua, bukan pemakluman atau jawaban atas penasaran yang akan muncul, tapi kemungkinan sebaliknya juga ada. Kekerdilan saya sendiri. Kerdil karena mencari sejuta excuse untuk semua hal yang terjadi di belakang sana. Aduduh, semakin berasa tak nyaman hati saya membahas hal-hal seperti itu di sini.

Ini suatu hal besar yang positif yang saya syukuri. Betapa akhirnya omongan-omongan hampir separuh janji itu berhasil saya lakukan juga. Aneh juga, padahal cuma sebentar kan waktu yang saya habiskan untuk menuliskan postingan tak terlalu panjang seperti ini, misalnya. Yah, sekadar menyenangkan diri sendiri bahwa Jejakpena masih ingin menulis. Siapa sangka jika saya pernah sanggup membiarkannya hiatus hingga menahun seperti ini.

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya saya bukan sebegitunya juga menghilang dan tidak pernah menyambangi blogosphere. Ketika saya ingin baca-baca lagi beberapa blog yang ingin saya baca, saya berkunjung kok, walaupun dengan alasan tertentu saya tidak meninggalkan jejak di sana. Tapi memang jarang-jarang juga, sih. Terkadang tak dapat dipungkiri setelah blogwalking saya jadi uring-uringan sendiri teringat blog yang terbiarkan begitu rupa. Positifnya, selalu ujung-ujungnya saya meyakinkan diri bahwa saya harus ‘mengurus’ blog ini lagi, dan seringkali selesai hanya di yakin itu. Ish, ish. Hahaha.

Begitu menulis lagi di sini, tentu saja begitu banyak hal telah terjadi. Walaupun ada rasa senang karena bisa menulis lagi di sini, ternyata ada sedih juga, haha. Teman-teman blogger banyak yang sudah pindah rumah seperti Sora, Geddhoe, saya belum sempat ngecek ke teman-teman yang lain. Ada pula yang sudah tidak se-intens dulu mengapdet blog nya, atau juga yang benar-benar sudah tidak menulis untuk waktu yang lama, mirip-mirip saya. Semoga saja suatu waktu nanti mereka kembali lagi. Banyak hal yang mempengaruhi hal ini? Tentu saja. Sepertinya trend sekarang sudah bergeser ke situs jejaring sosial? Tapi saya sedang tidak mood membahas itu di postingan pertama-hasil-perjuangan saya ini. :mrgreen:

Baiklah, baiklah, untuk sebuah tulisan baru sesudah tidur yang panjang itu, sepertinya ini sudah cukup memadai. Hihihi. Insya Allah saya akan merajin-rajinkan diri, bersemangat-semangat di kala tak semangat (apa sih), mencari-cari waktu di kala sempit serta tidak mencari alasan atas nama kesibukan seperti yang pernah saya lakukan. Karena hal yang terakhir itu lah agaknya yang menyebabkan saya secara signifikan membiarkan blog saya kadaluarsa tak terkira selama beberapa tahun ini. Tentu saja saya berharap itu hiatus terlama saya dan tak perlu saya ulang lagi demi kemaslahatan dan kebahagiaan pribadi saya. 😀

Read Full Post »

Men-Women (Again) :P

Tiga hari yang lalu, malam sebelum tidur, saya iseng memutuskan  ngerjain ujian TOEIC di PC saya, karena sorenya baru dipinjami CD software-nya oleh  temen. Lagi seru-serunya di bagian listening…eh, tiba-tiba salah satu dialognya sempat bikin saya “buyar” seketika. Maka tertawalah saya waktu itu, malah mungkin hampir tersedak (ada kata mungkin, jadi ada peluang hiperbola :p).
Lucu! Bikin ketawa, asli. Bener-bener la perempuan dan laki-laki itu. Saya letakin disini deh dialognya.

A : Is anyone planning to throw a
going-away party for Renee?

B : No, she said she didn`t want
anyone to do anything special just
because she`s leaving town.

A : Well, of course she`d say that!
That doesn`t mean we shouldn`t plan a
party anyway!

Gimana? Tanpa diberitahu pun kita pasti bisa  langsung nebak dengan benar
yang mana yang perempuan. Kan? Kan? 😆
Hmm, kalau saya yang di posisi perempuan di dialog itu, apa mungkin saya juga
akan bilang hal yang sama ya? 🙄

Read Full Post »

Asal muasal turunnya entry ini sebenarnya memang setelah membaca postingan terbaru di blog Sora, Kesadaran yang datang belakangan. Ini di luar konteks pesan moralnya lho, tapi terkait dengan kejadian yang menginspirasinya itu. Awalnya saya senyum-senyum saja tapi akhirnya meledak juga jadi ketawa, teringat dengan kejadian mirip yang pernah terjadi dulu. Duluuu sekali.

Saat itu saya masih tahun pertama bangku kuliah, kira-kira semesteran dua dan bergabung dengan sebuah organisasi eksternal kampus. Saya ditunjuk sebagai staf redaksi mading. Berhubung kru mading sendiri tidak punya sekretariat khusus, maka tempat pengerjaan mading di tiap edisinya biasanya di kerjakan barengan di rumah saya. kebetulan anggota madingnya yang cuma beberapa orang adalah perempuan juga. Setelah terbit beberapa edisi, akhirnya di rubrik bebas yang memang di peruntukkan untuk memuat tulisan dari luar kru mading bisa eksis. Ada beberapa tulisan yang masuk dari orang yang berbeda hingga akhirnya ada satu orang yang rajin menyumbang tulisannya.

Biasanya jika ada sumbangan tulisan dari luar seperti itu, untuk sampai ke redaksi caranya mudah saja, tinggal dititipkan ke anggota redaksi seminggu sebelum deadline dan kemudian tulisan tersebut akan dinilai kelayakannya untuk kemudian dimuat. Biasanya tulisan dari luar itu hampir selalunya lelaki dan tulisannya bagus-bagus terutama yang satu orang misterius itu. Kenapa misterius? Karena beliau hanya menggunakan inisial nama (berbeda dengan penulis lainnya) dan hanya menuliskan alamat emailnya di akhir tulisannya. Selalu seperti itu.

Lalu apa pentingnya hal ini dibahas? Dimana nyambungnya dengan judulnya? Ahahaha. Bacalah sedikit lagi dulu.

Ternyata sejak awal membaca tulisan-tulisannya saya sudah suka dengan artikel-artikel tersebut. Bahasanya lugas dan runtut dan gaya penyampaiannya itu khas. Analitis, bernas dan mencerahkan. Hueeh, intinya, tulisannya bagus sekali. Di samping itu yang menarik adalah saat membaca artikel-artikelnya itu saya seperti bisa meng-asses bahwa terkadang kami punya pemikiran yang sama saat memandang hal-hal atau masalah tertentu yang dibahas olehnya. Kadang saat kru yang lain merasa tidak setuju atau salah paham dengan inti tulisannya saya mencoba menjelaskan bahwa yang ingin disampaikan oleh beliau itu tidaklah seperti itu, tapi menurut saya lebih ke seperti ini dan seperti ini dan saya setuju dengan apa yang disampaikannya. Kadang kru yang lain sempat bengong. :mrgreen:

Jadi apa? Hmm, jadi belum apa-apa, hanya dengan membaca tulisan-tulisan beliau saat itu saya sudah kagum dan simpati dan sedikit penasaran dengan orangnya. Dan saya sadar akan hal itu. ^^ . Kru mading yang lain juga sempat penasaran dengan sosok ini tapi akhirnya kita semua jadi terbiasa dengan kemisteriusan itu. Yang penting tulisannya ada, layak muat dan bagus. Semua di antara kami tidak ada yang melakukan investigasi (halaah) apapun.

Hingga suatu hari di rapat divisi saat dimana semua anggota divisi harus hadir dan saya tahu ada beberapa orang asing yang agaknya tidak pernah terlihat sebelum-sebelumnya. Oh ya, kadang ada anggota yang tidak saling kenal dikarenakan keterlibatannya yang kurang aktif, jadinya jika ada nama tapi bahkan orangnya tidak terlalu dikenal oleh anggota satunya, itu jadi hal yang cukup dimaklumi karena anggota organisasi ini yang semuanya mahasiswa itu bisa dibilang punya aktivitas dan kesibukan masing-masing juga.

Jadi setelah selesai rapat, ada yang hendak menyerahkan tulisannya. Katanya untuk rubrik bebas itu!! Gubrak. Begitu melihat nama email dan inisial di akhir tulisannya itu, weleeh, jadi ini dia orangnya. Ckckckc. Akhirnya ketemu juga tanpa disangka-sangka dan terencana. Hebat banget, analisa spontan! :mrgreen:

Sedikit basa-basi dan tentu saja akhirnya saya ketahui juga namanya. Yatta! Beberapa hari kemudian, saat antri di ATM depan kampus, ketemu lagi dan baru ketahuan ternyata kami satu kampus, angkatannya dua tingkat di atas saya walaupun beda fakultas. Saat itu jadinya ngobrol agak banyak, disinggungnya juga tentang kontribusinya di mading yang mungkin untuk beberapa waktu ke depan akan berkurang karena beliau akan segera menjalani koasistensi di sebuah rumah sakit. Dari cara berbicaranya saja sudah kelihatan bahwa beliau memang cerdas. Bicaranya juga tidak terlalu banyak, tidak juga terlalu sedikit, tidak semisterius caranya menyampaikan idenya lewat artikel itu, beliau ternyata cukup ramah tapi tidak berlebihan. Tapi memang tertangkap bahwa beliau orang yang serius dan suka berpikir. Pas. :mrgreen:

Begitulah ceritanya. Kesimpulannya? Iyalah, udah bisa ditangkap kan? Yah, walaupun agak beda sedikit sih. Tapi maksudnya itu nyambung kan ya? :mrgreen:
Di Savage Garden itu dikatakan tentang orang yang jatuh cinta bahkan sebelum bertemu, dalam hal ini, ini tentang kekaguman bahkan sebelum bertemu dengan orang tersebut. Dan bagusnya, setelah bertemu kekaguman itu tidak rusak. 😀

Eh, iya ya? Ternyata kesukaan atau juga kekaguman terhadap seseorang sebelum bertemu orangnya bisa terjadi bukan cuma lewat internet aja ya? Di dunia nyata juga bisa 🙄 *tersadar*

Read Full Post »

Tulus Tidak Tulus

Sekali waktu beberapa hari lalu, entah bagaimana saya dan seorang teman yang sudah lama tidak terlibat perbincangan rada serius seperti itu bisa sampai ke bahasan tulus tidak tulus ini. Oh iya, tulus dan tidak tulusnya tidak secara umum, ini dalam konteks kecenderungan perasaan secara istimewa pada seseorang. Oke, lebih jelas lagi, saat menyukai orang lain. Kebetulan teman saya itu, lebih muda beberapa tahun dari saya dan ‘tema’ kedatangannya hari itu sedikit ada hubungannya dengan apdetan perasaannya pada seseorang, yang ia kagumi secara diam-diam tapi serius. Ugh.

Dan cerita hari itu pun mengalir cepat dalam waktu yang relatif singkat karena diburu senja. Akhirnya ngomong-ngomong ‘berbau’ curhat itu mengerucut pada definisi tulus tidak tulus yang benar-benar subjektif, tentu saja.

Jadi, teman saya itu mendapat tuduhan ‘tidak tulus’ dari temannya -yang juga tahu dan turut diceritakan ‘permasalahannya itu’- setelah ia menceritakan bagaimana perasaaanya terakhir kali tentang orang yang disukainya dikaguminya itu. Setelah dia agak-agak tahu atau ‘merasa’ orang yang disukainya itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, dia merasa cukup ringan dan mudah untuk melupakan perasaannya itu. Karenanya temannya itu kesal dan jadilah vonis ‘tidak tulus’ itu mampir padanya.

Hmm, apa ya? Saya pribadi malah berpikir istilah itu kurang tepat untuk digunakan disana. Tapi saya ‘rada’ bisa paham kenapa rekan dari teman saya itu bisa mengatakan hal seperti itu. Boleh jadi dalam pandangannya, yang namanya tulus menyukai seseorang, (saya agak kurang enak untuk menyebut ‘mencintai’ disini 😛 .) berarti kita tetap bisa menjaga perasaan itu apapun realitanya, entah orang tersebut menyukai kita atau tidak. Bisa terus seperti itu dan hal itu punya nilai kebahagiaan tersendiri bagi kita yang menyukainya. Jadi mungkin seperti itu kalau menilik kondisi saat ia menggunakan kata yang bermakna sebaliknya tadi, ‘tidak tulus’.

Lucunya, saya sendiri tidak merasa seperti itu. Kadang kala saya berpikir, saat kita menyukai orang lain, harapan kita tentunya orang tersebut idealnya punya perasaan yang sama dan akhirnya bisa sama-sama. Jadi, saat memang keadaannya kemudian tidak seperti itu, -orang tersebut tidak menyukai kita misalnya- tentunya kita harus segera menyadari langkah terbaik buat kita dan buat orang tersebut : menyelesaikan perasaan itu sampai di disitu. Frankly, we should stop that feeling. Tidak tulus? Bagi saya itu ‘sedang’ tidak ada hubungannya kesana.

Mungkin saya akan memakai frase ‘tidak tulus’ itu untuk menggambarkan kondisi dimana misalnya kita memilih ‘jalan’ dengan seseorang karena berfikir dia bisa menguntungkan kita dalam hal dan waktu tertentu misalnya. Ada lho seorang teman yang tiba-tiba berpacaran saat melakukan suatu penelitian dan orang yang dipacarinya tersebut bisa mengoperasikan suatu software yang rumit -dan penggunaannya strategis sekali dalam penelitian itu- dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata. Setelah pulang dari penelitian kemudian mereka putus. Seandainya dalam hati yang perempuannya, suka dan putusnya itu ada hubungannya dengan keadaan strategis yang bermanfaat itu, menurut saya seperti itulah tidak tulus. Itu seandainya lho, seandainya. Putus atau tetap jalan itu urusan pribadi mereka tentu saja.

Back to topic, jadi jika kita menyukai seseorang dan kemudian mengetahui seseorang tersebut ternyata memilih orang lain atau ternyata tidak menyukai kita, saat kita memutuskan untuk ‘berhenti’ menyukainya, hal itu tidak tak tulus. Toh misalnya saja, jika membandel untuk tetap menyukainya sampai kapan pun dan terus bertahan dalam stage itu, tidak ada keuntungan dalam hal apapun. Berbesar hati saja dengan realita yang terjadi. Dan tulus tidak tulusnya perasaan kita tidak bisa digantungkan pada seberapa lama kita perlu bertahan dengan perasaan itu, walaupun tentu saja ada beberapa orang yang bersedia mempertahankan perasaan pada orang yang disukai sekalipun sudah tidak ada harapan apapun, dengan mengemukakan alasan bahwa perasaannya itu tulus. (Banyak tuh kayaknya di sinetron kita? Atau bisa jadi juga ada banyak di kehidupan nyata)

Kalau kemudian dikatakan bahwa menyelesaikan perasaan seperti itu tidak mudah dan merupakan pilihan yang berat, saya tidak akan menyangkal, itu ada benarnya. Tapi itu sudah bab lain lagi kan? Sudah keluar dari konteks tadi. Tetap tidak ada hubungannya antara ketulusan menyukai seseorang dengan kemampuan kita memulihkan keadaan. Itu lebih ke bagaimana kemampuan kita menyikapi realita yang terjadi. Kenyataannya orang tersebut tidak menyukai kita atau telah memilih orang lain misalnya, maka kalau mau bertahan terus seperti itu, kita akan seperti orang yang tidak mau menghadapi kenyataan. Toh, tidak akan ada kebaikannya selain mungkin kebahagiaan semu dalam diri kita? Selebihnya? Yah… anda mungkin paham maksud saya. ^^

Memilih bertahan untuk tetap menyukai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama mungkin mirip dengan bertahan untuk bermain petak umpet[1] dengan orang yang sudah pulang ke rumahnya. Bagaimana mungkin kita tetap akan menunggu dia mencari tempat kita sembunyi? Bukankah lebih baik kita juga berhenti bermain dan pulang saja? ^^

Ps :
[1] Permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak. Ada yang bersembunyi dan ada yang giliran jaga. Pernah main? :mrgreen:

Read Full Post »

Kepercayaan itu Mahal…

 “I hear no one, I trust no one”. Itu status YM salah seorang teman saya belum lama ini. Kemarin setelah menemuinya di kantornya, kami memutuskan makan siang bareng setelah sekian lama tidak melakukannya karena kini masing-masing punya kesibukan yang berbeda. Setelah makan siang, sharing banyak hal, hingga sampai juga ke bahasan tentang status YM-nya itu. Hihihi. Dan terungkap, ternyata itu ungkapan kekesalannya pada seseorang atas kekecewaan yang bertumpuk. Mungkin agak berlebihan kesannya karena sebabnya memang cuma gara-gara satu orang itu tapi pernyataannya itu `kena` ke semua orang. “Gak separah itu kok, cuma karena lagi kesal aja, dan cuma sama satu orang itu aja sebenarnya…” dia meluruskan hal itu kemudian. Saya cuma bisa senyum-senyum. Kalau sudah masalah perasaan, memang agak payah sih. `Kan?  :mrgreen:  

Pada kesempatan yang lain sebelumnya dan sudah agak lama juga, waktu itu saya masih di Fukui dan chatting lewat YM dengan salah seorang teman saya. Sehabis cerita-cerita, dia sempat menanyakan pendapat saya, “kira-kira sampai berapa kali kita bisa percaya pada orang lain, jika sebelumnya kepercayaan yang kita berikan pernah disalahgunakan”. Waktu itu saya menjawabnya setengah serius, “tergantung kitanya ingin percaya seberapa banyak lagi…”. Teman saya itu malah tertawa. Dari reaksinya yang seperti itu, saya sempat berpikir mungkin jawaban saya itu di luar ekspektasi dia. Bisa jadi dia membayangkan (bisa jadi juga tidak) jawaban akan berupa : cukup sekali itu, atau boleh diberikan satu atau dua kali lagi, jika masih dikhianati juga lebih baik dicukupkan. 

Sebenarnya saya tidak sesetengah serius itu juga sih, karena bagi saya memang seperti itu yang akan saya lakukan. Menyerahkan keputusan untuk akan percaya atau tidak lagi pada diri kita sendiri, bukan pada patokan jumlah bilangan tertentu. :mrgreen:  

Maka bisa saja setelah ada sekali atau dua kali kepercayaan itu disalahgunakan, saya masih bisa memutuskan untuk mempercayai lagi dengan pertimbangan tertentu, dan bisa jadi pula memutuskan untuk menyelesaikan memberikan amanah apapun walaupun pengkhianatan itu baru terjadi sekali dengan lagi-lagi mempertimbangkan banyak hal. Kenapa? Ya, benar. Tentu saja karena kepercayaan itu bukan perkara main-main.  

Tiap kita tentunya merupakan orang dengan tipe yang berbeda satu sama lain. Ada yang bisa dengan mudah memutuskan untuk percaya dan memberikan kepercayaan pada orang lain, ada pula yang butuh waktu yang lama, mulai dari proses pemikiran yang panjang, analisa yang mendalam, pertimbangan dari banyak sisi, penilaian track-record segala macam, hingga akhirnya memutuskan untuk mengamanahkan  atau tidak mengamanahkan sesuatu pada orang lain. Ini berlaku pada semua hal dan aspek kehidupan, termasuk wilayah sensitif itu, perasaan. 😛 

Maka sama juga, saat ada kejadian tidak diinginkan, pengkhianatan atas kepercayaan yang telah diberikan itu, mungkin ada yang langsung memutuskan untuk tidak akan pernah percaya lagi, ada juga yang berani mengambil resiko untuk memberikan kepercayaan itu untuk kali selanjutnya. Tidak ada yang salah dengan hal ini, menurut saya, karena yang paling mengerti bagaimana kepercayaan semahal itu bisa dikhianati dan bagaimana memilih orang yang tepat untuk diberikan kepercayaan itu kembali adalah kita sendiri. Mungkin yang bisa dikatakan salah adalah saat kita terburu-buru dan memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang dan tanpa pikir panjang atas apapun keputusan yang kita ambil, baik itu memutuskan untuk percaya lagi setelah ada lebih dari satu kali penyalahgunaan kepercayaan itu, ataupun keputusan berat untuk tidak memberikan kesempatan selanjutnya setelah kepercayaan pertama tidak dikelola dengan sungguh-sungguh. Jadinya bukan masalah jumlah bilangan yang kemudian menjadi dasar untuk memutuskan, tapi pertimbangan dari sosok orang itu sendiri, apa yang telah terjadi, dan apa yang mungkin akan terjadi. Seyogianya kembali lagi seperti di atas tadi, ada banyak hal yang patut kita perhitungkan saat memutuskan untuk memberikan kepercayaan atau tidak memberikannya. Dan buat saya misalnya, jadinya bisa saja saya memilih untuk percaya lagi dengan catatan tertentu dan bisa jadi pula menyelesaikannya disitu saja,  menjadikan kepercayaan itu kesempatan yang pertama sekaligus yang terakhir untuk orang tersebut. 

Anyhow, mengelola kepercayaan sampai kapanpun tentu akan tetap menjadi hal yang berat. Saking beratnya akan menyakitkan saat mendapati diri kita tidak dipercayai lagi hanya karena sedikit kesalahan yang kita lakukan namun dampaknya yang sangat fatal bagi orang yang mempercayakan kepercayaannya pada kita.  Mengenai orang-orang yang mau bertahan dan berharap begitu besar untuk memperoleh kembali kepercayaan setelah beberapa kali mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan buat mereka, saya sempat tersentak sendiri saat mengikuti salah satu acara televisi, Andy`s Diary beberapa waktu lalu. Jadi saat itu ditampilkan beberapa cuplikan edisi K!ck Andy yang dianggap mempunyai nilai khusus di kalangan pemirsa di antara edisi lainnya. Iya, itu program televisi yang pembawa acaranya sendiri mengatakan bahwa ia ingin orang menonton tayangan programnya tidak dengan akal saja, tapi dengan hati juga.  

Nah, salah satu edisi yang diangkat disana di antara edisi-edisi yang lain adalah  kisah tentang seorang bapak yang dua anak laki-lakinya terjerumus Narkoba berkali-kali, hingga akhirnya mereka berhasil sembuh dan kedua anak laki-lakinya saat itu juga hadir bersama ayah mereka. Saya ingat kata-kata bapak tersebut saat itu kurang lebih seperti ini,” Saya rela kehilangan apa saja harta saya asalkan anak-anak saya bisa keluar dari pengaruh Narkoba”.

Pada kesempatan yang sama,  salah seorang anaknya menyampaikan sesuatu mewakili dirinya dan saudaranya pada ayah mereka. Ada bagian yang begitu saya catat di kepala. Bagian yang saya sebut sempat bikin saya tersentak. Kata mereka, “ … terima kasih yang begitu besar buat papa atas harapan yang tak pernah hilang…”  

Heh, benar-benar laki-laki yang hebat kan? Dia tidak berhenti percaya dan menaruh harapan agar anaknya sembuh padahal sempat berkali-kali kepercayaannya `dikhianati`. Hingga akhirnya ketegaran menunggu itu berbuah hasil, kedua anaknya berhasil keluar dari ketergantungan pada obat-obat terlarang itu.  

Memang sulit sekali mengharapkan bisa dipercaya untuk kali selanjutnya setelah kepercayaan yang pernah diberikan pada kita, rusak. Tapi memutuskan tidak percaya lagi saat ada kesungguhan dari mereka untuk menebusnya, sama sulitnya. Kalau sudah seperti ini, semua kembali pada diri kita, kita hanya perlu melakukan hal yang tepat dengan pertimbangan yang matang bukan menyandarkannya pada jumlah bilangan kesempatan yang mungkin kita berikan semata. 

Dan di satu sisi yang lain, rasanya cukup adil juga menghukum mereka yang pernah mengkhianati kepercayaan yang pernah diberikan dengan tidak lagi memberikan amanah apapun (setelah melalui pertimbangan tertentu, tentunya) pada mereka. Agar mereka juga belajar arti penting mengemban kepercayaan yang sudah diberikan. Karena Kepercayaan itu mahal, jenderal…!

Sayangnya, mungkin tidak semua orang sadar dan cukup bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan pada mereka. 🙄 

*soundtrack-nya cukup mendukung, Please Forgive Me-nya Bryan Adam*  😆

Read Full Post »

Untung Rugi Pemaksaan

Tentu sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa atau setengah hati atau tidak dengan keinginan hati, tentu hasilnya berbanding lurus juga. Tidak optimal. Apalagi jika dipaksa oleh orang lain untuk melakukan. Intinya, sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan tanpa paksaan, ataupun pemaksaan baik dari diri sendiri maupun dari pihak lain. Tapi tentu saja ada pengecualian di tiap hal. Ada paksaan dan pemaksaan dari orang lain yang bertujuan baik hanya saja saat memulai melakukannya ada sedikit rasa not-willing dari diri kita sendiri, misalnya. Untuk paksaan atau pemaksaan dalam konteks ini tentu saja tidak masalah.

Mungkin kita ingat saat masih kecil dan sakit lalu kita dipaksa untuk minum obat yang pahitnya bukan main. Saya yang sering sakit-sakitan dulu sering `bermusuhan` dengan ayah karena saya yang tidak suka minum obat sering `diintimidasi` oleh ayah untuk minum obat. 👿

Maka, berbeda dengan anak-anak, seorang dewasa (weleh, siapa ini yang udah merasa dewasa??) biasanya tidak suka disuruh-suruh, dipaksa-paksa, apalagi terkait dengan masalah pribadi. Ego seorang dewasa. Jadi, sama seperti orang lain juga, saya tidak suka dipaksa-paksa. Apalagi jika itu termasuk pada pemaksaan kehendak pribadi orang tersebut. Wah, alamat ‘cuaca` gak bagus tuh. :mrgreen:

Misalnya saja, untuk sebuah pemaksaan dengan dalih alasan : cobalah dulu, nanti kamu akan bisa jika sudah terbiasa. Mungkin itu bisa dibenarkan untuk mencoba sesuatu yang baru dan saya tidak sukai sebelumnya. Tapi tetap saja, kalau sudah terlalu digiring-giring begitu, siapa yang nyaman? Saya rasa anda juga akan sepakat. Jika orang lain tidak mau, tidak suka, saya tidak akan memaksa, karena saya tahu bagaimana rasanya tidak nyaman dipaksa-paksa. Bolak balik sih, karena saya tidak suka melakukan hal itu pada orang lain, saya juga tidak suka saat saya diperlakukan begitu oleh orang lain. Begitu kan? Sayangnya tentu tidak semua berlaku seperti ingin kita. 😦

Jika saya dipaksa untuk sesuatu yang netral, dengan caranya yang muslihat, sedikit manipulasi, hingga saya bahkan tidak sadar diri saya sedang dipaksa, mungkin saya tidak akan terlalu menampakkan ketidaknyamanan bahkan mungkin tidak akan komplen, lah saya sendiri tidak sadar saya dipaksa?Tapi akan lain halnya jika saya dipaksa untuk sesuatu yang tidak saya sukai sejak awal. Seseorang memaksakan kehendaknya, ini sih sama saja cari gara-gara. -__-“

Baik. Mungkin ada pembelaan lain, Lihat dulu alasannya. Oke, alasannya menurut dirinya pribadi, supaya keadaannya menjadi lebih baik dan untuk keleluasaan dirinya, kemudian dia memaksakannya pada saya, tanpa memperhatikan kenyamanan saya. Bagaimana mungkin saya bersedia melakukannya? Padahal dengan keadaan sebelumnya, tidak ada masalah, tidak ada hal yang merugikan yang terjadi. Jadi kenapa harus mengubahnya? Parahnya lagi, justru perubahan itu sesuatu yang jelas-jelas bikin saya terganggu. Saya tidak bisa berpura-pura nyaman dengan keadaan yang sebenarnya malah sebaliknya kan? Melelahkan, menyebalkan.

Dan keparahan masih berlanjut, setelah dijelaskan alasan ketidaknyamanan itu, saya masih dipaksa untuk melakukannya. Huh. Dengan dalih, lama kelamaan saya akan terbiasa menjalaninya. Terbiasakah? Bagaimana mungkin saya membiasakan diri dengan hal yang jelas-jelas sejak awal tidak membuat saya nyaman? Saya kok pesimis hal itu akan terjadi. Tidak bisa disangkal, ada hal-hal yang awalnya berat, tapi setelah terbiasa melakukannya, akan terasa ringan, dan mungkin saat awalnya, anda mencobanya dengan setengah hati, terpaksa namun di akhirnya anda menjadi terbiasa dengannya. Sayangnya hal ini berbeda. Benar-benar berbeda. Sejak awal itu adalah hal yang menganggu kenyamanan pribadi dan tidak dapat diusahakan agar ke depannya isa terbiasa dengan ketidaknyamanan itu hingga akhirnya bisa merasa nyaman? Hohoho…

Ibu dan ayah saya tidak pernah memaksa saya makan udang. Sejak kecil saya tidak suka udang, kalaupun saya makan, itu adalah udang dengan ukuran yang sangat keciiill sekali. (Ibu saya harus sabar saat membersihkannya 😐 ). Padahal udang itu mengandung protein tinggi, tapi saya tidak suka. Ayah dan Ibu saya hanya mengajak saya mencoba, tapi tidak pernah sampai memaksa-maksa saya untuk makan. Walaupun akhirnya sekarang saya sudah berusaha untuk makan udang selayaknya orang lain, saya seanng melakukannya karena saya tidak merasa dibawah tekanan.

Tapi masalah ini? Sudah dijelaskan bahwa alasannya adalah ketidaknyamanan, tapi tetap saja memaksa. Setiap hari jadi penuh denga rasa tak nyaman tapi tidak diperdulikan? Dia senang tujuannya tercapai tapi tidak memikirkan perasaan orang lain. Bagaimana bisa? Harusnya dia paham bahwa meng-codekan pikiran dan perasaan itu tidak semudah itu, hanya dengan mencoba lalu akan terbiasa. Kalau dari awal tidak nyaman, mau membiasakan bagaimana? Hmm, mungkin sesuatu jadi terlihat agak sedikit sulit karena di satu sisi orang tersebut adalah orang yang kita segani dan punya hubungan baik sebelumnya, tapi jika terus-terusan tidak mau mengerti juga, agaknya saya mesti menyerah juga. Lewat jalan yang lebih keras tegas !! 👿

Ahahaha… benar lah itu, lebih baik melakukan sesuatu karena terpaksa daripada dibawah paksaan walau dua-duanya tetap saja sama tidak baiknya. 😛 . ‘Kan?

Read Full Post »

Older Posts »